Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 37


لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ
Lan yanaalallaha luhuumuhaa walaa dimaa’uhaa walakin yanaaluhuttaqwa minkum kadzalika sakh-kharahaa lakum litukabbiruullaha ‘ala maa hadaakum wabasy-syiril muhsiniin(a);

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
―QS. 22:37
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Kehancuran kaum ‘Aad
22:37, 22 37, 22-37, Al Hajj 37, AlHajj 37, Al-Haj 37, Alhaj 37, Al Haj 37, Al-Hajj 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan lagi tujuan berkurban, ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.
Dekat kepada Allah dan keridaan-Nya itu tidak akan diperoleh dari daging-daging binatang yang disembelih itu dan tidak pula dari darahnya yang telah ditumpahkan, akan tetapi semuanya itu akan diperoleh bila kurban itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, dilakukan semata-mata karena Allah dan sebagai mensyukuri nikmat-nikmat yang tidak terhingga yang telah dilimpahkan Nya.

Berkata Mujahid: "Kaum Muslimin pernah bermaksud meniru perbuatan orang-orang musyrik Mekah.
Jika menyembelih binatang kurban, mereka menebarkan daging-daging binatang itu di sekitar Kakbah, sedang darahnya mereka lumurkan ke dinding-dinding Kakbah dengan maksud mencari keridaan tuhan-tuhan yang mereka sembah.
Dengan turunnya ayat ini, maka kaum Muslimin mengurungkan maksudnya itu.

Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan pula bahwa Dia telah memudahkan binatang kurban itu bagi manusia, mudah didapat, mudah dikuasai, dan mudah pula disembelih.
Dengan kemudahan itu manusia tambah mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada mereka serta mengagungkan Nya, karena petunjuk-petunjuk yang telah diberikannya.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta orang-orang yang melakukan kurban dengan ikhlas bahwa mereka akan memperoleh rida dan karunia Nya.

Pada ayat yang lalu Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar menyebut nama Nya di waktu menyembelih binatang kurban, sedang pada ayat ini diperintahkan membaca takbir di waktu menyembelih binatang kurban.

Kebanyakan ahli tafsir mengumpulkan kedua bacaan ini, yaitu dengan menyebut nama Allah dan mengucap takbir.

Ucapan yang diucapkan itu ialah:

Dengan menyebut nama Allah Maha Besar, wahai Tuhan!, dari Engkau dan untuk Engkau!

Alasan dari mufassir itu ialah hadis Nabi Muhammad ﷺ:

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: "Nabi ﷺ menyembelih pada hari raya kurban dua ekor kibas yang mempunyai tanduk yang tajam dan berwarna putih kehitam-hitaman.
Tatkala beliau menghadapkan keduanya ke kiblat, beliau mengucapkan" (artinya) "Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan cenderung kepada agama yang benar",
sampai kepada perkataan: dan aku adalah orang yang pertama kali yang menyerahkan diri.
Wahai Tuhan! Dari Engkau untuk Engkau, dari Muhammad dan umatnya, dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar, kemudian beliau menyembelihnya".

(H.R.
Abu Daud)

Al Hajj (22) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa Allah tidak melihat bentuk badan dan perbuatan lahir kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.
Dia tidak menginginkan kalian melakukan penyembelihan kurban untuk sekadar memamer-mamerkan diri.
Tetapi Dia menginginkan kekhusukan hati kalian.
Maka dari itu, keridaan-Nya tidak akan bisa didapatkan melalui pembagian daging dan penumpahan darah hewan kurban itu semata, tetapi yang bisa mendapatkannya adalah ketakwaan dan ketulusan niat.
Semua penundukan itu Kami lakukan demi kepentingan kalian dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk penyempurnaan ibadah haji yang diberikan-Nya.
Dan berilah kabar gembira, wahai Nabi, kepada orang-orang yang berbuat dan berniat baik dengan pahala yang besar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah) tidak dapat diterima di sisi-Nya (tetapi ketakwaan daripada kalianlah yang dapat mencapai keridaan-Nya) yaitu yang dapat sampai kepada-Nya hanyalah amal saleh yang ikhlas disertai iman.
(Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya) yakni atas petunjuk-Nya yang telah membimbing kalian sehingga dapat mengetahui pertanda-pertanda agama dan manasik-manasik haji-Nya.
(Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik) yaitu orang-orang yang mentauhidkan Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Daging dan darah sembelihan-sembelihan ini sedikit pun tidak akan sampai kepada Allah.
Tetapi yang sampai kepada-Nya adalah keikhlasannya dan meniatkannya karena wajah Allah semata.
Demikian pula Allah telah menundukkannya untuk kalian, wahai orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, agar kalian mengagungkan Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kebenaran yang Dia tunjukkan pada kalian, karena Dia berhak mendapatkan hal itu.
Dan berilah kabar gembira, wahai Nabi, kepada orang-orang yang berbuat baik dengan beribadah kepada Allah semata, dengan segala kebaikan dan keberuntungan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, bahwa sesungguhnya telah disyariatkan bagi kalian menyembelih hewan-hewan ternak itu sebagai kurban agar kalian menyebut nama-Nya saat menyembelihnya.
Karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pemberi Rezeki, tiada sesuatu pun dari daging atau darah hewan-hewan kurban itu yang dapat mencapai rida Allah.
Sesungguhnya Dia Mahakaya dari selain-Nya.
Orang-orang Jahiliyah di masa silam bila melakukan kurban buat berhala-berhala mereka, maka mereka meletakkan pada berhala-berhala itu daging kurban mereka, dan memercikkan darah hewan kurban mereka kepada berhala-berhala itu.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Hammad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Mukhtar, dari Ibnu Juraij yang mengatakan bahwa orang-orang Jahiliah di masa silam memuncrat­kan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, juga daging hewan kurban mereka.
Maka para sahabat Rasulullah ﷺ berkata, "Kami lebih berhak untuk melakukan hal tersebut." Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.
Yakni karena ketakwaan kalianlah Allah menerimanya dan memberikan balasan kebaikan kepada pelakunya.

Seperti yang telah disebutkan di dalam kitab sahih, melalui sabda Rasulullah ﷺ:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidak melihat kepada bentuk (rupa) dan harta kalian, tetapi melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.

dan sebuah hadis yang menyatakan:

Sesungguhnya sedekah itu benar-benar diterima di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah sebelum sedekah itu diterima oleh tangan pemintanya.
Dan sesungguhnya darah (hewan kurban) itu benar-benar diterima di sisi Allah sebelum darah itu menyentuh tanah.

Perihalnya sama dengan hadis terdahulu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Turmuzi yang menilainya hasan, diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a.
secara marfu'.

Makna nas ini menunjukkan pernyataan diterimanya kurban di sisi Allah bagi orang yang ikhlas dalam amalnya.
Tiada makna lain yang lebih cepat ditangkap dari nas ini menurut pendapat kalangan ulama ahli tahqiq, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Waki' telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Muslim ibnu Ad-Dahhak, bahwa ia pernah bertanya kepada Amir Asy-Sya'bi tentang kulit hewan kurban.
Lalu Asy-Sya'bi menjawab seraya mengemukakan firman-Nya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah.
(Al Hajj:37) Jika kamu suka menjualnya, kamu boleh menjualnya, jika kamu suka memakainya, kamu boleh memilikinya, dan jika kamu suka menyedekahkannya, kamu dapat menyedekahkannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian.

Yakni karena itulah maka Allah menundukkan unta-unta itu bagi kalian.

supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kalian.

Yaitu agar kalian membesarkan Allah (mengagungkan-Nya) sebagaimana Dia telah menunjuki kalian kepada agama-Nya, syariat-Nya, dan segala sesuatu yang disukai dan diridai-Nya.
Dia juga melarang kalian dari perbuatan-perbuatan yang dibenci-Nya dan tidak disukai-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Yakni, hai Muhammad, berilah kabar gembira orang-orang yang berbuat baik dalam amalnya lagi menegakkan batasan-batasan Allah dan mengikuti apa yang disyariatkan bagi mereka serta membenarkan segala sesuatu yang disampaikan oleh rasul kepada mereka dari sisi Tuhannya.

Masalah

Abu Hanifah, Malik, dan As-Sauri mengatakan, wajib berkurban bagi orang yang memiliki satu nisab lebih.
Abu Hanifah mensyaratkan iqamah dengan alasan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah yang semua perawinya berpredikat siqah, melalui Abu Hurairah secara marfu', yaitu:

Barang siapa yang mempunyai kemampuan (berkurban), lalu ia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat salat kami.

Padahal di dalam hadis terkandung garabah, Imam Ahmad ibnu Hanbal menilainya sebagai hadis munkar.

Ibnu Umar telah mengatakan:

Rasulullah ﷺ tinggal selama sepuluh tahun (yang setiap tahunnya) beliau selalu berkurban.
(Riwayat Turmuzi)

Imam Syafii dan Imam Ahmad ibnu Hanbal berpendapat, berkurban tidak wajib, melainkan hanya sunat, karena berdasarkan sebuah hadis yang mengatakan:

Tiada pada harta suatu hak selain dari zakat.

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkurban untuk umatnya, karena itulah maka kewajiban berkurban atas mereka gugur.

Abu Suraihah mengatakan bahwa dia bertetangga dengan Abu Bakar dan Umar, ternyata keduanya tidak ber­kurban karena khawatir perbuatannya itu akan diikuti oleh orang-orang.
Sebagian ulama mengatakan, kurban hukumnya sunat kifayah.
Dengan kata lain, apabila ada seseorang dari penduduk suatu kampung atau suatu kota melakukannya, maka gugurlah kesunatan berkurban dari yang lainnya, karena tujuan dari kurban itu adalah menampakkan syiar.

Imam Ahmad dan ahlus sunan dan Imam Turmuzi telah meriwayat­kan sebuah hadis yang dinilainya hasan, dari Muhannif ibnu Sulaim, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda sewaktu di Arafah,

"Dianjurkan bagi tiap-tiap ahli bait melakukan kurban dan 'atirah setiap tahunnya.
Tahukah kalian, apakah 'atirah itu?
'Atirah ialah apa yang kalian kenal dengan sebutan rajbiyyah.

Sanad hadis ini masih diragukan kesahihannya.

Abu Ayyub telah mengatakan bahwa ada seorang lelaki di masa Rasulullah ﷺ berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya.
Lalu mereka memakan sebagiannya dan memberikan sebagian lainnya sehingga orang-orang kelihatan cerah dan gembira seperti yang kamu lihat sendiri.
Diriwayatkan oleh Imam Turmuzi yang menilainya sahih, dan juga oleh Ibnu Majah.

Disebutkan bahwa Abdullah ibnu Hisyam mengurbankan seekor kambing sebagai kurban seluruh keluarganya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Mengenai usia hewan kurban, disebutkan di dalam riwayat Imam Muslim melalui Jabir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Janganlah kalian menyembelih selain hewan musinnah.
Terkecuali jika kalian sulit mendapatkannya, maka sembelihlah kambing jaz'ah.

Berangkat dari pengertian hadis ini Az-Zuhri berpendapat bahwa mengurbankan hewan jaz'ah tidak cukup.

Berbeda dengan Auza'i yang berpendapat bahwa hewan jaz'ah.
dari semua jenis cukup untuk dijadikan kurban.

Kedua pendapat tersebut dinilai garib, karena pendapat yang dikatakan oleh jumhur ulama menyebutkan bahwa sesungguhnya kurban itu cukup dengan unta, sapi, dan kambing ma'izsaniyyah, atau kambing da'n yang jaz'ah..

Unta sanyu ialah unta yang telah berusia lima tahun masuk enam tahun, sapi sanyu ialah yang berusia dua tahun masuk tiga tahun, dan menurut pendapat yang lain yaitu telah berusia tiga tahun masuk empat tahun.

Ma'iz sanyu ialah kambing benggala yang telah berusia dua tahun.

Kambing da'n yang jaz'ah.
ialah kambing yang telah berusia satu tahun.

Menurut pendapat lain berusia sepuluh bulan, menurut pendapat yang lainnya delapan bulan, dan menurut pendapat lainnya lagi enam bulan.

Pendapat terakhir ini merupakan pendapat yang paling minim di antara pendapat lainnya.
Sedangkan kurang dari enam bulan, maka kambing masih tergolong cempe (anak kambing).
Perbedaan di antara cempe dan kambing yang dewasa ialah: kalau cempe bulu punggungnya berdiri, sedangkan kambing dewasa tertidur dan telah terbelah menjadi dua bagian.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 37

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa orang-orang jahiliyyah biasa membalur baitullah dengan daging unta dan darahnya.
Berkatalah shahabat-shahabat Nabi ﷺ: “Kita lebih berhak membalur baitullah.” Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 37) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menerima daging dan darah qurban mereka, akan tetapi yang Allah terima adalah ketakwaan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 37

DIMAA'
لدِّمَآء

Lafaz ini berbentuk jamak mufradnya ad­ damm asal katanya damayun atau damawun, lalu al yaa' dihilangkan dan diganti menjadi mim, ia mengandung maksud aliran merah yang mengalir pada urat-urat hewan dan darah.

Lafaz dimaa' disebut sekali tersendiri­ di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al­ Baqarah (2), ayat 30.

Disebut dua kali yang disambungkan dengan dhamir yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 84 dan surah Al­ Hajj (22), ayat 37.

Lafaz ini mengandung makna umum dan khusus. Makna umum bagi lafaz ini ter­dapat dalam surah Al Baqarah yang dikaitkan dengan as safk yaitu menumpahkan.

Ibnu Katsir berkata,
"Sesungguhnya dari jenis ini (manusia) ada yang menumpah­kan darah, seakan-akan malaikat mengetahui hal itu karena memiliki ilmu yang khusus atau mereka dapat memahami sebahagi­an dari tabiat manusia karena diantara manusia ada orang yang melakukan ke­zaliman dan berbuat maksiat serta dosa."

Al Qurtubi berkata,
"Atau mereka membuat kiasan kepada mahluk yang ada sebelumnya seperti yang diriwayatkan Ad Dahhak dari Ibnu 'Abbas, yang pertama yang mendiami bumi adalah para jin mereka pun mem­buat kerusakan dan berbunuhan serta menumpahkan darah, lalu Allah mengirimkan Iblis dan menghapuskan mereka sehingga mereka mendiami pulau-pulau dan diatas gunung-gunung.

Dalam riwayat Mujahid dari Abdullah Ibnu Umar, mereka mendiami bumi 1000 tahun tahun sebelum Adam diciptakan dan ketika mereka melakukan pertumpah­an darah dan kerusakan Allah mengutus malaikat untuk memerangi mereka sehingga mereka mendiami pulau kemudian Allah berkata kepada malaikat, "Sesungguhnya aku akan menjadikan khalifah (Adam) di muka bumi," para malaikat pun berkata,
"Adakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan menumpahkan darah?"

Sedangkan makna khusus untuk lafaz ini terdapat dalam surah Al Baqarah, ayat 84 dan surah Al Hajj.

Dalam surah Al Baqarah, lafaz dimaa' ditujukan kepada Bani Israil, maksud­nya, "Wahai Bani Israil! Janganlah kamu menumpahkan darah sesama saudara dan sebahagian kamu menumpahkan darah sebahagian yang lain."

Dalam surah Al Hajj, ad­ dimaa' bermakna darah binatang sernbelih­an. Tafsirannya, "Tidak akan mendapat ridha Allah daging yang disedekahkan dan darah yang ditumpahkan dengan penyembelihan tetapi yang diterima adalah amal shaleh dan keikhlasan di dalamnya dengan hanya meng­harapkan ridha Allah."

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:225-226

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 37 *beta

Surah Al Hajj Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku