QS. Al Jaatsiyah (Yang bertekuk lutut) – surah 45 ayat 24 [QS. 45:24]

وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَظُنُّوۡنَ
Waqaaluuu maa hiya ilaa hayaatunaaddunyaa namuutu wanahyaa wamaa yuhlikunaa ilaaddahru wamaa lahum bidzalika min ‘ilmin in hum ilaa yazhunnuun(a);

Dan mereka berkata:
“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”,
dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
―QS. 45:24
Topik ▪ Kekufuran manusia akan nikmat Allah
45:24, 45 24, 45-24, Al Jaatsiyah 24, AlJaatsiyah 24, Al-Jasiyah 24, AlJasiyah 24, Al Jasiyah 24

Tafsir surah Al Jaatsiyah (45) ayat 24

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Jaatsiyah (45) : 24. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan.
Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja.
Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka.
Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa.
Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan.
Keterangan itu diperkuat oleh adat kebiasaan orang Arab Jahiliah yaitu apabila mereka ditimpa bencana atau musibah, terlontarlah kata-kata dari mulut mereka, “Aduhai celakalah masa.” Mereka mengumpat-umpat masa karena menurut mereka masa itulah sumber dari segala musibah.
Dalam hadis Qudsi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

Allah berfirman, “Manusia telah menyakitiku dengan mengatakan wahai masa yang sial.
Maka janganlah salah seorang kalian mengatakan ‘masa yang sial karena Akulah (Pencipta dan Pengatur)masa.
Aku menanti malam menjadi siang, dan jika Aku menghendakinya niscaya Aku genggam keduanya.”
(Riwayat Muslim)

Kemudian Allah menyayangkan sikap kaum musyrikin Mekah yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar.
Allah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal yang menyangkut masa itu.
Pendapat mereka itu hanyalah didasarkan pada sangkaan dan dugaan saja.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita hidup dan mati.
Tidak ada kehidupan lain setelah kematian dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Perkataan mereka itu tidak berdasar pada ilmu dan keyakinan, tetapi hanya berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka berkata) yaitu orang-orang yang ingkar akan adanya hari berbangkit, (“Kehidupan ini) kehidupan yang sebenarnya (tiada lain hanyalah kehidupan kita) yang kita alami (di dunia saja, kita mati dan kita hidup) sebagian dari kita mati kemudian sebagian yang lain hidup karena mereka dilahirkan (dan tiada yang membinasakan kita selain masa”) atau berlalunya masa.

Lalu Allah berfirman menyangkal perkataan mereka melalui firman-Nya:

(dan mereka tidak mempunyai mengenai hal itu) mengenai perkataan mereka yang demikian tadi (pengetahuan sedikit pun, tiada lain) tidak lain (mereka hanyalah menduga-duga saja.)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang perkataan aliran Dahriyyah dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang yang sependapat dengan mereka dari kalangan orang-orang musyrik Arab yang ingkar kepada hari kemudian.

Dan mereka berkata, “kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup.” (Q.S. Al-Jaatsiyah [45]: 24)

Yakni tiada kehidupan kecuali kehidupan di dunia ini; suatu kaum mati, sedangkan yang lainnya hidup; dan tiada hari kemudian serta tiada pula yang namanya hari kiamat.
Hal ini dikatakan oleh orang-orang musyrik Arab yang ingkar kepada hari berbangkit, dan dikatakan pula oleh sebagian para filosuf ateis; mereka mengingkari adanya permulaan kejadian dan hari kembali.
Dan dikatakan pula oleh para filosuf aliran Dahriyyah yang ingkar kepada adanya pencipta, yang meyakini bahwa setiap tiga puluh enam ribu tahun segala sesuatu akan kembali seperti semula.
Dan mereka menduga bahwa hal ini telah terjadi berulang-ulang tanpa batas.
Mereka membesarkan akal dan mendustakan dalil manqul, karena itulah mereka mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.
(Q.S. Al-Jaatsiyah [45]: 24)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
(Q.S. Al-Jaatsiyah [45]: 24)

Mereka mengatakan demikian hanya semata-mata berdasarkan dugaan dan ilusi mereka sendiri.

Adapun mengenai sebuah hadis yang diketengahkan oleh pemilik kedua kitab sahih (Imam Bukhari dan Imam Muslim) serta Abu Daud dan Imam Nasai melalui Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Anak Adam menyakiti-Ku, dia mencaci masa, padahal Akulah (yang menciptakan) masa; di tangan kekuasaan-Ku urusan itu, Akulah Yang menggilirkan malam dan siang harinya.”

Yang menurut riwayat lain disebutkan pula:

Janganlah kamu mencaci masa, karena sesungguhnya Allah-lah (yang menciptakan) masa itu.

Selanjutnya Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.”Anak Adam mencaci masa, padahal Akulah (yang menciptakan) masa, di (tangan kekuasaan)-Kulah (perputaran) malam dan siang hari.”

Pemilik kitab Sahihain dan Imam Nasai telah mengetengahkan hadis ini melalui Yunus ibnu Yazid dengan sanad yang sama.

Muhammad ibnu lshaq telah meriwayatkan dari Al-A’la ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a, bahwa rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku meminjam kepada hamba-Ku, tetapi dia tidak memberi-Ku; dan hamba-Ku mencaci-Ku seraya mengatakan, “Celakalah masa ini” Padahal Akulah (yang menciptakan) masa.

Imam Syafii dan Abu Ubaidah serta selain keduanya dari kalangan para imam mengatakan sehubungan dengan makna sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan:

Janganlah kamu mencaci masa, karena sesungguhnya Allah-lah (yang menciptakan) masa itu.

Bahwa dahulu orang-orang Arab di masa Jahiliahnya apabila tertimpa paceklik atau malapetaka atau musibah, mereka selalu mengatakan, “Celakalah masa ini.” Mereka menyandarkan kejadian tersebut kepada masa dan mencaci makinya.
Padahal sesungguhnya yang melakukan hal tersebut hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala Seakan-akan secara tidak langsung mereka mencaci maki Allah subhanahu wa ta’ala Seakan-akan secara tidak langsung mereka mencaci maki Allah subhanahu wa ta’ala karena sesungguhnya Dialah yang melakukannya secara hakiki.
Oleh karena itulah maka Nabi ﷺ melarang masa dicaci berdasarkan pertimbangan ini.
Sebab pada hakikatnya Allah-lah (yang menciptakan) masa itu yang mereka caci maki dan mereka sandarkan kepadanya kejadian-kejadian tersebut.

Ini merupakan pendapat yang terbaik dari apa yang dikemukakan sehubungan dengan tafsir pengertian ini, dan pendapat inilah yang paling mirip dengan makna yang dimaksud, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Hazm dan orang-orang yang mengikuti metodenya dari kalangan aliran Zahiriyah telah keliru karena mereka menganggap Ad-Dahr adalah salah satu dari Asma’ul Husna, karena berdasarkan hadis ini.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Jaatsiyah (45) Ayat 24

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa kaum Jahiliyah beranggapan bahwa kecelakaan itu disebabkan adanya malam dan siang (mereka selalu mengkambing-hitamkan masa).
Ayat ini (al-Jaatsiyah: 24) turun berkenaan dengan anggapan itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Jaatsiyah (45) Ayat 24

DAHR
لدَّهْر

Lafaz ini adalah ism (kata benda) dalam bentuk mufrad, jamak bagi kata ini adalah “duhuurun” maknanya masa, zaman, mengalahkan, memaksa, adat, malapetaka, bencana, 1000 tahun atau 100,000 tahun, kemauan dan ke­inginan, tujuan dan sebagainya.

Ibnu Faris berkata,
“Dinamakan ad dahr karena ia datang kepada semua perkara dan menguasainya.”

Al Kafawi berkata,
“Asal makna ad dahr adalah tempoh dan masa alam, bermula dari kewujudannya hingga ke­tiadaannya dan ia dipinjam untuk makna adat yang kekal serta tempoh (masa) kehidupan,”

Ia disebut sebanyak dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Jaatsiyah (45), ayat 24;
-Al Insaan (76), ayat 1.

Ibnu Manzur berkata,
“Ia bermakna se­panjang masa, zaman yang panjang.”

Asy Syafi’i berkata,
Al hiin diperuntukkan kepada tempoh dunia dan hari.” Beliau berkata lagi, “Dan kami tidak mengetahui batas al hiin begitu juga dengan al zamaan dan ad dahr.

Syamr, Al Jauhari dan Al­ Azhari berkata,
Ad dahr dan al zaman adalah satu makna,” namun, Khalid bin Yazid menyangkalnya dan mengatakan al zaman adalah musim panen, musim buah, musim panas dan musim dingin. Oleh karena itu, ia bermula dari dua bulan hingga enam bulan sedangkan ad dahr tidak terputus.

Al Azhari mengatakan, “Ad dahr me­nurut orang Arab berlaku pada sebahagian dan keseluruhan masa dunia”

Al Alusi ber­pendapat, ia bermakna sepanjang zaman. Ad dahr lebih khusus daripada al zamaan.

Ar Raghib berkata,
“Asal makna ad­ dahr ialah nama bagi tempoh (masa) alam dari kewujudannya hingga kemusnahannya lalu diungkapkan terhadap keseluruhan masa yang panjang berbeda dengan al zaman karena ia berlaku keatas zaman yang pendek atau yang panjang.”

Lafaz ad dahr yang terdapat dalam surah Al Jaatsiyah yang mengandung maksud edar­an zaman, masa dan tahun, di mana mereka (yang tidak beriman) menyandarkan dan menyalahkan masa atau zaman untuk setiap kejadian yang menimpa mereka.

Al Alusi mengungkapkan sandaran kehancuran dan kejadian yang berlaku kepada zaman atau masa disebabkan pengingkaran mereka ter­hadap malaikat maut yang mencabut nyawa mereka atas perintah Allah serta kebodohan diri mereka. Hal itu sudah ditakdirkan oleh Allah.

Sebagian mufasir mengatakan, lafaz ad dahr yang terdapat dalam surah Al Insaan bermaksud 40 tahun artinya seperti Al­ Qurtubi dan Ar Razi nyatakan, “Yang di­maksudkan manusia dalam ayat ini adalah Adam dimana manusia yang belum menjadi sebutan itu ialah ketika 40 tahun lamanya tubuh Adam dibentuk dari tanah masih terbaring belum bernyawa diantara Makkah dan Ta’if lalu ditelentangkan selama 40 tahun, kemudian ditempa menjadi tanah liat yang kering (hama’in masnuun) selama 40 tahun. Seterusnya dijadikan kering sebagai tembikar (salsal) selama 40 tahun, barulah disempurnakan kejadiannya sesudah 120 tahun. Waktu itu barulah ditiupkan pada dirinya roh.”

Namun At Tabari mengatakan sebagian ahli tafsir menyatakan tiada masa yang terbatas berkenaan hal itu dan beliau berkata,
Ad dahr dalam ayat ini bermakna waktu yang tidak diketahui berapa lamanya dan tempohnya.

Kesimpulannya, ad dahr dalam surah Al Jaatsiyah bermakna edaran zaman dan masa sedangkan ad dahr dalam surah Al­ Insaan bermakna zaman atau waktu sebelum penciptaan manusia.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:219-220

Informasi Surah Al Jaatsiyah (الجاثية)
Surat Al Jaatsiyah terdiri atas 37 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ad Dukhaan.

Dinamai “Al Jaatsiyah” (yang berlutut) diambil dari perkataan “Jaatsiyah” yang terdapat pada ayat 28 surat ini.

Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat, yaitu semua manusia dikumpulkan ke hadapan mahkamah Allah Yang Maha Tinggi yang memberikan keputusan ter­hadap perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.
Pada hari itu semua manusia berlutut di hadapan Allah.

Dinamai juga dengan “Asy Syari’ah” diambil dari perkataan “Syari’ah” (Syari’at) yang terdapat pada ayat 18 surat ini.

Keimanan:

Keterangan-keterangan dan dalil-dalil atas adanya Allah pencipta langit dan bumi
buruk dan baik yang dikerjakan oleh manusia akibatnya bagi dirinya sendiri
Allah Pelindung orang-orang yang bertakwa
kebesaran dan keagungan hanya hak Allah semata
kepastian bahwa Allah-lah yang menghidupkan, mematikan dan menghimpunkan manusia pada hari kiamat
keterangan-keterangan mengenai huru hara hari kiamat dan bagaimana tiap-tiap orang menerima perhitungan pekerjaannya di akhirat
pada hari kiamat jelaslah bagi orang-orang musyrikin keburukan perbuatan­perbuatan yang mereka kerjakan di dunia, dan mereka tidak lepas dari azab yang waktu di dunia mereka perolok-olokkan.

Hukum:

Perintah kepada Rasulullah ﷺ supaya jangan mengikuti orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya dan jangan menuruti kemauan mereka.

Kisah:

Kisah Bani Israil yang telah diberi ni’mat oleh Allah, tetapi mereka berpaling dan menyeleweng dari ajaran agama, sehingga timbul perselisihan yang hebat antara sesama mereka.

Lain-lain:

Ancaman kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ayat Allah serta berlaku sombong terhadapnya
kebatilan pendapat kaum Dahriyah (atheisme, skeptisme dan vrij denker), keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Ayat-ayat dalam Surah Al Jaatsiyah (37 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Jaatsiyah (45) ayat 24 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Jaatsiyah (45) ayat 24 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Jaatsiyah (45) ayat 24 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Jaatsiyah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 37 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 45:24
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Jaatsiyah.

Surah Al-Jasiyah (Arab: الجاثية ,"Yang Berlutut") adalah surah ke-45 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah makkiyah yang terdiri atas 37 ayat.
Dinamakan Al-Jasiyah yang berarti Yang Berlutut diambil dari perkataan Jaatsiyah yang terdapat pada ayat 28 surah ini.
Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat, yaitu semua manusia dikumpulkan ke hadapan mahkamah Allah Yang Maha Tinggi yang memberikan keputusan terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.
Pada hari itu semua manusia berlutut di hadapan Allah.
Dinamai juga dengan Asy Syari'ah diambil dari perkataan Syari'ah yang terdapat pada ayat 18 surah ini.

Nomor Surah 45
Nama Surah Al Jaatsiyah
Arab الجاثية
Arti Yang bertekuk lutut
Nama lain asy-Syari'ah (Syariat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 65
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 37
Jumlah kata 489
Jumlah huruf 2085
Surah sebelumnya Surah Ad-Dukhan
Surah selanjutnya Surah Al-Ahqaf
4.6
Ratingmu: 4.2 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al jatsiyah 45

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta