Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 30


ذٰلِکَ ٭ وَ مَنۡ یُّعَظِّمۡ حُرُمٰتِ اللّٰہِ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ؕ وَ اُحِلَّتۡ لَکُمُ الۡاَنۡعَامُ اِلَّا مَا یُتۡلٰی عَلَیۡکُمۡ فَاجۡتَنِبُوا الرِّجۡسَ مِنَ الۡاَوۡثَانِ وَ اجۡتَنِبُوۡا قَوۡلَ الزُّوۡرِ
Dzalika waman yu’azh-zhim hurumaatillahi fahuwa khairun lahu ‘inda rabbihi wa-uhillat lakumul an’aamu ilaa maa yutla ‘alaikum faajtanibuurrijsa minal autsaani waajtanibuu qaulazzuur(i);

Demikianlah (perintah Allah).
Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.
Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.
―QS. 22:30
Topik ▪ Takwa ▪ Amal shaleh sebagai pintu kebaikan ▪ Ayat yang berhubungan dengan Abu Jahal
22:30, 22 30, 22-30, Al Hajj 30, AlHajj 30, Al-Haj 30, Alhaj 30, Al Haj 30, Al-Hajj 30
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 30. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa semua yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu, seperti mencukur rambut, mengerat kuku, memenuhi nazar, tawaf mengelilingi Kakbah, termasuk fardu haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang menunaikan ibadah haji.
Barang siapa yang melaksanakan semua yang diperintahkan itu selama mereka berihram, karena ingin mengagungkan dan mencari keridaan Allah, maka perbuatan itu adalah perbuatan yang paling baik di sisi Allah dan akan dibalasinya dengan pahala yang berlipat ganda serta yang penuh kenikmatan.

Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan "hurumatillah",
ialah semua yang dilarang melakukannya oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji, seperti berlaku fasik, bertengkar, bersetubuh dengan istri, berburu dan sebagainya.
Menghormati "hurumatillah",
ialah menjauhi semua larangan itu.
Sedang menurut riwayat Zaid bin Aslam, yang dimaksud dengan "hurumatillah",
ialah Al Masyarilharam, Masjidilharam, Baitulharam, Syahrul Haram dan Tanah Haram.
Menghormati "hurumatillah" itu adalah perbuatan yang paling baik pada sisi Allah dari perbuatan lain selama seseorang mengerjakan ibadah haji.

Dalam ibadah haji terdapat dua macam ibadat, yaitu ibadat yang berhubungan dengan anggota badan, disebut ibadat badaniyah",
seperti tawaf, sai, melempar jumrah dan sebagainya.
Yang kedua ialah ibadat yang berhabungan dengan harta, disebut maliyah",
seperti menyembelih binatang kurban dan sebagainya.
Dalam ayat ini disebutkan makanan yang dihalalkan, perintah menjauhi perkataan dusta.
Sekalipun perintah itu ditujukan kepada semua kaum Muslimin, tetapi orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji sangat diutamakan melaksanakannya.
Di samping perintah-perintah itu ada lagi perintah yang lain ditujukan kepada orang-orang muslim, khususnya orang-orang yang mengerjakan ibadah haji.
Semua perintah itu ada yang termasuk ibadah badaniyah dan ada pula termasuk maliyah.

Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa dihalalkan bagi orang-orang yang beriman memakan dan menyembelih unta, lembu dan sebagainya, kecuali binatang-binatang yang telah ditetapkan keharamannya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.
darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik.
yang dipukul, yang jatuh.
yang ditanduk.
dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.....".

(Q.S.
Al Maidah: 3)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya itu adalah kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.
(Q.S.
Al An'am: 145)

Allah subhanahu wa ta'ala tidak pernah mengharamkan memakan daging binatang seperti yang diharamkan oleh kaum musyrik Mekah, perbuatan itu adalah perbuatan yang mereka ada-adakan saja.
Mereka mengharamkan bahirah, sa'ibah, wasilah, hamiyah dan sebagainya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Allah sekali kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah.
sa'ibah, wasilah, dan ham.
Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah.
dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

(Q.S.
Al Maidah: 103)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala pernah menyebutkan dua macam perintah, yaitu:

1.
Perintah menjauhi perbuatan menyembah patung atau berhala, karena perbuatan itu adalah perbuatan yang menimbulkan kekotoran dalam diri dan sanubari seseorang yang mengerjakannya dan perbuatan itu berasal dari perbuatan setan.
Setan selalu berusaha mengotori jiwa dan diri manusia.

2.
Perintah menjauhi perkataan dusta dan mengadakan persaksian yang palsu.

Dalam ayat ini digandengkan penyebutan persaksian palsu dan penyembahan berhala, karena kedua perbuatan itu pada hakikatnya adalah sama, semua sama berdusta dan mengingkari kebenaran.
Dalam pada itu dapat dipahami pula betapa besar dosanya mengadakan persaksian palsu itu karena oleh Allah subhanahu wa ta'ala digandengkan dengan perbuatan mempersekutukannya.

Dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ pun diterangkan bahwa persaksian palsu itu sama beratnya dengan memperserikatkan Allah subhanahu wa ta'ala:

Dari Nabi ﷺ bahwa (pada suatu ketika) beliau salat Subuh, setelah selesai memberi salam, beliau berdiri dan menghadap kepada manusia dan berkata: "Persaksian palsu sama beratnya dengan memperserikatkan sesuatu dengan Allah, persaksian palsu sama beratnya dengan memperserikatkan sesuatu dengan Allah, persaksian palsu sama beratnya dengan memperserikatkan sesuatu dengan Allah".
(H.R.
Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tabrabi)

Al Hajj (22) ayat 30 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Barangsiapa mematuhi perintah dan larangan Allah dalam ibadah haji, maka ia telah melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
Allah telah menghalalkan daging unta, sapi dan kambing kepada kalian, kecuali pada situasi-situasi tertentu seperti apabila mati tanpa disembelih dan lain sebagainya yang telah disebutkan dalam Al Quran.
Dari itu, hindarkanlah diri kalian dari penyembahan berhala, karena hal itu merupakan kotoran akal dan jiwa yang tidak pantas untuk disandang manusia.
Hindari juga berkata bohong, baik yang berkenaan dengan Allah maupun manusia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Demikianlah) menjadi Khabar dari Mubtada yang keberadaannya diperkirakan sebelumnya, yakni perintah Allah itu sebagaimana yang telah disebutkan (dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah) yaitu hal-hal yang tidak boleh dirusak (maka itu adalah) mengagungkannya (lebih baik baginya di sisi Rabbnya) di akhirat kelak.
(Dan telah dihalalkan bagi kamu sekalian binatang ternak) untuk memakannya sesudah disembelih terlebih dahulu (kecuali yang diterangkan kepada kalian) keharamannya di dalam firman yang lainnya yaitu, "Diharamkan bagi kalian memakan bangkai..." (Q.S.
Al-Maidah, 3).
Dengan demikian berarti Istitsna di sini bersifat Munqathi'.
Dan dapat pula dikatakan Muttashil, sedangkan barang yang diharamkan adalah ditujukan kepada hewan yang mati dengan sendirinya dan oleh penyebab-penyebab lainnya (maka jauhilah oleh kalian berhala-berhala yang najis itu) huruf Min di sini menunjukkan arti Bayan atau keterangan, maksudnya barang yang najis itu adalah berhala-berhala (dan jauhilah perkataan-perkataan dusta) perkataan yang mengandung kemusyrikan terhadap Allah di dalam bacaan Talbiyah kalian, atau yang dimaksud adalah kesaksian palsu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apa yang diperintahkan Allah berupa menghilangkan kotoran, memenuhi nadzar, dan thawaf di Baitullah, adalah perkara-perkara yang diwajibkan Allah atas kalian, maka agungkanlah.
Barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, diantaranya adalah manasik-Nya dengan melaksanakannya secara sempurna semata-mata karena Allah, maka itu lebih baik baginya di dunia dan akhirat.
Allah telah menghalalkan bagi kalian memakan semua binatang ternak, kecuali yang diharamkan-Nya dalam ayat-ayat yang dibacakan pada kalian dalam al-Qur’an, seperti bangkai dan selainnya, maka jauhilah.
Di dalamnya berisi pembatalan terhadap sebagian binatang ternak yang diharamkan oleh sebagian bangsa Arab.
Dan, jauhilah kotoran, yaitu berhaala, dan dusta yang notabene adalah dusta terhadap Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Itulah apa yang Kami perintahkan (kepada kamu sekalian) berupa amal-amal ketaatan dalam menunaikan manasik dan pahala yang berlimpah yang telah dijanjikan-Nya bagi para pelakunya."

Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah.

Yakni barang siapa yang menjauhi perbuatan-perbuatan durhaka dan apa-apa yang diharamkan oleh Allah yang bila dilanggar pelakunya berarti melakukan suatu dosa besar.

maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.

Maka baginya kebaikan yang banyak dan pahala yang berlimpah berkat memelihara dirinya dari hal-hal tersebut.
Sebagaimana mengerjakan amal ketaatan, pelakunya dapat pahala yang banyak dan balasan yang berlimpah, demikian pula halnya meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Mujahid pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Demikianlah (perintah Allah).
Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah.

Bahwa yang dimaksud dengan hurumat ini ialah hal-hal yang terhormat di sisi Allah (lain dengan pendapat di atas yang mengartikannya sebagai hal-hal yang diharamkan Allah, pent), yaitu kesucian tanah Mekah, ibadah haji, ibadah umrah, dan semua yang dilarang oleh Allah, berupa perbuatan-perbuatan maksiat (durhaka) terhadap-Nya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Zaid.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan telah dihalalkan bagi kalian semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepada kalian keharamannya.

Yakni Kami halalkan bagi kalian semua binatang ternak, dan Allah sekali-kali tidak pernah menyariatkan adanya bahirah, saibah, wasilah, dan ham.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

kecuali yang diterangkan kepada kalian keharamannya.

misalnya haramnya bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang disembelih bukan karena Allah, hewan ternak yang mati tercekik, dan lain sebagainya yang diharamkan.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang menurutnya bersumber dari Qatadah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka jauhilah berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Huruf min dalam ayat ini bermakna bayaniyah (keterangan) untuk menjelaskan jenis-jenisnya, yakni jauhilah hal yang najis itu, maksudnya berhala-berhala itu.
Mempersekutukan Tuhan sering disebutkan berbarengan dengan perkataan dusta, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Katakanlah, "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) kalian mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (Al A'raf:33)

Termasuk ke dalam pengertian perkataan dusta ialah kesaksian palsu.
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan melalui Abu Bakrah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

"Ingatlah, maukah kalian aku beri tahukan tentang dosa yang paling besar?"
Kami (para sahabat) menjawab, "Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, "Mempersekutukan Allah dan menyakiti kedua orang tua, " pada mulanya beliau bersandar, lalu duduk dan bersabda, "Ingatlah, dan perkataan dusta, ingatlah, dan kesaksian palsu!" Rasulullah ﷺ terus mengulang-ulang kalimat terakhir ini, sehingga kami berkata (dalam diri kami) mudah-mudahan beliau segera diam.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Ziyad, dari Fatik ibnu Fudalah, dari Aiman ibnu Kharim yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri melakukan khotbah.
Beliau bersabda: Hai manusia, kesaksian palsu sebanding dengan memper­sekutukan Allah! Beliau mengucapkan sabdanya ini sebanyak tiga kali, kemudian membaca firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka jauhilah oleh kalian berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Ahmad ibnu Mani', dari Marwan ibnu Mu'awiyah dengan sanad yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat garib.
Sesungguhnya kami mengenalnya hanya melalui hadis Sufyan ibnu Ziyad, sedangkan dia masih diperselisihkan perihal.periwayatannya akan hadis ini.
Kami pun tidak mengetahui bahwa Aiman ibnu Kharim pernah mendengar dari Nabi ﷺ

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Sufyan Al-Usfuri, dari ayahnya, dari Habib ibnun Nu'man Al-Asadi, dari Kharim ibnu Fatik Al-Asadi yang menceritakan, bahwa Rasulullah ﷺ melakukan salat Subuh.
Setelah selesai dari salatnya itu beliau berdiri, lalu bersabda: Kesaksian palsu seimbang dengan perbuatan mempersekutukan Allah subhanahu wa ta'ala Kemudian beliau ﷺ membaca firman-Nya:

maka jauhilah oleh kalian berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta, dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Wa-il ibnu Rabi'ah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa kesaksian palsu seimbang dengan mempersekutukan Allah, kemudian Ibnu Mas'ud membaca ayat ini.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 30

AWTSAAN
أَوْثَٰن

Lafaz ini adalah jamak dari al watsan, artinya ash shanam (patung) atau at timtsaal (berhala) yang disembah baik itu kayu, tembaga, perak dan sebagainya. "Hiya watsan fulan" artinya bermaksud istrinya.

Al Kafawi berkata,
"Al watsan adalah umum, at timtsaal ialah apa yang dibuat dan digambarkan seperti ciptaan Allah yang mempunyai roh. Sedangkan ash shanam adalah patung yang dibuat dari batu."

Lafaz awtsaan disebut tiga kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Hajj (22), ayat 30,
-Al Ankaabut (29), ayat 17, dan 25.

Ibn Qutaibah berkata,
"Al watsan ialah apa yang dibuat dari batu dan kapur batu."

Az Zamakhsyari berkata,
"Awtsaan adalah ash ashnaam (patung) dan orang kafir menamakannya dengan tuhan dan sekutu baginya atau pemberi syafaat bagi mereka. Oleh karena itu, perbuatan mereka (menyembahnya) dinamakan dusta (al ifk). Malah, kepala dari kedustaan (az zur) serta kotor (rijs), karena syirik tergolong dari perbuatan dusta disebabkan orang musyrik menyangka berhala layak dan berhak disembah serta menduga ia menimbulkan kecintaan (mawaddah) antara mereka."

At Tabari berkata,
"Awtsaan ialah mutsul, sebagaimana yang diriwayatkan dari Qatadah, ia dinamakan ashnaam (patung)."

Diriwayatkan dari Ibn Abbas dan Ibn Juraij, "Makna ayat dalam surah Al Hajj ialah jauhilah ketaatan kepada syaitan dalam menyembah patung."

Lafaz awtsaan dalam ayat di atas ialah patung yang dibuat dan diukir dari batu, tembaga, perak, kayu dan sebagainya, kemudian disembah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:89-90

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 30 *beta

Surah Al Hajj Ayat 30



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (14 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku