QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 18 [QS. 17:18]

مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ الۡعَاجِلَۃَ عَجَّلۡنَا لَہٗ فِیۡہَا مَا نَشَآءُ لِمَنۡ نُّرِیۡدُ ثُمَّ جَعَلۡنَا لَہٗ جَہَنَّمَ ۚ یَصۡلٰىہَا مَذۡمُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا
Man kaana yuriidul ‘aajilata ‘ajjalnaa lahu fiihaa maa nasyaa-u liman nuriidu tsumma ja’alnaa lahu jahannama yashlaahaa madzmuuman madhuuran;

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
―QS. 17:18
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Keluasan ilmu Allah
17:18, 17 18, 17-18, Al Israa 18, AlIsraa 18, Al Isra 18, Al-Isra’ 18

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 18

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dua golongan manusia yaitu golongan yang mencintai kehidupan dunia, dan golongan yang mencintai kehidupan akhirat.

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan golongan yang pertama, sedangkan golongan yang lain, disebutkan dalam ayat berikutnya.
Di dalam menyebutkan golongan yang pertama, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia yang kenikmatannya segera mereka rasakan, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyegerakan keinginan mereka itu di dunia sesuai dengan kehendaknya.

Pernyataan ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan, sehingga mereka berkeyakinan bahwa tidak ada kehidupan lagi sesudah kehidupan di dunia ini.
Itulah sebabnya maka mereka terlalu tamak dan rakus terhadap kekayaan dunia dan kemewahannya, padahal kehidupan dunia serta kenikmatannya adalah bersifat sementara.
Itulah sebabnya, kehidupan di dunia serta kemewahan itu oleh Allah subhanahu wa ta’ala digambarkan sebagai suatu yang segera dapat diperoleh, tetapi segera pula musnah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengancam mereka dengan ancaman neraka Jahanam sebagai imbalan yang pantas bagi mereka.
Di dunia mereka akan mengalami penyesalan-penyesalan yang sedalam-dalamnya, akibat berpisah dengan kemewahan dunia yang sangat mereka cintai itu, yaitu pada saat ajal telah merenggut mereka.
Sedang di akhirat mereka akan mengalami penderitaan yang senista-nistanya, karena menyesali perbuatan yang tercela, dan jauh pula dari nikmat Allah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Barangsiapa mencari kehidupan dunia yang fana dan bekerja untuknya dengan segala upaya, tetapi ia tidak percaya kepada hari akhir serta tidak menunggu balasan hari akhirat, niscaya Kami segerakan baginya di dunia kelapangan dan kemudahan hidup sesuai kehendak Kami.
Ini bagi orang yang menghendaki balasannya disegerakan.
Kemudian di akhirat, Kami sediakan baginya neraka jahanam.
Dia akan merasakan panasnya dalam keadaan tercela karena perbuatannya dulu.
Dia pun menjadi binasa dan terusir dari rahmat Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Barang siapa yang menghendaki) dengan amalnya (kehidupan sekarang) yakni perkara duniawi (maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki) lafal liman menjadi badal dari lafal lahuu yang juga disertai pengulangan huruf jar (dan Kami tentukan baginya) di akhirat kelak (neraka Jahanam, ia akan memasukinya) dijebloskan ke dalamnya (dalam keadaan tercela) terhina (lagi terusir) dijauhkan dari rahmat Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang keinginannya adalah kehidupan dunia yang sementara, dan hanya berusaha untuknya semata, tidak percaya kepada akhirat dan tidak beramal untuknya, maka Allah akan menyegerakan baginya di sana apa yang Allah menginginkan dan menghendakinya, yaitu apa yang telah dituliskan-Nya dalm al-Lauh al-Mahfuzh.
Kemudian Allah tentukan baginya Neraka Jahanam di akhirat, yang ia masuki dalam keadaan tercela lagi terusir dari rahmat Allah.
Hal itu disebabkan ia menginginkan dunia dan berusaha untuknya, bukan untuk akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa tidaklah setiap orang yang mencari duniawi dan kesenangan-kesenangannya dapat memperolehnya, melainkan dunia itu dapat diperoleh oleh orang yang dikehendaki oleh Allah untuk memperolehnya.
Makna ayat ini mengikat kemutlakan makna yang terdapat dalam ayat-ayat lainnya.
Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
telah mengatakan dalam firman-Nya:

…maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam.

Yakni di akhirat kelak.

…ia akan memasukinya.

Maksudnya, ia akan dimasukkan ke dalamnya sehingga neraka Jahannam meliputinya dari segala penjuru (yakni ia tenggelam di dalamnya).

…dalam keadaan tercela.

Ia masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan tercela.
Hal itu sebagai balasan dari sepak terjang dan amal perbuatannya yang buruk, karena ia lebih memilih dunia daripada akhirat yang kekal.

…lagi dalam keadaan terusir.

Yakni dijauhkan dari rahmat Allah lagi terhina dan terusir.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Ruwaid, dari Abu Ishaq, dari Zar’ah, dari Siti Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Dunia ini adalah rumah bagi orang yang tidak punya rumah, dan harta bagi orang yang tidak berharta, dan hanya karena dunialah orang yang tidak berakal menghimpunnya.


Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 18 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 18 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 18 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 17:18
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.4
Ratingmu: 4.8 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al isra 17-18 ▪ Surat 17 ayt 18

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim