Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 24 [QS. 17:24]

وَ اخۡفِضۡ لَہُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحۡمَۃِ وَ قُلۡ رَّبِّ ارۡحَمۡہُمَا کَمَا رَبَّیٰنِیۡ صَغِیۡرًا
Waakhfidh lahumaa janaahadz-dzulli minarrahmati waqul rabbiirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiran;
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah,
“Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
―QS. Al Israa [17]: 24

And lower to them the wing of humility out of mercy and say,
"My Lord, have mercy upon them as they brought me up (when I was) small."
― Chapter 17. Surah Al Israa [verse 24]

وَٱخْفِضْ dan turunkan/rendahkan

And lower
لَهُمَا terhadap keduanya

to them
جَنَاحَ sayap (dirimu)

(the) wing
ٱلذُّلِّ rendah diri

(of) humility
مِنَ dari/dengan

(out) of
ٱلرَّحْمَةِ kasih-sayang

[the] mercy
وَقُل dan ucapkanlah

and say,
رَّبِّ (wahai) Tuhanku

"My Lord!
ٱرْحَمْهُمَا kasihanilah keduanya

Have mercy on both of them
كَمَا sebagaimana

as
رَبَّيَانِى keduanya memeliharaku

they brought me up
صَغِيرًا waktu kecil

(when I was) small."

Tafsir

Alquran

Surah Al Israa
17:24

Tafsir QS. Al Israa (17) : 24. Oleh Kementrian Agama RI


Kemudian Allah ﷻ memerintahkan kepada kaum Muslimin agar bersikap rendah hati dan penuh kasih sayang kepada kedua orang tua.
Yang dimaksud dengan sikap rendah hati dalam ayat ini ialah menaati apa yang mereka perintahkan selama perintah itu tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan agama.

Taat anak kepada kedua orang tua merupakan tanda kasih sayang dan hormatnya kepada mereka, terutama pada saat keduanya sangat memerlukan pertolongan anaknya.
Ditegaskan bahwa sikap rendah hati itu haruslah dilakukan dengan penuh kasih sayang, tidak dibuat-buat untuk sekadar menutupi celaan atau menghindari rasa malu pada orang lain.

Sikap rendah hati itu hendaknya betul-betul dilakukan karena kesadaran yang timbul dari hati nurani.
Di akhir ayat, Allah ﷻ memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mendoakan kedua ibu bapak mereka, agar diberi limpahan kasih sayang Allah sebagai imbalan dari kasih sayang keduanya dalam mendidik mereka ketika masih kanak-kanak.

Ada beberapa hadis Nabi ﷺ yang memerintahkan agar kaum Muslimin berbakti kepada kedua ibu bapaknya:
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa sesungguhnya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ meminta izin kepadanya, agar diperbolehkan ikut berperang bersamanya, lalu Nabi bersabda,
"Apakah kedua orang tuamu masih hidup?"
Orang laki-laki itu menjawab,
"Ya."
Nabi bersabda,
"Maka berjihadlah kamu dengan berbakti kepada kedua orang tuamu.
"
(Riwayat Muslim dan Bukhari dalam bab al-adab) Seorang anak belumlah dianggap membalas jasa kedua ibu bapaknya, kecuali apabila ia menemukan mereka dalam keadaan menjadi budak, kemudian ia menebus mereka dan memerdekakannya.
(Riwayat Muslim dan lainnya dari Abu Hurairah) Saya bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Amal yang manakah yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya?"
Rasulullah menjawab,
"Melakukan salat pada waktunya.
"
Saya bertanya,
"Kemudian amal yang mana lagi?"
Rasulullah menjawab,
"Berbuat baik kepada kedua ibu bapak."
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud) Di dalam ayat yang ditafsirkan di atas tidak diterangkan siapakah yang harus didahulukan mendapat bakti antara kedua ibu bapak.

Akan tetapi, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa berbakti kepada ibu didahulukan daripada kepada bapak, seperti diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ ditanya,
"Siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan yang paling baik dariku?"
Rasulullah menjawab,
"Ibumu."
Orang itu bertanya,
"Siapa lagi?"
Rasulullah menjawab,
"Ibumu."
Orang itu bertanya,
"Siapa lagi?"
Rasulullah menjawab,
"Ibumu."
Orang itu bertanya,
"Siapa lagi?"
Rasulullah menjawab,
"Bapakmu."
(Riwayat Bukhari dan Muslim) Berbakti kepada kedua orang tua, tidak cukup dilakukan pada saat mereka masih hidup, akan tetapi terus berlanjut meskipun keduanya sudah meninggal dunia.
Adapun tata caranya disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah:
Bahwa Rasulullah ﷺ ditanya,
"Masih adakah kebaktian kepada kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal dunia?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya, masih ada empat perkara, mendoakan ibu bapak itu kepada Allah, memintakan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, dan meng-hormati teman-teman mereka serta menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kamu kecuali dari pihak mereka.
Maka inilah kebaktian yang masih tinggal yang harus kamu tunaikan, sebagai kebaktian kepada mereka setelah mereka meninggal dunia."
(Riwayat Ibnu Majah dari Abu Usaid)

Tafsir QS. Al Israa (17) : 24. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Berlemah-lembutlah kepada keduanya, bersikap rendah dirilah di depan keduanya dan kasih sayangilah keduanya.
Berdoalah untuk mereka,
"Ya Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mengasihiku ketika mendidikku di waktu kecil. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Jadilah kamu sebagai orang yang merendahkan diri dan tawadhu kepada ibu dan ayahmu karena belas kasih kepada keduanya.
Mohonlah kepada Rabb-mu agar merahmati keduanya dengan rahmat-Nya yang luas, baik semasa masih hidup maupun sesudah mati, sebagaimana keduanya bersabar dalam merawatmu semasa kecil, yang lemah daya dan kekuatan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua) artinya berlaku sopanlah kamu terhadap keduanya


(dengan penuh kesayangan) dengan sikap lemah lembutmu kepada keduanya


(dan ucapkanlah,
"Wahai Rabbku! Kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana) keduanya mengasihaniku sewaktu


(mereka berdua mendidik aku waktu kecil.").

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.

Yakni berendah dirilah kamu dalam menghadapi keduanya.

…dan ucapkanlah,
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka kedua­nya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."


Maksudnya, berendah diriiah kepada keduanya di saat keduanya telah berusia lanjut, dan doakanlah keduanya dengan doa ini bilamana keduanya telah meninggal dunia.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.
(QS. At-Taubah [9]: 113), hingga akhir ayat.

Hadishadis yang menyebutkan tentang berbakti kepada kedua orang tua cukup banyak, antara lain ialah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Anas dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ naik ke atas mimbar, kemudian beliau mengucapkan kalimat Amin sebanyak tiga kali.
Maka ketika ditanyakan,
"Wahai Rasulullah, apakah yang engkau aminkan?"
Maka Nabi ﷺ menjawab:

Jibril datang kepadaku, lalu mengatakan,
"Hai Muhammad, terhinalah seorang lelaki yang namamu disebut di hadapannya, lalu ia tidak membaca salawat untukmu.
Ucapkanlah ‘Amin’."
Maka saya mengucapkan Amin lalu Jibril berkata lagi,
"Terhinalah seorang lelaki yang memasuki bulan Ramadan, lalu ia keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan masih belum beroleh ampunan baginya.
Katakanlah, ‘Amin’."
Maka aku ucapkan Amin.
Jibril melanjutkan perkataannya,
"Terhinalah seorang lelaki yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorangnya, lalu keduanya tidak dapat memasukkannya ke surga.
Katakanlah, ‘Amin’."
Maka aku ucapkan Amin.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Malik ibnul Haris, dari seorang lelaki yang tidak disebutkan .namanya, bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:
Barang siapa yang menjamin makan dan minum seorang anak yatim yang kedua orang tuanya muslim hingga anak yatim itu tidak lagi memerlukan jaminannya, maka wajiblah surga bagi­nya.
Barang siapa yang memerdekakan seorang budak muslim, maka akan menjadi tebusan baginya dari neraka, setiap anggo­ta tubuh budak itu membebaskan setiap anggota tubuhnya.

Kemudian Imam Ahmad mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, bahwa ia pernah mendengar Ali ibnu Zaid mengatakan hadis ini, lalu Imam Ahmad menuturkan hadis yang semakna.
Hanya dalam riwayat ini disebutkan ‘dari seorang lelaki dari kalangan kaumnya’ yang dikenal dengan nama Malik atau Ibnu Malik, dan ditambahkan dalam riwayat ini:
Barang siapa yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya, lalu ia masuk neraka, maka ia adalah orang yang dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya).

Hadis lainnya Imam Ahmad mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Affan, dari Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Malik ibnu Amr Al-Qusyairi bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Barang siapa yang memerdekakan seorang budak muslim, maka akan menjadi tebusannya dari neraka, karena sesungguhnya setiap tulang dari budak itu akan membebaskan setiap tulang (anggota tubuh)nya.
Dan barang siapa yang menjumpai salah seorang dari kedua orang tuanya, kemudian masih belum diberikan ampunan baginya, maka semoga ia dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya).
Dan barang siapa yang menjamin makan dan minum seorang anak yatim yang kedua orang tuanya muslim, hingga si anak yatim mendapat kecukupan dari Allah, maka wajiblah surga baginya.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Muhammad ibnu Ja’far, keduanya mengatakan, telah menceri­takan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Zurarah ibnu Aufa menceritakan hadis berikut dari Abu Malik Al-Qusyairi yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Barang siapa yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya, kemudian ia masuk neraka sesudah itu, maka semoga ia dijauhkan dari (rahmat) Allah dan semoga Allah memhinasakannya."

Abu Daud At-Tayalisi telah meriwayatkan dari Syu’bah dengan sanad yang sama, tetapi di dalamnya ada beberapa tambahan lainnya.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Awwanah, telah menceritakan kepada kami Suhail ibnu Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Terhinalah seorang lelaki, terhinalah seorang lelaki, terhinalah seorang lelaki yang menjumpai salah seorang dari kedua orang tuanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam jaminan­nya, lalu ia tidak masuk surga.

Dari Jalur ini hadis berpredikat sahih, mereka tidak mengetengahkannya selain Imam Muslim melalui Hadis Abu Awwanah, dan Jarir, dan Suiaiman ibnu Bilal, dari Suhail dengan sanad yang sama.

Hadis lainnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepa­da kami Rab’i ibnu Ibrahim (saudara Ismail ibnu Ulayyah, dia lebih utama daripada saudaranya), dari Abdur Rahman ibnu Ishaq, dari Sa’id Ibnu Abu Sa’id, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Terhinalah seorang lelaki yang namaku disebut di hadapannya, lalu tidak membaca salawat untukku.
Dan terhinalah seorang lelaki yang memasuki bulan Ramadan, lalu keluar darinya, sedangkan ia masih belum mendapat ampunan baginya.
Dan terhinalah seorang lelaki yang menjumpai kedua orang tuanya telah berusia lanjut dalam jaminannya, lalu kedua orang tuanya itu tidak dijadikannya sebagai perantara buat dirinya untuk masuk surga.

Rab’i mengatakan,
"Saya merasa yakin bahwa dia (Abdur Rahman ibnu Ishaq) mengatakan pula, ‘Atau salah seorang dari kedua orang tuanya’."

Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Ibrahim Ad-Dauraqi, dari Rab’i ibnu Ibrahim, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa ditinjau dari jalur ini hadis berpredikat garib.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceri­takan kepada kami Abdur Rahman ibnul Gasil, telah menceritakan kepada kami Usaid ibnu Ali.
dari ayahnya, dari Abu Ubaid, dari Abu Usail (yaitu Malik ibnu Rabi’ah As-Sa’idi) yang menceritakan,
"Ketika saya sedang duduk di hadapan Rasulullah ﷺ, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar.
Lalu lelaki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada jalan bagiku untuk berbakti kepada kedua orang tuaku sepeninggal keduanya?’ Rasulullah ﷺ menjawab:
‘Ya, masih ada empat perkara, yaitu memohonkan rahmat bagi keduanya, memohonkan ampunan bagi keduanya, melaksana­kan wasiat keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya serta bersilaturahmi kepada orang yang tiada hubungan silaturahmi denganmu kecuali melalui kedua orang tuamu.
Hal itulah yang masih tersisa bagimu sebagai jalan baktimu kepada kedua orang tuamu sesudah mereka tiada’."

Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melaui hadis Abdur Rahman ibnu Sulaiman (yaitu Ibnul Gasil) dengan sanad yang sama.

Hadis lainnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepa­da kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceri­takan kepadaku Muhammad ibnu Talhah ibnu Ubaid illah ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Mu’awiyah ibnu Jahimah As-Sulami, bahwa Jahimah pernah datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya,
"Wahai Rasulullah, saya ingin berangkat berperang (di jalan Allah), dan saya datang untuk meminta nasihat darimu."
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Apakah kamu masih mempunyai ibu?"
Jahimah menjawab,
"Ya."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Rawatlah ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kakinya.
Kemudian diajukan pertanyaan yang serupa dan jawaban yang serupa untuk kedua kalinya hingga ketiga kalinya di tempat-tempat yang berlainan.

Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Juraij dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Wahid, telah menceritakan kepada kami Ibnu Iyasy dari Yahya ibnu Sa’d, dari Khalid ibnu Ma’dan, dari Al-Miqdam ibnu Ma’di Kriba, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Sesungguhnya Allah telah menitipkan kepada kalian ayah-ayah kalian, sesungguhnya Allah telah menitipkan kepada kalian ibu-ibu kalian, sesungguhnya Allah telah menitipkan kepada kalian ibu-ibu kalian, sesungguhnya Allah telah menitipkan kepada kalian ibu-ibu kalian, sesungguhnya Allah telah meni­tipkan kepada kalian keluarga kalian yang terdekat, kemudian yang dekat (hubungan) kekeluargaannya dengan kalian.

Ibnu Majah telah mengetengahkannya melalui hadis Abdullah ibnu Iyasy dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Ahmad telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Asy’as ibnu Salim, dari ayahnya, dari seorang lelaki dari kalangan Nabi ﷺ dan mendengarkan beliau sedang berbicara dengan orang-orang.
Antara lain beliau bersabda:
Orang yang paling utama menerima uluran tangan(mu) ialah ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian saudaramu yang terdekat, lalu yang dekat (denganmu).

Unsur Pokok Surah Al Israa (الإسراء)

Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Muhammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" artinya keturunan Israil, berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

▪ Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat.
▪ Allah pasti memberi rezeki kepada manusia.
▪ Allah mempunyai nama-nama yang paling baik.
Alquran adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
▪ Adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

▪ Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia.
▪ Berzina.
▪ Mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan agama.
▪ Ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
▪ Durhaka kepada ibu bapak.
▪ Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan takaran, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

▪ Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya.
▪ Beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat.
▪ Petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat.
▪ Manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru.
▪ Persoalan

Audio

QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 111 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 111

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Israa ayat 24 - Gambar 1 Surah Al Israa ayat 24 - Gambar 2 Surah Al Israa ayat 24 - Gambar 3
Statistik QS. 17:24
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti “memperjalankan di malam hari”.
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
Sending
User Review
4.6 (16 votes)
Tags:

17:24, 17 24, 17-24, Surah Al Israa 24, Tafsir surat AlIsraa 24, Quran Al Isra 24, Al-Isra' 24, Surah Al Isra ayat 24

▪ al isra ▪ q s al-isra 17 23-24 ▪ Qs 17 : 24
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 64 [QS. 17:64]

Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka anak cucu Adam yang engkau, yakni Iblis sanggup melakukannya dengan suaramu yang memukau dan ajakanmu yang menggoda, dan lakukanlah dengan segala kemampua … 17:64, 17 64, 17-64, Surah Al Israa 64, Tafsir surat AlIsraa 64, Quran Al Isra 64, Al-Isra’ 64, Surah Al Isra ayat 64

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 135 [QS. 6:135]

Katakanlah kepada kaummu, wahai Nabi Muhammad sebagai ancaman kepada mereka, “Wahai kaumku! Jika kalian menganggap bahwa kalian berada di atas petunjuk maka berbuatlah menurut kedudukanmu, dan tetapla … 6:135, 6 135, 6-135, Surah Al An ‘aam 135, Tafsir surat AlAnaam 135, Quran Al Anaam 135, Al Anam 135, AlAnam 135, Al An’am 135, Surah Al Anam ayat 135

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir [74]: 1-7, Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada ...

Benar! Kurang tepat!

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di ...

Benar! Kurang tepat!

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.'
--QS. al-Alaq [96] ayat 1-5.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #10
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #10 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #10 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Pesan utama dari kandungan Alquran adalah … tauhid muamalah akhlak sosial kemasyarakatan fikih Benar! Kurang tepat! Sebab-sebab turunnya ayat Alquran

Pendidikan Agama Islam #8

Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … haram boleh mubah sunnah makruh Benar! Kurang tepat! Orang yang menceritakan hadits disebut …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang tidak diawali basmalah adalah … al-Anfal ar-Rahman Al-Fatihah Maryam at-Taubah Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah At-Taubah adalah surah ke-9

Instagram