Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Insaan (Manusia) – surah 76 ayat 9 [QS. 76:9]

اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً وَّ لَا شُکُوۡرًا
Innamaa nuth’imukum liwajhillahi laa nuriidu minkum jazaa-an walaa syukuuran;
(sambil berkata),
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.
―QS. Al Insaan [76]: 9

(Saying),
"We feed you only for the countenance of Allah.
We wish not from you reward or gratitude.
― Chapter 76. Surah Al Insaan [verse 9]

إِنَّمَا sesungguhnya hanyalah

"Only
نُطْعِمُكُمْ kami memberi makan kepadamu

we feed you
لِوَجْهِ karena mengharap keridhaan

for (the) Countenance
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah.
لَا tidak

Not
نُرِيدُ kami mengharap

we desire
مِنكُمْ dari kamu

from you
جَزَآءً balasan

any reward
وَلَا dan tidak

and not
شُكُورًا terima kasih

thanks.

Tafsir

Alquran

Surah Al Insaan
76:9

Tafsir QS. Al Insaan (76) : 9. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan keikhlasan orang-orang abrar yang menyatakan bahwa mereka memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan hanya untuk mengharapkan keridaan Allah semata, tidak menghendaki balasan dan tidak pula mengharapkan ucapan terima kasih.
Jadi, di saat hendak memulai usaha sosial itu hendaklah hati dan lidah berniat ikhlas karena Allah, tanpa dicampuri oleh perasaan lain yang ingin menerima balasan yang setimpal atau mengharapkan pujian dan sanjungan orang lain.

Tafsir QS. Al Insaan (76) : 9. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Mereka berkata di dalam hati,
"Sungguh, kami memberi makan kalian hanya untuk mendapatkan rida Allah.
Kami sama sekali tidak mengharapkan balasan atau hadiah dari kalian, juga bukan untuk mendapatkan pujian dari kalian.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Minuman yang dicampur dengan air kafur ini adalah mata air yang diminum hamba-hamba Allah.
Mereka bergiliran memimumnya.


Mereka dapat mengalirkannya ke mana pun mereka kehendaki dengan mudah.
Di dunia mereka adalah orang-orang menunaikan apa yang diwajibkan atas diri mereka dengan taat kepada Allah dan mereka takut akan siksa Allah pada hari Kiamat yang mudaratnya begitu membahayakan, merata kepada semua manusia kecuali orang yang dirahmati Allah.


Mereka memberikan makanan yang disukai dan dibutuhkan diri sendiri kepada orang fakir, miskin, anak yatim, orang musyrik yang ditawan karena peperangan, dan sebagainya.
Mereka berkata dalam dirinya,
"Sesungguhnya, aku berbuat baik kepada kalian karena mengharap ridha Allah, memohon pahalanya, kami tidak meminta ganti dan tidak pula mengharapkan pujian dan sanjungan dari kalian.


Sesungguhnya, kami takut akan siksa Tuhan kami pada suatu hari yang berat, yang pada hari itu wajah-wajah bermuka masam dan dahi-dahi mengerut karena rasa takut yang mencekam."

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah demi karena Allah) demi untuk mengharapkan pahala-Nya


(kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih) berterima kasih atas pemberian makanan itu.
Apakah mereka benar-benar mengucapkan demikian ataukah hal itu telah diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala kemudian Allah memuji mereka.
Sesungguhnya dengan masalah ini ada dua pendapat.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala,:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya.
(QS. Al-Insan [76]: 8)

Menurut suatu pendapat, karena cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka menjadikan damir yang ada merujuk kepada lafaz Allah berdasarkan konteks kalimat.
Tetapi menurut pendapat yang jelas, Domir ini merujuk kepada makanan, yakni mereka memberi makan orang miskin dengan makanan kesukaan mereka.
Demikianlah menurut Mujahid dan Muqatil serta dipilih oleh Ibnu Jarir, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Imam Baihaqi telah meriwayatkan melalui jalur Al-A’masy, dari Nafi’ yang mengatakan bahwa Ibnu Umar sakit, lalu ia menginginkan makan buah anggur karena saat itu sedang musim buah anggur.
Maka Safiyyah alias istri Ibnu Umar menyuruh kurirnya untuk membeli buah anggur dengan membawa uang satu dirham.
Setelah membeli anggur, si kurir dikuntit oleh seorang peminta-minta.
Ketika kurir masuk rumah, si pengemis berkata,
"Saya seorang pengemis."
Maka Ibnu Umar berkata,
"Berikanlah buah anggur itu kepadanya,"
lalu mereka memberikan buah anggur yang baru dibeli itu kepada si pengemis.
Kemudian Safiyyah menyuruh pesuruhnya lagi dengan membawa uang satu dirham lainnya guna membeli buah anggur.
Uang itu dibelikan setangkai buah anggur oleh si pesuruh.
Dan ternyata pengemis itu menguntitnya kembali.
Ketika si pesuruh masuk, pengemis itu berkata,
"Saya seorang pengemis."
Maka Ibnu Umar berkata, ‘"Berikanlah buah anggur itu kepadanya,"
Lalu mereka memberikan buah anggur itu kepada si pengemis.
Akhirnya Safiyyah menyuruh seseorang untuk memanggil si pengemis itu, dan setelah datang ia berkata kepadanya,
"Demi Allah, jika engkau kembali lagi ke sini, engkau tidak akan mendapat suatu kebaikan pun darinya selama-lamanya."
Setelah itu barulah Safiyyah menyuruh pesuruhnya lagi untuk membeli buah anggur.

Di dalam hadis sahih disebutkan:

Sedekah yang paling utama ialah yang engkau keluarkan, sedangkan engkau dalam keadaan sehat lagi kikir, mengharapkan kaya dan takut jatuh miskin.

Yakni dalam keadaan engkau menyukai harta, getol mencarinya, serta sangat kamu perlukan.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.
(QS. Al-Insan [76]: 8)

Orang miskin dan anak yatim telah diterangkan definisi dan sifat-sifat keduanya.
Adapun yang dimaksud dengan tawanan, maka menurut Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, dan Ad-Dahhak, maksudnya tawanan dari ahli kiblat.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa tawanan mereka pada masa itu adalah orang-orang musyrik.
Hal ini diperkuat dengan adanya anjuran Rasulullah yang memerintahkan kepada para sahabatnya untuk memperlakukan para tawanan Perang Badar dengan perlakuan yang baik.
Tersebutlah pula bahwa kaum muslim saat itu mendahulukan para tawanan untuk makan daripada diri mereka sendiri.

Ikrimah mengatakan bahwa mereka adalah budak-budak belian, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, mengingat makna ayat umum menyangkut orang muslim dan juga orang musyrik.
Hal yang sama dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair, Ata, Al-Hasan, dan Qatadah.
Rasulullah ﷺ telah menganjurkan agar para budak diperlakukan dengan perlakuan yang baik.
Hal ini ditegaskan oleh beliau ﷺ bukan hanya melalui satu hadis saja, bahkan di akhir wasiat beliau ﷺ disebutkan:

Peliharalah salat dan (perlakukanlah dengan baik) budak-budak yang dimiliki olehmu.

Mujahid mengatakan bahwa tawanan adalah orang yang dipenjara.
Mereka memberi makan orang-orang tersebut dengan makanan kesukaan mereka, seraya berkata seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah.
(QS. Al-Insan [76]: 9)

Tetapi bukan hanya perkataan saja melainkan dimanifestasikan ke dalam sikap dan perbuatan.
Yakni kami lakukan hai ini hanyalah karena mengharapkan pahala dan rida Allah subhanahu wa ta’ala semata.

kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidakpula (ucapan) terima kasih.
(QS. Al-Insan [76]: 9)

Artinya, kami tidak menginginkan dari kamu balasan yang kamu berikan kepada kami sebagai imbalannya, dan tidak pula pujianmu di kalangan orang lain.

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan,
"Demi Allah, mereka tidak mengatakannya dengan lisannya melainkan Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka yang ikhlas itu, maka Allah memuji mereka dengan maksud agar jejak mereka dapat dijadikan teladan bagi yang lainnya.

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
(QS. Al-Insan [76]: 10)

Yakni sesungguhnya kami lakukan demikian itu tiada lain hanyalah berharap semoga Allah membelaskasihani kami dan menerima kami dengan kasih sayang-Nya di hari yang sangat kelabu lagi penuh dengan kesulitan (hari kiamat).


Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ‘abus artinya penuh dengan kesulitan, dan qamtarir artinya sangat panjang.

Ikrimah dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
(QS. Al-Insan [76]: 10)
Orang kafir bermuka masam di hari itu hingga mengalir dari kedua matanya keringat seperti aspal hitam yang encer.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"
‘Ablisan,"
artinya mengernyitkan kedua bibirnya.
Dan qamtarir artinya mengernyitkan mukanya dan tampak layu.
Sa’id ibnu Jubair dan Qatadah mengatakan bahwa muka orang-orang bermuram durja karena kengerian dan ketakutan yang melandanya.
Qamtarir artinya mengernyitkan dahi dan keningnya karena ketakutan yang sangat.

Unsur Pokok Surah Al Insaan (الإنسان)

Surat Al Insaan terdiri atas 31 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ar Rahmaan.

Dinamai "Al lnsaan" (manusia) diambil dari perkataan "Al Insaan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

▪ Penciptaan manusia.
▪ Petunjuk-petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus.
▪ Memenuhi nazar.
▪ Memberi makan orang miskin dan anak yatim serta orang yang ditawan karena Allah.
▪ Takut kepada hari kiamat.
▪ Mengerjakan shalat dan shalat tahajjud dan bersabar dalam menjalankan hukum Allah.
▪ Ganjaran terhadap orang yang mengikuti petunjuk dan ancaman terhadap orang yang mengingkarinya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Insaan (31 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Al-Insaan (76) : 1-31 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 31 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Insaan (76) : 1-31 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 31

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Insaan ayat 9 - Gambar 1 Surah Al Insaan ayat 9 - Gambar 2 Surah Al Insaan ayat 9 - Gambar 3
Statistik QS. 76:9
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Insaan.

Surah Al-Insan (Arab: الْاٍنسان , “Manusia”) adalah surah ke-76 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 31 ayat.
Dinamakan Al-Insan yang berarti Manusia diambil dari kata Al-Insaan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah76
Nama SurahAl Insaan
Arabالإنسان
ArtiManusia
Nama lainHal Ata, Abrar, Dahr, ad-Dahr (Masa)
Hal ata
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu98
JuzJuz 29
Jumlah ruku’2 ruku’
Jumlah ayat31
Jumlah kata243
Jumlah huruf1089
Surah sebelumnyaSurah Al-Qiyamah
Surah selanjutnyaSurah Al-Mursalat
Sending
User Review
4.9 (21 votes)
Tags:

76:9, 76 9, 76-9, Surah Al Insaan 9, Tafsir surat AlInsaan 9, Quran Al Insan 9, Al-Insan 9, Surah Al Insan ayat 9

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Az Zumar (Rombongan-rombongan) – surah 39 ayat 14 [QS. 39:14]

13-14. Katakanlah pula wahai Nabi, kepada manusia, “Sesungguhnya aku takut akan murka Allah dan azab yang menimpa pada hari yang sangat besar lagi dahsyat yaitu hari Kiamat jika aku durhaka kepada Tuh … 39:14, 39 14, 39-14, Surah Az Zumar 14, Tafsir surat AzZumar 14, Quran Az-Zumar 14, Surah Az Zumar ayat 14

QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 66 [QS. 20:66]

66. Dia berkata, “Silakan kamu melemparkan lebih dulu!” Para penyihir itu lantas melemparkan alat sihir mereka ke tengah arena, maka tiba tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya se … 20:66, 20 66, 20-66, Surah Thaa Haa 66, Tafsir surat ThaaHaa 66, Quran Thoha 66, Thaha 66, Ta Ha 66, Surah Toha ayat 66

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Benar! Kurang tepat!

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Benar! Kurang tepat!

+

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Benar! Kurang tepat!

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Maha Akhir Maha Kuasa Maha Pemberi Balasan Maha Penguasa Hari

Pendidikan Agama Islam #21

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang tidak diawali basmalah adalah … at-Taubah Al-Fatihah Maryam al-Anfal ar-Rahman Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah At-Taubah adalah surah ke-9

Instagram