Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 48


اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا
Anzhur kaifa dharabuu lakal amtsaala fadhalluu falaa yastathii’uuna sabiilaa;

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).
―QS. 17:48
Topik ▪ Faedah kurma bagi wanita bersalin
17:48, 17 48, 17-48, Al Israa 48, AlIsraa 48, Al Isra 48, Al-Isra’ 48
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 48. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasulullah, agar memperhatikan bagaimana kaum musyrikin itu membuat perumpamaan terhadapnya, seperti perkataan mereka bahwa Muhammad itu gila, penyair, kena sihir dan sebagainya sebagai disebutkan di atas.
Oleh karena itulah maka mereka itu telah menjadi sesat, dan tidak akan mendapat petunjuk, karena mereka telah terlalu menyimpang dari jalan yang benar.
Perumpamaan-perumpamaan yang diberikan oleh orang-orang musyrikin Mekah kepada Nabi Muhammad ﷺ ketika mendengarkan Rasulullah membacakan Alquran, adalah pernyataan yang lahir dari sikap mental mereka terhadap wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Mereka itu sebenarnya tidak mau mengakui kebenaran wahyu yang dibacakan Rasulullah, karena wahyu itu membawakan keterangan-keterangan yang bertentangan dengan kepercayaan yang mereka pusakai secara membabi buta dari nenek moyang mereka.
Oleh sebab itu maka mereka tidak dapat diharapkan lagi untuk mendapat lain petunjuk dan bimbingan dari wahyu itu, karena hati mereka telah diselubungi oleh noda-noda kemusyrikan yang luar biasa.

Al Israa (17) ayat 48 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 48 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 48 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu.
Mereka mengumpamakan dirimu sebagai orang yang tersihir, seorang dukun dan penyair.
Dengan begitu mereka keluar dari tatacara berargumentasi yang benar sehingga mereka tidak menemukan jalan agar tuduhan mereka terhadapmu dapat diterima.
Atau karena mereka memang lebih mengutamakan jalan itu daripada jalan petunjuk sehingga tidak menemukannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadap dirimu) yaitu dengan menuduhmu sebagai orang yang terkena sihir, juru peramal, dan seorang penyair (karena itu mereka menjadi sesat) dari jalan hidayah (dan tidak dapat lagi menemukan jalan) yang benar untuk mencapai hidayah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Renungkanlah, wahai Rasul, karena herean dengan perkataan mereka :
Sesungguhnya Muhammad adalah penyihir dan penyair gila!! Lalu mereka berbuat zhalim dan menyimpang, serta tidak tertunjukkan kepada jalan kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala memberitahukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dibisik-bisikkan oleh pemimpin orang-orang kafir Quraisy di antara sesamanya ketika mereka datang mendengarkan apa yang dibacakan oleh Nabi ﷺ secara sembunyi-sembunyi melalui kaum mereka.
Mereka mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah seorang laki-laki yang kena sihir.
Demikianlah menurut pendapat yang terkenal yang mengatakan bahwa kata mas-hur adalah bentuk isim maf'ul dari as-sihr yang artinya terkena sihir.
Atau dapat dikatakan bahwa ia berasal dari as-sahar yang artinya paru-paru.
Dengan kata lain, tiadalah yang kalian ikuti melainkan seorang manusia yang memakan makanan.

Dikatakan yus-haru bit ta'ami wasy'syarabi artinya diberi makan dan minum.
Pendapat ini dinilai benar oleh Ibnu Jarir.
Tetapi masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, karena sesungguhnya orang-orang kafir itu dalam kalimatnya ini bermaksud bahwa Nabi ﷺ adalah seorang yang kena sihir yang memiliki jin.
Jin itu selalu datang kepadanya menyam­paikan kalam yang telah didengarnya, kemudian Nabi ﷺ membacanya.

Di antara orang-orang kafir ada yang menuduhnya (Nabi ﷺ) sebagai seorang penyair, ada yang menuduhnya seorang tukang tenung, ada yang menuduhnya seorang yang gila, dan ada yang menuduhnya seorang yang ahli sihir.
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).

Yakni mereka tidak dapat memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan tidak dapat menemukan jalan keluar dari kesesatannya.

Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab As-Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim ibnu Syihab Az-Zuhri, ia pernah menceritakan suatu kisah bahwa Abu Sufyan ibnu Harb dan Abu Jahal ibnu Hisyam serta Al-Akhnas ibnu Syuraiq ibnu Amr ibnu Wahb As-Saqafi (teman sefakta Bani Zuhrah) keluar di suatu malam dengan tujuan untuk mendengar apa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ dalam salatnya di malam hari di dalam rumahnya.
Kemudian masing-masing orang dari mereka mengambil posisinya masing-masing untuk mencuri dengar dari tempat (posisi)nya, masing-masing dari mereka tidak mengetahui tempat temannya.
Maka semalaman penuh mereka mendengarkan apa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ Setelah fajar terbit, mereka bubar.' Dan ketika mereka bertemu di tengah perjalan pulangnya, mereka saling mencela di antara sesamanya.
Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, "Janganlah kalian lakukan lagi, karena kalau ada seseorang dari kalangan awam kalian melihat kalian, maka akan menimbulkan kecurigaan di hatinya terhadap kalian." Setelah itu mereka pulang ke tempatnya masing-masing.
Kemudian pada malam yang kedua, masing-masing dari mereka kembali ke tempat posisinya semula, lalu semalaman mereka mendengarkan bacaan Nabi ﷺ Ketika fajar terbit mereka bubar, dan dalam perjalanan pulangnya mereka bersua, lalu sebagian dari mereka mengatakan hal yang sama seperti kemarin kepada sebagian yang lainnya, kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.
Pada malam yang ketiganya masing-masing orang dari mereka kem­bali ke tempat posisinya semula, lalu semalaman mereka mendengarkan bacaan Nabi ﷺ (dalam salatnya) hingga fajar terbit, kemudian mereka pulang.
Di tengah jalan mereka bersua, maka sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain, "Kita tidak mau meninggalkan tempat ini sebelum ada perjanjian di antara kita, bahwa kita tidak akan kembali lagi melakukan hal ini!" Akhirnya mereka mengadakan perjanjian di antara sesamanya, bahwa mereka tidak akan mengulanginya lagi.
Se­telah itu masing-masing pulang ke rumahnya.
Pada keesokkan harinya Al-Akhnas ibnu Syuraiq mengambil tong­katnya, lalu keluar rumah menuju ke tempat Abu Sufyan ibnu Harb.
Sesampainya di rumah Abu Sufyan, Al-Akhnas berkata kepadanya, "Hai Abu Hanzalah, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?"
Abu Sufyan menjawab, "Hai Abu Salabah, demi Allah, sesungguh­nya saya telah mendengar banyak hal yang saya ketahui, dan saya menge­tahui apa yang dimaksud olehnya dengan perkataannya itu.
Tetapi saya juga telah mendengar banyak hal yang tidak saya ketahui makna dan maksudnya." Al-Akhnas berkata, "Demi yang engkau sebut dalam sumpahmu itu, saya pun mempunyai pemahaman yang sama." Al-Akhnas pergi meninggalkan Abu Sufyan, lalu menuju ke rumah Abu Jahal.
Sesampainya di rumah Abu Jahal, Al-Akhnas bertanya kepa­danya, "Hai Abul Hakam, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?"
Abu Jahal menjawab, "Apa yang saya dengar?"
Abu Jahal melanjutkan perkataannya, "Kami dan Bani Abdu Manaf bersaing untuk merebut kedudukan.
Mereka memberi makan, maka kami memberi makan pula.
Mereka memberikan tunggang­an, maka kami pun memberikan tunggangan pula.
Dan mereka memberi, maka kami pun memberi pula.
Hingga manakala kami sedang sengit-sengitnya berlomba, mereka mengatakan, 'Di antara kami ada seorang nabi yang mendapat wahyu dari langit.' Maka jika kami menjumpai masa­nya, demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya dan tidak memper­cayainya selama-lamanya." Maka Al-Akhnas bangkit meninggalkan Abu Jahal dan pulang ke rumahnya.

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 48 *beta

Surah Al Israa Ayat 48



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (12 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku