QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 57 [QS. 17:57]

اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ یَبۡتَغُوۡنَ اِلٰی رَبِّہِمُ الۡوَسِیۡلَۃَ اَیُّہُمۡ اَقۡرَبُ وَ یَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَہٗ وَ یَخَافُوۡنَ عَذَابَہٗ ؕ اِنَّ عَذَابَ رَبِّکَ کَانَ مَحۡذُوۡرًا
Uula-ikal-ladziina yad’uuna yabtaghuuna ila rabbihimul wasiilata ai-yuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahdzuuran;

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
―QS. 17:57
Topik ▪ Sikap orang Nasrani terhadap nabi Isa as.
17:57, 17 57, 17-57, Al Israa 57, AlIsraa 57, Al Isra 57, Al-Isra’ 57

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 57

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 57. Oleh Kementrian Agama RI

Di atas telah disebutkan bahwa kaum musyrikin menyembah para malaikat, jin, Nabi Isa dan ‘Uzair.
Mereka menganggapnya sebagai tuhan yang dapat menghilangkan bahaya dan kemudaratan mereka, maka Allah menyebutkan bahwa orang itu sendiri sebenarnya mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada Nya.
Jalan itu tidak lain, ialah taat kepada Nya.
Taat kepada Allah itulah yang menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Imam At Tirmizi dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, ia berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda: “Mohonkanlah wasilah untukku kepada Allah” Mereka bertanya: “Apakah wasilah itu?
Nabi pun berkata: “Mendekatkan diri kepada Allah”.
Kemudian Nabi membaca ayat ini”.

Lebih lanjut Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dekat sekalipun di antara para malaikat, jin, Nabi Isa dan `Uzair itu kepada Allah tetap mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada Nya, dengan menaati dan menghambakan diri kepada Nya.
Oleh karena itu, adakah layak mereka di sembah?
Kenapa kamu tidak langsung saja menyembah Allah?.

Pada bagian akhir ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa sesungguhnya azab Tuhan, suatu yang (harus) ditakuti oleh siapapun juga, oleh para Malaikat, oleh para Rasul-rasul dan Nabi-nabi Nya, dan oleh manusia seluruhnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Makhluk yang dimintai pertolongan oleh orang-orang yang menyembahnya itu sebenarnya juga menyembah Allah.
Mereka juga meminta kedudukan yang tinggi di sisi Allah dengan selalu taat kepada-Nya.
Masing-masing dari mereka berusaha keras untuk lebih dekat kepada Allah, merindukan kasih sayang-Nya dan sangat takut akan siksa-Nya.
Sesungguhnya siksa Allah patut diwaspadai dan ditakuti.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang yang mereka seru itu) sebagai tuhan-tuhan sesembahan mereka (mereka sendiri mencari)-cari (jalan kepada Rabb mereka) dengan mendekatkan diri melalui ketaatan kepada-Nya (siapakah di antara mereka) lafal ini menjadi badal daripada wawu yang terdapat dalam lafal yabtaghuuna, artinya mencari jalan itu (yang lebih dekat) kepada Allah, maka mengapa mencarinya kepada selain-Nya (dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya) sama dengan orang-orang selain mereka, maka mengapa kalian menganggap mereka sebagai tuhan-tuhan.

(Sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang harus ditakuti).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang diseru orang-orang musyrik, yaitu nabi-nabi, orang-orang shalih dan malaikat, di samping Allah, mereka sendiri berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Rabb mereka dengan amal-amal shalih yang mereka sanggupi, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap adzab-Nya.
Sesungguhnya adzab Rabbmu adalah sesuatu yang harus diwaspadai dan ditakuti oleh para hamba.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Al-Aufi telah meriwayatkan dari ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Katakanlah, “panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan).”, hingga akhir ayat.
Bahwa dahulu orang-orang musyrik mengatakan, “Kami akan menyembah malaikat, Al-Masih, dan Uzair.” Merekalah yang dimaksud dalam ayat ini, yaitu para malaikat, Isa, dan Uzair! Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Orang-orang yang mereka seru itu., hingga akhir ayat.

Imam Bukhari telah meriwayatkan melalui hadis Sulaiman ibnu Mahran Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma’mar, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya:

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.

Bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah sejumlah makhluk jin yang disembah oleh orang-orang kafir, lalu jin itu masuk Islam.

Menurut riwayat lain, dahulu ada segolongan manusia menyembah segolongan makhluk jin, kemudian jin itu masuk Islam, sedangkan manusia yang menyembahnya tetap berpegang pada keyakinannya.

Qatadah telah meriwayatkan dari Ma’bad ibnu Abdullah Ar-Rumma-ni, dari Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Ibnu Mas’ud sehubungan dengan firman-Nya:

Orang-orang yang mereka seru itu., hingga akhir ayat.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Arab yang menyembah sejumlah makhluk jin, lalu jin-jin itu masuk Islam bersa­maan dengan sejumlah manusia, sedangkan orang-orang yang tadinya menyembah jin-jin itu tidak mengetahui bahwa yang mereka sembah telah masuk Islam.
Lalu turunlah ayat ini.

Menurut riwayat lain dari Ibnu Mas’ud, mereka menyembah sego­longan malaikat yang disebut jin, hingga akhir riwayat.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehu­bungan dengan Firman-Nya:

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).Bahwa yang dimaksud ialah Isa, ibunya, dan Uzair.

Mugirah telah meriwayatkan dari Ibrahim bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan mereka adalah Isa, Uzair, matahari, dan bulan.

Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan mereka ialah Isa, Uzair, dan malaikat.

Ibnu Jarir memilih pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud karena berdasarkan kepada firman-Nya yang mengatakan:

…mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.
Apa yang diungkapkan oleh ayat ini tidak menyangkut masa lampau, karena itu tidak termasuk ke dalam pengertiannya Isa dan Uzair serta malaikat.

Selanjutnya Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-wasilah ialah qurbah jalan untuk mendekatkan diri, sama dengan apa yang dikatakan oleh Qatadah.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

…siapa di antara mereka yang lebih dekat.
(Q.S. Al Israa [17]: 57)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.

Ibadah tidak sempurna melainkan bila dibarengi dengan rasa takut dan harap.
Dengan rasa takut, tercegahlah diri orang yang bersangkutan dari mengerjakan hal-hal yang dilarang.
Dan dengan rasa harap, orang yang bersangkutan bertambah rajin mengerjakan amal-amal ketaatan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

Maksudnya, azab Allah harus dihindari dan ditakuti, agar tidak terkena olehnya.


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Israa (17) ayat 57
Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Asy Sya’ir telah menceritakan kepada kami Abdushshamad bin Abdulwarits telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Husain dari Qatadahdari Abdullah bin Ma’bad Az Zimani dari Abdullah bin Utbah dari Abdullah bin Mas’ud: Mereka itulah orang-orang yang selalu berdoa dan mencari kepada Rabb mereka wasilah. (Al Israa: 57) Ia berkata:
Turun berkenaan dengan segolongan orang arab, mereka menyembah sekelompok jin lalu para jin itu masuk Islam sementara orang-orangnya tetap menyembah mereka tanpa mereka sadari. Kemudian turun ayat: Mereka itulah orang-orang yang selalu berdoa dan mencari kepada Rabb mereka wasilah. (Al Israa: 57)

Shahih Muslim, Kitab Tafsir – Nomor Hadits: 5538

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 57 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 57 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 57 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 17:57
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.7
Ratingmu: 4.7 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al isra 57

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!