QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 3 [QS. 17:3]

ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَبۡدًا شَکُوۡرًا
Dzurrii-yata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuran;

(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.
Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
―QS. 17:3
Topik ▪ Kedahsyatan hari kiamat
17:3, 17 3, 17-3, Al Israa 3, AlIsraa 3, Al Isra 3, Al-Isra’ 3

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 3

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan juga nenek moyang mereka, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan Allah bersama-sama Nuh as dari topan.
Mereka itu diselamatkan Allah dengan perantaraan wahyu-Nya kepada Nuh as yang mengandung perintah untuk membuat perahu, agar dia dan kaumnya yang setia terhindar dari siksaan Allah yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang mengingkari kenabiannya.
Hal ini mengandung peringatan bagi Bani Israil agar mengambil contoh dan ibarat dari peristiwa itu, dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Nuh itu, karena sesungguhnya beliau itu adalah hamba yang sangat mensyukuri nikmat Allah.
Dan peristiwa itu mengandung pelajaran pula bagi kaum Muslimin agar tetap beragama tauhid seperti Nuh as dan pengikut-pengikutnya, serta orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah.

Sebagai penjelasan dari penafsiran tersebut, perlu dikemukakan beberapa buah hadis yang menjelaskan bahwa Nabi Nuh as itu Nabi yang sangat mensyukuri nikmat Allah, sebagaimana tersebut dalam hadis:
Pertama, Hadis yang diriwayatkan oleh:

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan Muaz bin Anas Al Juhany bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda : “Sesungguhnya Nuh, apabila telah datang waktu sore hari dan pada pagi hari, dia berkata: Maha Suci Allah ketika kamu berada di waktu sore dan di waktu Subuh dan bagi Nya-lah segala puji di langit dan bumi di waktu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur”.

Kedua hadis yang lain diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Al Baihaqy dan Al Hakim dari Salman Al Farisi, ia berkata:

Nabi Nuh, apabila telah mengenakan baju dan menyantap makanan dia memuji Allah subhanahu wa ta’ala Maka dinamakanlah dia “hamba yang sangat mensyukuri nikmat Allah.

Demikianlah doa dan tasbih yang diucapkan oleh Nabi Nuh as yang patut dicontoh dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai Bani Israil, kalian adalah keturunan orang-orang ikhlas yang berada dalam bahtera bersama Nuh setelah mereka beriman dan Kami selamatkan dari ketenggelaman.
Jadikanlah Nuh sebagai teladan kalian sebagaimana orang-orang sebelum kalian.
Sesungguhnya ia adalah hamba yang banyak bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yaitu anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh) di dalam bahtera.

(Sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang banyak bersyukur) kepada Kami dan selalu memuji dalam semua sepak terjangnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai anak cucu dari orang-orang yang Kami selamatkan dan Kami bawa bersama Nuh di dalam perahu, janganlah mempersekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya, dan jadilah kalian sebagai orang-orang yang banyak bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Nya, meneladani Nuh.
Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur kepada Allah dengan hati, lisan dan anggota badannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.

Bentuk lengkap ayat ialah, “Hai anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.” Di dalam kalimat ayat ini terkandung makna yang mengingatkan akan nikmat dan karunia Allah.
Dengan kata lain, ayat ini seakan-akan mengatakan, “Hai keturunan orang-orang yang Kami selamatkan dan Kami bawa bersama-sama Nuh di dalam bahtera, tirulah jejak bapak kalian!”

Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyu­kur.

Dengan kata lain, ingatlah kalian semua akan nikmat-Ku kepada kalian, yaitu Kami telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada kalian.

Di dalam hadis dan asar dari ulama Salaf disebutkan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam selalu memuji kepada Allah bila makan, minum, berpakaian, dan dalam semua perbuatannya.
Karena itulah maka ia dijuluki sebagai hamba Allah yang banyak bersyukur.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah men­ceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Husain, dari Abdullah ibnu Sinan, dari Sa’d ibnu Mas’ud As-Saqafi yang mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Nuh mendapat julukan seorang hamba yang banyak bersyukur, tiada lain karena bila hendak makan atau minum ia selalu memuji kepada Allah.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Sa’id ibnu Abu Burdah, dari Anas ibnu Malik r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar rida kepada seorang hamba manakala ia makan sesuap atau minum seteguh tidak pernah lupa mengucapkan pujian kepada Allah atas nikmat itu.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa Nabi ﷺ selalu memuji kepada Allah dalam semua keadaan.

Imam Bukhari dalam bab ini telah meriwayatkan hadis Abu Zar’ah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda, “Aku adalah pemuka anak Adam kelak di hari kiamat,” hingga akhir hadis.
Di dalam hadis ini disebutkan bahwa lalu mereka datang kepada Nabi Nuh dan meminta, “Hai Nuh, sesungguhnya engkau adalah rasul yang mula-mula diutus Allah untuk penduduk bumi, dan Allah telah memberimu nama julukan seorang hamba yang banyak bersyukur.
Maka mohonkanlah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu,” hingga akhir hadis.


Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 3 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 3 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 3 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 17:3
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.7
Ratingmu: 4.9 (9 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/17-3







Pembahasan ▪ Qs al isra 3

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim