Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 85


وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا
Wayasaluunaka ‘anirruuhi qulirruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum minal ‘ilmi ilaa qaliilaa;

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah:
“Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
―QS. 17:85
Topik ▪ Kekuasaan Allah
17:85, 17 85, 17-85, Al Israa 85, AlIsraa 85, Al Isra 85, Al-Isra’ 85
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 85. Oleh Kementrian Agama RI

Manusia bertanya kepadamu hai Muhammad tentang roh yang dapat menghidupkan jasmani, apakah ia qadim (dahulu, tiada permulaan) atau ia baru, sebagaimana makhluk Allah yang lain.

Maka Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada.
Muhammad untuk menjawab pertanyaan itu.
Katakanlah kepada mereka itu bahwa masalah ruh adalah masalah Tuhanku, hanya Dialah yang mengetahui segala sesuatu, dan Dia sendirilah yang menciptakannya.
Kata "Ruh" di dalam Alquran mempunyai tiga arti, yaitu:

Pertama:
Yang dimaksud dengan ruh dalam ayat ini adalah "Alquran".
Pengertian ini sesuai dengan ayat sebelum ini.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Alquran menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Dan sesuai pula dengan ayat yang sesudah ayat ini, yang menerangkan pula, jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melenyapkan Alquran yang telah diturunkan Nya kepada Nabi Muhammad itu.
Dengan demikian Nabi tidak akan memperoleh pembelaan.

Kedua:
Dengan arti malaikat Jibril.
Dalam Alquran banyak perkataan "ruh" yang diartikan dengan Jibril as, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala

dia itu dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.
(Q.S.
Asy Syu'ara: 193-194)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

".....lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna"
(Q.S.
Maryam: 17)

Ketiga:
Berarti ruh yang ada di dalam badan, yang merupakan sumber kehidupan dari makhluk-makhluk hidup menurut Jumhur Ulama kata "Ruh" dalam ayat ini berarti roh yang ada dalam badan.

Dengan demikian ayat-ayat yang tersebut di atas mengajak umat manusia supaya memahami isi Alquran dengan sebenar-benarnya, agar manusia itu jangan tersesat menuruti jalan yang tidak benar.
Sebaliknya mereka yang tidak berusaha untuk memahami isi Alquran tidak akan bisa memanfaatkannya sebagai pedoman hidup, bahkan mereka melakukan tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan yang dapat menjauhi mereka dari pemahaman yang sebenarnya dari ayat-ayat Alquran itu.
Mereka suka betul menanyakan kepada Nabi hal-hal yang sebetulnya tidak ada gunanya untuk diketahui, bahkan Alquran sendiri ingin menutup persoalannya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadis Rasulullah tentang sebab turunnya ayat ini.

Dalam hadis diriwayatkan sbb:

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: "Rasulullah ﷺ, bertemu dengan serombongan orang-orang Yahudi.
Sebagian mereka berkata "Tanyakanlah kepadanya tentang "ruh"".
Sebagian mereka berkata "Jangan tanyakan kepadanya tentang ruh itu, karena kamu akan menerima jawaban yang tidak kamu ingini".
Kemudian mereka datang kepada Rasulullah dan berkata: "hai, bapak Qasim, terangkanlah kepada kami tentang ruh".
Maka Rasulullah berdiri sebentar melihat ke langit, maka tahulah aku (Ibnu Mas'ud) bahwa ayat Alquran sedang diwahyukan kepada beliau.
Kemudian beliau berkata "wayas alunaka `aniruh".

(H.R.
Bukhari)

Dalam hadis yang lain diriwayatkan oleh At Tirmizi bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: "Ajarkanlah kepada kami sesuatu yang akan ditanyakan kepada orang ini (Muhammad)".

Berkatalah orang Yahudi itu: "Tanyakanlah kepadanya tentang "ruh".
Mereka bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang ruh itu.
Maka turunlah ayat ini sebagai jawabannya.
Pendapat ketiga ini, yakni pendapat jumhur yang mengatakan bahwa kata "ruh" dalam ayat ini seperti dengan kata "nafs" (nyawa), adalah pendapat yang banyak dianut dan sesuai dengan sebab ayat ini diturunkan.

Sekalipun Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini telah memperingatkan manusia agar jangan mempersoalkan ruh, karena masalah ruh itu hanya Allah saja yang mengetahuinya, namun banyak juga para ulama membicarakan dan menyelidiki hakikat ruh itu.
Di antara pendapat-pendapat itu ialah:

1.
Ruh itu ialah jisim (benda), nurani (yang berupa cahaya yang hidup), turun ke dunia dari alam tinggi, sifatnya berbeda dengan jisim (tubuh) jasmani yang dapat dilihat dan diraba ini.

2.
Ruh itu dalam jasad (tubuh jasmani) seseorang, sebagaimana mengalirnya air dalam bunga mawar, atau sebagai mana mengalirnya api dalam bara.
Ruh itu memberikan hidup ke dalam tubuh seseorang selama tubuh itu masih sanggup dan mampu menerimanya, dan tidak ada yang menghalangi alirannya dalam tubuh itu.
Bila tubuh itu tidak sanggup dan tidak mampu lagi menerima ruh itu, sehingga terlarang alirannya dalam tubuh, maka tubuh itu menjadi mati.
Pendapat ini adalah pendapat Ar-Razi dan Ibnul Qayyim.
Sedang Al-Gazali dan Abu Qasim Ar-Ragib AI-Asfahani berpendapat bahwa ruh itu bukanlah badan dan bukan pula merupakan sesuatu yang berbentuk, tetapi ia hanyalah sesuatu yang bergantung di badan mengurus dan menyelesaikan kepentingan-kepentingan tubuh.

Pegangan yang paling baik bagi muslim tentang ruh itu, ialah mengikuti firman Allah ini, yaitu: masalah hakikat ruh itu bukanlah masalah yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia, maka tidak perlu dipersoalkan, karena hanya Allah sajalah yang mengetahui dengan pasti tentang hakikat yang sebenarnya.
Bagi muslim yang perlu ialah percaya bahwa ruh itu ada, karena Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan dengan tegas adanya ruh dan manusia sendiri pun mengetahui adanya ruh itu, serta menghayati gejala-gejalanya.
Maka yang ada faedah dan gunanya untuk diperkatakan, diteliti dan dipelajari dengan sungguh-sungguh ialah gejala-gejala ruh itu, yang dalam ilmu jiwa (psikologi) dikenal dengan sebutan "gejala-gejala jiwa".
Mempelajari gejala-gejala jiwa ini termasuk hal-hal yang dianjurkan oleh Tuhan dalam firman Nya:

Dan (juga) pada dirimu sendiri Maka apakah kamu tiada memperhatikan?.
(Q.S.
Az Zariyat: 21)

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan kepada manusia, bahwa ilmu Allah itu Maha Luas, tidak dapat dikirakan, meliputi segala macam ilmu, baik ilmu tentang alam yang nyata, maupun ilmu tentang alam yang tidak nyata, baik yang dapat dicapai oleh pancaindera, maupun yang tidak dapat dicapai oleh pancaindera.
Karena kasih sayang Allah kepada manusia, maka dianugerahkan Nya lah sebagian ilmu itu kepada manusia, tetapi yang diberikan Nya itu hanya sebagian kecil saja, tidak ada artinya sedikitpun bila dibanding dengan kadar ilmu Allah yang amat luas itu.

Diriwayatkan bahwa tatkala ayat ini diturunkan, berkatalah orang-orang Yahudi: "Telah diberikan kepada kami ilmu yang banyak.
Kami telah diberi kitab Taurat.
Barang siapa yang telah diberi kitab Taurat itu berarti dia telah diberi kebaikan yang banyak".
Maka turunlah ayat 109 surah Al-Kahfi.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".
(Q.S.
Al Kahfi: 109)

Al Israa (17) ayat 85 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 85 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 85 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, kaummu yang mendapat nasihat dari orang-orang Yahudi bertanya kepadamu tentang hakikat ruh (roh).
Katakan, "Hanya Allah yang mengetahui ihwal roh.
Aku hanya diberi sedikit sekali dari ilmu Allah tentang hal itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka bertanya kepadamu) yaitu orang-orang Yahudi (tentang roh,) yang karenanya jasad ini dapat hidup ("Katakanlah) kepada mereka! ('Roh itu termasuk urusan Rabbku) artinya termasuk ilmu-Nya oleh karenanya kalian tidak akan dapat mengetahuinya (dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.'") dibandingkan dengan ilmu Allah subhanahu wa ta'ala

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang kafir bertanya kepadamu tentang hakikat ruh, sebagai bentuk penentangan, maka jawablah bahwa hakikat dan keadaan (ihwal) ruh itu termasuk urusan yang hanya Allah semata yang mengetahuinya.
Kalian dan semua manusia tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa ketika ia sedang berjalan mengiringi Rasulullah ﷺ di sebuah lahan pertanian di Madinah —yang saat itu Rasulullah ﷺ berjalan dengan memakai pelepah kurma sebagai tongkatnya — maka bersualah beliau dengan sejumlah orang dari kalangan orang-orang Yahudi.
Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, "Tanyailah dia oleh kalian tentang roh." Se­dangkan sebagian lainnya mengatakan, "Janganlah kalian bertanya kepa­danya." Akhirnya mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang roh.
Untuk itu mereka berkata, "Hai Muhammad, apakah roh itu?"
saat itu Nabi ﷺ masih tetap bertopang pada pelepah kurmanya seraya berdiri.
Ibnu Mas'ud merasa yakin bahwa saat itu Nabi ﷺ sedang menerima wahyu.
Setelah itu Nabi ﷺ membacakan firman yang baru diturunkan itu, yakni:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi penge­tahuan melainkan sedikit.”

Maka berkatalah sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain, "Telah kami katakan kepada kalian, janganlah kalian bertanya kepadanya."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui hadis Al-A'masy dengan sanad yang sama.

Menurut la­faz Imam Bukhari sehubungan dengan tafsir ayat ini, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a., disebutkan bahwa ketika kami sedang berjalan bersama dengan Rasulullah ﷺ di sebuah lahan pertanian — saat itu Rasulullah ﷺ berjalan dengan memegang pelepah kurma sebagai tongkatnya maka bersualah beliau dengan orang-orang Yahudi.
Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, "Tanyailah dia tentang roh." Salah seorang dari mereka berkata, "Apa perlunya kalian dengan dia?"
Sebagian yang lainnya mengatakan, "Jangan sampai dia menghadapi kalian dengan sesuatu yang kalian tidak menyukainya." Mereka berkata, "Tanyailah dia tentang roh." Akhirnya mereka menanyai Nabi ﷺ tentang roh.
Tetapi Nabi ﷺ diam, tidak menjawab sepatah kata pun terhadap mereka.
Ibnu Mas'ud mengatakan, "Saya menyadari bahwa beliau ﷺ sedang mene­rima wahyu, maka saya diam di tempat." Setelah wahyu selesai, Nabi ﷺ membacakannya, yaitu firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku."
, hingga akhir ayat.

Konteks ayat ini jelas menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan di Madinah, diturunkan ketika orang-orang Yahudi menanyakan kepadanya tentang roh, sekalipun surat ini adalah surat Makiyyah.

Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa barangkali ayat ini ditu­runkan di Madinah untuk yang kedua kalinya, sebelumnya memang ayat ini pernah diturunkan di Mekah.
Atau barangkali makna yang dimaksud dari hadis di atas bahwa Nabi ﷺ menjawab pertanyaan mereka dengan membacakan ayat ini yang telah diturunkan sebelumnya, yaitu firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh., hingga akhir ayat.

Dan yang menunjukkan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada Nabi ﷺ di Mekah, ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam salah satu hadis yang diketengahkannya.

Ia mengatakan, telah mencerita­kan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria, dari Daud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pernah mengatakan kepada orang-orang Yahudi, "Berikanlah kepada kami sesuatu pertanyaan yang akan kami ajukan kepada lelaki ini." Orang-orang Yahudi menjawab, "Tanyailah dia tentang roh." Lalu orang-orang Quraisy bertanya kepada Nabi ﷺ tentang masalah roh.
Maka turunlah firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi penge­tahuan, melainkan sedikit."

Orang-orang Yahudi berkata, "Kami telah diberi pengetahuan yang ba­nyak, kami telah diberi kitab Taurat, dan barang siapa yang diberi kitab Taurat, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak." Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Katakanlah, "Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu.
(Al Kahfi:109), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Muhammad ibnul Musanna, dari Abdul A'la, dari Daud, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ahli Kitab pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang roh, maka Allah menurunkan firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh., hingga akhir ayat.
Mereka mengatakan, "Kamu menduga bahwa tidaklah kami diberi penge­tahuan kecuali sedikit, padahal kami telah diberi kitab Taurat, dan kitab Taurat itu adalah hikmah." Mereka bermaksud seperti apa yang disebut­kan oleh firman-Nya: Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak.
(Al Baqarah:269) Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi).
(Luqman:27), hingga akhir ayat.
Selanjutnya Ikrimah mengatakan bahwa pengetahuan yang telah diberikan kepada kalian yang membuat kalian diselamatkan oleh Allah dari neraka berkat pengetahuan itu.
Maka hal itu adalah pemberian yang banyak la­gi baik, tetapi hal itu menurut pengetahuan Allah dianggap sedikit.

Muhammad Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari salah seorang teman­nya, dari Ata ibnu Yasar yang mengatakan bahwa ayat berikut ini diturun­kan di Mekah, yaitu firman-Nya: dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.
(Al- Isra: 85) Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, orang-orang alim Yahudi da­tang kepadanya dan bertanya, "Hai Muhammad, telah sampai kepada kami berita yang mengatakan bahwa engkau telah mengatakan:

...dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.'
Apakah yang engkau maksudkan adalah kami, ataukah kaummu sendiri?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Saya bermaksud kepada semuanya." Mereka berkata, "Sesungguhnya engkau telah membaca tentang kami, bahwa kami telah diberi kitab Taurat yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu." Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Hal itu menurut pengetahuan Allah dianggap sedikit, dan se­sungguhnya Allah telah mendatangkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian mengamalkannya, tentulah kalian beroleh manfaat (yang banyak).
Dan Allah menurunkan firman-Nya: Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kali­mat Allah.
Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(Luqman:27)

Para ulama berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini, seperti keterangan berikut:

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan roh ialah arwah Bani Adam.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
, hingga akhir ayat.
Demikian itu terjadi ketika orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang roh.
Mereka mengatakan, "Ceritakanlah kepada kami ten­tang roh.
Bagaimanakah roh yang ada di dalam jasad disiksa, padahal sesungguhnya roh itu berasal dari Allah?"
Saat itu belum pernah ada suatu wahyu pun yang diturunkan kepada Nabi ﷺ mengenainya, maka Nabi ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun.
Kemudian datanglah Ma­laikat Jibril dan menyampaikan wahyu kepadanya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.
Kemudian Nabi ﷺ menyampaikan wahyu itu kepada mereka (orang-orang Yahudi), dan mereka mengatakan, "Siapakah yang menyampaikan hal itu kepadamu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Jibril telah datang kepadaku menyampaikannya dari sisi Tuhanku." Mereka menjawab Nabi ﷺ, "Demi Allah, tiada yang mengatakannya kepadamu melainkan musuh kami." Maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah, "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebe­lumnya.
(Al Baqarah:97)

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini ialah Malaikat Jibril.
Demikianlah menurut Qatadah, dan Qatadah mengatakan bahwa Ibnu Abbas menyembunyikan makna yang dimaksud dari ayat ini.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini ialah malaikat yang sangat besar, yang besarnya sama dengan semua makhluk Allah.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
bahwa yang dimaksud dengan roh dalam ayat ini ialah malaikat.

Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali, telah menceritakan kepadaku Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abu Marwan Yazid ibnu Samurah, dari orang yang menceritakan kepadanya, dari Ali ibnu Abu Talib r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Ali r.a.
mengatakan bahwa roh adalah malaikat yang mempunyai tujuh puluh ribu muka, tiap-tiap muka mempunyai tujuh puluh ribu lisan, dan ti­ap-tiap lisan dapat mengucapkan seribu bahasa, Ia bertasbih kepada Allah dengan memakai semua bahasa itu.
Allah menciptakan seorang malaikat dari tiap tasbih yang diucapkannya, lalu malaikat itu terbang bersama malaikat lainnya hingga hari kiamat.
Asar ini garib lagi aneh.

As-Suhaili mengatakan, telah diriwayatkan dari Ali bahwa ia pernah mengatakan, "Roh adalah malaikat yang mempunyai seratus ribu kepala, tiap kepala mempunyai seratus ribu wajah, tiap wajah mempunyai seratus ribu mulut, dan setiap mulut mempunyai seratus ribu lisan, semuanya bertasbih menyucikan Allah dengan berbagai macam bahasa.

As- Suhaili mengatakan bahwa menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan roh ialah segolongan malaikat yang rupanya seperti manusia.
Menurut pendapat lainnya lagi, roh adalah segolongan malaikat yang da­pat melihat malaikat lainnya, tetapi para malaikat tidak dapat melihat mereka.
Mereka sama halnya dengan malaikat bagi manusia (yakni tidak terlihat).

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku."

Artinya, hanya Allah sajalah yang mengetahuinya, dan hal itu termasuk sesuatu yang sengaja hanya diketahui oleh-Nya, tidak untuk kalian.
Untuk itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

...dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.

Yakni apa yang diperlihatkan-Nya kepada kalian dari pengetahuan-Nya tiada lain hanyalah sedikit saja, karena sesungguhnya tiada seorang pun yang menguasai sesuatu dari pengetahuan-Nya melainkan menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Mahasuci lagi Mahatinggi Dia.
Makna yang di­maksud ialah sesungguhnya pengetahuan kalian amatlah sedikit bila di­bandingkan dengan pengetahuan Allah.
Dan apa yang kalian tanyakan tentang roh, hal ini merupakan suatu perkara yang hanya diketahui oleh­-Nya.
Dia tidak memperlihatkannya kepada kalian, sebagaimana Dia tidak memperlihatkan kepada kalian dari sebagian pengetahuannya melainkan hanya sedikit saja.

Dalam kisah Musa dan Khidir akan disebutkan bahwa Khidir me­mandang ke arah seekor burung pipit yang hinggap di pinggir perahu yang dinaiki keduanya, lalu burung pipit itu minum seteguk air dari sungai (laut) itu dengan paruhnya.
Maka Khidir berkata, "Hai Musa, tiadalah pengetahuanku dan pengetahuanmu serta pengetahuan semua makhluk bila dibandingkan dengan pengetahuan Allah, melainkan sama halnya dengan apa yang diambil oleh burung pipit ini dari laut itu dengan laut itu sendiri." Atau hal lainnya yang semakna.
Karena itulah disebutkan pada akhir ayat ini oleh firman-Nya:

...dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.

As-Suhaili mengatakan, sebagian ulama mengatakan bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan mereka karena mereka mengajukan pertanyaannya dengan nada ingkar.
Menurut pendapat yang lainnya lagi Allah subhanahu wa ta'ala menjawabnya.

As-Suhaili mengemukakan alasannya, bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya: Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku." (Al Israa':85) Yakni termasuk sebagian dari syariat-Nya.
Dengan kata lain, masuklah kalian ke dalam agama-Nya, karena sesungguhnya kalian telah mengeta­hui bahwa tiada jalan untuk mengetahui masalah ini melalui keahlian ataupun filsafat.
Sesungguhnya pengetahuan mengenainya hanya dapat diperoleh melalui syariat-Nya.
Akan tetapi, alasan yang dikemukakan oleh As-Suhaili dan pandangannya ini masih perlu dipertimbangkan kebe­narannya.

Kemudian As- suhaili mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi pula sehubungan dengan definisi roh.
Ada yang mengatakan bahwa roh itu adalah jiwa, ada pula yang mengatakan selain itu.
Hanya As-Suhaili pada akhirnya menyimpulkan bahwa roh itu adalah suatu zat yang lembut seperti udara, ia beredar di seluruh tubuh bagaikan aliran air di dalam akar-akar pohon.

As-Suhaili menyimpulkan pula bahwa roh yang ditiupkan oleh malaikat ke dalam janin adalah jiwa, tetapi dengan syarat bahwa penggabungan roh tersebut dengan tubuh menimbulkan reaksi munculnya sifat-sifat yang terpuji atau sifat-sifat yang tercela.
Oleh karena itu, jiwa itu ada yang diberi nama jiwa yang tenang (baik) atau jiwa yang labil yang selalu me­merintahkan kepada keburukan.

As-Suhaili melanjutkan analisisnya, bahwa hal itu terjadi seperti hal­nya air yang menjadi kehidupan bagi pohon, kemudian setelah air itu menyatu dengan pohon, maka menghasilkan nama (istilah) tersendiri.
Dengan kata lain, apabila air berada di dalam buah anggur, lalu diperas, maka air yang dihasilkan darinya dinamakan minuman perasan anggur atau dapat pula dijadikan sebagai khamr.
Dalam keadaan seperti itu ia ti­dak dapat dikatakan sebagai air, melainkan dalam ungkapan kiasan.

Jiwa tidak dapat pula dikatakan sebagai roh, melainkan melalui ung­kapan kiasan, sebagaimana tidak dapat pula dikatakan bahwa roh adalah jiwa, melainkan berdasarkan pertimbangan kausalitasnya.

Kesimpulan dari apa yang telah kami kemukakan ialah bahwa se­sungguhnya roh itu adalah asal-usul jiwa.
Jiwa adalah terbentuk akibat menyatunya roh dengan tubuh.
Dengan demikian, istilah roh hanyalah dipandang dari salah satu aspeknya saja, bukan dari semua aspeknya.

Hal ini merupakan pendapat yang cukup baik.

Menurut kami, banyak kalangan ulama yang membahas masalah roh, yakni tentang hakikat roh dan ciri-ciri khasnya.
Mereka menulis ki­tab-kitab yang menerangkan tentang masalah ini, diantaranya tulisan yang terbaik mengenai masalah ini dibuat oleh Al-Hafiz ibnu Mandah di dalam kitabnya yang berjudul Sami'nahu fir Ruhi.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Israa (17) ayat 85
Telah menceritakan kepada kami Qais bin Hafsh berkata,
telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid berkata,
telah menceritakan kepada kami Al A'masy Sulaiman bin Mihran dari Ibrahim dari Alqamahdari Abdullah berkata,
Ketika aku berjalan bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di sekitar pinggiran Kota Madinah, saat itu beliau membawa tongkat dari batang pohon kurma. Beliau lalu melewati sekumpulan orang Yahudi, maka sesama mereka saling berkata,
"Tanyakanlah kepadanya tentang ruh!" Sebagian yang lain berkata,
Janganlah kalian bicara dengannya hingga ia akan mengatakan sesuatu yang kalian tidak menyukainya. Lalu sebagian yang lain berkata,
"Sungguh, kami benar-benar akan bertanya kepadanya." Maka berdirilah seorang laki-laki dari mereka seraya bertanya,
"Wahai Abul Qasim, ruh itu apa?" Beliau diam. Maka aku pun bergumam, Sesungguhnya beliau sedang menerima wahyu. Ketika orang itu berpaling, beliau pun membaca: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (Qs. Al Israa`: 85). Al A'masy berkata,
Seperti inilah dalam qira ah kami.

Shahih Bukhari, Kitab Ilmu - Nomor Hadits: 122

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 85

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ berjalan dengan tongkat di Madinah disertai oleh Ibnu Mas’ud, dan lewat di depan segolongan Yahudi.
Salah seorang mereka berkata: “Mari kita bertanya kepadanya.” Merekapun berkata: “Coba terangkan kepada kami tentang ruh.” Nabi berdiri sesaat seraya mengangkat kepala ke langit.
Terlihat beliau sedang diberi wahyu.
Kemudian bersabda bahwa … ar-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilaa..(..
ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (al-Israa’: 85).
Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Quraisy berkata kepada kaum Yahudi: “Ajarilah kami sesuatu untunk ditanyakan kepada orang ini (Muhammad).” Berkatalah orang Yahudi: “Cobalah tanyakan kepadanya tentang ruh.” Merekapun menanyakannya kepada Nabi ﷺ.
Turunnya ayat ini (al-Israa’: 85) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai tuntunan kepada Rasulullah ﷺ dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Keterangan: Ibnu Katsir mengemukakan, sehubungan dengan hal tersebut di atas, sebagai berikut: dua dari kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bahwa ayat ini (al-Israa’: 85) turun berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut.
Demikian pula menurut pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar, dengan tambahan bahwa diamnya Nabi ﷺ ketika ditanya oleh Yahudi, boleh jadi menunggu penjelasan lebih jauh tentang masalah itu.
Sekiranya bukan karena menunggu penjelasan lebih jauh, tentu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih.
Menurut Imam as-Suyuthi, apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih, karena sumber rawinya hadir pada waktu terjadinya peristiwa itu, sedang Ibnu ‘Abbas tidak hadir dalam peristiwa itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 85 *beta

Surah Al Israa Ayat 85



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (21 votes)
Sending







✔ al isra 85, penejlasan al isra 85, q surah al isra ayat 17 85 beserta terjemahanya

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku