Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) - surah 17 ayat 85 [QS. 17:85]

وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا
Wayasaluunaka ‘anirruuhi qulirruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum minal ‘ilmi ilaa qaliilaa;
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh.
Katakanlah,
“Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”
―QS. Al Israa [17]: 85

Daftar isi

And they ask you, (O Muhammad), about the soul.
Say,
"The soul is of the affair of my Lord.
And mankind have not been given of knowledge except a little."
― Chapter 17. Surah Al Israa [verse 85]

وَيَسْـَٔلُونَكَ dan mereka akan bertanya kepadamu

And they ask you
عَنِ dari/tentang

concerning
ٱلرُّوحِ roh

the soul.
قُلِ katakanlah

Say,
ٱلرُّوحُ roh

"The soul
مِنْ dari

(is) of
أَمْرِ urusan

(the) affair
رَبِّى Tuhanku

(of) my Lord.
وَمَآ dan tidaklah

And not
أُوتِيتُم kamu diberi

you have been given
مِّنَ daripada

of
ٱلْعِلْمِ pengetahuan

the knowledge
إِلَّا melainkan

except
قَلِيلًا sedikit

a little."

Tafsir Quran

Surah Al Israa
17:85

Tafsir QS. Al Israa (17) : 85. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi Muhammad tentang roh yang dapat menghidupkan jasmani, apakah hakikatnya dan apakah dapat dibangkitkan kembali.
Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi untuk menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa masalah roh adalah urusan Allah, hanya Dialah yang mengetahui segala sesuatu, dan Dia sendirilah yang menciptakannya.

Kata ruh dalam Alquran mempunyai tiga arti, yaitu:

Pertama:
Yang dimaksud dengan ruh adalah Alquran.
Sebagaimana firman Allah:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Alquran) dengan perintah Kami.
(Asy Shyuura [42]: 52)

Pengertian ini sesuai dengan isi ayat 82 Surah Al Israa, dimana diterangkan bahwa Alquran menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Juga sesuai dengan ayat 87 surah yang sama yang menerangkan bahwa jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melenyapkan Alquran yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Dengan demikian, Nabi tidak akan memperoleh pembelaan.

Kedua:
Malaikat Jibril.

Dalam Alquran banyak perkataan ruh yang diartikan dengan Jibril `alaihis salam, seperti dalam firman Allah ﷻ

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ﴿۱۹۳﴾ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ﴿۱۹۴﴾

Yang dibawa turun oleh ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. (Asy-Syu’ara’ [26]: 193-194)

Dan firman Allah ﷻ:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًا فَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka;
lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.
(Maryam [19]: 17)

Ketiga:
Berarti roh yang ada dalam badan, yang merupakan sumber kehidupan dari makhluk hidup.
Menurut Jumhur Ulama, kata ruh dalam ayat ini adalah roh yang ada dalam badan (nyawa).

Firman Allah:

وَالَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَجَعَلْنٰهَا وَابْنَهَآ اٰيَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya;
Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam.
(Al-Anbiyaa [21]: 91)

Pendapat yang menyamakan ruh dengan nafs (roh/nyawa) ini adalah pendapat yang banyak dianut ulama (jumhur) dan sesuai dengan sebab ayat ini diturunkan.
Allah ﷻ berfirman:

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Al-Hijr [15]: 29)

Ayat-ayat tersebut di atas mengajak umat manusia supaya memahami isi Alquran dengan sebenar-benarnya, agar tidak tersesat ke jalan yang tidak benar.
Sebaliknya mereka yang tidak berusaha untuk memahami isi Alquran tidak akan bisa memanfaatkannya sebagai pedoman hidup, bahkan mereka melakukan tindakan dan perbuatan yang dapat menjauhkan mereka dari pemahaman terhadap ayat-ayatnya dengan benar.
Mereka menanyakan kepada Nabi ﷺ hal-hal yang tidak mungkin diketahui manusia, yang sebetulnya tidak ada gunanya untuk diketahui, kecuali hanya sekedar untuk menguji Nabi.

Allah ﷻ dalam ayat ini menyatakan bahwa Ia hanya memberi manusia sedikit sekali pengetahuan mengenai roh.
Akan tetapi, di antara ulama ada yang telah mencoba mendalami hakikat roh itu.
Di antaranya ialah:

1. Roh itu ialah semacam materi cahaya (jisim, nurani) yang turun ke dunia dari alam tinggi, sifatnya berbeda dengan materi yang dapat dilihat dan diraba.

2. Roh itu mengalir dalam tubuh manusia, sebagaimana mengalirnya air dalam bunga, atau sebagaimana api dalam bara.
Roh memberi kehidupan ke dalam tubuh seseorang selama tubuh itu sanggup dan mampu menerimanya, dan tidak ada yang menghalangi alirannya.
Bila tubuh tidak sanggup dan mampu lagi menerima roh itu, sehingga alirannya terhambat dalam tubuh, maka tubuh itu menjadi mati.
Pendapat ini dikemukakan oleh ar-Razi dan Ibnul Qayyim.
Sedangkan Imam Al-Gazali dan Abu Qasim ar-Ragib Al-Asfahani berpendapat bahwa roh itu bukanlah materi dan sesuatu yang berbentuk, tetapi ia hanyalah sesuatu yang bergantung pada tubuh untuk mengurus dan menyelesaikan kepentingan-kepentingan tubuh.

Sikap kaum Muslimin yang paling baik tentang roh ialah mengikuti firman Allah ini, bahwa hakikat roh itu tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena hanya Allah yang mengetahuinya dengan pasti.
Yang perlu dipercayai adalah bahwa roh itu ada.
Allah hanya memberikan gejala-gejalanya kepada manusia sendiri pun mengetahui adanya roh itu, serta menghayati gejala-gejalanya.
Maka yang perlu diteliti dan dipelajari dengan sungguh-sungguh ialah gejala-gejala roh itu, yang dilakukan dalam psikologi.
Mempelajari gejala-gejala jiwa ini bahkan termasuk hal yang diminta oleh Allah dalam firman-Nya:

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

Dan (juga) pada dirimu sendiri.
Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
(Adz-Dzariyat [51]: 21)

Karena hanya Allah yang mengetahui tentang hakikat roh, maka pada ayat ini Allah ﷻ menegaskan kepada manusia bahwa ilmu Allah itu Maha Luas, tidak dapat diperkirakan, meliputi segala macam ilmu, baik ilmu tentang alam yang nyata, maupun yang tidak nyata, baik yang dapat dicapai oleh pancaindera, maupun yang tidak.
Karena kasih sayang Allah kepada manusia, maka dianugerahkan-Nya sebagian kecil ilmu itu kepada manusia, tidak ada artinya sedikit pun bila dibanding dengan kadar ilmu Allah.

Diriwayatkan bahwa tatkala ayat ini diturunkan, orang-orang Yahudi menjawab,
"Kami telah diberi ilmu yang banyak.
Kami telah diberi kitab Taurat.
Siapa yang telah diberi kitab Taurat, berarti dia telah diberi kebaikan yang banyak."
Maka turunlah ayat 109 Surah Al-Kahf.
Allah ﷻ berfirman:

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Muhammad),
"Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."
(Al-Kahfi [18]: 109)

Tafsir QS. Al Israa (17) : 85. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai Muhammad, kaummu yang mendapat nasihat dari orang-orang Yahudi bertanya kepadamu tentang hakikat ruh (roh).
Katakan,
"Hanya Allah yang mengetahui ihwal roh.


Aku hanya diberi sedikit sekali dari ilmu Allah tentang hal itu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Orang-orang kafir bertanya kepadamu tentang hakikat ruh, sebagai bentuk penentangan, maka jawablah bahwa hakikat dan keadaan (ihwal) ruh itu termasuk urusan yang hanya Allah semata yang mengetahuinya.
Kalian dan semua manusia tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan mereka bertanya kepadamu) yaitu orang-orang Yahudi


(tentang roh,) yang karenanya jasad ini dapat hidup


("Katakanlah) kepada mereka!


(‘Roh itu termasuk urusan Rabbku) artinya termasuk ilmu-Nya oleh karenanya kalian tidak akan dapat mengetahuinya


(dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.’") dibandingkan dengan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa ketika ia sedang berjalan mengiringi Rasulullah ﷺ di sebuah lahan pertanian di Madinah —yang saat itu Rasulullah ﷺ berjalan dengan memakai pelepah kurma sebagai tongkatnya — maka bersualah beliau dengan sejumlah orang dari kalangan orang-orang Yahudi.
Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain,
"Tanyailah dia oleh kalian tentang roh."
Sedangkan sebagian lainnya mengatakan,
"Janganlah kalian bertanya kepadanya."
Akhirnya mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang roh.
Untuk itu mereka berkata,
"Hai Muhammad, apakah roh itu?"
saat itu Nabi ﷺ masih tetap bertopang pada pelepah kurmanya seraya berdiri.
Ibnu Mas’ud merasa yakin bahwa saat itu Nabi ﷺ sedang menerima wahyu.
Setelah itu Nabi ﷺ membacakan firman yang baru diturunkan itu, yakni:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah,
"Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit."

Maka berkatalah sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain,
"Telah kami katakan kepada kalian, janganlah kalian bertanya kepadanya."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Al-A’masy dengan sanad yang sama.


Menurut lafaz Imam Bukhari sehubungan dengan tafsir ayat ini, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a., disebutkan bahwa ketika kami sedang berjalan bersama dengan Rasulullah ﷺ di sebuah lahan pertanian — saat itu Rasulullah ﷺ berjalan dengan memegang pelepah kurma sebagai tongkatnya maka bersualah beliau dengan orang-orang Yahudi.
Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain,
"Tanyailah dia tentang roh."
Salah seorang dari mereka berkata,
"Apa perlunya kalian dengan dia?"
Sebagian yang lainnya mengatakan,
"Jangan sampai dia menghadapi kalian dengan sesuatu yang kalian tidak menyukainya."
Mereka berkata,
"Tanyailah dia tentang roh."
Akhirnya mereka menanyai Nabi ﷺ tentang roh.
Tetapi Nabi ﷺ diam, tidak menjawab sepatah kata pun terhadap mereka.
Ibnu Mas’ud mengatakan,
"Saya menyadari bahwa beliau ﷺ sedang menerima wahyu, maka saya diam di tempat."
Setelah wahyu selesai, Nabi ﷺ membacakannya, yaitu firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah,
"Roh itu termasuk urusan Tuhanku."
, hingga akhir ayat.

Konteks ayat ini jelas menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan di Madinah, diturunkan ketika orang-orang Yahudi menanyakan kepadanya tentang roh, sekalipun surat ini adalah surat Makiyyah.

Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa barangkali ayat ini diturunkan di Madinah untuk yang kedua kalinya, sebelumnya memang ayat ini pernah diturunkan di Mekah.
Atau barangkali makna yang dimaksud dari hadis di atas bahwa Nabi ﷺ menjawab pertanyaan mereka dengan membacakan ayat ini yang telah diturunkan sebelumnya, yaitu firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh., hingga akhir ayat.

Dan yang menunjukkan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada Nabi ﷺ di Mekah, ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam salah satu hadis yang diketengahkannya.


Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria, dari Daud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pernah mengatakan kepada orang-orang Yahudi,
"Berikanlah kepada kami sesuatu pertanyaan yang akan kami ajukan kepada lelaki ini."
Orang-orang Yahudi menjawab,
"Tanyailah dia tentang roh."
Lalu orang-orang Quraisy bertanya kepada Nabi ﷺ tentang masalah roh.
Maka turunlah firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah,
"Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan, melainkan sedikit."

Orang-orang Yahudi berkata,
"Kami telah diberi pengetahuan yang banyak, kami telah diberi kitab Taurat, dan barang siapa yang diberi kitab Taurat, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Katakanlah,
"Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu.
(QS. Al-Kahfi [18]: 109), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Muhammad ibnul Musanna, dari Abdul A’la, dari Daud, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ahli Kitab pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang roh, maka Allah menurunkan firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh., hingga akhir ayat.
Mereka mengatakan,
"Kamu menduga bahwa tidaklah kami diberi pengetahuan kecuali sedikit, padahal kami telah diberi kitab Taurat, dan kitab Taurat itu adalah hikmah."
Mereka bermaksud seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak.
(QS. Al-Baqarah [2]: 269)
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi).
(QS. Luqman [31]: 27), hingga akhir ayat.
Selanjutnya Ikrimah mengatakan bahwa pengetahuan yang telah diberikan kepada kalian yang membuat kalian diselamatkan oleh Allah dari neraka berkat pengetahuan itu.
Maka hal itu adalah pemberian yang banyak lagi baik, tetapi hal itu menurut pengetahuan Allah dianggap sedikit.

Muhammad Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari salah seorang temannya, dari Ata ibnu Yasar yang mengatakan bahwa ayat berikut ini diturunkan di Mekah, yaitu firman-Nya:
dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.
(QS. Al- Isra: 85)
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, orang-orang alim Yahudi datang kepadanya dan bertanya,
"Hai Muhammad, telah sampai kepada kami berita yang mengatakan bahwa engkau telah mengatakan:


…dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.’
Apakah yang engkau maksudkan adalah kami, ataukah kaummu sendiri?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Saya bermaksud kepada semuanya."
Mereka berkata,
"Sesungguhnya engkau telah membaca tentang kami, bahwa kami telah diberi kitab Taurat yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:
Hal itu menurut pengetahuan Allah dianggap sedikit, dan sesungguhnya Allah telah mendatangkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian mengamalkannya, tentulah kalian beroleh manfaat (yang banyak).
Dan Allah menurunkan firman-Nya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(QS. Luqman [31]: 27)

Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini, seperti keterangan berikut:

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan roh ialah arwah Bani Adam.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
, hingga akhir ayat.
Demikian itu terjadi ketika orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang roh.
Mereka mengatakan,
"Ceritakanlah kepada kami tentang roh.
Bagaimanakah roh yang ada di dalam jasad disiksa, padahal sesungguhnya roh itu berasal dari Allah?"
Saat itu belum pernah ada suatu wahyu pun yang diturunkan kepada Nabi ﷺ mengenainya, maka Nabi ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun.
Kemudian datanglah Malaikat Jibril dan menyampaikan wahyu kepadanya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah,
"Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.

Kemudian Nabi ﷺ menyampaikan wahyu itu kepada mereka (orang-orang Yahudi), dan mereka mengatakan,
"Siapakah yang menyampaikan hal itu kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Jibril telah datang kepadaku menyampaikannya dari sisi Tuhanku."
Mereka menjawab Nabi ﷺ,
"Demi Allah, tiada yang mengatakannya kepadamu melainkan musuh kami."
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Katakanlah,
"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitabkitab) yang sebelumnya.
(QS. Al-Baqarah [2]: 97)

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini ialah Malaikat Jibril.
Demikianlah menurut Qatadah, dan Qatadah mengatakan bahwa Ibnu Abbas menyembunyikan makna yang dimaksud dari ayat ini.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini ialah malaikat yang sangat besar, yang besarnya sama dengan semua makhluk Allah.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
bahwa yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini ialah malaikat.

Abu Ja’far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali, telah menceritakan kepadaku Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Marwan Yazid ibnu Samurah, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Ali ibnu Abu Talib r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Ali r.a. mengatakan bahwa roh adalah malaikat yang mempunyai tujuh puluh ribu muka, tiap-tiap muka mempunyai tujuh puluh ribu lisan, dan tiap-tiap lisan dapat mengucapkan seribu bahasa, Ia bertasbih kepada Allah dengan memakai semua bahasa itu.
Allah menciptakan seorang malaikat dari tiap tasbih yang diucapkannya, lalu malaikat itu terbang bersama malaikat lainnya hingga hari kiamat.
Asar ini garib lagi aneh.

As-Suhaili mengatakan, telah diriwayatkan dari Ali bahwa ia pernah mengatakan,
"Roh adalah malaikat yang mempunyai seratus ribu kepala, tiap kepala mempunyai seratus ribu wajah, tiap wajah mempunyai seratus ribu mulut, dan setiap mulut mempunyai seratus ribu lisan, semuanya bertasbih menyucikan Allah dengan berbagai macam bahasa.

As- Suhaili mengatakan bahwa menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan roh ialah segolongan malaikat yang rupanya seperti manusia.
Menurut pendapat lainnya lagi, roh adalah segolongan malaikat yang dapat melihat malaikat lainnya, tetapi para malaikat tidak dapat melihat mereka.
Mereka sama halnya dengan malaikat bagi manusia (yakni tidak terlihat).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah,
"Roh itu termasuk urusan Tuhanku."

Artinya, hanya Allah sajalah yang mengetahuinya, dan hal itu termasuk sesuatu yang sengaja hanya diketahui oleh-Nya, tidak untuk kalian.
Untuk itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

…dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.

Yakni apa yang diperlihatkan-Nya kepada kalian dari pengetahuan-Nya tiada lain hanyalah sedikit saja, karena sesungguhnya tiada seorang pun yang menguasai sesuatu dari pengetahuan-Nya melainkan menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Mahasuci lagi Mahatinggi Dia.
Makna yang dimaksud ialah sesungguhnya pengetahuan kalian amatlah sedikit bila dibandingkan dengan pengetahuan Allah.
Dan apa yang kalian tanyakan tentang roh, hal ini merupakan suatu perkara yang hanya diketahui oleh-Nya.
Dia tidak memperlihatkannya kepada kalian, sebagaimana Dia tidak memperlihatkan kepada kalian dari sebagian pengetahuannya melainkan hanya sedikit saja.

Dalam kisah Musa dan Khidir akan disebutkan bahwa Khidir memandang ke arah seekor burung pipit yang hinggap di pinggir perahu yang dinaiki keduanya, lalu burung pipit itu minum seteguk air dari sungai (laut) itu dengan paruhnya.
Maka Khidir berkata,
"Hai Musa, tiadalah pengetahuanku dan pengetahuanmu serta pengetahuan semua makhluk bila dibandingkan dengan pengetahuan Allah, melainkan sama halnya dengan apa yang diambil oleh burung pipit ini dari laut itu dengan laut itu sendiri."
Atau hal lainnya yang semakna.
Karena itulah disebutkan pada akhir ayat ini oleh firman-Nya:

…dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.

As-Suhaili mengatakan, sebagian ulama mengatakan bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan mereka karena mereka mengajukan pertanyaannya dengan nada ingkar.
Menurut pendapat yang lainnya lagi Allah subhanahu wa ta’ala menjawabnya.


As-Suhaili mengemukakan alasannya, bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya:
Katakanlah,
"Roh itu termasuk urusan Tuhanku."
(QS. Al Israa [17]: 85)
Yakni termasuk sebagian dari syariat-Nya.
Dengan kata lain, masuklah kalian ke dalam agama-Nya, karena sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa tiada jalan untuk mengetahui masalah ini melalui keahlian ataupun filsafat.
Sesungguhnya pengetahuan mengenainya hanya dapat diperoleh melalui syariat-Nya.
Akan tetapi, alasan yang dikemukakan oleh As-Suhaili dan pandangannya ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya.

Kemudian As- suhaili mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi pula sehubungan dengan definisi roh.
Ada yang mengatakan bahwa roh itu adalah jiwa, ada pula yang mengatakan selain itu.
Hanya As-Suhaili pada akhirnya menyimpulkan bahwa roh itu adalah suatu zat yang lembut seperti udara, ia beredar di seluruh tubuh bagaikan aliran air di dalam akar-akar pohon.

As-Suhaili menyimpulkan pula bahwa roh yang ditiupkan oleh malaikat ke dalam janin adalah jiwa, tetapi dengan syarat bahwa penggabungan roh tersebut dengan tubuh menimbulkan reaksi munculnya sifat-sifat yang terpuji atau sifat-sifat yang tercela.
Oleh karena itu, jiwa itu ada yang diberi nama jiwa yang tenang (baik) atau jiwa yang labil yang selalu memerintahkan kepada keburukan.

As-Suhaili melanjutkan analisisnya, bahwa hal itu terjadi seperti halnya air yang menjadi kehidupan bagi pohon, kemudian setelah air itu menyatu dengan pohon, maka menghasilkan nama (istilah) tersendiri.
Dengan kata lain, apabila air berada di dalam buah anggur, lalu diperas, maka air yang dihasilkan darinya dinamakan minuman perasan anggur atau dapat pula dijadikan sebagai khamr.
Dalam keadaan seperti itu ia tidak dapat dikatakan sebagai air, melainkan dalam ungkapan kiasan.

Jiwa tidak dapat pula dikatakan sebagai roh, melainkan melalui ungkapan kiasan, sebagaimana tidak dapat pula dikatakan bahwa roh adalah jiwa, melainkan berdasarkan pertimbangan kausalitasnya.

Kesimpulan dari apa yang telah kami kemukakan ialah bahwa sesungguhnya roh itu adalah asal-usul jiwa.
Jiwa adalah terbentuk akibat menyatunya roh dengan tubuh.
Dengan demikian, istilah roh hanyalah dipandang dari salah satu aspeknya saja, bukan dari semua aspeknya.

Hal ini merupakan pendapat yang cukup baik.

Menurut kami, banyak kalangan ulama yang membahas masalah roh, yakni tentang hakikat roh dan ciri-ciri khasnya.
Mereka menulis kitabkitab yang menerangkan tentang masalah ini, diantaranya tulisan yang terbaik mengenai masalah ini dibuat oleh Al-Hafiz ibnu Mandah di dalam kitabnya yang berjudul Sami’nahu fir Ruhi.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 85

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ berjalan dengan tongkat di Madinah disertai oleh Ibnu Mas’ud, dan lewat di depan segolongan Yahudi.
Salah seorang mereka berkata: “Mari kita bertanya kepadanya.” Merekapun berkata: “Coba terangkan kepada kami tentang ruh.” Nabi berdiri sesaat seraya mengangkat kepala ke langit.
Terlihat beliau sedang diberi wahyu.
Kemudian bersabda bahwa … ar-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilaa..(..
ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (al-Israa’: 85).
Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Quraisy berkata kepada kaum Yahudi: “Ajarilah kami sesuatu untunk ditanyakan kepada orang ini (Muhammad).” Berkatalah orang Yahudi: “Cobalah tanyakan kepadanya tentang ruh.” Merekapun menanyakannya kepada Nabi ﷺ.
Turunnya ayat ini (al-Israa’: 85) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai tuntunan kepada Rasulullah ﷺ dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Keterangan: Ibnu Katsir mengemukakan, sehubungan dengan hal tersebut di atas, sebagai berikut: dua dari kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bahwa ayat ini (al-Israa’: 85) turun berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut.
Demikian pula menurut pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar, dengan tambahan bahwa diamnya Nabi ﷺ ketika ditanya oleh Yahudi, boleh jadi menunggu penjelasan lebih jauh tentang masalah itu.
Sekiranya bukan karena menunggu penjelasan lebih jauh, tentu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih.
Menurut Imam as-Suyuthi, apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih, karena sumber rawinya hadir pada waktu terjadinya peristiwa itu, sedang Ibnu ‘Abbas tidak hadir dalam peristiwa itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Israa (17) ayat 85

Telah menceritakan kepada kami Qais bin Hafsh berkata,
telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid berkata,
telah menceritakan kepada kami Al A’masy Sulaiman bin Mihran dari Ibrahim dari Alqamahdari Abdullah berkata,
Ketika aku berjalan bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di sekitar pinggiran Kota Madinah, saat itu beliau membawa tongkat dari batang pohon kurma. Beliau lalu melewati sekumpulan orang Yahudi, maka sesama mereka saling berkata,
"Tanyakanlah kepadanya tentang ruh!" Sebagian yang lain berkata,
Janganlah kalian bicara dengannya hingga ia akan mengatakan sesuatu yang kalian tidak menyukainya. Lalu sebagian yang lain berkata,
"Sungguh, kami benar-benar akan bertanya kepadanya." Maka berdirilah seorang laki-laki dari mereka seraya bertanya,
"Wahai Abul Qasim, ruh itu apa?" Beliau diam. Maka aku pun bergumam, Sesungguhnya beliau sedang menerima wahyu. Ketika orang itu berpaling, beliau pun membaca: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (Qs. Al Israa`: 85). Al A’masy berkata,
Seperti inilah dalam qira ah kami.

Shahih Bukhari, Kitab Ilmu – Nomor Hadits: 122

Unsur Pokok Surah Al Israa (الإسراء)

Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Muhammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" artinya keturunan Israil, berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

▪ Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat.
▪ Allah pasti memberi rezeki kepada manusia.
▪ Allah mempunyai nama-nama yang paling baik.
Alquran adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
▪ Adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

▪ Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia.
▪ Berzina.
▪ Mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan agama.
▪ Ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
▪ Durhaka kepada ibu bapak.
▪ Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan takaran, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

▪ Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya.
▪ Beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat.
▪ Petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat.
▪ Manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru.
▪ Persoalan roh.

Audio Murottal

QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 111 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 111

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Israa ayat 85 - Gambar 1 Surah Al Israa ayat 85 - Gambar 2
Statistik QS. 17:85
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti “memperjalankan di malam hari”.
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
Sending
User Review
4.3 (21 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

17:85, 17 85, 17-85, Surah Al Israa 85, Tafsir surat AlIsraa 85, Quran Al Isra 85, Al-Isra' 85, Surah Al Isra ayat 85

Video Surah

17:85


More Videos

Kandungan Surah Al Israa

۞ QS. 17:1 • Sifat Kamal (sempurna) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 17:2 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitabHikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 17:5 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 17:6 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 17:7 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:8 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:9 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 17:10 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:12 • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:13 • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:14 • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:15 • Hukum alam • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 17:16 • Hukum alam • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 17:17 Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:18 Sifat Iradah (berkeinginan) • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 17:19 • Keutamaan iman • Kebaikan yang ada di alam akhirat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Pentingnya berbuat dengan teliti •

۞ QS. 17:20 Ar Rabb (Tuhan) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 17:21 • Perbedaan derajat di surga • Kebaikan yang ada di alam akhirat • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 17:22 Tauhid Uluhiyyah • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:23 Tauhid Uluhiyyah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:25 • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 17:27 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 17:28 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 17:31 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 17:36 • Keluasan ilmu Allah • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 17:38 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:39 Tauhid Uluhiyyah • Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:40 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:41 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:42 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah

۞ QS. 17:43 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mensucikan Allah dari segala sekutu

۞ QS. 17:44 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 17:45 • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:46 Ar Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:47 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:48 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:49 • Cobaan kubur • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 17:50 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 17:51 • Kekuasaan Allah • Kiamat telah dekat • Mengingkari hari kebangkitan • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:52 • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 17:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:55 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:56 • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 17:57 • Memohon hanya kepada Allah • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Mengharap wasilah (kedudukan) • Peringatan Allah terhadap hambaNya

۞ QS. 17:58 • Kebenaran dan hakikat takdir • Penentuan takdir sebelum penciptaan • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:60 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Pohon zaqquum (terkutuk) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:63 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 17:64 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 17:65 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Ar Rabb (Tuhan) • Al Wakil (Maha Penolong) • Menjaga diri dari syetan •

۞ QS. 17:66 • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 17:67 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:68 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 17:69 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 17:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 17:71 • Kebenaran hari penghimpunan • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:72 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:73 • Mendustai Allah

۞ QS. 17:75 • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 17:76 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 17:78 • Pertemuan malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang

۞ QS. 17:79 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:80 Ar Rabb (Tuhan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:84 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 17:85 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Hakikat ruh

۞ QS. 17:86 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 17:87 • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:89 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:90 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:91 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:92 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:93 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:94 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:95 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:96 • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 17:97 • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Al Wali (Maha Pelindung) • Kebenaran hari penghimpunan • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 17:98 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:99 • Kekuasaan Allah • Al Qaadir (Maha Kuasa) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:100 • Santunan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:102 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:103 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 17:104 • Kekuasaan Allah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 17:107 • Cacian Allah terhadap orang kafir

۞ QS. 17:108 • Allah menepati janji • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:110 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Berdoa dengan Asma’ul Husna • Al Rahman (Maha Pengasih)

۞ QS. 17:111 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Sifat Mukhalafah (berbeda dengan makhluk) • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya

Ayat Pilihan

Dan jika mereka bermaksud menipumu,
maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu).
Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya & dengan para mukmin,
QS. Al-Anfal [8]: 62

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga),
dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).
QS. Yunus [10]: 25

Musa berdoa:
“Ya Tuhanku,
ampunilah aku & saudaraku & masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau,
dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.
QS. Al-A’raf [7]: 151

Barang siapa yang menta’ati Rasul itu,
sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.
QS. An-Nisa’ [4]: 80

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir ...

Correct! Wrong!

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh ...

Correct! Wrong!

Takdir yang bisa diubah dinamakan ...

Correct! Wrong!

+

Array

Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah ...

Correct! Wrong!

Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #22
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #22 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #22 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah …

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Kamus Istilah Islam

Bani Tamim

Siapa itu Bani Tamim? Banu Tamim atau Bani Tamim adalah salah satu kabilah Arab terbesar dan paling luas penyebarannya di Semenanjung Arab, pantai Mediterania timur, dan Irak. Bani Tamim terbagi menj...

Al-Fil

Apa itu Al-Fil? Surah Al-Fil adalah surah ke-105 dalam Alquran dan terdiri atas 5 ayat. Surah ini tergolong pada surah Makkiyah. Nama Al Fiil sendiri berarti Gajah yang diambil dari ayat pertama dari ...

Al-Ikhlas

Apa itu Al-Ikhlas? Surah Al-Ikhlas adalah surah ke-112 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 4 ayat dan pokok isinya adalah menegaskan keesaan Allah sembari menolak segala b...