QS. Al Hujurat (Kamar-kamar) – surah 49 ayat 13 [QS. 49:13]

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
Yaa ai-yuhaannaasu innaa khalaqnaakum min dzakarin wa-untsa waja’alnaakum syu’uuban waqabaa-ila lita’aarafuu inna akramakum ‘indallahi atqaakum innallaha ‘aliimun khabiirun;

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
―QS. 49:13
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Pahala Iman
49:13, 49 13, 49-13, Al Hujurat 13, AlHujurat 13, Al-Hujurat 13

Tafsir surah Al Hujurat (49) ayat 13

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hujurat (49) : 13. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong.
Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia pada sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.
Kebiasaan manusia memandang kemuliaan itu selalu ada sangkut-pautnya dengan kebangsaan dan kekayaan.
Padahal menurut pandangan Allah, orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling takwa kepada-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu hibban dan At-Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar bahwa ia berkata:

Rasulullah ﷺ melakukan tawaf di atas untanya yang telinganya tidak sempurna (terputus sebagian) pada hari Fath Makkah (Pembebasan Mekah).
Lalu beliau menyentuh tiang Ka’bah dengan tongkat yang bengkok ujungnya.
Beliau tidak mendapatkan tempat untuk menderumkan untanya di masjid sehingga unta itu dibawa keluar menuju lembah lalu menderumkannya di sana.
Kemudian Rasulullah memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan pada kalian keburukan perilaku Jahiliah.
Wahai manusia, sesungguhnya manusia itu ada dua macam: orang yang berbuat kebajikan, bertakwa, dan mulia di sisi Tuhannya.
Dan orang yang durhaka, celaka, dan hina di sisi Tuhannya.
Kemudian Rasulullah membaca ayat: ya ayyuhan-nas inna khalaqnakum min dhakarin wa untsa Beliau membaca sampai akhir ayat, lalu berkata, “Inilah yang aku katakan, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.
(Riwayat Ibnu hibban dan At-Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar).

Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Mengetahui tentang apa yang tersembunyi dalam jiwa dan pikiran manusia.
Pada akhir ayat, Allah menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui tentang segala yang tersembunyi di dalam hati manusia dan mengetahui segala perbuatan mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dalam keadaan sama, dari satu asal:
Adam dan Hawa’.
Lalu kalian Kami jadikan, dengan keturunan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal dan saling menolong.
Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.
Allah sungguh Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Mengenal, yang tiada suatu rahasia pun tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan) yakni dari Adam dan Hawa (dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa) lafal Syu’uuban adalah bentuk jamak dari lafal Sya’bun, yang artinya tingkatan nasab keturunan yang paling tinggi (dan bersuku-suku) kedudukan suku berada di bawah bangsa, setelah suku atau kabilah disebut Imarah, lalu Bathn, sesudah Bathn adalah Fakhdz dan yang paling bawah adalah Fashilah.

Contohnya ialah Khuzaimah adalah nama suatu bangsa, Kinanah adalah nama suatu kabilah atau suku, Quraisy adalah nama suatu Imarah, Qushay adalah nama suatu Bathn, Hasyim adalah nama suatu Fakhdz, dan Al-Abbas adalah nama suatu Fashilah (supaya kalian saling kenal-mengenal) lafal Ta’aarafuu asalnya adalah Tata’aarafuu, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Ta’aarafuu, maksudnya supaya sebagian dari kalian saling mengenal sebagian yang lain bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau keturunan, karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai dari segi ketakwaan.

(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) tentang kalian (lagi Maha Mengenal) apa yang tersimpan di dalam batin kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, yaitu Adam dan Hawa, kemudian Dia menjadikan mereka berbangsa-bangsa.
Pengertian bangsa dalam bahasa Arab adalah sya ‘bun yang artinya lebih besar daripada kabilah, sesudah kabilah terdapat tingkatan-tingkatan lainnya yang lebih kecil seperti fasa-il (puak), ‘asya-ir (Bani), ‘ama-ir, Afkhad, dan lain sebagainya.

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan syu’ub ialah kabilah-kabilah yang non-Arab.
Sedangkan yang dimaksud dengan kabilah-kabilah ialah khusus untuk bangsa Arab, seperti halnya kabilah Bani Israil disebut Asbat.
Keterangan mengenai hal ini telah kami jabarkan dalam mukadimah terpisah yang sengaja kami himpun di dalam kitab Al-Asybah karya Abu Umar ibnu Abdul Bar, juga dalam mukadimah kitab yang berjudul Al-Qasdu wal Umam fi Ma’rifati Ansabil Arab wal ‘Ajam.

Pada garis besarnya semua manusia bila ditinjau dari unsur kejadiannya —yaitu tanah liat— sampai dengan Adam dan Hawa ‘alaihis salam sama saja.
Sesungguhnya perbedaan keutamaan di antara mereka karena perkara agama, yaitu ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Karena itulah sesudah melarang perbuatan menggunjing dan menghina orang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengingatkan mereka, bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Agar mereka saling mengenal di antara sesamanya, masing-masing dinisbatkan kepada kabilah (suku atau bangsa)nya.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: supaya kamu saling kenal-mengenal.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 13) Seperti disebutkan si Fulan bin Fulan dari kabilah anu atau bangsa anu.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa orang-orang Himyar menisbatkan dirinya kepada sukunya masing-masing, dan orang-orang Arab Hijaz menisbatkan dirinya kepada kabilahnya masing-masing.

Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, dari Abdul Malik ibnu Isa As-Saqafi, dari Yazid Mula Al-Munba’is, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Pelajarilah nasab-nasab kalian untuk mempererat silaturahmi (hubungan keluarga) kalian, karena sesungguhnya silaturahmi itu menanamkan rasa cinta kepada kekeluargaan, memperbanyak harta, dan memperpanjang usia.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, ia tidak mengenalnya melainkan hanya melalui jalur ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Yakni sesungguhnya kalian berbeda-beda dalam keutamaan di sisi Allah hanyalah dengan ketakwaan, bukan karena keturunan dan kedudukan.
Sehubungan dengan hal ini banyak hadis Rasulullah ﷺ yang menerangkannya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Ubaidillah, dari Sa’id ibnu Abu Sa’id r.a., dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai orang yang paling mulia, siapakah dia sesungguhnya?
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Orang yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Mereka mengatakan, “Bukan itu yang kami maksudkan.” Rasulullah ﷺ bersabda: Orang yang paling mulia ialah Yusuf Nabi Allah, putra Nabi Allah dan juga cucu Nabi Allah, yaitu kekasih Allah.
Mereka mengatakan, “Bukan itu yang kami maksudkan.” Rasulullah ﷺ balik bertanya, “Kamu maksudkan adalah tentang kemuliaan yang ada di kalangan orang-orang Arab?”
Mereka menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Orang-orang yang terhormat dari kalian di masa Jahiliah adalah juga orang-orang yang terhormat dari kalian di masa Islam jika mereka mendalami agamanya.

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini bukan hanya pada satu tempat melainkan melalui berbagai jalur dari Abdah ibnu Sulaiman.
Imam Nasai meriwayatkannya di datem kitab tafsir, dari Ubaidah ibnu Umar Al-Umari dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr An-Naqid, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Barqan, dari Yazid ibnul Asam, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia memandang kepada hati dan amal perbuatan kalian.

Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini dari Ahmad ibnu Sinan, dari Kasir ibnu Hisyam dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Abu Hilal, dari Bakar, dari Abu Zarr.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ pernah bersabda kepadanya: Perhatikanlah, sesungguhnya kebaikanmu bukan karena kamu dari kulit merah dan tidak pula dari kulit hitam, melainkan kamu beroleh keutamaan karena takwa kepada Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.

Hadis lain.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Abdul Waris ibnu Ibrahim Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Amr Ibnu Jabalah, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Hunain At-Ta’i bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Habib ibnu Khirasy Al-Asri menceritakan hadis berikut dari ayahnya yang pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Orang-orang muslim itu bersaudara, tiada keutamaan bagi seseorang atas lainnya kecuali dengan takwa.

Hadis lain.

Al-Bazzar telah mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yahya Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Qais (yakni Ibnur Rabi’), dari Syabib ibnu Urqudah, dari Al-Mustazil ibnu Husain, dari Huzaifah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kamu sekalian adalah anak-anak Adam, dan Adam diciptakan dari tanah; untuk itu hendaklah suatu kaum tidak lagi membangga-banggakan orang-orang tuanya, atau benar-benar mereka lebih rendah dari serangga tanah menurut Allah subhanahu wa ta’ala

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengenalnya bersumberkan dari Huzaifah kecuali melalui jalur ini.

Hadis lain.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Asad ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar r.a.
yang mengatakan bahwa di hari penaklukkan kota Mekah Rasulullah ﷺ melakukan tawaf di Baitullah dengan mengendarai untanya yang bernama Qaswa, beliau mengusap rukun dengan tongkat yang dipegangnya.
Maka beliau tidak menemukan ruangan bagi unta Qaswa di dalam Masjidil Haram itu (karena penuh sesak dengan orang-orang).
Akhirnya beliau turun dari untanya dan menyerahkan untanya kepada seseorang yang membawanya ke luar masjid, lalu mengistirahatkannya di lembah tempat sa’i.
Kemudian Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada mereka di atas unta kendaraannya itu, yang dimulainya dengan membaca hamdalah dan memuji-Nya dengan pujian yang pantas untuk-Nya.
Setelah itu beliau bersabda: Hai manusia, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah melenyapkan dari kalian keaiban masa Jahiliah dan tradisinya yang selalu membangga-banggakan orang-orang tua.
Manusia itu hanya ada dua macam, yaitu orang yang berbakti, bertakwa, lagi mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala; dan orang yang durhaka, celaka, lagi hina menurut Allah subhanahu wa ta’ala Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 13) Setelah itu beliau ﷺ mengucapkan istigfar seperti berikut: Aku akhiri ucapan ini seraya memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdu ibnu Humaid, dan Abu Asim Ad Dahhak, dari Makhlad, dari Musa ibnu Ubaidah dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kam, Ibnu Lahi’ah, dari Al-Haris ibnu Yazid, dari Ali ibnu Rabah, dari Uqbah ibnu Amr ra yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah bersabda.
Sesungguhnya nasab kalian ini bukanlah (sarana) untuk merendahkan siapa pun.
Kamu sekalian adalah anak-anak Adam yang mempunyai martabat yang sama tiada bagi seseorang keutamaan atas yang lainnya kecuali dengan agama dan takwa.
Cukuplah (keburukan) bagi seseorang bila dia menjadi orang yang tercela, kikir, lagi buruk kata-katanya.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Yunus, dari Ibnu Wahb dari Ibnu Lahi’ah dengan sanad yang sama, yang bunyi teksnya seperti berikut:

Manusia itu berasal dari Adam dan Hawa mempunyai martabat yang sama.
Sesungguhnya Allah tidak menanyai kedudukan kalian dan tidak pula nasab kalian di hari kiamat nanti.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Tetapi teks hadis ini tidak terdapat di dalam keenam kitab Sittah melalui jalur ini.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Sammak, dari Abdullah ibnu Umrah (suami Durrah binti Abu Lahab),’ dari Durrah binti Abu Lahab yang menceritakan bahwa seorang lelaki berdiri, lalu berjalan menuju kepada Nabi ﷺ Saat itu beliau berada di atas mimbar, lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling baik itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Sebaik-baik manusia ialah yang paling pandai membaca Al-Qur’an, paling bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, paling gencar memerintahkan kepada kebajikan dan paling tekun melarang perbuatan mungkar, serta paling gemar bersilaturahmi.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan.
telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad, dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan: Tiada sesuatu pun dari duniawi ini yang dikagumi oleh Rasulullah ﷺ dan tiada seorang pun yang dikagumi oleh beliau kecuali orang yang mempunyai ketakwaan.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Yakni Dia Maha Mengetahui kalian dan Maha Mengenal semua urusan kalian, maka Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, merahmati siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, serta mengutamakan siapa yang dikehendaki-Nya atas siapa yang dikehendakinya.
Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal dalam semuanya itu.

Ada sebagian ulama yang dengan berdasarkan ayat yang mulia ini berpendapat bahwa kafa’ah (sepadan) dalam masalah nikah bukan merupakan syarat, dan tiada syarat dalam pernikahan kecuali hanya agama, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Sedangkan sebagian ulama lainnya berpegangan kepada dalil-dalil lain yang keterangannya secara rinci disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih, kami telah mengutarakan sebagian darinya di dalam Kitabul Ahkam.

Imam Tabrani telah meriwayatkan dari Abdur Rahman, bahwa ia telah mendengar seorang lelaki dari kalangan Bani Hasyim mengatakan, “Aku adalah orang yang paling utama terhadap Rasulullah ﷺ” Maka orang lain mengatakan, “Aku lebih utama terhadapnya daripadamu, karena aku memiliki hubungan dengannya.”


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hujurat (49) Ayat 13

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersuber dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa fat-hu Makkah (penaklukan kota Mekah), Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan.
Beberapa orang berkata: “Apakah pantas budak hitam ini azan di atas Ka’bah ?” Maka berkatalah yang lain: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Ayat ini (al-Hujurat: 13) turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir di dalam kitab Mbhamaat-nya (yang ditulis tangan oleh Ibnu Basykuwal), yang bersumber dari Abu Bakr bin Abin Dawud di dalam tafsir-nya bahwa ayat ini (al-Hujurat: 13) turun berkenaan dengan Abu Hind yang akan dikawinkan oleh Rasulullah ﷺ kepada seorang wanita Bani Bayadlah.
Bani Bayadlah berkata: “Wahai Rasulullah, pantaskah kalau kami mengawinkan putri-putri kami kepada bekas budak-budak kami ?” Ayat ini (al-Hujurat: 13) turun sebagai penjelasan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan antara bekas budak dan orang merdeka.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hujurat (49) Ayat 13

ATQAA
أَتْقَى

Lafaz ini adalah dalam bentuk isim at tafdil (superlatif), berasal dari at taqwa atau dari kata kerja waqaya yang bermakna menjaga, menghalang dari kesakitan, takut dan kuatir.

Ungkapan ma atqahu lilllaah maknanya “yang paling takut kepada Allah atau alangkah takutnya ia kepada Allah.”

Ia juga bermakna ketaatan dan ibadah, meninggalkan kemaksiatan dan kehinaan.

Al Qurtubi berkata,
“Lafaz atqaa bermakna al muttaqi atau al kha’if (yang takut) atau at ­taqiy seperti kata akbar yang bermakna kabir.”

Kata atqaa disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Lail (92), ayat 17,
-Al Hujurat (49), ayat 13.

Dalam surah Al Hujurat, Al Qurtubi berkata,
“Ayat ini menunjukkan ketakwaan adalah perkara yang dijaga di sisi Allah dan rasul Nya, bukan harta dan keturunan.”

ASy Syawkani berkata,
“Sesungguhnya perbedaan antara kamu adalah dengan takwa. Barang siapa yang memakainya, maka dia berhak dimuliakan dan lebih baik daripada orang yang tidak mernakainya.”

Adapun dalam surah Al Lail, lafaz atqaa mengandung makna takut, atau Abu Bakar, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas.

Ibn Katsir berkata,
“Para mufassir hampir sependapat ayat ini diturunkan kepada Abu Bakar sebagaimana pendapat Asy Syawkani.”

Al Wahidi meriwayatkan orang yang mendengar Ibn Az Zubair sedang ia berkhutbah di atas mimbar dan berkata,
Abu Bakar membeli hamba yang lemah, lalu membebaskannya, ayahnya berkata kepadanya, “Wahai anakku, sebaiknya engkau membeli siapa yang melindungi belakangmu. Beliau berkata,
“Aku tidak menginginkan sesiapa yang melindungi belakangku.” maka turunlah ayat di atas hingga akhirnya”

Kesimpulannya, lafaz atqaa mengandung dua maksud yang saling terkait.

Pertama, bermakna orang yang paling bertakwa sebagaimana pengertiannya dalam surah Al Hujurat.

Kedua, bermakna Abu Bakar, karena ayat itu diturunkan kepada Abu Bakar.

Walau bagaimanapun, kedua makna itu saling berkaitan, di mana Abu Bakar adalah seorang yang paling bertakwa dan jujur. Maka, makna umum dari lafaz itu ialah orang yang paling bertakwa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:83

Informasi Surah Al Hujurat (الحجرات)
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadilah.

Dinamai “Al Hujuraat” (kamar-kamar), diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini.
Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya.
Memanggil Nabi Muham­ mad ﷺ dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Keimanan:

Masuk Islam harus disempumakan dengan iman yang sebenar-benarnya.

Hukum:

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul­Nya
keharusan meneliti sesuatu perkhabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik
kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara
kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya kepada golongan kaum muslimin yang lain
larangan mencaci, menghina dan sebagainya
larangan berburuk sangka
bergunjing dan memfitnah dan lain-lain.

Lain-lain:

Adah sopan santun berbicara dengan Rasulullah ﷺ
Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal mengenal
setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa
sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benamya beriman.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hujurat (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 13 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 13 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 13 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 13 - Putra Maulana (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 13 - Putra Maulana (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hujurat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 49:13
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hujurat.

Surah Al-Hujurat (bahasa Arab : سورة الحجرات ) adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Dinamakan Al-Hujurat yang berarti Kamar-Kamar diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat ini.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ.
utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata,
"Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata,
"Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.
Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S.
Al Hujurat, 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S.
Al Hujurat, 5).
Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah ﷺ.
bila berbicara dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S.
Hujurat 2).

Nomor Surah 49
Nama Surah Al Hujurat
Arab الحجرات
Arti Kamar-kamar
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 106
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 353
Jumlah huruf 1533
Surah sebelumnya Surah Al-Fath
Surah selanjutnya Surah Qaf
4.8
Ratingmu: 4.2 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ q s al hujurat/49 13 ▪ qs al-hujurat/49:13 ▪ qs al hujurat 49 13 ▪ surat al hujurat /49:13 ▪ suara al hujarat 1 - 13 ▪ al hujurat/49:13 ▪ al hujurat 49:13 ▪ al hujurat 49 13 ▪ arti surat al hujurat 49 13 ▪ qs 49:13 asyiq muhammad ▪ qs 49:13 ▪ q s hujurat 49 13 ▪ q s alhujurat 49:13 ▪ al hujuraat 49:13 ▪ q s al hujurat 49 13

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim