Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Hajj (Haji) - surah 22 ayat 78 [QS. 22:78]

وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ
Wajaahiduu fiillahi haqqa jihaadihi huwaajtabaakum wamaa ja’ala ‘alaikum fiiddiini min harajin millata abiikum ibraahiima huwa sammaakumul muslimiina min qablu wafii hadzaa liyakuunarrasuulu syahiidan ‘alaikum watakuunuu syuhadaa-a ‘alannaasi fa-aqiimuush-shalaata waaatuuzzakaata waa’tashimuu billahi huwa maulaakum fani’mal maula wani’mannashiir(u);
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.
Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.
(Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim.
Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.
Maka laksanakanlah salat;
tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah.
Dialah Pelindungmu;
Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
―QS. Al Hajj [22]: 78

Daftar isi

And strive for Allah with the striving due to Him.
He has chosen you and has not placed upon you in the religion any difficulty.
(It is) the religion of your father, Abraham.
Allah named you
"Muslims"
before (in former scriptures) and in this (revelation) that the Messenger may be a witness over you and you may be witnesses over the people.
So establish prayer and give zakah and hold fast to Allah.
He is your protector;
and excellent is the protector, and excellent is the helper.
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 78]

وَجَٰهِدُوا۟ dan berjihadlah kamu

And strive
فِى di

for
ٱللَّهِ (jalan) Allah

Allah
حَقَّ sebenar-benar

(with the) striving due (to) Him. *[meaning includes next or prev. word]
جِهَادِهِۦ jihadnya

(with the) striving due (to) Him. *[meaning includes next or prev. word]
هُوَ Dia

He
ٱجْتَبَىٰكُمْ memilih kamu

(has) chosen you
وَمَا dan Dia tidak

and not
جَعَلَ menjadikan

placed
عَلَيْكُمْ atas kalian

upon you
فِى dalam

in
ٱلدِّينِ agama

the religion
مِنْ dari

any
حَرَجٍ kesempitan

difficulty.
مِّلَّةَ agama

(The) religion
أَبِيكُمْ bapak kamu

(of) your father
إِبْرَٰهِيمَ Ibrahim

هُوَ Dia

He
سَمَّىٰكُمُ menampakan kamu

named you
ٱلْمُسْلِمِينَ orang-orang muslim

Muslims
مِن dari

before *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلُ sebelum/dahulu

before *[meaning includes next or prev. word]
وَفِى dan dalam

and in
هَٰذَا ini

this,
لِيَكُونَ supaya adalah

that may be
ٱلرَّسُولُ Rasul

the Messenger
شَهِيدًا menjadi saksi

a witness
عَلَيْكُمْ atas kalian

over you
وَتَكُونُوا۟ dan adalah kamu

and you may be
شُهَدَآءَ menjadi saksi

witnesses

Tafsir Quran

Surah Al Hajj
22:78

Tafsir QS. Al-Hajj (22) : 78. Oleh Kementrian Agama RI

Di samping perintah-perintah di atas, Allah juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, semata-mata dilaksanakan karena Allah dan janganlah kaum Muslimin merasa khawatir dan takut kepada siapa pun dalam berjihad selain kepada Allah.

Ada empat macam jihad di jalan Allah yaitu:
1. Jihad dalam arti mempertahankan diri dari serangan musuh, sebagaimana firman Allah:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas.
Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Al-Baqarah [2]: 190)

2. Jihad dalam arti menegakkan agama Allah dan untuk meninggikannya, sebagaimana firman Allah:

وَقَاتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهٗ لِلّٰهِ فَاِنِ انْتَهَوْا فَاِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata.

Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al- Anfal [8]: 39)

3. Jihad dengan arti berusaha melepaskan diri dari godaan setan, yang mengarah kepada masalah kemanusiaan seperti menolong orang, bertugas untuk kebaikan dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ الطَّاغُوْتِ فَقَاتِلُوْٓا اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا

Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. (An-Nisa’ [4]: 76)

4. Jihad dengan arti memerangi hawa nafsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi:
Dari Jabir ia berkata,
"Telah datang kepada Rasulullah ﷺ suatu kaum yang baru dari peperangan.
Maka beliau bersabda,
"Kamu datang dengan kedatangan yang baik, kamu telah datang dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang besar."
Seseorang berkata,
"Apakah jihad yang besar itu?"
Rasulullah menjawab,
"Perjuangan hamba melawan hawa nafsu."
(Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi)

Pada mulanya peperangan itu dibenci oleh kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. (Al-Baqarah [2]: 216)

Sekalipun perang itu dibenci oleh kaum Muslimin, tetapi karena tujuannya untuk mempertahankan diri dan menegakkan agama Allah, maka peperangan itu dibolehkan dan kaum Muslimin harus melakukannya.
Dalam pada itu Allah melarang kaum Muslimin melakukan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas dalam peperangan.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah telah memilih umat Muhammad untuk melakukan jihad.
Perintah itu datang karena agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang telah disempurnakan Allah, yang di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan tentang Jihad.
Hal ini merupakan pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad beserta umatnya.

Allah menerangkan bahwa agama yang telah diturunkan-Nya kepada Muhammad itu bukanlah agama yang sempit dan sulit, tetapi adalah agama yang lapang dan tidak menimbulkan kesulitan kepada hamba yang melakukannya.
Semua perintah dan larangan yang terdapat dalam agama Islam bertujuan untuk melapangkan dan memudahkan hidup manusia, agar mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat.
Hanya saja hawa nafsu manusialah yang mempengaruhi dan menimbulkan dalam pikiran mereka bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan Allah itu terasa berat dikerjakan.

Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa agama Islam itu mudah, orang-orang yang memberat-beratkan beban dalam agama akan dikalahkan oleh agama sendiri, sebagaimana tersebut dalam hadis:

Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
"Sesungguhnya agama itu mudah dan sekali-kali tidak akan ada seorang pun yang memberatkan agama, kecuali agama itu akan mengalahkannya.
Karena itu kerjakanlah dengan benar, dekatkanlah dirimu, gembiralah, dan mohonlah pertolongan di pagi dan petang hari serta waktu berpergian awal malam."
(Riwayat Bukhari)

Rasulullah ﷺ pernah memberikan suatu peringatan yang keras kepada suatu golongan yang memberatkan beban dalam agama, sebagaimana tersebut dalam hadis.

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata,
"Rasulullah ﷺ pernah membuat sesuatu, lalu beliau meringankannya, lalu sampailah hal yang demikian kepada beberapa orang sahabat beliau.
Seolah-olah mereka tidak menyukainya dan meninggalkannya.
Maka sampailah persoalan itu pada beliau.
Beliau lalu berdiri berpidato dan berkata:
Apakah gerangan keadaan orang-orang yang telah sampai kepada mereka tentang sesuatu perbuatan yang aku meringankannya, lalu mereka tidak menyukainya dan meninggalkannya?
Demi Allah (kata Rasululah):
Sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu di antara mereka tentang Allah dan orang yang paling takut di antara mereka kepada-Nya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan bahwa beberapa orang sahabat Rasul ingin menandingi beliau, sehingga ada yang berkata,
"Aku akan puasa setiap hari."
Yang lain lagi berkata,
"Aku tidak akan mengawini perempuan."
Maka sampailah hal itu kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda:

Apakah gerangan keadaan orang yang telah mengharamkan perempuan, makan dan tidur?
Ketahuilah, sesungguhnya aku salat dan tidur, berpuasa dan berbuka puasa serta menikahi perempuan-perempuan.
Barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.
(Riwayat An-Nasa’i)

Dengan keterangan hadishadis di atas nyatalah bahwa agama Islam adalah agama yang lapang, meringankan beban, tidak picik dan tidak mempersulit.
Seandainya ada praktek dan amalan agama Islam yang memberatkan, picik dan sempit, maka hal itu bukanlah berasal dari agama Islam, tetapi berasal dari orang yang tidak mengetahui hakikat Islam itu.

Dalam kehidupan sehari-hari terlihat masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami dengan baik tujuan Allah menurunkan syariat-Nya kepada Nabi ﷺ.
Seperti Allah mensyariatkan salat dengan tujuan agar manusia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi sebagian kaum Muslimin merasa berat mengerjakan salat yang lima waktu itu, bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa salat itu menganggu waktu berharga bagi mereka.
Demikian pula pendapat mereka tentang ibadah-ibadah lainnya.

Kemudian Allah menerangkan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah sesuai dengan agam Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan kedua agama itu sama-sama bersendikan ketauhidan.
Seakan-akan Allah memperingatkan kepada bangsa Arab waktu itu,
"Hai bangsa Arab, kamu mengaku memeluk agama yang dibawa nenek moyangmu Ibrahim, karena itu ikutilah agama yang dibawa Muhammad, agama yang berazaskan tauhid, tidak ada kesempitan dan kepicikan di dalamnya.
Dan Allah menamakan orang-orang yang memeluk agama tauhid dengan
"muslim"."

Dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menjadi saksi di hari Kiamat atas umatnya.
Maksudnya ialah dia bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalah Allah kepada mereka, menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan agar mereka tetap berpegang teguh kepada agama Allah, serta beribadah kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.
Sedangkan kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia di hari Kiamat kelak, maksudnya ialah mereka telah melakukan seperti yang telah dilakukan Rasul atas mereka, yaitu mereka telah menyeru manusia agar beriman, menyampaikan agama Allah, melakukan tugas yang dibebankan Allah dan Rasul kepada mereka dengan sebaik-baiknya.
Setelah itu mereka menyerahkan urusan mereka kepada Allah, apakah ajakan mereka diterima atau ditolak.

Sebagian Ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia termasuk di dalam persaksian mereka atas umat-umat terdahulu, yang telah diutus kepada mereka Rasulrasul.
Mereka mengetahui hal itu dari Allah melalui Alquran yang menerangkan bahwa Rasul dahulu telah menyampaikan agama yang bedasar tauhid kepada mereka.

Semua perintah Allah yang disebutkan itu dapat dilaksanakan dengan baik, agar umat Muhammad yang ditugaskan menjadi saksi terhadap manusia pada hari Kiamat dapat melakukan persaksian itu dengan sebaik-baiknya, maka Allah memerintahkan kepada mereka:

1. Selalu melaksanakan salat yang lima waktu, karena salat menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar dan merupakan penghubung yang kuat antara Tuhan yang disembah dengan hamba-Nya.

2. Menunaikan zakat, agar dapat membersihkan jiwa dan harta, agar mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin.

3. Berpegang teguh dengan tali Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan segala larangan-Nya.

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 78. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Berjuanglah dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan mengharap keridaan-Nya sampai kalian dapat mengalahkan musuh dan hawa nafsu, sebab Allah memang mendekatkan kalian dengan-Nya dan memilih kalian untuk menjadi pembela agama-Nya serta menjadikan kalian sebagai umat pertengahan.
Dia tidak pernah menentukan ketetapan hukum yang memberatkan kalian hingga tidak mampu kalian laksanakan.


Sebaliknya, Dia justru memberikan kemudahan pada beberapa hal yang tampak berat oleh kalian, dengan memberlakukan beberapa keringanan.
Oleh karena itu, pegang teguhlah agama ini, agama yang dasar- dasar dan prinsip-prinsipnya sama dengan agama Ibrahim.


Allah menyebut kalian sebagai muslimun (orang-orang yang berserah diri) di dalam kitabkitab suci sebelumnya dan di dalam Alquran ini agar membuat kalian patuh kepada ketentuan hukum yang ditetapkan-Nya.
Maka dari itu, jadilah orang yang benar-benar berserah diri, seperti sebutan yang telah diberikan Allah, agar kelak Rasulullah ﷺ.


bersaksi bahwa ia telah menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada kalian dan kalian pun melaksanakan pesan- pesan itu lalu kalian akan bahagia.
Juga, agar kalian menjadi saksi atas umat-umat terdahulu tentang ajaran Alquran bahwa rasulrasul mereka telah menyampaikan pesan-pesan Allah kepada kalian.


Jika Allah mengistimewakan kalian dengan sikap patuh kepada-Nya, lalu kalian pun melaksanakan salat dengan sebenarnya, maka kalian berkewajiban membalas karunia dengan bersyukur, selalu taat kepada-Nya, mengerjakan salat dengan sebaik-baiknya, memberi zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, bertawakal hanya kepada-Nya dalam segala persoalan dan selalu meminta pertolongan kepada-Nya.
Sebab, Dia adalah Penolong dan Pembela kalian.


Sungguh, Allah adalah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pembela.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Berjihadlah memerangi nafsu kalian, dan laksanakanlah perintah Allah dengan sempurna.
Ajaklah manusia ke jalan-Nya, dan berjihadlah dengan harta, lisan dan jiwa kalian, dengan niat yang ikhlas karena Allah, memasrahkan hati dan raga kalian kepada-Nya.


Dia telah memilih kalian untuk mengemban agama ini, dan Dia telah memberi anugerah kepada kalian dengan menjadikan syariat kalian sebagai syariat yang lapang.
Tidak ada kesempitan dan kesulitan dalam takalif (tugas-tugas agama) dan hukum-hukum-Nya, sebagaimana yang pernah diberlakukan terhadap sebagian umat-umat sebelum kalian.


Agama yang lapang ini adalah agama bapak kalian, Ibrahim.
Allah telah menamai kalian orang-orang muslim (muslimin) sejak dahulu dalam kitabkitab yang diturunkan sebelumnya, dan dalam Alquran ini.


Allah mengistimewakan kalian dengan pilihan ini agar penutup para Rasul, Muhammad, menjadi saksi atas kalian bahwa dia telah menyampaikan risalah Rabb-nya kepada kalian.
Dan agar kalian menjadi saksi atas umat-umat lainnya bahwa rasulrasul mereka juga telah menyampaikan kepada mereka sebagaimana yang telah disampaikan Allah kepada kalian dalam kitab-Nya.


Karena itu, hendaklah kalian mengetahui kadar nikmat ini lalu mensyukurinya, dan memelihara rambu-rambu agama dengan melaksanakan shalat sesuai rukun-rukun dan syarat-syaratnya, mengeluarkan zakat yang difardhukan, mencari perlindungan kepada Allah, dan bertawakal pada-Nya.
Karena Dialah sebaik-baik Pelindung bagi siapa yang menjadikan-Nya sebagai Pelindung, dan Dialah sebaik-baik penolong bagi siapa yang minta pertolongan kepada-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah) demi menegakkan agama-Nya


(dengan jihad yang sebenar-benarnya) dengan mengerahkan segala kemampuan kalian di dalamnya.
Lafal Haqqa dinashabkan disebabkan menjadi Mashdar.


(Dia telah memilih kalian) untuk membela agama-Nya


(dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan) artinya hal-hal yang membuat kalian sulit untuk melakukannya, untuk itu Dia memberikan kemudahan kepada kalian dalam keadaan darurat, antara lain boleh mengkasar salat, bertayamum, memakan bangkai, dan berbuka puasa bagi orang yang sedang sakit dan bagi yang sedang melakukan perjalanan


(sebagaimana agama orang tua kalian) kedudukan lafal Millata dinashabkan dengan cara mencabut huruf Jarrnya, yaitu huruf Kaf


(Ibrahim) lafal ini menjadi athaf Bayan.


(Dia) yakni Allah


(telah menamai kalian orang-orang Muslim dari dahulu) sebelum diturunkannya Alquran


(dan begitu pula dalam Kitab ini) yakni Alquran


(supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian) kelak di hari kiamat, bahwasanya dia telah menyampaikan kepada kalian


(dan kalian) semuanya


(menjadi saksi atas segenap manusia) bahwasanya Rasulrasul mereka telah menyampaikan risalah-Nya kepada mereka


(maka dirikanlah salat) maksudnya laksanakanlah salat secara terus-menerus


(tunaikanlah zakat dan berpeganglah kalian kepada Allah) percayalah kalian kepada-Nya


(Dia adalah pelindung kalian) yang menolong kalian dan yang mengurus perkara-perkara kalian


(maka sebaik-baik pelindung) adalah Dia


(dan sebaik-baik penolong) kalian adalah Dia.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Para Imam berselisih pendapat dalam ayat ini sehubungan dengan sajdah kedua dalam surat Al-Hajj.
Apakah disyariatkan sujud tilawah pada ayat ini ataukah tidak?
Ada dua pendapat mengenainya.
Dalam keterangan yang telah lalu —yakni pada sujud tilawah yang pertama-— telah disebutkan hadis Uqbah ibnu Amir, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Surat Al-Hajj mempunyai kelebihan dengan dua sajdahnya.
Maka barang siapa yang tidak melakukan sujud pada keduanya, janganlah membacanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Yakni dengan harta benda, lisan, dan jiwa kalian.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya

bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dia telah memilih kalian.

hai umat ini, Allah telah memilih kalian di atas semua umat, juga mengutamakan, serta memuliakan kalian, dan mengkhususkan kalian dengan rasul yang paling mulia dan syariat yang paling sempurna.

dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.

Yakni Dia tidak membebankan kepada kalian apa-apa yang tidak mampu kalian kerjakan, Dia pun tidak mengharuskan sesuatu yang sangat berat bagi kalian, melainkan Allah menjadikan bagi kalian jalan keluar yang menuntaskannya.
Salat yang merupakan rukun Islam yang terbesar sesudah membaca dua kalimah syahadat, wajib dilakukan empat rakaat dalam keadaan di tempat, tetapi dalam perjalanan diringkas menjadi dua rakaat.
Dan dalam situasi khauf (perang), salat boleh dikerjakan hanya dengan satu rakaat (menurut sebagian imam), sesuai dengan keterangan yang terdapat di dalam sebuah hadis.
Kemudian salat tersebut dalam situasi khauf dapat dikerjakan dengan jalan kaki dan berkendaraan, dan baik menghadap kiblat atau pun tidak, semuanya sah.
Hal yang sama dilakukan pula bagi salat sunat dalam perjalanan, boleh menghadap ke arah kiblat dan boleh tidak.
Berdiri dalam salat merupakan suatu hal yang wajib, tetapi menjadi gugur bagi orang yang sakit.
Karena itu, seorang yang sakit di perbolehkan mengerjakannya sambil duduk, jika duduk tidak mampu, maka sambil berbaring pada salah satu sisi lambung dan lain sebagainya yang termasuk rukhsah dan kemurahan serta keringanan dalam semua hal yang fardu dan yang wajib.
Karena itulah Nabi ﷺ pernah bersabda:

Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh toleransi.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu’az dan Abu Musa, saat beliau mengutus keduanya menjadi amir di negeri Yaman:

Sampaikanlah berita gembira dan janganlah kamu berdua membuat mereka lari (darimu), dan bersikap mudahlah kamu berdua, janganlah kamu berdua bersikap mempersulit.

Hadishadis yang menerangkan hal ini cukup banyak, karena itulah sahabat Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya

dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
Al-haraj artinya kesempitan.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.

Menurut Ibnu Jarir, lafaz millata menjadi keterangan dari firman-Nya:

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.

Yakni suatu kesempitan pun, bahkan meluaskannya bagi kalian seperti agama orang tua kalian Ibrahim.


Ibnu Jarir selanjutnya mengatakan, bahwa dapat pula dikatakan millata di-nasab-kan karena menyimpan kata ilzamu, yang artinya ikutilah agama orang tuamu Ibrahim.

Menurut saya, pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Katakanlah,
"Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus."
(QS. Al-An’am [6]: 161), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.

Imam Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya (QS. Al-Hajj [22]: 78)
diatas, bahwa yang dimaksud dengan Dia adalah Allah subhanahu wa ta’ala

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Ad-Dahhak, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, dan Qatadah.


Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu
Bahwa yang dimaksud dengan Dia dalam ayat ini adalah Ibrahim.
Demikian itu karena ada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan tentang doa Ibrahim, yaitu:

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau (umat muslimah).
(QS. Al-Baqarah [2]: 128)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang terakhir ini tidak beralasan, karena sudah dimaklumi bahwa Ibrahimalaihis salam tidak menyebutkan dalam Alquran nama umat ini dengan sebutan muslimin (melainkan muslimah).
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini.

Mujahid mengatakan bahwa Allah menamai kalian muslimin dari dahulu di dalam kitabkitab terdahulu, juga di dalam Az-Zikir (Al Qur’an).
Hal yang sama telah dikatakan oleh selain Ibnu Jarir.

Menurut saya, pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir benar, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.

Kemudian Allah menggugah mereka dan membangkitkan semangat mereka untuk mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dengan menyebutkan bahwa agama Islam itu adalah agama orang tua mereka, yaitu Ibrahim Al-Khalil.
Setelah itu Allah menyebutkan tentang karunia-Nyayang telah Dia limpahkan kepada umat ini, yang di dalamnya diisyaratkan pujian yang baik dan sebutan yang baik terhadap umat ini sejak zaman dahulu, yang tertera di dalam kitabkitab para nabi dan dibaca oleh banyak rahib dan pendeta.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.
(QS. Al-Hajj [22]: 78)
Yakni sebelum masa Alquran.
dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini.

Imam Nasai mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa:


telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Salam, bahwa saudara lelakinya (yaitu Zaid ibnu Salam) pernah menceritakan kepadanya suatu berita dari Abu Salam, bahwa al-Haris Al-Asy’ari pernah menceritakan kepadanya dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:
Barang siapa yang berseru dengan seruan Jahiliah, maka sesungguhnya dia akan menjadi penghuni neraka Jahannam.
Kemudian ada seorang lelaki bertanya,
"Wahai Rasulullah, sekalipun dia puasa dan salat?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya, sekalipun dia puasa dan salat."
Karena itu, hai hamba-hamba Allah, berserulah kalian dengan seruan Allah yang telah menamakan kalian orang-orang muslim dan orang-orang mukmin dalam seruan itu.

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan hadis ini dengan panjang lebar, yaitu pada tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.
(QS. Al-Baqarah [2]: 21)

Karena itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya:

supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia.

Yaitu sesungguhnya Kami jadikan kalian demikian sebagai umat yang pertengahan, adil lagi terpilih, dan keadilan kalian telah disaksikan oleh semua umat, agar kalian semua kelak di hari kiamat.

menjadi saksi atas segenap manusia.

Karena di hari itu semua umat telah mengakui kepenghuluan umat Muhammad dan keutamaannya yang berada di atas semua umat lainnya.
Maka kesaksian mereka atas segenap manusia di hari kiamat dapat diterima, yang isinya menyatakan bahwa para rasul itu telah menyampaikan risalah Tuhan mereka (kepada umatnya masing-masing), dan Rasul ﷺ menjadi saksi atas umatnya, bahwa dia telah menyampaikan risalah Tuhannya kepada mereka.
Penjelasan mengenai hal ini telah kami sebutkan dalam tafsir firman-Nya:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.
(QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Dalam pembahasan ini telah kami ketengahkan pula kisah Nabi Nuh dan umatnya, sehingga cukup jelas dan tidak perlu diulangi dalam tafsir ayat ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat.

Yakni terimalah nikmat yang besar ini dengan menunaikan rasa syukurnya.
Dan tunaikanlah hak Allah yang ada pada kalian, yaitu dengan mengerjakan semua yang difardukan-Nya, menaati segala yang diwajibkan-Nya, dan meninggalkan semua yang diharamkan-Nya.
Di antaranya yang terpenting ialah mendirikan salat dan menunaikan zakat, yang pengertiannya sama saja dengan berbuat kebajikan kepada sesama makhluk Allah.
Yaitu sebagai hak orang fakir yang diambil dari sebagian kecil harta orang kaya setiap tahun sekali, kemudian diberikan kepada kaum fakir miskin, orang-orang lemah, dan orang-orang yang memerlukan pertolongan.
Keterangan tentang masalah ini telah dirinci di dalam tafsir ayat zakat, bagian dari surat At-Taubah.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan berpeganglah kalian pada tali Allah.

Maksudnya, berpegang eratlah kalian pada tali Allah, mintalah pertolongan kepada-Nya, bertakwalah kepada-Nya, serta mintalah dukungan dariNya.

Dia adalah Pelindung kalian.

Yakni Pemelihara, Penolong, dan yang memenangkan kalian atas musuh-musuh kalian.

maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Yaitu sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong terhadap musuh adalah Allah.


Wuhaib ibnul Ward mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Hai anak Adam, ingatlah Aku jika engkau marah, niscaya Aku mengingatmu jika Aku marah, maka Aku tidak memasukkan ke dalam golongan orang-orang yang Aku binasakan.
Dan apabila engkau dianiaya, bersabarlah dan relalah dengan pertolonganKu, karena sesungguhnya pertolongan-Ku kepadamu lebih baik daripada pertolonganmu kepada dirimu sendiri.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 78

JIHAAD
جِهَاد

Arti jihaad ialah mencurahkan semua tenaga dan kemampuan dalam melawan musuh.
Orang yang berjihad disebut mujahid jamaknya adalah mujaahiduun.

Menurut Al Isfahani bentuk jihad ada tiga.
Pertama, jihad melawan musuh yang nampak.
Kedua, jihad melawan syaitan.
Ketiga, jihad melawan hawa nafsu.

Kata jihaad diulang empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah
• At Taubah (9), ayat 24;
• Al Hajj (22), ayat 78;
• Al Furqaan (25), ayat 52;
• Al Mumtahanah (60), ayat 1.
Sementara kata mujaahiduun diulang tiga kali yaitu dalam surah
An Nisaa (4), ayat 95 (tiga kali);
Muhammad (47), ayat 31.
Penggunaan kata jihad di dalam Al Quran mempunyai makna yang luas.
Ia tidak hanya bermaksud perang melawan orang kafir saja.
Ini terlihat dalam keterangan ahli tafsir ketika menafsirkan surah Al Hajj (22), ayat 78, dimana dalam ayat itu Allah memerintahkan orang beriman bersungguh-sungguh dalam berjihad di jalan Allah

Imam Asy Syaukani mengurutkan beberapa pendapat mengenai maksud jihad yang terdapat dalam ayat itu.
Ada yang mengatakan, yang dimaksudkan dengan jihad dalam ayat itu adalah berperang melawan orang kafir dan mempertahankan diri apabila mereka menyerang daerah umat Islam.

Ada juga yang berpendapat, yang dimaksudkan jihad dalam ayat itu adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah pada ayat sebelumnya yaitu shalat (rukuk dan sujud), beribadah kepada Allah dan melakukan kebaikan.
Ada juga yang berpendapat, maksud jihad itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya secara umum.

Sementara Imam Ibnu Katsir cenderung berpendapat, yang dimaksudkan jihad dalam ayat itu adalah mencakup segala bentuk mujahadah baik itu jihad dengan menggunakan lisan, harta maupun jiwa.

Imam Al Alusi juga sependapat dengan Imam Ibnu Katsir, malah beliau menambah termasuk jihad yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah jihad "an nafs" yaitu menyucikan jiwa dengan cara melaksanakan kewajibannya dan meninggalkan perkara yang tidak patut baginya; jihad "al-qalb" yaitu membersihkan hati supaya tidak terikat dan tidak bergantung pada makhluk dan jihad "ar-ruh" yaitu dengan cara menyadari Dzat yang wujudnya hakiki hanyalah wujud Allah.

Termasuk kategori pekerjaan yang dianggap jihad oleh Al Qur’an adalah menyebarkan ajaran Al Qur’an dengan sungguh sungguh sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dalam surah Al Furqaan (25), ayat 52. Dalam ayat itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya berjihad secara bersungguh-sungguh menyebarkan Al Quran kepada orang kafir yaitu dengan cara membacakan Al Qur’an yang didalamnya terdapat mau’izah, perintah dan larangan dihadapan mereka.

Diantara pekerjaan yang juga dianggap jihad di dalam Al Qur’an adalah berhijrah ke Madinah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.
Dalam surah Al Mumtahanah (60), ayat 1, Allah menegaskan apabila para sahabat berhijrah meninggalkan Makkah karena jihad dan karena ingin mendapatkan keridhaan Nya, mereka tidak boleh berkasih sayang dengan musuh musuh Islam.
Dalam surah At Taubah (9), ayat 24, Allah menegaskan orang beriman harus menempatkan Allah, Rasul dan jihad fiisabilillah berada di atas segala-galanya.
la tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan kepada keluarga, kawan, harta, usaha niaga maupun rumah tempat tinggal.

Apabila seorang mukmin bersungguh-sungguh dalam berjihad, maka dia mendapat balasan yang agung dari Allah.
Diantaranya adalah yang disebutkan dalam surah An Nisaa (4), ayat 95. Dalam ayat itu kata mujaahiduun diulang tiga kali dan ditegaskan derajat orang yang berjihad fisabilillah baik dengan harta maupun jiwanya adalah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan derajat orang yang tidak mau berjihad.
Ketinggian derajat itu berupa syurga yang lebih tinggi tingkatannya dan pahala yang lebih besar di akhirat nanti.

Dalam surah Muhammad (47), ayat 31, Allah menegaskan dengan adanya perang melawan musuh-musuh Islam, akan tampaklah orang yang memang mempunyai kesungguhan dalam berjihad fisabilillah dan yang memang benar-benar mempunyai kesabaran yang tinggi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:157-158

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedahfaedah dan hikmahhikmah disyari’atkannya haji.

Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahimalaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahimalaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam.

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim `alaihis salam.
▪ Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
▪ Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
▪ Hukum hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

▪ Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela.
▪ Tanda tanda takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasulrasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio Murottal

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 78 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 78 - Gambar 2
Statistik QS. 22:78
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku’ 10 ruku’
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.2 (20 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

22:78, 22 78, 22-78, Surah Al Hajj 78, Tafsir surat AlHajj 78, Quran Al-Haj 78, Alhaj 78, Al Haj 78, Al-Hajj 78, Surah Al Hajj ayat 78

Video Surah

22:78


More Videos

Kandungan Surah Al Hajj

۞ QS. 22:1 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kedahsyatan hari kiamat •

۞ QS. 22:2 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 22:3 • Sifat iblis dan pembantunya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:4 • Sifat iblis dan pembantunya • Azab orang kafir

۞ QS. 22:5 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 22:6 • Kekuasaan Allah • Al Haq (Maha Benar) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 22:7 • Kiamat telah dekat • Kepastian hari kiamat • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 22:9 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:10 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:11 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 22:12 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:13 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:14 • Pahala iman • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:15 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 22:16 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 22:17 • Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Derajat para pemeluk agama • Keutamaan iman

۞ QS. 22:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Hukum alam • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 22:19 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:20 • Sifat neraka • Makanan dan minuman ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:21 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:22 • Sifat neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:23 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Pakaian ahli surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 22:24 • Al Hamid (Maha Terpuji) • Sifat ahli surga

۞ QS. 22:26 • Islam agama para nabi

۞ QS. 22:30 Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:31 • Kewajiban hamba pada Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 22:32 • Pentingnya berbuat dengan teliti

۞ QS. 22:34 Tauhid Uluhiyyah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 22:37 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Perbuatan dan niat • Pentingnya berbuat dengan teliti • Kebutuhan muslim terhadap amal salehHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:38 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 22:39 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 22:40 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) •

۞ QS. 22:41 • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 22:44 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:45 • Azab orang kafir

۞ QS. 22:46 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:47 • Allah menepati janji • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 22:48 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:50 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 22:52 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah

۞ QS. 22:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Sifat orang munafik

۞ QS. 22:54 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:55 • Nama-nama hari kiamat • Hari kiamat datang tiba-tiba • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:56 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Nama-nama surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 22:57 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:58 • Pahala iman

۞ QS. 22:59 • Pahala iman • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 22:60 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) •

۞ QS. 22:61 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) •

۞ QS. 22:62 Tauhid Uluhiyyah • Al Haq (Maha Benar) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:63 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 22:64 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 22:65 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 22:66 Tauhid Rububiyyah • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 22:67 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 22:68 • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:69 • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 22:70 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 22:72 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 22:73 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:74 • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 22:75 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 22:76 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 22:77 Ar Rabb (Tuhan) • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 22:78 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) • Islam agama yang diterima di sisi Allah

Ayat Pilihan

Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
QS. Al-Hajj [22]: 37

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka.
Dan Allah adalah Maha Kuasa.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. Al-Mumtahanah [60]: 7

Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya kesenangan (sementara) & Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.
QS. Al-Mu’min [40]: 39

dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya
dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.
QS. Al-Anfal [8]: 26

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah ...

Correct! Wrong!

Pesan utama dari kandungan Alquran adalah ...

Correct! Wrong!

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Alquran. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.121 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #26
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #26 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #26 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna …Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu … Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut … Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu …

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Kamus Istilah Islam

Tahun Syamsiyah

Apa itu Tahun Syamsiyah? Tahun Syamsiyah sering disebut juga sebagai Tahun Surya atau Tahun Solar. Yaitu tahun dengan sistem penanggalan kalender berdasarkan pada revolusi bumi terhadap matahari. Kal...

Yaman

Di mana itu Yaman? Republik Yaman adalah sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya, bagian dari Timur Tengah. Yaman berbatasan dengan Laut Arab di sebelah selatan, Teluk Aden dan Laut Merah di ...

Asy-Syu'ara'

Apa itu Asy-Syu’ara’? Surah Asy-Syu’ara atau Surah Asy-Syu’ara’ adalah surah ke-26 dari Alquran. Surah ini terdiri dari 227 ayat termasuk golongan surah-surah Makkiyyah. ...