Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Hajj (Haji) - surah 22 ayat 52 [QS. 22:52]

وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ یُحۡکِمُ اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ
Wamaa arsalnaa min qablika min rasuulin walaa nabii-yin ilaa idzaa tamanna alqasy-syaithaanu fii umnii-yatihi fayansakhullahu maa yulqiisy-syaithaanu tsumma yuhkimullahu aayaatihi wallahu ‘aliimun hakiimun;
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), mela-inkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu.
Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya.
Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,
―QS. Al Hajj [22]: 52

Daftar isi

And We did not send before you any messenger or prophet except that when he spoke (or recited), Satan threw into it (some misunderstanding).
But Allah abolishes that which Satan throws in;
then Allah makes precise His verses.
And Allah is Knowing and Wise.
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 52]

وَمَآ dan tidak

And not
أَرْسَلْنَا Kami mengutus

We sent
مِن dari

before you *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِكَ sebelum kamu

before you *[meaning includes next or prev. word]
مِن dari

any
رَّسُولٍ seorang rasul

Messenger
وَلَا dan tidak

and not
نَبِىٍّ seorang nabi

a Prophet
إِلَّآ melainkan

but
إِذَا apabila

when
تَمَنَّىٰٓ dia berangan-angan/membaca

he recited,
أَلْقَى melemparkan/memasukkan

threw
ٱلشَّيْطَٰنُ syaitan

the Shaitaan
فِىٓ dalam

in
أُمْنِيَّتِهِۦ angan-angan/membaca

his recitation.
فَيَنسَخُ maka menghapus/menghilangkan

But Allah abolishes *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

But Allah abolishes *[meaning includes next or prev. word]
مَا apa yang

what
يُلْقِى dimasukkan

throws
ٱلشَّيْطَٰنُ syaitan

the Shaitaan,
ثُمَّ kemudian

then
يُحْكِمُ menghukumkan/menguatkan

Allah will establish *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah will establish *[meaning includes next or prev. word]
ءَايَٰتِهِۦ ayat-ayat-Nya

His Verses.
وَٱللَّهُ dan Allah

And Allah
عَلِيمٌ Maha Mengetahui

(is) All-Knower,
حَكِيمٌ Maha Bijaksana

All-Wise.

Tafsir Quran

Surah Al Hajj
22:52

Tafsir QS. Al-Hajj (22) : 52. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah memperingatkan orang-orang yang beriman akan usaha-usaha yang dilakukan oleh setan;
baik setan dalam bentuk jin, maupun setan dalam bentuk manusia untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Di antara usaha-usaha setan itu ialah apabila Rasul membicarakan ayat-ayat Allah, atau menjelaskan dan menyampaikan syariat yang dibawanya kepada para sahabatnya, maka bangunlah setan-setan itu dan berusahalah mereka memasukkan ke dalam hati para pendengar sesuatu tafsiran yang salah, sehingga mereka meyakini bahwa ayat-ayat atau syariat yang disampaikan Rasul itu, bukan berasal dari Allah, tetapi semata-mata ucapan Rasul saja, yang dibuat-buat untuk meyakinkan manusia akan kenabian dan kerasulannya.

Ada pula di antara setan-setan itu menyisipkan tafsir yang salah terhadap ayat-ayat itu, sehingga tanpa disadari oleh para pendengar, mereka telah menyimpang dengan tafsir itu sendiri dari maksud ayat yang sebenarnya.

Usaha setan itu tidak saja dilakukan terhadap Alquran dan hadishadis Nabi, tetapi juga telah dilakukannya terhadap agama dan kitabkitab suci yang pernah diturunkan kepada para rasul.

Usaha-usaha setan itu ada yang berhasil.
Bila dipelajari dengan sungguh-sungguh sejarah agama yang dibawa para rasul dan sejarah kitabkitab suci yang diturunkan Allah kepada mereka.

Telah banyak dimasukkan oleh setan ke dalam agama-agama itu sesuatu yang dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Yang disisipkan itu bukan saja hal yang ringan dan bukan prinsip, tetapi banyak pula yang telah berhasil disisipkan itu sesuatu yang dapat mengubah azas dan pokok agama itu, Allah ﷻ berfirman:

يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ

Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka.

Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat). (Al-Ma’idah [5]: 13)

Agama yang diturunkan Allah kepada para rasul terdahulu yang telah banyak dicampuri oleh perbuatan setan, di antaranya ialah agama Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Isa as.

Dalam sejarah kaum Muslimin setelah Rasulullah ﷺ dan para sahabat terdekat meninggal dunia, nampak dengan jelas usaha-usaha untuk merusak dan mengubah agama Islam meskipun usaha untuk mengubah, menambah atau mengurangi ayat-ayat Alquran tidak berhasil, karena Alquran dipelihara oleh Allah, tetapi mereka hampir saja berhasil memasukkan hadishadis palsu ke dalam kumpulan hadishadis Nabi.
Di samping itu juga mereka hampir berhasil menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan tafsir atau takwil yang jauh dari makna Alquran yang dikehendaki.

Di samping usaha-usaha mereka untuk mengubah ayat-ayat suci Alquran, hadis Nabi dan syariat Islam, mereka juga berusaha untuk merusak hidup dan kehidupan manusia, seperti jika seorang mencita-citakan adanya sesuatu kebaikan pada dirinya, maka ditimbulkanlah oleh setan di dalam diri dan pikiran orang itu pendapat atau keyakinan bahwa cita-cita yang diinginkan itu sulit memperolehnya, sehingga timbul pada diri dan kemauan orang itu rasa takut dan rasa tidak sanggup mencapai cita-cita yang baik itu.

Mengenai Alquran banyak sekali usaha-usaha untuk meniru-nirunya, memasukkan tafsir dan takwilan yang salah ke dalamnya, memasukkan khurafatkhurafat dan sebagainya, namun semua usaha itu mengalami kegagalan.
Hal ini sesuai dengan jaminan Allah tehadap pemeliharaan Alquran itu, Allah ﷻ berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (Al-Hijr [15]: 9)

Jika diperhatikan sejarah Alquran, amat banyak cara yang telah dilakukan untuk menjaga otensitas Alquran itu, di antaranya ialah:



1. Di masa Rasulullah masih hidup, setiap ayat-ayat Alquran diturunkan beliau menyuruh menuliskan dan menghafalnya.

2. Tidak lama setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia, seluruh Alquran telah dapat dikumpulkan dan ditulis pada lembaran-lembaran yang kemudian diikat dan disimpan oleh Abu Bakar, sepeninggal Abu Bakar disimpan oleh Umar, kemudian oleh Hafsah binti Umar.
Di masa Usman Alquran yang ditulis pada lembaran-lembaran itu dibukukan.
Alquran dinamai
"Mushaf".
Ada lima buah mushaf yang ditulis di masa Usman itu.
Dari mushaf yang lima itulah kaum Muslimin di seluruh dunia Islam di masa itu menyalin Alquran.

3. Mendorong dan menambah semangat orang-orang yang berilmu, agar memperdalam ilmunya.
Dengan kemampuan ilmu yang ada, mereka dapat mempertahankan kemurnian Alquran dari segala macam subhat dan penafsiran yang salah.

4. Sejak masa Nabi ﷺ sampai saat ini, selalu ada orang yang hafal seluruh Alquran, sehingga sukar dilakukan penyisipan-penyisipan ke dalamnya.
Bahkan kesalahan tulisan yang sedikit saja pada ayat-ayat Alquran telah dapat menimbulkan reaksi yang kuat dari kalangan kaum Muslimin.
Dalam setiap kurun sejarah Islam, selalu ada tokoh-tokoh ulama yang sanggup membela dan mempertahankan ajaran Islam dari serangan yang datang dari luar Islam yang beraneka ragam bentuknya.

Pada saat banyak timbul usaha-usaha pemalsuan hadis pada permulaan abad kedua hijriyah, tampillah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Beliau berusaha mengumpulkan dan membukukan hadishadis Nabi ﷺ yang masih berada dalam hafalan para tabi’in, dan sebagian telah dituliskan oleh para sahabat.
Beliau memerintahkan para pejabat di daerah-daerah, dan para ulama agar mengumpulkan hadishadis Nabi di daerah mereka masing-masing.
Di antara para ulama yang menulisnya ialah Imam az-Zuhri.
Maka oleh Imam az- Zuhri dikumpulkan hadishadis Nabi itu.
Sekalipun pada masa itu belum lagi dilakukan penelitian dan pemisahan hadishadis mana yang palsu dan mana yang benar-benar berasal dari Nabi, tetapi usaha ini merupakan landasan dan dasar dari usaha-usaha yang akan dilakukan oleh para Imam hadis yang datang kemudian sesudah angkatan az-Zuhri ini, seperti Imam Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Daud dan lain-lain.
Imam-imam inilah yang melakukan penelitian terhadap hadishadis yang telah dikumpulkan di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu.

Demikian pula Imam Al-Asy’ari telah berhasil mempertahankan kemurnian ajaran Islam dari pengaruh filsafat Yunani yang banyak dipelajari oleh ulamaulama Islam waktu itu.
Kemudian Al-Gazali telah berhasil pula mempertahankan ajaran Islam dari pengajaran atau pengaruh yang kuat dari filsafat Neoplatonisme.
Ibnu Taimiyah telah membersihkan ajaran Islam dari berbagai khufarat yang menyesatkan.



Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk segala macam bentuk usaha setan untuk merusak dan merubah ajaran Islam, semua yang terbesit di dalam hati manusia, semua yang nampak dan semua yang tersembunyi.
Dengan pengetahuan-Nya itu pula Dia melumpuhkan tipu daya setan yang ingin merusak agama-Nya, kemudian menimpakan pembalasan yang setimpal bagi mereka itu.

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 52. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Janganlah kamu bersedih, wahai Muhammad, mendapati perlakuan orang-orang kafir itu! Sebelum kamu pun, setiap kali seorang rasul atau seorang nabi membacakan sesuatu untuk mengajak mereka kepada kebenaran, semua rasul itu dihalangi oleh setan-setan manusia yang membangkang.
Setan-setan itu bermaksud untuk menggagalkan dakwah, membuat keragu-raguan dalam sesuatu yang dibacakan itu, dan akhirnya membuat seruan nabi atau rasul itu tidak ada harapan untuk dipenuhi.


Tetapi Allah menggagalkan rencana mereka itu, dan kemenangan pun, akhirnya, berada di pihak kebenaran.
Allah telah mengokohkan syariat dan menolong rasul-Nya.


Dia yang Mahatahu akan keadaan dan tipu daya manusia lagi Mahabijaksana untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kami tidak mengutus sebelummu, wahai Rasul, seorang Rasul dan Nabipun melainkan apabila ia membaca kitab Allah, maka setan akan memberikan was-was dan syubhat saat membacanya, untuk menghalangi manusia dari mengikuti apa yang dibacanya.
Tetapi Allah membatalkan tipu daya setan, lalu hilanglah was-wasnya, dan mengukuhkan ayat-ayat-Nya yang terang.


Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam ketentuan dan perintah-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun) rasul adalah seorang nabi yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu


(dan tidak pula seorang nabi) yaitu orang yang diberi wahyu akan tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya


(melainkan apabila ia membaca) membacakan Alquran


(setan pun, memasukkan godaan-godaan terhadap bacaannya itu) membisikkan apa-apa yang bukan Alquran dan disukai oleh orang-orang yang ia diutus kepada mereka.
Sehubungan dengan hal ini Nabi ﷺ pernah mengatakan setelah beliau membacakan surah An-Najm, yaitu sesudah firman-Nya,
"Maka apakah patut kalian


(hai orang-orang musyrik) menganggap Lata, Uzza dan Manat yang ketiganya…"
―QS. An-Najm [53]: 19-20―
lalu beliau mengatakan,
"Bintang-bintang yang ada di langit yang tinggi itu, sesungguhnya manfaatnya dapat diharapkan".
Orang-orang musyrik yang ada di hadapan Nabi ﷺ kala itu merasa gembira mendengarnya.
Hal ini dilakukan oleh Nabi ﷺ di hadapan mereka, dan sewaktu Nabi ﷺ membacakan ayat di atas lalu setan meniupkan godaan kepada lisan Nabi ﷺ tanpa ia sadari, sehingga keluarlah perkataan itu dari lisannya.
Maka malaikat Jibril memberitahukan kepadanya apa yang telah ditiupkan oleh setan terhadap lisannya itu, lalu Nabi ﷺ merasa berduka cita atas peristiwa itu.
Hati Nabi ﷺ menjadi terhibur kembali setelah turunnya ayat berikut ini,


("Allah menghilangkan) membatalkan


(apa yang ditiupkan oleh setan itu, dan Dia menguatkan ayat-ayat-Nya) memantapkannya.


(Dan Allah Maha Mengetahui) apa yang telah dilancarkan oleh setan tadi


(lagi Maha Bijaksana) di dalam memberikan kesempatan kepada setan untuk dapat meniupkan godaannya kepada Nabi ﷺ Dia berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sebagian besar ulama tafsir sehubungan dengan ayat-ayat ini mengetengahkan kisah garaniq (bintang-bintang) dan kisah yang menyebutkan bahwa kebanyakan dari kaum muslim yang berhijrah ke negeri Abesenia kembali ke Mekah karena mereka menduga orang-orang musyrik Quraisy telah masuk Islam.
Akan tetapi, kisah tersebut diriwayatkan melalui berbagai jalur yang seluruhnya berpredikat mursal, dan menurut pendapat saya hadishadis tersebut tidaklah disandarkan kepada jalur periwayatan yang sahih.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ ketika di Mekah membaca surat An-Najm, dan ketika bacaan beliau sampai kepada firman-Nya:
Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan ‘Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?
(QS. An-Najm [53]: 19-20)
Maka setan memasukkan godaannya pada lisan Nabi ﷺ sehingga beliau mengatakan,
"Bintang-bintang yang ada di langit yang tinggi itu, sesungguhnya syafaat (pertolongan mereka dalam mendatangkan hujan) benar-benar dapat diharapkan."
Akhirnya orang-orang musyrik berkata,
"Dia sebelum ini tidak pernah menyebut nama tuhan-tuhan kami dengan sebutan yang baik."
Lalu Nabi ﷺ bersujud kepada Allah, maka mereka pun (orang-orang musyrik) ikut bersujud.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, lalu Allah menghilangkannya apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah

Al-Bazzar meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya melalui Yusuf ibnu Hammad, dari Umayyah ibnu Khalid, dari Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menurut dugaanku masih diragukan sampainya hadis ini kepada Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ membaca surat An-Najm ketika masih di Mekah, sehingga bacaannya sampai pada firman-Nya:
Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan ‘Uzza.
(QS. An-Najm [53]: 19), hingga akhir beberapa ayat selanjutnya.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan,
"Kami tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan secara muttasil kecuali melalui sanad ini.
Orang yang menjadikannya berpredikat muttasil hanyalah Umayyah ibnu Khalid sendiri.
Dia orangnya siqah lagi terkenal, dan sesungguhnya dia meriwayatkan hadis ini hanya melalui jalur Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas.


Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abul Aliyah dari As-Saddi secara mursal.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi dan Muhammad ibnu Qais secara mursal pula."

Qatadah mengatakan bahwa dahulu Nabi ﷺ salat di dekat maqam Ibrahim, lalu beliau mengantuk dan setan memasukkan godaan pada lisannya, sehingga beliau mengatakan,
"Sesungguhnya bintang-bintang itu benar-benar syafaat (pertolongan)nya dapat diharapkan, dan sesungguhnya bintang-bintang itu bersama dengan bintang-bintang lainnya di langit yang tertinggi."
Lalu orang-orang musyrik menghafal kalimat itu dan setan berperan dengan menyebarkannya, bahwa Nabi ﷺ telah membaca ayat surat An-Najm itu.
Sehingga tersebarlah berita itu di kalangan orang-orang musyrik dan menjadi buah bibir mereka.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi.
(QS. Al-Hajj [22]: 52), hingga akhir ayat Maka Allah menjadikan setan itu terhina melalui ayat ini.

Di dalam tafsir Ibnu Jarir disebutkan sebuah riwayat dari Az-Zuhri, dari Abu Bakar ibnu Abdur Rahman ibnul Haris ibnu Hisyam dengan konteks yang semisal.


Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dalailun Nubuwwah telah meriwayatkannya, tetapi hanya sampai pada Musa ibnu Uqbah, yang hal ini ia kemukakan dalam kitab Magazi-nya dengan lafaz yang semisal.
Al-Baihaqi mengatakan,
"Kami telah meriwayatkan pula kisah ini melalui Abu Ishaq."

Menurut saya, kisah ini telah disebutkan oleh Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya dengan kalimat-kalimat yang semisal, semuanya berpredikat mursal dan munqati’.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Al-Bagawi di dalam kitab tafsirnya telah menyebutkannya di dalam kumpulan dari perkataan Ibnu Abbas dan Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi serta lain-lainnya dengan lafaz yang semisal.
Kemudian dalam pembahasan ini ia mengajukan suatu pertanyaan yang mengatakan,
"Mengapa hal seperti ini terjadi, padahal Rasulullah ﷺ telah dijamin oleh Allah terpelihara dari segala kesalahan?"
Selanjutnya Al-Bagawi mengemukakan beberapa jawaban yang ia petik dari pendapat orang-orang lain.
Di antaranya dan yang paling terbaik ialah bahwa setan membisikkan kalimat tersebut ke dalam pendengaran kaum musyrik, sehingga mereka menduga bahwa kalimat-kalimat tersebut bersumber dari Rasulullah ﷺ Padahal kenyataannya tidaklah demikian, melainkan dari ulah setan dan perbuatannya bukan dari Rasulullah ﷺ Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Demikianlah berbagai macam jawaban dari mereka yang mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan masalah ini, dengan anggapan bahwa hadis ini memang sahih.
.

Al-Qadi Iyad rahimahullah menyinggung masalah ini dalam kitab Asy-Syifa-nya dan mengemukakan jawabannya yang mengatakan bahwa memang keadaan hadis ini sahih mengingat telah terbukti kesahihannya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mempunyai risalah khusus yang membahas tentang palsunya kisah Al-Gharaniq ini, dalam kitabnya:
Nasbul Mazaniq li Abatil Qishash Al Gharaniq.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu.

Melalui ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menghibur hati Rasul-Nya.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa janganlah hatimu gundah karenanya, sesungguhnya hal semisal itu pernah dialami oleh para rasul sebelummu dan juga oleh para nabi.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:


terhadap keinginan itu.
Apabila ia berbicara, setan memasukkan godaannya ke dalam pembicaraannya, lalu Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu.

dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu.
(QS. Al-Hajj [22]: 52)
Yakni apabila Nabi ﷺ berbicara, maka setan memasukkan godaan-godaan ke dalam pembicaraannya.


Mujahid mengatakan, makna iza-tamanna ialah apabila berbicara.


Menurut pendapat yang lain, makna umniyah ialah bacaannya, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

kecuali dongengan-dongengan bohong belaka.
(QS. Al-Baqarah [2]: 78)

Yaitu bisa berucap, tetapi tidak bisa membaca dan menulis.


Al-Bagawi mengatakan bahwa kebanyakan ulama tafsir mengatakan tentang makna tamanna, bahwa artinya membaca Kitabullah.

setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu.

Yang dimaksud dengan umniyatihi ialah bacaannya.


Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Iza-tamanna"
artinya apabila membaca.


Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat ini lebih mirip dengan pengertian takwil.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu.

Menurut pengertian hakiki dari lafaz an-naskh ialah menghilangkan dan menghapuskan.


Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menghapuskan apa yang dimasukkan oleh setan itu.


Ad-Dahhak mengatakan bahwa Jibril menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dengan seizin Allah, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Artinya, Allah Maha Mengetahui segala urusan dan kejadian, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.
Dan Allah Mahabijaksana dalam menentukan keputusan-Nya, menciptakan makhluk-Nya, dan perintahNya kepada makhluk-Nya.
Di balik semua itu terkandung hikmah yang sempurna dan hujah yang jelas, karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 52

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.
Diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dan Ibnu Marduwaih, melalui jalan lain, dari Sa’id bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Nabi ﷺ di Mekah membaca surat, wan najmi idzaa hawaa (demi bintang ketika terbenam) sampai ayat, a fa ra-aitumul laata wal ‘uz-zaa wa manaatats tsaalitsatal ukh-raa (maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Latta dan al-‘Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian [sebagai anak perempuan Allah]) (an-Najm: 1-20), setan menyelinap pada lidah beliau , tilkal gharaaniiqul ‘ulaa wa inna syafaa’atahunna la turtajaa (itulah berhalaberhala yang paling mulia dan syafaatnya benar-benar dapat diharapkan).

Berkatalah kaum musyrikin: “Dia belum pernah menyebut-nyebut dan memuji tuhan kita sebelum ini.” Setelah sampai pada bacaan sajdah, Nabi ﷺ sujud dan mereka mengikutinya.
Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 52) sebagai penegasan bahwa setan selalu berusaha membelokkan apa-apa yang ditugaskan kepada para Nabi dan Rasul.
Tetapi Allah melindunginya dari gangguan setan.

Keterangan: menurut al-Bazzar, riwayat-riwayat yang menyebutkan gharaaniqul ‘ulaa tidak ada yang muttashil (yang sampai kepada Nabi ﷺ) kecuali sanad yang ia riwayatkan.
Bersambungnya riwayat ini melalui rawi tunggal, yaitu umayyah bin Khalid, dan ia termasuk rawi yang dapat dipercaya dan masyhur.
Pendapat ini menjadi pegangan as-Suyuthi.

Hadits semakna diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang rawinya antara lain al-Waqidi; diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas; diriwayatkan pula oleh Ishaq di dalam kitab Ash-Shirah, dari Muhammad bin Ka’b dan Musa bin ‘Uqbah, dari Ibnu Syihab; diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Ka’b dan Muhammad bin Qais; diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi.
Riwayat-riwayat tersebut memiliki makna yang sama dan semuanya daif atau munqati’, kecuali dari sumber Sa’id bin Jubair pada riwayat yang disebut pertama.

Menurut Ibnu Hajar, banyaknya sanad dalam riwayat ini menunjukkan bahwa kisah ini mempunyai sumber.
Disamping itu terdapat dua sanad yang shahih tapi mursal yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang satu dari az-Zuhri yang bersumber dari Abu Bakr bin ‘Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam, dan yang satunya lagi dari Dawud bin Hind yang bersumber dari Abul ‘Aliyah.

Adapun perkataan Ibnul ‘Arabi dan ‘Iyadh yang menyatakan bahwa riwayat ini semuanya palsu dan tidak bersumber, tidaklah dapat dijadikan pedoman.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedahfaedah dan hikmahhikmah disyari’atkannya haji.

Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahimalaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahimalaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam.

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim `alaihis salam.
▪ Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
▪ Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
▪ Hukum hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

▪ Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela.
▪ Tanda tanda takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasulrasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio Murottal

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 52 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 52 - Gambar 2
Statistik QS. 22:52
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku’ 10 ruku’
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.8 (8 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

22:52, 22 52, 22-52, Surah Al Hajj 52, Tafsir surat AlHajj 52, Quran Al-Haj 52, Alhaj 52, Al Haj 52, Al-Hajj 52, Surah Al Hajj ayat 52

Video Surah

22:52


More Videos

Kandungan Surah Al Hajj

۞ QS. 22:1 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kedahsyatan hari kiamat •

۞ QS. 22:2 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 22:3 • Sifat iblis dan pembantunya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:4 • Sifat iblis dan pembantunya • Azab orang kafir

۞ QS. 22:5 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 22:6 • Kekuasaan Allah • Al Haq (Maha Benar) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 22:7 • Kiamat telah dekat • Kepastian hari kiamat • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 22:9 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:10 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:11 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 22:12 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:13 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:14 • Pahala iman • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:15 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 22:16 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 22:17 • Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Derajat para pemeluk agama • Keutamaan iman

۞ QS. 22:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Hukum alam • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 22:19 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:20 • Sifat neraka • Makanan dan minuman ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:21 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:22 • Sifat neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:23 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Pakaian ahli surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 22:24 • Al Hamid (Maha Terpuji) • Sifat ahli surga

۞ QS. 22:26 • Islam agama para nabi

۞ QS. 22:30 Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:31 • Kewajiban hamba pada Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 22:32 • Pentingnya berbuat dengan teliti

۞ QS. 22:34 Tauhid Uluhiyyah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 22:37 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Perbuatan dan niat • Pentingnya berbuat dengan teliti • Kebutuhan muslim terhadap amal salehHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:38 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 22:39 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 22:40 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) •

۞ QS. 22:41 • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 22:44 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:45 • Azab orang kafir

۞ QS. 22:46 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:47 • Allah menepati janji • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 22:48 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:50 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 22:52 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah

۞ QS. 22:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Sifat orang munafik

۞ QS. 22:54 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:55 • Nama-nama hari kiamat • Hari kiamat datang tiba-tiba • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:56 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Nama-nama surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 22:57 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:58 • Pahala iman

۞ QS. 22:59 • Pahala iman • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 22:60 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) •

۞ QS. 22:61 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) •

۞ QS. 22:62 Tauhid Uluhiyyah • Al Haq (Maha Benar) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:63 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 22:64 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 22:65 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 22:66 Tauhid Rububiyyah • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 22:67 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 22:68 • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:69 • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 22:70 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 22:72 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 22:73 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:74 • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 22:75 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 22:76 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 22:77 Ar Rabb (Tuhan) • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 22:78 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) • Islam agama yang diterima di sisi Allah

Ayat Pilihan

Di antara tanda kekuasaanNya, diperlihatkan padamu kilat untuk (timbulkan) ketakutan & harapan, Dia turunkan hujan, lalu hidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya.
Sungguh yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang mempergunakan akal
QS. Ar-Rum [30]: 24

Allahlah yang Mahatahu hal-hal yang gaib.
Dia tidak memperlihatkan hal-hal yang gaib itu kepada siapa pun kecuali kepada rasul yang diizinkan-Nya untuk mengetahui beberapa hal gaib.
QS. Al-Jinn [72]: 26

Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
QS. Ibrahim [14]: 7

يُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَاِلَيْهِ تُقْلَبُوْنَ

Dia (Allah) mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.
QS. Al-‘Ankabut [29]: 21

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

+

Array

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Correct! Wrong!

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #8

Sumber kedua hukum dalam menetapkan Hukum tentang Alquran adalah … Hukum penggunaan hadis sebagai dasar hukum adalah … Orang yang menceritakan hadits disebut … Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … Berikut adalah hadits yang rusak, kecuali …

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang … Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang …

Kamus Istilah Islam

ratib

Apa itu ratib? ra.tib puji-pujian atau doa kepada Tuhan yang diucapkan berulang-ulang, seperti lailahaillallah, Allahu akbar; zikir … •

Tahun Qomariyah

Apa itu Tahun Qomariyah? Kalender qomariyah menggunakan sistem perhitungan bulan , yang ditandai oleh bulan sabit , biasanya diterapkan dalam ajaran Islam sebagai penentuan waktu bagi kaum Muslimin, m...

Fatimah az-Zahra

Siapa itu Fatimah az-Zahra? Fatimah binti Muhammad atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah. Kelahiran & Kehi...