QS. Al Hasyr (Pengusiran) – surah 59 ayat 9 [QS. 59:9]

وَ الَّذِیۡنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَ الۡاِیۡمَانَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ یُحِبُّوۡنَ مَنۡ ہَاجَرَ اِلَیۡہِمۡ وَ لَا یَجِدُوۡنَ فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ حَاجَۃً مِّمَّاۤ اُوۡتُوۡا وَ یُؤۡثِرُوۡنَ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ وَ لَوۡ کَانَ بِہِمۡ خَصَاصَۃٌ ؕ۟ وَ مَنۡ یُّوۡقَ شُحَّ نَفۡسِہٖ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ۚ
Waal-ladziina tabau-wauuddaara wal-iimaana min qablihim yuhibbuuna man haajara ilaihim walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu wayu’tsiruuna ‘ala anfusihim walau kaana bihim khashaashatun waman yuuqa syuhha nafsihi fa-uula-ika humul muflihuun(a);

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).
Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.
Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung
―QS. 59:9
Topik ▪ Pahala Iman
59:9, 59 9, 59-9, Al Hasyr 9, AlHasyr 9, Al-Hashr 9, AlHashr 9, Al Hashr9, Al-Hasyr 9

Tafsir surah Al Hasyr (59) ayat 9

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hasyr (59) : 9. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini diterangkan sikap orang-orang mukmin dari golongan Ansar dalam menerima dan menolong saudara-saudara mereka orang-orang Muhajirin yang miskin, dan pernyataan Allah yang memuji sikap mereka itu.
Sifat-sifat orang Ansar itu ialah:

1.
Mereka mencintai orang-orang Muhajirin, dan menginginkan agar orang Muhajirin itu memperoleh kebaikan sebagaimana mereka menginginkan kebaikan itu untuk dirinya.

Rasulullah ﷺ memper-saudarakan orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Ansar, seakan-akan mereka saudara kandung.
Orang-orang Ansar menyedia-kan sebagian rumah-rumah mereka untuk orang-orang Muhajirin, dan mencarikan perempuan-perempuan Ansar untuk dijadikan istri orang-orang Muhajirin dan sebagainya.

‘Umar bin al-Khaththab pernah berkata, “Aku mewasiatkan kepada khalifah yang diangkat sesudahku, agar mereka mengetahui hak orang Muhajirin dan memelihara kehormatan mereka.
Dan aku berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Ansar, orang yang tinggal di kota Medinah dan telah beriman sebelum kedatangan orang Muhajirin, agar Allah menerima kebaikan mereka dan memaafkan segala kesalahan mereka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundhir dari Yazid bin al-Aslam diterangkan bahwa orang Ansar berkata, “Ya Rasulullah, bagi dia tanah kami ini, yang sebagian untuk kami kaum Ansar dan sebagian lagi untuk kaum Muhajirin.” Nabi ﷺ menjawab, “Tidak, penuhi saja keperluan mereka dan bagi dualah buah kurma itu, tanah itu tetap kepunyaanmu.” Mereka berkata, “Kami rida atas keputusan itu.” Maka turunlah ayat ini yang menggambarkan sifat-sifat orang-orang Ansar.

2.
Orang Ansar tidak berkeinginan memperoleh harta fai’ itu seperti yang telah diberikan kepada kaum Muhajirin.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada orang-orang Ansar, “Sesungguhnya saudara-saudara kami (Muhajirin) telah meninggalkan harta-harta dan anak-anak mereka dan telah hijrah ke negerimu.” Mereka berkata, “Harta kami telah terbagi-bagi di antara kami.” Rasulullah berkata, “Atau yang lain dari itu?”
Mereka berkata, “Apa ya Rasulullah?”
Beliau berkata, “Mereka adalah orang yang tidak bekerja, maka sediakan tamar dan bagikanlah kepada mereka.” Mereka menjawab, “Baik ya Rasulullah.”

3.
Mereka mengutamakan orang Muhajirin atas diri mereka, sekalipun mereka sendiri dalam kesempitan, sehingga ada seorang Ansar mempunyai dua orang istri, kemudian yang seorang diceraikannya agar dapat dikawini temannya Muhajirin.

Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah ﷺ, dan berkata, ‘Aku lapar.
Maka Rasulullah berkata kepada istri-istrinya menanyakan makanan, tapi tidak ada, beliau berkata, ‘Apakah tidak ada seorang yang mau menerima orang ini sebagai tamu malam ini?
Ketahuilah bahwa orang yang mau menerima laki-laki ini sebagai tamu (dan memberi makan) malam ini, akan diberi rahmat oleh Allah.
Abu thalhah, seorang dari golongan Ansar, berkata, ‘Saya ya Rasulullah.
Maka ia pergi menemui istrinya dan berkata, ‘Hormatilah tamu Rasulullah.
Istrinya menjawab, ‘Demi Allah, tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak.
Abu thalhah berkata, ‘Apabila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka, padamkanlah lampu biarlah kita menahan lapar pada malam ini agar kita dapat menerima tamu Rasulullah.
Maka hal itu dilakukan istrinya.
Pagi-pagi besoknya Abu thalhah menghadap Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa malam itu dan beliau bersabda, ‘Allah benar-benar kagum malam itu terhadap perbuatan suami-istri tersebut.
Maka ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa itu.”

Diriwayatkan pula oleh al-Wahidi dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu ‘Umar bahwa seorang sahabat Rasulullah ﷺ dari golongan Ansar diberi kepala kambing.
Timbul dalam pikirannya bahwa mungkin ada orang lain lebih memerlukan dari dirinya.
Seketika itu juga kepala kambing itu dikirimkan kepada kawannya, tetapi oleh kawannya itu dikirim pula kepada kawannya yang lain, sehingga kepala kambing itu berpindah-pindah pada tujuh rumah dan akhirnya kembali ke rumah orang yang pertama.

Riwayat ini ada hubungannya dengan penurunan ayat ini.
Allah selanjutnya menegaskan bahwa orang-orang yang dapat mengendalikan dirinya dengan mengikuti agama Allah, sehingga ia dapat menghilangkan rasa loba terhadap harta, sifat kikir, dan sifat mengutamakan diri sendiri, adalah orang-orang yang beruntung.
Mereka telah berhasil mencapai tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan Allah.

Dalam sebuah hadis Nabi ﷺ dijelaskan bahwa beliau bersabda:

Tidak akan berkumpul debu-debu (yang lengket) pada wajah seseorang ketika berjuang di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam selama-lamanya, dan tidak akan berkumpul pada hati seorang hamba sifat kikir dan keimanan selama-lamanya.
(Riwayat an-Nasa’i) Dalam hadis lain dijelaskan: Rasulullah bersabda, “Peliharalah dirimu dari perbuatan zalim, sesungguhnya perbuatan zalim (menimbulkan) kegelapan di hari Kiamat, peliharalah dirimu dari sifat-sifat kikir, karena sesungguhnya kikir itu menghancurkan orang-orang yang sebelum kamu, menimbulkan pertumpahan darah di antara mereka dan akan menghalalkan yang mereka haramkan.”
(Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Baihaqi dari Jabir bin ‘Abdullah)

Nabi ﷺ juga bersabda dalam hadis lain:

(Tiga golongan) yang terbebas dari sifat kikir, yaitu orang yang membayarkan zakat, memuliakan tamu, dan memberikan sesuatu kepada orang yang susah.
(Riwayat ath-thabrani)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sedangkan kaum Anshar, penduduk asli Madinah yang telah dengan tulus beriman sejak sebelum datangnya kaum Muhajirin, mencintai saudara-saudara mereka yang datang itu, tidak merasa iri dengan jatah fay’ yang diperoleh Muhajirin, dan mendahulukan kepentingan Muhajirin daripada kepentingan mereka sendiri walaupun mereka dalam keadaan kekurangan.
Barangsiapa yang dirinya terjaga–dengan izin Allah–dari sifat kikir yang sangat, maka telah berhasil mendapatkan semua yang ia senangi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang telah menempati kota) Madinah (dan telah beriman) yang dimaksud adalah sahabat-sahabat Anshar (sebelum kedatangan mereka, Muhajirin, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka.

Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka) artinya mereka tidak iri hati (terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka) yakni apa yang telah diberikan oleh Nabi ﷺ kepada mereka berupa harta rampasan dari Bani Nadhir, yang memang harta itu khusus buat kaum Muhajirin (dan mereka mengutamakan, orang-orang Muhajirin, atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan) yakni mereka memerlukan apa yang mereka relakan kepada orang-orang Muhajirin.

(Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya) dari ketamakannya terhadap harta benda (mereka itulah orang-orang yang beruntung).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memuji sikap orang-orang Ansar dan menjelaskan keutamaan, kemuliaan, dan kehormatan yang ada pada diri mereka, serta ketulusan mereka dalam mementingkan nasib Muhajirin hingga kepentingan untuk diri mereka sendiri dikesampingkan, padahal mereka sangat memerlukannya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Yakni mereka telah menempati negeri hijrah sebelum kaum Muhajirin tiba, dan sebagian besar dari mereka telah beriman.
Umar mengatakan, “Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang pertama, hendaknya hak mereka tetap diberikan kepada mereka dan kehormatan mereka tetap dipelihara.
Aku juga berwasiat agar orang-orang Ansar diperlakukan dengan baik, yaitu mereka yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin).
Hendaklah orang-orang yang baik dari mereka diterima, dan orang-orang yang berbuat buruk dari mereka dimaafkan.” Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Artinya, termasuk kemuliaan dan kehormatan diri mereka ialah mereka menyukai orang-orang Muhajirin dan menyantuni mereka dengan harta bendanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas yang mengatakan bahwa orang-orang Muhajirin berkata, “Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat hal yang semisal dengan kaum yang kami datang berhijrah kepada mereka.
Yakni dalam hal memberi santunan kepada kami, orang-orang yang hidup sederhana dari mereka tidak segan menyantuni kami, dan orang yang hartawan dari mereka sangat banyak dalam memberi kami.
Sesungguhnya mereka telah menjamin semua kebutuhan kami dan bersekutu dengan kami dalam kesenangan, hingga kami merasa khawatir bila mereka memborong semua pahala.” Maka Nabi ﷺ menjawab: Tidak, selama kamu memuji mereka dan mendoakan bagi mereka kepada Allah.

Aku belum pernah melihat hadis ini di dalam semua kitab hadis yang diriwayatkan melalui jalur ini.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Yahya ibnu Sa’id.
Ia mendengar Anas ibnu Malik saat berangkat bersamanya menuju ke tempat Al-Walid mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah memanggil orang-orang Ansar dengan maksud akan memberikan bagian kepada mereka tanah Bahrain.
Tetapi mereka menjawab, “Tidak, terkecuali jika engkau berikan hal yang sama kepada saudara-saudara kami dari kaum Muhaj irin.” Nabi ﷺ bersabda: Jika tidak mau, maka bersabarlah sampai kamu menjumpaiku, dan sesungguhnya kelak kalian akan ditimpa oleh penyakit mementingkan diri sendiri.

Imam Bukhari meriwayatkan nadis ini secara munfarid melalui jalur ini.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, telah menceritakan kepada kami Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa orang-orang Ansar pernah berkata, “Bagikanlah antara kami dan saudara-saudara kami (kaum Muhajirin) kebun kurma (kami).” Nabi ﷺ menjawab, “Jangan.” Kaum Muhajirin berkata, “Maukah kalian menutupi semua pembiayaannya dan kami akan menggarapnya dengan imbalan bagi hasil dari buahnya?”
Orang-orang Ansar menjawab, “Kami dengar dan kami taati syarat itu.”

Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini secara munfarid tanpa Imam Muslim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Yakni mereka tidak mempunyai rasa iri dalam hati mereka terhadap keutamaan yang telah diberikan oleh Allah kepada kaum Muhajirin berupa kedudukan, kemulian, dan prioritas dalam sebutan dan urutan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9) Yaitu rasa dengki dan iri hati.

terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah terhadap apa yang telah diberikan kepada saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Zaid.

Di antara dalil yang menunjukkan makna ini ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Anas, bahwa ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau ﷺ bersabda: Sekarang akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga.
Maka muncullah seorang lelaki dari kalangan Ansar yang jenggotnya masih meneteskan air bekas air wudunya, dia menjinjing kedua terompahnya dengan tangan kirinya.
Pada keesokan harinya Rasulullah ﷺ mengucapkan kata-kata yang sama.
Lalu muncullah lelaki itu seperti pada yang pertama kali.
Dan pada hari yang ketiganya Rasulullah ﷺ mengucapkan kata-kata yang sama lagi, lalu muncullah lelaki itu dalam keadaan seperti pada yang pertama kali.
Ketika Rasulullah ﷺ bangkit, maka lelaki itu diikuti oleh Abdullah ibnu Amr ibnul As, lalu ia berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku telah bertengkar dengan ayahku, maka aku bersumpah tidak akan pulang kepadanya selama tiga hari.
Jika engkau sudi, bolehkah aku menginap di rumahmu, maka aku akan merasa senang sekali.” Lelaki itu menjawab, “Silakan.” Anas melanjutkan kisahnya, bahwa Abdullah telah menceritakan kepadanya bahwa ia menginap di rumah lelaki Ansar itu selama tiga malam, dan dia tidak melihatnya bangun malam untuk mengerjakan sesuatu dari salat sunat, hanya saja bila ia berbalik di tempat peraduannya di tengah malam, ia berzikir kepada Allah dan mengucapkan takbir, hingga ia bangun dari peraduannya untuk mengerjakan salat fajar (subuh).
Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa hanya saja ia tidak mendengarnya mengatakan sesuatu kecuali hanya kebaikan belaka.
Dan setelah tiga malam berlalu dan hampir saja aku memandang remeh amal perbuatannya, maka aku berterus terang kepadanya, “Hai hamba Allah, sebenarnya tidak ada pertengkaran antara aku dan ayahku dan tidak ada pula saling mendiamkan dengannya, tetapi aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami sebanyak tiga kali: Sekarang akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga.
Ketika kulihat, ternyata engkau sebanyak tiga kali.
Maka aku bermaksud untuk menginap di rumahmu guna menyaksikan apa yang engkau perbuat, lalu aku akan menirunya.
Tetapi ternyata aku tidak melihatmu melakukan amal yang istimewa, lalu apakah yang menyebabkan engkau sampai kepada kedudukan seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ?”
Lelaki itu menjawab, “Tiada yang kulakukan selain dari apa yang telah engkau lihat sendiri.” Ketika aku pergi darinya, ia memanggilku dan berkata, “Tiada lain amal itu kecuali seperti yang engkau lihat, hanya saja dalam hatiku tidak terdapat rasa iri terhadap seorang pun dari kaum muslim dan tidak pula rasa dengki terhadap seorang pun atas kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.” Abdullah ibnu Amr berkata, “Rupanya amal itulah yang menghantarkan dirimu mencapai tingkatan itu, amal tersebut sulit untuk dilakukan dan amatlah berat.”

Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah, dari Suwaid ibnu Nasr, dari Ibnul Mubarak, dari Ma’mar dengan sanad yang sama.
Sanad ini sahih dengan syarat Sahihain, tetapi Aqil dan lain-lainnya telah meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari seorang lelaki, dari Anas.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9) Yakni terhadap apa yang telah diberikan kepada kaum Muhajirin.
Abdur Rahman mengatakan bahwa ada sebagian orang yang memperbincangkan harta Bani Nadir yang orang-orang Ansar tidak diberi bagian darinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menghukum mereka karena ucapannya yang demikian itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 6); Abdur Rahman melanjutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda (kepada kaum Ansar): Sesungguhnya saudara-saudara kalian ini (kaum Muhajirin) telah meninggalkan harta benda dan anak-anak mereka, lalu mereka keluar (berhijrah) kepada kalian.
Orang-orang Ansar menjawab, “Kalau begitu, harta kami, kami rela berbagi dengan mereka.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Bagaimanakah kalau dengan cara selain itu?”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Mereka (kaum Muhajirin) adalah kaum yang tidak mengetahui pertanian, bagaimanakah kalau kalian menjamin mereka saja dengan cara bagi hasil buah-buahan dengan mereka?”
Orang-orang Ansar menjawab, “Kami setuju, wahai Rasulullah.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Yang dimaksud dengan khasasah ialah keperluan.
Yakni mereka lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan diri mereka sendiri; mereka memulainya dengan kebutuhan orang lain sebelum diri mereka, padahal mereka sendiri membutuhkannya.

Di dalam kitab sahih telah disebutkan dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Sedekah yang palingutama ialahjerih payah dari orang yang minim.

Yaitu dari orang yang memerlukannya.
Kedudukan ini lebih tinggi dari pada kedudukan orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya.
(Q.S. Al-Insan: 8)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan memberikan harta yang dicintainya.
(Q.S. Al-Baqarah: 177)

Karena sesungguhnya mereka menyedekahkan apa yang mereka sendiri menyukainya, tetapi adakalanya mereka tidak memerlukannya dan tidak mempunyai kebutuhan darurat terhadapnya.
Sedangkan mereka (golongan yang pertama) mengesampingkan kebutuhan mereka, padahal mereka dalam keadaan memerlukannya dan membutuhkan apa yang mereka sedekahkan.

Dan termasuk ke dalam kedudukan ini ialah apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq r.a.
karena dia telah menyedekahkan semua harta bendanya, hingga Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Lalu apa yang engkau sisakan buat keluargamu?”
Abu Bakar r.a.
menjawab, “Aku sisakan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Demikian pula halnya air minum yang ditawarkan kepada Ikrimah dan teman-temannya pada Perang Yarmuk; masing-masing dari mereka memerintahkan agar diberikan kepada temannya, padahal Ikrimah sendiri dalam keadaan luka berat dan sangat memerlukan air minum, lalu temannya menyerahkan air itu kepada orang yang ketiga, dan belum sampai air itu ke tangan orang yang ketiga.
Akhirnya mereka mati semua dan tiada seorang pun dari mereka yang meminum air itu.
Semoga Allah meridai mereka dan membuat mereka puas dengan balasan pahala-Nya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim ibnu Kasir, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim Al-Asyja’i, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku lapar.” Maka Rasulullah ﷺ menyuruh seseorang ke rumah istri-istri beliau, dan ternyata tidak dijumpai makanan apa pun pada mereka.
Maka Nabi ﷺ bersabda, “Adakah seseorang yang mau menjamu orang ini malam ini, semoga Allah merahmatinya?”
Maka berdirilah seorang lelaki dari kalangan Ansar seraya berkata, “Akulah yang akan menjamunya, wahai Rasulullah.” Kemudian lelaki itu pulang ke rumah keluarganya dan berkata kepada istrinya, “Orang ini adalah tamu Rasulullah ﷺ, maka jangan engkau simpan apa pun untuknya.” Istrinya menjawab, “Demi Allah, aku tidak mempunyai makanan apa pun selain makanan untuk anak-anak.” Suaminya berkata, “Jika anak-anak ingin makan malam, tidurkanlah mereka, lalu kemarilah dan matikanlah lampu, biarlah kita menahan lapar untuk malam ini.” Istrinya melakukan apa yang diperintahkan suaminya itu.
Kemudian pada pagi harinya lelaki itu menemui Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya Allah merasa kagum atau rida dengan apa yang telah dilakukan oleh si Fulan dan si Fulanah.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Demikian pula Imam Bukhari meriwayatkannya dalam tempat lain, juga Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai melalui jalur Fudail ibnu Gazwan dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.
Di dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Ansar tersebut, yaitu Abu Talhah r.a.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)

Yakni barang siapa yang terbebas dari sifat kikir, maka sesungguhnya dia telah beruntung dan berhasil.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Qais Al-Farra, dari Ubaidillah ibnu Miqsam, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Jauhilah perbuatan aniaya, kerena sesungguhnya perbuatan aniaya itu adalah kegelapan kelak di hari kiamat; dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang terdahulu sebelum kalian.
Karena sifat kikir mendorong mereka untuk mengalirkan darah mereka dan menghalalkan kehormatan mereka.

Imam Muslim mengetengahkan hadis ini secara munfarid, maka dia meriwayatkannya dari Al-Qa’nabi, dari Daud ibnu Qais dengan sanad yang sama.

Al-A’masy dan Syu’bah telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Abdullah ibnul Haris, dari Zuhair ibnul Aqmar, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Hindarilah oleh kalian perbuatan aniaya, karena sesungguhnya perbuatan aniaya itu merupakan kegelapan di hari kiamat.
Dan takutlah kalian terhadap perbuatan keji, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kata-kata yang keji dan tidak pula perbuatan yang keji (kotor).
Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.
Sifat kikir mendorong mereka berbuat aniaya, maka mereka berbuat aniaya; dan mendorong mereka untuk berbuat kedurhakaan, maka mereka berbuat kedurhakaan; dan mendorong mereka untuk memutuskan silaturahmi, maka mereka memutuskan pertalian silaturahmi.’

Imam Ahmad dan Imam Abu Daud telah meriwayatkannya melalui jalur Syu’bah, sedangkan Imam Nasai meriwayatkannya melalui jalur Al-A’masy.
Keduanya (Syu’bah dan Al-A’masy) dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama.

Al-Lais telah meriwayatkan dari Yazid ibnul Had, dari Suhail ibnu Abu Saleh, dari Safwan ibnu Abu Yazid, dari Al-Qa’qa’ ibnul Jallah, dari Abu Hurairah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak dapat terkumpul di dalam perut seorang hamba selamanya antara debu di jalan Allah dan asap neraka Jahanam.
Dan tidak dapat terkumpul pula antara sifat kikir dan iman dalam hati seorang hamba selama-lamanya.

Ibnu Abu Hatirri mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Jami’ ibnu Syaddad, dari Al-Aswad ibnu Hilal yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Abdullah, lalu berkata, “Hai Abu Abdur Rahman, sesungguhnya aku takut bila diriku binasa.” Abdullah bertanya, “Apakah yang kamu takutkan?”
Lelaki itu menjawab bahwa ia telah membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9) Sedangkan aku adalah orang yang kikir, hampir saja aku tidak pernah mengeluarkan sesuatu dari tanganku.
Maka Abdullah menjawab, “Bukan itu yang dimaksud dengan kikir yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an.
Sesungguhnya kikir yang dimaksud oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an itu tiada lain bila engkau memakan harta saudaramu secara aniaya.
Tetapi yang itu adalah sifat kikir, dan seburuk-buruk sifat adalah kikir.”

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Tariq ibnu Abdur Rahman, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Abul Hayyaj Al-Asadi yang mengatakan bahwa ketika ia sedang tawaf di Baitullah, ia melihat seorang lelaki mengucapkan doa, “Ya Allah, peliharalah diriku dari kekikiran diriku.” Hanya itu doa yang dibacanya, tidak lebih.
Lalu aku bertanya kepadanya, “Mengapa demikian?”
Ia menjawab, “Jika aku dipelihara dari kekikiran diriku, berarti aku tidak akan mencuri, tidak berzina, dan tidak berbuat macam-macam dosa.” Dan ternyata lelaki itu adalah sahabat Abdur Rahman ibnu Auf r.a.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Abdur Rahman Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepada kami Majma’ ibnu Jariyah Al-Ansari, dari pamannya Yazid ibnu Jariyah, dari Anas ibnu Malik, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Telah disembuhkan dari kekikiran orang yang menunaikan zakatnya, menjamu tamunya, dan memberi derma kepada yang terkena musibah.


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Hasyr (59) ayat 9
Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Abdullah bin Daud dari Fudlail bin Ghazwan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ra. bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu beliau datangi istri-istri beliau. Para istri beliau berkata,
Kami tidak punya apa-apa selain air. Maka kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada orang banyak: Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini?. Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata,
Aku. Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tadi menemui istrinya lalu berkata,
Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini. Istrinya berkata,
Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anakku. Sahabat Anshar itu berkata,
Suguhkanlah makanan kamu itu lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu. Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami- istri hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka beliau berkata:
Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua. Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS Al Hasyr ayat 9 yang artinya: Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Shahih Bukhari, Kitab Perilaku Budi Pekerti yang Terpuji – Nomor Hadits: 3514

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hasyr (59) Ayat 9

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Yazid al-Asham bahwa kaum Anshar berkata: “Ya Rasulullah, bagi dualah tanah ini untuk kami (kaum Anshar) dan kaum Muhajirin.” Nabi ﷺ bersabda: “Tidak.
Penuhi sajalah keperluan mereka dan bagilah buah kurmanya.
Tanah ini tetap kepunyaanmu.” Mereka menjawab:
“Kami ridha atas keputusan itu.” Maka turunlah ayat ini (al-Hasyr: 9) yang menggambarkan sifat-sifat kaum Anshar yang tidak mementingkan diri sendiri.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ya Rasulullah.
Saya lapar.” Rasulullah meminta makanan kepada istri-istrinya, akan tetapi ternyata tidak ada makanan sama sekali.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa di antara kalian yang malam ini yang bersedia memberi makan kepada tamu ini ?
Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepadanya.” Seorang Anshar menjawab:
“Saya ya Rasulullah.” Kemudian iapun pergi kepada istrinya dan berkata: “Suguhkan makanan yang ada kepada tamu Rasulullah.” Istrinya menjawab:
“Demi Allah tidak ada makanan kecuali sedikit untuk anak-anak.” Suaminya berkata: “Bila mereka ingin makan, tidurkan mereka dan padamkan lampunya.
Biarlah kita menahan lapar malam ini.” Istrinya melaksanakan apa yang diminta suaminya.
Keesokan harinya Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah kagum dan gembira karena perbuatan suami-istri itu.” Ayat ini (al-Hasyr: 9) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan perbuatan orang yang memperhatikan kepentingan orang lain.

Diriwayatkan oleh Musaddad di dalam Musnadnya dan Ibnul Mundzir, yang bersumber dari Abul Mutawakkil an-Naji bahwa tamu Rasulullah itu bernama Tsabit bin Qais bin Syammas.
Ayat ini (al-Hasyr: 9) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari Muharib bin Ditsar yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa salah seorang shahabat Rasulullah ﷺ diberi kepala kambing.
Dalam hatinya shahabat itu berkata: “Mungkin orang lain lebih memerlukannya daripada aku.” Seketika itu juga kepala kambing itu dikirimkan kepada kawannya, tapi oleh kawannya dikirimkan lagi kepada yang lainnya (sampai tujuh rumah).
Akhirnya kepala kambing itu kembali lagi kepada yang pertama.
Ayat ini (al-Hasyr: 9) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa setiap umat Islam selalu memperhatikan nasib sesamanya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Hasyr (الحشر)
Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.

Dinamai surat ini “Al Hasyr” (pengusiran) diambil dari perkataan “Al Hasyr ” yang terdapat pada ayat 2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Keimanan:

Apa yang berada di langit dan di bumi semuanya bertasbih memuji Allah
Allah pasti mengalahkan musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya
Allah mempunyai Al Asmaa-ul Husna
keagungan Al Qur’an dan ketinggian martabatnya.

Hukum:

Cara pembahagian harta fai-i
perintah bertakwa dan menyiapkan diri untuk kehidupan ukhrawi.

Lain-lain:

Beberapa sifat orang-orang munafik dan orang-orang ahli kitab yang tercela
peringatan-peringatan untuk kaum muslimin.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hasyr (24 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 9 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 9 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 9 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hasyr - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 24 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 59:9
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hasyr.

Surah Al-Hasyr (Arab: الحشر , "Pengusiran") adalah surah ke-59 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 24 ayat.
Dinamakan Al Hasyr yang berarti pengusiran diambil dari perkataan Al Hasyr yang terdapat pada ayat ke-2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Nomor Surah 59
Nama Surah Al Hasyr
Arab الحشر
Arti Pengusiran
Nama lain Bani Nadhir
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 101
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 24
Jumlah kata 448
Jumlah huruf 971
Surah sebelumnya Surah Al-Mujadilah
Surah selanjutnya Surah Al-Mumtahanah
4.8
Ratingmu: 0 (0 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/59-9









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta