QS. Al Hujurat (Kamar-kamar) – surah 49 ayat 11 [QS. 49:11]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا یَسۡخَرۡ قَوۡمٌ مِّنۡ قَوۡمٍ عَسٰۤی اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا خَیۡرًا مِّنۡہُمۡ وَ لَا نِسَآءٌ مِّنۡ نِّسَآءٍ عَسٰۤی اَنۡ یَّکُنَّ خَیۡرًا مِّنۡہُنَّ ۚ وَ لَا تَلۡمِزُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ وَ لَا تَنَابَزُوۡا بِالۡاَلۡقَابِ ؕ بِئۡسَ الِاسۡمُ الۡفُسُوۡقُ بَعۡدَ الۡاِیۡمَانِ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَتُبۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa yaskhar qaumun min qaumin ‘asa an yakuunuu khairan minhum walaa nisaa-un min nisaa-in ‘asa an yakunna khairan minhunna walaa talmizuu anfusakum walaa tanaabazuu bil alqaabi bi-asaasmul fusuuqu ba’da-iimaani waman lam yatub fa-uula-ika humuzh-zhaalimuun(a);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.
Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.
Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
―QS. 49:11
Topik ▪ Iman ▪ Perbedaan tingkat amal kebaikan ▪ Pahala Iman
49:11, 49 11, 49-11, Al Hujurat 11, AlHujurat 11, Al-Hujurat 11

Tafsir surah Al Hujurat (49) ayat 11

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hujurat (49) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kaum Mukminin supaya jangan ada suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan.
Demikian pula di kalangan wanita, jangan ada segolongan wanita yang mengolok-olokkan wanita yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah lebih baik dan lebih terhormat dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan.
Allah melarang kaum mukminin mencela kaum mereka sendiri karena kaum Mukminin semuanya harus dipandang satu tubuh yang diikat dengan kesatuan dan persatuan.
Allah melarang pula memanggil dengan panggilan yang buruk seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata: hai fasik, hai kafir, dan sebagainya.

Tersebut dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula.
(Riwayat Muslim dan Ahmad dari An-Nu’man bin Basyir)

Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupamu dan harta kekayaanmu, akan tetapi Ia memandang kepada hatimu dan perbuatanmu.
(Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Hadis ini mengandung isyarat bahwa seorang hamba Allah jangan memastikan kebaikan atau keburukan seseorang semata-mata karena melihat kepada amal perbuatannya saja, sebab ada kemungkinan seseorang tampak mengerjakan amal kebajikan, padahal Allah melihat di dalam hatinya ada sifat yang tercela.
Sebaliknya pula mungkin ada orang yang kelihatan melakukan suatu yang tampak buruk, akan tetapi Allah melihat dalam hatinya ada rasa penyesalan yang besar yang mendorongnya bertobat dari dosanya.
Maka amal perbuatan yang tampak di luar itu, hanya merupakan tanda-tanda saja yang menimbulkan sangkaan yang kuat, tetapi belum sampai ke tingkat meyakinkan.
Allah melarang kaum Mukminin memanggil orang dengan panggilan-panggilan yang buruk setelah mereka beriman.

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat ini, menerangkan bahwa ada seorang laki-laki yang pernah di masa mudanya mengerjakan suatu perbuatan yang buruk, lalu ia bertobat dari dosanya, maka Allah melarang siapa saja yang menyebut-nyebut lagi keburukannya di masa yang lalu, karena hal itu dapat membangkitkan perasaan yang tidak baik.
Itu sebabnya Allah melarang memanggil dengan panggilan dan gelar yang buruk.
Adapun panggilan yang mengandung penghormatan tidak dilarang, seperti sebutan kepada Abu Bakar dengan as-shiddiq, kepada ‘Umar dengan al-Faruq, kepada ‘Utsman dengan sebutan dzu an-Nurain, kepada ‘Ali dengan Abu Turab, dan kepada Khalid bin al-Walid dengan sebutan Saifullah (pedang Allah).
Panggilan yang buruk dilarang untuk diucapkan setelah orangnya beriman karena gelar-gelar untuk itu mengingatkan kepada kedurhakaan yang sudah lewat, dan sudah tidak pantas lagi dilontarkan.
Barang siapa tidak bertobat, bahkan terus pula memanggil-manggil dengan gelar-gelar yang buruk itu, maka mereka dicap oleh Allah sebagai orang-orang yang zalim terhadap diri sendiri dan pasti akan menerima konsekuensinya berupa azab dari Allah pada hari Kiamat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah laki-laki di antara kalian mengolok-olok laki-laki yang lain.
Sebab, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik di sisi Allah daripada mereka yang mengolok-olok.
Dan jangan pula wanita-wanita Mukmin mengolok-olok wanita-wanita Mukmin yang lain.
Karena, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik di sisi Allah dari mereka yang mengolok-olok.
Janganlah kalian saling mencela yang lain, dan jangan pula seseorang memanggil saudaranya dengan panggilan yang tidak disukainya.
Seburuk-buruk panggilan bagi orang Mukmin adalah apabila mereka dipanggil dengan kata-kata fasik setelah mereka beriman.
Barangsiapa tidak bertobat dari hal-hal yang dilarang itu, maka mereka adalah orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri dan orang lain.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan) dan seterusnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi.

As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela, makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir.

(Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim.)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala melarang menghina orang lain, yakni meremehkan dan mengolok-olok mereka.
Seperti yang disebutkan juga dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Takabur itu ialah menentang perkara hak dan meremehkan orang lain; menurut riwayat yang lain, dan menghina orang lain.

Makna yang dimaksud ialah menghina dan meremehkan mereka.
Hal ini diharamkan karena barangkali orang yang diremehkan lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah dan lebih disukai oleh-Nya daripada orang yang meremehkannya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan).
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Secara nas larangan ditujukan kepada kaum laki-laki, lalu diiringi dengan larangan yang ditujukan kepada kaum wanita.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mencela orang lain.
Pengumpat dan pencela dari kalangan kaum lelaki adalah orang-orang yang tercela lagi dilaknat, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.
(Q.S. Al-Humazah [104]: 1)

Al-hamz adalah ungkapan celaan melalui perbuatan, sedangkan al-lamz adalah ungkapan celaan dengan lisan.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah (Q.S. Al-Qalam [68]: 11)

Yakni meremehkan orang lain dan mencela mereka berbuat melampaui batas terhadap mereka, dan berjalan ke sana kemari menghambur fitnah mengadu domba, yaitu mencela dengan lisan.
Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 29)

Yakni janganlah sebagian dari kamu membunuh sebagian yang lain.

Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11) Artinya, janganlah sebagian dari kamu mencela sebagian yang lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Yakni janganlah kamu memanggil orang lain dengan gelar yang buruk yang tidak enak didengar oleh yang bersangkutan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Jubairah ibnu Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa berkenaan dengan kami Bani Salamah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11) Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, tiada seorang pun dari kami melainkan mempunyai dua nama atau tiga nama.
Tersebutlah pula apabila beliau memanggil seseorang dari mereka dengan salah satu namanya, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia tidak menyukai nama panggilan itu.” Maka turunlah firman-Nya: dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini dari Musa ibnu Ismail, dari Wahb, dari Daud dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Seburuk-buruk sifat dan nama ialah yang mengandung kefasikan yaitu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seperti vang biasa dilakukan di zaman Jahiliah bila saling memanggil di antara sesamanya Kemudian sesudah kalian masuk Islam dan berakal, lalu kalian kembali kepada tradisi Jahiliah itu.

dan barang siapa yang tidak bertobat.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)

Yakni dari kebiasaan tersebut.

maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hujurat (49) Ayat 11

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan yang empat (sunanu Abi Dawud, sunanut Tirmidzi, sunanun Nasaa’i, sunanubni Majah) yang bersumber dari Abu Jubair adl-Dlahak.
Menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan.
Bahwa seorang laki-laki mempunyai dua atau tiga nama.
Orang itu sering dipanggil dengan nama tertentu yang tidak dia senangi.
Ayat ini (al-Hujurat: 11) turun sebagai larangan menggelari orang dengan nama-nama yang tidak menyenangkan.

Diriwayatkan oleh al-Hakim, yang bersumber dari Abu Jubair bin adl-Dlahak bahwa nama-nama gelar di zaman jahiliyah sangat banyak.
Ketika Nabi ﷺ memanggil seseorang degan gelarnya, ada orang yang memberitahukan kepada beliau bahwa gelar itu tidak disukainya.
Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 11) yang melarang memanggil orang dengan gelar yang tidak disukainya.

Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Abu Jubair bin adl-Dlahak bahwa ayat ini (al-Hujurat: 11) turun berkenaan dengan Bani Salamah.
Nabi ﷺ tiba di Madinah pada saat orang-orang biasanya mempunyai dua atau tida nama.
Pada suatu saat Rasulullah ﷺ memangil seseorang dengan salah satu namanya, tetapi ada yang berkata: “Ya Rasulullah.
Sesungguhnya ia marah dengan panggilan itu.” Ayat,…wa laa tanaabazu bil alqoob..
(..
dan janganlah kamu panggil memanggil degan gelar-gelar yang buruk..) (al-Hujurat: 11) turun sebagai larangan memanggil orang dengan sebutan yang tidak disukainya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hujurat (49) Ayat 11

ALQAAB
أَلْقَٰب

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah laqab yang bermakna nama yang diletakkan selepas nama pertama (gelaran) baik untuk pengenalan, kemuliaan ataupun penghinaan.

Ar Rida berkata,
ia berlainan dengan al­kuniah, al laqab adalah untuk memuji yang digelar ataupun menghinanya. Sedangkan al-kuniah, kadangkala orang yang digelar itu tidak dipuji tetapi hanya tidak disebut namanya dengan terus terang karena sebahagian individu tidak mau disebut dengan namanya.

Dalam kalangan bangsa Arab, al-kuniah kadangkala dimaksudkan bagi mengagungkan.” Contoh al laqab seperti Asy Asy’ari, Al Bukhari, At Tirrnidzi dan sebagainya; sedangkan contoh al-kuniah seperti Abu Ishaq Asy Syiraji, Abu Ayyub Al Ansari, Ibn Taimiyyah dan sebagainya. Oleh karena itu, apabila berkumpul kuniah, nama dan laqab, maka kuniah didahulukan, setelah itu nama, kemudian laqab. Contohnya Abu Abdullah Muhammad bin Yahya bin ‘Ali Al Qurasyi Al Yamani Az Zabidi.

Lafaz alqaab disebut sekali dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Hujurat (49), ayat 11.

Al Baidawi menafsirkan, “Janganlah sebahagian kamu memanggil sebahafian yang lain dengan gelaran yang jelek atau jahat, karena nabz (julukan yang sifatnya merendahkan) dikhususkan dengan gelaran yang jelek.”

Ibn Katsir berkata,
“Janganlah kamu saling menggelar dengan gelaran yang menyakitkan seseorang itu apabila mendengarnya.

Beliau juga berkata,
“Diriwayatkan oleh Abu Jabirah bin ad Dahhak, beliau berkata,
“Ayat walaa tanaabizuu bil alqaab diturunkan kepada Bani sailmah. Beliau berkata,
“Rasulullah datang ke Madinah dan tidak ada antara kami kecuali dua atau tiga nama. Apabila mereka digelar dengan sebahagian nama-nama itu mereka berkata,
“Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka marah dengan gelaran itu, maka turunlah ayat diatas.

Al Khazin berkata,
“Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi, beliau berkata,
“Lelaki di kalangan kami memiliki dua nama atau tiga nama, maka ia digelar dengan sebahagiannya sedangkan perkara itu tidak ia sukai, lalu turunlah ayat ini.”

Al-Nasafi berkata,
“Makna at tanabuz bi al alqab ialah saling menggelar dengannya, annabz adalah gelaran yang jelek dan dilarang yaitu memberikan gelaran yang menyebabkan orang yang digelar itu benci dengan panggilan itu'”

Ibn Abbas berkata,
“Maksud ayat itu adalah janganlah sebahagian kamu mengejek sebahagian yang lain dengan panggilan atau gelaran dan nama jahiliah.”

Kesimpulannya, maksud alqaab pada ayat di atas adalah gelaran atau panggilan yang dilarang atau dengan niat merendahkan yang digelar atau yang dipanggil.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:45-46

Informasi Surah Al Hujurat (الحجرات)
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadilah.

Dinamai “Al Hujuraat” (kamar-kamar), diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini.
Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya.
Memanggil Nabi Muham­ mad ﷺ dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Keimanan:

Masuk Islam harus disempumakan dengan iman yang sebenar-benarnya.

Hukum:

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul­Nya
keharusan meneliti sesuatu perkhabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik
kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara
kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya kepada golongan kaum muslimin yang lain
larangan mencaci, menghina dan sebagainya
larangan berburuk sangka
bergunjing dan memfitnah dan lain-lain.

Lain-lain:

Adah sopan santun berbicara dengan Rasulullah ﷺ
Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal mengenal
setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa
sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benamya beriman.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hujurat (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 11 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 11 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 11 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hujurat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 49:11
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hujurat.

Surah Al-Hujurat (bahasa Arab : سورة الحجرات ) adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Dinamakan Al-Hujurat yang berarti Kamar-Kamar diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat ini.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ.
utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata,
"Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata,
"Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.
Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S.
Al Hujurat, 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S.
Al Hujurat, 5).
Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah ﷺ.
bila berbicara dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S.
Hujurat 2).

Nomor Surah 49
Nama Surah Al Hujurat
Arab الحجرات
Arti Kamar-kamar
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 106
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 353
Jumlah huruf 1533
Surah sebelumnya Surah Al-Fath
Surah selanjutnya Surah Qaf
4.6
Ratingmu: 5 (1 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Larangan menghina orang lain ▪ al hujurat 49 11 ▪ alhujurat 11 ▪ QS Al Hujurat 49:11

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta