QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 46 [QS. 22:46]

اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ
Afalam yasiiruu fiil ardhi fatakuuna lahum quluubun ya’qiluuna bihaa au aadzaanun yasma’uuna bihaa fa-innahaa laa ta’mal abshaaru walakin ta’mal quluubullatii fiish-shuduur(i);

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
―QS. 22:46
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Hikmah dari kisah umat-umat terdahulu ▪ Besarnya karunia Allah pada manusia
22:46, 22 46, 22-46, Al Hajj 46, AlHajj 46, Al-Haj 46, Alhaj 46, Al Haj 46, Al-Hajj 46

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 46

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 46. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkari seruan Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya mereka sering melakukan perjalanan antara Mekah dan Syria, serta ke negeri-negeri yang berada di sekitar Jaziratul Arab membawa barang dagangan dalam perjalanan, mereka itu telah melihat bekas-bekas negeri umat-umat yang dahulu yang telah dihancurkan Allah, seperti bekas-bekas negeri kaum ‘Ad dan kaum Samud, bekas negeri kaum Lut dan kaum Syuaib dan sebagainya.
Orang-orang musyrik Mekah telah pula mendengar kisah negeri kaumnya yang durhaka itu.
Apakah semua peristiwa dan kejadian itu tidak mereka pikirkan dan renungkan bahwa tindakan mereka mengingkari seruan Muhammad dan menyiksa para sahabat itu sama dengan tindakan-tindakan umat-umat dahulu terhadap para Rasul yang diutus kepada mereka?.
jika tindakan itu sama, tentu akibatnya akan sama pula, yaitu mereka akan memperoleh malapetaka dan azab yang keras dari Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala Maha Kuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tidak seorangpun yang sanggup menghalanginya.

Melihat sikap orang-orang musyrik Mekah yang demikian itu ternyata bahwa mata mereka tiadalah buta, karena mereka dapat melihat bekas-bekas negeri kaum yang durhaka itu, tetapi sebenarnya hati merekalah yang telah buta, telah tertutup untuk menerima kebenaran.
Yang menutup hati mereka itu ialah pengaruh adat kebiasaan dan kepercayaan yang mereka pusakai dari nenek moyang mereka dahulu, oleh karena itu mereka merasa dengki kepada Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya, sehingga mereka tidak dapat lagi memikirkan dan merenungkan segala macam peristiwa duka yang telah terjadi dan menimpa umat-umat yang dahulu itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidakkah mereka berjalan meniti bumi untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehancuran orang-orang zalim dan melakukan pendustaan itu?
Barangkali saja hati mereka terbangun dari tidur, memikirkan apa yang harus mereka lakukan terhadap seruan kebenaran yang disampaikan kepada mereka, dan mau mendengarkan berita-berita tentang kehancuran orang-orang kafir yang dapat diambil sebagai pelajaran.
Tetapi hati mereka telah buta dan membatu, maka mustahil mereka mau mengambil pelajaran dari apa-apa yang mereka lihat dan dengar.
Buta hati, itulah buta yang sebenarnya, dan bukan mata.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka apakah mereka tidak berjalan) mereka orang-orang kafir Mekah itu (di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami) apa yang telah menimpa orang-orang yang mendustakan sebelum mereka (atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?) berita-berita tentang dibinasakannya mereka dan hancurnya negeri-negeri tempat tinggal mereka, oleh sebab itu mereka mengambil pelajaran darinya.

(Karena sesungguhnya) kisah yang sesungguhnya (bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada) kalimat ayat ini berfungsi mengukuhkan makna sebelumnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah orang-orang yang mendustakan dari penduduk Quraisy itu tidak pernah berjalan di muka bumi untuk menyaksikan bekas-bekas orang-orang yang dibinasakan, lalu mereka berpikir dengan akal mereka sehingga bisa mengambil pelajaran, dan mendengar kisah-kisah mereka dengan penuh perhatian sehingga bisa mengambil pelajaran darinya??
Karena sesungguhnya buta itu bukanlah buta mata, tetapi buta yang membinasakan itu ialah buta mata hati dari melihat kebenaran dan memperhatikannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi.

Artinya, mereka lakukan sendiri dengan tubuh dan pikiran mereka.
Yang demikian itu merupakan cara yang efektif, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abud Dunia dalam kitab Tafakkur dan I’tibar-nya.

Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sayyar, telah menceritakan kepada kami Ja’far, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Dinar yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Musa (seraya berfirman), “Hai Musa, buatlah sepasang terompah dari besi, buat pula tongkat.
Kemudian berjalanlah kamu di permukaan bumi, lalu carilah bekas-bekas peninggalan yang mengandung pelajaran bagimu, hingga sepasang terompah itu jebol dan tongkat itu patah.”

Ibnu Abud Dunia mengatakan bahwa salah seorang yang bijak pernah mengatakan, “Hidupkanlah hatimu dengan nasihat-nasihat yang baik, sinarilah ia dengan bertafakkur, matikanlah dengan berzuhud, kuatkanlah dengan yakin, hinakanlah ia dengan kematian, dan batasilah ia dengan kefanaan.
Perlihatkanlah kepadanya bahaya-bahaya cinta duniawi, dan peringatkanlah ia dengan bencana masa dan buruknya perubahan hari-hari.
Perlihatkanlah pula kepada berita-berita orang-orang terdahulu, dan ingatkanlah ia dengan apa yang telah menimpa orang-orang dahulu, perjalankanlah ia di bekas-bekas tempat tinggal mereka, dan perlihatkanlah kepadanya akibat dari perbuatan mereka, di manakah mereka bertempat tinggal dan bagaimanakah kesudahan dari mereka?”

Dengan kata lain, lihatlah oleh kalian azab dan pembalasan yang telah menimpa umat-umat yang mendustakan rasul-rasul Allah itu.

lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?

Yaitu mengambil pelajaran dari apa yang dilihat dan didengarnya.

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.


Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini “Al Hajj”,
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar·syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur’an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Ayat-ayat dalam Surah Al Hajj (78 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hajj (22) ayat 46 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 46 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 46 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hajj - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 78 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 22:46
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.4
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al hajj 46 ▪ surah al hajj 46

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim