Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 110


قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا
Quliid’uullaha awiid’uur-rahmana ai-yan maa tad’uu falahul asmaa-ul husna walaa tajhar bishalaatika walaa tukhaafit bihaa waabtaghi baina dzalika sabiilaa;

Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.
―QS. 17:110
Topik ▪ Pahala Iman
17:110, 17 110, 17-110, Al Israa 110, AlIsraa 110, Al Isra 110, Al-Isra’ 110
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 110. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang keesaan Zat Nya dengan nama-nama yang baik.
Nama-nama yang baik itu hanyalah menggambarkan sifat-sifat kesempurnaan Nya, bukanlah wujud yang berdiri sendiri sebagaimana dengan kaum musyrikin.
Adapun sebab-sebab turunnya ayat ini, menurut riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari salat di Mekah, lalu beliau berdoa, dalam doanya itu beliau mengucapkan kata-kata: "Ya Allah Ya Rahman, orang-orang musyrikin yang mendengar ucapan Nabi itu berkata: "Perhatikanlah orang yang telah keluar dari agamanya ini, dilarangnya kita berdoa kepada dua Tuhan sedangkan dia sendiri berdoa kepada dua Tuhan.

Menurut riwayat Ad Dahhak sebab turunnya ayat ini ialah bahwa orang Yahudi bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengapa kata Ar Rahman sedikit beliau sebutkan, padahal di dalam Taurat banyak Allah menyebutkannya".

Bilamana latar belakang sebab turunnya ayat ini menurut riwayat yang pertama ialah sanggahan orang-orang musyrikin kepada Nabi Muhammad ﷺ, maka Allah menjelaskan kepada kaum musyrikin itu dalam ayat ini bahwa kedua lafal itu.
"Allah dan Ar Rabman" walaupun berbeda namun sama-sama mengungkapkan Zat Yang Maha Esa, Tuhan satu-satunya yang disembah.
Pemahaman yang demikian sesuai dengan keterangan ayat 111.

Bila latar belakang turunnya ayat ini riwayat yang kedua, maka Allah menjelaskan kepada orang Yahudi bahwa lafal itu sama-sama baik untuk mengutarakan apa yang dimaksud.
Karena orang Yahudi memandang kata Ar Rahman lebih baik, karena sifat itu yang paling disukai Allah, maka banyak disebut dalam Al Taurat Mengapa Ar Rahman itu banyak sekali disebut dalam At Taurat?
Nabi Musa as adalah berwatak keras dan pemarah.
Oleh karena itu, Allah banyak menyebutkan kata-kata Ar Rahman agar beliau mempergauli umatnya dengan kasih sayang, dan beliau sebagai seorang Nabi tentulah mencontoh sifat-sifat Allah.

Sesudah menyatakan kesamaan kedua kata itu, maka Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa yang mana saja di antara kedua lafal itu adalah baik dipergunakan untuk berdoa, karena Tuhan mempunyai "asmaul husna" artinya nama-nama yang paling baik Tuhan memberikan keterangan dengan Al Husna (paling baik) untuk nama-nama Nya, karena al husna mengandung pengertian yang mencakup segala sifat-sifat kesempurnaan, kemuliaan dan keindahan yang tak ada sesuatupun yang menyerupainya.

Orang-orang Yahudi sesungguhnya tidaklah memungkiri ke Maha Baikan nama-nama Tuhan itu.
Hanya saja mereka memandang "Ar Rahman" nama yang terbaik di antara nama-nama Tuhan lainnya, dan inilah yang tidak dibenarkan dalam ayat ini, karena kedua nama tersebut adalah termasuk Al asmaul Husna.
Pendapat seperti pendapat orang Yahudi di atas, terdapat pula pada kaum muslimin yaitu; pendapat adanya nama yang lebih tinggi di antara Al Asmaul Husna.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki membaca doa yang artinya:

"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Mu supaya aku benar-benar bersaksi bahwasanya Engkau Allah Yang tiada Tuhan melainkan Engkau.
Yang Esa lagi tempat bergantung segala makhluk.
Yang tiada beranak dan tiada dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Setelah mendengar doa itu Nabi ﷺ bersabda:

"Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya, benar-benar laki-laki itu berdoa dengan nama Tuhan Yang Agung (Al Asma Al A'zam), yang bila Allah diseru dengan (menyebut) nama itu niscaya Dia menyempurnakannya, dan bila Allah diminta dengan (menyebut) nama itu niscaya Dia memberi".

Diriwayatkan pula bahwa Nabi ﷺ bersabda:

Nama Allah Taala Yang Maha Agung terletak dua ayat ini.
(H.R.
Ibnu Mardawaih dan Ibnu Hatim)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(Q.S.
Al Baqarah: 163)

Dan ayat yang kedua ialah pada pembukaan surah Ali Imran:

Alif lam mim, Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.
Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk Nya

(Q.S.
Ali Imran: 1-2)

Kemudian dalam akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul agar di waktu salat jangan membaca ayat dengan suara keras dan jangan pula dengan suara yang rendah tapi di antara keduanya.
Dimaksud dengan membaca ayat ini mencakup membaca Basmalah dan ayat lainnya.
Jika rasul membaca dengan suara yang nyaring tentulah didengar oleh orang musyrikin dan mereka lalu mengejek, mengecam dan memaki-maki Alquran, Nabi dan sahabat-sahabatnya.
Namun ditegur pula agar jangan terlalu rendah suaranya dalam membaca ayat Alquran sehingga sahabatnya tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Larangan ini ketika Rasul masih berada di Mekah berdasar riwayat Ibnu Abbas.

Menurut riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasul ketika di Mekah disuruh membaca dengan suara yang sedang, dilarang membaca dengan suara yang nyaring dan rendah sehingga tidak terdengar.
Tetapi sesudah hijrah ke Madinah persoalan itu tidak ada lagi kecuali membaca ayat dalam salat dengan suara yang keras di luar batas yang diperlakukan, maka yang semacam ini tetap tidak dibenarkan.

Al Israa (17) ayat 110 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 110 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 110 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakanlah kepada orang-orang musyrik itu, "Serulah Tuhanmu dengan nama 'Allah' atau 'al-Rahman'.
Dengan nama mana saja kalian menyeru-Nya adalah baik, karena Dia mempunyai al-asma' al-husna (nama- nama terindah).
Kalian tidak perlu ragu, karena banyaknya nama tidak harus menunjukkan banyaknya referen (musamma)." Apabila kamu membaca Al Quran di dalam salatmu, janganlah terlalu meninggikan suara agar tidak terdengar oleh orang-orang musyrik lalu mereka menghina dan menyiksamu.
Jangan pula terlalu merendahkan suara hingga tidak terdengar oleh orang-orang Mukmin.
Bacalah dengan suara sedang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Disebutkan bahwa Nabi ﷺ sering mengucapkan kalimat ya Allah, ya Rahman, artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah.
Maka orang-orang musyrik mengatakan, "Dia melarang kita untuk menyembah dua tuhan sedangkan dia sendiri menyeru tuhan lain di samping-Nya," maka turunlah ayat berikut ini, yaitu:
(Katakanlah) kepada mereka ("Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman) artinya namailah Dia dengan mana saja di antara kedua nama itu, atau serulah Dia seumpamanya kamu mengatakan, 'Ya Allah, ya Rahman,' artinya wahai Allah, wahai Yang Maha Pemurah (nama yang mana saja") huruf ayyan di sini bermakna syarath sedangkan huruf maa adalah zaidah, artinya mana saja di antara kedua nama itu (kamu seru) maka ia adalah baik, makna ini dijelaskan oleh ayat selanjutnya, yaitu:
(Dia mempunyai) Dzat yang mempunyai kedua nama tersebut (asmaul husna) yaitu nama-nama yang terbaik, dan kedua nama tersebut, yaitu lafal Allah dan lafal Ar-Rahman adalah sebagian daripadanya.
Sesungguhnya asmaul husna itu sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis ialah seperti berikut ini, yaitu:
Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Raja di dunia dan akhirat, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Mulia, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan, Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Memberi rupa, Yang Maha Penerima tobat, Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Memberi, Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Maha Membuka, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Menyempitkan rezeki, Yang Maha Melapangkan rezeki, Yang Maha Merendahkan, Yang Maha Mengangkat, Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghinakan, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat, Yang Maha Memberi keputusan, Yang Maha Adil, Yang Maha Lembut, Yang Maha Waspada, Yang Maha Penyantun, Yang Maha Agung, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Mensyukuri, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Memberi azab, Yang Maha Penghisab, Yang Maha Besar, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Mengawasi, Yang Maha Memperkenankan, Yang Maha Luas, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mulia, Yang Maha Membangkitkan, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Hak, Yang Maha Menolong, Yang Maha Kuat, Yang Maha Teguh, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Terpuji, Yang Maha Menghitung, Yang Maha Memulai, Yang Maha Mengembalikan, Yang Maha Menghidupkan, Yang Maha Mematikan, Yang Maha Hidup, Yang Maha Memelihara makhluk-Nya, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Mengagungkan, Yang Maha Satu, Yang Maha Esa, Yang Maha Melindungi, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mendahulukan, Yang Maha Mengakhirkan, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir, Yang Maha Batin, Yang Maha Menguasai, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Melimpahkan kebaikan, Yang Maha Memberi tobat, Yang Maha Membalas, Yang Maha Memaafkan, Yang Maha Penyayang, Raja Diraja, Yang Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan, Yang Maha Adil, Yang Maha Mengumpulkan, Yang Maha Kaya, Yang Maha Memberi Kekayaan, Yang Maha Mencegah, Yang Maha Memberi kemudaratan, Yang Maha Memberi kemanfaatan, Yang Maha Memiliki cahaya, Yang Maha Memberi petunjuk, Yang Maha Menciptakan keindahan, Yang Maha Kekal, Yang Maha Mewarisi, Yang Maha Membimbing, Yang Maha Penyabar, Yang Maha.
Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi.
Selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
(Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu) dengan mengeraskan bacaanmu dalam salatmu, maka orang-orang musyrik akan mendengar bacaanmu itu jika kamu mengerasi suaramu karena itu mereka akan mencacimu dan mencaci Alquran serta mencaci pula Allah yang telah menurunkannya (dan janganlah pula merendahkan) melirihkan (bacaannya) supaya para sahabatmu dapat mengambil manfaat darinya (dan carilah) bersengajalah (di antara kedua itu) yakni di antara suara keras dan suara pelan (jalan tengah) yaitu cara yang pertengahan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah, wahai Rasul, kepada orang-orang musyrik kaummu yang mengingkari doa yang kamu panjatkan, dengan mengucapkan, ya Allah, ya Rahman.
Berdoalah kepada Allah, atau berdoalah kepada ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja dari nama-nama-Nya yang kalian seru, maka sesungguhnya kalian berseru kepada satu Rabb :
karena semua nama-Nya adalah husna (mahaindah).
Jangan mengeraskan bacaan dalam shalatmu, sehingga orang-orang musyrik mendengarnya, dan janganlah pula merendahkannya, sehingga para sahabatmu tidak mendengarnya.
Hendaklah kamu bersikap pertengahan antara jahar (keras) dan berbisik.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Lalu lelaki musyrik itu berkata bahwa sesungguhnya dia menduga dirinya menyeru Tuhan yang satu, padahal dia menyeru dua Tuhan.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat ini.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Kedua riwayat tersebut diketengahkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu.
, hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa ayat berikut ini diturunkan saat Rasulullah ﷺ sedang bersembunyi di Mekah, yaitu firman-Nya:

...dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya.
Bahwa apabila Nabi ﷺ salat dengan sahabat-sahabatnya, maka beliau mengeraskan bacaan Al-Qur'annya, dan manakala kaum musyrik men­dengar bacaannya itu, mereka mencaci Al-Qur'an dan mencaci Tuhan yang menurunkannya serta malaikat yang menyampaikannya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya:

...dan janganlah kamu mengeraskan suaramu.
Maksudnya, janganlah kamu mengeraskan bacaan Al-Qur'anmu, nanti orang-orang musyrik akan mendengarnya dan mereka akan mencaci Al-Qur'an karenanya.

...dan janganlah pula kamu merendahkannya.
Yakni memelankan bacaanmu dari sahabat-sahabatmu, sehingga mereka tidak dapat mendengarkan bacaan Al-Qur'anmu, padahal mereka mene­rimanya dari bacaanmu.

...dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abu Bisyr Ja'far ibnu Iyas dengan sanad yang sama.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, yang di dalam riwayat­nya disebutkan tambahan, yaitu bahwa setelah Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, maka gugurlah perintah tersebut.
Dengan kata lain, Nabi ﷺ boleh melakukannya bila menghendaki.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Daud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pada mulanya Rasulullah ﷺ selalu membaca Al-Qur'an dalam salatnya dengan bacaan yang keras, dan orang-orang meninggalkannya serta tidak mau mendengarkan bacaannya.
Dan bilamana seseorang hendak mende­ngarkan bacaan Rasulullah ﷺ dalam salatnya, maka ia terpaksa harus mencuri-curi dengar karena takut kepada orang-orang musyrik.
Apabila orang-orang musyrik mengetahui bahwa dia mendengar bacaan Rasul ﷺ, maka dia pergi karena takut disakiti oleh mereka dan tidak mau mendengarkannya lagi.
Dan apabila Rasulullah ﷺ merendahkan baca­annya, maka orang-orang yang mendengarkan bacaannya tidak dapat mengambil suatu manfaat pun dari bacaannya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

...dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu.
yang menyebabkan orang-orang kafir yang simpati kepadamu bubar me­ninggalkanmu.
dan janganlah pula merendahkannya.

sehingga orang-orang yang mencuri dengar dari bacaanmu dari kalangan mereka tidak dapat mendengarnya, karena barangkali sebagian dari mere­ka memperhatikan sebagian dari apa yang didengarnya darimu dan ber­oleh manfaat darinya.

...dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ikrimah, Al-Hasan Al-Basri, dan Qatadah, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah baca­an dalam salat.

Syu'bah telah meriwayatkan dari Asy'as ibnu Salim, dari Al-Aswad ibnu Hilal, dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan janganlah pula merendahkannya.
terhadap orang yang membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar­kannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Salamah ibnu Alqamah, dari Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa ia pernah men­dengar berita bahwa sahabat Abu Bakar apabila salat merendahkan ba­caan Al-Qur'annya, sedangkan sahabat Umar mengeraskan bacaan Al-Qur'annya.
Maka dikatakan kepada Abu Bakar, "Mengapa engkau laku­kan hal itu?"
Abu Bakar menjawab, "Saya sedang bermunajat kepada Tuhanku, dan Dia mengetahui keperluanku." Lalu dikatakan kepadanya, "Engkau baik." Dan dikatakan kepada Umar, "Mengapa engkau lakukan hal itu?"
Umar menjawab, "Saya sedang mengusir setan dan melenyap­kan rasa kantuk." Maka dikatakan kepadanya, "Engkau baik." Dan ketika firman Allah subhanahu wa ta'ala diturunkan, yaitu: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.
(Al Israa':110) maka dikatakan kepada Abu Bakar, "Angkatlah sedikit suara bacaanmu." Dan dikatakan kepada Umar, "Rendahkanlah sedikit suara bacaanmu."

Asy'as ibnu Siwar telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan berdoa.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Sauri dan Malik, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan doa.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Abu Iyad, Makhul, dan Urwah ibnuz Zubair.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Ibnu Ayyasy Al-Amiri, dari Abdul­lah ibnu Syaddad yang menceritakan bahwa pernah ada seorang Badui dari kalangan Bani Tamim apabila mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ lalu ia mengiringinya dengan doa, "Ya Allah, berilah saya rezeki berupa ternak unta dan anak." Maka turunlah ayat ini: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya.
(Al Israa':110)

Pendapat lain.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Sa-ib, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan bacaan tasyahhud, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya.
(Al Israa':110)

Pendapat lain.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya.
(Al Israa':110) Maksudnya, janganlah kamu salat karena ingin dilihat oleh orang-orang, janganlah pula kamu meninggalkannya karena takut terhadap orang-orang kafir.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan firman-Nya: dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula kamu merendahkannya.
(Al Israa':110) Bahwa janganlah kamu melakukannya dengan baik secara terang-terangan, lalu melakukannya dengan buruk di kala sendirian.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Al-Hasan dengan sanad yang sama.
Hisyam telah meriwayatkannya dari Auf, dari Al-Hasan dengan sanad yang sama, dan Sa'id meriwayatkannya dari Qatadah, dari Al-Hasan dengan sanad'yang sama pula.

Pendapat lain.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengata­kan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.
(Al Israa':110) Bahwa orang-orang Ahli Kitab itu selalu merendahkan bacaan kitab mereka bilamana ada seseorang dari mereka mengeraskan bacaan suatu kalimat dari kitabnya dengan suara yang keras, maka orang-orang yang mengikutinya membacanya dengan keras pula di belakangnya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala melarang Nabi ﷺ mengeraskan suara dalam bacaannya seperti yang dilakukan orang-orang ahli kitab, dan melarang pula meren­dahkannya seperti yang dilakukan mereka.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala mem­berinya jalan pertengahan di antara keduanya, yang hal ini dicontohkan kepada Nabi ﷺ oleh Malaikat Jibril 'alaihis salam dalam salatnya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Israa (17) ayat 110
Telah menceritakan kepada kami Musaddad dari Husyaim dari Abu Bisyr dari Sa'id bin Jubair dari Ibn Abbas mengenai ayat: Dan janganlah engkau mengeraskan bacaan shalatmu dan jangan pula engkau merendahkan bacaannya (Qs. Al Isra': 110), ayat ini diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam secara berturut-turut di Makkah. Ketika itu, jika beliau mengencangkan bacaannya, maka kaum musyrikin mendengarnya hingga mereka mencela Al Qur'an secara habis-habisan, juga mencela yang menurunkannya dan yang membawanya. Maka Allah menurunkan: Jangan kamu mengeraskan bacaan shalatmu dan jangan pula merendahkannya (Qs. Al Isra': 110). Jangan kamu mengeraskan bacaanmu maksudnya hingga terdengar oleh orang-orang musyrik, dan jangan pula kamu merendahkannya, maksudnya sehingga tidak terdengar oleh kawan-kawanmu. Dan carilah jalan tengah di antara keduanya, maksudnya bacalah sehingga terdengar oleh kawanmu namun jangan pula kamu membaca terlalu keras hingga musuh mencela Al Qur'an akibat bacaanmu.

Shahih Bukhari, Kitab Tauhid - Nomor Hadits: 6936

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Israa (17) Ayat 110

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ shalat di Mekah dan berdoa, yang kalimatnya antara lain: “Ya Allah, ya Rahman.” Berkatalah kaum musyrikin: “Perhatikanlah orang yang murtad dari agamanya ini.
Ia melarang kita menyeru dua tuhan, sementara dia sendiri menyeru dua tuhan.” Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 110) yang menjelaskan bahwa Allah itu Maha Esa, tapi mempunyai nama-nama yang terbaik.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah, yang menegaskan bahwa ayat ini (al-Israa’: 110) turun berkenaan dengan adab berdoa.
Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat…walaa tajhar bi shalaatik… (..
dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu..) (sebagian dari surat al-Israa’: 110) turun pada waktu Rasulullah ﷺ menyebarkan agama di Mekah secara diam-diam.
Pada waktu itu, apabila Rasulullah ﷺ shalat bersama shahabat-shahabatnya, beliau menyaringkan suaranya pada saat membaca al-Qur’an.
Apabila kaum musyrikin mendengar al-Qur’an, mereka mencaci maki al-Qur’an, Yang menurunkannya (Allah), yang yang membawanya (Nabi ﷺ).
Ayat ini melarang Rasul, pada waktu itu, menyaringkan suaranya dalam shalat.

Keterangan: Ibnu Jarir menganggap bahwa riwayat yang menyebutkan peristiwa shalat lebih kuat sanadnya daripada riwayat yang menyebutkan peristiwa berdoa.
Demikian juga menurut an-Nawawi dan yang lainnya.
Menurut Ibnu Hajar, turunnya ayat itu (al-Israa’: 110) berkenaan dengan dua peristiwa tadi, yaitu turun berkenaan dengan doa di waktu shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ apabila shalat di Baitullah, menyaringkan suaranya di waktu berdoa.
Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 110) yang melarang menyaringkan suara waktu berdoa dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa turunnya ayat ini (al-Israa’: 110) berkenaan dengan bacaan tasyahud.

Keterangan: riwayat ini lebih menjelaskan riwayat yang terdahulu, yaitu yang menegaskan bahwa doanya dilakukan di waktu shalat.
Menurut Ibnu Mani’ di dalam Musnad-nya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, mereka itu menyaringkan doanya di waktu membaca, allaahummar hamnii (ya Allah, rahmatilah saya).
Ayat ini memerintahkan agar jangan terlalu perlahan dan terlalu keras di waktu berdoa dalam shalat.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 110 *beta

Surah Al Israa Ayat 110



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending