Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 93


اَوۡ یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا
Au yakuuna laka baitun min zukhrufin au tarqa fiissamaa-i walan nu’mina liruqii-yika hatta tunazzila ‘alainaa kitaaban naqra’uhu qul subhaana rabbii hal kuntu ilaa basyaran rasuulaa;

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit.
Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”.
Katakanlah:
“Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
―QS. 17:93
Topik ▪ Hari kiamat datang tiba-tiba
17:93, 17 93, 17-93, Al Israa 93, AlIsraa 93, Al Isra 93, Al-Isra’ 93
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 93. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat-ayat ini menerangkan sikap para pemimpin Quraisy menghadapi seruan Nabi Muhammad ﷺ, mereka itu di antaranya Utbah, Syaibah Abu Sufyan, Nadar dan lain-lain.
Dan sikap mereka itu nampak tanda-tanda keingkaran yang sangat dan keengganan mereka menerima seruan itu.
Dari sikap mereka itu pula diketahui bahwa apa sajapun bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka tidak akan beriman.
Mereka meminta kepada Rasulullah yang bukan-bukan dan mustahil dapat dikerjakan oleh seorang manusia.
Mereka percaya bahwa Rasulullah tidak akan sanggup mengerjakannya.
Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti seruan Rasul itu.

Sebenarnya semua yang diminta oleh orang musyrikin itu amatlah mudah bagi Allah mengabulkannya, tidak ada suatupun yang sukar dan mustahil bagi Allah mengadakan dan melakukannya.
Sikap orang-orang musyrik itu dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu; tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Q.S.
Yunus: 96-97)

Dan firman Allah:

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(Q.S.
Al An'am: 111)

Di antara yang diminta oleh orang-orang kafir itu ialah:

1.
Agar Rasulullah ﷺ memancarkan mata air di negeri mereka.
2.
Atau Rasulullah mengadakan sebuah kebun kurma atau anggur yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sehingga dengan air yang tetap mengalir dan akan bertambah suburlah pohon kurma dan anggur itu berlipat ganda hasilnya.
3.
Atau Rasulullah menjatuhkan langit berkeping-keping menimpa mereka.
Permintaan mereka yang seperti ini diterangkan, pada ayat yang lain.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya, Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.
(Q.S.
Al Anfal: 32)

Permintaan mereka ini adalah seperti permintaan penduduk Aikah (Madyan) kepada Nabi Syuaib dahulu, sebagaimana Allah berfirman:

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar
(Q.S.
Asy Syu'ara: 187)

4.
Atau Rasulullah ﷺ mendatangkan Allah dan Malaikat kepada mereka, dan keduanya itu langsung menyatakan kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah seorang Rasul yang diutus Nya.
5.
Atau Rasulullah ﷺ mendirikan rumah yang terbuat dari emas.
Orang-orang musyrik berpendapat bahwa seorang Rasul yang diutus Allah itu hendaklah seorang penguasa, seorang yang kaya raya lagi terhormat.
Karena itu menurut pendapat mereka mustahil Muhammad sebagai anak yatim piatu lagi miskin diangkat menjadi Rasul.
6 Atau Rasulullah ﷺ naik ke langit, melalui sebuah tangga yang dapat mereka lihat, kemudian ia turun ke dunia melalui tangga yang sama dengan membawa sebuah kitab yang dapat mereka baca, dengan bahasa mereka yang menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa ia merasa heran dengan permintaan mereka itu.
Seakan-akan mereka tidak mengerti sifat-sifat seorang Rasul yang diutus Allah kepada manusia, Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh Rasul Nya agar mengatakan kepada mereka dengan tegas: "Aku tidak lain hanyalah seorang Rasul Allah yang ditugaskan menyampaikan agama Nya kepada mereka.
Aku tidak sanggup berbuat selain dari yang telah diperintahkan Nya kepadaku, kecuali jika Dia menghendaki.
Karena itu aku tidak dapat mengabulkan permintaan-permintaan itu, kecuali jika Dia mau mengabulkannya.

Al Israa (17) ayat 93 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 93 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 93 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Atau sebelum kamu mempunyai sebuah rumah yang perhiasannya terbuat dari emas, atau kamu dapat naik ke atas lamgit.
Kami sekali-kali tidak akan mempercayai hal itu kecuali jika kamu menurunkan kepada kami sebuah kitab suci dari Allah yang berisi kebenaran kata-katamu yang dapat kami baca." Katakanlah kepada mereka, "Tuhanku Mahasuci dari apa yang telah mereka tuduhkan bahwa di sana ada yang mengendalikan Allah atau menyamai kekuasaan-Nya.
Aku ini hanyalah seorang manusia biasa, seperti layaknya para rasul yang lain, yang tidak dapat mendatangkan satu ayat pun kecuali atas izin Allah."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Atau kamu mempunyai rumah dari emas) logam mulia (atau kamu memanjat) naik (ke langit) dengan memakai tangga (Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu) seandainya kamu dapat menaiki langit (hingga kamu turunkan atas kami) dari langit itu (sebuah kitab) yang di dalamnya tertera tulisan yang membenarkanmu (yang kami baca." Katakanlah) kepada mereka! ("Maha Suci Rabbku) ungkapan rasa takjub (bukankah) tidak lain (aku ini hanyalah manusia yang menjadi rasul.") sama halnya dengan rasul-rasul yang lain sedangkan mereka tidak dapat mendatangkan suatu mukjizat pun melainkan dengan seizin Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Atau kamu mempunyai rumah dari emas, atau kamu naik pada tangga-tangga menuju langit, dan kiami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu kembali dengan membawa kitab dari Allah yang terbuka yang bisa kami baca padanya bahwa engkau benar-benar utusan Allah.
Katakanlah, wahai Rasul, karena heran dengan tuntutan orang-orang kafir itu :
Mahasuci Rabbku!! Bukankah aku ini hanyalah salah seorang hamba-Nya yang menyampaikan risalah-Nya??
Maka bagaimana mungkin aku sanggup memenuhi tuntutan kalian??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas.

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna zukhruf ialah emas.
Hal yang sama disebutkan di dalam qiraat sahabat Abdullah ibnu Mas'ud, ia membacanya dengan bacaan berikut: "Atau kamu mem­punyai sebuah rumah dari emas",
dengan menyebutkan lafaz Zahab sebagai ganti dari zukhruf.

...atau kamu naik ke langit.

Maksudnya, kamu naik ke langit dengan memakai tangga itu, sedangkan kami menyaksikannya.

Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kitab yang tercatat di dalam lembaran-lembarannya buat tiap-tiap orang dari kami, misalnya tertera di dalamnya bahwa ini adalah surat dari Allah buat si anu atau si Fulan, kemudian pada keesokkan harinya surat tersebut telah ada di atas kepalanya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Katakanlah, "Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya se­orang manusia yang menjadi rasul?"

Allah Mahasuci lagi Mahatinggi, tidaklah pantas bila ada seseorang berani mengatur di hadapan-Nya sesuatu urusan yang menjadi hak mutlak ke­kuasaan Allah di kerajaan-Nya.
Bahkan Dia adalah Maha Memperbuat apa yang dikehendaki-Nya, jika Dia menghendakinya, tentulah Dia mem­perkenankan apa yang kalian minta itu.
Dan jika Dia tidak menghendaki­nya, tentulah Dia tidak memperkenankannya bagi kalian.
Tiada seorang pun yang dapat mengatur Allah subhanahu wa ta'ala dalam urusan-Nya, dan aku ini tiada lain hanyalah seorang utusan kepada kalian yang diperintahkan un­tuk menyampaikan risalah-risalah Tuhanku dan memberi nasihat kepada kalian.
Hal itu telah aku lakukan, sedangkan urusan yang kalian minta itu terserah kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, te­lah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ayub, dari Ubadillah ibnu Zajar, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Tuhanku pernah menawarkan kepadaku bahwa Dia akan men­jadikan lembah Mekkah emas buatku, maka aku berkata, "Ti­dak wahai Tuhanku, tetapi berilah aku kenyang sehari dan la­par sehari — atau dengan kalimat yang semakna —.
Apabila aku lapar, maka aku memohon kepada-Mu dengan merendah­kan diri dan berzikir menyebut-Mu, dan apabila aku merasa kenyang, maka aku akan memuji dan bersyukur kepada-Mu.

Imam Turmuzi meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhud dari Suwaid ibnu Nasr, dari Ibnul Mubarak dengan sanad yang sama.
Dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, karena Ali ibnu Yazid berpredikat daif dalam periwayatan hadis.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Israa (17) Ayat 93

ZUKHRUF
زُخْرُف

Ism mufrad dari kata akar zakhrafa, jamaknya zakhaarif meng­andung makna perhiasan sesuatu dan lafaz zukhrufal bait berarti perabot atau barang yang menghiasi rumah.

Ar Razi berkata,
maknanya emas, kemudian diibarat­kan dengan setiap sesuatu yang dihias dan diperindah.

Az Zujaj berkata,
az zukhruf dari segi bahasa bermakna al zinah atau perhiasan, maknanya sebahagian menghiasi sebahagian yang lain dengan amalan yang buruk.

Dalam Kamus Al Munjid, lafaz ini mengandung makna sesuatu yang bagus dan apabila disandarkan kepada al kalam berarti percakapan yang batil, apabila disandarkan kepada al ardh berarti beraneka ragam warna tumbuh­ tumbuhannya."

Disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 112;
-Yunus (10), ayat 24;
-Al Israa (17), ayat 93;
-Az Zukhruf (43), ayat 35.

Di dalam Al Qur'an, zukhruf mengandung beberapa makna menurut sandarannya yaitu:

1. Ia disandarkan kepada al qaul (percakapan) seperti dalam surah Al An'aam.

Ibn Qutaibah berkata,
zukhrufal qaul bermakna perkara yang dihiasi dari percakapan dan diperindah lagi dengan kata-kata." Oleh karena itu, Al Yazidi menyatakan, setiap sesuatu yang engkau elokkan dari perkataan adalah kebatilan.

Ibn Katsir menyatakan, zukhrufa qaul bermakna sebahagian menceritakan kepada sebahagian yang lain dengan perkataan yang indah yang menipu pendengarnya sehingga tidak diketahui hakikat perkataan itu.

Dengan itu, Ikrimah dan Mujahid menyatakan, zukhrufal qaul ialah menghiasi kebatilan dengan ungkapan dan kata-kata.

Dari Abi Umamah, katanya, Rasulullah berkata,
"Wahai Abu dzar, berlindunglah engkau dari syaitan, manusia dan jin," Beliau bertanya, "Wahai Rasulullah! Adakah pada manusia ada syaitan?" Beliau menjawab, "Ya' yaitu

شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًاۚ

Kesimpulannya zukhrufal qaul bermakna perkataan yang dihiasi dengan kebatilan.

2. Ia disandarkan kepada al bait atau al­ buyuut (rumah-rumah) seperti yang terdapat dalam surah Al Israa dan Az Zukhruf.

Dalam surah Al Israa, Az­ Zamakhsyari berkata,
ia bermakna emas, maknanya rumah dari emas, dan dalam surah Az Zukhruf.
Allah berfirman:

لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ وَزُخْرُفًاۚ

Beliau berkata,
bagi menunjukkan ke­ hinaan perhiasan dan keindahan ke­hidupan dunia di sisi kami, Allah jadi­ kan bagi orang kafir atap, pintu, tangga, dan pagar yang kesemuanya dibuat dari perak dan emas sebagai per­hiasan. Bisa juga asal maknanya atap dari perak dan zukhruf yaitu sebahagian dari perak dan se­bahagian lagi dari emas.

Begitu juga dengan pentafsiran Al Khazin, maknanya, "Dan Kami jadikan kesemuanya dari emas atau perhiasan segala sesuatu

3. Ia disandarkan kepada lafaz al ardh yang terdapat dalam surah Yunus.
Allah berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلْأَرْضُ زُخْرُفَهَا

Al Qurtubi menyatakan, maknanya keindahan dan perhiasannya. Az­ zukhruf menunjukkan kesempurnaan dan keindahan sesuatu dan dari­nya diungkapkan lafaz emas.

Asy Syaukani juga mengatakan, zukhrufal ardh berarti beragam warnanya yang indah yang sebahagiannya menyerupai warna emas, sebahagian lagi me­nyerupai warna perak, sebahagian lagi menyerupai warna intan dan sebahagian lagi menyerupai warna berlian.

Dalam Shafwa At Tafsir ia bermakna keindahan dunia dan perhiasannya.

4. Ia juga adalah salah satu nama surah di dalam Al Qur'an, yaitu surah yang ke 43 dan terdiri dari 89 ayat. Diriwayatkan oleh Al Mardawayh dari Ibn Abbas surah ini diturunkan di Makkah.

Ibn Itiyyah dan Al Qurtubi keduanya me­nyatakan menurut ijmak ulama surah Az Zukhruf adalah surah Makkiah dan diturunkan setelah surah Asy Syura.

Muqatil berkata,
kecuali ayat 54 yang ia diturunkan di Madinah.

Sa'id Hawwa menyatakan, surah Az­ Zukhruf merangkum mukadimah yang ter­diri dari tiga ayat yaitu,

حمٓ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ إِنَّا جَعَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Kemudian ayat-ayat berikutnya terdiri dari 3 paragraf (maqaati'), di mana setiap maqaati dimulai dengan ayat wa innahuu yang ber­makna Al Qur'an. Maqaati' pertama dimulai dari ayat 4 hingga 43.
Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ فِىٓ أُمِّ ٱلْكِتَٰبِ لَدَيْنَا لَعَلِىٌّ حَكِيمٌ

Maqaati' kedua dimulai dari ayat 44 hingga 60.
Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَۖ وَسَوْفَ تُسْـَٔلُونَ

Maqati' ketiga dimulai dari ayat 61 hingga 89.
Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَٱتَّبِعُونِۚ هَٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Setiap permulaan maqaati' menceritakan tentang karakter Al Qur'an dan didapati di dalamnya seruan untuk beriman, menerima dan beramal dengannya disertai penafian keraguan padanya. Topik pembahasannya tidak terlalu panjang dan meluas, namun ia isyarat pada penekanan kandungannya, memberikan dalil kesempurnaan Al Qur'an dan mukjizatnya, menerangkan paradigma dan karakternya dan inilah yang ditemui dalam dua surah yaitu surah Yusuf dan Az Zukhruf.

Walaupun begitu, surah ini mempunyai peranan tersendiri dimana setiap ayat dan kumpulannya mengajak manusia berjalan di atas hidayah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:271-273

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 93 *beta

Surah Al Israa Ayat 93



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.7
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending







✔ tafsir dari surah al isra :93

[bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku