Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 15 [QS. 17:15]

مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ حَتّٰی نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا
Mani ihtada fa-innamaa yahtadii linafsihi waman dhalla fa-innamaa yadhillu ‘alaihaa walaa taziru waaziratun wizra ukhra wamaa kunnaa mu’adz-dzibiina hatta nab’atsa rasuulaa;
Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri;
dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri.
Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.
―QS. Al Israa [17]: 15

Daftar isi

Whoever is guided is only guided for (the benefit of) his soul.
And whoever errs only errs against it.
And no bearer of burdens will bear the burden of another.
And never would We punish until We sent a messenger.
― Chapter 17. Surah Al Israa [verse 15]

مَّنِ barang siapa

Whoever
ٱهْتَدَىٰ mendapat petunjuk

(is) guided
فَإِنَّمَا maka sesungguhnya hanyalah

then only
يَهْتَدِى dia mendapat petunjuk

he is guided
لِنَفْسِهِۦ bagi/untuk dirinya sendiri

for his soul.
وَمَن dan barangsiapa

And whoever
ضَلَّ tersesat

goes astray
فَإِنَّمَا maka sesungguhnya hanyalah

then only
يَضِلُّ dia tersesat

he goes astray
عَلَيْهَا atasnya (dirinya)

against it
وَلَا dan tidak

And not
تَزِرُ dapat memikul beban (dosa)

will bear
وَازِرَةٌ pemikul beban (orang yang berdosa)

a bearer of burden,
وِزْرَ beban/dosa

burden
أُخْرَىٰ (orang) lain

(of) another.
وَمَا dan tidaklah

And not
كُنَّا Kami

We
مُعَذِّبِينَ mengazab

are to punish
حَتَّىٰ sehingga/sebelum

until,
نَبْعَثَ Kami mengutus

We have sent
رَسُولًا seorang Rasul

a Messenger.

Tafsir Quran

Surah Al Israa
17:15

Tafsir QS. Al Israa (17) : 15. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dinyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Walid bin Mugirah ketika ia berkata kepada penduduk Mekah,
"Ingkarilah Muhammad dan sayalah yang menanggung dosamu."

Dalam ayat ini, Allah ﷻ menegaskan bahwa barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah dan tuntunan Rasulullah, yaitu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, berarti dia telah berbuat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia akan memperoleh catatan tentang amal perbuatan baiknya di dalam kitabnya.
Ia akan merasa bahagia karena akan mendapatkan keridaan Allah, dan menerima imbalan yang berlimpah, yaitu surga dengan berbagai kenikmatan yang serba menyenang-kan.

Akan tetapi, barang siapa yang sesat, yaitu orang yang menyimpang dari bimbingan Alquran, akan mengalami kerugian.
Ia akan mendapatkan catatan tentang amal perbuatan buruknya di dalam kitab itu.

Ia akan merasakan penyesalan yang tidak ada gunanya dan akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan yang pantas baginya.

Selanjutnya, Allah ﷻ menegaskan bahwa pada hari itu orang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.

Tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatan buruknya sendiri, sehingga tidak mungkin sese-orang dibebani dosa selain dosanya sendiri.
Mereka akan menerima balasan amal sesuai dengan berat ringan kejahatan yang mereka lakukan.

Apabila ada orang yang disiksa karena menyesatkan orang lain, sehingga dijatuhi hukuman sesuai dengan dosa orang yang disesatkan, bukan berarti orang yang menyesatkan itu menanggung dosa orang yang disesatkan.
Akan tetapi, orang yang menyesatkan itu dianggap berdosa karena menyesatkan orang lain.

Oleh sebab itu, ia dihukum sesuai dengan dosanya sendiri, dan ditambah dengan dosa menyesatkan orang.
Allah ﷻ berfirman:

لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ وَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). (An-Nahl [16]: 25)

Dan firman Allah:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka. (Al-‘Ankabut [29]: 13)

Di akhir ayat ini, disebutkan bahwa Allah tidak akan mengazab seseorang atau suatu kaum sebelum mengutus seorang rasul.
Maksudnya Allah tidak akan membebankan hukuman kepada orang-orang yang melakukan suatu perbuatan kecuali setelah mengutus seorang rasul untuk membacakan dan menerangkan ketentuan hukumannya.
Dengan demikian, ayat ini dipandang sebagai asas legalitas dalam pidana Islam.
Artinya, semua perbuatan yang diancam dengan hukuman haruslah terlebih dahulu diundangkan melalui sarana perundang-perundangan yang dapat menjamin bahwa peraturan ini dapat diketahui oleh seluruh rakyat.
Hal itu juga berarti bahwa sosialisasi perundang-undangan merupakan hal yang penting.

Ayat ini juga mengandung maksud bahwa Allah tidak akan membinasa-kan umat karena dosanya, sebelum mengutus seorang utusan yang memberi peringatan dan menyampaikan syariat Allah kepada mereka, dan memberi ancaman jika mereka membangkang dan tetap dalam pembangkangannya.
Allah ﷻ berfirman:

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌ ﴿۸﴾ قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ ﴿۹﴾

Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka,
"Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?"
Mereka menjawab,
"Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan,
"Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya dalam kesesatan yang besar."
(Al-Mulk [67]: 8-9)

Dan firman-Nya:

اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ

Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?
Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.
(Faathir [35]: 37)

Tafsir QS. Al Israa (17) : 15. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Barangsiapa mengikuti jalan yang benar, maka sesungguhnya manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Dan barangsiapa keluar dari jalan kebenaran, maka dosa ketersesatannya itu kembali kepada dirinya pula.


Seorang manusia yang berdosa tidak akan menanggung dosa manusia lainnya.
Tidaklah benar bagi Kami untuk menyiksa seseorang karena perbuatan buruknya, padahal Kami belum mengutus kepadanya seorang utusan Kami yang menunjukkan kepada kebenaran dan mencegah kebatilan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Barangsiapa yang mendapat petunjuk, dan mengikuti jalan kebenaran, maka pahalanya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Sebaliknya, barangsiapa yang menentang dan mengikuti jalan kebatilan, maka siksanya akan kembali kepada dirinya sendiri.


Jiwa yang berdosa tidak memikul dosa jiwa lainnya yang berdosa.
Allah tidak akan mengazab seorang pun kecuali setelah tegak hujjah atasnya, dengan diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Barang siapa berbuat sesuai dengan hidayah Allah, maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk keselamatan dirinya) karena pahala hidayahnya itu dia sendirilah yang memetiknya


(dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi kerugian dirinya sendiri) karena sesungguhnya dia sendirilah yang menanggung dosa sesatnya itu.


(Dan tidak dapat menanggung) seseorang


(yang berdosa) pelaku dosa, artinya ia tidak dapat menanggung


(dosa) orang


(lain, dan Kami tidak akan mengazab) seorang pun


(sebelum Kami mengutus seorang rasul) yang menjelaskan kepadanya apa yang seharusnya ia lakukan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan bahwa barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah dan mengikuti kebenaran serta menelusuri jejak Nabi ﷺ (yakni sunnahnya), maka sesungguhnya akibat yang baik dari perbuatannya yang terpuji itu hanyalah untuk dirinya sendiri.

…dan barang siapa yang sesat.

Yakni sesat dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus.
Maka dia hanyalah menganiaya dirinya sendiri, dan sesungguhnya akibat buruk dari perbuatannya itu akan menimpa dirinya sendiri.

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.

Maksudnya, tiada seorang pun yang memikul dosa orang lain, dan bagi orang yang berdosa, tiada lain akibatnya akan menimpa dirinya sendiri.
Ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosa itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun.
(QS. Faathir [35]: 18)

Tidak ada pertentangan antara makna ayat ini dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban (dosa orang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.
(QS. Al-‘Ankabut [29]: 13)

dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).
(QS. Al-Hijr [15]: 25)

Karena sesungguhnya orang-orang yang menyeru orang lain kepada kesesatan akan memperoleh dosanya sendiri dan juga dosa orang lain yang mereka sesatkan, tanpa mengurangi dosa mereka yang disesatkannya.
Tetapi para penyeru itu bukanlah sebagai penanggung dosa mereka yang disesatkannya.
Hal ini merupakan keadilan dan rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Pengertian ini terkandung pula di dalam firman selanjutnya, yaitu:

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.

Makna ayat ini menggambarkan tentang keadilan Allah subhanahu wa ta’ala., bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun melainkan setelah tegaknya hujah terhadap dirinya melalui rasul yang diutus oleh Allah kepadanya.
Di dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:

Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka,
"Apakah belum pernah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan?"
Mereka menjawab,
"Benar ada.
sesungguhnya lelah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya) dan kami katakan, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kalian tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar’."
(QS. Al-Mulk [67]: 8-9)

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu,
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan."
Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan?
Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.
(QS. Faathir [35]: 37)

Masih banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah tidak memasukkan seorang manusia pun ke dalam neraka kecuali setelah Allah mengutus rasul-Nya kepada mereka.
Berangkat dari pengertian ini ada sejumlah ulama yang membahas lafaz yang diutarakan secara mu’jamah dalam kitab Sahih Bukhari pada pembahasan tafsir firman-Nya:

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
(QS. Al-A’raf [7]: 56)

Sebuah hadis yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing, sedangkan teks hadis berikut menurut apa yang ada pada Imam Bukhari melalui hadis Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Harnmam, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Surga dan neraka bersengketa.
Yang di dalamnya antara lain disebutkan:
Adapun neraka, maka ia tidak merasa kenyang dengan penghuninya sehingga Allah meletakan telapak kaki kekuasaan-Nya ke dalam neraka, maka barulah neraka berkata,
"Cukup, cukup."
Saat itulah neraka penuh dan sebagian darinya memisahkan diri dari sebagian lainnya.
Dan Allah tidak berbuat aniaya terhadap seorang pun dari makhluk-Nya.
Adapun surga, sesungguhnya Allah membuatkan baginya makhluk (yang baru).

Masih ada suatu masalah yang diperselisihkan di kalangan para imam sejak masa dahulu hingga sekarang, yaitu mengenai dua orang anak yang meninggal dunia pada waktu masih kecil, sedangkan orang tua mereka kafir, maka bagaimanakah hukum mereka?
Demikian pula halnya orang gila, orang tua yang pikun, orang tuli, serta orang yang meninggal dalam masa fatrah (kekosongan dari nabi) dan dakwah Islam masih belum sampai kepadanya.
Perihal mereka disebutkan oleh hadis-hadis yang akan kami kemukakan dengan seijin Allah, taufik, dan pertolonganNya berikut ini.
Kemudian kami sebutkan pula sebuah pasal ringkas tentang pendapat para imam mengenai masalah ini.
Hanya kepada Allahlah kami memohon pertolongan.

Hadis pertama, dari Al-Aswad ibnu Sari’.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari Al-Aswad ibnu Sari’, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Empat orang akan mengajukan alasannya kelak dihari kiamat, yaitu seorang lelaki tuli yang tidak dapat mendengar suara apa pun, seorang lelaki dungu (idiot), seorang lelaki pikun, dan seorang lelaki yang mati di masa fatrah.
Orang yang tuli mengajukan alasannya,
"Wahai Tuhanku, Islam telah datang, tetapi saya tidak dapat mendengar apa pun."
Orang yang dungu beralasan,
"Wahai Tuhanku, Islam telah datang, sedangkan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran ternak (yang kering)."
Orang yang pikun beralasan,
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya Islam telah datang, tetapi saya tidak ingat akan sesuatu pun."
Orang yang meninggal dalam masa fatrah beralasan,
"Wahai Tuhanku, tiada seorang pun dari rasul-Mu yang datang kepadaku."
Maka Allah mengambil janji dari mereka, bahwasanya mereka harus benar-benar taat kepada-Nya.
Setelah itu diperintahkan agar mereka dimasukkan ke dalam neraka.
Maka demi Tuhan yang jiwa Muhammad ini berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya mereka memasukinya, tentulah neraka itu menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka.

Hadis kedua, diriwayatkan melalui Anas ibnu Malik.


Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’, dari Yazid (yakni Ibnu Aban) yang menceritakan, kami pernah bertanya kepada Artas,
"Wahai Abu Hamzah (julukan Anas), bagaimanakah pendapatmu tentang anak orang-orang musyrik?"
maka Anas ibnu Malik menjawab bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan masalah mereka:
Mereka tidak mempunyai dosa-dosa yang menyebabkan mereka diazab karenanya, lalu mereka menjadi ahli neraka.
Dan mereka tidak mempunyai amal-amal baik yang menyebabkan mereka beroleh pahala karenanya, lalu mereka menjadi ahli surga.

Hadis ketiga, diriwayatkan melalui Anas pula.


Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Lais, dari Abul Waris, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
"Dihadapkan empat macam orang kelak di hari kiamat.
Yaitu anak yang baru lahir (lalu mati), orang yang dungu, dan orang yang mati dalam masa fatrah serta orang yang pikun.
Masing-masing dari mereka mengemukakan alasan membela dirinya.
Lalu Allah berfirman kepada salah satu leher neraka, ‘Keluarlah kamu.’ Dan Allah berfirman kepada mereka, ‘Sesungguhnya dahulu Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku kepada hamba-hamba-Ku dari kalangan mereka sendiri, dan sesungguhnya Aku sekarang adalah utusan diri-Ku sendiri kepada kalian.
Masuklah kalian ke dalam neraka ini!’."
Rasul ﷺ melanjutkan kisahnya, bahwa lalu berkatalah orang yang ditakdirkan celaka,
"Wahai Tuhanku, bagaimanakah kami masuk ke dalam neraka, sedangkan kami menghindar darinya?"
Sedangkan orang-orang yang telah ditakdirkan berbahagia berjalan terus memenuhi perintah-Nya dan masuk dengan cepat ke dalam neraka.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman,
"Kalian lebih mendustakan dan lebih durhaka terhadap utusan-utusan-Ku."
Maka mereka yang berbahagia masuk ke dalam surga, dan mereka yang celaka masuk neraka.

Hadis keempat, diriwayatkan melalui Al-Barra ibnu Azib r.a.

Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qasim ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah (yakni Ibnu Daud), dari Umar ibnu Zar, dari Yazid ibnu Umayyah, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang anak-anak orang-orang muslim, maka beliau ﷺ menjawab,
"Mereka akan bersama-sama dengan ayah-ayahnya."
Dan beliau ditanya tentang anak-anak kaum musyrik, maka beliau ﷺ menjawab,
"Mereka akan bersama-sama dengan ayah-ayahnya."
Ketika ditanyakan,
"Wahai Rasulullah, anak-anak kaum musyrik itu masih belum beramal?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Allah lebih mengetahui tentang mereka."

Hadis kelima, diriwayatkan melalui Sauban.


Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr ibnu Abdul Khaliq Al-Bazzar di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa’id Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Raihan ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Mansur, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban, bahwa Nabi ﷺ memberatkan masalah ini.
Maka beliau ﷺ bersabda:
Apabila hari kiamat tiba, orang-orang Jahiliyah datang dengan membawa dosa-dosa mereka di punggungnya.
Lalu Tuhan menanyai mereka, dan mereka menjawab,
"Wahai Tuhan kami.
Engkau tidak mengutus seorang rasul pun kepada kami, dan tidak pernah pula datang suatu perintah pun dari Engkau.
Seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang rasul, tentulah kami akan menjadi seorang yang paling taat di antara hamba-hamba-Mu."
Allah berfirman kepada mereka,
"Bagaimanakah pendapat kalian jika Aku perintahkan kalian suatu perintah?
Apakah kalian mau taat kepada-Ku?"

Mereka menjawab,
"Ya."
Maka Allah memerintahkan kepada mereka untuk berangkat menuju neraka Jahannam dan memasukinya.
Tetapi ketika mereka telah berada di dekat neraka Jahannam.
mereka menjumpainya sedang bergejolak dan bersuara gemuruh, akhirnya mereka kembali kepada Tuhannya.
Dan mereka mengatakan,
"Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami,"
atau
"Lindungilah kami dari neraka Jahannam."
Allah berfirman kepada mereka."Bukankah tadi kalian mengatakan bahwa jika Aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka kalian akan taat kepada-Ku?"
Maka Allah mengambil janji dari mereka untuk hal tersebut, lalu berfirman,
"Pergilah kalian ke neraka dan masuklah ke dalamnya!"
Maka mereka pun berangkat.
Dan ketika mereka melihat neraka, rasa takut menimpa mereka, lalu mereka kembali dan berkata,
"Wahai Tuhan kami, kami takut kepada neraka, dan kami tidak mampu memasukinya."

Lalu Allah berfirman,
"Masuklah kalian ke dalam neraka dengan hina dina!’ Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya:
Seandainya mereka masuk ke dalam neraka pada yang pertama kali, tentulah neraka menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka.

Hadis keenam, diriwayatkan melalui Abu Sa’id alias Sa’d Ibnu Malik Ibnu Sinan Al-Khudri.

Imam Muhammad ibnu Yahya Az Zuhali mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, dari Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ, pernah bersabda:
Orang yang mati di masa fatrah dan orang yang akalnya kurang (sangat idiot) serta anak yang baru lahir (mengadu).
Orang yang mati di masa fatrah berkata,
"Tiada suatu kitab pun yang didatangkan kepadaku."
Orang yang dungu berkata,
"Wahai Tuhanku, Engkau tidak membekaliku dengan akal yang dengannya saya dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk."
Anak yang baru lahir berkata,
"Wahai Tuhanku, saya masih belum mencapai usia balig."
Lalu diangkatlah neraka dari mereka, kemudian dikatakan kepada mereka,
"Masuklah kalian ke dalam neraka!"
Maka dihindarkanlah dari neraka orang-orang yang tercatat di dalam ilmu Allah menjadi orang-orang yang berbahagia seandainya dia sempat beramal.
Dan dibiarkan di neraka orang-orang yang menurut ilmu Allah menjadi orang yang celaka seandainya dia sempat beramal.
Dan Allah berfirman (kepada yang masuk neraka),
"Kalian durhaka kepada-Ku, maka bagaimanakah kalian (jadinya) bila utusan-utusan-Ku datang kepada kalian?"

Hadis ketujuh, diriwayatkan melalui Mu’az ibnu Jabal r.a.

Hisyam ibnu Ammar dan Muhammad ibnul Mubarak As-Suri mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Waqid, dari Yunus ibnu Jalis, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Mu’az ibnu Jabal, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Kelak di hari kiamat dihadapkan seorang yang kurang akalnya, orang yang mati di masa fatrah, dan orang yang mati masih kecil.
Maka berkatalah orang yang kurang akalnya,
"Wahai Tuhanku, seandainya Engkau memberiku akal, tentulah orang yang Engkau beri akal tidaklah lebih bahagia keadaannya daripada aku."
Kemudian orang yang meninggal dunia di masa fatrah dan orang yang meninggal dunia pada waktu masih berusia kecil (belum balig) mengatakan hal yang sama:
Maka Tuhan yang Mahaagung lagi Mahamulia berfirman,
"sesungguhnya Aku- akan memerintahkan sesuatu kepada kalian, apakah kalian akan taat kepada-Ku?"
Mereka menjawab,
"Ya."

Allah berfirman,
"Pergilah dan masuklah kalian ke dalam neraka."
Nabi ﷺ bersabda,
"Seandainya mereka langsung masuk ke dalam neraka, tentulah neraka tidak akan membahayakan mereka."
Maka pijar-pijar api neraka keluar dari dalam neraka menyambut mereka, sehingga mereka menduga bahwa neraka akan membinasakan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah.
Karena itulah maka mereka kembali dengan cepat.
Kemudian Allah memerintahkan hal itu kepada mereka untuk kedua kalinya, tetapi mereka kembali lagi sama dengan sebelumnya.
Maka Tuhan berfirman,
"Sebelumnya Aku menciptakan kalian, Aku mengetahui segala sesuatu yang akan kalian kerjakan.
Penciptaan kalian telah berada di dalam pengetahuan-Ku dan tempat kembali kalian telah berada di dalam pengetahuan-Ku.
Hai neraka, Ambillah mereka!"
Maka neraka mengambil mereka.

Hadis kedelapan, diriwayatkan melalui Abu Hurairah.

Hadis ini telah disebutkan jauh sebelum ini, yang riwayatnya digabungkan menjadi satu dengan riwayat Al-Aswad ibnu Sari’.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui sahabat Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani, atau seorang Majusi.
Perihalnya sama dengan binatang ternak yang melahirkan anaknya, dalam keadaan utuh, maka sudah barang tentu kalian tidak akan menjumpai adanya cacat tubuh pada anaknya.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Iyad ibnu Hammad, dari Rasulullah ﷺ, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:

Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif.
Menurut riwayat lainnya disebutkan:
dalam keadaan muslim.

Di antara ulama ada yang memastikan bahwa anak-anak kaum musyrik dimasukkan ke dalam neraka, karena berdasarkan kepada sabda Nabi ﷺ yang mengatakan:
Mereka (anak-anak kaum musyrik) tinggal bersama orang tua-orang tuanya (yakni di dalam neraka).

Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak kaum musyrik pada hari kiamat kelak diuji di tempat penantian.
Barang siapa yang taat, masuk surga, lalu dibukakan ilmu Allah tentang mereka yang di dalamnya tercatat kebahagiaan bagi mereka.
Dan barang siapa yang durhaka, masuk neraka, lalu dibukakan ilmu Allah tentang nasib mereka di masa mendatang yang di dalamnya tercatat bahwa mereka termasuk orang-orang yang celaka (masuk neraka).

Pandapat terakhir ini merupakan kesimpulan dari gabungan semua dalil mengenainya.
Hal ini telah dijelaskan oleh hadis-hadis tadi yang sebagian darinya memperkuat sebagian yang lain dan sekaligus sebagai bukti yang menguatkannya.
Pendapat inilah yang diceritakan oleh Syekh Abul Hasan Ali ibnu Ismail Al-Asy’ari, dari ulama ahli sunnah wal jama’ah.
Dan pendapat ini pula yang didukung oleh Al-Hafiz, Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam Kitabul ‘Itiqad, begitu pula oleh yang lainnya dari kalangan ahli tahqiq, huffaz, dan para kritikus.

Tetapi Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar An-Namiri sesudah mengetengahkan hadis-hadis mengenai ujian tadi mengatakan bahwa hadis-hadis mengenai bab ini kurang kuat dan tidak dapat dijadikan sebagai hujah.
Ahlul ‘ilmi jelas menolak pendapat ini karena sesungguhnya kampung akhirat itu adalah kampung pembalasan, bukan kampung amal, bukan pula kampung ujian.
Maka mana mungkin mereka dipaksa untuk masuk neraka, padahal hal ini di luar kemampuan semua makhluk, dan tidak sekali-kali Allah membebankan kepada seseorang melainkan menurut kemampuannya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis mengenai masalah ini sebagian di antaranya ada yang sahih, seperti yang dinas-kan oleh kebanyakan para imam dan ulama.
Di antaranya ada yang berpredikat hasan, ada juga yang berpredikat daif, tetapi menjadi kuat karena ada hadis sahih yang semakna dengannya atau hadis hasan.

Apabila hadis-hadis dalam satu bab berkaitan dan saling menguatkan satu sama lainnya sesuai dengan kriteria di atas, maka hadis-hadis tersebut dapat dijadikan sebagai hujah menurut orang-orang yang merenungkannya secara mendalam.

Adapun mengenai alasan yang mengatakan bahwa kampung akhirat adalah kampung pembalasan, tiada seorang pun yang meragukannya sebagai kampung pembalasan.
Tetapi hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya beban taklif di tempat penantian sebelum masuk surga atau masuk neraka, seperti yang diriwayatkan oleh Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari dari kalangan mazhab ahli sunnah wal jama’ah yang mengatakan bahwa adanya ujian bagi anak-anak.
Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, (QS. Al-Qalam [68]: 42), hingga akhir ayat.

Di dalam kitab-kitab sahih dan kitab-kitab lainnya disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak orang-orang mukmin bersujud kepada Allah.
Dan bahwa orang-orang munafik tidak mampu melakukannya, melainkan punggungnya kembali tegak menjadi seperti sebuah papan yang berdiri tegak.
Setiap kali ia hendak melakukan sujud, maka punggungnya menolak dan kembali menjadi tegak, sejajar dengan tengkuknya.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan tentang seorang lelaki penghuni neraka yang paling akhir dikeluarkan dari neraka, Allah mengambil janji sumpahnya, bahwa ia tidak boleh meminta selain dari apa yang diberikan kepadanya.
Hal ini terjadi berkali-kali.
Akhirnya Allah berfirman,
"Hai anak Adam, betapa ingkar janjinya kamu."
Lalu Allah mengizinkannya untuk masuk surga.

Adapun mengenai pendapat yang mengatakan bahwa mana mungkin Allah memerintahkan kepada mereka untuk masuk neraka, padahal hal itu di luar kemampuan mereka.
Maka sesungguhnya hal ini tidaklah bertentangan dengan kesahihan hadis mengenainya, karena sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk melewati sirat.
Sirat adalah sebuah jembatan yang terletak di atas neraka Jahannam, yang bentuknya lebih kecil daripada sebilah rambut dan lebih tajam daripada pedang.

Orang-orang mukmin melewatinya sesuai dengan amal perbuatan masing-masing, ada yang seperti kilat dan angin yang menyambar, ada yang cepatnya seperti kuda dan kendaraan yang sangat kencang, ada yang cepatnya seperti unta berjalan, dan di antara mereka ada yang berjalan kaki, ada pula yang berjalan biasa.
Di antara mereka ada yang merangkak, ada pula yang merayap dengan tubuh yang penuh luka, lalu masuk ke dalam neraka.

Apa yang disebutkan di dalam hadis mengenai mereka yang diperintahkan untuk memasuki neraka bukanlah tidak lebih berat daripada apa yang disebutkan dalam hadis di atas.
Bahkan apa yang disebutkan oleh hadis mengenai sirat jauh lebih mengerikan dan lebih berat.

Di dalam sunnah pun telah disebutkan bahwa kelak Dajjal membawa surga dan nerakanya sendiri.
Pentasyri’ memerintahkan kepada orang-orang yang beriman yang menjumpai masanya, agar seseorang dari mereka meminum dari tempat yang kelihatannya seperti neraka, karena sesungguhnya kelak neraka itu akan menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya.
Apa yang disebutkan dalam hadis ini semisal dengan hadis tadi yang menyebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada mereka untuk masuk neraka.

Allah juga pernah memerintahkan kepada kaum Bani Israil untuk saling membunuh di antara sesama mereka.
Lalu mereka saling membunuh, sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lainnya hingga matilah semua orang yang diperintahkan untuk membunuh itu.
Menurut suatu pendapat, dalam masa sehari telah terbunuh tujuh puluh ribu orang.
Seorang lelaki membunuh ayahnya dan saudaranya karena mereka berada dalam cuaca gelap gulita akibat mendung yang dikirimkan oleh Allah kepada mereka.
Demikian itu terjadi atas mereka sebagai hukuman terhadap mereka yang menyembah berhala anak sapi.
Hal ini pun sangat berat dilakukannya, dan kenyataan ini tidaklah terbatas hanya pada hadis yang telah disebutkan di atas (mengenai perintah masuk neraka).

Apabila hal ini telah jelas, sesungguhnya para ulama masih memperselisihkan tentang anak-anak kaum musyrik.
Ada dua pendapat di kalangan mereka.

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa mereka dimasukkan ke dalam surga.
Orang-orang yang berpendapat demikian beralasan dengan hadis Samurah yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ (dalam perjalanan Isra-nya) melihat anak-anak kaum muslim dan kaum musyrik ada bersama Nabi Ibrahim.
Juga beralasan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad melalui Khansa, dari pamannya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Anak yang baru lahir berada di dalam surga.

Dalil ini memang sahih, tetapi hadis-hadis yang menyebutkan adanya ujian di hari kiamat lebih khusus lagi daripada dalil ini.
Anak yang menurut ilmu Allah kelak akan menjadi orang yang taat, rohnya di alam Barzakh bersama Nabi Ibrahim dan anak-anak kaum muslim yang mati dalam keadaan fitrah (yakni masih anak-anak dan belum berusia balig).
Dan anak yang menurut ilmu Allah kelak tidak taat, maka perkaranya diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala., dan kelak di hari kiamat ia akan di masukkan ke dalam neraka, seperti apa yang di tunjukkan oleh hadis-hadis imtihan (ujian) yang dinukil oleh Al-Asy’ari dari kalangan ulama ahli sunnah.

Kemudian mereka yang berpendapat bahwa anak-anak tersebut berada di dalam surga, di antara anak-anak tersebut ada yang di jadikan hidup bebas di dalam surga, dan di antara mereka ada yang dijadikan sebagai pelayan-pelayan ahli surga, seperti yang disebutkan di dalam hadis Ali ibnu Zaid, dari Anas yang ada pada Imam Abu Daud At-Tayalisi.
Hadis ini daif.

Kedua, yaitu yang mengatakan bahwa anak-anak kaum musyrik tinggal bersama ayah-ayah mereka, yakni di dalam neraka.
Pendapat ini berdalilkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal melalui Abul Mugirah:

Telah menceritakan kepada kami Atabah ibnu Damrah ibnu Habib, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Qais maula Gatif, bahwa ia datang kepada Siti Aisyah, lalu bertanya kepadanya mengenai nasib anak-anak kaum Kuffar.
Maka Siti Aisyah menjawabnya dengan hadis Rasul ﷺ yang mengatakan:
"Mereka mengikuti kepada ayah-ayah mereka."
Saya (Aisyah) bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah demikian sekalipun mereka tidak beramal?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka amalkan (bila terus hidup)."

Imam Abu Daud mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Muhammad ibnu Harb, dari Muhammad ibnu Ziyad Al-Ilhani, ia pernah mendengar Abdullah ibnu Abu Qais mengatakan bahwa ia pernah mendengar Siti Aisyah menceritakan hadis berikut:

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang nasib anak-anak kaum mukmin.
Maka beliau ﷺ menjawab,
"Mereka ada bersama ayah-ayah mereka (yakni di dalam surga)."
Saya bertanya lagi,
"Bagaimanakah dengan nasib anak-anak kaum musyrik?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Mereka tinggal bersama ayah-ayah mereka."
Saya bertanya,
"Sekalipun tanpa amal?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka kerjakan."

Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Abu Zaidah, dari ayahnya, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Wanita yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup dan anaknya yang dikuburnya hidup-hidup, keduanya berada di dalam neraka.

Kemudian Asy-Sya’bi mengatakan,
"Hadis ini telah diriwayatkan kepadaku oleh Alqamah, dari Abu Wa-il, dari Ibnu Mas’ud."


Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Jama’ah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Salamah ibnu Qais Al-Asyja’i yang mengatakan,
"Aku dan saudaraku datang kepada Nabi ﷺ, lalu kami bertanya, ‘ Sesungguhnya ibu kami telah meninggal dunia dimasa Jahiliah, padahal dahulu dia adalah seorang yang suka menghormati tamu, suka bersilaturahmi, tetapi ia pernah mengubur hidup-hidup saudara perempuannya yang belum balig di masa Jahiliah.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

‘Wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuan dan anak perempuan yang dikuburnya hidup-hidup (keduanya) berada di dalam neraka, terkecuali bila si wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya itu menjumpai masa Islam, lalu masuk Islam’."

Pendapat terakhir mengatakan bahwa segala sesuatunya diserahkan kepada Allah.
Dengan kata lain, mereka bersikap abstain, dan mereka melandasi pendapatnya dengan hadis Nabi ﷺ yang mengatakan:
Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Hal ini di dalam kitab Sahihuin disebutkan melalui hadis Ja’far ibnu Abu Iyas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik.
Beliau ﷺ menjawab:

Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Akan tetapi, di antara ulama ada yang berpendapat bahwa mereka dijadikan oleh Allah untuk menghuni Al-A’raf (tembok-tembok yang tinggi yang membatasi antara surga dan neraka).
Pendapat ini merujuk kepada pendapat yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli surga, karena sesungguhnya Al-A’raf bukanlah tempat untuk menetap, dan tempat kembali para penduduknya tiada lain adalah surga, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam tafsir surat Al-A’raf.

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ini menyangkut anak-anak kaum musyrik.
Adapun anak-anak orang-orang mukmin, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenainya, seperti yang diceritakan oleh Abu Ya’la ibnul Farra Al-Hambali, dari Imam Ahmad yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang anak-anak kaum muslim, semua bersepakat bahwa mereka termasuk ahli surga.
Pendapat inilah yang terkenal di kalangan orang-orang banyak, dan pendapat ini pulalah yang dapat kita buktikan kebenarannya.

Dalam masalah ini mereka menyebutkan pula hadis Aisyah binti Talhah, dari Aisyah Ummul Mu’minin yang menceritakan bahwa:


Nabi ﷺ diundang untuk mengurusi jenazah seorang anak dari kalangan Ansar.
Maka saya (Aisyah) berkata,
"Wahai Rasulullah, beruntunglah anak ini, dia menjadi seekor burung pipit surga, tidak pernah melakukan suatu dosa dan tidak pula menjumpainya."
Maka Nabi ﷺ bersabda:
Hai Aisyah, tidaklah demikian keadaannya.
Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka.
Dan Allah menciptakan neraka serta menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka.

Hadis riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah.

Mengingat pembahasan dalam masalah ini memerlukan dalil-dalil yang sahih lagi baik — sedangkan orang-orang banyak yang mengutarakan pendapatnya mengenai masalah ini, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan dari pentasyri’ mengenainya—maka sejumlah ulama memakruhkan pembahasan masalah ini.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 15

Ibnu abdul Barr meriwayatkan dalam at-Tamhid dengan sanad yang lemah dari Aisyah.
Khadijah pernah bertanya kepda Rasulullah tentang anak-anak musyrikin.
Beliau menjawab, ‘mereka bersama-sama dengan orang tua mereka’.
Kemudian aku bertanya setelah itu dan beliau menjawab,’Allah lebih mengetahui apa yang dahulu mereka perbuat.’ Aku kembali bertanya setelah islam sempurna.
Maka turunlah ayat ini.
Beliau bersabda.’mereka berada di atas fitrah” aau bersabda, ‘…..
di surga’.

Sumber : Ashabun Nuzul – Jalaluddin As-Suyuthi.

Unsur Pokok Surah Al Israa (الإسراء)

Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Muhammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" artinya keturunan Israil, berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

▪ Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat.
▪ Allah pasti memberi rezeki kepada manusia.
▪ Allah mempunyai nama-nama yang paling baik.
▪ Alquran adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
▪ Adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

▪ Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia.
▪ Berzina.
▪ Mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan agama.
▪ Ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
▪ Durhaka kepada ibu bapak.
▪ Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan takaran, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

▪ Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya.
▪ Beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat.
▪ Petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat.
▪ Manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru.
▪ Persoalan roh.

Audio Murottal

QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 111 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 111

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Israa ayat 15 - Gambar 1 Surah Al Israa ayat 15 - Gambar 2
Statistik QS. 17:15
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti “memperjalankan di malam hari”.
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
Sending
User Review
4.5 (21 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

17:15, 17 15, 17-15, Surah Al Israa 15, Tafsir surat AlIsraa 15, Quran Al Isra 15, Al-Isra' 15, Surah Al Isra ayat 15

Video Surah

17:15


Load More

Kandungan Surah Al Israa

۞ QS. 17:1 • Sifat Kamal (sempurna) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 17:2 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitabHikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 17:5 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 17:6 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 17:7 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:8 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:9 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 17:10 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:12 • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:13 • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:14 • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:15 • Hukum alam • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 17:16 • Hukum alam • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 17:17 Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:18 Sifat Iradah (berkeinginan) • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 17:19 • Keutamaan iman • Kebaikan yang ada di alam akhirat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Pentingnya berbuat dengan teliti •

۞ QS. 17:20 Ar Rabb (Tuhan) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 17:21 • Perbedaan derajat di surga • Kebaikan yang ada di alam akhirat • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 17:22 Tauhid Uluhiyyah • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:23 Tauhid Uluhiyyah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:25 • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 17:27 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 17:28 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 17:31 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 17:36 • Keluasan ilmu Allah • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 17:38 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:39 Tauhid Uluhiyyah • Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:40 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:41 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:42 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah

۞ QS. 17:43 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mensucikan Allah dari segala sekutu

۞ QS. 17:44 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 17:45 • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:46 Ar Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:47 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:48 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:49 • Cobaan kubur • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 17:50 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 17:51 • Kekuasaan Allah • Kiamat telah dekat • Mengingkari hari kebangkitan • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:52 • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 17:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:55 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:56 • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 17:57 • Memohon hanya kepada Allah • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Mengharap wasilah (kedudukan) • Peringatan Allah terhadap hambaNya

۞ QS. 17:58 • Kebenaran dan hakikat takdir • Penentuan takdir sebelum penciptaan • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:60 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Pohon zaqquum (terkutuk) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:63 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 17:64 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 17:65 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Ar Rabb (Tuhan) • Al Wakil (Maha Penolong) • Menjaga diri dari syetan •

۞ QS. 17:66 • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 17:67 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:68 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 17:69 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 17:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 17:71 • Kebenaran hari penghimpunan • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:72 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:73 • Mendustai Allah

۞ QS. 17:75 • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 17:76 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 17:78 • Pertemuan malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang

۞ QS. 17:79 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:80 Ar Rabb (Tuhan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:84 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 17:85 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Hakikat ruh

۞ QS. 17:86 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 17:87 • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:89 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:90 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:91 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:92 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:93 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:94 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:95 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:96 • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 17:97 • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Al Wali (Maha Pelindung) • Kebenaran hari penghimpunan • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 17:98 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:99 • Kekuasaan Allah • Al Qaadir (Maha Kuasa) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:100 • Santunan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:102 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:103 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 17:104 • Kekuasaan Allah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 17:107 • Cacian Allah terhadap orang kafir

۞ QS. 17:108 • Allah menepati janji • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:110 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Berdoa dengan Asma’ul Husna • Al Rahman (Maha Pengasih)

۞ QS. 17:111 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Sifat Mukhalafah (berbeda dengan makhluk) • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya

Ayat Pilihan

Masa (kejayaan & kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia,
agar mereka mendapat pelajaran. Semua itu dilakukan agar menjadi cobaan bagi orang Mukmin,
di samping agar Allah memberikan kelebihan kepada orang yang tegar imannya.
QS. Ali ‘Imran [3]: 140

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa,
maka barang siapa memaafkan & berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
QS. Asy-Syura [42]: 40

Dia Pencipta langit & bumi.
Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri.
Dia menciptakan segala sesuatu,
dan Dia mengetahui segala sesuatu.
QS. Al-An’am [6]: 101

Allah haramkan bangkai, darah, daging babi & binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tapi siapa dalam keadaan terpaksa (memakan) sedang ia tak menginginkannya & tak (pula) melampaui batas, maka tak ada dosa baginya
QS. Al-Baqarah [2]: 173

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang ...

Correct! Wrong!

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan ...

Correct! Wrong!

Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu ...

Correct! Wrong!

+

Array

Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah ...

Correct! Wrong!

Surah yang menjelaskan bahwa ''Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta'', yaitu ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #19
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #19 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #19 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Pendidikan Agama Islam #16

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya … Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah … Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai … Yang berarti ”menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti …

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan… ..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … sebagai … Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah… .. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Arti al-Kaafirun adalah … Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu …

Kamus Istilah Islam

uzlah

Apa itu uzlah? uz.lah pengasingan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala. … •

Tabiat

Apa itu Tabiat? ta.bi.at perangai; watak; budi pekerti; perbuatan yang selalu dilakukan; kelakuan; tingkah laku … •

Al-Kausar

Apa itu Al-Kausar? Surah Al-Kausar adalah surah ke-108 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat yang menjadi surah terpendek dalam Alquran. Kata Al-Kausar sendiri berarti nikmat yang banyak dan diambil dari ayat pertama dari surah ini artinya karunia Allah subhanahu wa ta’ala berupa telaga Al Kautsar bagi orang-orang penghun … • Al-Kausar, Al-Kautsar, Al Kautsar