Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Tampilkan Lainnya ...

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 48 [QS. 17:48]

اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا فَلَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا
Anzhur kaifa dharabuu lakal amtsaala fadhalluu falaa yastathii’uuna sabiilaa;
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan untukmu (Muhammad);
karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).
―QS. 17:48
Topik ▪ Faedah kurma bagi wanita bersalin
English Translation - Sahih International
Look how they strike for you comparisons;
but they have strayed, so they cannot (find) a way.
―QS. 17:48

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
ٱنظُرْ perhatikanlah

See
كَيْفَ bagaimana

how
ضَرَبُوا۟ mereka membuat

they put forth
لَكَ terhadapmu

for you
ٱلْأَمْثَالَ perumpamaan-perumpamaan

the examples;
فَضَلُّوا۟ maka mereka tersesat

but they have gone astray
فَلَا maka tidak

so not
يَسْتَطِيعُونَ mereka mendapatkan

they can
سَبِيلًا jalan

(find) a way.

 

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 48

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu.
Mereka mengumpamakan dirimu sebagai orang yang tersihir, seorang dukun dan penyair.
Dengan begitu mereka keluar dari tatacara berargumentasi yang benar sehingga mereka tidak menemukan jalan agar tuduhan mereka terhadapmu dapat diterima.
Atau karena mereka memang lebih mengutamakan jalan itu daripada jalan petunjuk sehingga tidak menemukannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadap dirimu) yaitu dengan menuduhmu sebagai orang yang terkena sihir, juru peramal, dan seorang penyair

(karena itu mereka menjadi sesat) dari jalan hidayah

(dan tidak dapat lagi menemukan jalan) yang benar untuk mencapai hidayah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Renungkanlah, wahai Rasul, karena heran dengan perkataan mereka,
“Sesungguhnya Muhammad adalah penyihir dan penyair gila! Lalu mereka berbuat zalim dan menyimpang, serta tidak tertunjukkan kepada jalan kebenaran.”

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dibisik-bisikkan oleh pemimpin orang-orang kafir Quraisy di antara sesamanya ketika mereka datang mendengarkan apa yang dibacakan oleh Nabi ﷺ secara sembunyi-sembunyi melalui kaum mereka.
Mereka mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah seorang laki-laki yang kena sihir.
Demikianlah menurut pendapat yang terkenal yang mengatakan bahwa kata mas-hur adalah bentuk isim maf’ul dari as-sihr yang artinya terkena sihir.
Atau dapat dikatakan bahwa ia berasal dari as-sahar yang artinya paru-paru.
Dengan kata lain, tiadalah yang kalian ikuti melainkan seorang manusia yang memakan makanan.

Dikatakan yus-haru bit ta’ami wasy’syarabi artinya diberi makan dan minum.
Pendapat ini dinilai benar oleh Ibnu Jarir.
Tetapi masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, karena sesungguhnya orang-orang kafir itu dalam kalimatnya ini bermaksud bahwa Nabi ﷺ adalah seorang yang kena sihir yang memiliki <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/jin" class="glossaryLink cmtt_Tokoh" data-cmtooltip="

Jin
Jin (bahasa arab: جن Janna) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi"tersembunyi"atau"tidak terlihat".<BR CLASS="">Bangsa Jin dahulu dikatakan dapat menduduki beberapa tempat dilangit dan mendengarkan berita-berita dari Allah, setelah diutusnya seorang nabi yang bernama Muhammad maka mereka tidak lagi bisa mendengarkannya karena ada barisan yang menjaga rahasia itu.<BR CLASS="">“ …dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).<BR CLASS="">Tetapiㅤ(…)</BR></BR></BR>

” >jin.
<a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/jin" class="glossaryLink cmtt_Tokoh" data-cmtooltip="

Jin
Jin (bahasa arab: جن Janna) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi"tersembunyi"atau"tidak terlihat".<BR CLASS="">Bangsa Jin dahulu dikatakan dapat menduduki beberapa tempat dilangit dan mendengarkan berita-berita dari Allah, setelah diutusnya seorang nabi yang bernama Muhammad maka mereka tidak lagi bisa mendengarkannya karena ada barisan yang menjaga rahasia itu.<BR CLASS="">“ …dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).<BR CLASS="">Tetapiㅤ(…)</BR></BR></BR>

” >Jin itu selalu datang kepadanya menyam­paikan kalam yang telah didengarnya, kemudian Nabi ﷺ membacanya.

Di antara orang-orang kafir ada yang menuduhnya (Nabi ﷺ) sebagai seorang penyair, ada yang menuduhnya seorang tukang tenung, ada yang menuduhnya seorang yang gila, dan ada yang menuduhnya seorang yang ahli sihir.
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).

Yakni mereka tidak dapat memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan tidak dapat menemukan jalan keluar dari kesesatannya.

Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab As-Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim ibnu Syihab Az-Zuhri, ia pernah menceritakan suatu kisah bahwa Abu Sufyan ibnu Harb dan Abu Jahal ibnu Hisyam serta Al-Akhnas ibnu Syuraiq ibnu Amr ibnu Wahb As-Saqafi (teman sefakta Bani Zuhrah) keluar di suatu malam dengan tujuan untuk mendengar apa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ dalam salatnya di malam hari di dalam rumahnya.
Kemudian masing-masing orang dari mereka mengambil posisinya masing-masing untuk mencuri dengar dari tempat (posisi)nya, masing-masing dari mereka tidak mengetahui tempat temannya.
Maka semalaman penuh mereka mendengarkan apa yang dibaca oleh Rasulullah ﷺ Setelah fajar terbit, mereka bubar.’ Dan ketika mereka bertemu di tengah perjalan pulangnya, mereka saling mencela di antara sesamanya.
Sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain,
“Janganlah kalian lakukan lagi, karena kalau ada seseorang dari kalangan awam kalian melihat kalian, maka akan menimbulkan kecurigaan di hatinya terhadap kalian.”
Setelah itu mereka pulang ke tempatnya masing-masing.
Kemudian pada malam yang kedua, masing-masing dari mereka kembali ke tempat posisinya semula, lalu semalaman mereka mendengarkan bacaan Nabi ﷺ Ketika fajar terbit mereka bubar, dan dalam perjalanan pulangnya mereka bersua, lalu sebagian dari mereka mengatakan hal yang sama seperti kemarin kepada sebagian yang lainnya, kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.
Pada malam yang ketiganya masing-masing orang dari mereka kem­bali ke tempat posisinya semula, lalu semalaman mereka mendengarkan bacaan Nabi ﷺ (dalam salatnya) hingga fajar terbit, kemudian mereka pulang.
Di tengah jalan mereka bersua, maka sebagian dari mereka mengatakan kepada sebagian yang lain,
“Kita tidak mau meninggalkan tempat ini sebelum ada perjanjian di antara kita, bahwa kita tidak akan kembali lagi melakukan hal ini!”
Akhirnya mereka mengadakan perjanjian di antara sesamanya, bahwa mereka tidak akan mengulanginya lagi.
Se­telah itu masing-masing pulang ke rumahnya.
Pada keesokkan harinya Al-Akhnas ibnu Syuraiq mengambil tong­katnya, lalu keluar rumah menuju ke tempat Abu Sufyan ibnu Harb.
Sesampainya di rumah Abu Sufyan, Al-Akhnas berkata kepadanya,
“Hai Abu Hanzalah, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?”
Abu Sufyan menjawab,
“Hai Abu Salabah, demi Allah, sesungguhnya saya telah mendengar banyak hal yang saya ketahui, dan saya menge­tahui apa yang dimaksud olehnya dengan perkataannya itu.
Tetapi saya juga telah mendengar banyak hal yang tidak saya ketahui makna dan maksudnya.”
Al-Akhnas berkata,
“Demi yang engkau sebut dalam sumpahmu itu, saya pun mempunyai pemahaman yang sama.”
Al-Akhnas pergi meninggalkan Abu Sufyan, lalu menuju ke rumah Abu Jahal.
Sesampainya di rumah Abu Jahal, Al-Akhnas bertanya kepa­danya,
“Hai Abul Hakam, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?”
Abu Jahal menjawab,
“Apa yang saya dengar?”
Abu Jahal melanjutkan perkataannya,
“Kami dan Bani Abdu Manaf bersaing untuk merebut kedudukan.
Mereka memberi makan, maka kami memberi makan pula.
Mereka memberikan tunggang­an, maka kami pun memberikan tunggangan pula.
Dan mereka memberi, maka kami pun memberi pula.
Hingga manakala kami sedang sengit-sengitnya berlomba, mereka mengatakan, ‘Di antara kami ada seorang nabi yang mendapat wahyu dari langit.’ Maka jika kami menjumpai masa­nya, demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya dan tidak mempercayainya selama-lamanya.”
Maka Al-Akhnas bangkit meninggalkan Abu Jahal dan pulang ke rumahnya.

Qari Internasional

QS. Al-Israa (17) : 48 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. Al-Israa (17) : 48 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. Al-Israa (17) : 48 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 111 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 111 + Terjemahan