Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 79


وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا
Waminallaili fatahajjad bihi naafilatan laka ‘asa an yab’atsaka rabbuka maqaaman mahmuudan;

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.
―QS. 17:79
Topik ▪ Pahala Iman
17:79, 17 79, 17-79, Al Israa 79, AlIsraa 79, Al Isra 79, Al-Isra’ 79
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 79. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini memerintahkan Rasulullah dan kaum Muslim agar bangun di malam hari dan mengerjakan salat tahajud.
Ayat ini merupakan ayat yang pertama kali memerintahkan Rasulullah mengerjakan salat malam sebagai tambahan atas salat yang wajib.
Salat malam ini diterangkan oleh hadis Nabi ﷺ:

Bahwasanya Nabi ﷺ ditanya orang: "Salat manakah yang paling utama setelah salat yang diwajibkan (salat lima waktu).
Rasulullah ﷺ menjawab: Salat tahajud".

(H.R.
Muslim dari Abu Hurairah)

Dari hadis-hadis Nabi yang sahih, yang diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas dipahami bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengerjakan salat tahajud, setelah beliau tidur dahulu, kemudian bangun.
Kebiasaan Nabi ini dapat dijadikan dasar hukum bahwa salat tahajud itu lebih baik (sunah) dikerjakan oleh seseorang, setelah ia tidur beberapa saat di malam hari, kemudian pada pertengahan malam hari ia bangun untuk salat tahajud.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan hukum salat tahajud itu adalah sebagai ibadat tambahan Rasulullah di samping salat yang lima, oleh karena itu maka hukumnya bagi Rasulullah adalah wajib melakukannya, sedang bagi umatnya salat tahajud adalah sunah hukumnya.

Dalam ayat ini diterangkan tujuan salat tahajud itu bagi Nabi Muhammad ialah agar Allah subhanahu wa ta'ala dapat menempatkannya di tempat yang terpuji.

Yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" ialah syafaat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat.
Pada hari itu manusia mengalami keadaan yang sangat susah yang tiada taranya.
Yang dapat melapangkan dan meringankan manusia dari keadaan yang sangat susah itu hanyalah permohonan Nabi Muhammad ﷺ kepada Tuhannya, agar orang itu dilapangkan dan diringankan dari penderitaannya.
Diriwayatkan oleh Tirmizi dari Abu Hurairah, Ia berkata: "Berkata Rasulullah ﷺ tentang yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" dalam ayat ini: "Maqaman mahmudan" itu ialah syafaatku.
(Hadis Hasan Sahih) Berkata Ibnu Jarir: "Kebanyakan para ahli berkata: "Yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" itu ialah suatu kedudukan yang dipergunakan oleh Rasulullah ﷺ pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada manusia, agar Allah subhanahu wa ta'ala meringankan bagi mereka kesusahan dan kesulitan yang mereka alami pada hari ini".

Diriwayatkan oleh An Nasai dan Al Hakim dan segolongan ahli Hadis dari Huzaifah ia berkata: "Allah mengumpulkan manusia pada suatu daratan yang luas pada hari kiamat, mereka semua berdiri dan tidak seorangpun yang berbicara pada hari ini kecuali dengan izin Nya.
Orang-orang yang mula-mula diseru namanya ialah Muhammad, maka Muhammad berdoa kepada Nya.
Maka inilah yang dimaksud dengan "maqaman mahmudan" dalam ayat ini.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Barangsiapa yang membaca doa setelah selesai mendengar azan "Wahai Tuhanku: "Tuhan Yang Empunya seruan Yang Sempurna dan salat yang dikerjakan ini, berilah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan dan angkatlah ia kepada al maqam almahmud (kedudukan yang terpuji) yang telah Engkau janjikan kepadanya",
maka dia memperoleh syafaatku".

Diriwayatkan dari Muslim dari Anas, ia berkata: "Telah mengabarkan Rasulullah kepada kami, beliau berkata: "Apabila datang hari kiamat, dan manusia itu berbondong-bondong, maka mereka menghadap Adam as, mereka meminta kepadanya: "Berilah syafaat untuk anak cucu engkau".
Adam menjawab: "Aku tidak mempunyainya tetapi pergilah kepada Ibrahim, maka sesungguhnya dia Khalilullah.
Maka merekapun menghadap Ibrahim as,

Ibrahim menjawab: "Aku tidak mempunyainya, tetapi pergilah kepada Musa, maka sesungguhnya ia adalah: Kalimullah.
Setelah mereka meminta kepada Musa; Musa menjawab: "Aku tidak mempunyainya, tetapi pergilah kepada Isa, sesungguhnya dialah ruh yang ditiupkan Allah dari kalimat Nya".
Mereka menghadap Isa, Ia berkata: "Aku tidak mempunyainya, tetapi pergilah kepada Muhammad ﷺ".
Maka merekapun menghadap kepadaku dan memintanya, aku menjawab: "Aku mempunyainya".
Tentang kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di hari kiamat, diriwayatkan oleh Al Tirmizi dari Said Khudri, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

Aku adalah pimpinan anak cucu Adam pada hari kiamat.
Aku tidak membanggakan diri, dan di tangankulah terpegang liwa'ul hamdi (bendera memuji Tuhan) aku tidak membanggakan diri.
Tidak ada seorang Nabi pun pada hari itu, sejak dari Adam sampai Nabi-nabi yang lain, kecuali berada di bawah benderaku itu".

(H.R.
Tirmizi)

Dari ayat dan hadis-hadis di atas dipahami bahwa Nabi Muhammad ﷺ dengan mengerjakan salat tahajud sesuai dengan yang diperintahkan Allah itu akan diangkat oleh Allah subhanahu wa ta'ala ke tempat dan kedudukan yang dipuji oleh umat manusia, para malaikat dan Allah Tabaraka Wata`ala dengan memberi syafaat kepada umat manusia yang berada di padang Mahsyar di saat yang amat gawat dengan se izin Allah, dan umat manusia yang memang berhak mendapat syafaat, berdasarkan amal saleh, ilmu pengetahuan dan budi pekerti mereka semasa di dunia akan mendapat syafaatlah mereka dengan diampuni dosanya oleh Tuhan atau dinaikkan derajatnya.

Pada firman Allah yang lain diterangkan bahwa bangun di tengah malam salat tahajud, kemudian membaca Alquran dengan tertib dan fasih, mengikuti dengan hati arti dari ayat-ayat itu, dapat membuat iman jadi kuat, memperkuat mental dan membina diri pribadi, karena beribadat di malam hari itu dapat dilakukan dengan khusyuk.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu.
Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

(Q.S.
Al Muzammil: 1-6)

Al Israa (17) ayat 79 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 79 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 79 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bangunlah pada sebagian malam dan laksanakanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan atas salat lima waktu yang telah kamu laksanakan, dengan harapan agar Allah menempatkan kamu di hari kiamat pada tempat yang dipuji semua makhluk.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu) salatlah (dengan membacanya) yakni Alquran (sebagai suatu ibadah tambahan bagimu) sebagai amal fardu tambahan bagimu secara khusus bukan bagi umatmu, atau sebagai tambahan di samping salat-salat fardu (mudah-mudahan mengangkatmu) mendudukanmu (Rabbmu) di akhirat kelak (pada tempat yang terpuji) di mana semua orang yang terdahulu hingga orang yang kemudian memujimu karena kamu menduduki tempat tersebut, yaitu kedudukan memberi syafaat pada hari diputuskan-Nya segala perkara.
Ayat berikut diturunkan sewaktu Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk melakukan hijrah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bangunlah, hai Nabi, dari tidurmu pada sebagian malam, lalu bacalah al-Qur'an dalam shalat malam, agar shalat malam itu menjadi tambahan bagimu dalam meninggikan kedudukan dan derajat.
Mudah-mudahan Rabbmu membangkitkanmu sebagai pemberi syafaat bagi umat manusia pada Hari Kiamat, agar Allah merahmati mereka dari situasi dan kondisi yang sedang mereka alami, dan agar kamu menempati tempat di mana kamu dipuji oleh orang-orang terdahulu dan terkemudian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan pada sebagian malam hari, salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.

Ayat ini merupakan perintah dari Allah kepada Nabi ﷺ untuk mengerja­kan salat sunat malam hari sesudah salat fardu.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ, pernah ditanya mengenai salat yang paling utama sesudah salat fardu.
Maka beliau ﷺ menjawab melalui sabdanya:

salat sunat malam hari.

Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menghidupkan malam hari dengan salat sunat tahajud.
Makna tahajud ialah salat yang dikerjakan sesudah tidur.
Demikianlah menurut pendapat Alqamah, Al-Aswad, Ibrahim An-Nakha'i, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Dan inilah pengertian yang dikenal di dalam bahasa Arab.
Hal yang sama telah disebutkan di dalam banyak hadis dari Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa beliau melakukan salat tahajudnya sesu­dah tidur.
Hal ini diriwayatkan melalui Ibnu Abbas dan Siti Aisyah serta sahabat-sahabat lainnya, semuanya itu diterangkan secara rinci di tempat­nya sendiri.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa tahajud ialah salat yang dila­kukan sesudah salat Isya.
Pendapat ini mempunyai interpretasi salat yang dikerjakan sesudah tidur terlebih dahulu.

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna firman-Nya:

...sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah bahwa Engkau secara khusus wajib melakukan hal itu.
Maka mereka menganggapnya sebagai suatu kewajiban khusus bagi Nabi ﷺ sendiri, tidak bagi umat­nya.
Demikianlah menurut pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas.
Inilah yang dikatakan oleh salah satu pendapat di antara dua pendapat yang ada di kalangan ulama, juga menurut salah satu penda­pat Imam Syafi'i, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Menurut pendapat lain, susungguhnya mengerjakan salat sunat malam hari dianggap sebagai ibadah tambahan khusus baginya, mengingat semua dosa Nabi ﷺ telah diampuni, baik yang terdahulu maupun yang kemudian.
Sedangkan bagi selain Nabi ﷺ — yaitu umatnya — salat sunat itu dapat menghapuskan dosa-dosanya.
Demikianlah menurut Muja­hid.
Pendapat ini disebutkan di dalam kitab Musnad melalui riwayat Abu Umamah Al-Bahlil r.a.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Aku lakukan perintah ini kepadamu untuk menempatkanmu di hari kiamat kelak pada kedudukan yang terpuji.
Semua makhluk akan memujimu, begitu pula Tuhan yang menciptakan mereka semua.

Ibnu Jarir mengatakan, kebanyakan ulama ahli takwil mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kedudukan yang terpuji ini ialah kedudukan yang diperoleh Nabi ﷺ pada hari kiamat nanti, yaitu memberikan syafa­at bagi umat manusia, agar Tuhan mereka membebaskan mereka dari kesengsaraan hari itu.

Pendapat ulama yang mengatakannya sebagai kedudukan syafaat

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Silah ibnu Zufar, dari Huzaifah yang mengatakan bahwa manusia (kelak di hari kiamat) dikumpulkan di suatu tempat yang datar, suara penyeru terdengar oleh mereka dan pandangan mata mereka tembus (tiada yang menghalanginya).
Mereka semua dalam keadaan telanjang dan tak beralas kaki, persis seperti ketika mereka baru dicipta-kan (dilahirkan).
Mereka semua dalam keadaan berdiri, tiada seorang pun yang berani berbicara melainkan dengan seizin-Nya.
Allah subhanahu wa ta'ala berseru, "Hai Muhammad!" Nabi ﷺ menjawab: Labbaika wa sa'daika, semua kebaikan berada di Tangan-Mu, dan semua keburukan tidak pantas disandarkan kepada-Mu.
Orang yang beroleh hidayah hanyalah orang yang Engkau beri hidayah.
Hamba-Mu sekarang berada di hadapan-Mu, berasal dari (ciptaan)-Mu dan kembali kepada-Mu.
Tiada jalan selamat dan tiada tempat berlindung dari murka-Mu kecuali hanya kepada-Mu.
Mahasuci lagi Mahatinggi dan Mahaagung Engkau, wahai Tuhan Pemilik Ka'bah.”

Inilah yang dimaksud dengan kedudukan terpuji yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya itu.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa kedudukan yang terpuji ini adalah kedudukan syafaat.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid.
Pendapat yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri.

Qatadah mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang mula-mula dibangkitkan dari kuburnya di hari kiamat, dan beliau adalah orang yang mula-mula memberi syafaat.

Ahlul 'ilmi berpendapat bahwa hal inilah yang dimaksud oleh Allah dengan kedudukan yang terpuji di dalam firman-Nya: mudah-mudah Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Menurut kami, sesungguhnya Rasulullah ﷺ mempunyai beberapa ke­muliaan di hari kiamat yang tidak ada seorang pun yang menandinginya.
Sebagaimana beliau pun memiliki beberapa keutamaan yang tiada seorang pun dapat menyainginya, yaitu seperti berikut:

Nabi ﷺ adalah orang yang mula-mula dibangkitkan dari kubur­nya.

Nabi ﷺ dibangkitkan dalam keadaan berkendaraan menuju Padang Mahsyar.

Nabi ﷺ adalah pemegang panji yang bernaung di bawahnya Nabi Adam 'alaihis salam dan nabi-nabi lain sesudahnya, semuanya berada di ba­wah panjinya.

Nabi ﷺ mempunyai telaga (Kausar) yang di tempat perhentian itu tiada sesuatu pun yang lebih banyak pendatangnya daripada telaga yang dimilikinya.

Nabi ﷺ pemegang syafa'atul 'uzma di sisi Allah agar Allah mau datang untuk memutuskan peradilan di antara makhluk-Nya.
Yang demikian itu terjadi sesudah semua manusia meminta kepada Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, lalu Isa, masing-masing dari mereka mengatakan, "Saya bukanlah orangnya.”Akhirnya mereka datang kepada Nabi Muhammad ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda: Akulah orangnya, akulah orangnya.
Mengenai pembahasan masalah ini kami sebutkan nanti secara rinci.

Keistimewaan lainnya yang dimiliki oleh Nabi ﷺ ialah memberi­kan syafaat kepada sejumlah kaum, padahal kaum-kaum itu telah diperin­tahkan untuk diseret ke dalam neraka, akhirnya mereka diselamatkan darinya.

Umat Nabi ﷺ adalah umat yang paling pertama menerima ke-putusan dari Allah dalam peradilan-Nya di antara sesama mereka.
Dan mereka adalah umat yang mula-mula melewati sirat bersama nabinya.

Nabi ﷺ adalah orang yang mula-mula diberi syafaat oleh Allah untuk masuk ke dalam surga, seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih Muslim.
Di dalam hadis sur (sangkakala) disebutkan bahwa semua orang mukmin tidak dapat masuk surga kecuali dengan syafaat dari Nabi ﷺ Nabi ﷺ adalah orang yang mula-mula masuk surga bersama umatnya sebelum umat-umat lainnya.

Nabi ﷺ memberikan syafaat untuk meninggikan derajat sejum­lah kaum yang amal perbuatan mereka tidak dapat mencapainya.

Nabi ﷺ adalah pemilik wasilah yang merupakan kedudukan tertinggi di surga.
Kedudukan ini tidak layak disandang kecuali hanya oleh Nabi ﷺ sendiri.

Apabila Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan izin untuk memberi syafaat kepada orang-orang yang durhaka, maka barulah para malaikat, para nabi, dan kaum mukmin memberikan syafaatnya masing-masing.
Nabi ﷺ memberikan syafaatnya kepada sejumlah besar makhluk yang tiada seorang pun mengetahui bilangannya kecuali hanya Allah subhanahu wa ta'ala Tiada seorang pun yang dapat menyamainya dan setara dengan dia dalam hal memberi syafaat.

Saya telah menjelaskan masalah ini secara rinci di dalam kitab As-Sirah pada Bab "Al-Khasais" (kitab lain karya tulis Ibnu Kasir).
Berikut ini akan kami ketengahkan hadis-hadis yang menyebutkan tentang Kedu­dukan yang Terpuji ini.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Aban, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Adam ibnu Ali, ia pernah mendengar Ibnu Umar mengatakan bahwa sesungguh­nya manusia itu kelak di hari kiamat semuanya berlutut, setiap umat mengikuti nabinya masing-masing.
Mereka mengatakan, "Hai Fulan, beri­lah syafaat.
Hai Fulan, berilah syafaat!" Hingga sampailah syafaat kepada Nabi ﷺ, hanya dialah yang dapat memberikannya.
Yang demikian itu terjadi di hari Allah mendudukkannya di tempat yang terpuji.

Hamzah ibnu Abdullah meriwayatkannya dari ayahnya, dari Nabi ﷺ

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnul Lais, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Ubaidillah ibnu Abu Ja'far yang mengatakan, ia pernah mendengar Hamzah ibnu Abdullah ibnu Umar mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdul­lah ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya matahari (kelak di hari kiamat) benar-benar dekat sehingga keringat (manusia) sampai sebatas pertengahan teli­nga (mereka).
Ketika mereka dalam keadaan demikian, mereka meminta tolong kepada Adam, maka Adam menjawab, "Saya bukanlah orang yang memiliki syafaat itu." Kemudian kepada Musa.
Musa menjawab dengan kata-kata yang sama (seperti yang dikatakan Adam).
Dan akhirnya kepada Nabi Muhammad ﷺ Maka Nabi ﷺ memberikah syafaatnya kepada makhluk.
Lalu beliau berjalan (menuju surga) dan memegang halgah (pe­gangan) pintu surga.
Pada saat itulah Allah menempatkannya pada kedudukan yang terpuji.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Bab "Zakat" melalui Yahya ibnu Bukair dan Alqamah, dari Abdullah ibnu Saleh, keduanya dari Al-Lais ibnu Sa'd dengan sanad yang sama.
Hanya dalam riwayat ini ditambahkan:

bahwa pada hari itu Allah menempatkan­nya pada kedudukan yang terpuji, semua makhluk yang ada di tempat pemberhentian memujinya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Ali ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnu Abu Ham­zah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan doa berikut ketika mende­ngar suara azan, yaitu: "Ya Allah, Tuhan seruan yang sempur­na ini dan salat yang didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan angkatlah dia ke kedudukan yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan kepadanya, " maka ia akan mendapat syafaatku kelak di hari kiamat.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid, tanpa Imam Muslim.

Hadis Ubay ibnu Ka'b.

Imam Ahmad telah mengatakan,, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Zuhair ibnu Muhammad, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari At-Tufail ibnu Ubay ibnu Ka'b, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Apabila hari kiamat tiba, saya menjadi pemimpin para nabi, khatib (pembicara) mereka, dan pemilik syafaat mereka, tanpa membanggakan diri.

Dalam pembahasan terdahulu dalam hadis Ubay ibnu Ka'b mengenai bacaan Al-Qur'an yang terdiri atas tujuh dialek disebutkan bahwa di akhir hadis tersebut dikatakan:

Maka aku .berdoa, "Ya Allah, berilah ampun kepada umatku.
Ya Allah, berilah ampun kepada umatku, " dan aku tangguhkan permintaan yang ketiga buat suatu hari yang di hari itu semua makhluk memerlukan pertolonganku hingga Nabi Ibrahim 'alaihis salam

Hadis Anas ibnu Malik.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Arubah, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: bahwa pada hari kiamat orang-orang mukmin berkumpul setelah mereka mengalami penderitaan terse­but.
Lalu mereka berkata, "Sebaiknya kita meminta syafaat kepada Tuhan, agar Dia membebaskan kita dari tempat yang penuh dengan penderitaan ini." Maka mereka datang kepada Adam dan berkata, "Hai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya sendiri, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, serta Allah telah mengajarkan kepadamu nama segala sesua­tu.
Maka mohonkanlah syafaat buat kami kepada Tuhanmu agar Dia membebaskan kita dari tempat kita ini." Nabi Adam menjawab mereka, "Saya bukanlah orang yang kalian harapkan",
lalu Adam menyebutkan dosa yang pernah dilakukannya, sehingga ia merasa malu kepada Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahamulia untuk meminta syafaat itu.
Lalu ia berkata, "Sebaiknya kalian datang kepada Nuh, karena dia adalah rasul yang mula-mula diutus oleh Allah untuk penduduk bumi." Maka mereka datang kepada Nabi Nuh, lalu ia menjawab, "Saya bukanlah orang yang dapat kalian harapkan," kemudian Nabi Nuh menyebutkan suatu kesalahan, yaitu ia pernah meminta kepada Tuhan sesuatu yang tiada pengetahuan baginya tentang hal ifu, sehingga ia merasa malu kepada Tuhan untuk meminta syafaat yang mereka minta itu.
Dan Nuh 'alaihis salam mengatakan, "Sebaiknya kalian pergi kepada Nabi Ibrahim 'alaihis salam, kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah." Mereka datang kepada Nabi Ibrahim 'alaihis salam, tetapi Nabi Ibrahim 'alaihis salam menjawab, "Saya bukanlah orang yang kalian maksudkan.
Sebaiknya datanglah kalian kepada Musa, seorang hamba yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah dan Allah telah memberinya kitab Taurat." Mereka datang kepada Musa, tetapi Musa menjawab, "Saya bukanlah orang yang kalian maksudkan," lalu Musa menyebutkan bahwa ia pernah membunuh seseorang tanpa mendapat balasan qisas, sehingga ia merasa malu kepada Tuhan untuk meminta syafaat yang mereka kehendaki itu.
Dan ia mengatakan, "Sebaiknya datanglah kalian kepada Isa, hamba dan Rasul Allah, serta kalimah dan roh-Nya." Mereka datang kepada Isa, tetapi Isa berkata, "Saya bukanlah orang yang kalian maksudkan.
Sebaiknya datanglah kamu kepada Muhammad, seorang hamba yang telah diberi ampun oleh Allah subhanahu wa ta'ala atas semua do­sanya yang terdahulu dan yang kemudian." Mereka datang kepadaku — menurut Al-Hasan terjadi perubahan dalam ungkapan hadis —, lalu aku bangkit dan berjalan di antara dua ba­risan kaum mukmin -— Anas melanjutkan kisahnya—sehingga aku meng­hadap kepada Tuhan dan meminta izin untuk bersua dengan-Nya.
Mana­kala aku melihat Tuhanku, maka aku menjatuhkan diri (menyungkur) bersujud kepada Tuhanku, dan Tuhanku membiarkan diriku dalam keadaan seperti itu selama apa yang Dia kehendaki.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Hai Muhammad, angkatlah muka­mu.
Katakanlah, perkataanmu didengar.
Dan mintalah syafaat, kamu di­beri izin untuk memberi syafaat.
Dan mintalah, pasti kamu diberi apa yang kamu minta!" Maka aku mengangkat mukaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku.
Lalu aku memberi syafaat, dan Allah memberikan batasan jumlah tertentu kepadaku, maka aku masukkan mereka ke dalam surga.
Kemudian aku kembali kepada-Nya untuk kedua kalinya, dan apabila aku melihat-Nya, maka aku menjatuhkan diri atau menyungkur bersujud kepada-Nya, dan Dia membiarkan diriku dalam keadaan demikian selama apa yang dikehendaki-Nya.
Lalu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Angkatlah mukamu, hai Muhammad.
Katakanlah, perkataanmu pasti didengar.
Mintalah, permintaanmu pasti dikabulkan.
Dan mintalah syafaat, engkau akan diberi izin untuk memberi syafaat!" Maka aku mengangkat mukaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku.
Kemudian aku memberi syafaat, dan Dia membe­rikan batasan kepadaku jumlah tertentu, lalu aku masukkan mereka ke dalam surga.
Kemudian aku kembali kepada-Nya untuk ketiga kalinya, dan mana­kala aku melihat-Nya, maka aku menjatuhkan diri atau menyungkur ber­sujud kepada-Nya.
Dia membiarkan diriku dalam keadaan seperti itu selama apa yang Dia kehendaki.
Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Hai Muhammad, angkatlah mu­kamu.
Katakanlah, perkataanmu pasti di dengar.
Mintalah, permintaanmu pasti diberikan.
Dan mintalah syafaat, tentulah kamu diberi izin untuk memberi syafaat!" Maka aku mengangkat mukaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku.
Kemudian saya memberikan syafaat, dan Dia memberikan batasan sejumlah orang tertentu kepadaku, maka aku masukkan mereka ke dalam surga.
Selanjutnya aku kembali kepada-Nya untuk keempat kalinya dan mengatakan kepada-Nya, "Wahai Tuhanku, tiada yang tersisa lagi selain orang-orang yang ditahan di dalam neraka oleh Al-Qur'an." Sahabat Anas telah menceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ bersabda: Maka dikeluarkanlah dari neraka orang yang pernah meng­ucapkan "Tidak ada Tuhan selain Allah",
dan di dalam hatinya terdapat sedikit kebaikan seberat biji gandum.
Kemudian dike­luarkan pula dari neraka orang yang pernah mengucapkan "Tidak ada Tuhan selain Allah",
sedangkan di dalam hatinya ' terdapat sedikit kebaikan sebesar biji jewawut.
Kemudian dikeluarkan pula dari neraka orang yang pernah mengucapkan "Tidak ada Tuhan selain Allah",
sedangkan di dalam hatinya terdapat sedikit kebaikan sebesar semut yang paling kecil.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui riwa­yat Syu'bah dengan sanad yang sama.

Hadis Abu Hurairah r.
a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abu Hayyan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah ibnu Amr ibnu Jarir, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menerima kiriman daging yang telah dimasak, lalu disuguhkan kepada beliau kaki kambing yang disukainya.
Maka beliau memakan sebagian darinya sekali makan, kemudian bersabda, "Aku adalah penghulu umat manusia di hari kiamat.
Tahukah kalian mengapa demikian?"
Allah pada hari kiamat menghimpun semua orang yang terdahulu dan yang kemudian di suatu tanah lapang.
Mereka digiring ke tempat itu oleh suara yang,terdengar oleh mereka semua, dan mereka semua terlihat berada dalam pengawasan.
Matahari berada di dekat mereka, sehingga manusia saat itu mengalami penderitaan dan malapetaka yang tidak kuat mereka sanggah.
Maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Tidakkah kalian merasakan apa yang sedang kalian derita yang tidak mampu kalian sanggah ini?
Tidakkah kalian mencari orang yang dapat meminta syafaat bagi kalian kepada Tuhan kalian?"
Maka sebagian dari mereka menjawab, "Sebaiknya kalian datang kepada Adam." Maka mereka datang kepada Adam 'alaihis salam dan berkata, "Hai Adam, engkau adalah bapak manusia- Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya sendiri dan Dia telah meniupkan sebagian dari roh-Nya kepadamu, serta Dia telah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadamu.
Maka mintakanlah syafaat kepada Tuhanmu buat kami.
Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami, betapa menderitanya kami." Adam 'alaihis salam menjawab, "Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini sedang murka dengan kemurkaan yang belum pernah Dia alami sebelumnya semisal sekarang, dan Dia tidak akan murka lagi sesudahnya seperti murka-Nya pada hari ini.
Sesungguhnya Dia pernah melarangku mende­kati sebuah pohon, tetapi aku mendurhakai-Nya.
Sekarang aku hanya dapat menyelamatkan diriku sendiri saja.
Pergilah kalian kepada orang lain, pergilah kalian kepada Nuh." Mereka datang kepada Nuh dan mengatakan, "Hai Nuh, engkau adalah mula-mula rasul di muka bumi, Allah telah memberimu nama seorang hamba yang banyak bersyukur.
Mohonkanlah syafaat kepada Tuhanmu buat kami.
Tidakkah engkau lihat penderitaan yang kami alami?
Tidakkah engkau lihat bagaimana keadaan kami sekarang?"
Nuh menja­wab, "Sesungguhnya Tuhanku hari ini sedang murka dengan kemurkaan yang belum pernah dialami-Nya semisal dengan hari ini, dan Dia tidak akan murka lagi sesudahnya dengan kemurkaan seperti hari ini.
Dan se­sungguhnya aku pernah memanjatkan suatu doa kepada-Nya untuk kebi­nasaan umatku.
Maka pada hari ini aku hanya dapat menyelamatkan di­riku sendiri.
Pergilah kalian kepada selain aku, pergilah kalian kepada Ibrahim." Mereka datang kepada Ibrahim dan mengatakan kepadanya, "Hai Ibrahim, engkau adalah nabi Allah dan kekasih-Nya dari kalangan pendu­duk bumi.
Mohonkanlah syafaat kepada Tuhanmu buat kami.
Tidakkah engkau lihat penderitaan kami?
Tidakkah engkau lihat keadaan kami?"
Maka Ibrahim menjawab, "Sesungguhnya tuhanku pada hari ini sedang murka dengan kemurkaan yang tidak pernah dilakukan-Nya sebelum itu, dan Dia tidak akan murka lagi sesudahnya dengan kemurkaan seperti hari ini," lalu Ibrahim menyebutkan beberapa kedustaan yang pernah di­lakukannya.
Karena itu, ia mengatakan, "Aku hanya dapat menyelamatkan diriku sendiri.
Pergilah kalian kepada orang lain, pergilah kalian kepada Musa." Mereka datang kepada Musa dan mengatakan, "Hai Musa, engkau adalah rasul Allah, Allah telah memilihmu untuk membawa risalah-Nya dan berbicara langsung dengan-Nya untuk engkau sampaikan kepada manusia.
Makamintakanlah syafaat kepada Tuhanmu buat kami.
Tidakkah engkau lihat penderitaan kami, tidakkah engkau lihat keadaan kami?"
Musa menjawab, "Sesungguhnya Tuhanku sedang murka dengan kemurkaan yang tidak pernah dilakukan-Nya sebelum hari ini, dan di masa mendatang Dia tidak akan murka lagi dengan kemurkaan seperti sekarang.
Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang yang aku ti­dak diperintahkan untuk membunuhnya.
Sekarang aku hanya dapat me­nyelamatkan diriku sendiri saja.
Pergilah kalian kepada selain aku, pergilah kalian kepada Isa." Mereka datang kepada Isa dan mengatakan, "Hai Isa engkau adalah rasul Allah, engkau diciptakan melalui perintah Allah yang disampaikan kepada Maryam melalui tiupan roh (ciptaan)-Nya, dan engkau dapat berbicara kepada manusia selagi engkau masih bayi dalam usia buaian.
Maka mohonkanlah syafaat kepada Tuhanmu buat kami.
Tidakkah eng­kau lihat penderitaan kami, tidakkah engkau lihat keadaan kami?"
Isa menjawab, "Sesungguhnya Tuhanku pada hari ini sedang dalam keadaan murka dengan kemurkaan yang belum pernah dilakukan-Nya sebelum ini, dan di masa mendatang Dia tidak akan murka lagi seperti kemurkaan-Nya pada hari ini.'Tetapi Isa tidak menyebutkan suatu dosa pun, dan ia mengatakan, "Aku hanya dapat menyelamatkan diriku sendiri.
Pergilah kalian kepada orang lain, pergilah kalian kepada Muhammad ﷺ" Maka mereka datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dan mengata­kan, "Hai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan Nabi terakhir, sesungguhnya Allah telah mengampuni semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian.
Maka mohonkanlah syafaat kepada Tuhanmu buat kami.
Tidakkah engkau lihat penderitaan kami?
Tidakkah engkau lihat keadaan kami?"
Nabi ﷺ bersabda, "Maka aku bangkit dan mendatangi bagian bawah' Arasy, lalu aku menyungkur bersujud kepada Tuhanku.
Kemudian Allah membukakan bagiku dan memberiku ilham cara memuji dan me-nyanjung-Nya dengan pujian dan sanjungan yang belum pernah Dia ajar­kan kepada seorang pun sebelumku.
Maka dikatakan kepadaku, 'Hai Muhammad, angkatlah mukamu, dan mintalah, pasti engkau diberi apa yang kamu minta, dan mintalah syafaat, tentu engkau akan diberi izin memberikan syafaat.' Maka aku mengangkat mukaku dan berkata, 'Wa­hai Tuhanku, selamatkanlah umatku.
Wahai Tuhanku, selamatkanlah umatku.
Wahai Tuhanku, selamatkanlah umatku.' Dikatakan kepadaku, 'Hai Muhammad, masukkanlah ke dalam surga dari kalangan umatmu orang-orang yang tidak ada hisabnya melalui pintu surga yang ada di sebelah kanan, sedangkan pintu-pintu lainnya buat se­mua orang yang lainnya bersama-sama'." Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Demi Tuhan yang jiwa Muhammad ini berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya jarak di antara kedua sisi pintu surga itu sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar, atau antara Mekah dan Basra."

Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab shahihnya masing-masing.

Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Haql ibnu Ziyad, dari Al-Auza'i, telah menceritakan kepadaku Abu Ammar, telah menceri­takan kepadaku Abdullah ibnu Farrukh, telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku adalah penghulu Anak Adam pada hari kiamat, dan orang yang mula-mula dikeluarkan dari kubur di hari kiamat, orang yang mula-mula diberi izin untuk memberi syafaat, serta orang yang mula-mula memberi syafaat.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Israa (17) ayat 79
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Allaits bin Sa'd dari Khalid bin Yazid dari Sa'id bin Abu Hilaldari Zaid dari Atha' bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudzri berkata,
Kami bertanya,
Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat? Nabi balik bertanya: Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari dan bulan ketika terang benderang? kami menjawab,
Tidak. Nabi meneruskan: Begitulah kalian tidak kesulitan melihat melihat Tuhan kalian ketika itu, selain sebagaimana kesulitan kalian melihat keduanya.Kemudian beliau berkata:
Lantas ada seorang penyeru memanggil-manggil, Hendaklah setiap kaum pergi menemui yang disembahnya! Maka pemuja salib pergi bersama salib mereka, dan pemuja patung menemui patung-patung mereka, dan setiap pemuja Tuhan bersama tuhan-tuhan mereka hingga tinggal orang-orang yang menyembah Allah, entah baik atau durhaka dan ahli kitab terdahulu. Kemudian jahannam didatangkan dan dipasang, ia seolah-olah fatamorgana, lantas orang-orang yahudi ditanya, Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab,
Kami dahulu menyembah Uzair anak Allah. Lalu ada suara, Kalian dusta! Allah sama sekali tidak mempunyai isteri dan tidak pula anak. Lalu apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab,
Kami ingin jika Engkau memberi kami minuman! Lantas ada suara, Minumlah kalian! Lalu mereka berjatuhan di neraka jahannam. Lantas orang-orang Nashara diseru, Apa yang kalian dahulu sembah? Mereka menjawab,
Kami dahulu menyembah Isa al Masih, anak Anak Allah. Mereka dijawab, Kamu semua bohong! Allah sama sekali tidak mempunyai isteri atau bahkan anak, dan apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab,
Kami ingin agar Engkau memberi kami minuman! Lalu dijawab, Minumlah kalian! Dan langsung mereka berjatuhan di neraka jahannam hingga tersisa manusia yang menyembah Allah, entah yang baik atau berbuat durhaka. Mereka ditanya, Apa yang menyebabkan kalian tertahan padahal manusia lainnya sudah pergi?Mereka menjawab,
Kami memisahkan diri dari mereka dan kami adalah manusia yang paling membutuhkan-Nya, kami dengar ada seorang juru seru menyerukan diri, Hendaklah setiap kaum menemui yang mereka sembah! Hanyasanya kami menunggu-nunggu Tuhan kami. Beliau melanjutkan, Lantas Allah (Al jabbar) mendatangi mereka dengan bentuk yang belum pernah mereka lihat pertama kali, lalu Allah firmankan: 'Akulah Tuhan kalian.' Mereka menjawab,
'Engkau adalah rabb kami, dan tidak ada yang berani mengajak-Nya bicara selain para nabi shallallahu alaihi wasallam, lantas para nabi berkata,
'Bukankah di antara kalian dan Allah ada tanda yang kalian mengenalnya? ' Mereka menjawab,
'Ya, yaitu betis, ' maka Allah pun menyingkap betis-Nya sehingga setiap mukmin bersujud kepada-Nya. Lalu tersisalah orang-orang yang sujud kepada Allah karena riya dan sum'ah sehingga ia pergi sujud dan punggungnya kembali menjadi satu bagian, kemudian titian (jembatan) jahannam didatangkan dan dipasang antara dua tepi jahannam, kami bertanya,
'Wahai Rasulullah, memang jembatan jahannam tersebut misterinya apa? ' Nabi menjawab:
'Jembatan itu bisa menggelincirkan, menjatuhkan, ada pengait-pengait besi, ada duri-duri yang lebar dan tajam, durinya besok yang terbuat dari kayu berduri namanya Sa'dan (kayu berduri tajam). Orang mukmin yang melewatinya sedemikian cepat, ada yang bagaikan kedipan mata, ada yang bagaikan kilat, ada yang bagaikan angin, dan ada yang bagaikan kuda pilihan. Ada yang bagaikan kuda tunggangan, ada yang selamat dengan betul-betul terselamatkan, namun ada juga yang selamat setelah tercabik-cabik oleh besi-besi pengait itu, atau terlempar karenanya di neraka jahannam, hingga manusia terakhir kali melewati dengan diseret seret, dan kalian tidak bisa sedemikian gigihnya menyumpahiku terhadap kebenaran yang jelas bagi kalian daripada terhadap seorang mukmin ketika itu kepada Allah Al Jabbar. Jika mereka melihat bahwasanya mereka telah selamat di kalangan teman-teman mereka, mereka berkata,
'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kawan-kawan kami mendirikn shalat bersama kami dan berpuasa bersama kami, dan beramal bersama kami! ' Allah Ta'ala berfirman, 'Pergilah kalian, siapa diantara kalian dapatkan dalam hatinya masih ada seberat dinar keimanan, maka keluarkanlah dia', dan Allah mengharamkan bentuk mereka dalam neraka. Maka mereka datangi kawan-kawan mereka sedang sebagian mereka telah terendam dalam neraka ada yang sampai telapak kakinya, setengah betisnya, sehingga mereka keluarkan siapa saja yang mereka, kemudian mereka kembali dan Allah berkata,
'Pergilah kalian sekali lagi, dan siapa yang kalian temukan dalam hatinya seberat atom keimanan, maka keluarkanlah dia.' Maka mereka keluarkan siapa saja yang mereka kenal. Rasulullah berkata:
'Jika kalian tidak mempercayaiku, maka bacalah: '(Allah tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika ada kebaikan, maka Allah melipatgandakan balasannya) ' (Qs. An nisaa': 40), maka para nabi shallallahu 'alaihi wasallam, malaikat dan orang-orang yang beriman, kesemuanya memberi syafaat. Kemudian Allah Al Jabbar berkata,
syafaat-Ku masih ada. Lantas Allah menggenggam segenggam dari neraka dan mengentaskan beberapa kaum yang mereka telah terbakar, lantas mereka dilempar ke sebuah sungai di pintu surga yang namanya 'Sungai kehidupan' sehingga mereka tumbuh dalam kedua tepinya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam genangan sungai yang kalian sering melihatnya di samping batu karang dan samping pohon, apa yang diantaranya condong kepada matahari, maka berwarna hijau, dan apa yang diantaranya condong kepada bayangan, maka berwarna putih, lantas mereka muncul seolah-olah mutiara dan dalam tengkuk mereka terdapat cincin-cincin. Mereka kemudian masuk surga hingga penghuni surga berkata,
'Mereka adalah 'utaqa' Ar Rahman (orang-orang yang dibebaskan Arrahman), Allah memasukkan mereka bukan karena amal yang mereka lakukan, dan bukan pula karena kebaikan yang mereka persembahkan sehingga mereka memperoleh jawaban 'Bagimu yang kau lihat dan semisalnya'.Hajjaj bin Minhal berkata,
telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anasradliyallahu'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
'Pada hari kiamat nanti orang-orang mukmin ditahan hingga yang demikian menjadikan mereka sedih. Mereka katakan, 'Duh, sekiranya kita meminta syafaat kepada Tuhan kami sehingga Dia menjadikan kita merasa nyaman dari tempat kita ini.' Mereka pun mendatangi Adam dan berkata,
'Engkau hai Adam, Engkau adalah nenek moyang seluruh manusia, Allah menciptamu dengan tangan-Nya, menjadikan surga sebagai tempat hunianmu dan menjadikan malaikat bertunduk sujud kepadamu, Allah juga mengajarimu nama-nama segala sesuatu agar engkau bisa memberi syafaat kepada kami disisi Tuhanmu sehingga engkau bisa memberi kenyamanan di tempat kami ini. Namun Adam hanya menjawab,
'Disini saya tak berhak memberi syafaat untuk kalian'. Rasulullah melanjutkan:Lantas Adam mengingatkan kesalahan yang pernah dilakukannya, yaitu memakan pohon larangan padahal telah dilarang, dan ia katakan 'Coba kalian datangi Nuh, sebab ia adalah nabi shallallahu 'alaihi wasallam pertama-tama yang Allah utus kepada penduduk bumi.' Mereka pun mendatangi Nuh, namun Nuh juga menjawab,
'Maaf, disini saya tak berhak memberi syafaat untuk kalian', dan Nuh menyebutkan kesalahan yang pernah dilakukannya, yaitu bertanya kepada Rabbnya dengan tanpa ilmu sambil ia katakan, 'Cobalah kalian datangi Ibrahim, sebab ia adalah Khalilurrahman (kekasih Arrahman). Rasulullah melanjutkan lagi kisahnya: Mereka pun mendatangi Ibrahim, hanya Ibrahim juga menjawab,
'Maaf, disini saya tak berhak memberi syafaat untuk kalian', Ibrahim lantas menyebutkan kesalahannya, yaitu tiga kebohongan yang pernah dilakukannya sambil berkata,
'Cobalah kalian datangi Musa, seorang hamba yang Allah memberinya taurat, mengajaknya bicara dan mendekatkannya kepada-Nya sedekat-dekatnya'. Rasulullah lanjutkan: Mereka pun mendatangi Musa, hanya Musa juga menjawab,
'Maaf, disini saya tak berhak memberi syafaat untuk kalian', sambil Musa mengingatkan kesalahan yang pernah dilakukannya, yaitu membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, sambil ia katakan, 'Coba kalian datangi Isa, seorang hamba Allah dan rasul-Nya, ruh Allah dan kalimah-Nya. Merekapun mendatangi Isa, namun 'Isa juga menjawab,
'Maaf, disini saya tak berhak memberi syafaat untuk kalian', sambil ia katakan 'Cobalah kalian datangi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam, seorang hamba yang Allah telah mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang.' Lantas mereka mendatangi aku (Muhammad) dan aku meminta ijin Tuhanku di rumah-Nya dan aku diijinkan menemui-Nya, jika aku melihat-Nya, maka aku tersungkur sujud, Allah lalu membiarkan aku sekehendak Dia membiarkaku. Allah lantas berkata,
'Angkat kepalamu hai Muhammad, katakanlah, engkau didengar, mintailah syafaat, engkau diberi syafaat, mintalah, engkau diberi.' Aku lalu angkat kepalaku dan aku memuji Tuhanku dengan pujian yang Ia ajarkannya kepadaku, kemudian aku memberi syafaat dan Dia memberiku batasan. Kemudian aku keluar dan memasukkan mereka ke dalam surga. Qatadah berkata,
Dan aku juga mendengarnya menyebutkan, Aku lalu keluar, kemudian aku keluarkan mereka dari neraka dan kumasukkan ke dalam surga. Setelah itu aku kembali untuk kali kedua dan aku meminta ijin Tuhanku di rumah-Nya dan aku diijinkan untuk menemui-Nya, jika aku melihat-Nya, maka aku tersungkur sujud. Allah lantas membiarkanku sekehendak Allah membiarkan, kemudian Allah berkata,
'Angkatlah kepalamu hai Muhammad dan katakanlah engkau akan didengar, dan berilah syafaat engkau akan diberi syafaat, dan mintalah engkau akan diberi.' Aku lalu angkat kepalaku dan memanjatkan pujian dan pujaan terhadap tuhanku sebagaimana yang diajakrkan-Nya kepadaku. Kemudian aku memberi syafaat, dan Ia memberiku batasan sehingga aku keluar dan aku masukkan mereka ke dalam surga. Qatadah berkata,
Dan aku mendengarnya menyebutkan, Dan aku berangkat sehingga aku keluarkan mereka dari neraka, lalu mereka aku masukkan ke dalam surga. Qatadah berkata,
Dan aku mendengarnya menyebutkan, 'Maka aku berangkat dan aku keluarkan mereka dari neraka, untuk kemudian aku masukkan mereka ke dalam surga, hingga tidak tersisa dalam neraka selain yang digi ditahan oleh alquran, atau maksudnya ia wajib abadi, kemudian beliau membaca ayat ini '(semoga Tuhanmu membangkitkankmu di tempat yang terpuji) ' (Qs. Al Isra': 79). Nabi mengatakan, Inilah maqam terpuji yang dijanjikan untuk nabi shallallahu alaihi wasallam kalian.

Shahih Bukhari, Kitab Tauhid - Nomor Hadits: 6886

Kata Pilihan Dalam Surah Al Israa (17) Ayat 79

NAAFILAH
نَافِلَة

Lafaz naafilah mempunyai banyak arti yaitu:
(1). Tambahan anugerah dan kebaikan;
(2). Bertambahnya tingkatan, derajat dan kesempurnaan;
(3). Sunah dalam ibadah, sehingga ia menjadi tambahan bagi ibadah-ibadah wajib;
(4). Cucu karena dia adalah tambahan atas anak yang sudah dimiliki.

Di dalam Al Qur'an, lafaz naafilah diulang dua kali yaitu dalam surah:
-Al Israa (17), ayat 79;
-Al Anbiyaa (21), ayat 72.

Dalam surah Al Israa (17), ayat 79 dijelaskan, shalat malam (shalat Tahajud) adalah naafilah bagi Rasulullah. Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan lafaz naafilah ini. Diantara mereka ada yang mengatakan maksudnya adalah shalat Tahajud bagi nabi adalah tambahan bagi ibadah fardu, sehingga ia menjadi shalat fardu bagi beliau, bukan untuk umatnya.

Adapula yang berpendapat yang dimaksudkan dengan naafilah dalam ayat ini adalah bertambah kesempurnaan dan kemuliaan. Hal ini karena dosa-dosa nabi, baik yang terdahulu maupun yang akan datang sudah terhapus, sehingga apabila Nabi Muhammad melakukan shalat Tahajud, ia akan menambahkan kesempurnaan dan kemuliaan beliau. Ada pula yang mengertikan naafilah dengan sunat, tambahan bagi shalat wajib sehingga shalat Tahajjud adalah sunat bagi rasul dan juga bagi umatnya.

Sedangan dalam surah Al Anbiyaa (21), ayat 72 menerangkan tentang berbagai anugerah yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim. Diantara anugerah itu adalah beliau dikaruniai keturunan yang shaleh yaitu Nabi Ishak dan Nabi Ya'qub. Mereka berdua dianggap sebagai tambahan anugerah dan pemberian naafilah dari Allah. Sebahagian ahli tafsir ada yang mengaitkan lafaz naafilah hanya kepada Nabi Ya'qub saja sehingga arti naafilah di situ adalah Nabi Ibrahim juga dianugerahkan cucu, yaitu Nabi Ya'qub (putera dari Nabi Ishak) yang juga shaleh. Hal ini karena Nabi Ibrahim asalnya hanya meminta anak yang shaleh saja, namun Allah menganugerahkannya juga dengan cucu yang shaleh dan cucu itu adalah tambahan anugerah (naafilah).

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:586-587

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

QS 17 Al-Isra (78-79) - Indonesian - La Ode Reynaldo
QS 17 Al-Isra (78-79) - Arabic - La Ode Reynaldo


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 79 *beta

Surah Al Israa Ayat 79



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (15 votes)
Sending







✔ al isra ayat 79, al isro 79, quran surat al isra ayat 79, surat 17 ayat ke 79-81, Surat al isra ayat 79

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku