QS. Al Hujurat (Kamar-kamar) – surah 49 ayat 4 [QS. 49:4]

اِنَّ الَّذِیۡنَ یُنَادُوۡنَکَ مِنۡ وَّرَآءِ الۡحُجُرٰتِ اَکۡثَرُہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ
Innal-ladziina yunaaduunaka min waraa-il hujuraati aktsaruhum laa ya’qiluun(a);

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
―QS. 49:4
Topik ▪ Perumpamaan nafkah dan amal kebaikan
49:4, 49 4, 49-4, Al Hujurat 4, AlHujurat 4, Al-Hujurat 4

Tafsir surah Al Hujurat (49) ayat 4

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hujurat (49) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah memberikan pelajaran kesopanan dan tata krama dalam menghadapi Rasulullah ﷺ, terutama dalam mengadakan percakapan dengan beliau.
Rasulullah ﷺ selama di Medinah tinggal di sebuah rumah di samping masjid Medinah.
Di dalam rumah itu terdapat kamar-kamar yang berjumlah sembilan buah, dan masing-masing diisi oleh seorang istri nabi.
Bangunan tersebut dibuat sangat sederhana, atapnya rendah sekali sehingga mudah disentuh oleh tangan dan pintu-pintunya terdiri dari gantungan kulit binatang yang berbulu.
Pada masa Khalifah al-Walid bin ‘Abd al-Malik, kamar-kamar itu dibongkar dan dijadikan halaman masjid.
Hal itu sangat menyedihkan kaum Mukminin di Medinah.
Sa’id bin al-Musayyab merespon dan berkata, “Saya suka sekali jika kamar-kamar istri Nabi itu tetap berdiri dan tidak dirombak, agar generasi mendatang dari penduduk Medinah dan orang-orang yang datang dapat meneladani kesederhanaan Nabi Muhammad dalam mengatur rumah tangganya.

Ibnu Ishaq menerangkan dalam kitab Sirah-nya bahwa tahun kesembilan Hijrah itu merupakan tahun mengalirnya para delegasi dari seluruh Jazirah Arab.
Setelah Pembebasan Mekah, seusai Perang Tabuk, dan Kabilah saqif dari thaif masuk Islam dan ikut membaiat Rasulullah ﷺ, maka datanglah dengan berduyun-duyun berbagai delegasi ke Medinah untuk menemui Rasulullah ﷺ Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Zaid bin Arqam bahwa sekumpulan orang-orang Badui berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah kita menemui laki-laki (Muhammad) itu, apabila ia benar-benar seorang nabi, maka kitalah yang paling bahagia beserta dia, dan jika ia seorang raja maka kita pun akan beruntung dapat hidup di sampingnya.” Maka datanglah Zaid bin Arqam kepada Rasulullah ﷺ menyampaikan berita itu lalu mereka datang beramai-ramai menemui beliau yang kebetulan sedang berada di kamar salah seorang istrinya.
Mereka memanggil dengan suara yang lantang sekali, “Ya Muhammad, ya Muhammad, keluarlah dari kamarmu untuk berjumpa dengan kami karena tujuan kami sangat indah dan celaan kami sangat menusuk perasaan.” Nabi Muhammad ﷺ keluar dari kamar istrinya untuk menemui mereka dan turunlah ayat ini.
Menurut Qatadah, rombongan sebanyak tujuh puluh orang itu adalah dari kabilah Bani Tamim.
Mereka berkata, “Kami ini dari Bani Tamim, kami datang ke sini membawa pujangga-pujangga kami dalam bidang syair dan pidato untuk bertanding dengan penyair-penyair kamu.” Nabi menjawab, “Kami tidak diutus untuk mengemukakan syair dan kami tidak diutus untuk mem-perlihatkan kesombongan, tetapi bila kamu mau mencoba, boleh kemukakan syairmu itu.” Maka tampillah salah seorang pemuda di antara mereka membangga-banggakan kaumnya dengan berbagai keutamaan.
Nabi Muhammad menampilkan Hassan bin sabit untuk menjawab syair mereka dan ternyata Hassan dapat menundukkan mereka semuanya.
Setelah mereka mengakui keunggulan hassan, mereka lalu mendekati Rasulullah ﷺ dan mengucapkan dua kalimat syahadat dan sekaligus masuk Islam.
Kebijaksanaan Nabi Muhammad dalam menghadapi delegasi dari Bani Tamim yang tidak sopan itu akhirnya berkesudahan dengan baik.
Sebelum pulang, mereka lebih dahulu telah mendapat petunjuk tentang jalan yang benar dan kesopanan dalam pergaulan.
Dengan tegas sekali Allah menerangkan bahwa orang-orang yang memanggil Nabi supaya keluar kamar istrinya yang ada di samping masjid Medinah, kebanyakan mereka itu bodoh, tidak mengetahui kesopanan dan tata krama dalam mengadakan kunjungan kehormatan kepada seorang kepala negara apalagi seorang nabi.
Tata cara yang dikemukakan ayat ini, sekarang dikenal sebagai protokoler dan security (keamanan).
Dari ayat ini dapat pula dipahami bahwa agama Islam sejak dahulu kala sudah mengatur kode etiknya dengan maksud memberikan penghormatan yang pantas kepada pembesar yang dikunjungi.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang memanggilmu, Muhammad, dari luar kamarmu kebanyakan mereka benar-benar tidak mengerti cara menghormati dan memuliakan kedudukanmu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar) yakni dari luar kamar istri-istrinya.

Lafal Hujuraat bentuk jamak dari lafal Hujratun, yang artinya, sepetak tanah yang dikelilingi oleh tembok atau lainnya, yang digunakan sebagai tempat tinggal.

Masing-masing di antara mereka memanggil Nabi ﷺ dari belakang kamar-kamarnya, karena mereka tidak mengetahui di kamar manakah Nabi ﷺ berada.

Mereka memanggilnya dengan suara yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab Badui, yaitu dengan suara yang keras dan kasar (kebanyakan mereka tidak mengerti) tentang apa yang harus mereka kerjakan di dalam menghadapi kedudukanmu yang tinggi, dan sikap penghormatan manakah yang pantas mereka lakukan untukmu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang memanggil Nabi ﷺ dari luar kamarnya, yakni kamar istri-istrinya, seperti yang dilakukan oleh kebiasaan orang-orang Arab kampung yang keras lagi kasar wataknya.

Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

kebanyakan mereka tidak mengerti.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 4)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kepada etika sopan santun dalam hal tersebut.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 5)

Yakni tentulah hal tersebut mengandung kebaikan dan maslahat bagi mereka di dunia dan akhiratnya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hujurat (49) Ayat 4

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Abu Ya’la dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Zaid bin Arqam bahwa apabila orang-orang Arab berkunjung ke rumah Rasulullah ﷺ, mereka suka berteriak memanggil beliau dari luar dengan ucapan: “Hai Muhammad ! Hai Muhammad !” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Hujurat: 4-5) yang melukiskan perbuatan seperti itu bukan akhlak Islam.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah.
Riwayat ini mursal, tetapi mempunyai syawaahid (beberapa penguat) yang marfu’, yang ada di dalam kitab Sunanut Tirmidzi, dari Hadits al-Barra’ bin ‘Azid dll, tetapi tidak menyebutkan nuzulul ayat.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ sambil berteriak memanggil beliau dari luar: “Hai Muhammad ! Pujianku sangat baik, tapi cacianku juga sangat tajam.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Celaka engkau, yang bersifat demikian itu adalah Allah.” Ayat ini (al-Hujurat: 4) turun sebagai larangan kepada orang-orang yang suka berteriak-teriak dari luar rumah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari al-Aqra bin Habis bahwa al-Aqra bin Habis memanggil-manggil Rasulullah ﷺ dari luar rumah, akan tetapi beliau tidak menjawabnya.
Ia pun berteriak: “Hai Muhammad ! Sesungguhnya pujianku baik, dan cacianku sangat tajam.” Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Yang bersifat demikian itu adalah Allah.” Ayat ini (al-Hujurat: 4-5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dll, yang bersumber dari al-Aqra’ bahwa al-Aqra’ datang kepada Nabi ﷺ dan berteriak-teriak dari luar rumah :”Hai Muhammad, keluarlah !” Ayat ini (al-Hujurat: 4-5) turun sebagai teguran berkenaan dengan kekurang-sopanan dalam bertamu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hujurat (49) Ayat 4

HUJURAAT
حُجُرَٰت

Lafaz hujuraat adalah bentuk jamak dari lafaz tunggal hujrah yang berarti ruang dalam rumah yang dikelilingi tembok atau tempat untuk melindungi harta dari kerusakan.

Lafaz dalam bentuk tunggal tidak disebutkan di dalam Al Qur’an. Sedangkan dalam bentuk jamak hanya sekali saja disebut yaitu dalam surah Al Hujurat (49), ayat 4.

Makna hujuraat dalam ayat ini ialah ruangan atau bilik tempat tinggal isteri-isteri Rasulullah.

Imam Ibn Katsir menerangkan, dalam ayat ini Allah mencela orang yang me­manggil Rasulullah di luar bilik tempat tinggal isteri-isteri Rasulullah seperti yang dilakukan oleh orang Arab yang kasar. Oleh karena itu, Allah berfirman sebahagian besar dari mereka adalah orang yang tidak mengguna­kan akalnya. Sekiranya mereka bersabar menunggu Rasulullah keluar dari bilik berjumpa dengan mereka dan mereka tidak memanggil Rasulullah dari luar bilik, itu adalah lebih baik bagi mereka, baik itu untuk urusan agama maupun urusan dunia mereka karena itu menunjukkan sikap menjaga adab terhadap Rasulullah, menjaga kehormatan beliau dan memberikan hak penghormatan yang sebenarnya kepada beliau dan memuliakan beliau.

Ayat ini turun karena perbuatan Aqra’ bin Habis At Tamimi seperti yang diriwayatkan oleh lebih dari satu imam.

Diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Aqra’ bin Habis At­ Tamimi memanggil Rasulullah dan berkata,
“Wahai Muhammad! Wahai Muhammad!” (dalam reiwayat lain disebutkan “Wahai Rasulullah!”, tetapi Rasulullah tidak men­jawab panggilan itu. Setelah Rasulullah keluar, Aqra’ berkata,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya memujiku adalah perhias­an sedangkan mencela diriku adalah aib” Kemudian Rasulullah berkata,
“Hak yang seperti itu adalah milik Allah” Kemudian Allah memberi petunjuk kepada umat Islam mengenai adab dalam bermu’amalah dengan Rasulullah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:201

Informasi Surah Al Hujurat (الحجرات)
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadilah.

Dinamai “Al Hujuraat” (kamar-kamar), diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini.
Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya.
Memanggil Nabi Muham­ mad ﷺ dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Keimanan:

Masuk Islam harus disempumakan dengan iman yang sebenar-benarnya.

Hukum:

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul­Nya
keharusan meneliti sesuatu perkhabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik
kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara
kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya kepada golongan kaum muslimin yang lain
larangan mencaci, menghina dan sebagainya
larangan berburuk sangka
bergunjing dan memfitnah dan lain-lain.

Lain-lain:

Adah sopan santun berbicara dengan Rasulullah ﷺ
Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal mengenal
setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa
sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benamya beriman.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hujurat (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 4 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 4 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 4 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hujurat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 49:4
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hujurat.

Surah Al-Hujurat (bahasa Arab : سورة الحجرات ) adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Dinamakan Al-Hujurat yang berarti Kamar-Kamar diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat ini.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ.
utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata,
"Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata,
"Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.
Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S.
Al Hujurat, 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S.
Al Hujurat, 5).
Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah ﷺ.
bila berbicara dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S.
Hujurat 2).

Nomor Surah 49
Nama Surah Al Hujurat
Arab الحجرات
Arti Kamar-kamar
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 106
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 353
Jumlah huruf 1533
Surah sebelumnya Surah Al-Fath
Surah selanjutnya Surah Qaf
4.5
Ratingmu: 4.9 (27 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/49-4









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta