QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 9 [QS. 22:9]

ثَانِیَ عِطۡفِہٖ لِیُضِلَّ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَہٗ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ نُذِیۡقُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ
Tsaaniya ‘ithfihi liyudhilla ‘an sabiilillahi lahu fiiddunyaa khizyun wanudziiquhu yaumal qiyaamati ‘adzaabal hariiq(i);

dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.
―QS. 22:9
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
22:9, 22 9, 22-9, Al Hajj 9, AlHajj 9, Al-Haj 9, Alhaj 9, Al Haj 9, Al-Hajj 9

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 9

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 9. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-Nya, tanpa dasar ilmu pengetahuan dun akal pikiran yang sehat tanpa bukti-bukti yang kuat, tanpa petunjuk atas dalil-dalil yang mengarah kepada keyakinan yang benar, tanpa hujah atau kitab yang diturunkan Allah.
Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongan, keingkaran dan kejahilan belaka, karena mereka telah buta hati dan pikiran, sebagaimana firman Allan subhanahu wa ta’ala:

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada
(Q.S. Al-Hajj [22]: 46)

Orang yang demikian itu, jika diberi peringatan mereka tidak akan menerimanya, bahkan mereka bertambah ingkar dan sombong.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri, seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya, maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.
(Q.S. Luqman [31]: 7)

Menurut sebagian ahli tafsir bahwa ayat ini diturunkan sebagai penegasan dan peringatan keras dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang mengingkari dan membantah-Nya, sebagai yang disebutkan pada ayat-ayat yang lalu.
Pada ayat 3 dan 4 surat ini dinyatakan bahwa pemuka-pemuka orang-orang musyrik Mekah, terutama Nadar bin Haris, telah membantah dan mengingkari Allah, tanpa ilmu pengetahuan, serta mereka mengikuti godaan setan yang jahat.
Pada ayat ini ditegaskan bahwa Nadar bin Haris dan kawan-kawannya serta orang-orang yang melakukan tindakan seperti mereka itu, benar-benar membantah dan mengingkari Allah.
Seakan-akan ayat ini memberi peringatan dan ancaman yang keras kepada mereka, bahwa tindakan-tindakan mereka itu akan menimbulkan akibat yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri.

Dari ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dapat dipahami bahwa ada dua hal pokok yang di ingkari oleh orang-orang musyrik Mekah itu.
Pada ayat yang sebelumnya disebutkan bahwa mereka mengingkari dan membantah tentang adanya hari kiamat dan hari berbangkit, sedang pada ayat-ayat ini mereka membantah dan mengingkari tentang adanya Allah subhanahu wa ta’ala dan segala sifat-sifat keagungan dan kebesaran-Nya.
Kedua hal ini termasuk rukun iman yang merupakan pokok-pokok yang wajib dipercayai dan diyakini.
Karena itu, tindakan mereka tidak saja menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menyesatkan manusia yang lain dari jalan Allah, karena perbuatan mereka itu langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi manusia yang lain.

Mereka itu di dunia akan memperoleh kehinaan, seperti kehinaan yang dialami Aba Lahab dan istrinya, dan di akhirat akan ditimpa azab neraka yang sangat panas yang menghanguskan tubuh mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Meskipun demikian, ia masih membuang muka karena rasa sombong dan tidak mau menerima kebenaran.
Orang semacam itu akan ditimpa kehinaan di dunia ini dengan dimenangkannya kebenaran.
Di akhirat kelak, mereka pun akan disiksa oleh Allah dengan api neraka yang membakar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dengan memalingkan lambungnya) Lafal ayat ini berkedudukan menjadi Hal atau keterangan keadaan, maksudnya orang yang membantah itu memalingkan lehernya dengan penuh kesombongan karena tidak mau beriman.

Pengertian berpaling di sini adalah baik ke kanan maupun ke kiri sama saja (untuk menyesatkan) dapat dibaca Liyadhilla dan Liyudhilla, untuk menyesatkan manusia (dari jalan Allah) yakni dari agama-Nya.

(Ia mendapat kehinaan di dunia) azab di dunia, akhirnya ia terbunuh dalam perang Badar (dan di hari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar) ia akan dibakar oleh api neraka, lalu dikatakan kepadanya,

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

sambil memalingkan lehernya karena kesombongan, berpaling dari kebenaran, untuk menghalangi orang lain dari masuk ke dalam agama Allah.
Kelak ia akan mendapat kehinaan di dunia, dengan tersiarnya keburukannya, dan Kami akan membakarnya dengan api neraka pada Hari Kiamat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dengan memalingkan lambungnya.

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan, makna yang dimaksud ialah ‘bilamana ia diajak kepada perkara yang hak, maka ia berpaling me­nyombongkan dirinya’.

Mujahid, Qatadah, dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman-Nya:

dengan memalingkan lambungnya.
Yaitu memalingkan mukanya terhadap seruan kebenaran yang ditujukan kepadanya sebagai reaksi dari sikap sombongnya.

Pengertiannya sama dengan yang terdapat di dalam firman-Nya:

Dan juga kepada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata.
Maka dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya.
(Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 38-39)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul, ” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 61)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rasul memintakan ampunan bagi kalian, ” mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombongkan diri.
(Q.S. Al-Munafiqun [63]: 5)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menceritakan perkataan Luqman kepada putranya, yaitu:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong).
(Q.S. Luqman [31]: 18)

Yakni kamu memalingkan wajahmu dari mereka dengan rasa sombong karena merasa lebih tinggi daripada mereka.

Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri.
(Q.S. Luqman [31]: 7), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Sebagian ulama mengatakan bahwa huruf lam dalam ayat ini adalah Lamul Aqibah.
yang artinya ‘akibatnya akan menyesatkan manusia dari jalan Allah’.
Tetapi dapat juga diartikan sebagai Lam Ta’lil, seperti yang disebutkan di atas.

Kemudian mengenai makna yang dimaksud dari pelakunya ialah orang-orang yang ingkar.
Atau dapat pula diartikan bahwa pelaku yang berwatak demikian tiada lain Kami jadikan dia berakhlak rendah agar Kami jadikan dia termasuk orang yang menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:

Ia mendapat kehinaan di dunia.

Al-khizyu artinya kehinaan dan kerendahan.
Hal itu disebabkan ia bersikap angkuh dan sombong terhadap ayat-ayat Allah.
Maka Allah membalasnya dengan kehinaan di dunia dan menghukumnya di dunia sebelum akhirat, mengingat dunia adalah tujuan hidup dan batas pengetahuannya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 9

HARIIQ
حَرِيق

Lafaz hariiq artinya sesuatu yang membakar yaitu api.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini diulang sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 181;
-Al Anfaal (8), ayat 50;
-Al Hajj (22), ayat 9, 22;
-Al Buruuj (85), ayat 10.

Dalam keseluruhan ayat itu, lafaz hariiq didahului dengan lafaz adzaab sehingga menjadi “adzaabal hariiq” yang beararti azab api yang membakar. Dalam ayal­ ayat itu, Allah menegaskan azab jenis ini diberikan kepada:

1. Orang Yahudi yang mengatakan Allah adalah fakir dan mereka adalah kaya karena Allah meminta mereka me­ngeluarkan sedekah.

2. Orang kafir dan juga orang munafik yang menghina kaum beriman dengan mengatakan orang Mukmin adalah orang yang tertipu oleh agamanya karena mereka rela mengorbankan segala yang dimilikinya.

3. Orang kafir yang mendebatkan masalah-rnasalah agama tanpa dalil dan bukti dengan maksud menghalang orang supaya tidak mengikut kebenar­an agama Islam.

4. Orang yang mendatangkan cobaan, menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh atau membakar orang mukmin baik lelaki maupun perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat seperti yang dilakukan oleh Ashabul Ukhdud yang membakar kaum beriman karena tidak mau me­meluk agama mereka.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:189

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini “Al Hajj”,
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar·syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur’an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Ayat-ayat dalam Surah Al Hajj (78 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hajj (22) ayat 9 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 9 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 9 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hajj - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 78 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 22:9
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.9
Ratingmu: 4.5 (21 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/22-9









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta