Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 37 [QS. 22:37]

لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ
Lan yanaalallaha luhuumuhaa walaa dimaa’uhaa walakin yanaaluhuttaqwa minkum kadzalika sakh-kharahaa lakum litukabbiruullaha ‘ala maa hadaakum wabasy-syiril muhsiniin(a);
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.
Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
―QS. Al Hajj [22]: 37

Their meat will not reach Allah, nor will their blood, but what reaches Him is piety from you.
Thus have We subjected them to you that you may glorify Allah for that (to) which He has guided you;
and give good tidings to the doers of good.
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 37]

لَن tidak akan

Will not
يَنَالَ sampai

reach
ٱللَّهَ Allah

Allah
لُحُومُهَا dagingnya

their meat
وَلَا dan tidak

and not
دِمَآؤُهَا darahnya

their blood
وَلَٰكِن akan tetapi

but
يَنَالُهُ akan sampai kepada-Nya

reaches Him
ٱلتَّقْوَىٰ takwa

the piety
مِنكُمْ daripada kamu

from you.
كَذَٰلِكَ demikianlah

Thus
سَخَّرَهَا Dia menundukkannya

He subjected them
لَكُمْ bagi kalian

to you
لِتُكَبِّرُوا۟ supaya kamu mengagungkan

so that you may magnify
ٱللَّهَ Allah

Allah
عَلَىٰ atas

for
مَا apa

what
هَدَىٰكُمْ Dia memberi petunjuk kepadamu

He has guided you.
وَبَشِّرِ dan berilah kabar gembira

And give glad tidings
ٱلْمُحْسِنِينَ orang-orang yang berbuat kebaikan

(to) the good-doers.

Tafsir

Alquran

Surah Al Hajj
22:37

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 37. Oleh Kementrian Agama RI


Allah menegaskan lagi tujuan berkurban, ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.
Dekat kepada Allah dan keridaan-Nya tidak akan diperoleh dari daging-daging binatang yang disembelih itu dan tidak pula dari darahnya yang telah ditumpahkan, akan tetapi semuanya itu akan diperoleh bila kurban itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, dilakukan semata-mata karena Allah dan sebagai syukur atas nikmat-nikmat yang tidak terhingga yang telah dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya.


Mujahid berkata,
"Kaum Muslimin pernah bermaksud meniru perbuatan orang-orang musyrik Mekah.
Jika menyembelih binatang kurban, mereka menebarkan daging-daging binatang itu disekitar Ka’bah, sedang darahnya mereka lumurkan ke dinding-dinding Ka’bah dengan maksud mencari keridaan tuhan-tuhan yang mereka sembah.

Dengan turunnya ayat ini, maka kaum Muslimin mengurungkan maksudnya itu."


Allah menegaskan pula bahwa Dia telah memudahkan binatang kurban bagi manusia, mudah didapat, mudah dikuasai, dan mudah pula disembelih.

Dengan kemudahan itu manusia seharusnya tambah mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka serta mengagungkan-Nya, karena petunjuk-petunjuk yang telah diberikan-Nya.


Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta orang-orang yang melakukan kurban dengan ikhlas bahwa mereka akan memperoleh rida dan karunia-Nya.


Pada ayat yang lalu Allah memerintahkan agar menyebut nama-Nya di waktu menyembelih binatang kurban, sedang pada ayat ini diperintahkan membaca takbir di waktu menyembelih binatang kurban.


Kebanyakan ahli tafsir mengumpulkan kedua bacaan ini, yaitu dengan menyebut nama Allah dan mengucapkan takbir.


Ucapan yang diucapkan itu ialah:
Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, dari Engkau dan untuk Engkau!


Alasan dari mufasir itu ialah hadis Nabi Muhammad ﷺ.
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata,
"Nabi ﷺ menyembelih pada hari raya kurban dua ekor domba yang mempunyai tanduk yang tajam dan berwarna putih kehitam-hitaman.

Tatkala beliau menghadapkan keduanya ke kiblat, beliau mengucapkan, (artinya)
"Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan cenderung kepada agama yang benar,"
sampai kepada perkataan, ‘dan aku adalah orang yang pertama kali yang menyerahkan diri.
Wahai Tuhan! Dari Engkau untuk Engkau, dari Muhammad dan umatnya, dengan nama Allah dan Allah Mahabesar, kemudian beliau menyembelihnya."
(Riwayat Abu Daud)

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 37. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa Allah tidak melihat bentuk badan dan perbuatan lahir kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.
Dia tidak menginginkan kalian melakukan penyembelihan kurban untuk sekadar memamer-mamerkan diri.


Tetapi Dia menginginkan kekhusukan hati kalian.
Maka dari itu, keridaan-Nya tidak akan bisa didapatkan melalui pembagian daging dan penumpahan darah hewan kurban itu semata, tetapi yang bisa mendapatkannya adalah ketakwaan dan ketulusan niat.


Semua penundukan itu Kami lakukan demi kepentingan kalian dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk penyempurnaan ibadah haji yang diberikan-Nya.
Dan berilah kabar gembira, wahai Nabi, kepada orang-orang yang berbuat dan berniat baik dengan pahala yang besar.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Daging dan darah sembelihan-sembelihan ini sedikit pun tidak akan sampai kepada Allah.
Tetapi yang sampai kepada-Nya adalah keikhlasannya dan meniatkannya karena wajah Allah semata.


Demikian pula Allah telah menundukkannya untuk kalian, wahai orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, agar kalian mengagungkan Allah dan bersyukur kepada-Nya atas kebenaran yang Dia tunjukkan pada kalian, karena Dia berhak mendapatkan hal itu.
Dan berilah kabar gembira, wahai Nabi, kepada orang-orang yang berbuat baik dengan beribadah kepada Allah semata, dengan segala kebaikan dan keberuntungan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah) tidak dapat diterima di sisi-Nya


(tetapi ketakwaan daripada kalianlah yang dapat mencapai keridaan-Nya) yaitu yang dapat sampai kepada-Nya hanyalah amal saleh yang ikhlas disertai iman.


(Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya) yakni atas petunjuk-Nya yang telah membimbing kalian sehingga dapat mengetahui pertanda-pertanda agama dan manasikmanasik (Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik) yaitu orang-orang yang mentauhidkan Allah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, bahwa sesungguhnya telah disyariatkan bagi kalian menyembelih hewan-hewan ternak itu sebagai kurban agar kalian menyebut nama-Nya saat menyembelihnya.
Karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pemberi Rezeki, tiada sesuatu pun dari daging atau darah hewan-hewan kurban itu yang dapat mencapai rida Allah.
Sesungguhnya Dia Mahakaya dari selain-Nya.
Orang-orang Jahiliyah di masa silam bila melakukan kurban buat berhalaberhala mereka, maka mereka meletakkan pada berhalaberhala itu daging kurban mereka, dan memercikkan darah hewan kurban mereka kepada berhalaberhala itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Hammad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Mukhtar, dari Ibnu Juraij yang mengatakan bahwa orang-orang Jahiliah di masa silam memuncrat­kan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, juga daging hewan kurban mereka.
Maka para sahabat Rasulullah ﷺ berkata,
"Kami lebih berhak untuk melakukan hal tersebut."
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.
Yakni karena ketakwaan kalianlah Allah menerimanya dan memberikan balasan kebaikan kepada pelakunya.


Seperti yang telah disebutkan di dalam kitab sahih, melalui sabda Rasulullah ﷺ:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat kepada bentuk (rupa) dan harta kalian, tetapi melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.

dan sebuah hadis yang menyatakan:

Sesungguhnya sedekah itu benar-benar diterima di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah sebelum sedekah itu diterima oleh tangan pemintanya.
Dan sesungguhnya darah (hewan kurban) itu benar-benar diterima di sisi Allah sebelum darah itu menyentuh tanah.

Perihalnya sama dengan hadis terdahulu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Turmuzi yang menilainya hasan, diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a. secara marfu‘.

Makna nas ini menunjukkan pernyataan diterimanya kurban di sisi Allah bagi orang yang ikhlas dalam amalnya.
Tiada makna lain yang lebih cepat ditangkap dari nas ini menurut pendapat kalangan ulama ahli tahqiq, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Waki’ telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Muslim ibnu Ad-Dahhak, bahwa ia pernah bertanya kepada Amir Asy-Sya’bi tentang kulit hewan kurban.
Lalu Asy-Sya’bi menjawab seraya mengemukakan firman-Nya:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah.
(QS. Al-Hajj [22]: 37)
Jika kamu suka menjualnya, kamu boleh menjualnya, jika kamu suka memakainya, kamu boleh memilikinya, dan jika kamu suka menyedekahkannya, kamu dapat menyedekahkannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian.

Yakni karena itulah maka Allah menundukkan unta-unta itu bagi kalian.

supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kalian.

Yaitu agar kalian membesarkan Allah (mengagungkan-Nya) sebagaimana Dia telah menunjuki kalian kepada agama-Nya, syariat-Nya, dan segala sesuatu yang disukai dan diridai-Nya.
Dia juga melarang kalian dari perbuatan-perbuatan yang dibenci-Nya dan tidak disukai-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Yakni, hai Muhammad, berilah kabar gembira orang-orang yang berbuat baik dalam amalnya lagi menegakkan batasan-batasan Allah dan mengikuti apa yang disyariatkan bagi mereka serta membenarkan segala sesuatu yang disampaikan oleh rasul kepada mereka dari sisi Tuhannya.

Masalah

Abu Hanifah, Malik, dan As-Sauri mengatakan, wajib berkurban bagi orang yang memiliki satu nisab lebih.
Abu Hanifah mensyaratkan iqamah dengan alasan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah yang semua perawinya berpredikat siqah, melalui Abu Hurairah secara marfu‘, yaitu:

Barang siapa yang mempunyai kemampuan (berkurban), lalu ia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat salat kami.

Padahal di dalam hadis terkandung garabah, Imam Ahmad ibnu Hanbal menilainya sebagai hadis munkar.


Ibnu Umar telah mengatakan:

Rasulullah ﷺ tinggal selama sepuluh tahun (yang setiap tahunnya) beliau selalu berkurban.
(Riwayat Turmuzi)

Imam Syafii dan Imam Ahmad ibnu Hanbal berpendapat, berkurban tidak wajib, melainkan hanya sunat, karena berdasarkan sebuah hadis yang mengatakan:

Tiada pada harta suatu hak selain dari zakat.

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkurban untuk umatnya, karena itulah maka kewajiban berkurban atas mereka gugur.


Abu Suraihah mengatakan bahwa dia bertetangga dengan Abu Bakar dan Umar, ternyata keduanya tidak ber­kurban karena khawatir perbuatannya itu akan diikuti oleh orang-orang.
Sebagian ulama mengatakan, kurban hukumnya sunat kifayah.
Dengan kata lain, apabila ada seseorang dari penduduk suatu kampung atau suatu kota melakukannya, maka gugurlah kesunatan berkurban dari yang lainnya, karena tujuan dari kurban itu adalah menampakkan syiar.

Imam Ahmad dan ahlus sunan dan Imam Turmuzi telah meriwayat­kan sebuah hadis yang dinilainya hasan, dari Muhannif ibnu Sulaim, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda sewaktu di Arafah,

"Dianjurkan bagi tiap-tiap ahli bait melakukan kurban dan ‘atirah setiap tahunnya.
Tahukah kalian, apakah ‘atirah itu?
‘Atirah ialah apa yang kalian kenal dengan sebutan rajbiyyah.

Sanad hadis ini masih diragukan kesahihannya.

Abu Ayyub telah mengatakan bahwa ada seorang lelaki di masa Rasulullah ﷺ berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya.
Lalu mereka memakan sebagiannya dan memberikan sebagian lainnya sehingga orang-orang kelihatan cerah dan gembira seperti yang kamu lihat sendiri.
Diriwayatkan oleh Imam Turmuzi yang menilainya sahih, dan juga oleh Ibnu Majah.

Disebutkan bahwa Abdullah ibnu Hisyam mengurbankan seekor kambing sebagai kurban seluruh keluarganya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Mengenai usia hewan kurban, disebutkan di dalam riwayat Imam Muslim melalui Jabir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Janganlah kalian menyembelih selain hewan musinnah.
Terkecuali jika kalian sulit mendapatkannya, maka sembelihlah kambing jaz’ah.

Berangkat dari pengertian hadis ini Az-Zuhri berpendapat bahwa mengurbankan hewan jaz’ah tidak cukup.


Berbeda dengan Auza’i yang berpendapat bahwa hewan jaz’ah.
dari semua jenis cukup untuk dijadikan kurban.


Kedua pendapat tersebut dinilai garib, karena pendapat yang dikatakan oleh jumhur ulama menyebutkan bahwa sesungguhnya kurban itu cukup dengan unta, sapi, dan kambing ma’izsaniyyah, atau kambing da’n yang jaz’ah..


Unta sanyu ialah unta yang telah berusia lima tahun masuk enam tahun, sapi sanyu ialah yang berusia dua tahun masuk tiga tahun, dan menurut pendapat yang lain yaitu telah berusia tiga tahun masuk empat tahun.


Ma’iz sanyu ialah kambing benggala yang telah berusia dua tahun.


Kambing da’n yang jaz’ah.
ialah kambing yang telah berusia satu tahun.


Menurut pendapat lain berusia sepuluh bulan, menurut pendapat yang lainnya delapan bulan, dan menurut pendapat lainnya lagi enam bulan.


Pendapat terakhir ini merupakan pendapat yang paling minim di antara pendapat lainnya.
Sedangkan kurang dari enam bulan, maka kambing masih tergolong cempe (anak kambing).
Perbedaan di antara cempe dan kambing yang dewasa ialah:
kalau cempe bulu punggungnya berdiri, sedangkan kambing dewasa tertidur dan telah terbelah menjadi dua bagian.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 37

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa orang-orang jahiliyyah biasa membalur baitullah dengan daging unta dan darahnya.
Berkatalah shahabat-shahabat Nabi ﷺ: “Kita lebih berhak membalur baitullah.” Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 37) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menerima daging dan darah qurban mereka, akan tetapi yang Allah terima adalah ketakwaan.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 37

DIMAA’
لدِّمَآء

Lafaz ini berbentuk jamak mufradnya ad damm asal katanya damayun atau damawun, lalu al yaa’ dihilangkan dan diganti menjadi mim, ia mengandung maksud aliran merah yang mengalir pada urat-urat hewan dan darah.

Lafaz dimaa’ disebut sekali tersendiri di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 30.
Disebut dua kali yang disambungkan dengan dhamir yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 84 dan surah Al Hajj (22), ayat 37.

Lafaz ini mengandung makna umum dan khusus.
Makna umum bagi lafaz ini terdapat dalam surah Al Baqarah yang dikaitkan dengan as safk yaitu menumpahkan.

Ibnu Katsir berkata,
"Sesungguhnya dari jenis ini (manusia) ada yang menumpahkan darah, seakan-akan malaikat mengetahui hal itu karena memiliki ilmu yang khusus atau mereka dapat memahami sebahagian dari tabiat manusia karena diantara manusia ada orang yang melakukan kezaliman dan berbuat maksiat serta dosa."

Al Qurtubi berkata,
"Atau mereka membuat kiasan kepada mahluk yang ada sebelumnya seperti yang diriwayatkan Ad Dahhak dari Ibnu ‘Abbas, yang pertama yang mendiami bumi adalah para jin mereka pun membuat kerusakan dan berbunuhan serta menumpahkan darah, lalu Allah mengirimkan Iblis dan menghapuskan mereka sehingga mereka mendiami pulau-pulau dan diatas gunung-gunung.

Dalam riwayat Mujahid dari Abdullah Ibnu Umar, mereka mendiami bumi 1000 tahun tahun sebelum Adam diciptakan dan ketika mereka melakukan pertumpahan darah dan kerusakan Allah mengutus malaikat untuk memerangi mereka sehingga mereka mendiami pulau kemudian Allah berkata kepada malaikat, "Sesungguhnya aku akan menjadikan khalifah (Adam) di muka bumi," para malaikat pun berkata,
"Adakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan menumpahkan darah?"

Sedangkan makna khusus untuk lafaz ini terdapat dalam surah Al Baqarah, ayat 84 dan surah Al Hajj.

Dalam surah Al Baqarah, lafaz dimaa’ ditujukan kepada Bani Israil, maksudnya, "Wahai Bani Israil! Janganlah kamu menumpahkan darah sesama saudara dan sebahagian kamu menumpahkan darah sebahagian yang lain."

Dalam surah Al Hajj, ad dimaa’ bermakna darah binatang sernbelihan.
Tafsirannya, "Tidak akan mendapat ridha Allah daging yang disedekahkan dan darah yang ditumpahkan dengan penyembelihan tetapi yang diterima adalah amal shaleh dan keikhlasan di dalamnya dengan hanya mengharapkan ridha Allah."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 225-226

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedahfaedah dan hikmahhikmah disyari’atkannya IbrahimIbrahimAl Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan Ibrahim `alaihis salam.
Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
Hukum hukum yang berhubungan dengan takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasulrasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 37 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 37 - Gambar 2
Statistik QS. 22:37
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku’10 ruku’
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.9 (21 votes)
Tags:

22:37, 22 37, 22-37, Surah Al Hajj 37, Tafsir surat AlHajj 37, Quran Al-Haj 37, Alhaj 37, Al Haj 37, Al-Hajj 37, Surah Al Hajj ayat 37

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 66 [QS. 20:66]

66. Dia berkata, “Silakan kamu melemparkan lebih dulu!” Para penyihir itu lantas melemparkan alat sihir mereka ke tengah arena, maka tiba tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya se … 20:66, 20 66, 20-66, Surah Thaa Haa 66, Tafsir surat ThaaHaa 66, Quran Thoha 66, Thaha 66, Ta Ha 66, Surah Toha ayat 66

QS. Al Ma’aarij (Tempat naik) – surah 70 ayat 13 [QS. 70:13]

10-13. Dan ketika itu tidak ada seorang teman karib pun menanyakan keadaan temannya, karena mencekamnya situasi dan kesibukan masing-masing dengan urusannya. Sedang mereka saling melihat, mereka semua … 70:13, 70 13, 70-13, Surah Al Ma’aarij 13, Tafsir surat AlMaaarij 13, Quran AlMarij 13, Al Maarij 13, AlMaarij 13, Surah Al Maarij ayat 13

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna ...

Benar! Kurang tepat!

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

+

Array

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan.

Benar! Kurang tepat!

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #20
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #20 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #20 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … al-Fatihah ar-Rahman al-Kautsar al-‘Alaq an-Nas Benar! Kurang tepat! Surah yang terpendek

Pendidikan Agama Islam #19

Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang … rembulan savanna ilalang mahsyar pasir Benar! Kurang tepat! Surah yang menjelaskan

Pendidikan Agama Islam #10

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada

Instagram