Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 6


ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا
Tsumma radadnaa lakumul karrata ‘alaihim wa-amdadnaakum biamwaalin wabaniina waja’alnaakum aktsara nafiiran;

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.
―QS. 17:6
Topik ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
17:6, 17 6, 17-6, Al Israa 6, AlIsraa 6, Al Isra 6, Al-Isra’ 6
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Dia memberikan giliran bagi orang-orang Bani Israil untuk berkuasa kembali, muka sesudah Cyrus Kisra Persia yang pertama dari keluarga Sasan dapat mengalahkan Babilonia, dia memerdekakan para tawanan dari Bani Israil yang berada di Babilonia itu, dan mengirimkan mereka kembali ke Palestina yaitu tahun 536 SM sehingga orang-orang Bani Israil itu menguasai negerinya kembali, memegang kekuasaan dan mendirikan kembali Masjidilaksa.
Karunia Allah itu diberikan kepada Bani Israil pada saat mereka telah tobat dan kembali mematuhi ajaran Taurat serta menginsafi kecerobohan yang telah mereka lakukan, sehingga mereka dapat membangun kembali negerinya dan dapat menyelamatkan keluarga dan harta benda mereka.

Dengan demikian mereka kembali menjadi bangsa yang merdeka serta dapat mengembalikan negerinya dan menjadi bangsa yang kuat yang bersatu dalam satu negara saja seperti sediakala yakni sebelum terpecah menjadi dua yang mereka namai kerajaan Yahudi.
Hal itu adalah karena ampunan dan rahmat Allah semata.

Dengan demikian jelaslah, selama manusia itu berada di bawah bimbingan wahyu dan berjalan di bawah pancaran Nya, tentulah mereka akan dapat merasakan nikmat Allah, yang disediakan di alam dunia ini, dan dapat merasakan pula kebahagiaan di dalam dirinya akibat dari nikmat tersebut berupa ketenteraman hidup, ataupun kemakmuran negerinya.

Tetapi apabila manusia itu menyimpang dari tuntunan wahyu dan lebih menyenangi kehendak hawa nafsu, tentulah mereka akan mengalami nasib yang buruk.
Mereka tidak lagi merasakan nikmat yang disediakan Allah di alam dunia ini, bahkan nikmat-nikmat Allah itu akan berubah menjadi bencana.
Mereka itu tidak akan mengalami kebahagiaan dan kemakmuran di dalam hidup bermasyarakat, bahkan sebaliknya, mereka akan menjadi tertindas dan terusir dari negeri mereka.

Al Israa (17) ayat 6 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 6 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 6 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian setelah benar jalan kalian dan kalian mendapatkan petunjuk, menjalin kekuatan dan meninggalkan kerusakan, Kami kembalikan kemenangan kepada kalian atas mereka yang telah dikirim kepada kalian.
Kami anugerahkan kepada kalian harta dan anak-anak.
Dan kami jadikan jumlah kalian lebih besar dari sebelumnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian Kami berikan kepada kalian giliran) kesempatan dan kemenangan (untuk mengalahkan mereka kembali) sesudah selang seratus tahun yang terakhir dengan terbunuhnya Jalut (dan Kami membantu kalian dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar) keluarga yang besar.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian Kami kembalikan untuk kalian, wahai Bani Israil, kemenangan atas musuh yang telah dikuasakan terhadap kalian.
Kami perbanyak rizki dan anak-anak kalian, Kami kuatkan kalian, dan Kami jadikan kalian lebih banyak jumlahnya daripada jumlah musuh kalian.
Hal itu disebabkan kalian berbuat kebajikan dan tunduk kepada Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Kemudian Kami berikan kepada kalian giliran untuk mengalah­kan mereka., hingga akhir ayat.

Telah diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair bahwa orang yang dimaksud adalah Raja Sanjarib dan bala tentaranya.

Diriwayatkan pula dari Sa'id ibnu Jubair, dan dari selainnya, bahwa orang yang dimaksud adalah Bukhtanasar, Raja negeri Babilonia.

Sehubungan dengan hal ini Ibnu Abu Hatim telah menuturkan kisah yang aneh dari Sa'id ibnu Jubair tentang fase-fase peningkatan yang dialami oleh Bukhtanasar dari suatu tingkatan ke tingkatan lain yang lebih tinggi, hingga berhasil menempati kedudukan raja.
Asalnya Bukhtanasar adalah seorang yang miskin, pengangguran lagi lemah ekonominya, kerjanya hanya meminta-minta kepada orang lain untuk mendapatkan sesuap nasi.
Kemudian setapak demi setapak keadaannya meningkat, hingga sampailah ia pada kedudukan yang tinggi dan berhasil menjadi raja.
Setelah menjadi raja, ia berjalan bersama pasuk­annya menyerang negeri-negeri yang ada di sekitar Baitul Maqdis dan membunuh banyak manusia dari kalangan Bani Israil yang mendiaminya.

Ibnu Jarir dalam bab ini telah meriwayatkan sebuah kisah yang ia sandarkan kepada Huzaifah secara marfu'.
Kisahnya cukup panjang, tetapi kisah ini dikategorikan sebagai hadis maudu' yang tidak diragukan lagi ke-maudu '-annya.
Tidaklah pantas bila hadis seperti ini diketengah­kan oleh seorang yang berpengetahuan minim, sekalipun dalam riwayat hadis.
Terlebih lagi bila hadis ini diriwayatkan oleh seorang yang berkedu­dukan tinggi dan berpredikat sebagai imam seperti Ibnu Jarir.

Guru kami — Al-Hafiz Al-Allamah Abul Hajjaj Al-Mazi — telah mengatakan bahwa hadis tersebut berpredikat maudu' (dibuat-buat) dan mak'zub (dusta).
Predikat ini dicatatkan olehnya dalam catatan kaki dari kitabnya.

Sehubungan dengan hal ini banyak kisah israiliyat yang menceritakan­nya.
Menurut kami tidak ada gunanya diketengahkan dalam kitab tafsir ini, mengingat sebagian di antaranya ada yang maudu' buatan orang-orang kafir zindiq dari kalangan Bani Israil, dan sebagian lainnya ada ke­mungkinan berpredikat sahih.
Akan tetapi, kita tidak memerlukannya lagi.

Apa yang telah dikisahkan kepada kita oleh Allah di dalam kitab Al-Qur'an sudah cukup tanpa memerlukan informasi dari kitab-kitab lain yang sebelumnya.
Allah dan Rasul-Nya telah membuat kita tidak memer­lukan berita dari mereka.
Allah subhanahu wa ta'ala.
telah menceritakan tentang keadaan mereka, bahwa ketika mereka berlaku melampaui batas dan sewenang-wenang, Allah menguasakan diri mereka kepada musuh-musuh mereka yang menghalalkan kehormatannya dan merajalela di kampung-kampung serta rumah-rumah mereka, juga menindas dan menghinakan mereka.
Hal itu dilakukan oleh Allah atas mereka sebagai pembalasan yang setimpal dari perbuatan mereka sendiri — Allah sekali-kali tidak pernah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya — karena sesungguhnya sebelum itu mereka telah berbuat sewenang-wenang dan membunuh banyak orang dari kalangan nabi-nabi dan para ulama.

Ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Bilal, dari Yahya ibnu Sa'id yang mengatakan, ia pernah mendengar Sa'id ibnul Musayyab bercerita bahwa Bukhtanasar menguasai negeri Syam dan merusak Baitul Maqdis serta membunuh para penghuninya.
Kemudian Bukhtanasar datang ke Damaskus.
Di Damaskus itu ia menjumpai darah yang mendidih di atas buih air.
Kemudian raja Bukhtanasar menanyakan kepada penduduk kota itu tentang darah tersebut, "Darah apakah ini?"
Mereka menjawab, "Kami telah menjumpainya dalam keadaan seperti ini sejak bapak-bapak kami dahulu." Setiap kali Bukhtanasar memasuki kota itu, ia melihat darah itu mendidih.
Maka Bukhtanasar melakukan pembantaian atas darah itu yang memakan korban sebanyak tujuh puluh ribu orang dari kalangan orang-orang muslim dan lain-lainnya.
Setelah itu barulah darah tersebut tenang, tidak mendidih lagi.

Kisah ini sahih sampai kepada Sa'id ibnul Musayyab dan kisah inilah yang terkenal, yaitu yang menyebutkan bahwa Bukhtanasar telah membu­nuh orang-orang terpandang dan para ulamanya sehingga tiada seorang pun yang dibiarkan hidup dari kalangan mereka yang menghafal kitab Taurat.
Selain dari itu Bukhtanasar menahan anak-anak para nabi dan lain-lainnya, kemudian terjadilah banyak peristiwa dan kejadian yang sangat panjang bila disebutkan.
Seandainya kami menjumpai hal yang sahih atau yang mendekati kesahihan, tentulah diperbolehkan mencatat dan meriwayatkannya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Israa (17) Ayat 6

AMWAAL
أَمْوَٰل

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah mal yang berarti apa yang dimiliki dari segala barangan. Menurut Arab Badwi mencakup hewan ternak seperti unta dan kambing.

Dalam Kamus Al Mu'jam Al Wasit dijelaskan, ia bermakna setiap apa yang dimiliki individu atau kumpulan berupa harta benda, perniagaan, uang, atau harta benda yang tidak bergerak seperti perabot rumah, tanah, rumah dan sebagainya.

Lafaz mal digunakan bagi mudzakkar dan mu'annats sehingga dapat dikatakan huwal mal dan hiyaal mal ia (L) harta dan ia (P) harta. Dikatakan rajul maal artinya dzuu maal (lelaki yang banyak harta).

Lafaz ini disebut 61 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 155, 188, 188, 261, 262, 265, 274, 279;
-Ali Imran (3), ayat 10, 116, 186;
-An Nisaa (4), ayat 2, 2, 2, 5, 6, 6, 10, 24, 29, 34, 38, 95, 95, 161;
-Al Anfaal (8), ayat 28, 36, 72;
-At Taubah (9), ayat 20, 24, 34, 41, 44, 55, 69, 81, 85, 88, 103, 111;
-Yunus (10), ayat 88;
-Hud (11), ayat 87;
-Al Israa (17), ayat 6, 64;
-Ar Rum (30), ayat 39;
-Al Ahzab (33), ayat 27;
-Saba (34), ayat 35, 37;
-Muhammad (47), ayat 36;
-Al Fath (48), ayat 11;
-Al Hujurat (49), ayat 15;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 19;
-Al Hadid (57), ayat 20;
-Al Mujaadalah (58), ayat 17;
-Al Hasyr (59), ayat 8;
-Ash Shaff (61), ayat 11;
-Al Munaafiquun (63), ayat 9;
-At ­Taghaabun (64), ayat 15;
-Al Ma'aarij (70), ayat 24
-Nuh (71), ayat 12.

Az Zamakhsyari berpendapat, amwaal mencakup harta yang bisa dikeluarkan zakatnya atau dikeluarkan darinya sedekah.

Dalam Kamus Al Mu'jam Al Wasit menyebutkan, maksud amwaal ialah apa yang engkau miliki dari segala sesuatu.

Dalam Kamus Dewan dijelaskan, harta ialah barang-barang berharga seperti rumah, tanah, barang-barang kemas dan sebagainya yang dimiliki oleh seseorang, syarikat atau pertubuhan dan harta benda bermaksud barang-barang kepunyaan atau berbagai barang yang berharga sebagai kekayaan.

Ibn Al Atsir berkata,
"Al-mal pada asalnya adalah apa yang dimiliki berupa harta, perak kemudian disandarkan ke atas setiap sesuatu yang diperoleh dan dimiliki dari harta benda. Menurut orang Arab, lafaz mal lebih banyak disandarkan ke atas unta karena ia adalah harta yang paling banyak mereka miliki."

Kesimpulannya, amwaal bermaksud harta benda yang dimiliki oleh seseorang dari emas, perak dan sebagainya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:50

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 6 *beta

Surah Al Israa Ayat 6



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (12 votes)
Sending