Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Israa

Al Israa (Perjalanan Malam) surah 17 ayat 1


سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ
Subhaanal-ladzii asra bi’abdihi lailaa minal masjidil haraami ilal masjidil aqshaal-ladzii baaraknaa haulahu linuriyahu min aayaatinaa innah huwassamii’ul bashiir(u);

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
―QS. 17:1
Topik ▪ Tauhid Rububiyyah
17:1, 17 1, 17-1, Al Israa 1, AlIsraa 1, Al Isra 1, Al-Isra’ 1
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan ke Maha Sucian Asma Nya dengan firman Nya "Subhana",
agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat ke Agungan Nya yang tiada taranya dan sebagai pernyataan pula tentang sifat-sifat yang kebesaran Nya telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.

Allah subhanahu wa ta'ala memulai firman Nya dengan Subhana dalam ayat ini, dan di Beberapa ayat yang lain sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradat dan kekuasaan Nya.

Dari kata-kata Isra' dapat dipahami bahwa Isra' Nabi Muhammad ﷺ itu terjadi di waktu malam hari, karena memang demikian kata asra dalam bahasa Arab.
Sedang disebutkan Lailan yang berarti di malam hari," adalah untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra' itu memang benar-benar terjadi di malam hari.
Allah subhanahu wa ta'ala mengisra' kan hamba Nya di waktu malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang sebaik-baiknya untuk beribadat kepada-Nya.

Dimaksud dengan hamba Nya di dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad ﷺ yang telah terpilih sebagai Nabi yang terakhir dan telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, yang semata-mata karena perintah Allah.

Di dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatannya maupun saat tibanya Nabi Muhammad ﷺ kembali ke tempat tinggalnya di Mekah.
Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra' Nabi Muhammad ﷺ dimulai dari Masjidilharam, yaitu Mesjid yang terkenal karena di dalamnya ada Baitullah yang terletak di kota Mekah menuju Masjidilaksa yang berada di Baitulmakdis.
Masjidilaksa itu terkenal pula dengan Haikal Sulaiman.
Disebut demikian karena Nabi Sulaimanlah yang membinanya.
Mesjid itu disebut Masjidilaksa yang berarti "jauh",
karena jauhnya dari kota Mekah.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala, menjelaskan bahwa Masjidilaksa itu dan daerah daerah sekitarnya diberi berkat oleh Allah, karena tempat di sekitarnya itu adalah tempat turunnya wahyu kepada Nabi-nabi dan disuburkan tanahnya, sehingga menjadi daerah yang makmur.
Di samping itu juga karena mesjid itu termasuk di antara mesjid-mesjid yang paling besar pada waktu itu yang menjadi tempat peribadatan para Nabi dan tempat tinggal mereka.

Sesudah itu Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad ﷺ dibawa berjalan pada malam hari, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala dapat memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu tanda-tanda yang dapat disaksikan oleh Muhammad ﷺ dalam perjalanannya itu, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga yang dialaminya dalam perjalanan dari Masjidilharam ke Masjidilaksa itu, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Maha Pencipta Nya.
Pengalaman-pengalaman baru yang dapat disaksikan oleh Nabi Muhammad itu sangat berguna untuk menguatkan hati beliau dalam melakukan tugasnya, dan menambah ketabahan beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, juga persiapan yang sangat penting dalam meyakini wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.

Di akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar terhadap bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat akan semua perbuatan mereka.
Tak ada suatupun detak jantung, ataupun gerakan badan dari seluruh yang ada di antara langit dan bumi ini yang terlepas dari pengamatan Nya.

Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra', yaitu perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidilharam ke Masjidilaksa di waktu malam, sedang peristiwa Mikraj, yaitu naiknya Nabi Muhammad dari Masjidilaksa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini tetapi diisyaratkan oleh bagian pertama surah An Najm.

Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isra' itu terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul.
Peristiwanya satu tahun sebelum hijrah.
Demikian menurut Imam Az Zuhri Ibnu Saad dan lain-lainnya.
Imam Nawawipun memastikan yang demikian.
Bahkan menurut Ibnu Hasan bahwa peristiwa Isra' itu terjadi bulan Rajab tahun yang kedua belas dari diangkatnya Muhammad menjadi Nabi.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra' itu sebagai berikut:

Pertama :
Pada malam dijalankannya Rasulullah ﷺ dari Masjidilharam datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam.
Kemudian berkatalah orang yang pertama: "Siapakah dia ini ?
Kemudian orang kedua menjawab: "Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya).
Setelah itu berkatalah orang ketiga : "Ambillah orang yang terbaik itu.
Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka itu, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur.
Demikianlah para Nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur.
Sesudah itu rombongan tadi tidaklah berbicara sedikitpun kepada Nabi sehingga saatnya mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zam-zam.
Kemudian Jibrilah di antara mereka yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya.
Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau.
Kemudian Jibril membawa talam yang terdapat di dalamnya bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah.
Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya".
(H.R.
Bukhari dan Anas)

Kedua:
Hadis riwayat Bukhari dari Sa'sa'ah:

Bahwa Nabi ﷺ bersabda : "Datang kepadaku seseorang (Jibril).
Kemudian ia mengeluarkan hatiku.
Setelah itu dibawalah kepadaku piala yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku.
Setelah itu menuangkan isi piala itu kepadaku.
Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala."
(H.R.
Bukhari dari Sa'sa'ah).

Ketiga:
Hadis riwayat Ahmad dari Anas bin Malik:

"Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : "Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari keledai yang lebih kecil dari bagal.
Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata.
Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai di Baitulmakdis.
Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya.
Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar.
Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah piala yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu, lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata : "Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar".
(H.R.
Ahmad dari Anas bin Malik).

Dari keterangan hadis-hadis tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ dijalankan di waktu malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa atas izin Allah di bawah bimbingan malaikat Jibril!.
Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diperjalankan malam hari itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Perjalanan itu dilakukan dengan Buraq yang mempunyai kecepatan luar biasa sehingga Isra' dan Mikraj hanya memerlukan waktu kurang dari satu malam, dari sesudah waktu `Isyak sampai sebelum subuh.

Adapun mengenai riwayat terjadinya Mikraj akan dijelaskan pada tafsir permulaan An Najm.
Di dalam ayat yang sedang ditafsirkan ini tidak dijelaskan secara terperinci, apakah Nabi ﷺ Isra' dengan ruh dan jasadnya, ataukah rohnya saja.
Itulah sebabnya para mufassirin berbeda-beda pendapat mengenai hal tersebut.
Sebagian besar mufassirin berpendapat bahwa Isra' itu dilakukan dengan ruh dan jasad beliau dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur.
Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya ialah:

a.
Kata (سُبْحَانَ) menunjukkan adanya peristiwa yang hebat, seumpama Nabi itu di-Isra'kan dalam keadaan tidur, tidaklah sepatutnya diungkapkan dengan menggunakan ayat yang didahului dengan tasbih.

b.
Andai kata Isra' itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya.
Juga banyaknya orang muslim yang murtad kembali, lantaran adanya berita itu, menunjukkan peristiwa Isra' bukanlah peristiwa yang biasa.
Lagi pula kata-kata Umu Hani' yang melarang Nabi menceritakannya kepada siapapun agar mereka tidak mendustakannya.
Juga menguatkan bahwa Isra' itu dilakukan Nabi dengan ruh dan jasadnya.
Dan peristiwa yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelaran "As-Siddiq" karena dia membenarkan Nabi Isra' dengan ruh dan jasadnya, sedangkan orang-orang lain berat menerimanya.

c.
Bahwa firman Allah (بِعَبْدِهِ) menunjukkan suatu kesatuan bulat antara ruh dan jasad.

d.
Perkataan Ibnu Abbas bahwa : Orang-orang Arab kerap kali pula menggunakan kata ru'ya dalam arti penglihatan mata, maka kata ru'ya yang tersebut dalam firman Allah:

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan Kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.
(Q.S.
Al Isra': 60)

e.
Yang diperlihatkan kepada Nabi pada waktu Isra' dan Mikrajnya adalah berarti penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modem.
Segolongan mufassirin yang lain berpendapat bahwa Isra' dilakukan Nabi dengan rohnya saja.
Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan alasan-alasan.

a.
Bahwa Muawiyah bin Abu Sofyan apabila ditanya tentang Isra' Nabi Muhammad ﷺ beliau menjawab :

Isra' Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.
b.
Bahwa keluarga Abu Bakar r.a.
berkata :

Aisyah pernah berkata : "Jasad Rasulullah ﷺ (pada saat berisra') tidaklah lenyap, akan tetapi rohnyalah yang diisra'kan".

c.
Bahwa Al Hasan berkata pada saat menafsirkan firman Allah "Bahwa yang dimaksud dengan ru'ya" dipakai khusus untuk orang tidur.

Al Maragi di dalam tafsirnya mengemukakan beberapa kecaman terhadap alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpendidikan bahwa Nabi melakukan Isra' dengan rohnya saja, sbb:

1.
Pendapat Muawiyah itu ada kelemahannya, yaitu pada waktu itu Muawiyah belum lagi masuk Islam, akan tetapi dia masih di dalam keadaan musyrik.
Sebab itu, riwayatnya tidak boleh di terima.

2.
Riwayat `Aisyah mendapat kecaman-kecaman dari para Muhaddisin karena pada saat itu `Aisyah masih kecil masih belum menjadi istri Rasulullah ﷺ

Al Israa (17) ayat 1 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Israa (17) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Israa (17) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mahasuci Allah dari hal-hal yang tidak pantas untuk disandangkan kepada diri-Nya.
Dialah yang memperjalankan hamba-Nya, Muhammad, pada sebagian waktu malam dari Masjid al-Haram, di Mekah, menuju Masjid al-Aqsha, di Bayt al-Maqdis, yang telah Kami berkahi sekelilingnya berupa makanan untuk masyarakat sekitarnya.
Semua itu agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang dapat menjadi bukti yang menunjuki keesaan dan kebesaran kekuasaan Kami.
Sesungguhnya hanya Allahlah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maha Suci) artinya memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad ﷺ (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena menjadi zharaf.
Arti lafal al-isra ialah melakukan perjalanan di malam hari, disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang dilakukan itu dalam waktu yang sedikit, oleh karenanya diungkapkan dalam bentuk nakirah untuk mengisyaratkan kepada pengertian itu (dari Masjidilharam ke Masjidilaksa) yakni Baitulmakdis, dinamakan Masjidilaksa mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharam (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami.
(Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi ﷺ Maka Dia melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu malam, di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan para nabi, naik ke langit, melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan bermunajat langsung dengan Allah subhanahu wa ta'ala Sehubungan dengan peristiwa ini Nabi ﷺ menceritakannya melalui sabdanya, "Aku diberi buraq, adalah seekor hewan yang berbulu putih, tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal, bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanva.
Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitulmakdis.
Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi.
Selanjutnya aku memasuki Masjidilaksa dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya.
Setelah itu aku keluar dari Masjidilaksa datanglah kepadaku malaikat Jibril seraya membawa dua buah cawan, yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain berisikan susu.
Aku memilih cawan yang berisikan susu, lalu malaikat Jibril berkata, 'Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).' Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit, ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami, tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam.
Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua.
Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa.
Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku.
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf, dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan.
Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku.
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit.
Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab.
'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku.
Kemudian malaikat Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Dan ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku.
Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku.
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya.
Ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim.
Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur.
Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya.
Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar.
Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah.
Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya.
Rasulullah ﷺ melanjutkan kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari.
Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang keenam).
Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, 'Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?' Aku menjawab, 'Lima puluh kali salat untuk setiap harinya.' Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat melaksanakannya, aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.' Rasulullah ﷺ melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, 'Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.' Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku.
Lalu aku kembali menemui Nabi Musa.
Dan Nabi Musa bertanya, 'Apakah yang telah kamu lakukan?' Aku menjawab, 'Allah telah meringankan lima waktu kepadaku.' Maka Nabi Musa bertanya, 'Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.' Rasulullah melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu.
Hingga akhirnya Allah berfirman, 'Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam, pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima puluh kali salat.
Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan.
Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan.
Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya.
Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan.' Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya.
Maka ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.' Maka aku menjawab, 'Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.'" (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim).
Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Aku melihat Rabbku Azza Wajalla."

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah memuji diri-Nya dan mengagungkan urusan-Nya, karena kekuasaan-Nya terhadap apa yang tidak mampu dilakukan oleh seorang pun selain-Nya.
Tiada Ilah selain-Nya, dan tiada Rabb selain-Nya.
Dialah yang telah memperjalankan hamba-Nya, Muhammad صلی الله عليه وسلم , pada waktu malam, dengan jasad dan ruhnya, dalam keadaan sadar tidak tidur, dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, yang Allah berkahi sekelilingnya dengan tanaman, buah-buahan, dan selainnya, serta Dia menjadikannya sebagai tempat bagi banyak Nabi; agar bisa disaksikan keajaiban kekuasaan Allah dan bukti-bukti keesaan-Nya.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar semua suara, lagi Maha Melihat semua yang bisa dilihat, lalu Dia memberi masing-masing apa yang menjadi haknya di dunia dan akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memulai surat ini dengan mengagungkan diri-Nya dan meng­gambarkan kebesaran peran-Nya, karena kekuasaan-Nya melampaui segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seorang pun selain Dia sendiri.
Maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

...yang telah memperjalankan hamba-Nya.

Yaitu Nabi Muhammad ﷺ

...pada suatu malam.

Maksudnya, di dalam kegelapan malam hari.

...dari Masjidil Haram.

Yang tempatnya berada di Mekah

...ke Masjidil Aqsa.

Yakni Baitul Muqaddas yang terletak di Elia (Yerussalem), tempat asal para Nabi (terdahulu) sejak Nabi Ibrahim 'alaihis salam Karena itulah semua nabi dikumpulkan di Masjidil Aqsa pada malam itu, lalu Nabi ﷺ mengimami mereka di tempat mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah imam terbesar dan pemimpin yang didahulukan.
Semoga salawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semuanya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...yang telah Kami berkahi sekelilingnya.

Yakni tanam-tanamannya dan hasil buah-buahannya.

...agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.

Maksudnya, Kami perlihatkan kepada Muhammad sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar-besar.

Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

Sesungguhnya Dia telah melihat sebagian tanda-tanda (ke­kuasaan) Tuhannya yang paling besar.
(An Najm:18)

Kami akan mengetengahkan hadis-hadis yang menceritakan peristiwa Isra ini yang bersumber dari Nabi ﷺ

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Menge­tahui.

Allah Maha Mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, yang mukmin maupun yang kafir yang membenarkan maupun yang mendustakan di antara mereka.
Dan Dia Maha Melihat semua perbuatan mereka: Maka kelak Dia akan memberikan kepada masing-masing dari mereka balasan yang berhak mereka terima di dunia dan di akhirat.

Imam Abu Abdullah Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada­ku Abdul Aziz ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman (yakni Ibnu Bilal), dari Syarik ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Anas ibnu Malik menceritakan malam hari yang ketika itu Rasulullah ﷺ mengalami Isra dari Masjid Ka'bah (Masjidil Haram).
Disebutkan bahwa ada tiga orang datang kepadanya sebelum ia menerima wahyu, saat itu ia (Nabi ﷺ) sedang tidur di Masjidil Haram.
Orang pertama dari ketiga orang itu berkata, "Yang manakah dia itu?"
Orang yang pertengahan menjawab, "Orang yang paling pertengahan dari mereka.
Dialah orang yang paling baik." Orang yang terakhir berkata, "Ambillah yang paling baik dari mereka." Hanya itulah yang terjadi malam tersebut.
Nabi ﷺ tidak melihat mereka, hingga mereka datang kepadanya di malam lainnya menurut penglihatan hatinya, sedangkan matanya terti­dur, tetapi hatinya tidak tidur.
Demikianlah halnya para nabi, mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak tidur.
Mereka tidak mengajak beliau bicara, melainkan langsung memba­wanya, lalu membaringkannya di dekat sumur zamzam, yang selanjutnya urusannya ditangani oleh Malaikat Jibril yang ada bersama mereka.
Ke­mudian Jibril membelah bagian antara tenggorokan sampai bagian ulu hatinya, lalu ia mencuci isi dada dan perutnya dengan memakai air zam­zam.
Ia lakukan hal ini dengan tangannya sendiri sehingga bersihlah bagian dari tubuh Nabi ﷺ Kemudian Jibril membawa sebuah piala emas yang di dalamnya terdapat sebuah wadah kecil terbuat dari emas, wadah itu berisikan iman dan hikmah.
Lalu Jibril menyisihkannya ke dalam dada dan kerongkongan­nya serta menutupkan bedahannya.
Setelah itu Jibril membawanya naik ke langit pertama.
Jibril mengetuk salah satu pintu langit pertama, maka malaikat penghuni langit pertama bertanya, "Siapakah orang ini?"
Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Orang yang bersamaku adalah Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?"
Jibril menjawab "Ya." Mereka berkata, "Selamat datang untuknya." Semua penduduk langit pertama menyambut gembira kedatangannya.
Para penduduk langit tidak menge­tahui apa yang diinginkan oleh Allah di bumi hingga Allah sendiri yang memberitahukan kepada mereka.
Nabi ﷺ bersua dengan Adam di langit yang pertama, dan Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Ini adalah bapakmu Adam." Maka Nabi ﷺ mengucapkan salam kepada Adam, dan Adam menjawab salamnya seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku, sebaik-baik anak adalah engkau." Di langit pertama itu Nabi ﷺ tiba-tiba melihat ada dua buah sungai yang mengalir.
Maka ia bertanya, "Hai Jibril, apakah nama kedua sungai ini?"
jibril menjawab, "Kedua sungai ini adalah Nil dan Eufrat, yakni sumber keduanya." Jibril membawanya pergi ke sekitar langit itu.
Tiba-tiba Nabi ﷺ melihat sungai lain.
Yang di atasnya terdapat sebuah gedung dari mutiara dan zabarjad.
Maka Nabi ﷺ menyentuhkan tangannya ke sungai itu, ternyata baunya sangat wangi seperti minyak kesturi.
Lalu ia bertanya, "Hai Jibril, sungai apakah ini?"
Jibril menjawab, "Ini adalah Sungai Kausar yang disimpan oleh Tuhanmu buat kamu." Jibril membawanya naik ke langit yang kedua, maka para malaikat (penjaga langit kedua) mengatakan kepadanya pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh penjaga langit pertama, "Siapa­kah orang ini?"
Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapa­kah yang bersamamu?"
Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka berta­nya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?"
Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Selamat atas kedatangannya." Kemudian Jibril membawanya naik ke langit yang ketiga, dan para penjaganya mengatakan kepadanya pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh malaikat penjaga langit yang kedua.
Jibril membawanya lagi naik ke langit yang keempat.
Para penjaga­nya pun melontarkan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan sebelum­nya.
Jibril membawanya lagi naik ke langit yang kelima, dan para penjaganya melontarkan pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan para malaikat penjaga langit yang sebelumnya.
Jibril membawanya lagi naik ke langit yang keenam.
Para penjaga­nya mengajukan pertanyaan yang semisal dengan para malaikat sebelum­nya.
Kemudian Jibril membawanya lagi ke langit yang ketujuh, dan para penjaganya mengajukan pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh penjaga langit sebelumnya.
Pada tiap-tiap lapis langit terdapat nabi-nabi yang nama masing-masingnya disebutkan oleh Jibril.
Perawi hadis berkata bahwa ia ingat nama-nama mereka, antara lain: Nabi Idris di langit yang kedua, Nabi Harun di langit yang keempat, dan nabi lainnya di langit yang kelima, pe­rawi tidak ingat lagi namanya.
Nabi Ibrahim di langit yang keenam, dan Nabi Musa di langit yang ketujuh berkat keutamaan yang dimilikinya, yaitu pernah diajak berbicara langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Musa berkata "Wahai Tuhanku, saya tidak menduga bahwa Engkau akan mengangkat seseorang lebih tinggi di atasku." Kemudian Jibril membawanya naik di atas itu sampai ke tingkatan yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali hanya Allah subhanahu wa ta'ala., hingga sampailah Nabi ﷺ di Sidratul Muntaha dan berada dekat dengan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung.
Maka ia makin bertambah dekat, sehingga jadilah ia (Nabi ﷺ) dekat dengan-Nya.
Sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.
Maka Allah memberikan wahyu kepadanya, antara lain ialah, "Aku wajibkan lima puluh kali salat setiap siang dan malam hari atas umatmu." Kemudian Jibril membawanya turun sampai ke tempat Musa berada, lalu Musa menahannya dan berkata, "Hai Muhammad, apakah yang te­lah diperintahkan oleh Tuhanmu untukmu?"
Nabi ﷺ menjawab, "Tuhan­ku telah memerintahkan kepadaku salat lima puluh kali setiap siang dan malam hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatku tidak akan mampu mengerja­kannya, sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah ke­ringanan dari-Nya buatmu dan buat umatmu." Nabi ﷺ menoleh kepada Jibril, seakan-akan beliau meminta saran darinya mengenai hal tersebut.
Dan Jibril menjawab, "Baiklah jika kamu menghendakinya." Maka Jibril membawanya lagi naik kepada Tuhan Yang Mahaperka-sa lagi Mahasuci, lalu Nabi ﷺ memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
yang ber­ada di tempat-Nya, "Wahai Tuhanku berikanlah keringanan buat kami, karena sesungguhnya umatku tidak akan mampu memikulnya." Maka Allah memberikan keringanan sepuluh salat kepadanya.
Nabi ﷺ kembali kepada Musa dan Musa menahannya.
Maka Musa terus menerus membolak-balikannya dari dia ke Tuhannya, hingga jadilah salat lima waktu.
Setelah ditetapkan salat lima waktu, Musa menahannya kembali dan berkata, "Hai Muhammad, demi Allah, sesungguhnya aku telah mem­bujuk Bani Israil:—umatku— untuk mengerjakan yang lebih sedikit dari lima waktu, tetapi mereka kelelahan, akhirnya mereka meninggalkannya.
Umatmu lebih lemah, tubuh, hati, badan, penglihatan, dan pendengaran­nya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan kepada-Nya buatmu." Setiap kali mendapat saran dari Nabi Musa, Nabi ﷺ selalu meno­leh kepada Jibril untuk meminta pendapatnya, dan Malaikat Jibril dengan senang hati menerimanya, akhirnya pada kali yang kelima Jibril membawanya naik dan ia berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku adalah orang-orang yang lemah, tubuh, hati, pendengaran, penglihatan, dan jasad mereka, maka berilah keringanan lagi buat kami." Maka Tuhan Yang Mahaperkasa, Mahasuci, lagi Mahatinggi berfir­man, "Hai Muhammad."Nabi ﷺ menjawab, "Labbaikawasa'daika (saya penuhi seruan-Mu dengan penuh kebahagiaan)." Allah berfirman, "Sesungguhnya keputusan yang ada pada-Ku ini tidak dapat diubah lagi, persis seperti apa yang telah Aku tetapkan atas dirimu di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).
Maka setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan.
Dan kewajiban salat itu telah tercatat lima puluh kali di dalam Ummul Kitab, sedangkan bagimu tetap lima kali." Nabi ﷺ kembali kepada Musa dan Musa berkata "Apakah yang telah engkau lakukan?"
Nabi ﷺ menjawab, "Allah telah memberikan keringanan bagi kami, Dia telah memberikan kepada kami setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan yang semisal." Musa berkata, "Sesungguhnya, demi Allah, saya telah membujuk Bani Israil untuk mengerjakan yang lebih ringan dari itu, tetapi mereka meninggalkannya.
Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah ke­ringanan buat dirimu juga." Rasulullah ﷺ bersabda, "Hai Musa, sesungguhnya —demi Allah— saya malu kepada Tuhanku, karena terlalu sering bolak-balik kepada-Nya." Musa berkata, "Kalau begitu, turunlah engkau dengan menyebut nama Allah." Perawi melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi ﷺ terbangun, dan dia berada di Masjidil Haram."

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan di dalam hadis syarik adanya suatu tambahan yang hanya ada pada riwayatnya, sesuai dengan pendapat orang yang menduga bahwa Nabi ﷺ melihat Allah subhanahu wa ta'ala.
da­lam peristiwa ini.
Yang dimaksudkan ialah apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya,

"Kemudian Dia mendekat," yakni Tuhan Yang Mahaperkasa mendekat kepadanya (Nabi ﷺ), "lalu bertambah mendekat lagi, maka jadilah Dia dekat kepadanya (Muhammad ﷺ) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi."

Selanjutnya Imam Baihaqi mengatakan bahwa pendapat Aisyah dan Ibnu Mas'ud serta Abu Hurairah yang menakwilkan ayat-ayat ini —bahwa Nabi ﷺ meli­hat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya— merupakan pendapat yang paling sahih.

Pendapat yang dikatakan oleh Imam Baihaqi dalam masalah ini adalah pendapat yang benar, karena sesungguhnya Abu Zar r.a.
pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?"
Rasulullah ﷺ menjawab:

Nur, mana mungkin aku dapat melihatnya.
Menurut riwayat yang lain disebutkan: Saya hanya melihat nur (cahaya).
(Diketengahkan oleh Imam Muslim)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
(An Najm:8)

Sesungguhnya yang dimaksudkan hanyalah Malaikat Jibril 'alaihis salam, seperti yang ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui Siti Aisyah Ummul Muminin dan Ibnu Mas'ud.

Demikian pula yang ditetapkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah.
Tiada seorang pun di antara para sahabat yang menentang penafsiran ayat dengan takwil seperti ini.

Sebuah Pasal:

Pendapat orang yang mengatakan bahwa semua riwayat, sebagian darinya berbeda dengan sebagian yang lain, adakalanya perbedaannya sangat mencolok.
Lalu ia menyimpulkan adanya berkali-kali perjalanan Isra, maka sesungguhnya pendapat ini keliru dan jauh dari kebenaran.
Sebagian di antara ulama mutaakhkhirin mengatakan bahwa Nabi ﷺ menjalani Isra dari Mekah ke Baitul Maqdis sekali, lalu dari Mekah ke langit sekali, dan sekali lagi ke Baitul Maqdis lalu ke langit.

Yang mengherankan orang yang berpendapat seperti ini merasa puas dengan kesimpulan yang didapatkannya.
Dia merasa bahwa dirinya telah menyelesaikan semua kesulitan sehubungan dengan masalah Isra ini.
Padahal kenyataannya pendapatnya ini tiada seorang pun yang menukilnya dari ulama Salaf selain dia sendiri.
Seandainya perjalanan Isra yang dilakukan oleh Nabi ﷺ berbilang, tentulah Nabi ﷺ menceritakannya kepada umatnya, dan tentulah orang-orang menukilnya dan menyatakan bahwa perjalanan Isra Nabi ﷺ dilakukan berkali-kali.

Musa ibnu Uqbah telah meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa perja­lanan Isra dilakukan setahun sebelum hijrah.
Hal yang sama telah dikata­kan oleh Urwah.
Lain pula dengan As-Saddi, ia mengatakan bahwa perjalanan Isra dilakukan enam belas bulan sebelum hijrah.

Pendapat yang benar mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menjalani Isra-nya dalam keadaan terjaga, buka dalam keadaan tidur (mimpi), yaitu dari Mekah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq.
Disebutkan bahwa setelah Nabi ﷺ di depan pintu Masjidil Aqsa, ia menambatkan hewan kendaraannya di dekat pintu masjid, lalu memasukinya dan me­ngerjakan salat menghadap ke arah kiblat sebanyak dua rakaat, yaitu salat tahiyyatul masjid (penghormatan pada masjid).

Kemudian didatangkan Mi’raj, sebuah alat seperti tangga bentuknya, memiliki undagan-undagan untuk naik ke atas.
Lalu Nabi ﷺ menaikinya menuju ke langit yang terdekat, kemudian ke langit-langit selanjutnya sampai ke langit yang ketujuh.

Di setiap lapisan langit Nabi ﷺ disambut oleh penghuni langit yang selanjutnya.
Nabi ﷺ mengucapkan salam kepada nabi-nabi yang ada di setiap langit sesuai dengan kedudukan dan tingkatan mereka.
Se­hingga bersualah Nabi ﷺ dengan Musa yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah di langit yang keenam, dan beliau bersua dengan Nabi Ibrahim di langit yang ketujuh.

Kemudian Nabi ﷺ melampaui kedudukan kedua nabi itu dan nabi­ nabi lain yang sebelumnya, hingga sampailah Nabi ﷺ pada suatu ting­katan yang dari tempat itu beliau dapat mendengar geretan kalam, yakni kalam yang mencatat takdir terhadap segala sesuatu yang telah ada.

Nabi ﷺ melihat Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha diliputi oleh perintah Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu oleh sejumlah yang sangat besar dari kupu-kupu emas dan berbagai macam warna-warni, para malaikat meliputinya pula.
Di tempat itulah Nabi ﷺ melihat bentuk dan rupa asli Malaikat Jibril yang memiliki enam ratus sayap.
Dan Nabi ﷺ melihat rafraf (bantal-bantal) hijau yang menutupi semua cakrawala pandangan.

Nabi ﷺ melihat Baitul Ma'mur dan Nabi Ibrahim Al-Khalil pemba­ngun Ka'bah bumi sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma'mur, karena Baitul Ma'mur adalah Ka'bah penghuni langit.
Setiap hari Baitul Ma'mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang melakukan ibadah di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya sampai hari kiamat.

Nabi ﷺ melihat surga dan neraka serta difardukan kepada Nabi Saw, salat lima puluh kali di tempat itu, kemudian diberikan keringanan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
sampai menjadi lima kali salat (salat lima waktu) sebagai rahmat dari Allah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam hal ini terkandung perhatian yang besar terhadap kemuliaan dan kebesaran salat.

Lalu Nabi ﷺ turun ke Baitul Maqdis dengan ditemani oleh semua nabi, kemudian Nabi ﷺ salat bersama mereka di dalam Baitul Maqdis setelah waktu salat tiba.
Barangkali salat yang dimaksud salat Subuh hari itu.

Di antara ulama ada yang menduga bahwa Nabi ﷺ mengimami salat mereka di langit.
Tetapi berdasarkan riwayat yang banyak menyebutkan, hal itu terjadi di Baitul Maqdis.
Hanya dalam sebagian riwayat tersebut ada yang menyebutkan bahwa salat itu dilakukan ketika pertama kali Nabi ﷺ memasukinya.

Menurut lahiriah makna hadis menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah Nabi ﷺ pulang menuju ke Baitul Maqdis.
Dikatakan demikian karena ketika Nabi ﷺ melewati mereka di tempatnya masing-masing, Nabi ﷺ bertanya kepada Jibril 'alaihis salam tentang masing-masing orang dari mereka, lalu Malaikat Jibril memberitahukan kepada Nabi ﷺ

Kesimpuan inilah yang layak dipegang, karena pada awalnya Nabi ﷺ di­perintahkan untuk menghadap kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
yang Mahatinggi untuk difardukan atasnya dan atas umatnya perintah yang dikehendaki-Nya.

Setelah selesai menerima perintah yang dimaksudkan oleh Allah, maka barulah Nabi ﷺ berkumpul bersama saudara-saudaranya dari kalangan para nabi.
Kemudian ditampakkan keutamaan dan kemuliaan Nabi ﷺ atas mereka karena Nabi ﷺ diajukan untuk menjadi imam salat mereka, Jibrillah yang mengisyaratkan hal tersebut kepada Nabi ﷺ

Setelah itu Nabi ﷺ keluar dari Baitul Maqdis, lalu mengendarai Buraqnya dan kembali ke Mekah sebelum pagi hari.

Adapun mengenai penyuguhan beberapa jenis minuman kepadanya, yaitu minuman susu dan minuman madu atau minuman khamr, atau minuman susu dan air atau semuanya, menurut sebagian riwayat, hal itu terjadi di Baitul Maqdis, sedangkan menurut riwayat yang lain terjadi di langit.
Barangkali hal ini terjadi di Baitul Maqdis dan juga di langit, mengingat suguhan ini termasuk ke dalam Bab "Menyediakan Sajian buat Tamu yang Baru Datang".

Kemudian para ulama berbeda pendapat apakah Isra yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ini dilakukan oleh tubuh dan rohnya, ataukah hanya dengan rohnya saja?
Ada dua pendapat mengenai masalah ini.
Tetapi menurut kebanyakan ulama, Nabi ﷺ menjalani Isra-nya dengan tubuh dan rohnya lagi dalam keadaan terjaga, bukan sedang dalam keadaan tidur (mimpi).

Tetapi mereka tidak menyangkal bila Rasulullah ﷺ telah melihat hal tersebut dalam mimpinya, kemudian sesudah itu beliau ﷺ melihat­nya langsung dalam keadaan jaga.
Karena sesungguhnya tidak sekali-kali Nabi ﷺ melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu datang seperti cahaya pagi hari.

Bukti yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menjalani Isra-nya de­ngan badan dan rohnya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang menyebutkan:

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya.

Kata tasbih yang mengawali ayat ini tidak sekali-kali disebutkan melainkan bila mengawali perkara-perkara yang besar.
Seandainya peristiwa Isra itu dilakukan dalam keadaan tidurnya (mimpinya), tentulah tidak mengandung sesuatu hal pun yang besar dan bukan dianggap sebagai peristiwa yang besar, serta orang-orang kafir Quraisy pun tidak segera mendustakannya, dan tidak akan murtadlah sejumlah orang yang tadinya telah masuk Islam.

Dan lagi pengertian kata 'hamba' mencakup pengertian roh dan ja­sad.
Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman: Yang telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam.
(Al- Isra: 1), Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami tampilkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia.
(Al Israa':60)

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ru-ya dalam ayat ini ialah penglihatan mata yang di tampakkan kepada Rasulullah ﷺ pada malam beliau menjalani Isra-nya, (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk, yakni pohon zaqqum.
Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari.
Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan: Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
(An Najm:17)

Sedangkan penglihatan mata merupakan bagian dari indera tubuh, bukan bagian dari roh.
Dan lagi Nabi ﷺ mengendarai Buraq, yaitu hewan yang berwarna putih mengkilat.
Sesungguhnya hal ini hanyalah untuk badan, bukan untuk roh.
Karena jika rohnya, maka dalam gerakannya tidak diperlukan adanya kendaraan yang dinaikinya.

Ulama yang lainnya mengatakan bahwa Nabi ﷺ melakukan Isra-nya hanya dengan rohnya, tidak dengan jasadnya.
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar di dalam kitab Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub ibnu Atabah ibnul Mugirah ibnul Akhnas, bahwa Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan apabila ditanya tentang Isra Rasulullah ﷺ, maka ia menjawab, "Perjalanan Isra itu adalah mimpi yang benar dari Allah."

Dan telah menceritakan kepadaku sebagian keluarga Abu Bakar, bahwa Siti Aisyah pernah mengatakan, "Jasad Rasulullah ﷺ tidaklah hilang, melainkan beliau menjalankan Isra dengan rohnya."

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa perkataan Siti Aisyah ini tiada yang menyangkalnya, mengingat Al-Hasan pernah mengatakan bahwa ayat berikut, yakni firman Allah subhanahu wa ta'ala.: Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia.
(Al Israa':60) Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala.
tentang kisah Nabi Ibrahim: Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembe­lihmu.
Maka pikirkanlah apa pendapatmu.
(Ash Shaaffat:102)

Muhammad Ibnu Ishaq melanjutkan perkataanya, bahwa Al-Hasan melanjutkan perkatannya, lalu ia menyimpulkan bahwa kini ia mengetahui bahwa wahyu sampai kepada para nabi dari Allah, baik mereka dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur.
Dan Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kedua mataku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga.
Dengan kata lain, hal tersebut datang kepada Rasulullah ﷺ dalam semua keadaannya, baik beliau dalam keadaan tidur ataupun terjaga, semuanya adalah hak dan benar.
Demikianlah pendapat Ibnu Ishaq.

Akan tetapi, Abu Ja'far ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya menyang­gah dan menyangkal serta mengecam pendapat tersebut, bahwa pendapat seperti itu bertentangan dengan makna lahiriah Al-Qur'an.
Lalu Ibnu Jarir mengemukakan dalil-dalil dalam sanggahannya yang antara lain ialah dalil-dalil yang telah di sebutkan di atas.

Sebuah pembahasan penting

Al-Hafiz Abu Na'im Al-Asbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Umar Al-Waqidi, bahwa telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Abur Rijal, dari Umar ibnu Abdullah, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Dahiyyah ibnu Khalifah kepada Kaisar.
Lalu disebutkan tentang kedatangan Dahiyyah kepada Kaisar, yang di dalam teksnya terkandung bukti yang nyata tentang luasnya wawasan berfikir Kaisar Heraklius.
Kaisar memanggil para pedagang (Arab) yang ada di negeri Syam, maka dihadapkanlah Abu Sufyan ibnu Sakhr ibnu Harb beserta teman-temannya kepada Kaisar.
Kaisar menanyai mereka pertanyaan-pertanyaan yang telah terkenal itu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Kemudian Abu Sufyan berupaya semaksimal mungkin untuk menghina Nabi ﷺ dan menganggap kecil perkaranya di hadapan Kaisar.
Dalam konteks ini disebutkan kata-kata Abu Sufyan yang mengatakan, "Demi Allah, tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi diriku untuk mengata-ngatai Muhammad dengan kata-kata yang menjatuhkannya di hadapan Kaisar kecuali karena aku tidak suka melakukan suatu kedustaan di hadapan Kaisar, yang akibatnya justru akan berbalik terhadap diriku dan Kaisar tidak percaya lagi dengan kata-kata yang aku ucapkan pada­nya."

Abu Sufyan mengatakan, "Sampai aku teringat ucapannya tentang malam hari dia menjalani Isra," Abu Sufyan mengatakan pula, "Aku berkata, hai Raja! Maukah aku ceritakan kepadamu suatu berita, agar engkau mengetahui ia seorang pendusta?"
Raja menjawab, "Berita apakah itu?"
Abu Sufyan mengatakan, "Sesungguhnya dia (Nabi ﷺ) mengaku kepada kami bahwa dirinya pergi dari tanah kami — yakni Tanah Suci — dalam suatu malam, lalu datang ke masjid kalian yang di IIiya ini (Yerussalem), lalu ia kembali kepada kami dalam malam yang sama sebelum subuh."

Saat itu Uskup Iliya berada di belakang Kaisar.
Ia berkata, "Sesung­guhnya saya mengetahui kejadian malam itu." Kaisar menoleh ke arah uskup dan bertanya, "Bagaimana engkau mengetahui kejadiannya?"
Uskup menjawab, "Sesungguhnya saya tidak pernah tidur dalam suatu malam pun sebelum menutup semua pintu masjid.
Dan pada malam itu saya menutup semua pintu masjid selain sebuah pintu yang tidak kuat saya tutup.
Maka saya meminta bantuan kepada para pekerja (pembantu) saya dan semua orang yang hadir pada saat itu untuk menutup pintu tersebut, tetapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun.
Kami tidak mampu menggerakkannya, seakan-akan kami sedang menggeser sebuah bukit.
Maka saya memanggil tukang-tukang kayu untuk memeriksa pintu itu.
Mereka datang dan mengatakan,' Sesungguhnya pintu ini terkena oleh tekanan tembok bangunan yang menurun, juga oleh kusennya.
Kami tidak mampu menggerakkannya, nanti saja pagi hari kami akan melihat penyebabnya'."

Uskup melanjutkan kisahnya, bahwa ia masuk ke dalam dan membi­arkan dua pintu itu terbuka lebar, "Kemudian pada pagi hari saya kembali memeriksa pintu itu.
Tiba-tiba batu yang ada di sudut masjid dalam keadaan telah berlubang, dan ternyata pada lubang itu terdapat bekas tali kendali hewan kendaraan yang ditambatkan.
Maka saya berkata kepada teman-teman saya, 'Tiada lain pintu ini tertahan tadi malam melainkan karena ada seorang nabi, dan dia telah melakukan salat di masjid kita ini'." Abu Na'im Al-Asbahani melanjutkan hadisnya hingga selesai.

Sebuah Faedah

Al-Hafiz Abul Khattab Umar ibnu Dahiyyah di dalam kitabnya yang berjudul At-Tanwir fi Maulidis Sirajil Munir telah meriwayatkan hadis Isra melalui Anas, dan ia mengetengahkannya dengan baik serta lengkap.
Sesudah itu ia mengatakan bahwa banyak riwayat hadis mengenai Isra sampai kepada tingkatan mutawatir, seperti riwayat dari Umar ibnul Khattab, Ibnu Mas'ud, Abu Zar, Malik ibnu Sa'sa'ah, Abu Hurairah, Abu Sa'id, Ibnu Abbas, Syaddad ibnu Aus, Ubay ibnu Ka'b, Abdur Rahman ibnu Qart, Abu Habbah, dan Abu Laila yang kedua-duanya dari kalangan Ansar, Abdullah ibnu Amr, Jabir, Huzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Abu Umamah, Samurah ibnu Jundub, Abul Hamra, Suhaib Ar-Rumi, Ummu Hani', Aisyah dan Asma yang kedua-duanya putri Abu Bakar.

Sebagian di antara mereka mengetengahkannya secara panjang lebar, dan sebagian lainnya mengetengahkannya secara ringkas seperti yang disebutkan di dalam kitab-kitab musnad.
Sekalipun riwayat sebagian dari mereka harus memenuhi standar syarat sahih, tetapi hadis mengenai Isra ini kebenarannya telah disepakati oleh kaum muslim, dan orang-orang kafir zindiq dan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhanlah yang berpaling darinya.
Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
(Ash Shaff:8)

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan "Al Israa" yang berarti "memperjalankan di malam hari",
berhubung peristiwa lsraa' Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa' pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani lsrail" artinya keturunan Israil" berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya'ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala
Dihubungkannya kisah 'Israa' dengan riwayat "Bani Israil" pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur'an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa' Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta'ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.


Gambar Kutipan Surah Al Israa Ayat 1 *beta

Surah Al Israa Ayat 1



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Israa

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah17
Nama SurahAl Israa
Arabالإسراء
ArtiPerjalanan Malam
Nama lainAl-Subhan, Bani Israel
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu50
JuzJuz 15
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat111
Jumlah kata1560
Jumlah huruf6440
Surah sebelumnyaSurah An-Nahl
Surah selanjutnyaSurah Al-Kahf
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (21 votes)
Sending