Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 110 [QS. 17:110]

قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا
Quliid’uullaha awiid’uur-rahmana ai-yan maa tad’uu falahul asmaa-ul husna walaa tajhar bishalaatika walaa tukhaafit bihaa waabtaghi baina dzalika sabiilaa;
Katakanlah (Muhammad),
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”
―QS. Al Israa [17]: 110

Daftar isi

Say,
"Call upon Allah or call upon the Most Merciful.
Whichever (name) you call – to Him belong the best names."
And do not recite (too) loudly in your prayer or (too) quietly but seek between that an (intermediate) way.
― Chapter 17. Surah Al Israa [verse 110]

قُلِ katakanlah

Say,
ٱدْعُوا۟ serulah

"Invoke
ٱللَّهَ Allah

Allah
أَوِ atau

or
ٱدْعُوا۟ serulah

invoke
ٱلرَّحْمَٰنَ ar-rahman

the Most Gracious.
أَيًّا mana saja

By whatever (name) *[meaning includes next or prev. word]
مَّا apa (nama)

By whatever (name) *[meaning includes next or prev. word]
تَدْعُوا۟ kamu seru

you invoke,
فَلَهُ maka bagi-Nya

to Him (belongs)
ٱلْأَسْمَآءُ nama-nama

the Most Beautiful Names. *[meaning includes next or prev. word]
ٱلْحُسْنَىٰ yang baik

the Most Beautiful Names. *[meaning includes next or prev. word]
وَلَا dan jangan

And (do) not
تَجْهَرْ kamu mengeraskan

be loud
بِصَلَاتِكَ dengan sholatmu

in your prayers
وَلَا dan jangan

and not
تُخَافِتْ kamu merendahkan

be silent
بِهَا dengannya

therein,
وَٱبْتَغِ dan carilah olehmu

but seek
بَيْنَ antara

between
ذَٰلِكَ demikian itu

that
سَبِيلًا jalan

a way."

Tafsir

Alquran

Surah Al Israa
17:110

Tafsir QS. Al Israa (17) : 110. Oleh Kementrian Agama RI


Sabab nuzul ayat ini, menurut riwayat Ibnu Jarir ath-thabari dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasul ﷺ pada suatu hari salat di Mekah, lalu beliau berdoa.
Dalam doanya itu, beliau mengucapkan kata-kata,
"Ya Allah Ya Rahman.
"
Orang-orang musyrik yang mendengar ucapan Nabi itu berkata,
"Perhatikanlah orang yang telah keluar dari agamanya ini, dilarangnya kita berdoa kepada dua Tuhan sedangkan dia sendiri berdoa kepada dua Tuhan.
Maka turunlah ayat ini.


Menurut riwayat Adh-ahhak, sebab turun ayat ini ialah bahwa orang Yahudi bertanya kepada Rasul mengapa kata ar-Rahman sedikit beliau sebutkan, padahal di dalam Taurat, Allah banyak menyebutnya."
Maka turunlah ayat ini.


Bilamana latar belakang turun ayat ini menurut riwayat yang pertama, maka Allah menjelaskan kepada kaum musyrikin bahwa kedua lafal itu (Allah dan ar-Rahman) walaupun berbeda namun sama-sama mengungkap-kan Zat Yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya yang disembah.
Pemahaman yang demikian sesuai dengan keterangan ayat 111.
Bila latar belakang turunnya ayat ini adalah riwayat yang kedua, maka Allah menjelaskan kepada orang Yahudi bahwa lafal itu sama-sama baik untuk mengutarakan apa yang dimaksud.
Orang Yahudi memandang kata ar-Rahman lebih baik, karena sifat itu yang paling disukai Allah, sehingga banyak disebut dalam Taurat.

Ar-Rahman banyak sekali disebut dalam Taurat karena Nabi Musa `alaihis salam berwatak keras dan pemarah.
Oleh karena itu, Allah banyak menyebutkan kata-kata ar- Rahman agar beliau bergaul dengan umatnya dengan kasih sayang, dan beliau sebagai seorang nabi tentulah mencontoh sifat-sifat Allah.


Pada ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan tentang keesaan Zat-Nya dengan nama-nama yang baik.
Nama-nama yang baik itu hanyalah menggambarkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, bukan wujud Allah yang berdiri sendiri sebagai-mana anggapan kaum musyrikin.


Sesudah menyatakan kesamaan kedua kata itu, Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa kedua lafal itu baik digunakan untuk berdoa, karena Tuhan mempunyai al-asma’ul husna (nama-nama yang paling baik).
Tuhan memberikan keterangan dengan al-husna (paling baik) untuk nama-nama-Nya, karena mengandung pengertian yang mencakup segala sifat-sifat kesempurnaan, kemuliaan, dan keindahan yang tidak satu makhluk pun yang menyerupai.


Orang-orang Yahudi sesungguhnya tidaklah memungkiri nama-nama Allah yang baik itu.
Hanya saja mereka memandang ar-Rahman nama yang terbaik di antara nama-nama Tuhan lainnya.
Inilah yang tidak dibenarkan dalam ayat ini karena kedua nama tersebut termasuk al-asma’ul husna.
Pendapat seperti di atas juga dianut oleh kaum Muslimin, dimana menurut mereka, ada nama yang lebih tinggi di antara al-asma’ul husna.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki membaca doa:


Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, supaya aku benar-benar bersaksi bahwasanya Engkau Allah yang tiada tuhan melainkan Engkau, Yang Esa lagi tempat bergantung segala makhluk.
Yang tiada beranak dan tiada dilahirkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.
(Riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah bin Buraidah al-Aslami dari ayahnya)


Setelah mendengar doa itu Nabi ﷺ bersabda:


Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, benar-benar laki-laki itu berdoa dengan nama Tuhan Yang Agung (al-asma’ al-A’dham), yang bila Allah diseru dengan (menyebut) nama itu niscaya Dia menyempurnakannya, dan bila Allah diminta dengan (menyebut) nama itu niscaya Dia memberi.
(Riwayat Ibnu Jarir ath-thabari dari Sa’ad)


Diriwayatkan pula oleh Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Abi Hatim dari Asma’ binti Yazid bahwa Nabi ﷺ bersabda:


Nama Allah Ta’ala Yang Maha Agung terletak pada dua ayat ini, yaitu:

وَ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (al-Baqarah [2]: 163)


Dan ayat yang kedua ialah pada pembukaan Surah Ali ‘Imran:

الۤمّۤ ﴿۱﴾ اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ﴿۲﴾

Alif Lam Mim.
Allah, tidak ada tuhan selain Dia.
Yang Mahahidup, Yang terus menerus-mengurus (makhluk-Nya).
(Ali ‘Imran [3]: 1-2)


Kemudian pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul agar di waktu salat jangan membaca ayat dengan suara keras dan jangan pula dengan suara yang rendah, tetapi di antara keduanya.
Yang dimaksud dengan membaca ayat ini mencakup membaca basmalah dan ayat lainnya.
Jika Rasul membaca dengan suara yang keras, tentu didengar oleh orang-orang musyrik dan mereka lalu mengejek, mengecam, dan mencaci-maki Alquran, Nabi, dan sahabat-sahabatnya.
Namun jangan pula membaca dengan suara yang terlalu rendah sehingga para sahabat tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Larangan ini turun ketika Rasul masih berada di Mekah berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas.


Menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, ketika Rasul berada di Mekah disuruh membaca ayat dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi juga tidak terlalu rendah, dilarang membaca dengan suara yang pelan dan rendah sehingga tidak terdengar.
Tetapi sesudah hijrah ke Madinah, persoalan itu tidak dibahas lagi kecuali membaca ayat dalam salat dengan suara yang keras di luar batas tetap tidak dibenarkan.

Tafsir QS. Al Israa (17) : 110. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Katakanlah kepada orang-orang musyrik itu,
"Serulah Tuhanmu dengan nama ‘Allah’ atau ‘al-Rahman’.
Dengan nama mana saja kalian menyeru-Nya adalah baik, karena Dia mempunyai al-asma’ al-husna (nama- nama terindah).


Kalian tidak perlu ragu, karena banyaknya nama tidak harus menunjukkan banyaknya referen (musamma)."
Apabila kamu membaca Alquran di dalam salatmu, janganlah terlalu meninggikan suara agar tidak terdengar oleh orang-orang musyrik lalu mereka menghina dan menyiksamu.


Jangan pula terlalu merendahkan suara hingga tidak terdengar oleh orang-orang Mukmin.
Bacalah dengan suara sedang.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Katakanlah, wahai Rasul, kepada orang-orang musyrik kaummu yang mengingkari doa yang kamu panjatkan, dengan mengucapkan, ya Allah, ya Rahman.
Berdoalah kepada Allah, atau berdoalah kepada ar-Rahman.


Dengan nama yang mana saja dari nama-nama-Nya yang kalian seru, maka sesungguhnya kalian berseru kepada satu Rabb:
karena semua nama-Nya adalah husna (mahaindah).
Jangan mengeraskan bacaan dalam shalatmu, sehingga orang-orang musyrik mendengarnya, dan janganlah pula merendahkannya, sehingga para sahabatmu tidak mendengarnya.


Hendaklah kamu bersikap pertengahan antara jahar (keras) dan berbisik.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:


Disebutkan bahwa Nabi ﷺ sering mengucapkan kalimat ya Allah, ya Rahman, artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah.
Maka orang-orang musyrik mengatakan,
"Dia melarang kita untuk menyembah dua tuhan sedangkan dia sendiri menyeru tuhan lain di samping-Nya,"
maka turunlah ayat berikut ini, yaitu:


(Katakanlah) kepada mereka


("Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman) artinya namailah Dia dengan mana saja di antara kedua nama itu, atau serulah Dia seumpamanya kamu mengatakan, ‘Ya Allah, ya Rahman,’ artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah


(nama yang mana saja") huruf ayyan di sini bermakna syarath sedangkan huruf maa adalah zaidah, artinya mana saja di antara kedua nama itu


(kamu seru) maka ia adalah baik, makna ini dijelaskan oleh ayat selanjutnya, yaitu:


(Dia mempunyai) Dzat yang mempunyai kedua nama tersebut


(asmaul husna) yaitu nama-nama yang terbaik, dan kedua nama tersebut, yaitu lafal Allah dan lafal Ar-Rahman adalah sebagian daripadanya.
Sesungguhnya asmaul husna itu sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis ialah seperti berikut ini, yaitu:
Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Raja di dunia dan akhirat, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Mulia, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan, Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Memberi rupa, Yang Maha Penerima tobat, Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Memberi, Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Maha Membuka, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Menyempitkan rezeki, Yang Maha Melapangkan rezeki, Yang Maha Merendahkan, Yang Maha Mengangkat, Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghinakan, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang Maha Memberi keputusan, Yang Maha Adil, Yang Maha Lembut, Yang Maha Waspada, Yang Maha Penyantun, Yang Maha Agung, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mensyukuri, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Memberi azab, Yang Maha Penghisab, Yang Maha Besar, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Mengawasi, Yang Maha Memperkenankan, Yang Maha Luas, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mulia, Yang Maha Membangkitkan, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Hak, Yang Maha Menolong, Yang Maha Kuat, Yang Maha Teguh, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Terpuji, Yang Maha Menghitung, Yang Maha Memulai, Yang Maha Mengembalikan, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan, Yang Maha Hidup, Yang Maha Memelihara makhluk-Nya, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Mengagungkan, Yang Maha Satu, Yang Maha Esa, Yang Maha Melindungi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mendahulukan, Yang Maha Mengakhirkan, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir, Yang Maha Batin, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Melimpahkan kebaikan, Yang Maha Memberi tobat, Yang Maha Membalas, Yang Maha Memaafkan, Yang Maha Penyayang, Raja Diraja, Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan, Yang Maha Adil, Yang Maha Mengumpulkan, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi Kekayaan, Yang Maha Mencegah, Yang Maha Memberi kemudaratan, Yang Maha Memberi kemanfaatan, Yang Maha Memiliki cahaya, Yang Maha Memberi petunjuk, Yang Maha Menciptakan keindahan, Yang Maha Kekal, Yang Maha Mewarisi, Yang Maha Membimbing, Yang Maha Penyabar, Yang Maha.
Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi.
Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


(Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu) dengan mengeraskan bacaanmu dalam salatmu, maka orang-orang musyrik akan mendengar bacaanmu itu jika kamu mengerasi suaramu karena itu mereka akan mencacimu dan mencaci Alquran serta mencaci pula Allah yang telah menurunkannya


(dan janganlah pula merendahkan) melirihkan


(bacaannya) supaya para sahabatmu dapat mengambil manfaat darinya


(dan carilah) bersengajalah


(di antara kedua itu) yakni di antara suara keras dan suara pelan


(jalan tengah) yaitu cara yang pertengahan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Lalu lelaki musyrik itu berkata bahwa sesungguhnya dia menduga dirinya menyeru Tuhan yang satu, padahal dia menyeru dua Tuhan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini.


Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Kedua riwayat tersebut diketengahkan oleh Ibnu Jarir.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu.
, hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa ayat berikut ini diturunkan saat Rasulullah ﷺ sedang bersembunyi di Mekah, yaitu firman-Nya:

…dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya.
Bahwa apabila Nabi ﷺ salat dengan sahabat-sahabatnya, maka beliau mengeraskan bacaan Alqurannya, dan manakala kaum musyrik men­dengar bacaannya itu, mereka mencaci Alquran dan mencaci Tuhan yang menurunkannya serta malaikat yang menyampaikannya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

…dan janganlah kamu mengeraskan suaramu.
Maksudnya, janganlah kamu mengeraskan bacaan Alquranmu, nanti orang-orang musyrik akan mendengarnya dan mereka akan mencaci Alquran karenanya.

…dan janganlah pula kamu merendahkannya.
Yakni memelankan bacaanmu dari sahabat-sahabatmu, sehingga mereka tidak dapat mendengarkan bacaan Alquranmu, padahal mereka mene­rimanya dari bacaanmu.

…dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abu Bisyr Ja’far ibnu Iyas dengan sanad yang sama.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, yang di dalam riwayat­nya disebutkan tambahan, yaitu bahwa setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, maka gugurlah perintah tersebut.
Dengan kata lain, Nabi ﷺ boleh melakukannya bila menghendaki.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Daud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pada mulanya Rasulullah ﷺ selalu membaca Alquran dalam salatnya dengan bacaan yang keras, dan orang-orang meninggalkannya serta tidak mau mendengarkan bacaannya.
Dan bilamana seseorang hendak mende­ngarkan bacaan Rasulullah ﷺ dalam salatnya, maka ia terpaksa harus mencuri-curi dengar karena takut kepada orang-orang musyrik.
Apabila orang-orang musyrik mengetahui bahwa dia mendengar bacaan Rasul ﷺ, maka dia pergi karena takut disakiti oleh mereka dan tidak mau mendengarkannya lagi.
Dan apabila Rasulullah ﷺ merendahkan baca­annya, maka orang-orang yang mendengarkan bacaannya tidak dapat mengambil suatu manfaat pun dari bacaannya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

…dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu.
yang menyebabkan orang-orang kafir yang simpati kepadamu bubar me­ninggalkanmu.
dan janganlah pula merendahkannya.

sehingga orang-orang yang mencuri dengar dari bacaanmu dari kalangan mereka tidak dapat mendengarnya, karena barangkali sebagian dari mere­ka memperhatikan sebagian dari apa yang didengarnya darimu dan ber­oleh manfaat darinya.

…dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ikrimah, Al-Hasan Al-Basri, dan Qatadah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah baca­an dalam salat.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Asy’as ibnu Salim, dari Al-Aswad ibnu Hilal, dari Ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan janganlah pula merendahkannya.
terhadap orang yang membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar­kannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Salamah ibnu Alqamah, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa ia pernah men­dengar berita bahwa sahabat Abu Bakar apabila salat merendahkan ba­caan Alqurannya, sedangkan sahabat Umar mengeraskan bacaan Alqurannya.
Maka dikatakan kepada Abu Bakar,
"Mengapa engkau laku­kan hal itu?"
Abu Bakar menjawab,
"Saya sedang bermunajat kepada Tuhanku, dan Dia mengetahui keperluanku."
Lalu dikatakan kepadanya,
"Engkau baik."
Dan dikatakan kepada Umar,
"Mengapa engkau lakukan hal itu?"
Umar menjawab,
"Saya sedang mengusir setan dan melenyap­kan rasa kantuk."
Maka dikatakan kepadanya,
"Engkau baik."
Dan ketika firman Allah subhanahu wa ta’ala diturunkan, yaitu:
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.
(QS. Al Israa [17]: 110)
maka dikatakan kepada Abu Bakar,
"Angkatlah sedikit suara bacaanmu."
Dan dikatakan kepada Umar,
"Rendahkanlah sedikit suara bacaanmu."

Asy’as ibnu Siwar telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan berdoa.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Sauri dan Malik, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan doa.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Abu Iyad, Makhul, dan Urwah ibnuz Zubair.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Ibnu Ayyasy Al-Amiri, dari Abdul­lah ibnu Syaddad yang menceritakan bahwa pernah ada seorang Badui dari kalangan Bani Tamim apabila mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ lalu ia mengiringinya dengan doa,
"Ya Allah, berilah saya rezeki berupa ternak unta dan anak."
Maka turunlah ayat ini:
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya.
(QS. Al Israa [17]: 110)

Pendapat lain.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Sa-ib, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan bacaan tasyahhud, yaitu firman-Nya:
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya.
(QS. Al Israa [17]: 110)

Pendapat lain.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya.
(QS. Al Israa [17]: 110)
Maksudnya, janganlah kamu salat karena ingin dilihat oleh orang-orang, janganlah pula kamu meninggalkannya karena takut terhadap orang-orang kafir.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan firman-Nya:
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula kamu merendahkannya.
(QS. Al Israa [17]: 110)
Bahwa janganlah kamu melakukannya dengan baik secara terang-terangan, lalu melakukannya dengan buruk di kala sendirian.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Al-Hasan dengan sanad yang sama.
Hisyam telah meriwayatkannya dari Auf, dari Al-Hasan dengan sanad yang sama, dan Sa’id meriwayatkannya dari Qatadah, dari Al-Hasan dengan sanad‘yang sama pula.

Pendapat lain.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengata­kan sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.
(QS. Al Israa [17]: 110)
Bahwa orang-orang Ahli Kitab itu selalu merendahkan bacaan kitab mereka bilamana ada seseorang dari mereka mengeraskan bacaan suatu kalimat dari kitabnya dengan suara yang keras, maka orang-orang yang mengikutinya membacanya dengan keras pula di belakangnya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang Nabi ﷺ mengeraskan suara dalam bacaannya seperti yang dilakukan orang-orang ahli kitab, dan melarang pula meren­dahkannya seperti yang dilakukan mereka.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mem­berinya jalan pertengahan di antara keduanya, yang hal ini dicontohkan kepada Nabi ﷺ oleh Malaikat Jibrilalaihis salam dalam salatnya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 110

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ shalat di Mekah dan berdoa, yang kalimatnya antara lain: “Ya Allah, ya Rahman.” Berkatalah kaum musyrikin: “Perhatikanlah orang yang murtad dari agamanya ini.
Ia melarang kita menyeru dua tuhan, sementara dia sendiri menyeru dua tuhan.” Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 110) yang menjelaskan bahwa Allah itu Maha Esa, tapi mempunyai nama-nama yang terbaik.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah, yang menegaskan bahwa ayat ini (al-Israa’: 110) turun berkenaan dengan Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat…walaa tajhar bi shalaatik… (..
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu..) (sebagian dari surat al-Israa’: 110) turun pada waktu Rasulullah ﷺ menyebarkan agama di Mekah secara diam-diam.
Pada waktu itu, apabila Rasulullah ﷺ shalat bersama shahabat-shahabatnya, beliau menyaringkan suaranya pada saat membaca al-Qur’an.
Apabila kaum musyrikin mendengar al-Qur’an, mereka mencaci maki al-Qur’an, Yang menurunkannya (Allah), yang yang membawanya (Nabi ﷺ).
Ayat ini melarang Rasul, pada waktu itu, menyaringkan suaranya dalam shalat.

Keterangan: Ibnu Jarir menganggap bahwa riwayat yang menyebutkan peristiwa shalat lebih kuat sanadnya daripada riwayat yang menyebutkan peristiwa berdoa.
Demikian juga menurut an-Nawawi dan yang lainnya.
Menurut Ibnu Hajar, turunnya ayat itu (al-Israa’: 110) berkenaan dengan dua peristiwa tadi, yaitu turun berkenaan dengan doa di waktu shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ apabila shalat di Baitullah, menyaringkan suaranya di waktu berdoa.
Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 110) yang melarang menyaringkan suara waktu berdoa dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa turunnya ayat ini (al-Israa’: 110) berkenaan dengan bacaan tasyahud.

Keterangan: riwayat ini lebih menjelaskan riwayat yang terdahulu, yaitu yang menegaskan bahwa doanya dilakukan di waktu shalat.
Menurut Ibnu Mani’ di dalam Musnad-nya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, mereka itu menyaringkan doanya di waktu membaca, allaahummar hamnii (ya Allah, rahmatilah saya).
Ayat ini memerintahkan agar jangan terlalu perlahan dan terlalu keras di waktu berdoa dalam shalat.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Israa (17) ayat 110

Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas mengenai ayat: Dan janganlah engkau mengeraskan bacaan shalatmu dan jangan pula engkau merendahkan bacaannya (Qs. Al Isra‘: 110), ayat ini diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berturut-turut di Makkah. Ketika itu, jika beliau mengencangkan bacaannya, maka kaum musyrikin mendengarnya hingga mereka mencela Al Qur’an secara habis-habisan, juga mencela yang menurunkannya dan yang membawanya. Maka Allah menurunkan: Jangan kamu mengeraskan bacaan shalatmu dan jangan pula merendahkannya (Qs. Al Isra‘: 110). Jangan kamu mengeraskan bacaanmu maksudnya hingga terdengar oleh orang-orang musyrik, dan jangan pula kamu merendahkannya, maksudnya sehingga tidak terdengar oleh kawan-kawanmu. Dan carilah jalan tengah di antara keduanya, maksudnya bacalah sehingga terdengar oleh kawanmu namun jangan pula kamu membaca terlalu keras hingga musuh mencela Al Qur’an akibat bacaanmu.

Shahih Bukhari, Kitab Tauhid – Nomor Hadits: 6936

Unsur Pokok Surah Al Israa (الإسراء)

Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Muhammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" artinya keturunan Israil, berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

▪ Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat.
▪ Allah pasti memberi rezeki kepada manusia.
▪ Allah mempunyai nama-nama yang paling baik.
Alquran adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
▪ Adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

▪ Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia.
▪ Berzina.
▪ Mempergunakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang dibenarkan agama.
▪ Ikut-ikutan baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
▪ Durhaka kepada ibu bapak.
▪ Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan takaran, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

▪ Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya.
▪ Beberapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat.
▪ Petunjuk-petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat.
▪ Manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat-sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru.
▪ Persoalan roh.

Audio

QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 111 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Israa (17) : 1-111 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 111

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Israa ayat 110 - Gambar 1 Surah Al Israa ayat 110 - Gambar 2
Statistik QS. 17:110
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti “memperjalankan di malam hari”.
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
Sending
User Review
4.4 (28 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

17:110, 17 110, 17-110, Surah Al Israa 110, Tafsir surat AlIsraa 110, Quran Al Isra 110, Al-Isra' 110, Surah Al Isra ayat 110

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Israa

۞ QS. 17:1 • Sifat Kamal (sempurna) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 17:2 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitabHikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 17:5 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 17:6 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 17:7 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:8 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:9 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 17:10 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:12 • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:13 • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:14 • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:15 Hukum alam • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 17:16 Hukum alam • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 17:17 Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:18 Sifat Iradah (berkeinginan) • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia •

۞ QS. 17:19 • Keutamaan iman • Kebaikan yang ada di alam akhirat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Pentingnya berbuat dengan teliti •

۞ QS. 17:20 Ar Rabb (Tuhan) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 17:21 • Perbedaan derajat di surga • Kebaikan yang ada di alam akhirat • Perbedaan tingkat amal saleh

۞ QS. 17:22 Tauhid Uluhiyyah • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:23 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:25 • Ampunan Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 17:27 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 17:28 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 17:31 • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 17:36 • Keluasan ilmu Allah • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 17:38 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:39 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:40 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:41 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:42 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah

۞ QS. 17:43 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mensucikan Allah dari segala sekutu

۞ QS. 17:44 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 17:45 • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:46 Ar Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:47 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:48 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:49 • Cobaan kubur • Mengingkari hari kebangkitan

۞ QS. 17:50 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 17:51 • Kekuasaan Allah • Kiamat telah dekat • Mengingkari hari kebangkitan • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:52 • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 17:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:55 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:56 • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 17:57 • Memohon hanya kepada Allah • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan) • Mengharap wasilah (kedudukan) • Peringatan Allah terhadap hambaNya

۞ QS. 17:58 • Kebenaran dan hakikat takdir • Penentuan takdir sebelum penciptaan • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 17:60 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Pohon zaqquum (terkutuk) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:63 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 17:64 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 17:65 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Al Wakil (Maha Penolong) • Menjaga diri dari syetan •

۞ QS. 17:66 • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 17:67 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:68 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 17:69 • Kekuasaan Allah • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 17:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 17:71 • Kebenaran hari penghimpunan • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Lembaran catatan amal perbuatan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 17:72 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 17:73 • Mendustai Allah

۞ QS. 17:75 • Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya

۞ QS. 17:76 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 17:78 • Pertemuan malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang

۞ QS. 17:79 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:80 Ar Rabb (Tuhan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 17:84 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 17:85 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Hakikat ruh

۞ QS. 17:86 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 17:87 • Kasih sayang Allah yang luas • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:89 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:90 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:91 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:92 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:93 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:94 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:95 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:96 Al Bashir (Maha Melihat) • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 17:97 Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Al Wali (Maha Pelindung) • Kebenaran hari penghimpunan • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan

۞ QS. 17:98 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 17:99 • Kekuasaan Allah • Al Qaadir (Maha Kuasa) • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:100 • Santunan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:102 Ar Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 17:103 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 17:104 • Kekuasaan Allah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 17:107 • Cacian Allah terhadap orang kafir

۞ QS. 17:108 • Allah menepati janji • Kekuasaan Allah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 17:110 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Berdoa dengan Asma’ul Husna • Al Rahman (Maha Pengasih)

۞ QS. 17:111 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Sifat Mukhalafah (berbeda dengan makhluk) • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya

Ayat Pilihan

Ya Tuhanku, ampunilah aku,
ibu-bapakku yang menyebabkan aku hidup, orang yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman & semua orang Mukmin,
laki-laki & perempuan.
Dan jangan Kau tambahkan kepada orang-orang kafir itu kecuali kebinasaan
QS. Nuh [71]: 28

Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya & menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Al-Baqarah [2]: 284

Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit & di bumi?
QS. Al-Hajj [22]: 69-70

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

There is no question

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Pendidikan Agama Islam #22

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh … Takdir yang bisa diubah dinamakan … Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah …

Pendidikan Agama Islam #19

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan … Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah … .Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang … Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu … … Surah yang menjelaskan bahwa ‘Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta’, yaitu … …

Kamus

fadilat

Apa itu fadilat? fa.di.lat (1) kemuliaan; keluhuran; umat Islam disunatkan berdoa memohonkan fadilat untuk Nabi Muhammad; (2) keutamaan dalam ibadah, amal, dan sebagainya; banyak hadis menguraikan fa...

Pertempuran Uhud

Apa itu Pertempuran Uhud? Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih se...

Yusuf

Apa itu Yusuf? Surah Yusuf (bahasa Arab:يسوف, Yūsuf, “Nabi Yusuf”) adalah surah ke-12 dalam Alquran. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini di...