Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 111


وَ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ وَلِیٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ تَکۡبِیۡرًا
Waqulil hamdu lillahil-ladzii lam yattakhidz waladan walam yakun lahu syariikun fiil mulki walam yakun lahu walii-yun minadz-dzulli wakabbirhu takbiiran;

Dan katakanlah:
“Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.
―QS. 17:111
Topik ▪ Al Qur’an turun dengan bahasa suku Quraisy
17:111, 17 111, 17-111, Al Israa 111, AlIsraa 111, Al Isra 111, Al-Isra’ 111
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 111. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah Allah subhanahu wa ta'ala pada ayat yang lalu menyuruh Nabi agar menyeru Nya dengan nama-nama yang baik, maka pada ayat ini Nabi diajari cara memuji Allah subhanahu wa ta'ala yang memiliki sifat-sifat ke Maha Esaan, kesempurnaan dan keagungan, karena itu hanya Dia sendiri yang berhak menerima segala macam puji-pujian dan kesyukuran dari para hamba dan makhluk Nya atas segala nikmat yang diberikan Nya kepada mereka.

Ayat ini menjelaskan tiga sifat bagi Allah subhanahu wa ta'ala:

Pertama:
Bahwa sesungguhnya Dia tidak memiliki anak, karena siapa yang memiliki anak tentu Dia tidak menikmati segala nikmat yang dia miliki, tetapi sebagian nikmat itu dipersiapkan untuk anaknya yang menggantikannya bilamana dia sudah meninggal dunia.
Maha Suci Allah subhanahu wa ta'ala dari sifat demikian.
Orang yang punya anak itu terhalang untuk menikmati haknya dengan penuh dalam segala keadaan.
Sebab itu tidak patutlah dia menerima pujian dari segala makhluk.
Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan dan membantah pandangan orang Yahudi yang mengatakan "Uzair" putra Tuhan, dan pendapat orang Nasrani yang mengatakan bahwa "Al Masih" putra Tuhan, atau anggapan orang-orang musyrikin "malaikat-malaikat" itu putra-putra Tuhan.

Kedua:
Bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidak mempunyai sekutu (syirik) dalam kerajaan Nya.
Sekiranya ada sekutunya tentulah terdapat kesulitan untuk menentukan mana di antara keduanya yang berhak menerima pujian, kesyukuran dan pengabdian para makhluk, dan salah satu di antaranya tentu memerlukan pertolongan dari yang lainnya dan akhirnya tidak ada satupun yang menyendiri dan berdaulat secara mutlak di atas alam ini.

Ketiga:
Bahwa sesungguhnya tak seorangpun di antara orang-orang yang hina diberi Nya kekuasaan yang akan melindunginya dari musuh yang menghinanya.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta'ala Suci dari segala sifat-sifat yang mengurangi kesempurnaan Nya, agar para hamba Nya tidak ragu-ragu memanjatkan doa, syukur dan pujian kepada Nya.
Kemudian Nabi ﷺ diperintahkan Nya untuk mengagungkan Allah baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Mengagungkan Allah itu, adalah sebagai berikut:

Pertama:
Mengagungkan Allah subhanahu wa ta'ala pada Zat Nya dengan mengiktikadkan bahwa Allah itu wajib ada Nya karena Zat Nya sendiri tidak karena sesuatu yang lain.
Dia tidak memerlukan sesuatu dari wujud ini.

Kedua:
Mengagungkan Allah subhanahu wa ta'ala pada sifat Nya, dengan mengiktikadkan bahwa hanya Dialah yang memiliki segala sifat-sifat kesempurnaan dan jauh dari sifat-sifat kekurangan.

Ketiga:
Mengagungkan Allah subhanahu wa ta'ala pada af'al Nya (perbuatan Nya) dengan mengiktikadkan bahwa tidak ada suatupun yang terjadi dalam alam ini, melainkan sesuai dengan hikmah dan kehendak Nya.

Keempat:
Mengagungkan Allah subhanahu wa ta'ala pada hukum-hukum Nya, dengan mengiktikadkan bahwa hanya Dialah yang menjadi Penguasa yang ditaati dalam alam semesta ini yang pada Nya terletak perintah dan larangan.
Tidak ada seorangpun yang dapat membatasi dan membatalkan segala ketentuan Nya atas sesuatu, Dialah yang memuliakan dan Dia pula yang menghinakan orang-orang yang Dia kehendaki.

Kelima:
Mengagungkan pada nama-nama Nya, ialah menyeru dan menyebut Allah dengan nama-nama yang baik (Al Asmaul Husna).
Tidak mensifatkan Tuhan melainkan dengan sifat-sifat kesucian dan kesempurnaan.

Al Israa (17) ayat 111 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 111 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 111 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, karena Dia tidak membutuhkannya, yang tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya, karena Dialah yang menciptakannya, dan yang tidak mempunyai penolong yang memberi-Nya kemuliaan dan menjaga-Nya dari kehinaan." Dan agungkanlah Tuhanmu sesuai dengan keagungan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong) untuk menjaga-Nya (dari) sebab (kehinaan) artinya Dia tidak dapat dihina karenanya Dia tidak membutuhkan penolong (dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya) artinya besarkanlah Dia dengan pengagungan yang sempurna daripada sifat memiliki anak, mempunyai sekutu, hina dan hal-hal lain yang tidak layak bagi keagungan dan kebesaran-Nya.
Urutan pujian dalam bentuk demikian untuk menunjukkan bahwa Dialah yang berhak untuk mendapatkan semua pujian mengingat kesempurnaan Zat-Nya dan kesendirian-Nya di dalam sifat-sifat-Nya.
Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya meriwayatkan sebuah hadis melalui Muaz Al-Juhani dari Rasulullah ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Tanda kemuliaan ialah (kalimat):
Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya," sampai dengan akhir surat.
Wallahu a`lam.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah, wahai Rasul :
Segala puji bagi Allah yang memiliki kesempurnaan dam sanjungan, yang disucikan dari memiliki anak dan sekutu dalam uluhiyyah-Nya.
Dia tidak mempunyai penolong dari makhluk-Nya, karena Dia Mahakaya (tidak membutuhkan makhluk-Nya) lagi Mahakuat, sedangkan mereka fakir lagi membutuhkan kepada-Nya.
Karena itu, agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sempurna, dengan memuji-Nya dan beribadah kepada-Nya semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta memurnikan seluruh ketaatan hanya untuk-Nya semata.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya, "Hai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik yang mengingkari sifat rahmat Allah," yaitu mereka yang tidak mau menyebut Allah dengan sebutan Ar-Rahman:

Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asma-ul husna (nama-nama yang terbaik).

Yakni tidak ada bedanya bila kalian menyeru-Nya dengan sebutan Allah atau sebutan Ar-Rahman, karena sesungguhnya Dia mempunyai nama-nama yang terbaik.
Di dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(Al Hasyr:22)

sampai dengan firman-Nya:

Yang mempunyai nama-nama yang terbaik.
Bertasbihlah kepa­da-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.
(Al Hasyr:24), hingga akhir ayat.

Makhul pernah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan kaum musyrik mendengar Nabi ﷺ mengatakan dalam sujudnya:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak."

Setelah Allah subhanahu wa ta'ala menetapkan bahwa diri-Nya mempunyai asma-asma yang terbaik, lalu Dia menyucikan diri-Nya dari semua bentuk kekurang­an.
Untuk itu Dia berfirman:

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya."

Bahkan Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

...dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehina­an.

Yakni Dia tidaklah hina yang karenanya Dia memerlukan penolong atau pembantu atau penasihat, bahkan Dia adalah Mahatinggi, Pencipta segala sesuatu dengan sendiri-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang menga­tur dan yang memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan tidak mempunyai penolong (yang menjaga-Nya) dari kehina­an.
Artinya, Dia tidak memerlukan berteman dengan seorang pun dan tidak memerlukan pertolongan seorang pun.

...dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.
Yakni besarkanlah dan agungkanlah Dia terhadap apa yang dikatakan oleh orang-orang zalim lagi kelewat batas itu dengan pengagungan yang setinggi-tingginya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, dari Al-Qurazi, bahwa ia pernah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya:

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak.", hingga akhir ayat.
Bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani me­ngatakan, "Allah mengambil anak." Dan orang-orang Arab Jahiliah selalu mengatakan (dalam tawafnya), "Labbaika, tiada sekutu bagi Engkau kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu, sedangkan dia tidak memiliki." Orang-orang sabi-in mengatakan — demikian pula orang-orang Majusi — bahwa seandainya tidak ada penolong, tentulah Allah hina.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agung­kanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Qatadah, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ meng­ajarkan kepada keluarganya—baik yang masih kecil ataupun yang sudah dewasa — ayat berikut, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak., hingga akhir ayat.

Menurut kami, telah disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah ﷺ menamakan ayat ini dengan sebutan 'Ayat Kemuliaan (Keperkasaan)', Di dalam salah satu asar disebutkan bahwa tidak sekali-kali ayat ini di­bacakan di dalam suatu rumah dalam suatu malam, lalu rumah itu dapat tertimpa kecurian atau penyakit.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 111

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa kaum Yahudi dan Nasrani mempunyai anggapan bahwa Allah berputra.
Sedangkan orang Arab beranggapan bahwa Tuhan tidak bersekutu, kecuali sekutu yang dimiliki dan dikuasai-Nya sendiri.
Adapun ash-Shaabi-uun (orang-orang yang menyembah bintang) dan kaum Majusi beranggapan bahwa Allah akan menjadikan hina apabila tidak ada pembela dan penjaga-Nya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Israa’: 111) yang menegaskan bahwa Allah tidak berputra, tidak bersekutu, dan tidak mempunyai pembela ataupun penjaga.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 111 *beta

Surah Al Israa Ayat 111



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (29 votes)
Sending







✔ Al isro ayat 111, surat al isra ayat 111