Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 78


وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ
Wajaahiduu fiillahi haqqa jihaadihi huwaajtabaakum wamaa ja’ala ‘alaikum fiiddiini min harajin millata abiikum ibraahiima huwa sammaakumul muslimiina min qablu wafii hadzaa liyakuunarrasuulu syahiidan ‘alaikum watakuunuu syuhadaa-a ‘alannaasi fa-aqiimuush-shalaata waaatuuzzakaata waa’tashimuu billahi huwa maulaakum fani’mal maula wani’mannashiir(u);

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.
Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah.
Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
―QS. 22:78
Topik ▪ Iman ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin ▪ Al Qur’an menerangkan segala sesuatu
22:78, 22 78, 22-78, Al Hajj 78, AlHajj 78, Al-Haj 78, Alhaj 78, Al Haj 78, Al-Hajj 78
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 78. Oleh Kementrian Agama RI

Di samping perintah-perintah di atas, Allah subhanahu wa ta'ala juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, semata-mata dilaksanakan karena Allah dan janganlah kaum Muslimin merasa khawatir dan takut kepada siapapun selain Allah dalam berjihad itu.

Ada empat macam jihad di jalan Allah yaitu:

1.
Jihad dalam arti mempertahankan diri dari serangan musuh, sebagaimana firman Allah:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas
(Q.S.
Al Baqarah: 190)

2.
Jihad dalam arti menegakkan agama Allah dan untuk meninggikannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.
Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan

(Q.S.
Al Anfal: 39)

3.
Jihad dengan arti berusaha melepaskan diri dari godaan setan, sebagaimana firman Allah:

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.
(Q.S.
An Nisa: 76)

4.
Jihad dengan arti memerangi hawa nafsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi:

Dari Jabir ia berkata, "Telah datang kepada Rasulullah ﷺ suatu kaum yang baru datang dari peperangan.
Maka beliau bersabda, "Kamu datang dengan kedatangan yang baik, kamu telah datang dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang besar" Seorang berkata, "Apakah jihad yang besar itu?
Rasulullah menjawab "Perjuangan hamba melawan hawa nafsunya".

(H.
Ditakhrijkan oleh Baihaqi )

Pada mulanya peperangan itu dibenci oleh kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu suatu yang kamu benci
(Q.S.
Al Baqarah: 216)

Sekalipun perang itu dibenci oleh kaum Muslimin, tetapi karena untuk mempertahankan diri dan menegakkan agama Allah, maka peperangan itu dibolehkan dan kaum Muslimin harus melakukannya.
Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta'ala melarang kaum Muslimin melakukan perbuatan-perbuatan melampaui batas dalam peperangan.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah memilih umat Muhammad untuk melakukan jihad itu.
Pemilihan itu adalah karena agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang telah disempurnakan Allah, yang di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan tentang jihad.
Hal ini merupakan penghormatan Allah subhanahu wa ta'ala kepada Nabi Muhammad beserta umatnya.

Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa agama yang telah diturunkan-Nya kepada Muhammad itu bukanlah agama yang sempit dan sulit, tetapi adalah agama yang lapang dan tidak menimbulkan kesulitan kepada hamba yang melakukannya.
Semua perintah-perintah dan larangan-larangan yang terdapat dalam agama Islam itu tujuannya adalah untuk melapangkan dan memudahkan hidup manusia, agar mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat nanti.
Hanya saja hawa nafsu manusialah yang mempengaruhi dan menimbulkan dalam pikiran mereka bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan Allah itu terasa berat dikerjakan.

Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa agama Islam itu mudah, orang-orang yang memberat-beratkan beban dalam agama akan dikalahkan oleh agama sendiri, sebagaimana tersebut dalam hadis:

Dari Abu Hurairah r.a.
dari Nabi ﷺ, beliau pernah bersabda, "Sesungguhnya agama itu mudah dan sekali-kali tidak akan ada seorangpun memberatkan agama.
kecuali agama itu akan mengalahkannya.
Karena itu bekerjalah kamu dengan betul sederhanakanlah, bergembiralah, dan jadikanlah berkarya di pagi dan di petang hari serta bepergian sebagai penolongmu".
(H.R.
Bukhari)

Rasulullah ﷺ pernah memberikan suatu peringatan yang keras kepada suatu golongan yang memberatkan beban dalam agama, sebagaimana tersebut dalam hadis:

Dari 'Aisyah r.a, ia berkata, "Rasulullah ﷺ pernah membuat sesuatu, maka beliau meringankannya.
lalu sampailah hal yang demikian kepada beberapa orang sahabat beliau.
Seolah-olah mereka tidak menyukainya.
Maka sampailah persoalan itu pada beliau.
lalu beliau berdiri berpidato dan berkata: Apakah gerangan keadaan orang-orang yang telah sampai kepada mereka tentang sesuatu perbuatan yang aku meringankannya, lalu mereka tidak menyukainya?.
Demi Allah (kata Rasulullah): Sesungguhnya aku orang yang paling tahu di antara mereka tentang Allah dan orang yang paling takut di antara mereka kepada-Nya.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Dari riwayat bahwa beberapa orang sahabat Rasul ingin menandingi ibadah beliau, sehingga ada yang berkata, "Aku akan puasa setiap hari".
Dan yang lain lagi berkata, "Aku tidak akan mengawini wanita" Maka sampailah hal yang demikian kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda:

Apakah gerangan keadaannya orang yang telah mengharamkan wanita?, makan dan tidur ?
Ketahuilah, sesungguhnya aku salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita-wanita.
Barangsiapa yang benci kepada sunahku, maka ia bukanlah termasuk umatku (H.R.
Nasai)
Dengan keterangan hadis-hadis di atas nyatalah bahwa agama Islam adalah agama yang lapang, meringankan beban, tidak picik dan tidak mempersulit.
Seandainya ada praktek dan amal-amal agama Islam itu memberatkan, picik dan sempit, maka hal itu bukanlah berasal dari agama Islam, tetapi tidak mengetahui hakikat Islam itu.

Dalam kehidupan sehari-hari terlihat masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami dengan baik tujuan Allah menurunkan syariat-Nya kepada Nabi ﷺ.
Seperti Allah subhanahu wa ta'ala mensyariatkan salat dengan tujuan agar manusia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi sebagian kaum Muslimin merasa berat mengerjakan salat yang lima waktu itu, bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa salat itu mengganggu waktu berharga bagi mereka.
Demikian pula pendapat mereka tentang ibadat-ibadat lainnya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah sesuai dengan agama Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan kedua agama itu sama-sama bersendikan ketauhidan.
Seakan-akan Allah subhanahu wa ta'ala memperingatkan kepada bangsa Arab waktu itu, "Hai bangsa Arab, kamu mengaku memeluk agama yang dibawa nenek moyangmu Ibrahim, karena itu ikutilah agama yang dibawa Muhammad, agama yang seasas dengan agama yang dibawa Ibrahim, agama tersebut yang berasaskan tauhid, tidak ada kesempitan dan kepicikan di dalamnya.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala menamakan orang-orang yang memeluk agama tauhid dengan "muslim".

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menjadi saksi di hari kiamat atas umatnya.
Maksudnya ialah dia bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalah Allah kepada mereka, menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan agar mereka tetap berpegang teguh kepada agama Allah, serta beribadat kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dun menghentikan larangan-larangan-Nya.
Sedangkan kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia di hari kiamat kelak, maksudnya ialah mereka telah melakukan seperti yang telah dilakukan Rasul atas mereka, yaitu mereka telah menyeru manusia agar beriman, menyampaikan agama Allah, melakukan tugas yang dibebankan Allah dan Rasul kepada mereka dengan sebaik-baikaya.
Apabila manusia menerima atau menolak seruan mereka itu, maka yang demikian mereka serahkan kepada Allah.

Sebagian Ahli tafsir menafsirkan ayat ini, kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia ialah termasuk di dalam persaksian mereka atas umat-umat yang terdahulu, yang telah diutus Allah Rasul-rasul kepada mereka.
Mereka mengetahui hal itu dari Allah melalui Alquran yang menerangkan bahwa Rasul dahulu telah menyampaikan agama yang berasaskan tauhid kepada mereka.

Agar semua perintah Allah yang disebutkan itu dapat dilaksanakan dengan baik, dan agar umat Muhammad yang ditugaskan menjadi saksi terhadap manusia pada hari Kiamat dapat melakukan persaksian itu dengan sebaik-baiknya, maka Allah memerintahkan kepada mereka:

1.
Selalu melaksanakan salat yang lima waktu, karena salat menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar dan merupakan penghubung yang kuat antara Tuhan yang disembah dengan hamba-Nya.

2.
Menunaikan zakat, agar dapat membersihkan jiwa dan harta, agar menghilangkan jurang yang terdapat antara si kaya dan si miskin.

3.
Berpegang teguh dengan tali Allah dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menghentikan segala larangan-Nya.

Al Hajj (22) ayat 78 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 78 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 78 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Berjuanglah dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan mengharap keridaan-Nya sampai kalian dapat mengalahkan musuh dan hawa nafsu, sebab Allah memang mendekatkan kalian dengan-Nya dan memilih kalian untuk menjadi pembela agama-Nya serta menjadikan kalian sebagai umat pertengahan.
Dia tidak pernah menentukan ketetapan hukum yang memberatkan kalian hingga tidak mampu kalian laksanakan.
Sebaliknya, Dia justru memberikan kemudahan pada beberapa hal yang tampak berat oleh kalian, dengan memberlakukan beberapa keringanan.
Oleh karena itu, pegang teguhlah agama ini, agama yang dasar- dasar dan prinsip-prinsipnya sama dengan agama Ibrahim.
Allah menyebut kalian sebagai muslimun (orang-orang yang berserah diri) di dalam kitab-kitab suci sebelumnya dan di dalam Al Quran ini agar membuat kalian patuh kepada ketentuan hukum yang ditetapkan-Nya.
Maka dari itu, jadilah orang yang benar-benar berserah diri, seperti sebutan yang telah diberikan Allah, agar kelak Rasulullah ﷺ.
bersaksi bahwa ia telah menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada kalian dan kalian pun melaksanakan pesan- pesan itu lalu kalian akan bahagia.
Juga, agar kalian menjadi saksi atas umat-umat terdahulu tentang ajaran Al Quran bahwa rasul-rasul mereka telah menyampaikan pesan-pesan Allah kepada kalian.
Jika Allah mengistimewakan kalian dengan sikap patuh kepada-Nya, lalu kalian pun melaksanakan salat dengan sebenarnya, maka kalian berkewajiban membalas karunia dengan bersyukur, selalu taat kepada-Nya, mengerjakan salat dengan sebaik-baiknya, memberi zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, bertawakal hanya kepada-Nya dalam segala persoalan dan selalu meminta pertolongan kepada-Nya.
Sebab, Dia adalah Penolong dan Pembela kalian.
Sungguh, Allah adalah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pembela.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah) demi menegakkan agama-Nya (dengan jihad yang sebenar-benarnya) dengan mengerahkan segala kemampuan kalian di dalamnya.
Lafal Haqqa dinashabkan disebabkan menjadi Mashdar.
(Dia telah memilih kalian) untuk membela agama-Nya (dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan) artinya hal-hal yang membuat kalian sulit untuk melakukannya, untuk itu Dia memberikan kemudahan kepada kalian dalam keadaan darurat, antara lain boleh mengkasar salat, bertayamum, memakan bangkai, dan berbuka puasa bagi orang yang sedang sakit dan bagi yang sedang melakukan perjalanan (sebagaimana agama orang tua kalian) kedudukan lafal Millata dinashabkan dengan cara mencabut huruf Jarrnya, yaitu huruf Kaf (Ibrahim) lafal ini menjadi athaf Bayan.
(Dia) yakni Allah (telah menamai kalian orang-orang Muslim dari dahulu) sebelum diturunkannya Alquran (dan begitu pula dalam Kitab ini) yakni Alquran (supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian) kelak di hari kiamat, bahwasanya dia telah menyampaikan kepada kalian (dan kalian) semuanya (menjadi saksi atas segenap manusia) bahwasanya Rasul-rasul mereka telah menyampaikan risalah-Nya kepada mereka (maka dirikanlah salat) maksudnya laksanakanlah salat secara terus-menerus (tunaikanlah zakat dan berpeganglah kalian kepada Allah) percayalah kalian kepada-Nya (Dia adalah pelindung kalian) yang menolong kalian dan yang mengurus perkara-perkara kalian (maka sebaik-baik pelindung) adalah Dia (dan sebaik-baik penolong) kalian adalah Dia.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Berjihadlah memerangi nafsu kalian, dan laksanakanlah perintah Allah dengan sempurna.
Ajaklah manusia ke jalan-Nya, dan berjihadlah dengan harta, lisan dan jiwa kalian, dengan niat yang ikhlas karena Allah, memasrahkan hati dan raga kalian kepada-Nya.
Dia telah memilih kalian untuk mengemban agama ini, dan Dia telah memberi anugerah kepada kalian dengan menjadikan syariat kalian sebagai syariat yang lapang.
Tidak ada kesempitan dan kesulitan dalam takalif (tugas-tugas agama) dan hukum-hukum-Nya, sebagaimana yang pernah diberlakukan terhadap sebagian umat-umat sebelum kalian.
Agama yang lapang ini adalah agama bapak kalian, Ibrahim.
Allah telah menamai kalian orang-orang muslim (muslimin) sejak dahulu dalam kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dan dalam al-Qur’an ini.
Allah mengistimewakan kalian dengan pilihan ini agar penutup para Rasul, Muhammad, menjadi saksi atas kalian bahwa dia telah menyampaikan risalah Rabb-nya kepada kalian.
Dan agar kalian menjadi saksi atas umat-umat lainnya bahwa rasul-rasul mereka juga telah menyampaikan kepada mereka sebagaimana yang telah disampaikan Allah kepada kalian dalam kitab-Nya.
Karena itu, hendaklah kalian mengetahui kadar nikmat ini lalu mensyukurinya, dan memelihara rambu-rambu agama dengan melaksanakan shalat sesuai rukun-rukun dan syarat-syaratnya, mengeluarkan zakat yang difardhukan, mencari perlindungan kepada Allah, dan bertawakal pada-Nya.
Karena Dialah sebaik-baik Pelindung bagi siapa yang menjadikan-Nya sebagai Pelindung, dan Dialah sebaik-baik penolong bagi siapa yang minta pertolongan kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Para Imam berselisih pendapat dalam ayat ini sehubungan dengan sajdah kedua dalam surat Al-Hajj.
Apakah disyariatkan sujud tilawah pada ayat ini ataukah tidak?
Ada dua pendapat mengenainya.
Dalam keterangan yang telah lalu —yakni pada sujud tilawah yang pertama-— telah disebutkan hadis Uqbah ibnu Amir, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Surat Al-Hajj mempunyai kelebihan dengan dua sajdahnya.
Maka barang siapa yang tidak melakukan sujud pada keduanya, janganlah membacanya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Yakni dengan harta benda, lisan, dan jiwa kalian.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat lain melalui firman-Nya

bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.
(Ali Imran:102)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dia telah memilih kalian.

hai umat ini, Allah telah memilih kalian di atas semua umat, juga mengutamakan, serta memuliakan kalian, dan mengkhususkan kalian dengan rasul yang paling mulia dan syariat yang paling sempurna.

dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.

Yakni Dia tidak membebankan kepada kalian apa-apa yang tidak mampu kalian kerjakan, Dia pun tidak mengharuskan sesuatu yang sangat berat bagi kalian, melainkan Allah menjadikan bagi kalian jalan keluar yang menuntaskannya.
Salat yang merupakan rukun Islam yang terbesar sesudah membaca dua kalimah syahadat, wajib dilakukan empat rakaat dalam keadaan di tempat, tetapi dalam perjalanan diringkas menjadi dua rakaat.
Dan dalam situasi khauf (perang), salat boleh dikerjakan hanya dengan satu rakaat (menurut sebagian imam), sesuai dengan keterangan yang terdapat di dalam sebuah hadis.
Kemudian salat tersebut dalam situasi khauf dapat dikerjakan dengan jalan kaki dan berkendaraan, dan baik menghadap kiblat atau pun tidak, semuanya sah.
Hal yang sama dilakukan pula bagi salat sunat dalam perjalanan, boleh menghadap ke arah kiblat dan boleh tidak.
Berdiri dalam salat merupakan suatu hal yang wajib, tetapi menjadi gugur bagi orang yang sakit.
Karena itu, seorang yang sakit di perbolehkan mengerjakannya sambil duduk, jika duduk tidak mampu, maka sambil berbaring pada salah satu sisi lambung dan lain sebagainya yang termasuk rukhsah dan kemurahan serta keringanan dalam semua hal yang fardu dan yang wajib.
Karena itulah Nabi ﷺ pernah bersabda:

Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh toleransi.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu'az dan Abu Musa, saat beliau mengutus keduanya menjadi amir di negeri Yaman:

Sampaikanlah berita gembira dan janganlah kamu berdua membuat mereka lari (darimu), dan bersikap mudahlah kamu berdua, janganlah kamu berdua bersikap mempersulit.

Hadis-hadis yang menerangkan hal ini cukup banyak, karena itulah sahabat Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya

dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
Al-haraj artinya kesempitan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

(ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.

Menurut Ibnu Jarir, lafaz millata menjadi keterangan dari firman-Nya:

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.

Yakni suatu kesempitan pun, bahkan meluaskannya bagi kalian seperti agama orang tua kalian Ibrahim.

Ibnu Jarir selanjutnya mengatakan, bahwa dapat pula dikatakan millata di-nasab-kan karena menyimpan kata ilzamu, yang artinya ikutilah agama orang tuamu Ibrahim.

Menurut saya, pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Katakanlah, "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus.” (Al An'am:161), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.

Imam Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya (Al Hajj:78) diatas, bahwa yang dimaksud dengan Dia adalah Allah subhanahu wa ta'ala

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Ad-Dahhak, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, dan Qatadah.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu
Bahwa yang dimaksud dengan Dia dalam ayat ini adalah Ibrahim.
Demikian itu karena ada firman Allah subhanahu wa ta'ala yang menyebutkan tentang doa Ibrahim, yaitu:

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau (umat muslimah).
(Al Baqarah:128)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang terakhir ini tidak beralasan, karena sudah dimaklumi bahwa Ibrahim 'alaihis salam tidak menyebutkan dalam Al-Qur'an nama umat ini dengan sebutan muslimin (melainkan muslimah).
Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini.

Mujahid mengatakan bahwa Allah menamai kalian muslimin dari dahulu di dalam kitab-kitab terdahulu, juga di dalam Az-Zikir (Al-Qur'an).
Hal yang sama telah dikatakan oleh selain Ibnu Jarir.

Menurut saya, pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir benar, karena Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.

Kemudian Allah menggugah mereka dan membangkitkan semangat mereka untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dengan menyebutkan bahwa agama Islam itu adalah agama orang tua mereka, yaitu Ibrahim Al-Khalil.
Setelah itu Allah menyebutkan tentang karunia-Nyayang telah Dia limpahkan kepada umat ini, yang di dalamnya diisyaratkan pujian yang baik dan sebutan yang baik terhadap umat ini sejak zaman dahulu, yang tertera di dalam kitab-kitab para nabi dan dibaca oleh banyak rahib dan pendeta.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.
(Al Hajj:78) Yakni sebelum masa Al-Qur'an.
dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini.

Imam Nasai mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa:

telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu'aib, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Salam, bahwa saudara lelakinya (yaitu Zaid ibnu Salam) pernah menceritakan kepadanya suatu berita dari Abu Salam, bahwa al-Haris Al-Asy'ari pernah menceritakan kepadanya dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Barang siapa yang berseru dengan seruan Jahiliah, maka sesungguhnya dia akan menjadi penghuni neraka Jahannam.
Kemudian ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, sekalipun dia puasa dan salat?” Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, sekalipun dia puasa dan salat.” Karena itu, hai hamba-hamba Allah, berserulah kalian dengan seruan Allah yang telah menamakan kalian orang-orang muslim dan orang-orang mukmin dalam seruan itu.

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan hadis ini dengan panjang lebar, yaitu pada tafsir firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.
(Al Baqarah:21)

Karena itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya:

supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia.

Yaitu sesungguhnya Kami jadikan kalian demikian sebagai umat yang pertengahan, adil lagi terpilih, dan keadilan kalian telah disaksikan oleh semua umat, agar kalian semua kelak di hari kiamat.

menjadi saksi atas segenap manusia.

Karena di hari itu semua umat telah mengakui kepenghuluan umat Muhammad dan keutamaannya yang berada di atas semua umat lainnya.
Maka kesaksian mereka atas segenap manusia di hari kiamat dapat diterima, yang isinya menyatakan bahwa para rasul itu telah menyampai­kan risalah Tuhan mereka (kepada umatnya masing-masing), dan Rasul ﷺ menjadi saksi atas umatnya, bahwa dia telah menyampaikan risalah Tuhannya kepada mereka.
Penjelasan mengenai hal ini telah kami sebutkan dalam tafsir firman-Nya:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.
(Al Baqarah:143)

Dalam pembahasan ini telah kami ketengahkan pula kisah Nabi Nuh dan umatnya, sehingga cukup jelas dan tidak perlu diulangi dalam tafsir ayat ini.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat.

Yakni terimalah nikmat yang besar ini dengan menunaikan rasa syukurnya.
Dan tunaikanlah hak Allah yang ada pada kalian, yaitu dengan mengerjakan semua yang difardukan-Nya, menaati segala yang diwajibkan-Nya, dan meninggalkan semua yang diharamkan-Nya.
Di antaranya yang terpenting ialah mendirikan salat dan menunaikan zakat, yang pengertiannya sama saja dengan berbuat kebajikan kepada sesama makhluk Allah.
Yaitu sebagai hak orang fakir yang diambil dari sebagian kecil harta orang kaya setiap tahun sekali, kemudian diberikan kepada kaum fakir miskin, orang-orang lemah, dan orang-orang yang memerlukan pertolongan.
Keterangan tentang masalah ini telah dirinci di dalam tafsir ayat zakat, bagian dari surat At-Taubah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan berpeganglah kalian pada tali Allah.

Maksudnya, berpegang eratlah kalian pada tali Allah, mintalah pertolongan kepada-Nya, bertakwalah kepada-Nya, serta mintalah dukungan dari­Nya.

Dia adalah Pelindung kalian.

Yakni Pemelihara, Penolong, dan yang memenangkan kalian atas musuh-musuh kalian.

maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Yaitu sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong terhadap musuh adalah Allah.

Wuhaib ibnul Ward mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Hai anak Adam, ingatlah Aku jika engkau marah, niscaya Aku mengingatmu jika Aku marah, maka Aku tidak memasukkan ke dalam golongan orang-orang yang Aku binasakan.
Dan apabila engkau dianiaya, bersabarlah dan relalah dengan pertolongan­Ku, karena sesungguhnya pertolongan-Ku kepadamu lebih baik daripada pertolonganmu kepada dirimu sendiri.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 78

JIHAAD
جِهَاد

Arti jihaad ialah mencurahkan semua tenaga dan kemampuan dalam melawan musuh. Orang yang berjihad disebut mujahid jamaknya adalah mujaahiduun.

Menurut Al Isfahani bentuk jihad ada tiga.
Pertama, jihad melawan musuh yang nampak.
Kedua, jihad melawan syaitan.
Ketiga, jihad melawan hawa nafsu.

Kata jihaad diulang empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah
-At Taubah (9), ayat 24;
-Al Hajj (22), ayat 78;
-Al Furqaan (25), ayat 52;
-Al Mumtahanah (60), ayat 1.

Sementara kata mujaahiduun diulang tiga kali yaitu dalam surah
-An Nisaa (4), ayat 95 (tiga kali);
-Muhammad (47), ayat 31.

Penggunaan kata jihad di dalam Al­ Quran mempunyai makna yang luas. Ia tidak hanya bermaksud perang melawan orang kafir saja. Ini terlihat dalam keterangan ahli tafsir ketika menafsirkan surah Al Hajj (22), ayat 78, dimana dalam ayat itu Allah memerintahkan orang beriman bersungguh­-sungguh dalam berjihad di jalan Allah

Imam Asy Syaukani mengurutkan be­berapa pendapat mengenai maksud jihad yang terdapat dalam ayat itu. Ada yang me­ngatakan, yang dimaksudkan dengan jihad dalam ayat itu adalah berperang melawan orang kafir dan mempertahankan diri apabila mereka menyerang daerah umat Islam.

Ada juga yang berpendapat, yang dimaksudkan jihad dalam ayat itu adalah bersungguh­-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah pada ayat sebelumnya yaitu shalat (rukuk dan sujud), beribadah kepada Allah dan melakukan kebaikan. Ada juga yang berpendapat, maksud jihad itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya se­cara umum.

Sementara Imam Ibnu Katsir cenderung berpendapat, yang dimaksudkan jihad dalam ayat itu adalah mencakup segala bentuk mujahadah baik itu jihad dengan meng­gunakan lisan, harta maupun jiwa.

Imam Al Alusi juga sependapat dengan Imam Ibn Katsir, malah beliau menambah termasuk jihad yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah jihad "an nafs" yaitu menyucikan jiwa dengan cara melaksanakan kewajibannya dan meninggalkan perkara yang tidak patut bagi­nya; jihad "al-qalb" yaitu membersihkan hati supaya tidak terikat dan tidak bergantung pada makhluk dan jihad "ar-ruh" yaitu dengan cara menyadari Dzat yang wujudnya hakiki hanyalah wujud Allah.

Termasuk kategori pekerjaan yang di­anggap jihad oleh Al Qur'an adalah menyebar­kan ajaran Al Qur'an dengan sungguh­ sungguh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dalam surah Al Furqaan (25), ayat 52. Dalam ayat itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya berjihad secara bersungguh-sungguh menyebarkan Al­ Quran kepada orang kafir yaitu dengan cara membacakan Al Qur'an yang didalamnya terdapat mau'izah, perintah dan larangan dihadapan mereka.

Diantara pekerjaan yang juga dianggap jihad di dalam Al Qur'an adalah berhijrah ke Madinah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi. Dalam surah Al Mumtahanah (60), ayat 1, Allah menegaskan apabila para sahabat berhijrah meninggalkan Makkah karena jihad dan karena ingin mendapatkan keridhaan Nya, mereka tidak boleh berkasih sayang dengan musuh­ musuh Islam. Dalam surah At Taubah (9), ayat 24, Allah menegaskan orang beriman harus menempatkan Allah, Rasul dan jihad fiisabilillah berada di atas segala-galanya. la tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan ke­pada keluarga, kawan, harta, usaha niaga maupun rumah tempat tinggal.

Apabila seorang mukmin bersungguh­-sungguh dalam berjihad, maka dia mendapat balasan yang agung dari Allah. Diantaranya adalah yang disebutkan dalam surah An Nisaa (4), ayat 95. Dalam ayat itu kata mujaahiduun diulang tiga kali dan ditegaskan derajat orang yang berjihad fisabilillah baik dengan harta maupun jiwanya adalah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan derajat orang yang tidak mau berjihad. Ketinggian derajat itu berupa syurga yang lebih tinggi tingkat­annya dan pahala yang lebih besar di akhirat nanti.

Dalam surah Muhammad (47), ayat 31, Allah menegaskan dengan adanya perang melawan musuh-musuh Islam, akan tampak­lah orang yang memang mempunyai ke­sungguhan dalam berjihad fisabilillah dan yang memang benar-benar mempunyai ke­sabaran yang tinggi.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:157-158

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 78 *beta

Surah Al Hajj Ayat 78



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain-
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku'10 ruku'
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (20 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ tafsir surah al-hajj ayat 78, maksud dari surah al haj ayat 78, q s al hajj ayat 78, Quran surat Al Hajj ayat 79, surah al hajj ayat 78, surah al hajj ayat 79, tafsir surat al hajj ayat 78