Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 90


وَ قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ الۡاَرۡضِ یَنۡۢبُوۡعًا
Waqaaluuu lan nu’mina laka hatta tafjura lanaa minal ardhi yanbuu’an;

Dan mereka berkata:
“Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami,
―QS. 17:90
Topik ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
17:90, 17 90, 17-90, Al Israa 90, AlIsraa 90, Al Isra 90, Al-Isra’ 90
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 90. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat-ayat ini menerangkan sikap para pemimpin Quraisy menghadapi seruan Nabi Muhammad ﷺ, mereka itu di antaranya Utbah, Syaibah Abu Sufyan, Nadar dan lain-lain.
Dan sikap mereka itu nampak tanda-tanda keingkaran yang sangat dan keengganan mereka menerima seruan itu.
Dari sikap mereka itu pula diketahui bahwa apa sajapun bukti yang dikemukakan kepada mereka, namun mereka tidak akan beriman.
Mereka meminta kepada Rasulullah yang bukan-bukan dan mustahil dapat dikerjakan oleh seorang manusia.
Mereka percaya bahwa Rasulullah tidak akan sanggup mengerjakannya.
Dengan demikian ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti seruan Rasul itu.

Sebenarnya semua yang diminta oleh orang musyrikin itu amatlah mudah bagi Allah mengabulkannya, tidak ada suatupun yang sukar dan mustahil bagi Allah mengadakan dan melakukannya.
Sikap orang-orang musyrik itu dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu; tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Q.S.
Yunus: 96-97)

Dan firman Allah:

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(Q.S.
Al An'am: 111)

Di antara yang diminta oleh orang-orang kafir itu ialah:

1.
Agar Rasulullah ﷺ memancarkan mata air di negeri mereka.
2.
Atau Rasulullah mengadakan sebuah kebun kurma atau anggur yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sehingga dengan air yang tetap mengalir dan akan bertambah suburlah pohon kurma dan anggur itu berlipat ganda hasilnya.
3.
Atau Rasulullah menjatuhkan langit berkeping-keping menimpa mereka.
Permintaan mereka yang seperti ini diterangkan, pada ayat yang lain.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Artinya:
Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya, Allah, jika betul (Alquran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu-batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.
(Q.S.
Al Anfal: 32)

Permintaan mereka ini adalah seperti permintaan penduduk Aikah (Madyan) kepada Nabi Syuaib dahulu, sebagaimana Allah berfirman:

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar
(Q.S.
Asy Syu'ara: 187)

4.
Atau Rasulullah ﷺ mendatangkan Allah dan Malaikat kepada mereka, dan keduanya itu langsung menyatakan kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah seorang Rasul yang diutus Nya.
5.
Atau Rasulullah ﷺ mendirikan rumah yang terbuat dari emas.
Orang-orang musyrik berpendapat bahwa seorang Rasul yang diutus Allah itu hendaklah seorang penguasa, seorang yang kaya raya lagi terhormat.
Karena itu menurut pendapat mereka mustahil Muhammad sebagai anak yatim piatu lagi miskin diangkat menjadi Rasul.
6 Atau Rasulullah ﷺ naik ke langit, melalui sebuah tangga yang dapat mereka lihat, kemudian ia turun ke dunia melalui tangga yang sama dengan membawa sebuah kitab yang dapat mereka baca, dengan bahasa mereka yang menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa ia merasa heran dengan permintaan mereka itu.
Seakan-akan mereka tidak mengerti sifat-sifat seorang Rasul yang diutus Allah kepada manusia, Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh Rasul Nya agar mengatakan kepada mereka dengan tegas: "Aku tidak lain hanyalah seorang Rasul Allah yang ditugaskan menyampaikan agama Nya kepada mereka.
Aku tidak sanggup berbuat selain dari yang telah diperintahkan Nya kepadaku, kecuali jika Dia menghendaki.
Karena itu aku tidak dapat mengabulkan permintaan-permintaan itu, kecuali jika Dia mau mengabulkannya.

Al Israa (17) ayat 90 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 90 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 90 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika tampak mukjizat Al Quran dan mereka tidak dapat menyangkal hujjah itu, mereka pun mulai meminta ayat dan mukjizat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mampu berdalih dan orang-orang yang kebingungan.
Mereka kemudian berkata, "Kami tidak akan beriman kepadamu, sebelum kamu mengeluarkan mata air yang terus memancar dan tak pernah habis dari bumi Mekah untuk kami.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka berkata) diathafkan kepada lafal abaa ("Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu sebelum engkau memancarkan sumber air dari tanah buat kami) mata air yang berlimpah airnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ketika al-Qur'an telah melemahkan orang-orang kafir dan mengalahkan mereka, maka mereka menuntut mukjizat yang sejalan dengan hawa nafsu mereka seraya mengatakan :
Kami tidak akan percaya kepadamu, wahai Muhammad, dan melaksanakan apa yang kamu katakana hingga kamu bisa memancarkan mata air yang mengalir untuk kami dari bumi Makkah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku se­orang syekh (guru) dari kalangan ulama Mesir yang telah bermukim bersama kami sejak empat puluh tahun lebih, dari Ikrimah, dari Ibnu Ab­bas, bahwa Atabah, Syaibah (keduanya anak Rabi'ah), Abu Sufyan ibnu Harb —seorang lelaki dari Bani Abdud Dar— dan Abul Buhturi (kedua­nya saudara Banil Asad), Al-Aswad ibnul Muftalib ibnu Asad, Zam'ah ibnul Aswad, Al-Walid ibnul Mugirah, Abu Jahal ibnu Hisyam, Abdullah ibnu Abu Umayyah, Umayyah ibnu Khalaf, Al-As ibnu Wail, Nabih dan Munabbih (keduanya anak Al-Hajjaj As-Sahmi), semuanya berkumpul atau termasuk di antara mereka yang ada dalam perkumpulan itu.
Mereka berkumpul sesudah matahari terbenam di atas Ka'bah.
Sebagain dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Kirimkanlah utusan kepada Muhammad untuk mengundangnya agar kita dapat berbicara dan berdebat dengannya hingga ia mengemukakan alasan yang sebenarnya." Lalu mereka mengirimkan utusannya, dan si utusan menyampaikan kepada Nabi ﷺ, "Para pemuka kaummu telah mengadakan pertemuan untuk melakukan pembicaraan denganmu." Maka Rasulullah ﷺ datang dengan segera seraya menduga bahwa barangkali mereka telah sadar akan perkara yang dibawanya.
Sebelum itu Nabi ﷺ sangat menginginkan agar mereka mendapat petunjuk, karena dengan masuk Islamnya mereka maka akan bertambah kuatlah agamanya.
Setelah Nabi ﷺ sampai kepada mereka, lalu Nabi ﷺ duduk.
Dan mereka berkata, "Hai Muhammad, sesungguhnya kami telah mengi­rim utusan kami kepadamu untuk mengetahui alasanmu yang sebenarnya.
Dan sesungguhnya kami, demi Allah, sepengetahuan kami engkau adalah seorang lelaki dari kalangan bangsa Arab yang memasukkan agama baru kepada kaumnya, dan engkau telah mencaci-maki nenek moyang, mencela agamanya, dan menilainya kurang berakal, juga mencela sesembahan-sesembahan kami dan memecahkan persatuan.
Sehingga tiada suatu hal buruk pun melainkan kamu telah melakukannya di antara kami dan kamu.
Jika engkau mendatangkan Al-Qur'an itu karena ingin mencari harta, maka kami sanggup mengumpulkan harta dari harta kami buatmu, sehingga kamu menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami.
Dan jika engkau melakukan hal tersebut hanya untuk mencari kedudukan di kalangan kami, kami sanggup menjadikanmu sebagai peng­hulu (pemimpin) kami.
Dan jika engkau berkeinginan menjadi seorang raja, maka kami akan menjadikanmu sebagai raja kami.
Dan jika perkata­an yang datang kepadamu (yakni Al-Qur'an) lalu kamu sampaikan itu berasal dari jin yang menguasai dirimu — mereka menamakan jin yang suka merasuki orang dengan sebutan ri’yun —, maka kami sanggup membelanjakan harta kami untuk mencari tabib yang dapat menyembuh­kan dirimu dari gangguannya, atau kami memaafkanmu jika kami tidak sanggup menyembuhkanmu dan memaklumimu."

Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:

Apa yang kalian katakan itu tidak ada pada diriku.
Dan tidak­lah aku menyampaikan kepada kalian apa yang aku sampaikan ini untuk mencari harta kalian, tidak pula mencari kedudukan di antara kalian, serta tidak pula ingin menjadi raja atas kalian, melainkan Allah telah mengutusku kepada kalian sebagai seorang rasul.
Dia telah menurunkan kepadaku sebuah Kitab (Al-Qur'an), dan memerintahkan kepadaku agar menjadi pem­bawa berita gembira dan pemberi peringatan kepada kalian.
Maka aku sampaikan semua risalah Tuhanku kepada kalian dan aku menasihatkan hal yang baik bagi kalian.
Jika kalian mau menerima apa yang aku sampaikan kepada kalian, maka kalian menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan akhi­rat.
Dan jika kalian menolaknya, aku tetap bersabar menjalan­kan perintah Allah, hingga Allah memberikan keputusan-Nya antara aku dan kalian.

Demikianlah jawaban yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ kepada mereka atau dengan ungkapan yang semakna.

Mereka mengatakan, "Hai Muhammad, jika engkau tidak mau mene­rima apa yang kami tawarkan kepadamu, maka sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa tiada seorang manusia pun yang negerinya lebih sempit daripada negeri kami dan hartanya lebih sedikit daripada harta kami serta penghidupannya lebih keras daripada kami.
Oleh karena itu, mintalah kepada Tuhanmu yang telah mengutusmu untuk menyampaikan risalah-Nya, hendaknyalah Dia menyingkirkan (menghilangkan) bukit-bukit yang menyempitkan negeri kami ini.
Dan hendaknyalah Dia meluas­kan negeri kami serta memancarkan padanya sungai-sungai seperti sungai-sungai yang terdapat di negeri Syam dan negeri Irak.
Dan hendak­nyalah Dia membangkitkan (menghidupkan) kembali nenek moyang kami, yang antara lain ialah Qusay ibnu Kilah, karena sesungguhnya beliau adalah seorang syekh yang selalu berkata jujur.
Maka kami akan mena­nyai mereka tentang apa yang kamu sampaikan ini, apakah benar ataukah batil?
Jika engkau dapat melakukan apa yang kami minta, barulah kami dapat mempercayaimu dan membenarkanmu serta mengetahui kedudu­kanmu di sisi Allah, bahwa Dia benar telah mengutusmu sebagai seorang rasul, seperti yang kamu akui itu."

Rasulullah ﷺ menjawab mereka melalui sabdanya:

Saya diutus bukan untuk hal itu, sesungguhnya saya hanya sebagai juru penyampai kepada kalian dari sisi Allah tentang apa yang diutuskan-Nya kepadaku untuk menyampaikannya.
Dan sesungguhnya saya telah menyampaikan apa yang diutus­kan-Nya kepadaku untuk menyampaikannya kepada kalian.
Maka jika kalian mau menerimanya, hal itu merupakan keber­untungan bagi kalian di dunia dan akhirat.
Dan jika kalian menolaknya serta mengembalikannya kepadaku, maka saya tetap akan bersabar menjalankan perintah Allah, hingga Allah memberikan keputusan antara saya dan kalian.

Mereka berkata, "Jika kamu tidak dapat melakukan hal itu buat kami, maka buatlah bukti untuk dirimu sendiri.
Untuk itu, mintalah kepada Tuhanmu agar Dia mengirimkan kepadamu malaikat yang akan mem­benarkan apa yang kamu katakan dan kami dapat menanyainya tentang perihal kamu.
Dan mintalah kepada Tuhanmu agar Dia menjadikan bagimu taman-taman, perbendaharaan-perbendaharaan, dan gedung-gedung dari emas dan perak, agar kamu menjadi orang yang berkecukupan hingga tidak memerlukan apa yang kami tawarkan kepadamu.
Karena sesungguhnya kamu biasa berdiri di pasar-pasar dan mencari penghidupan seba­gaimana kami mencarinya.
Dengan demikian, maka kami dapat mengeta­hui keutamaan kedudukanmu di sisi Tuhanmu, jika engkau benar seorang rasul seperti apa yang kamu akui itu."

Rasulullah ﷺ menjawab mereka melalui sabdanya:

Aku tidak akan melakukannya dan aku tidak akan memintanya kepada Tuhanku.
Aku diutus kepada kalian bukanlah untuk itu, tetapi Allah mengutusku sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Jika kalian mau menerimanya, maka itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat.
Dan jika kalian menolaknya dan mengembalikannya kepadaku, maka aku tetap akan bersabar dalam menjalankan perintah Allah, hingga Dia memberi keputusan di antara aku dan kalian.

Mereka berkata, "Kalau demikian, runtuhkanlah langit, karena menurut dugaanmu jika Tuhanmu menghendaki sesuatu, Dia dapat melakukannya.
Dan kami tetap tidak mau beriman kepadamu kecuali jika kamu melaku­kan hal itu."

Rasulullah ﷺ menjawab mereka melalui sabdanya:

Demikian itu terserah kepada Allah, jika Dia berkehendak, tentu dapat melakukannya buat kalian.

Mereka berkata, "Hai Muhammad, tidakkah Tuhanmu mengetahui bahwa kami akan berkumpul denganmu dalam suatu majelis, lalu kami menanya­kan banyak hal kepadamu dan memintamu untuk membuktikan apa yang kami minta?
Maka Dia datang kepadamu dan mengajarkan kepadamu jawaban dari apa yang kami lontarkan kepadamu, dan Dia memberitahu­kan kepadamu apa yang sebaiknya kamu lakukan terhadap kami dalam hal ini jika kami tidak mau menerima apa yang kamu sampaikan kepada kami.
Sesungguhnya telah sampai suatu berita kepada kami bahwa se­sungguhnya yang mengajarkan kepadamu itu sama dengan apa yang di­ajarkan kepada seorang lelaki dari negeri Yamamah yang dikenal dengan nama Ar-Rahman (yakni Musailamah Al-Kazzab).
Dan sesungguhnya, demi Allah, kami tidak percaya kepada Ar-Rahman selamanya.
Karena itulah kami memaafkan keadaanmu itu, hai Muhammad.
Ingatlah, demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu, apa yang kamu lakukan itu terha­dap eksistensi kami akan membuat kami membinasakanmu atau kamu membinasakan kami."

Salah seorang dari mereka mengatakan, "Kami menyembah ma­laikat-malaikat, mereka adalah anak-anak perempuan Allah." Dan yang lainnya mengatakan, "Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum eng­kau mendatangkan Allah dan para malaikat berhadapan dengan kami."

Setelah mendengar ucapan mereka yang demikian itu, maka Rasulul­lah ﷺ pergi meninggalkan mereka.
Kepergian beliau diiringi oleh Abdul­lah ibnu Abu Umayyah ibnul Mugirah ibnu Abdullah ibnu Umar ibnu Makhzum, anak bibi Rasulullah ﷺ, yaitu Atikah binti Abdul Muttalib.

Abdullah ibnu Abu Umayyah mengatakan, "Hai Muhammad, kaum­mu telah menawarkan kepadamu tawaran-tawaran tersebut, tetapi kamu tidak mau menerimanya dari mereka.
Kemudian mereka meminta bukti darimu buat mereka, yaitu beberapa hal, agar dengannya mereka menge­tahui kedudukanmu di sisi Allah, tetapi kamu tidak mau melakukannya pula.
Lalu mereka meminta kepadamu agar mendatangkan suatu azab yang dengannya kamu dapat membuat mereka takut.
Demi Allah, saya tidak akan beriman kepadamu sebelum kamu mendatangkan sebuah tang­ga, lalu kamu naik ke langit, sedangkan saya melihatmu sampai di langit, kemudian kamu turun lagi dengan membawa sebuah kitab yang terbuka dengan diiringi oleh empat malaikat yang mempersaksikan bahwa kamu benar seperti apa yang kamu katakan.
Demi Allah, seandainya kamu dapat melakukan hal tersebut, saya yakin bahwa diri saya masih belum mau membenarkanmu."

Kemudian Abdullah ibnu Abu Umayyah pergi meninggalkan Rasulul­lah ﷺ Rasul pun pulang ke rumah keluarganya dalam keadaan bersedih hati lagi kecewa, karena apa yang ia harapkan dari kaumnya agar masuk Islam di saat ia menyeru mereka tidak terkabulkan, bahkan mereka bersi­kap menjauhinya.

Pertemuan yang mereka adakan bersama Nabi ﷺ itu, seandainya menurut pengetahuan Allah mereka meminta hal itu kepada Nabi ﷺ dengan permintaan memohon petunjuk, tentulah apa yang mereka minta itu diperkenankan oleh-Nya.
Akan tetapi, Allah telah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka meminta hal itu karena dorongan ingkar dan keka­firan mereka terhadap Nabi ﷺ Maka Allah berfirman kepada Nabi­-Nya, "Jika engkau menginginkan agar Kami memberi mereka, tentulah Kami akan memberi mereka apa yang dimintanya.
Tetapi jika mereka masih tetap ingkar sesudahnya, maka Aku akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada seorang pun dari kalangan umat manusia.
Dan jika engkau menginginkan agar Aku membukakan bagi mereka pintu tobat dan pintu rahmat, maka Aku akan melakukan­nya." Maka Nabi ﷺ berkata:

Tidak, bahkan bukakanlah bagi mereka pintu tobat dan pintu rahmat-(Mu).

Hal ini sama dengan apa yang telah disebutkan di dalam dua hadis yang masing-masing diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Az-Zubair ibnul Awwam, yaitu dalam tafsir firman-Nya:

Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengi­rimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.
Dan telah Kami berikan kepada Samud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu.
Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melain­kan untuk menakuti.
(Al Israa':59)

Dan dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

Dan mereka berkata, "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?
Mengapa tidak diturunkan kepa­danya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?
Atau (mengapa tidak) ditu­runkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata, "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.” Perhatikan­lah bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).
Mahasuci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya ba­gimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.
Bahkan mereka mendustakan hari kiamat.
Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.
(Al Furqaan:7-11)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.

Yanbu' artinya mata air yang airnya mengalir.
Mereka meminta kepada Nabi ﷺ agar beliau mengalirkan banyak mata air buat mereka di ber­bagai kawasan negeri Hijaz, tempat tinggal mereka.
Hal tersebut amatlah mudah bagi Allah subhanahu wa ta'ala, jika Dia menghendaki, niscaya Dia dapat mem­buatnya dan dapat memenuhi segala sesuatu yang mereka minta dan mereka tuntut kepada Nabi ﷺ untuk mengadakannya.
Tetapi Allah mengetahui bahwa mereka tetap tidak akan beroleh petunjuk, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.
(Yunus:96-97)

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman.
(Al An'am:111), hingga akhir ayat.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 90

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari seorang ‘alim dari Mesir, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, seorang bani ‘Abid Dar, Abul Bukhturi, al-Aswad bin al-Muthalib, Rabi’ah bin al-Aswad, al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahl, ‘Abdullah bin Umayyah, Umayyah bin Khalaf, al-‘Ash bin Wa-il, Nabih bin al-Hajjaj, dan Munabbih bin al-Hajjaj (kesemuanya kafir Quraisy) berkumpul dan berkata: “Hai Muhammad.
Kami belum pernah menemukan seorang bangsa Arab yang membuat kesusutan pada kaumnya sebagaimana yang engkau lakukan terhadap kaummu.
Engkau mencaci maki nenek moyang, mencela agama, menganggap bodoh para cendekiawan, mencaci maki tuhan-tuhan, dan memecah belah persatuan umat.
Apa yang engkau bawa ini hanya menyebabkan hubungan antara kami dan kamu menjadi buruk.
Sekirannya dengan membawa hal yang baru itu engkau mengharapkan kekayaan, kami akan mengumpulkannya untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami.
Jika engkau menginginkan kemuliaan, kami akan mengangkatmu menjadi pemimpin kami.
Dan jika engkau membawa hal-hal yang baru itu karena kerasukan jin sehingga engkau menjadi orang yang kurang ingatan, kami akan kerahkan harta benda kami untuk menyembuhkan penyakitmu itu.”
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Tidak satupun apa yang kalian katakan itu terlintas di dalam diriku.
Akan tetapi sebenarnya Allah mengutusku menjadi Rasul kepada kalian, menurunkan kitab kepadaku, dan memerintahkan supaya aku menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”
Mereka berkata: “Jika engkau tidak mau menerima tawaran yang kami ajukan tadi, tentu engkau mengetahui bahwa negeri Mekah ini merupakan negeri yang sempit dan padat penduduknya, sumber alamnya sedikit, serta penghidupannya sulit.
Alangkah baiknya jika engkau memohon kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menyingkirkan gunung-gunung yang menyempitkan kita ini, sehingga negeri kita menjadi luas; agar mengalirkan sungai-sungai di negeri kita ini seperti di negeri Syam dan Irak; dan supaya membangkitkan nenek moyang kami yang sudah mendahului kami.
Sekiranya engkau tidak dapat melaksanakan permintaan kami ini, cobalah minta kepada Rabb-mu agar mengutus malaikat yang membenarkan ajakanmu ini, agar ia membuat kebun-kebun, harta terpendam, dan gedung-gedung dari emas dan perak.
Dengan demikian, kami dapat menolong engkau menyebarkan agamamu dengan harta yang kami lihat engkaupun membutuhkannya, karena kami pun melihat engkau suka ke pasar mencari penghidupan.
Sekiranya engkau tidak dapat melaksanakannya, runtuhkanlah langit sebagaimana anggapanmu bahwa Rabb-mu dapat melaksanakannya apabila Dia menghendaki.
Kami tidak akan beriman kepadamu, sebelum engkau penuhi permintaan kami ini.”
Pergilah Rasulullah ﷺ meninggalkan mereka, diikuti oleh ‘Abdullah bin Umayyah yang berkata: “Hai Muhammad, kaummu meminta beberapa permintaan, tapi engkau tidak mau memperkenankannya.
Kemudian mereka meminta kepadamu beberapa bukti agar mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, tapi engkau tidak juga membuktikannya.
Kemudian mereka meminta kepadamu agar engkau mempercepat siksaan Tuhan yang selalu engkau peringatkan kepada mereka.
Demi Allah, aku tidak akan beriman kepadamu selama-lamanya sebelum engkau membuat tangga ke langit, terus engka naik kesana dan aku melihatnya, lalu engkau membawa sebuah naskah yang dapat disebarkan, dan membawa empat malaikat yang menjadi saksi atas kerasulanmu sebagaimana yang engkau katakan.”
Rasulullah pulang dengan perasaan sedih.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa’: 90-93) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sejalan dengan ucapan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’id bin Manshur di dalam kitab Sunan-nya, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.
Hadits ini mursal, tapi shahih dan menjadi shaahiid (penguat) dan penyempurna sanad riwayat sebelumnya.
Bahwa ayat ini (al-‘Israa’: 90-93) turun berkenaan dengan saudara Ummu Salamah (istri Rasulullah) yang bernama ‘Abdullah bin Abi Umayyah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 90 *beta

Surah Al Israa Ayat 90



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending