QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 21 [QS. 17:21]

اُنۡظُرۡ کَیۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ؕ وَ لَلۡاٰخِرَۃُ اَکۡبَرُ دَرَجٰتٍ وَّ اَکۡبَرُ تَفۡضِیۡلًا
Anzhur kaifa fadh-dhalnaa ba’dhahum ‘ala ba’dhin walal-aakhiratu akbaru darajaatin wa-akbaru tafdhiilaa;

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain).
Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.
―QS. 17:21
Topik ▪ Surga ▪ Perbedaan derajat di surga ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
17:21, 17 21, 17-21, Al Israa 21, AlIsraa 21, Al Isra 21, Al-Isra’ 21

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 21

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 21. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada seluruh manusia agar memperhatikan kemurahan Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diberikan kepada kedua golongan tersebut.
Dari masing-masing golongan Allah subhanahu wa ta’ala melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.
Dari masing-masing mereka itu, manusia akan mendapat pelajaran, karena meskipun masing-masing mereka itu berusaha untuk mencari rezeki dan kenikmatan dunia, namun akibatnya berbeda-beda.
Nikmat Allah yang diberikan kepada mereka yang mengutamakan kehidupan dunia menyebabkan mereka bertambah ingkar kepada Zat yang memberikan nikmat itu.
Sebaliknya nikmat yang diberikan kepada mereka yang mengutamakan kehidupan akhirat menyebabkan mereka semakin mensyukuri Zat yang memberikan nikmat itu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan Nya kepadamu.
(Q.S.
Al An’am: 165)

Dan firman Nya lagi:

Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
(Q.S.
Az Zukhruf: 32)

Demikianlah seseorang harus mengutamakan kehidupan akhirat karena kehidupan akhirat adalah lebih tinggi derajatnya dan lebih utama dari kehidupan dunia.
Mengenai kehidupan di akhirat ini digambarkan dalam hadis:

“Bersabda Nab saw: “Sesungguhnya orang yang merasa tinggi derajatnya itu akan melihat orang-orang yang mulia itu di akhirat, seperti engkau melihat bintang di ketinggian langit”.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian hamba Kami atas hamba Kami yang lain dalam harta, kehidupan dan kelapangan jika mereka melaksanakan upaya-upaya penyebabnya di dunia sesuai dengan hikmah yang telah Kami ketahui.
Sesungguhnya perbedaan mereka di negeri akhirat jauh lebih besar daripada perbedaan mereka di dunia.
Maka seyogianya ini diperhatikan.
Di akhiratlah terdapat kemuliaan dan keutamaan yang hakiki.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Perhatikanlah bagaimana kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain) dalam hal rezeki dan derajat (Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi) lebih agung (kedudukannya dan lebih besar keutamaannya) daripada kehidupan dunia, oleh karenanya harus lebih dipentingkan dalam meraihnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Perhatikanlah, wahai Rasul, tentang cara Allah melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain di dunia dalam hal rizki dan amal.
Sungguh akhirat itu lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya bagi orang-orang Mukmin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain).

Yaitu di dunia, sehingga di antara mereka ada yang kaya dan ada yang miskin serta ada yang berada di antara keduanya.
Di antara mereka ada yang tampan, ada yang buruk rupa, serta ada yang berada di antara keduanya.
Di antara mereka ada yang mati dalam usia muda, ada yang diberi usia panjang sehingga berusia lanjut, serta ada pula yang ada di antara usia keduanya.

Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.

Dikatakan demikian karena perbedaan keadaan mereka di kampung akhi­rat jauh lebih mencolok daripada kedaan mereka ketika di dunia.
Di antara mereka ada yang tinggal di dasar neraka Jahannam dalam keadaan terbelenggu oleh rantai-rantainya, ada pula yang tinggal pada kedudukan yang tertinggi bergelimangan dengan kenikmatan dan kegembiraan.
Kemudian ahli neraka pun berbeda-beda pula tingkatan tempatnya, sebagaimana berbeda-bedanya tingkatan kedudukan ahli surga, karena sesungguhnya surga itu terdiri atas seratus derajat (tingkatan), jarak antara satu tingkatan ke tingkat yang lainnya sama dengan jarak antara bumi dan langit.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan:

Sesungguhnya penduduk surga tingkatan tinggi, benar-benar dapat melihat penduduk surga ‘Illiyyin (yang lebih tinggi darinya) sebagaimana kalian melihat bintang-bintang yang terletak jauh di ufuk langit.

Karena itulah dalam ayat ini di sebutkan oleh firman-Nya: Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.

Di dalam kitab Imam Tabrani melalui riwayat Zazan, dari Salman secara marfu’ disebutkan hadis berikut:

Tiada seorang hamba (Allah) pun yang menginginkan diangkat satu tingkat kedudukannya di dunia ini, lalu ia ditinggikan, melainkan merendahkannya di akhirat nanti ketingkatan bawah yang lebih rendah dari itu.
Kemudian Salman membacakan firman-Nya:

Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.


Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 21 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 21 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 21 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
4.7
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/17-21







Pembahasan ▪ qs al isra 21 setengah

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta