QS. Al Jumu’ah (Hari Jum’at) – surah 62 ayat 9 [QS. 62:9]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا نُوۡدِیَ لِلصَّلٰوۃِ مِنۡ یَّوۡمِ الۡجُمُعَۃِ فَاسۡعَوۡا اِلٰی ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ ذَرُوا الۡبَیۡعَ ؕ ذٰلِکُمۡ خَیۡرٌ لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu idzaa nuudiya li-shshalaati min yaumil jumu’ati faas’au ila dzikrillahi wadzaruul bai’a dzalikum khairun lakum in kuntum ta’lamuun(a);

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
―QS. 62:9
Topik ▪ Rusaknya keseimbangan pada hari kiamat
62:9, 62 9, 62-9, Al Jumu’ah 9, AlJumuah 9, Al-Jumuah 9, Al Jumuah 9, Al-Jumu’ah 9

Tafsir surah Al Jumu'ah (62) ayat 9

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Jumu’ah (62) : 9. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan bahwa apabila muazin mengumandangkan azan pada hari Jumat, maka hendaklah kita meninggalkan perniagaan dan segala usaha dunia serta bersegera ke masjid untuk mendengarkan khutbah dan melaksanakan salat Jumat, dengan cara yang wajar, tidak berlari-lari, tetapi berjalan dengan tenang sampai ke masjid, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

Apabila salat telah diikamahkan, maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa.
Namun datangilah salat dalam keadaan berjalan biasa penuh ketenangan.
Lalu, berapa rakaat yang kamu dapatkan maka ikutilah, sedangkan rakaat yang ketinggalan maka sempurnakanlah.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Seandainya seseorang mengetahui betapa besar pahala yang akan diperoleh orang yang mengerjakan salat Jumat dengan baik, maka melaksanakan perintah itu (memenuhi panggilan salat dan meninggalkan jual-beli), adalah lebih baik daripada tetap di tempat melaksanakan jual-beli dan meneruskan usaha untuk memperoleh keuntungan dunia.

Firman Allah:

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
(Q.S. Al-A’la [87]: 17)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang beriman, jika azan untuk salat Jumat telah dikumandangkan maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.
Apa yang diperintahkan itu lebih bermanfaat bagi kalian jika kalian mengetahuinya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada) huruf min di sini bermakna fi, yakni pada (hari Jumat maka bersegeralah kalian) yakni cepat-cepatlah kalian berangkat (untuk mengingat Allah) yakni salat (dan tinggalkanlah jual beli) tinggalkanlah transaksi jual beli itu.

(Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui) bahwasanya hal ini lebih baik, maka kerjakanlah ia.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sesungguhnya hari Jumat dinamakan Jumu’ah karena berakar dari kata al-jam’u, mengingat kaum muslim melakukan perkumpulan untuk setiap tujuh harinya sebanyak sekali di dalam masjid-masjid yang besar.
Dan pada hari Jumat semua makhluk telah sempurna diciptakan, dan sesungguhnya hari Jumat itu merupakan hari keenam dari tahun yang Allah menciptakan padanya langit dan bumi.
Pada hari Jumat pula Allah menciptakan Adam, pada hari Jumat Adam dimasukkan ke dalam surga, pada hari Jumat Adam dikeluarkan dari surga, dan pada hari Jumat pula hari kiamat terjadi.
Di dalam hari Jumat terdapat suatu saat yang tiada seorang hamba pun yang beriman dapat menjumpainya, sedangkan ia dalam keadaan memohon kebaikan kepada Allah di dalamnya, melainkan Allah akan mengabulkan apa yang dimintanya.
Hal ini telah dibuktikan oleh banyak hadis sahih yang menceritakannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Ubaidah ibnu Humaid, dari Mansur, dari Abu Ma’syar, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Qursa’ Ad-Dabbi, telah menceritakan kepada kami Salman, bahwa Abul Qasim ﷺ pernah bersabda, “Hai Salman, apakah hari Jumat itu?”
Salman menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hari Jumat itu adalah hari yang padanya Allah menghimpunkan kedua orang tuamu, atau orang tuamu.

Telah diriwayatkan pula dari Abu Hurairah hal yang semisal dengan hadis di atas, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Menurut bahasa orang-orang kuno, hari Jumat disebut pula dengan nama hari ‘Arubah.
Dan telah terbuktikan bahwa umat-umat sebelum kita telah diperintahkan untuk menghormati hari Jumat, maka mereka memuliakannya.
Tetapi orang-orang Yahudi memilih hari Sabtu yang tidak bertepatan dengan hari penciptaan Adam, sedangkan orang-orang Nasrani memilih hari Ahad yang padanya dimulai penciptaan makhluk.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala memilih bagi umat ini hari Jumat yang padanya Allah telah menyempurnakan penciptaan makhluk-(Nya).
Hal ini telah dinyatakan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabih yang mengatakan bahwa berikut ini merupakan hadis yang diriwayatkan kepada kami oleh Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Kita adalah orang-orang yang terakhir, tetapi yang paling terdahulu kelak di hari kiamat, hanya saja mereka diberi kitab sebelum kita.
Kemudian sesungguhnya hari (Jumat) ini adalah hari mereka yang telah difardukan oleh Allah atas mereka, tetapi mereka berselisih pendapat mengenainya.
Dan Allah menunjuki kita padanya, maka orang-orang lain mengikut kita padanya; orang-orang Yahudi besok dan orang-orang Nasrani sesudah besok.

Ini menurut lafaz hadis yang ada pada Imam Bukhari.
Sedangkan menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim adalah sebagai berikut:

Allah membutakan orang-orang sebelum kita dari hari Jumat, maka bagi orang-orang Yahudi hari Sabtu, dan bagi orang-orang Nasrani hari Ahad.
Lalu Allah mendatangkan kita dan menunjuki kita kepada hari Jumat, dan Allah menjadikan hari Jumat, hari Sabtu, dan hari Ahad (berurutan).
Demikian pula kelak di hari kiamat, mereka mengikut kepada kita.
Kita adalah orang-orang yang terakhir dari kalangan penduduk dunia, tetapi yang paling pertama mendapat peradilan-Nya di antara sesamanya kelak di hari kiamat sebelum semua makhluk.

Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berkumpul guna mengerjakan ibadah kepada-Nya di hari Jumat.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah.
(Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 9)

Yakni tuluskanlah niat kalian, bulatkanlah tekad kalian, serta pentingkanlah oleh kalian untuk pergi guna menunaikan ibadah kepada-Nya.
Pengertian yang dimaksud dengan sa’yu dalam ayat ini bukanlah menurut pengertian bahasanya (yaitu berjalan), melainkan makna yang dimaksud ialah mementingkan dan merealisasikannya.
Seperti makna yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah ‘ mukmin.
(Q.S. Al Israa [17]: 19)

Tersebutlah bahwa sahabat Umar ibnul Khattab dan Ibnu Mas’ud r.a.
membaca ayat ini dengan bacaan berikut: Famdu ila zikrillah, yang artinya ‘maka bergegas-gegaslah kamu untuk mengingat Allah.’

Adapun jalan cepat menuju tempat salat, maka sesungguhnya hal itu dilarang, sebab ada sebuah hadis di dalam kitab Sahihain yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Apabila kamu mendengar iqamah, maka berjalanlah kamu menuju ke tempat salat, dan langkahkanlah kakimu dengan tenang dan anggun, dan janganlah kamu melangkahkannya dengan cepat-cepat.
Maka apa saja bagian salat yang kamu jumpai, kerjakanlah dan apa yang terlewatkan olehmu, maka sempurnakanlah.

Menurut lafaz Imam Bukhari, dari Abu Qatadah, disebutkan bahwa ketika kami sedang salat bersama Nabi ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh langkah kaum lelaki.
Maka setelah salat selesai, beliau ﷺ bertanya, “Mengapa kalian?”
Mereka menjawab, “Kami datang tergesa-gesa ke tempat salat.” Nabi ﷺ bersabda:

Jangan kamu ulangi perbuatan itu.
Apabila kamu mendatangi tempat salat, maka berjalanlah dan langkahkanlah kakimu dengan tenang.
Apa saja bagian salat yang kamu jumpai, kerjakanlah dan apa yang terlewatkan olehmu, sempurnakanlah.

Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Apabila iqamah untuk salat diserukan, maka janganlah kamu mendatanginya dengan jalan cepat, tetapi datangilah ia dengan jalan biasa dan langkahkanlah kakimu dengan tenang dan anggun.
Maka bagian mana pun yang kamujumpai, kerjakanlah; dan bagian mana pun yang terlewatkan darimu, maka sempurnakanlah.

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Abdur Razzaq pula, dan ia juga mengetengahkannya melalui jalur Yazid ibnu Zurai’, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah dengan sanad yang semisal.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan, “Ingatlah, demi Allah, makna yang dimaksud bukanlah melangkahkan kaki dengan cepat.
Sesungguhnya mereka telah dilarang mendatangi tempat salat kecuali dengan langkah-langkah yang tenang dan anggun.” Ungkapan sa ‘yu ini kaitannya adalah dengan hati, niat, dan kekhusyukan.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah.
(Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 9) Yakni berjalan dengan hati dan amalmu, itulah yang dimaksud dengan pengertian berjalan menuju ke tempat salat.

Tersebutlah pula bahwa Qatadah menakwilkan dengan pengertian yang sama dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut, yaitu:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim.
(Q.S. As-Saffat [37]: 102)

Maksudnya, dapat berjalan bersama-sama Ibrahim.
Telah diriwayatkan pula hal yang semisal, dari Muhammad ibnu Ka’b, Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya.

Disunatkan bagi orang yang mendatangi salat Jumat hendaknya terlebih dahulu mandi sebelumnya, karena telah disebutkan di dalam kitab Sahihain sebuah hadis dari Abdullah ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Apabila seseorang dari kamu mendatangi salat Jumat, hendaklah ia mandi terlebih dahulu.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula melalui Abu Sa’id r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Mandi hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang bermimpi mengeluarkan air mani (balig).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Hal yang diwajibkan Allah atas tiap-tiap orang muslim ialah mandi setiap tujuh harinya dengan membasuh kepala dan seluruh tubuhnya.

Hadis riwayat Imam Muslim.

Diriwayatkan pula dari Jabir r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Diwajibkan atas setiap lelaki muslim mandi sekali setiap tujuh harinya, yaitu pada hari Jumat.

Hadis riwayat Imam Ahmad, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Hibban.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Al-Auza’i, dari Hassan ibnu Atiyyah, dari Abul Asy’as As-San’ani, dari Aus ibnu Aus As-Saqafi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang mencuci dan mandi pada hari Jumat dan berpagi hari, dan berangkat dengan segera serta jalan kaki tidak berkendaraan, dan mendekati imam, dan mendengarkan serta tidak melakukan hal yang laga (melenyapkan pahala Jumat), maka baginya untuk tiap langkahnya pahala satu tahun puasa dan qiyam (salat)«ya.

Hadis ini mempunyai banyak jalur periwayatan dan banyak lafaznya, dan telah diketengahkan oleh Arba’ah serta dinilai hasan oleh Imam Turmuzi.

Telah diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang mandi pada hari Jumat seperti mandinya untuk jinabah, kemudian berangkat pada saat yang pertama, maka seakan-akan ia mengurbankan seekor unta.
Dan barang siapa yang berangkat pada saat yang kedua, maka seakan-akan ia mengurbankan seekor sapi betina.
Dan barang siapa yang berangkat pada saat yang ketiga, maka seakan-akan mengurbankan seekor kambing gibasy yang bertanduk.
Dan barang siapa yang berangkat pada saat yang keempat, maka seakan-akan mengurbankan seekor ayam.
Dan barang siapa yang berangkat pada saat yang kelima, maka seakan-akan mengurbankan sebuah telur.
Dan apabila imam muncul, maka para malaikat hadir mendengarkan zikir.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Disunatkan pula baginya memakai pakaian yang terbaiknya, mengenakan parfum, bersiwak, membersihkan dirinya, dan bersuci.
Di dalam hadis Abu Sa’id yang lalu telah disebutkan:

Mandi pada hari Jumat wajib atas setiap orang yang balig, juga bersiwak dan mengenakan wewangian keluarganya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ibrahim At-Taimi, dari Imran ibnu Abu Yahya, dari Abdullah ibnu Ka’b ibnu Malik, dari Ayyub Al-Ansari, bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memakai wewangian keluarganya jika mempunyainya, dan mengenakan pakaian yang terbaiknya, kemudian ia keluar hingga sampai di masjid, lalu melakukan salat (sunat) jika ia menginginkannya, dan tidak mengganggu seorang pun, kemudian diam dengan penuh perhatian di saat imamnya muncul hingga salat ditunaikan.
Maka hal itu menjadi kifarat baginya terhadap dosa-dosa yang ada antara hari itu sampai dengan Jumat berikutnya.

Di dalam kitab Sunan Abu Daud dan Ibnu Majah disebutkan melalui Abdullah ibnu Salam r.a.
bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbarnya:

Tiada beban bagi seseorang dari kamu seandainya dia telah membeli sepasang pakaian untuk hari Jumatnya selain dari sepasang pakaian untuk kerjanya.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada orang-orang pada hari Jumat, lalu beliau melihat mereka mengenakan pakaian nimar (sehari-hari), kemudian beliau ﷺ bersabda:

Tidak dibebankan bagi seseorang dari kamu jika dia mempunyai kaluasan untuk mengambil sepasang pakaian untuk salat Jumatnya selain sepasang pakaian untuk kerjanya.
(Riwayat Ibnu Majah)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat.
(Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 9)

Yang dimaksud dengan seruan ini adalah seruan kedua yang biasa dilakukan di hadapan Rasulullah ﷺ apabila beliau keluar (dari rumahnya) dan duduk di atas mimbarnya, maka pada saat itulah azan diserukan di hadapannya.

Adapun mengenai seruan pertama yang ditambahkan oleh Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a., sesungguhnya hal itu dilakukan mengingat banyaknya orang-orang, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zi’b, dari Az-Zuhri dari As-Sa’ib ibnu Yazid yang mengatakan bahwa dahulu seruan azan pada hari Jumat mula-mula dilakukan apabila imam telah duduk di atas mimbar di masa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar r.a., dan Umar r.a.
Dan ketika masa pemerintahan Usman ibnu Affan r.a.
telah berlangsung beberapa masa dan orang-orang bertambah banyak, maka ditambahkanlah seruan yang kedua di atas Az-Zaura.
Yakni diserukan azan di atas semua rumah yang dikenal dengan sebutan Az-Zaura, yang merupakan rumah yang tertinggi di Madinah pada masa itu berada di dekat masjid.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na’ im, telah menceritakan kepada kami Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Rasyid Al-Mak-hul, dari Mak-hul, bahwa pada mulanya seruan di hari Jumat dilakukan hanya sekali —yaitu di saat imam muncul— sampai dengan salat diiqamahkan.
Seruan itu bila telah diserukan, maka diharamkan melakukan jual beli.
Kemudian di masa pemerintahan Khalifah Usman, ia memerintahkan agar dilakukan pula seruan (azan) lainnya, yaitu sebelum imam muncul hingga semua orang telah terkumpulkan.
Dan sesungguhnya yang diperintahkan untuk menghadiri salat Jumat itu hanyalah kaum lelaki yang merdeka, bukan budak dan bukan pula wanita dan anak-anak.
Dan dimaafkan untuk tidak melakukan salat Jumat bagi orang musafir, orang yang sedang sakit, dan orang yang merawat orang sakit, dan lain sebagainya yang termasuk ke dalam uzur yang diterima, yang pembahasannya secara rinci terdapat di dalam kitab-kitab fiqih.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan tinggalkanlah jual beli.
(Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 9)

Yakni bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah olehmu jual beli, bila salat telah diserukan.
Karena itulah maka para ulama sepakat bahwa haram melakukan jual beli sesudah azan kedua.
Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai masalah jual beli secara muatah (bayar dan terima tanpa ijab kabul).
Ada dua pendapat mengenainya, tetapi menurut makna lahiriah ayat, hal itu tidak sah juga, sebagaimana yang dijelaskan secara lengkap di tempatnya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
(Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 9)

Yaitu kamu tinggalkan jual beli dan kamu bergegas untuk mengingat Allah dan salat adalah lebih baik bagimu, yakni bagi kehidupan dunia dan akhiratmu, jika kamu mengetahui.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Jumu'ah (62) Ayat 9

JUMU’AH
جُمُعَة

Al jumu’ah atau al jum’ah ialah salah satu nama hari dalam seminggu, bentuk jamaknya adalah jumu’aat dan juma’un. la dinamakan begitu karena pada hari itu orang berkumpul untuk shalat dan men­dengarkan khutbah. Sebelum datangnya Islam, hari itu disebut dengan hari al ‘arubah.

Diriwayatkan orang pertama yang memberi nama hari itu dengan hari Al-jumu’ah adalah Ka’ab bin Lu’ai, kakek Nabi Muhammad. Pada hari itu Ka’ab bin Lu’ai mengumpulkan orang Arab, berkhutbah di hadapan mereka dan mengingatkan mereka tentang kedatangan se­orang nabi dikalangan mereka.

Kata Al jumu’ah disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Jumu’ah (62), ayat 9.

Allah menetapkan satu hari yang di­ gunakan oleh pengikut setiap agama (millat) berkumpul untuk melakukan ibadah. Allah menetapkan hari Jum’at sebagai hari ber­kumpul untuk beribadah pada umat Islam karena ia adalah hari keenam dalam hitung­an satu minggu, dimana pada hari itu Allah menyempurnakan ciptaan makhluk dan mengumpulkannya sehingga hari itu ada­lah hari sempurnanya nikmat bagi hamba­-hamba Nya.

Allah juga menetapkan hari Jum’at se­bagai hari berkumpul untuk beribadah bagi kaum Bani Israil melalui perantaraan Nabi Musa. Namun, mereka mengubah ketetapan Allah itu dan memilih hari Sabtu sebagai hari besar. Kemudian Allah menetapkan pilihan mereka itu sebagai aturan yang disyariatkan dalam Taurat. Allah memerintahkan mereka memegang teguh aturan itu dan menjaganya. Di samping itu, Allah juga memerintahkan mereka mengikuti Nabi Muhammad apabila beliau diutus di muka bumi.

Setelah Nabi ‘Isa diutus Allah, ada yang menceritakan, beliau memerintahkan Bani Israil memindahkan hari besarnya kepada hari Ahad. Ada juga yang menceritakan Nabi ‘Isa tetap mengikuti ajaran Taurat kecuali hukum yang di-mansukh-kan, dan beliau tetap menjadikan hari Sabtu sebagai hari besar hingga beliau diangkat ke langit. Adapun yang memindahkan hari besar kepada hari Ahad adalah orang Nasrani yang hidup setelah Nabi ‘Isa yaitu yang hidup pada zaman Raja Konstantin.

Imam Asy Syaukani menceritakan pada masa nabi, hari Jum’at adalah hari yang di­rasakan berat oleh orang munafik karena pada hari itu mereka mesti berkumpul untuk shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah. Bahkan mereka melarikan diri dari shalat Jum’at secara diam-diam.

Dalam surah Al Jumu’ah (62), ayat 9, Allah memerintahkan orang beriman supaya bersegera mengingat Allah dan meninggal­kan jual beli ketika diseru menunaikan shalat Jum’at. Imam Ibn Katsir menerangkan, orang beriman jangan sampai sibuk dengan ke­indahan dan gemerlapnya dunia serta jangan sampai terlena dengan nikmat berdagang dan keuntungan hingga mereka lupa mengingat Tuhannya yang menciptakan dan memberi rezeki kepada mereka. Allah mengetahui pahala yang akan diberikannya adalah lebih baik bagi orang beriman daripada apa yang ada di tangan mereka karena apa yang ada di tangan mereka akan hilang, sedangkan kepunyaan Allah akan kekal selamanya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:167

Informasi Surah Al Jumu'ah (الجمعة)
Surat Al Jumu’ah ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan-golongan surat-surat Madaniyyah dan diturunkan sesudah surat As Shaf.

Nama surat Al Jumu’ah diambil dari kata Al Jumu’ah yang terdapat pada ayat 9 surat ini yang artinya:
“hari Jum’at”.

Keimanan:

Menjelaskan sifat-sifat orang-orang munafik dan sifat-sifat buruk pada umurnnya, di antaranya berdusta, bersumpah palsu dan penakut
mengajak orang-orang mu’min supaya ta’at dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan supaya bersedia menafkahkan harta untuk menegakkan agama-Nya sebelum ajal datang.

Ayat-ayat dalam Surah Al Jumu'ah (11 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Jumu'ah (62) ayat 9 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Jumu'ah (62) ayat 9 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Jumu'ah (62) ayat 9 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Jumuah (62) ayat 9-11 - Rayi Putra (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Jumuah (62) ayat 9-11 - Rayi Putra (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Jumu'ah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 11 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 62:9
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Jumu'ah.

Surah Al-Jumu’ah (bahasa Arab:الجمعة) adalah surah ke-62 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 11 ayat.
Dinamakan Al Jumu’ah yang bukan berarti hari jum’at, akan tetapi secara bahasa bermakna hari perkumpulan diambil dari perkataan Al-Jumu’ah (Jama`) yang terdapat pada ayat ke-9 surat ini.
Al-Jumu'ah tidak menjelaskan secara langsung dalam bahwa suatu hari ibadah bagi kaum laki-laki diadakan di setiap pekan, meski banyak penafsiran aliran islam yang menerapkan ibadah semacam ini.

Nomor Surah 62
Nama Surah Al Jumu'ah
Arab الجمعة
Arti Hari Jum’at
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 110
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 11
Jumlah kata 177
Jumlah huruf 767
Surah sebelumnya Surah As-Saff
Surah selanjutnya Surah Al-Munafiqun
4.5
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/62-9







Pembahasan ▪ Surah al jumuah a ▪ Q S al-jumuah/62/9 ▪ QS 62:9 ▪ qs 62:9 10 11

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta