QS. Al Insaan (Manusia) – surah 76 ayat 16 [QS. 76:16]

قَؔ‍وَارِیۡرَا۠ مِنۡ فِضَّۃٍ قَدَّرُوۡہَا تَقۡدِیۡرًا
Qawaariira min fidh-dhatin qaddaruuhaa taqdiiran;

(yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
―QS. 76:16
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Pahala Iman
76:16, 76 16, 76-16, Al Insaan 16, AlInsaan 16, Al Insan 16, Al-Insan 16

Tafsir surah Al Insaan (76) ayat 16

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Insaan (76) : 16. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat-ayat berikut ini, Allah menerangkan pula makanan dan minuman yang dihidangkan kepada mereka berbagai bentuk, bejana yang terbuat dari perak juga sejumlah gelas yang sangat bening laksana kaca yang berkilauan.
Bejana dan gelas-gelas itu bening sekali seolah-olah kaca yang sangat indah dan tinggi sekali nilainya.
Hadis riwayat Ibnu Abi hatim dari Ibnu ‘Abbas menerangkan sebagai berikut:

Tidak ada sesuatu pun dalam surga, melainkan di dunia telah dianugerahkan Allah kepadamu sesuatu yang mirip dengan itu, kecuali botol-botol yang terbuat dari perak.
(Riwayat Ibnu Abi hatim dari Ibnu ‘Abbas).

Dalam sebuah ayat lain disebutkan pula:

Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata.
Dan kamu kekal di dalamnya.

(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 71)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Para pelayan menjajakan kepada mereka bejana-bejana minuman dari perak dan gelas-gelas lembut dan putih yang sangat jernih bagai kaca dan terbuat dari perak.
Minuman itu ditentukan oleh para pemberi minum sesuai dengan keinginan yang meminum.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yaitu kaca-kaca dari perak) gelas-gelas dan piala-piala itu terbuat dari perak yang bagian dalamnya dapat dilihat dari luar, sehingga tampak bening sebening kaca (yang telah diukur mereka) yakni oleh pelayan-pelayan yang mengedarkannya (dengan sebaik-baiknya) sesuai dengan kecukupan minum orang-orang yang meminumnya, tidak lebih dan tidak pula kurang, cara minum yang demikian itu merupakan cara minum yang paling nikmat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala.
(Q.S. Al-Insan [76]: 15)

Yaitu berkeliling mengitari mereka pelayan-pelayan surga dengan membawa bejana-bejana yang berisikan makanan terbuat dari perak, juga piala-piala atau gelas-gelas minuman.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak.
(Q.S. Al-Insan [76]: 15-16)

Lafaz yang pertama di-nasab-kan karena menjadi khabar kana, yakni kanat qawarira.
Sedangkan yang kedua di-nasab-kan adakalanya karena menjadi badal atau tamyiz, karena dijelaskan oleh firman-Nya:

(yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak.
(Q.S. Al-Insan [76]: 16)

Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan Al-Basri, dan selain mereka yang bukan hanya seorang telah mengatakan bahwa seputih perak dan sebening kaca, dan memang qawarir itu tiada lain terbuat dari kaca.
Gelas-gelas di surga terbuat dari perak, sekalipun demikian tampak transparan; bagian dalamnya dapat terlihat dari bagian luarnya, dan hal seperti ini tiada persamaannya di dunia.

Ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Ismail, dari seorang lelaki, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa di dalam surga tiada sesuatu pun melainkan hal yang serupa pernah diberikan kepadamu di dunia, kecuali botol-botol (gelas-gelas) dari perak.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
(Q.S. Al-Insan [76]: 16)

Yakni sesuai dengan ukuran pemiliknya, tidak lebih dan tidak kurang, bahkan memang disediakan untuknya dan diukur sesuai dengan selera pemiliknya.
Demikianlah makna pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Abu Saleh, Qatadah, Ibnu Abza, Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, Qatadah, Asy-Sya’bi, dan Ibnu Zaid, juga dikatakan oleh Ibnu Jarir dan selainnya yang bukan hanya seorang.
Hal ini menunjukkan perhatian yang sangat dan penghormatan yang tiada taranya bagi pemiliknya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
(Q.S. Al-Insan [76]: 16) Yaitu diukur sebesar telapak tangan; hal yang sama dikatakan oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa sesuai dengan ukuran telapak tangan pelayan.
Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat yang pertama, karena sesungguhnya gelas-gelas itu besar dan kadarnya telah diukur dengan pas untuk kepuasan pemiliknya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Insaan (76) Ayat 16

FIDHDHAH
فِضَّة

Arti kata fidhdhah adalah perak, yaitu sejenis logam yang berwarna putih dan berkilat (digunakan untuk membuat perhiasan, uang dan lain-lain).

Kata fidhdhah diulang enam kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-At Taubah (9), ayat 34;
-Ali Imran (3), ayat 14;
-Az Zukhruf (43), ayat 33;
-Al Insaan (76), ayat 15, 16 dan 21.

Pada surah Ali Imran (3), ayat 14 Allah menerangkan bahawa manusia mempunyai kecenderungan untuk mencintai perkara-perkara duniawi. Pada ayat ini Allah menyebutkan tujuh perkara yang menjadi daya tarik dunia paling utama bagi manusia, salah satu dari tujuh perkara tersebut adalah perak (fidhdhah). Meskipun secara naluriah manusia mempunyai kecenderungan untuk mencintai perkara-perkara tersebut namun Allah mengingatkan bahawa ada kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan dunia tersebut, yaitu kenikmatan di akhirat yang berupa syurga dengan segala kenikmatan di dalamnya.

Manusia dapat dikelompokkan menjadi dua dalam mengelola kecenderungannya mencintai dunia ini, yaitu:

(1). Manusia yang menjadikan perkara-perkara dunia itu sebagai maksud dan matlamat utamakan dalam hidup di dunia ini, sehingga hati, fikiran dan perbuatannya selalu sibuk dengan urusan dunia dan lupa terhadap nasibnya di kehidupan akhirat;

(2). Manusia yang menyadari bahawa perkara-perkara dunia tersebut merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui siapakah hamba-hamba-Nya yang lebih mengutamakan ketaatan dan keridhaan kepada Allah berbanding kenikmatan dan kelezatan dunia, sehingga mereka dapat menjadikan dunia sebagai alat untuk memperbanyak bekal untuk kehidupan di akhirat.

Pada surah At Taubah (9), ayat 34 Allah menerangkan salah satu bentuk manusia yang tergoda dengan kenikmatan dan kemegahan duniawi. Mereka adalah orang-orang yang suka menyimpan emas dan perak (fidhdhah) dan tidak mau mengeluarkan zakat atau menafkahkannya untuk kebajikan. Kenikmatan sementara yang dirasakan oleh manusia di dunia sehingga dia lupa kepada Allah menyebabkannya tidak dapat merasakan kenikmatan di akhirat bahkan mereka akan dibalas oleh Allah dengan siksa yang pedih.

Pada surah Az Zukhruf (43), ayat 33 hingga 35 diterangkan bahwa Allah mampu membuatkan rumah yang atap, tangga, pintu dan ranjang tidurnya terbuat dari perak (fidhdhah) untuk orang-orang yang kufur kepada-Nya. Namun Allah tidak melakukannya karena kenikmatan dunia tersebut adalah kecil nilainya apabila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat, sehingga kenikmatan hidup di akhirat semestinya menjadi matlamat utama manusia, bukannya kemegahan dunia. Selain dari pada itu kemegahan dunia sering kali menyebabkan manusia melampaui batas dalam kekafiran dan kemaksiatan. Oleh karena itu tidak dibuatnya rumah megah untuk orang-orang yang kufur dan juga tidak diberikannya kenikmatan-kenikmatan dunia yang lain kepada sebahagian manusia adalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri, yaitu supaya mereka tidak lupa diri dengan banyak melakukan kemaksiatan. Ini menunjukkan bahawa Allah sangat menyayangi hambanya.

Sedangkan pada surah Al Insaan (76), ayat 15, 16 dan 21 Allah menggambarkan kenikmatan dan kemegahan hidup di syurga. Di antara kemegahan itu adalah bejana yang digunakan adalah terbuat daripada perak (fidhdhah), piala-piala yang digunakan untuk minum bentuknya seperti kaca (nampak jelas isinya), namun ianya juga terbuat dari perak; dan juga gelang-gelang yang digunakan oleh penduduk syurga terbuat dari perak (fidhdhah). Orang yang akan mendapatkan kenikmatan dan kemegahan hidup ini adalah orang-orang yang hati dan akhlaknya baik (Abraar), mempercayai hari akhir dan yang mau memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan para tawanan perang dengan penuh keikhlasan, sebagaimana yang diterangkan oleh ayat-ayat sebelumnya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:434-435

Informasi Surah Al Insaan (الإنسان)
Surat Al Insaan terdiri atas 31 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ar Rahmaan.

Dinamai “Al lnsaan” (manusia) diambil dari perkataan “Al Insaan” yang terdapat padaayat pertama surat ini.

Keimanan:

Penciptaan manusia
petunjuk-petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus
memenuhi nazar,
memberi makan orang miskin dan anak yatim serta orang yang ditawan karena Allah
takut kepada hari kiamat
mengerjakan shalat dan shalat tahajjud dan bersabar dalam menjalankan hukum Allah,
ganjaran terhadap orang yang mengikuti petunjuk dan ancaman terhadap orang yang mengingkarinya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Insaan (31 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Insaan (76) ayat 16 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 16 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 16 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Insaan (76) ayat 12-22 - Shaquilla Rahmadina (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 12-22 - Shaquilla Rahmadina (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Insaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 31 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 76:16
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Insaan.

Surah Al-Insan (Arab: الْاٍنسان , "Manusia") adalah surah ke-76 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 31 ayat.
Dinamakan Al-Insan yang berarti Manusia diambil dari kata Al-Insaan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 76
Nama Surah Al Insaan
Arab الإنسان
Arti Manusia
Nama lain Hal Ata, Abrar, Dahr, ad-Dahr (Masa)
Hal ata
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 98
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 31
Jumlah kata 243
Jumlah huruf 1089
Surah sebelumnya Surah Al-Qiyamah
Surah selanjutnya Surah Al-Mursalat
4.6
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta