QS. Al Jinn (Jin) – surah 72 ayat 8 [QS. 72:8]

وَّ اَنَّا لَمَسۡنَا السَّمَآءَ فَوَجَدۡنٰہَا مُلِئَتۡ حَرَسًا شَدِیۡدًا وَّ شُہُبًا ۙ
Wa-annaa lamasnaassamaa-a fawajadnaahaa muli-at harasan syadiidan wasyuhuban;

dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,
―QS. 72:8
Topik ▪ Jin ▪ Usaha jin untuk mencuri informasi ▪ Azab orang kafir
72:8, 72 8, 72-8, Al Jinn 8, AlJinn 8, Al Jin 8, Aljin 8, Al-Jinn 8

Tafsir surah Al Jinn (72) ayat 8

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Jinn (72) : 8. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah menambah lagi pernyataan jin ketika Dia mengutus Nabi Muhammad dan menurunkan Al-Qur’an kepadanya serta menjaga beliau dari jin-jin itu.
Langit ketika itu dijaga dengan ketat, dan panah-panah api disediakan di seluruh penjuru langit untuk mencegah jin-jin mendekatinya guna mencuri berita-berita yang dapat didengar, sebagaimana yang sering mereka lakukan.

Telah diriwayatkan oleh at-Tirmidhi, dan ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

Dahulu jin-jin itu dapat naik ke langit untuk mendengar wahyu.
Ketika mereka mendengar suatu kata lalu mereka tambah dengan sembilan kata lainnya.
Ucapan (yang mereka dengar) adalah benar tetapi tambahan-tambahan mereka semuanya bohong.
Ketika Nabi ﷺ diutus menjadi rasul, mereka dilarang menduduki tempat-tempat tersebut.
Lalu mereka sampaikan larangan tersebut kepada Iblis; sedangkan ketika itu bintang-bintang belum dipakai untuk memanah jin-jin itu.
Lalu iblis berkata kepada mereka, “Larangan itu disebabkan suatu kejadian di muka bumi,” lalu Iblis mengirim tentara-tentaranya untuk menyelidiki kejadian tersebut.
Mereka mendapatkan Nabi ﷺ yang sedang mengerjakan salat di antara dua gunung di Mekah, lalu mereka menemui Iblis dan menyampaikan penemuan mereka itu kepadanya, lalu Iblis berkata, “Inilah kejadian yang terjadi di permukaan bumi.”
(Riwayat at-Tirmizi dan ath-thabrani)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya kami telah berusaha mencapai langit, tetapi kami dapati langit itu dipenuhi oleh para penjaga yang kuat terdiri atas malaikat dan dipenuhi oleh panah-panah api yang membakar dari arah mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Jin mengatakan:

(“Dan sesungguhnya kami telah mencoba menyentuh langit) maksudnya kami telah bermaksud untuk mencuri pendengaran di langit (maka kami menjumpainya penuh dengan penjaga) para malaikat (yang kuat dan panah-panah api) yakni bintang-bintang yang membakar, hal ini terjadi setelah Nabi ﷺ diutus menjadi rasul.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang keadaan jin ketika Dia mengutus Rasul-Nya Nabi Muhammad ﷺ dan menurunkan kepadanya Al-Qur’an.
Dan tersebutlah bahwa di antara pemeliharaan (penjagaan) Allah kepada Al-Qur’an ialah Dia memenuhi langit dengan penjagaan yang ketat di semua penjuru dan kawasannya, dan semua setan diusir dari tempat-tempat pengintaiannya, yang sebelumnya mereka selalu menduduki pos-posnya di langit.
Agar setan-setan itu tidak mencuri-curi dengar dari Al-Qur’an, yang akibatnya mereka akan menyampaikannya kepada para tukang tenung yang menjadi teman-teman mereka, sehingga perkara Al-Qur’an menjadi samar dan campur aduk dengan yang lainnya, serta tidak diketahui mana yang benar.
Ini merupakan belas kasihan Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluk-Nya, juga merupakan rahmat dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan sebagai pemeliharaan-Nya terhadap Kitab-Nya yang mulia.
Karena itulah maka jin mengatakan, sebagaimana yang diceritakan oleh firman-Nya

dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).
Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).
(Q.S. Al-Jinn [72]: 8-9)

Yaitu barang siapa di antara kami yang berani mencoba mencuri-curi dengar sekarang, niscaya ia akan menjumpai panah berapi yang mengintainya yang tidak akan Iuput dan tidak akan meleset darinya, bahkan pasti akan mengganyangnya dan membinasakannya.

Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
(Q.S. Al-Jinn [72]: 10)

Yakni kami tidak mengetahui peristiwa apa yang terjadi di langit, apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka?
Ini merupakan ungkapan etis kaum jin karena mereka menyandarkan keburukan kepada yang bukan pelakunya, sedangkan kebaikan mereka sandarkan kepada pelakunya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala Di dalam sebuah hadis sahih diungkapkan:

Keburukan itu bukanlah dinisbatkan kepada Engkau.

Sebelum itu memang pernah juga terjadi pelemparan bintang-bintang yang menyala-nyala (meteor), tetapi tidak banyak terjadi, melainkan hanya sesekali saja dan jarang terjadi, seperti yang disebutkan di dalam hadis Al-Abbas, yang menceritakan bahwa ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada bintang yang dilemparkan (di langit) sehingga bintang itu menyala dengan terang.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang peristiwa ini?”
Kami menjawab, “Kami beranggapan bahwa ada seorang yang besar dilahirkan, atau ada orang besar yang meninggal dunia.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab, “Bukan demikian, tetapi apabila Allah memutuskan suatu urusan di langit,” hingga akhir hadis.
Kami telah mengemukakannya dengan lengkap dalam tafsir surat Saba’.

Peristiwa penjagaan langit dengan penjagaan yang ketat itulah yang menggerakkan jin untuk mencari penyebabnya.
Lalu mereka menyebar ke arah timur dan arah barat belahan bumi untuk mencari berita penyebabnya.
Akhirnya mereka menjumpai Rasulullah ﷺ sedang membaca Al-Qur’an dengan para sahabatnya dalam salat.
Maka mereka mengetahui bahwa karena orang inilah langit dijaga ketat, lalu berimanlah kepadanya jin yang mau beriman, dan jin yang lainnya tetap pada kedurhakaan dan kekafirannya.
Hal ini disebutkan di dalam hadis Ibnu Abbas pada tafsir surat Al-Ahqaf, tepatnya pada firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 29), hingga akhir ayat.

Dan memang tidak diragukan lagi bahwa ketika peristiwa itu terjadi, yaitu banyaknya bintang yang menyala di langit dan selalu siap untuk dilemparkan bagi siapa yang akan mendekatinya, hal ini menyebabkan kegemparan di kalangan manusia dan jin; mereka kaget dan merasa takut dengan peristiwa tersebut.
Mereka mengira bahwa alam ini akan hancur, sebagaimana yang dikatakan oleh As-Saddi berikut ini.

Bahwa sebelumnya langit tidak dijaga, melainkan bila di bumi terdapat seorang nabi atau agama Allah akan memperoleh kemenangan.
Tersebutlah pula bahwa setan-setan sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus mempunyai pos-posnya tersendiri di langit yang terdekat untuk mendengar-dengarkan berita dari langit menyangkut peristiwa yang akan terjadi di bumi.
Dan setelah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul, setan-setan itu dilempari dengan panah-panah berapi di suatu malam, maka kagetlah penduduk Taif dengan peristiwa tersebut.
Mereka mengatakan, “Penduduk langit telah binasa.” Mereka mengatakan demikian karena melihat hebatnya api yang menyala di langit dan bintang-bintang meteor di malam itu simpang siur di langit menjadikan langit terang benderang.

Maka mereka memerdekakan budak-budaknya dan melepaskan ternak mereka, lalu Abdu Yalil ibnu Amr ibnu Umair berkata kepada mereka, “Celakalah kalian, hai orang-orang Taif, tahanlah harta benda kalian.
Dan lihatlah dengan baik olehmu tempat-tempat bintang-bintang itu.
Jika bintang-bintang itu masih tetap pada tempatnya masing-masing, berarti penduduk langit tidak binasa.
Sesungguhnya kejadian ini tiada Lain karena Ibnu Abu Kabsyah, yakni Nabi Muhammad ﷺ Dan jika kalian lihat bintang-bintang tersebut tidak lagi berada di tempatnya masing-masing, berarti penduduk langit telah binasa.” Maka mereka memandang langit dengan pandangan yang teliti, dan ternyata mereka melihat bintang-bintang itu masih ada di tempatnya, akhirnya mereka menahan harta mereka dan tidak dilepaskannya lagi.

Setan-setan merasa terkejut dengan peristiwa tersebut di malam itu, maka mereka menghadap kepada iblis pemimpin mereka dan menceritakan kepadanya peristiwa pelemparan yang dialaminya.
Iblis memerintahkan kepada mereka, “Datangkanlah kepadaku dari tiap-tiap kawasan bumi segenggam tanah, aku akan menciumnya.” Lalu.
iblis menciumnya dan berkata, “Ini gara-gara teman kalian yang ada di Mekah.” Maka iblis mengirimkan tujuh jin dari Nasibin.
dan mereka datang ke Mekah, maka mereka menjumpai Nabi Allah sedang berdiri mengerjakan salatnya di Masjidil Haram dalam keadaan membaca Al-Qur’an.
Mereka makin mendekatinya karena ingin mendengarkan bacaan Al-Qur:an, dan hampir saja bagian yang menonjol dari tenggorokan mereka menyentuh Nabi ﷺ Kemudian mereka masuk Islam, maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi-Nya yang menceritakan perihal mereka.
Kami telah menerangkan bagian ini secara rinci di permulaan pembahasan kebangkitan Rasul dari kitab kami yang berjudul Kitabus Sirah, dengan keterangan yang panjang lebar.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Jinn (72) Ayat 8

HARAS
حَرَس

Lafaz haras adalah bentuk jamak dari lafaz tunggal haris. Bentuk jamaknya yang lain adalah hurras. Semua lafaz ini berasal dari lafaz hars yang mempunyai dua arti yaitu
(1) penajgaan,
(2) waktu atau masa.

Namun, lafaz haras hanya mengandung makna yang pertama dan artinya ialah penjaga suatu tempat.

Dari beberapa bentuk yang ada, lafaz yang disebut di dalam Al Qur’an hanyalah lafaz haras dan hanya sekali saja disebut yaitu dalam surah Al Jinn (72), ayat 8.

Lafaz haras dalam ayat ini maksudnya para malaikat yang bertugas menjaga langit dan menghalau jin yang coba mendekatinya. Dengan adanya penjaga Iangit, para jin tidak dapat lagi men­dengar dan mengetahui kabar di langit me­ngenai kebaikan ataupun keburukan yang di­ timpakan Allah kepada penduduk bumi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:186-187

Informasi Surah Al Jinn (الجن)
Surat Al Jin terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al A’raaf.

Dinamai “Al Jin” (jin) diambil dari perkataan “Al Jin” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan Al Qur’an dan mereka mengikuti ajaran Al Qur’an tersebut.

Keimanan:

Pengetahuan tentang jin diperoleh Nabi Muhammad ﷺ dengan jalan wahyu,

Ayat-ayat dalam Surah Al Jinn (28 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Jinn (72) ayat 8 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Jinn (72) ayat 8 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Jinn (72) ayat 8 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Jinn - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 28 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 72:8
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Jinn.

Surah Al-Jinn (Arab: الجنّ ,"Jin") adalah surah ke-72 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat.
Dinamakan "al-Jinn" yang berarti "Jin" diambil dari kata "al-Jinn" yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan al-Qur'an dan mereka mengikuti ajaran al-Qur'an tersebut.

Nomor Surah 72
Nama Surah Al Jinn
Arab الجن
Arti Jin
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 40
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 28
Jumlah kata 286
Jumlah huruf 1109
Surah sebelumnya Surah Nuh
Surah selanjutnya Surah Al-Muzzammil
4.4
Ratingmu: 4.8 (16 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/72-8









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta