Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 43


سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا یَقُوۡلُوۡنَ عُلُوًّا کَبِیۡرًا
Subhaanahu wata’aala ‘ammaa yaquuluuna ‘uluu-wan kabiiran;

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.
―QS. 17:43
Topik ▪ Keutamaan nabi Yahya as.
17:43, 17 43, 17-43, Al Israa 43, AlIsraa 43, Al Isra 43, Al-Isra’ 43
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 43. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan ke Maha Sucian-Nya dan sifat yang diada-adakan oleh kaum musyrikin Mekah.
Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa Dia Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat yang mereka ada-adakan itu yang mereka katakan hanyalah berdasarkan dugaan dan anggapan semata.
Dia itu adalah Allah Yang Maha Esa yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Dan tak ada seseorangpun yang setara dengan Dia.

Di dalam ayat itu terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala itu Maha Sempurna, baik zat atau sifat Nya, dan Maha Suci dari sifat kekurangan, dalam arti yang sebenar-benarnya.

Al Israa (17) ayat 43 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 43 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 43 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mahasuci Allah dengan kesucian yang pantas bagi-Nya dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka tuduhkan bahwa ada tuhan selain diri-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maha Suci) ungkapan untuk memahasucikan-Nya (dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan) dari dakwaan sekutu-sekutu itu (dengan ketinggian yang sebesar-besarnya).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dengan kesucian yang sebesar-besarnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Tujuh langit dan bumi bertasbih menyucikan Allah.
dan semua yang ada di dalamnya.

Yakni semua makhluk yang ada di langit dan di bumi menyucikan Allah, mengagungkan, memuliakan, dan membesarkan-Nya dari apa yang dika­takan oleh orang-orang musyrik itu.
Dan semuanya mempersaksikan keesaan Allah sebagai Rabb dan Tuhan mereka.

Dalam segala sesuatu terdapat tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah Maha Esa.

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan Allah dalam ayat lain melalui firman-Nya:

hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.
(Maryam:90-91)

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Maimun (Juru azan Masjid Ramlah), telah menceritakan kepada kami Urwah ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Qart, bahwa Rasulullah ﷺ ketika akan menjalani Isra-Nya ke Masjidil Aqsa sedang berada di antara Maqam Ibrahim dan sumur Zamzam.
Malaikat Jibril berada di sebelah kanan, dan Malaikat Mikail berada di sebelah kirinya.
Lalu keduanya membawa Nabi ﷺ terbang sampai ke langit yang ketujuh.
Ketika Nabi ﷺ kembali (ke bumi), beliau bersabda: Saya mendengar suara bacaan tasbih di langit yang tertinggi bersamaan dengan suara tasbih (para malaikat) yang sangat banyak.
Semua penduduk langit tertinggi bertasbih menyucikan nama Tuhan Yang memiliki pengaruh karena takut kepada Tu­han yang memiliki kekuasaan Yang Mahatinggi, Mahasuci Tu­han Yang Mahatinggi, Mahasuci Dia dan Mahatinggi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji­Nya.

Maksudnya, tiada suatu makhluk pun melainkan bertasbih dengan memuji nama Allah.

...tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka,

Yakni kalian, hai manusia, tidak mengerti tasbih mereka, karena mereka mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa kalian.
Pengertian ayat ini mencakup keseluruhan makhluk, termasuk hewan, benda-benda padat, dan tumbuh-tumbuhan.
Demikianlah menurut pendapat yang terkenal di antara dua pendapat yang ada.
Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Kami mendengar tasbih makan­an ketika sedang disantap."

Di dalam hadis Abu Zar r.a.
disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengambil beberapa batu kerikil dan dipegangnya, maka beliau mendengar suara tasbih batu-batu kerikil itu mirip dengan suara rintihan pohon kurma.
Hal yang sama pernah terjadi di tangan Abu Bakar, Umar, dan Usman —semoga Allah melimpahkan rida-Nya pada mereka— seperti yang telah disebutkan di dalam hadis masyhur di dalam kitab-kitab Musnad.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Zaban, dari Sahl ibnu Mu'az, dari Ibnu Anas dari ayahnya r.a., dari Rasulullah ﷺ Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menjumpai suatu kaum, saat itu mereka sedang duduk bertengger di atas hewan-hewan kendaraan mereka (dalam keadaan berhenti sambil mengobrol dengan temannya masing-masing).
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: Kendarailah kendaraan kalian dengan baik-baik, dan lepas­kanlah (istirahatkanlah) kendaraan kalian dengan baik-baik, dan janganlah kalian menjadikan kendaraan kalian sebagai kursi bagi obrolan kalian di jalan-jalan dan pasar-pasar, kare­na banyak kendaraan yang lebih baik daripada pengendara­nya dan lebih banyak berzikir kepada Allah daripadanya.

Di dalam kitab Sunnah Imam Nasai disebutkan melalui Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melarang membunuh katak, lalu beliau bersabda:

Suara katak adalah tasbihnya.

Qatadah telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Ubay, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa apabila seseorang mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," maka hal ini merupakan kalimat ikhlas yang Allah tidak akan menerima amal seseorang sebelum ia mengucapkannya.
Dan apabila seseorang mengucapkan, "Segala puji bagi Allah," maka hal ini merupa­kan kalimat syukur yang sama sekali Allah tidak membalas pahala hamba-Nya sebelum si hamba mengucapkannya.
Dan apabila seseorang meng­ucapkan, "Allah Maha Besar," maka kalimat ini memenuhi segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi.
Dan apabila ia mengucapkan, "Maha­suci Allah," maka hal ini merupakan doa semua makhluk, yang tidak sekali-kali seseorang dari makhluk Allah mendoa dengannya melainkan Allah mengakuinya sebagai doa dan tasbih.
Dan apabila seseorang meng­ucapkan, "Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan perto­longan Allah," maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Hamba-Ku telah Islam dan berserah diri."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah mendengar Mus'ab ibnu Zuhair menceritakan hadis berikut dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abdullah ibnu Amr yang menceritakan bahwa seorang Badui datang kepada Nabi ﷺ dengan memakai jubah yang diberi hiasan dengan kain sutera atau pinggirannya dihiasi dengan kain sutera.
Lalu lelaki Badui itu berkata, "Sesungguhnya teman kalian ini (Nabi ﷺ) bermaksud akan mengangkat martabat semua penggembala anak penggembala dan merendahkan semua pemimpin anak pemimpin." Maka Nabi ﷺ bangkit menuju ke tempat lelaki Badui itu dan memegang jubahnya, lalu menariknya seraya bersabda, "Saya melihatmu memakai pakaian orang yang tidak berakal." Kemudian Rasulullah ﷺ kembali ke tempat duduknya dan duduk lagi, lalu bersabda: Sesungguhnya Nuh 'alaihis salam ketika menjelang ajalnya memanggil kedua putranya, lalu berwasiat, "Sesungguhnya aku akan mengutarakan kepadamu wasiat berikut: Aku perintahkan kamu berdua untuk mengerjakan dua perkara dan aku larang kamu melakukan dua perkara lainnya.
Aku larang kalian mem­persekutukan Allah dan takabur (sombong).
Dan aku perintah­kan kamu berdua membaca kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah'.
Karena sesungguhnya langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya, jikalau diletakkan pada salah satu sisi timbangan, lalu di sisi lainnya diletakkan kalimah 'Tidak ada Tuhan selain Allah', tentulah kalimah itu lebih berat.
Dan seandainya langit dan bumi kedua-duanya dijadikan satu, lalu diletakkan padanya kalimah "Tidak ada Tuhan selain Allah', niscaya kalimah itu akan memotongnya atau membuatnya terbe­lah.
Dan aku perintahkan kamu berdua untuk membaca 'Maha­suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya', karena sesungguh­nya kalimah ini merupakan doa semua makhluk, dan karenanya segala sesuatu (semua makhluk) mendapat rezekinya.”

Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Sulaiman ibnu Harb, dari Ham-madah ibnu Zaid, dari Mus'ab ibnu Zuhair dengan sanad yang sama, tetapi lafaznya lebih panjang daripada lafaz di atas.
Imain Ahmad meriwa­yatkan hadis ini secara munfarid.

Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji­nya.
bahwa tiang bertasbih dan pohon-pohonan bertasbih.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa deritan pintu adalah tasbihnya, dan gemerciknya suara air adalah tasbihnya.
Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji­nya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Ibrahim, bahwa makanan pun bertasbih.
Pendapat ini berpegang kepada sebuah ayat sajdah yang ada di dalam surat Al-Hajj.

Ulama lainnya mengatakan bahwa sesungguhnya tasbih itu hanya dilakukan oleh makhluk yang bernyawa, yakni termasuk pula hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji­nya.
(Al Israa':44) Segala sesuatu yang hidup bertasbih, termasuk tumbuh-tumbuhan dan lain-lainnya yang hidup.

Al-Hasan dan Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji­Nya.
Keduanya mengatakan bahwa yang dimaksud ialah segala sesuatu yang bernyawa.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih dan Zaid ibnu Hubab, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir Abul Khattab yang mengatakan bahwa ketika kami sedang bersama Yazid Ar-Raqqasyi —yang saat itu ditemani oleh Al-Hasan dalam suatu jamuan makan— lalu mereka menghidangkan piring besar (yang terbuat dari kayu).
Maka Yazid Ar-Raqqasyi berkata, "Hai Abu Sa'd, apakah piring ini bertasbih?"
Maka Al-Hasan menjawab, "Ia pernah bertasbih sekali." Seakan-akan Al-Hasan berpendapat bahwa ketika kayu itu masih dalam bentuk pohon dan hidup, ia bertasbih.
Tetapi setelah di­potong sehingga menjadi kayu dan mati, maka tasbihnya berhenti.

Barang­kali pendapat ini merujuk kepada suatu hadis yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda:

Sesungguhnya keduanya sedang disiksa dan bukanlah kedua­nya disiksa karena dosa besar.
Salah seorang di antara kedua­nya tidak pernah membersihkan diri setelah buang air kecil, sedangkan yang lainnya gemar mengadu domba.
Setelah itu Nabi ﷺ mengambil sebuah pelepah kurma, lalu membelah­nya menjadi dua, kemudian menanamkannya pada masing-masing dari dua kuburan tersebut.
Dan setelah itu beliau ﷺ bersabda: Mudah-mudahan siksaan diringankan dari keduanya selagi kedua pelepah kurma ini belum kering.

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahih masing-masing.
Sebagian ulama yang membahas hadis ini mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ mengatakan, "Selagi kedua pelepah kurma ini belum kering," karena keduanya tetap bertasbih selagi masih hijau warnanya, dan apabila telah kering, maka berhentilah tasbih­nya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Dengan kata lain, sesungguhnya Allah tidak menyegerakan hukuman­Nya terhadap orang yang durhaka kepada-Nya, melainkan menangguh­kannya dan memberinya kesempatan untuk bertobat.
Apabila ternyata orang yang bersangkutan masih tetap pada kekafirannya dan tetap ingkar, maka barulah Allah menghukumnya sebagai pembalasan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan oleh salah satu hadisnya bahwa:

Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan masa tangguh kepada orang yang zalim, sehingga manakala Allah mengazab-nya, Allah tidak membiarkannya luput (dari azab-Nya).
Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.
(Huud:102), hingga akhir ayat.

Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan azab-(Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim.
(Al Hajj:48), hingga akhir ayat.

Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim.
(Al Hajj:45)

Dan barang siapa yang menghentikan perbuatan kufur dan maksiatnya, lalu ia kembali kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, maka Allah pun akan menerima tobatnya.
Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya' dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah.
(An Nisaa:110), hingga akhir ayat.

Dan dalam ayat surat ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Dalam surat Fafir disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengam­pun.
(Faathir':41)

sampai dengan firman-Nya:

Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia.
(Faathir':45), hingga akhir surat.

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 43 *beta

Surah Al Israa Ayat 43



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku