Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Jaatsiyah (Yang bertekuk lutut) - surah 45 ayat 23 [QS. 45:23]

اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ اللّٰہُ عَلٰی عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ
Afara-aita maniittakhadza ilahahu hawaahu wa-adhallahullahu ‘ala ‘ilmin wakhatama ‘ala sam’ihi waqalbihi waja’ala ‘ala basharihi ghisyaawatan faman yahdiihi min ba’dillahi afalaa tadzakkaruun(a);
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya?
Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
―QS. Al Jaatsiyah [45]: 23

Daftar isi

Have you seen he who has taken as his god his (own) desire, and Allah has sent him astray due to knowledge and has set a seal upon his hearing and his heart and put over his vision a veil?
So who will guide him after Allah?
Then will you not be reminded?
― Chapter 45. Surah Al Jaatsiyah [verse 23]

أَفَرَءَيْتَ adakah kamu melihat

Have you seen
مَنِ orang

(he) who
ٱتَّخَذَ ia menjadikan

takes
إِلَٰهَهُۥ Tuhannya

(as) his god
هَوَىٰهُ hawa nafsunya

his desire
وَأَضَلَّهُ dan membiarkan sesat padanya

and Allah lets him go astray *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

and Allah lets him go astray *[meaning includes next or prev. word]
عَلَىٰ atas

knowingly, *[meaning includes next or prev. word]
عِلْمٍ pengetahuan

knowingly, *[meaning includes next or prev. word]
وَخَتَمَ dan Dia menutup

and He sets a seal
عَلَىٰ atas

upon
سَمْعِهِۦ pendengarannya

his hearing
وَقَلْبِهِۦ dan hatinya

and his heart
وَجَعَلَ dan Dia menjadikan

and puts
عَلَىٰ atas

over
بَصَرِهِۦ penglihatannya

his vision
غِشَٰوَةً tutupan

a veil?
فَمَن maka siapakah

Then who
يَهْدِيهِ memberi petunjuk kepadanya

will guide him
مِنۢ dari

after *[meaning includes next or prev. word]
بَعْدِ sesudah

after *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهِ Allah

Allah?
أَفَلَا apakah maka tidak

Then will not
تَذَكَّرُونَ kamu ingat/mengambil pelajaran

you receive admonition?

Tafsir Quran

Surah Al Jaatsiyah
45:23

Tafsir QS. Al-Jasiyah (45) : 23. Oleh Kementrian Agama RI

Muqatil mengatakan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa percakapan Abu Jahal dengan Al-Walid bin Al-Mugirah.
Pada suatu malam Abu Jahal tawaf di Baitullah bersama Walid.

Kedua orang itu membicarakan keadaan Nabi Muhammad.
Abu Jahal berkata,
"Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa Muhammad itu adalah orang yang benar.

"Al-Walid berkata kepadanya,
"Biarkan saja, apa pedulimu dan apa alasan pendapatmu itu?"
Abu Jahal menjawab,
"Hai Abu Abdisy Syams, kita telah menamainya orang yang benar, jujur, dan terpercaya dimasa mudanya, tetapi sesudah ia dewasa dan sempurna akalnya, kita menamakannya pendusta lagi pengkhianat.
Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa dia itu adalah benar."
Al-Walid berkata,
"Apakah gerangan yang menghalangimu untuk membenarkan dan mempercayai seruannya?"
Abu Jahal menjawab,
"Nanti gadis-gadis Quraisy akan menggunjingkan bahwa aku pengikut anak yatim Abu thalib, padahal aku dari suku yang paling tinggi.
Demi Al-Lata da Al-Uzza, saya tidak akan menjadi pengikutnya selama-lamanya."
Kemudian turunlah ayat ini.

Selanjutnya, pada ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir Mekah yang sedang tenggelam dalam perbuatan jahat.

Semua yang mereka lakukan itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsunya karena telah tergoda oleh tipu daya setan.
Tidak ada lagi nilai-nilai kebenaran yang mendasari tingkah laku dan perbuatan mereka.

Apa yang baik menurut hawa nafsu mereka itulah yang mereka perbuat.
Seakan-akan mereka menganggap hawa nafsu mereka itu sebagai tuhan yang harus mereka ikuti perintahnya.

Mereka telah lupa bahwa kehadiran mereka di dunia yang fana ini ada maksud dan tujuannya.
Ada misi yang harus mereka bawa yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Mereka telah menyia-nyiakan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka sebagai makhluk Tuhan yang paling baik bentuknya dan mempunyai kemampuan yang paling baik pula.
Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Allah kelak dan bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang setimpal.
Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (Az-Zalzalah [99]: 7-8)

Sebenarnya hawa nafsu yang ada pada manusia itu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya yang diberikan Allah kepada manusia.
Di samping Allah memberikan akal dan agama kepada manusia agar dengan keduanya manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya.
Jika seseorang mengendalikan hawa nafsunya sesuai dengan pertimbangan akal yang sehat dan tidak bertentangan dengan tuntunan agama, maka orang yang demikian itu telah berbuat sesuai dengan fitrahnya.
Tetapi apabila seseorang memperturutkan hawa nafsunya tanpa pertimbangan akal yang sehat dan tidak lagi berpedoman kepada tuntutan agama, maka orang itu telah diperbudak oleh hawa nafsunya.
Hal itu berarti bahwa ia telah berbuat menyimpang dari fitrahnya dan terjerumus dalam kesesatan.

Berdasarkan keterangan di atas, maka dalam mengikuti hawa nafsunya, manusia terbagi atas dua kelompok.
Kelompok pertama ialah kelompok yang dapat mengendalikan hawa nafsunya;
mereka itulah orang yang bertakwa.
Sedangkan kelompok kedua ialah orang yang dikuasai hawa nafsunya.
Mereka itulah orang-orang yang berdosa dan selalu bergelimang dalam lumpur kejahatan.

Ibnu ‘Abbas berkata,
"Setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Alquran, setiap kali itu pula Ia mencelanya."
Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga).
Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.
Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
(Al-A’raf [7]: 176)

Pada ayat lain :

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (Shad [38]: 26)

Dalam ayat ini, Allah memuji orang-orang yang dapat menguasai hawa nafsunya dan menjanjikan baginya tempat kembali yang penuh kenikmatan.
Allah ﷻ berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى ﴿۴۰﴾ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى ﴿۴۱﴾

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (An-Nazi’at [79]: 40-41)

Banyak hadishadis Nabi ﷺ yang mencela orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya.
Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘As bahwa Nabi ﷺ berkata.

Tidak beriman seseorang dari antara kamu sehingga hawa nafsunya itu tunduk kepada apa yang saya bawa (petunjuk).(Riwayat Al-Khathib Al-Bagdadi)

Syaddad bin Aus meriwayatkan hadis dari Nabi ﷺ :

Orang yang cerdik ialah orang yang menguasai hawa nafsunya dan berbuat untuk kepentingan masa sesudah mati.
Tetapi orang yang zalim ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharap-harap sesuatu yang mustahil dari Allah.
(Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang yang selalu memperturutkan hawa nafusnya biasanya kehilangan kontrol dirinya.
Itulah sebabnya ia terjerumus dalam kesesatan karena ia tidak mau memperhatikan petunjuk yang diberikan kepadanya, dan akibat perbuatan jahat yang telah dilakukannya karena memperturutkan hawa nafsu.

Keadaan orang yang memperturutkan hawa nafsunya itu diibaratkan seperti orang yang terkunci mati hatinya sehingga tidak mampu lagi menilai mana yang baik mana yang buruk, dan seperti orang yang telinganya tersumbat sehingga tidak mampu lagi memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di langit dan di bumi, dan seperti orang yang matanya tertutup tidak dapat melihat dan mengetahui kebenaran adanya Allah Yang Maha Pencipta segala sesuatu.
Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar tidak membenarkan sikap orang-orang kafir Mekah dengan mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang akan memberikan petunjuk selain Allah setelah mereka tersesat dari jalan yang lurus.



Pada akhir ayat ini, Allah mengingatkan mereka mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari alam semesta, kejadian pada diri mereka sendiri, dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai bukti bahwa Allah Mahakuasa lagi berhak disembah.

Tafsir QS. Al Jaatsiyah (45) : 23. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Tidakkah kamu memperhatikan, wahai Rasulullah, orang yang menyembah hawa nafsunya, tunduk dan patuh kepadanya, dan ia sesat dari jalan kebenaran, padahal ia mengatahui jalan kebenaran itu, dan Allah telah menutup pendengarannya, sehingga tidak dapat menerima nasihat, dan menutup hatinya, sehingga tidak mau meyakini kebenaran, serta menutup penglihatannya, sehingga tidak dapat melihat suatu peringatan?
Siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah berpaling darinya?
Apakah kalian tidak memperhatikan sehingga tidak dapat mengambil pelajaran?

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai Muhammad, tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.
Jika ia menginginkan sesuatu, ia pasti melakukannya.


Allah akan membiarkannya setelah ilmu sampai kepadanya dan setelah hujah ditegakkan atasnya.
Ia tidak akan mau mendengar nasihat-nasihat Allah dan tidak mau mengambil ‘ibrah sehingga hatinya dikunci.


Ia tidak mampu memahami sesuatu pun.
Allah menjadikan hatinya tertutup sehingga tidak mampu melihat hujah Allah.


Siapakah yang mampu memberinya taufik agar ia mendapatkan kebenaran dan bimbingan setelah Allah membiarkannya sesat?
Wahai sekalian manusia, niscaya kalian akan mengetahui bahwa yang diperlakukan-Nya demikian selamanya tidak akan pernah mendapat petunjuk, selamanya dia tidak akan mendapat pelindung dan pembimbing.
Ayat ini menjadi dasar peringatan bahwa hawa nafsu tidak boleh menjadi pendorong orang-orang beriman dalam beramal.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Apakah kamu pernah melihat) maksudnya ceritakanlah kepadaku


(orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) maksudnya, yang disukai oleh hawa nafsunya, yaitu batu demi batu ia ganti dengan yang lebih baik sebagai sesembahannya


(dan Allah membiarkan-Nya sesat berdasarkan ilmu-Nya) berdasarkan pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala Dengan kata lain Dia telah mengetahui, bahwa orang itu termasuk orang yang disesatkan sebelum ia diciptakan


(dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya) maka, karena itu ia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak mau memikirkannya


(dan meletakkan tutupan atas penglihatannya) mengambil kegelapan hingga ia tidak dapat melihat petunjuk.
Pada ayat ini diperkirakan adanya Maf’ul kedua bagi lafal Ra-ayta, yaitu lafal ayat tadi, yang artinya, apakah ia mendapat petunjuk?


(Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah) membiarkannya sesat?
Maksudnya, tentu saja ia tidak dapat petunjuk.


(Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?) atau mengapa kalian tidak mau mengambilnya sebagai pelajaran buat kalian.
Lafal Tadzakkaruuna asalnya salah satu dari huruf Ta-nya diidgamkan kepada huruf Dzal.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.
(QS. Al-Jasiyah [45]: 23)

Yakni sesungguhnya dia hanya diperintahkan oleh hawa nafsunya.
Maka apa saja yang dipandang baik oleh hawa nafsunya, dia kerjakan;
dan apa saja yang dipandang buruk oleh hawa nafsunya, dia tinggalkan.
Ayat ini dapat juga dijadikan sebagai dalil untuk membantah golongan Mu’tazilah yang menjadikan nilai buruk dan baik berdasarkan kriteria rasio mereka.
Menurut apa yang diriwayatkan dari Malik sehubungan dengan tafsir ayat ini, orang tersebut tidak sekali-kali menyukai sesuatu melainkan dia mengabdinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.
(QS. Al-Jasiyah [45]: 23)

Makna ayat ini mengandung dua takwil.
Pertama ialah Allah menyesatkan orang tersebut karena Allah mengetahui bahwa dia berhak untuk memperoleh kesesatan.
Kedua ialah Allah menjadikannya sesat sesudah sampai kepadanya pengetahuan dan sesudah hujah ditegakkan terhadapnya.
Pendapat yang kedua mengharuskan adanya pendapat yang pertama, tetapi tidak kebalikannya.

dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya?
(QS. Al-Jasiyah [45]: 23)

karenanya dia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat bagi dirinya dan tidak memahami sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai petunjuk, dan tidak dapat melihat bukti yang jelas yang dapat dijadikan sebagai penerang hatinya.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
(QS. Al-Jasiyah [45]: 23)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk.
Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
(QS. Al-A’raf [7]: 186)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Jaatsiyah (45) Ayat 23

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa orang-orang Quraisy biasa menyembah batu untuk beberapa saat lamanya.
Apabila mereka mendapat sesembahan yang lebih bagus, mereka meninggalkan yang lama, dan menyembah yang baru.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Jaatsiyah: 23) yang melukiskan keadaan kaum Quraisy, yang selalu mengikuti hawa nafsunya dalam beribadah.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Jaatsiyah (الجاثية)

Surat Al Jaatsiyah terdiri atas 37 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Ad Dukhaan.

Dinamai "Al Jaatsiyah" (yang berlutut) diambil dari perkataan "Jaatsiyah" yang terdapat pada ayat 28 surat ini.

Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat, yaitu semua manusia dikumpulkan ke hadapan mahkamah Allah Yang Maha Tinggi yang memberikan keputusan terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.
Pada hari itu semua manusia berlutut di hadapan Allah.

Dinamai juga dengan "Asy Syari’ah" diambil dari perkataan "Syari’ah" (Syari’at) yang terdapat pada ayat 18 surat ini.

Keimanan:

▪ Keterangan-keterangan dan dalildalil atas adanya Allah pencipta langit dan bumi.
▪ Buruk dan baik yang dikerjakan oleh manusia akibatnya bagi dirinya sendiri.
▪ Allah Pelindung orang-orang yang bertakwa.
▪ Kebesaran dan keagungan hanya hak Allah semata.
▪ Kepastian bahwa Allah-lah yang menghidupkan, mematikan dan menghimpunkan manusia pada hari kiamat.
▪ Keterangan-keterangan mengenai huru hara hari kiamat dan bagaimana tiap-tiap orang menerima perhitungan pekerjaannya di akhirat.
▪ Pada hari kiamat jelaslah bagi orang-orang musyrikin keburukan perbuatanperbuatan yang mereka kerjakan di dunia, dan mereka tidak lepas dari azab yang waktu di dunia mereka perolok-olokkan.

Hukum:

▪ Perintah kepada Rasulullah ﷺ supaya jangan mengikuti orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya dan jangan menuruti kemauan mereka.

Kisah:

▪ Kisah Bani Israil yang telah diberi nikmat oleh Allah, tetapi mereka berpaling dan menyeleweng dari ajaran agama, sehingga timbul perselisihan yang hebat antara sesama mereka.

Lain-lain:

▪ Ancaman kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ayat Allah serta berlaku sombong terhadapnya.
▪ Kebatilan pendapat kaum Dahriyah (atheisme, skeptisme dan vrij denker), keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Ayat-ayat dalam Surah Al Jaatsiyah (37 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Jaatsiyah (45) : 1-37 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 37 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Jaatsiyah (45) : 1-37 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 37

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Jaatsiyah ayat 23 - Gambar 1 Surah Al Jaatsiyah ayat 23 - Gambar 2
Statistik QS. 45:23
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Jaatsiyah.

Surah Al-Jasiyah (Arab: الجاثية ,”Yang Berlutut”) adalah surah ke-45 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah makkiyah yang terdiri atas 37 ayat.
Dinamakan Al-Jasiyah yang berarti Yang Berlutut diambil dari perkataan Jaatsiyah yang terdapat pada ayat 28 surah ini.
Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat, yaitu semua manusia dikumpulkan ke hadapan mahkamah Allah Yang Maha Tinggi yang memberikan keputusan terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.
Pada hari itu semua manusia berlutut di hadapan Allah.
Dinamai juga dengan Asy Syari’ah diambil dari perkataan Syari’ah yang terdapat pada ayat 18 surah ini.

Nomor Surah 45
Nama Surah Al Jaatsiyah
Arab الجاثية
Arti Yang bertekuk lutut
Nama lain asy-Syari’ah (Syariat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 65
Juz Juz 25
Jumlah ruku’ 4 ruku’
Jumlah ayat 37
Jumlah kata 489
Jumlah huruf 2085
Surah sebelumnya Surah Ad-Dukhan
Surah selanjutnya Surah Al-Ahqaf
Sending
User Review
4.9 (9 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

45:23, 45 23, 45-23, Surah Al Jaatsiyah 23, Tafsir surat AlJaatsiyah 23, Quran Al-Jasiyah 23, AlJasiyah 23, Al Jasiyah 23, Surah Al Jatsiyah ayat 23

Video Surah

45:23


More Videos

Kandungan Surah Al Jaatsiyah

۞ QS. 45:2 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 45:5 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 45:6 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 45:7 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 45:8 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Keinginan untuk berbuat maksiat •

۞ QS. 45:9 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 45:10 • Al Wali (Maha Pelindung) • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 45:11 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Azab orang kafir

۞ QS. 45:14 • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 45:15 Ar Rabb (Tuhan) • Kebenaran hari penghimpunan • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 45:17 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat hari penghitungan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 45:18 • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 45:19 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Wali Allah dan wali syetan • Kelemahan tuhan selain Allah •

۞ QS. 45:20 • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 45:21 • Derajat para pemeluk agama • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 45:22 • Kekuasaan Allah • Keadilan Allah dalam menghakimi • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 45:23 • Allah menggerakkan hati manusia • Ketentuan Allah tak dapat dihindari • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 45:24 • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 45:25 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 45:26 • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 45:27 • Segala sesuatu milik Allah • Nama-nama hari kiamat • Azab orang kafir

۞ QS. 45:28 • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 45:29 • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 45:30 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 45:31 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 45:32 • Allah menepati janji • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Kebenaran hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 45:33 • Mengingkari hari kebangkitan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 45:34 • Sifat hari penghitungan • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 45:35 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 45:36 Tauhid Rububiyyah • Segala sesuatu milik Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 45:37 • Kesombongan hak Allah semata • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

Ayat Pilihan

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
QS. Al-Hijr [15]: 9

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya & seorang ayah karena anaknya,
QS. Al-Baqarah [2]: 233

Dia ciptakan langit & bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia tutupkan malam atas siang & tutupkan siang atas malam & tundukkan matahari & bulan, berjalan menurut waktu yang ditentukan.
Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
QS. Az-Zumar [39]: 5

Sesungguhnya Allah adalah pelindung orang yang beriman,
karena sesungguhnya orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.
QS. Muhammad [47]: 11

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang ...

Correct! Wrong!

Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah ...

Correct! Wrong!

Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..

Correct! Wrong!

+

Array

Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah ...

Correct! Wrong!

Arti fana adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #1
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #1 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #1 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya …Ilmu yang bermanfaat adalah …Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan …Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah …Sesuatu yang dipercaya dan diyakini kebenaranya oleh hati nurani manusia dinamakan …

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً Arti dari hadist diatas adalah …Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali …كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا Arti dari kalimat di atas adalah …Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Kamus Istilah Islam

Al-Walid bin Abdul-Malik

Siapa itu Al-Walid bin Abdul-Malik? Al-Walid bin ‘Abdul-Malik atau Al-Walid I adalah khalifah yang berkuasa pada tahun 705–715. Dia berasal dari Bani Umayyah cabang Marwani. Al-Walid mewaris...

mutawif

Apa itu mutawif? mu.ta.wif orang yang membimbing tawaf; pembimbing tawaf; pemandu tawaf … •

hasad

Apa itu hasad? Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad ? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad? Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih dari sekadar iri h...