QS. Al Insaan (Manusia) – surah 76 ayat 13 [QS. 76:13]

مُّتَّکِـِٕیۡنَ فِیۡہَا عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۚ لَا یَرَوۡنَ فِیۡہَا شَمۡسًا وَّ لَا زَمۡہَرِیۡرًا
Muttaki-iina fiihaa ‘alal araa-iki laa yarauna fiihaa syamsan walaa zamhariiran;

di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.
―QS. 76:13
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Pahala Iman
76:13, 76 13, 76-13, Al Insaan 13, AlInsaan 13, Al Insan 13, Al-Insan 13

Tafsir surah Al Insaan (76) ayat 13

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Insaan (76) : 13. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah menerangkan keadaan ahli surga bahwa mereka duduk bertelekan di atas dipan.
Mereka tidak merasakan teriknya matahari dan tidak pula dinginnya udara.
Dipan-dipan dalam surga itu dikatakan tidak pernah ditimpa terik matahari, tidak disentuh oleh udara dingin yang menusuk sumsum tulang seperti halnya di dunia ini, akan tetapi di sana hanya ada satu iklim sejuk yang tak pernah berubah.
Tidak ada yang merasakan panas maupun dingin.
Tumbuhnya pohon yang sangat rindang dan menyejukkan itu melindungi orang-orang abrar sehingga makin bertambahlah kenikmatan yang mereka peroleh.
Demikian pula buah-buahan yang lezat cita rasanya, dan mudah dipetik.
Mereka menikmati sambil berbaring duduk atau berdiri sesuka hati mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di surga itu mereka duduk bertelekan dipan-dipan.
Mereka tidak merasakan sengatan terik matahari maupun udara dingin yang menusuk.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Seraya bersandarkan) menjadi Haal atau kata keterangan keadaan dari Isim yang dirafa’kan oleh lafal Udkhiluuha.

Lafal Udkhiluuhaa ini keberadaannya diperkirakan (di dalamnya di atas dipan-dipan) atau ranjang-ranjang yang empuk (mereka tidak melihat) tidak menemukan, menjadi Haal yang kedua (di dalamnya matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan) maksudnya, di dalam surga mereka tidak merasakan panasnya matahari yang menyengat, dan tidak pula dingin yang mencekam.

Tetapi menurut suatu pendapat bahwa lafal Zamhariiran ini artinya bulan.

Maknanya, surga tetap terang-benderang sekalipun tanpa matahari dan bulan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal ahli surga dan kenikmatan abadi yang diperoleh mereka serta keutamaan yang besar yang dilimpahkan Allah bagi mereka.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan.
(Q.S. Al-Insan [76]: 13)

Pembahasan mengenai hal ini telah disebutkan di dalam tafsir surat Ash-Shaffat dan juga perbedaan pendapat sehubungan dengan cara mereka bersandar, apakah bersandar atau berbaring atau bersila atau duduk dengan mantap.
Dan bahwa yang dimaksud dengan dipan-dipan ialah pelaminan-pelaminan yang berkelambu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menggigit.
(Q.S. Al-Insan [76]: 13)

Artinya, di tempat mereka tidak ada panas yang terik dan tidak pula dingin yang menusuk tulang, melainkan cuacanya sedang dan selamanya demikian; mereka tidak man berpindah tempat darinya untuk selama-lamanya.

Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka.
(Q.S. Al-Insan [76]: 14)

Yakni ranting-rantingnya dekat dengan mereka.

dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.
(Q.S. Al-Insan [76]: 14)

Manakala seseorang dari mereka ingin memetik buahnya, maka buahnya itu mendekat kepadanya dari rantingnya yang tinggi seakan-akan buah itu tunduk patuh kepadanya.
Seperti yang digambarkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.
(Q.S. Ar-Rahman [55]: 54)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Buah-buahannya dekat.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 23)

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.
(Q.S. Al-Insan [76]: 14) Yakni jika ia berdiri, maka buah itu naik dengan kadar tertentu; apabila ia duduk, maka buah itu turun hingga ia dapat memetiknya, dan apabila ia berbaring, maka buah itu turun lebih rendah lagi agar ia dapat memetiknya.
Yang demikian itulah maksud dari firman-Nya: semudah-mudahnya (Q.S. Al-Insan [76]: 14)

Qatadah mengatakan bahwa tiada duri dan tiada jarak yang menghambat tangan mereka dari memetiknya.
Mujahid mengatakan bahwa tanah surga itu dari perak dan pasirnya minyak kesturi, dan batang pepohonannya dari emas dan perak, dahan-dahan serta ranting-rantingnya dari mutiara basah, zabarjad, yaqut, dan perak; sedangkan buah-buahannya beraneka ragam.
Maka barang siapa yang makan dari buahnya dengan duduk, tidak terganggu; barang siapa yang memakannya sambil berdiri, tidak terganggu; dan barang siapa yang memakan darinya sambil berbaring, tidak terganggu (dari memetiknya).


Kata Pilihan Dalam Surah Al Insaan (76) Ayat 13

ZAMHARIIR
زَمْهَرِير

Lafaz ini diambil dari kata akar izmaharr. Ungkapan izmaharratal ‘ain bermakna mata menjadi merah karena sangat marah. Izmaharr al yaum bermakna hari yang sangat dingin. Apabila disandarkan kepada al kaukab (bintang) berarti sinarannya sangat terang dan sebagainya. Kata dasar bagi kata ini mengisyaratkan sesuatu yang sangat atau amat.

Disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah surah Al Insaan (76) ayat 13.
Allah berfirman:

لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا

Makna lafaz ini mengandung beberapa pendapat yaitu:

1. Ar Razi’ dan Qatadah berkata,
ia be­rmakna sangat dingin.

Qatadah berkata,
ayat ini bermakna diketahui panas pasti menyakitkan dan juga dingin yang amat menyakitkan dan Allah melindungi mereka dari kesakit­an yang bersumber dari kedua­nya.

Az Zamakhysari berkata,
tafsirannya, udara di dalam syurga seimbang dan sedang, tidak panas yang dapat membakar dan tidak ter­amat dingin yang dapat menyakitkan.

Dalam hadits, udara di dalam syurga adalah sajsaj yaitu tidak panas dan tidak dingin.

2. Ats Tsa’lab berkata,
ia bermakna bulan menurut bahasa Tayy. Dari makna ini, sebahagian ahli tafsir menafsirkan ayat di atas “Di dalamnya ter­dapat cahaya dan nur yang tidak me­merlukan kehadiran cahaya matahari maupun bulan.

3. Dari As Suddi bin Abdullah katanya, zamhariira adalah ter­golong dari sejenis siksaan. Abi Salamah menceritakan dari Abi Hurairah, Nabi Muhammad ber­kata, “Api neraka mengadu kepada Tuhannya, ia berkata,
wahai Tuhan, sebahagianku memakan sebahagian yang lain. Oleh karena itu, berikanlah kepada­ku istirahat, lalu Allah mengizinkan­nya di mana setiap tahun diberikan kepada neraka dua kerehatan; dan mereka tidak temui dingin yang me­lainkan ia dari zamhariir Jahanam dan mereka tidak temui panas yang teramat melainkan ia dari panas Jahanam.”

Kesemua makna di atas adalah bertepat­an.

Untukmakna bulan, karena sebelumnya disebut matahari, sedangkan untuk makna dingin karena matahari isyarat pada udara yang panas sehingga makna zamhariira ada­lah lawan daridingin. Kedua makna ini dapat digabungkan dimana ia meng­ isyaratkan di dalam syurga terdapat udara yang seimbang, tidak panas, tidak dingin dan mempunyai cahaya yang tidak perlu kepada matahari maupun bulan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:264

Informasi Surah Al Insaan (الإنسان)
Surat Al Insaan terdiri atas 31 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ar Rahmaan.

Dinamai “Al lnsaan” (manusia) diambil dari perkataan “Al Insaan” yang terdapat padaayat pertama surat ini.

Keimanan:

Penciptaan manusia
petunjuk-petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus
memenuhi nazar,
memberi makan orang miskin dan anak yatim serta orang yang ditawan karena Allah
takut kepada hari kiamat
mengerjakan shalat dan shalat tahajjud dan bersabar dalam menjalankan hukum Allah,
ganjaran terhadap orang yang mengikuti petunjuk dan ancaman terhadap orang yang mengingkarinya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Insaan (31 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Insaan (76) ayat 13 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 13 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 13 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Insaan (76) ayat 12-22 - Shaquilla Rahmadina (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 12-22 - Shaquilla Rahmadina (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Insaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 31 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 76:13
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Insaan.

Surah Al-Insan (Arab: الْاٍنسان , "Manusia") adalah surah ke-76 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 31 ayat.
Dinamakan Al-Insan yang berarti Manusia diambil dari kata Al-Insaan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 76
Nama Surah Al Insaan
Arab الإنسان
Arti Manusia
Nama lain Hal Ata, Abrar, Dahr, ad-Dahr (Masa)
Hal ata
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 98
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 31
Jumlah kata 243
Jumlah huruf 1089
Surah sebelumnya Surah Al-Qiyamah
Surah selanjutnya Surah Al-Mursalat
4.9
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta