QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 34 [QS. 17:34]

وَ لَا تَقۡرَبُوۡا مَالَ الۡیَتِیۡمِ اِلَّا بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ حَتّٰی یَبۡلُغَ اَشُدَّہٗ ۪ وَ اَوۡفُوۡا بِالۡعَہۡدِ ۚ اِنَّ الۡعَہۡدَ کَانَ مَسۡـُٔوۡلًا
Walaa taqrabuu maalal yatiimi ilaa biillatii hiya ahsanu hatta yablugha asyuddahu wa-aufuu bil ‘ahdi innal ‘ahda kaana mas-uulaa;

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.
―QS. 17:34
Topik ▪ Sifat Rendah diri dan khusyuk
17:34, 17 34, 17-34, Al Israa 34, AlIsraa 34, Al Isra 34, Al-Isra’ 34

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 34

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 34. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala melarang para hamba-Nya mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik.
Yang dimaksud dengan “mendekati harta anak yatim” ialah mempergunakan harta anak-anak yatim tidak pada tempatnya.
Larangan mempergunakan harta anak yatim dalam ayat ini mengandung arti bahwa tidak memberikan perlindungan kepada harta anak yatim itu, supaya jangan habis sia-sia.
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perlindungan pada harta itu, karena harta itu sangat diperlukan oleh manusia, dan manusia yang paling memerlukannya ialah anak yatim, karena keadaannya yang belum dapat mengurusi hartanya, dun belum dapat mencari nafkah sendiri.

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pengecualian dari larangannya, yaitu apabila untuk pemeliharaan harta itu diperlukan biaya, atau dengan maksud untuk memperkembangkan harta anak yatim itu, maka dalam hal ini tidaklah termasuk larangan apabila mengambil sebagian harta anak yatim itu untuk kepentingan tersebut atau diperkembangkan sebagai modal dengan maksud agar harta itu bertambah.

Oleh sebab itu diperlukan orang yang bertanggung jawab untuk mengurus harta anak yatim itu.
Orang yang bertugas untuk memelihara harta anak yatim disebut Wasy (pengampu) dan diperlukan pula badan yang mengurusi harta anak yatim.
Badan tersebut hendaknya diawasi oleh pemerintah, agar tidak terjadi penyelewengan-penyelewengan.

Kemudian dalam ayat ini ditentukan batas, sampai kapan saatnya harta itu di serahkan oleh pengampu kepada anak yatim itu, ialah apabila anak yatim itu telah dewasa, dan mempunyai kemampuan untuk mengurus dan memperkembangkan harta itu.

Setelah ayat itu turun, maka para sahabat Rasulullah yang mengasuh anak-anak yatim merasa takut kembali, sehingga mereka tidak mau makan bersama sama anak yatim dan tidak pula mau bergaul dengan mereka.
Oleh sebab itu maka Allah menurunkan ayat ini:

Dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dan yang mengadakan perbaikan.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 220)

Dari ayat ini jelaslah, bahwa membelanjakan harta anak yatim dilarang apabila digunakan untuk kepentingan pribadi.
Tetapi apabila harta anak yatim itu dibelanjakan untuk pemeliharaan harta itu sendiri, atau untuk keperluan anak yatim itu sendiri, maka tidaklah dilarang.
Kecuali itu, terdapat pula kebolehan mengambil sebagian harta anak yatim itu bagi orang yang menjadi pengampunya, apabila si pengampu itu memerlukan untuk pembiayaan dirinya dalam rangka mengurus harta anak yatim itu, kalau si pengampu itu betul-betul orang yang tidak mampu.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa.
Barang siapa (di antara pemeliharaan itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.

(Q.S. An-Nisa’ [4]: 6)

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba Nya agar mamenuhi janji, baik janji Allah yang harus dipenuhi oleh para hamba Nya ataupun janji yang dibuat dengan manusia, yaitu akad jual beli, sewa menyewa yang termasuk dalam bidang muamalah.

Az-Zajjad menjelaskan bahwa, Semua perintah Allah dan larangan-larangan Nya adalah janji Allah yang harus dipenuhi, termasuk pula janji Allah yang harus diikrarkan kepada Tuhannya, dan janji yang dibuat antara hamba dengan hamba.

Yang dimaksud dengan memenuhi janji, ialah melaksanakan apa yang telah ditentukan dalam perjanjian itu, dengan tidak menyimpang dari ketentuan syarak dan hukum yang berlaku.

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala menandaskan, bahwa sesungguhnya janji itu pasti dipertanggungjawabkan.
Maka orang-orang yang mengkhianati janji, ataupun membatalkan janji secara sepihak akan mendapat pembalasan yang setimpal.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Janganlah kalian menggunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik untuk mengembangkan dan menginvestasikannya.
Lakukan hal itu terus sampai anak-anak itu dewasa.
Bila mereka sudah dewasa serahkanlah harta itu.
Peliharalah setiap janji yang kalian berikan.
Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban orang yang tidak menepati janji dan akan membalasnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih baik/bermanfaat sampai ia dewasa dan penuhilah janji) jika kalian berjanji kepada Allah atau kepada manusia (sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawaban)nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Janganlah mengurus harta anak-anak yang ditinggal mati ayah mereka sebelum usia baligh (yaitu yatim), dan mereka berada dalam pengasuhan kalian, kecuali dengn cara yang lebih baik bagi mereka, yaitu menumbuhkembangkannya, hingga anak yatim itu mencapai usia baligh dan mampu mengurus hartanya dengan baik.
Penuhilah semua janji yang kalian buat.
Sesungguhnya janji itu, kelak pada Hari kiamat Allah akan menanyai pelakunya, lalu Dia memberinya pahala jika memenuhi janjinya, dan menghukumnya jika mengkhianatinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa.

Maksudnya, janganlah kalian menggunakan harta anak yatim kecuali dengan niat untuk melestarikannya.

Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari kepa­tutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakan) sebe­lum mereka dewasa.
Barang siapa (di antara pemeliharaan itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 6)

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada sahabat Abu Zar:

Hai Abu Zar, sesungguhnya aku melihat dirimu orang yang lemah, dan sesungguhnya aku menyukai dirimu sebagaimana aku menyukai diriku sendiri.
Janganlah kamu menjadi pemimpin atas dua orang, dan jangan pula kamu mengurus harta anak yatim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan penuhilah janji.

Yakni janji yang telah kamu adakan dengan orang lain dan transaksi­ transaksi yang telah kalian tanda tangani bersama mereka dalam muama­lahmu.
Karena sesungguhnya janji dan transaksi itu, masing-masing dari keduanya akan menuntut pelakunya untuk memenuhinya.

…sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.

Artinya, pelakunya akan dimintai pertanggungjawabannya.


Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 34 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 34 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 34 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 17:34
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.8
Ratingmu: 4.8 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al isra 34 ▪ al isra 34 penjelasan kosa kata tafsir al misbah ▪ Q S 17:34

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim