QS. Al Hasyr (Pengusiran) – surah 59 ayat 7 [QS. 59:7]

مَاۤ اَفَآءَ اللّٰہُ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ مِنۡ اَہۡلِ الۡقُرٰی فَلِلّٰہِ وَ لِلرَّسُوۡلِ وَ لِذِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡیَتٰمٰی وَ الۡمَسٰکِیۡنِ وَ ابۡنِ السَّبِیۡلِ ۙ کَیۡ لَا یَکُوۡنَ دُوۡلَۃًۢ بَیۡنَ الۡاَغۡنِیَآءِ مِنۡکُمۡ ؕ وَ مَاۤ اٰتٰىکُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ ٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ۘ
Maa afaa-allahu ‘ala rasuulihi min ahlil qura falillahi wali-rrasuuli walidziil qurba wal yataama wal masaakiini waabnissabiili kai laa yakuuna duulatan bainal aghniyaa-i minkum wamaa aataakumurrasuulu fakhudzuuhu wamaa nahaakum ‘anhu faantahuu waattaquullaha innallaha syadiidul ‘iqaab(i);

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
―QS. 59:7
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Kedahsyatan hari kiamat
59:7, 59 7, 59-7, Al Hasyr 7, AlHasyr 7, Al-Hashr 7, AlHashr 7, Al Hashr7, Al-Hasyr 7

Tafsir surah Al Hasyr (59) ayat 7

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hasyr (59) : 7. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa harta fai’ yang berasal dari orang kafir, seperti harta-harta Bani Quraidhah, Bani Nadhir, penduduk Fadak dan Khaibar, kemudian diserahkan Allah kepada Rasul-Nya, dan digunakan untuk kepentingan umum, tidak dibagi-bagikan kepada tentara kaum Muslimin.
Kemudian diterangkan pembagian harta fai itu untuk Allah, Rasulullah, kerabat-kerabat Rasulullah dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib, anak-anak yatim yang fakir, orang-orang miskin yang memerlukan pertolongan, dan orang-orang yang kehabisan uang belanja dalam perjalanan.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, maka bagian Rasul yang empat perlima dan yang seperlima dari seperlima itu digunakan untuk keperluan orang-orang yang melanjutkan tugas kerasulan, seperti para pejuang di jalan Allah, para dai, dan sebagainya.
Sebagian pengikut Syafi’i berpendapat bahwa bagian Rasulullah itu diserahkan kepada badan-badan yang mengusahakan kemaslahatan kaum Muslimin dan untuk menegakkan agama Islam.
Ibnus-sabil yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang terlantar dalam perjalanan untuk tujuan baik, karena kehabisan ongkos dan orang-orang yang terlantar tidak mempunyai tempat tinggal.

Kemudian diterangkan bahwa Allah menetapkan pembagian yang demikian bertujuan agar harta itu tidak jatuh ke bawah kekuasaan orang-orang kaya dan dibagi-bagi oleh mereka, sehingga harta itu hanya berputar di kalangan mereka saja seperti yang biasa dilakukan pada zaman Arab Jahiliah.
Allah memerintahkan kaum Muslimin agar mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diputuskan itu, baik mengenai harta fai’ maupun harta ganimah.
Harta itu halal bagi kaum Muslimin dan segala sesuatu yang dilarang Allah hendaklah mereka jauhi dan tidak mengambilnya.

Ayat ini mengandung prinsip-prinsip umum agama Islam, yaitu agar menaati Rasulullah dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya, karena menaati Rasulullah ﷺ pada hakikatnya menaati Allah juga.
Segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah berasal dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.
Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

(Q.S. An-Najm [53]: 3-4)

Rasulullah ﷺ menyampaikan segala sesuatu kepada manusia dengan tujuan untuk menjelaskan agama Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman:

(Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.
Dan Kami turunkan Adh-dzikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.

(Q.S. An-Nahl [16]: 44)

Ayat 44 surah an-Nahl ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar melaksanakan hadis-hadis Rasulullah, sebagaimana melaksanakan pesan-pesan Al-Qur’an, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Pada akhir ayat 7 ini, Allah memerintahkan manusia bertakwa kepada-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Tidak bertakwa kepada Allah berarti durhaka kepada-Nya.
Setiap orang yang durhaka itu akan ditimpa azab yang pedih.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Harta penduduk kampung yang Allah serahkan kepada Rasul-Nya tanpa mencepatkan kuda atau unta adalah milik Allah, Rasul-Nya, kerabat Nabi, anak yatim, orang miskin, dan ibn sabil (musafir di jalan Allah).
Hal itu dimaksudkan agar harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya di antara kalian saja.
Hukum- hukum yang dibawa oleh Rasulullah itu harus kalian pegang, dan larangan yang ia sampaikan harus kalian tinggalkan.
Hindarkanlah diri kalian dari murka Allah.
Sesungguhnya Allah benar-benar kejam siksa-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Apa saja harta rampasan atau fai yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota) seperti tanah Shafra, lembah Al-Qura dan tanah Yanbu’ (maka adalah untuk Allah) Dia memerintahkannya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya (untuk Rasul, orang-orang yang mempunyai) atau memiliki (hubungan kekerabatan) yaitu kaum kerabat Nabi dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Mutthalib (anak-anak yatim) yaitu anak-anak kaum muslimin yang bapak-bapak mereka telah meninggal dunia sedangkan mereka dalam keadaan fakir (orang-orang miskin) yaitu orang-orang muslim yang serba kekurangan (dan orang-orang yang dalam perjalanan) yakni orang-orang muslim yang mengadakan perjalanan lalu terhenti di tengah jalan karena kehabisan bekal.

Yakni harta fai itu adalah hak Nabi ﷺ beserta empat golongan orang-orang tadi, sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam pembagiannya, yaitu bagi masing-masing golongan yang empat tadi seperlimanya dan sisanya untuk Nabi ﷺ (supaya janganlah) lafal kay di sini bermakna lam, dan sesudah kay diperkirakan adanya lafal an (harta fai itu) yakni harta rampasan itu, dengan adanya pembagian ini (hanya beredar) atau berpindah-pindah (di antara orang-orang kaya saja di antara kalian.

Apa yang telah diberikan kepada kalian) yakni bagian yang telah diberikan kepada kalian (oleh Rasul) berupa bagian harta fa-i dan harta-harta lainnya (maka terimalah dia.

Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:

Apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)

Yaitu kota-kota yang telah ditaklukkan, maka hukumnya sama dengan harta benda orang-orang Bani Nadir.
Untuk itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya:

maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7), hingga akhir ayat.
juga akhir ayat yang sesudahnya, itulah pengalokasian dana harta fai.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr dan Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Malik ibnu Aus ibnul Hadsan, dari Umar r.a.
yang mengatakan bahwa dahulu harta Bani Nadir termasuk harta fai yang diberikan oleh Allah kepada Rasul-Nya, yaitu harta yang dihasilkan oleh kaum muslim tanpa mengerahkan seekor kuda pun dan juga tanpa mengerahkan seekor unta pun untuk menghasilkannya.
Maka harta fai itu secara bulat untuk Rasulullah ﷺ, dan tersebutlah bahwa beliau ﷺ membelanjakan sebagian darinya untuk nafkah per tahun keluarganya.
Dan pada kesempatan yang lain Umar r.a.
mengatakan untuk keperluan hidup per tahun keluarganya.
Sedangkan sisanya beliau ﷺ belanjakan untuk keperluan peralatan dan senjata di jalan Allah subhanahu wa ta’ala

Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Ahmad dalam bab ini secara ringkas.
Dan Jamaah pun telah mengetengahkannya di dalam kitabnya masing-masing kecuali Ibnu Majah, dengan melalui hadis Sufyan ibnu Amr ibnu Dinar, dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama, dan kami telah meriwayatkannya secara panjang lebar.

Abu Daud rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali dan Muhammad ibnu Yahya ibnu Faris dengan makna yang sama.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Umar Az-Zahrani, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Anas, dari Ibnu Syihab, dari Malik ibnu Aus yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a.
mengundangku ketika matahari telah meninggi, lalu aku datang kepadanya dan kujumpai dia sedang duduk di atas dipannya yang bagian bawahnya langsung tanah (tanpa alas).
Ketika aku masuk kepadanya, dia langsung berbicara, “Hai Malik, sesungguhnya telah jatuh miskin beberapa keluarga dari kaummu, sedangkan aku telah memerintahkan agar dipersiapkan sesuatu untuk mereka, maka bagikanlah olehmu kepada mereka.” Aku menjawab, “Sebaiknya engkau perintahkan selainku untuk mengerjakannya.” Umar berkata, “Ambillah.” Lalu Malik datang lagi dan memohon seraya berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah engkau mengizinkan masuk kepada Usman ibnu Affan, Abdur Rahman ibnu Auf, Az-Zubair ibnul Awwam, dan Sa’d ibnu Abu Waqqas?”
Umar menjawab, “Ya.” Maka mereka diizinkan untuk masuk, lalu mereka pun masuk.
Kemudian Malik kembali lagi kepada Umar dan berkata seraya memohon, “Hai Amirul Mu’minin, izinkanlah Al-Abbas dan Ali untuk masuk.” Umar menjawab, “Ya.” Lalu keduanya diberi izin untuk masuk.
Setelah keduanya masuk, Al-Abbas berkata, “Hai Amirul Mu’minin, putuskanlah antara aku dan orang ini,” yakni Ali.
Sebagian hadirin berkata, “Benar, hai Amirul Mu’minin, putuskanlah di antara keduanya dan kasihanilah keduanya.” Malik ibnu Aus mengatakan bahwa seingat dia keduanya pun mengajukan mereka yang hadir.
Maka Umar berkata, “Sabarlah.” Kemudian Umar menghadap kepada rombongan itu (Usman, Sa’d, Abdur Rahman, dan Az-Zubair) dan berkata kepada mereka, “Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah yang dengan seizin-Nya langit dan bumi ini ditegakkan.
Tahukah kalian bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Kami (para nabi) tidak diwaris, dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah’.” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian Umar menghadap kepada Ali dan Al-Abbas, lalu berkata kepada keduanya, “Aku memohon kepadamu berdua dengan nama Allah yang dengan seizin-Nya langit dan bumi ini ditegakkan, tahukah kamu berdua bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘Kami (para nabi) tidak diwaris, dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah’.” Keduanya menjawab, “Benar.” Lalu Umar berkata, bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan suatu bagian khusus untuk Rasul-Nya, yang belum pernah Dia berikan sekhusus itu kepada seorang manusia pun.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (Q.S. Al-Hasyr [59]: 6) Allah subhanahu wa ta’ala juga telah memberikan kepada Rasul-Nya harta Bani Nadir.
Maka demi Allah, aku tidak akan memonopolinya sendirian tanpa kalian dan tidak pula aku meraihnya tanpa kalian.
Dan dahulu Rasulullah ﷺ mengambil sebagiannya untuk nafkah satu tahunnya atau nafkah beliau sendiri dan keluarganya selama satu tahun, sedangkan sisanya beliau jadikan sebagaimana harta lainnya (yang tidak khusus).
Kemudian Umar menghadap kepada rombongan itu dan bertanya, “Aku mau bertanya kepada kalian demi nama Allah yang dengan seizin-Nya langit dan bumi ditegakkan, tahukah kalian hal tersebut?”
Mereka menjawab, “Ya.” Kemudian Umar menghadap kepada Ali dan Al-Abbas, lalu berkata kepada keduanya, “Aku bertanya kepada kamu berdua demi Allah yang dengan seizin-Nya langit dan bumi ditegakkan, tahukah kalian hal tersebut?”
Keduanya menjawab, “Ya.” Umar melanjutkan, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah pengganti Rasulullah ﷺ,” lalu kamu dan dia datang menghadap kepada Abu Bakar.
Kamu (Q.S. Al-Abbas) menuntut hak warismu dari keponakanmu, dan dia menuntut warisan istrinya dari ayahnya.
Lalu Abu Bakar r.a.
mengatakan kepadamu berdua bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Kami (para nabi) tidak diwaris, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.
‘ Allah mengetahui bahwa Abu Bakar adalah orang yang jujur, berbakti, pandai, lagi mengikuti kebenaran.
Maka harta itu diurus oleh Abu Bakar.
Dan setelah Abu Bakar meninggal dunia, akulah yang menjadi pengganti Rasulullah dan juga pengganti Abu Bakar.
Kemudian aku urusharta itu selama masa yang dikehendaki Allah agar aku mengurusnya.
Lalu datanglah kamu dan dia, sedangkan urusan kamu berdua sama, kemudian kamu berdua memintanya dariku.
Maka kukatakan bahwa jika kamu kehendaki, aku bersedia menyerahkannya kepadamu berdua, tetapi dengan syarat hendaknya kamu berdua bersumpah kepada Allah bahwa kamu akan mengurusnya sesuai dengan apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ terhadapnya.
Kamu boleh mengambilnya dariku dengan syarat tersebut, kemudian kamu berdua datang kepadaku agar aku memutuskan di antara kamu berdua dengan keputusan selain dari apa yang telah digariskan oleh Rasulullah ﷺ Demi Allah, aku tidak akan memutuskan di antara kamu berdua dengan keputusan yang lain dari itu hingga hari kiamat.
Bilamana kamu berdua tidak mampu mengurusnya, maka kembalikan saja ia kepadaku.”

Mereka (jamaah) mengeluarkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Arim dan Affan.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar yang telah mendengar ayahnya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, dari Rasulullah ﷺ Anas mengatakan bahwa dahulu seseorang menyerahkan kepada Nabi ﷺ sebagian dari hartanya yang berupa kebun kurma atau lainnya selama masa yang dikehendaki Allah, hingga Allah menaklukkan Quraizah dan Bani Nadir untuk Nabi ﷺ Anas melanjutkan, bahwa setelah itu Nabi ﷺ menyerahkan kebun kurma itu kepada pemiliknya.
Anas melanjutkan lagi, bahwa sesungguhnya keluargaku memerintahkan kepadaku agar mendatangi Nabi ﷺ dan meminta kembali apa yang telah diserahkan oleh keluargaku kepada Nabi ﷺ atau sebagian darinya, padahal Nabi ﷺ telah memberikannya kepada Ummu Aiman, atau menurut apa yang dikehendaki Allah.
Lalu aku .
memintanya kembali, dan Nabi ﷺ menyerahkannya kepadaku.
Tetapi Ummu Aiman datang dan mengalungkan kain selendangnya ke leherku seraya berkata, “Tidak, demi Allah yang tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia, beliau tidak boleh memberikannya kepadamu karena beliau telah memberikannya kepadaku,” atau dengan ungkapan lain yang semisal.
Maka Nabi ﷺ bersabda melerai, “Engkau akan kuganti dengan kebun kurma anu dan anu.” Ummu Aiman berkata, “Tidak, demi Allah.” Nabi ﷺ bersabda, “Engkau akan kuganti dengan anu dan anu.” Dan Ummu Aiman menjawab, “Demi Allah, jangan.” Nabi ﷺ kembali bersabda, “Engkau akan kuganti dengan anu dan anu.” Tetapi Ummu Aiman menjawab, “Demi Allah, kamu tidak boleh begitu.” Nabi ﷺ bersabda, “Kamu akan kuganti dengan anu dan anu,” tetapi Ummu Aiman tetap menolak.
Akhirnya Nabi ﷺ memberikan gantinya.
Seingatku beliau bersabda, “Dan bagimu sepuluh kali lipatnya, atau kurang lebihnya sepuluh kali lipatnya, sebagai gantinya.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Ma’mar dengan sanad yang sama.

Dan semua masarif yang disebutkan dalam ayat ini adalah masarif’yang sama seperti yang disebutkan dalam masalah khumusul gana’im yang telah kami terangkan dalam tafsir surat Al-Anfal, sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)

Yaitu Kami jadikan masarif ini bagi harta fai agar harta itu tidak dipegang oleh orang-orang yang kaya saja yang pada akhirnya mereka membelanjakannya menurut kemauan nafsu syahwat dan menurut pendapat mereka sendiri, sedangkan orang-orang fakir dilupakan dan tidak diberi sedikit pun dari harta itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)

Yakni apa pun yang diperintahkan oleh Rasul kepada kalian, maka kerjakanlah; dan apa pun yang dilarang olehnya, maka tinggalkanlah.
Karena sesungguhnya yang diperintahkan oleh Rasul itu hanyalah kebaikan belaka, dan sesungguhnya yang dilarang olehnya hanyalah keburukan belaka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari Al-Hasan Al-Aufi, dari Yahya ibnul Jazzar, dari Masruq yang mengatakan bahwa pernah ada seorang wanita datang kepada Ibnu Mas’ud, lalu berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa engkau melarang wanita yang bertato dan yang menyambung rambutnya, apakah itu berdasarkan sesuatu yang kamu jumpai dari Kitabullah ataukah dari Rasulullah ﷺ?”
Ibnu Mas’ud menjawab, “Benar ada sesuatu yang aku jumpai di dalam Kitabullah dan juga dari Rasulullah ﷺ yang melarangnya.” Wanita itu bertanya kembali, “Demi Allah, sesungguhnya aku telah, membaca semua yang ada di dalam mushaf, ternyata aku tidak menemukan apa yang engkau katakan itu di dalamnya.” Ibnu Mas’ud r.a.
menjawab, “Apakah kamu tidak menjumpai di dalam ayat berikut?
Yaitu firman-Nya: ‘Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah’ (Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)?”
Wanita itu menjawab, “Benar aku menjumpainya.” Ibnu Mas’ud berkata, bahwa sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ melarang wanita menyambung rambutnya, bertato, dan mencukur alisnya.
Wanita itu berkata, “Barangkali hal itu terdapat pada wanita dari keluargamu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Masuklah dan lihatlah sendiri.” Lalu wanita itu masuk dan melihat-lihat, lalu tidak lama kemudian ia keluar seraya berkata, “Aku tidak melihat apa pun yang dilarang.” Ibnu Mas’ud berkata kepada wanita itu, “Apakah kamu tidak hafal wasiat seorang hamba yang saleh, yang disebutkan oleh firman-Nya: ‘Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang’ (Hud: 88)?”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Allah melaknat wanita yang menato dan yang minta ditato, wanita yang mencukur bulu alisnya, dan wanita yang mengubah ciptaan Allah untuk kecantikan.
Ketika hal itu terdengar oleh seorang wanita dari kalangan Bani Asad yang dikenal dengan nama Ummu Ya’qub, maka Ummu Ya’qub datang menemui Ibnu Mas’ud dan berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa engkau mengatakan anu dan anu.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Mengapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah ﷺ dan juga oleh Kitabullah?”
Wanita itu bertanya, “Sesungguhnya aku telah membaca semua yang terkandung di antara kedua sampulnya, dan ternyata aku tidak menemukannya.” Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jika engkau benar-benar membacanya, niscaya engkau akan menjumpainya.
Aku telah membacanya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Apayang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah’ (Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)” Wanita itu berkata, “Memang benar.” Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah melarang perbuatan tersebut.” Wanita itu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai dugaan kuat bahwa hal tersebut dikerjakan oleh keluargamu.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Pergilah dan lihatlah sendiri.” Wanita itu pergi, dan ternyata tidak menemukan apa yang ia tuduhkan itu barang sedikit pun.
Akhirnya ia kembali dan berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun.” Ibnu Mas’ud berkata, “Seandainya hal itu ada, tentulah tidak akan kami biarkan dia hidup bersama kami.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Sufyan As-Sauri.

Di dalam kitabSahihain telah disebutkan pula melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah ia menurut kemampuan kalian; dan apa yang aku larang kalian mengerjakannya, maka tinggalkanlah ia.

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Hayyan, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Umar dan Ibnu Abbas, bahwa keduanya menyaksikan Rasulullah ﷺ melarang minuman perasan yang dibuat dari duba, hantam, naqir dan muzaffat.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu, maka terimalah dia; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)

Yakni bertakwalah kamu kepadanya dengan mengerjakan perintah-penntah-Nyadan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Karena sesungguhnya Dia amat keras hukuman-Nya terhadap orang yang durhaka kepada-Nya menentang perintah-Nya, membangkang terhadap-Nya, dan mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Hasyr (59) Ayat 7

AHLAL QURAA’
أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ

Istilah ini mengandung dua kata yaitu ahl dan al qura. Pengertian ahl dan penggunaannya sudah diuraikan sebelum ini. Sedangkan al quraa adalah bentuk jamak dari al qaryah yang berarti desa dan kumpulan manusia.

Apabila al qaryah disandarkan kepada an naml, ia bermakna kumpulan semut.

Apabila dikaitkan dengan Al Ansar, ia berarti kota Madinah atau Yatsrib.

Apabila lafaz umm disandarkan kepada Al Qura atau ummul quraa ia bermakna ibu kota.

Istilah ahlal quraa disebut sebanyak lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
– Al A’raaf (7), ayat 96, 97, 98;
– Yusuf (12), ayat 109;
– Al Hasyr (59), ayat 7.

At Tabari menafsirkan ahlal quraa dalam surah Al A’raaf dengan maksudnya,

“Wahai Muhammad, apakah tenang dan merasa aman orang yang mendustakan Allah dan rasul Nya itu dan ingkar kepada ayat-ayat Nya. Allah membiarkan mereka dengan memberikan nikmat kepada mereka di dunia dengan kesehatan badan dan kehidupan yang mewah, sebagaimana Allah membiarkan orang yang diceritakan kepada mereka dari kalangan umat-umat terdahulu. Maka sesungguhnya rancangan atau azab Allah tidak menjadikan mereka berasa aman dan mereka akan musnah.”

Az Zamakhsyari mengatakan alif-lam yang ada pada al qura mengisyaratkan kepada al qura yang terdapat pada ayat sebelumnya, yaitu :

wamaa arsalnaa fii qaryatim min nabiyyin

Inilah yang dimaksudkan oleh penafsiran At Tabari berkenaan ayat Allah, dimana beliau berkata berkata,
Al qura yang disebutkan kepada engkau ini, wahai Muhammad adalah kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth dan Syu’aib” Sedangkan dalam surah Yusuf, ahlal quraa di sini bermakna al mada’in atau orang kota dan bukan orang Badwi, karena mereka jahil serta kasar dan karena orang bandar (Amsar) lebih sempurna akalnya, kesabarannya dan lebih tinggi budi pekertinya.

Qatadah berpendapat, ahlal quraa itu bermaksud ahlal ­amsar karena mereka lebih sabar dan lembut berbanding ahlal-umud (orang Badwi).

Pengertian ahlal quraa dalam surah Al Hasyr, Ibn Abbas berpendapat ia bermaksud Bani Quraizah dan Bani Nadir. Kedua-duanya berada di Madinah dan Fadak. Jaraknya adalah perjalanan tiga hari dari Madinah dan Khaibar.

Ibn Katsir berpendapat, ia bermaksud keseluruhan negeri-negeri yang dibuka, hukumnya adalah sama dengan hukum harta benda Bani Nadir.

Kesimpulannya, maksud ahlal quraa secara umumnya adalah kumpulan manusia, negeri atau kaum. Secara khususnya terbagi menjadi tiga maksud sebagaimana yang dimaksudkan dalam surah-surah di atas.

Pertama, ia bermaksud umat-umat terdahulu seperti dalam surah Al A’raaf.

Kedua, ia bermaksud orang kota sebagaimana dalam surah Yusuf.

Ketiga, ia bermaksud negeri-negeri seperti Bani Quraizah dan Bani Nadir seperti dalam surah Al Hasyr.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:29-30

Informasi Surah Al Hasyr (الحشر)
Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.

Dinamai surat ini “Al Hasyr” (pengusiran) diambil dari perkataan “Al Hasyr ” yang terdapat pada ayat 2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Keimanan:

Apa yang berada di langit dan di bumi semuanya bertasbih memuji Allah
Allah pasti mengalahkan musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya
Allah mempunyai Al Asmaa-ul Husna
keagungan Al Qur’an dan ketinggian martabatnya.

Hukum:

Cara pembahagian harta fai-i
perintah bertakwa dan menyiapkan diri untuk kehidupan ukhrawi.

Lain-lain:

Beberapa sifat orang-orang munafik dan orang-orang ahli kitab yang tercela
peringatan-peringatan untuk kaum muslimin.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hasyr (24 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 7 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 7 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 7 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hasyr - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 24 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 59:7
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hasyr.

Surah Al-Hasyr (Arab: الحشر , "Pengusiran") adalah surah ke-59 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 24 ayat.
Dinamakan Al Hasyr yang berarti pengusiran diambil dari perkataan Al Hasyr yang terdapat pada ayat ke-2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Nomor Surah 59
Nama Surah Al Hasyr
Arab الحشر
Arti Pengusiran
Nama lain Bani Nadhir
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 101
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 24
Jumlah kata 448
Jumlah huruf 971
Surah sebelumnya Surah Al-Mujadilah
Surah selanjutnya Surah Al-Mumtahanah
4.6
Ratingmu: 4 (1 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/59-7







Pembahasan ▪ al hasyr 59 7 ▪ Qs 59 : 7 ▪ al hasyr 59 ▪ Qs 59:7 ▪ QS Al Hasyr: 7 ▪ qs al hasyri 59:7 ▪ surah al hasyr menceritakan apa ▪ surat al hasyr 59

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta