QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 3 [QS. 22:3]

وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یُّجَادِلُ فِی اللّٰہِ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ وَّ یَتَّبِعُ کُلَّ شَیۡطٰنٍ مَّرِیۡدٍ ۙ
Waminannaasi man yujaadilu fiillahi bighairi ‘ilmin wayattabi’u kulla syaithaanin mariidin;

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,
―QS. 22:3
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
22:3, 22 3, 22-3, Al Hajj 3, AlHajj 3, Al-Haj 3, Alhaj 3, Al Haj 3, Al-Hajj 3

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 3

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa sekalipun Allah telah menerangkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada hari kiamat, namun banyak manusia yang mengingkarinya, bahkan mereka bertindak lebih dari itu.
Mereka tidak saja mengatakan bahwa Allah tidak kuasa membangkitkan dan menghidupkan manusia kembali setelah hancur dan berserakan menjadi tanah, Allah mempunyai anak dan mempunyai syarikat, Alquran isinya tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala, tetapi mereka berbuat lebih dari itu yaitu menantang Allah.
Mereka berkata: “Seandainya Allah itu benar-benar Maha Kuasa cobalah turunkan azab yang pedih yang pernah dijanjikan itu”,
dan tantangan-tantangan yang lain.

Menurut Ibnu Abi Hatim, bahwasanya ayat ini diturunkan berhubungan dengan Nadar bin Haris, ia membantah ke Esaan dan kekuasaan Allah dengan mengatakan: “Malaikat itu adalah putri-putri Allah, Alquran itu tidak lain adalah dongengan orang-orang purbakala saja, Allah tidak kuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati yang tubuhnya telah hancur luluh menjadi tanah”.

Menurut Zamakhsari; “Sekalipun ayat ini ditujukan kepada Nadar bin Haris pada waktu turunnya, tetapi ayat ini berlaku umum dan ditujukan kepada semua orang yang membantah Allah, tanpa pengetahuan dan menetapkan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya”.

Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang berdebat tentang Allah, mengingkari ke Esaan dun kekuasaan-Nya, tanpa dasar pengetahuan yang benar dan bukti yang kuat.
Jika mereka hendak mengemukakan sesuatu tentang Allah, hendaklah mereka menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat.
Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan bahwa akal dan pikiran manusia tidak akan sanggup untuk mengenal dan memikirkan zat Allah, karena zat Allah merupakan sesuatu yang gaib.
Tetapi jika ingin mengetahui adanya Tuhan, ke Esaan dan kekuasaan-Nya pikirkanlah makhluk-makhluk yang telah diciptakan-Nya seperti jagat raya dan segala isinya, hukum-hukum yang mengaturnya, bumi dengan segala isinya, gunung-gunung dengan lembah-lembahnya, lautan yang luas dengan segala kandungannya dan diri mereka sendiri serta semua makhluk yang telah diciptakan Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?
Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.
Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya

(Q.S.
Ar Rum: 8)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan).
Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.
Maka Apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?.
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.

(Q.S.
An Nahl: 15-17)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang-orang yang buruk budi pekertinya, yaitu orang-orang yang mengikuti setan.
Setan itu mempunyai budi pekerti yang buruk adalah karena ia mengikuti dan memperturutkan hawa nafsunya, karena keangkuhannya ia enggan sujud kepada Adam sebagaimana yang diperintahkan Allah.
Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, menginginkan orang lain mengikuti perbuatan-perbuatannya yang tercela itu, berusaha dengan segala tipu dayanya agar manusia memandang baik segala perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, seperti memperserikatkan Tuhan, meminum khamar, berjudi, berzina, menumpuk harta untuk kepentingan diri sendiri, menindas orang-orang lain dan sebagainya.
Setan itu ada yang berupa setan jin dan ada pula yang berupa setan manusia.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Walaupun dengan peringatan keras dan jujur seperti itu, ternyata sebagian orang–karena didorong oleh sikap keras kepala dan taklid buta–memperdebatkan wujud Allah dan sifat-sifat-Nya.
Mereka pun kemudian menyekutukan Allah dan mengingkari kekuasaan-Nya dalam membangkitkan manusia dari kematian guna membalas amal perbuatan mereka.
Perbuatan mereka itu tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan atau bukti yang benar.
Akan tetapi mereka hanya mengikuti secara membabi buta langkah-langkah setan yang mendurhakai Tuhan dan jauh dari petunjuk-petunjuk-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan Nadhr bin Harits dan para pengikutnya.

(Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan) mereka mengatakan, bahwa para Malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah.

Alquran adalah dongengan orang-orang dahulu dan mereka mengingkari adanya hari berbangkit serta dihidupkan-Nya kembali manusia yang telah menjadi tanah (dan mengikuti) di dalam bantahannya itu (setiap setan yang sangat jahat) yaitu sangat membangkang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebagian pemimpin kekafiran membantah dan meragukan kuasa Allah untuk membangkitkan manusia dari kematiannya; karena mereka tidak mengetahui hakikat kekuasaan ini, dan karena mengikuti para pemimpin kesesatan dari setiap setan yang durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mencela orang-orang yang mendustakan adanya hari berbangkit, ingkar terhadap kekuasaan Allah yang mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, lagi berpaling dari apa yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya serta segala ucapannya, sikap ingkar dan kekafirannya mengikuti langkah setan-setan yang jahat, baik setan dari kalangan manusia maupun jin.
Itulah ciri khas ahli bid’ah dan kesesatan yang berpaling dari kebenaran lagi mengikuti jalan kebatilan.
Mereka berpaling dari perkara hak yang jelas, yang telah diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya.
Mereka juga mengikuti ucapan para pemimpin kesesatan yang menyeru kepada perbuatan bid’ah, menuruti kemauan hawa nafsu dan pendapat mereka sendiri.
Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman sehubungan dengan mereka dan orang-orang yang semisal dengan mereka:

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan.

Yakni pengetahuan yang benar.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 3

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Malik bahwa firmah Allah, wa minan naasi may yujaadilu fillaah…(di antara manusia ada yang membantah tentang Allah..) (al-Hajj: 3) turun berkenaan dengan Nadlr bin al-Harits.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini “Al Hajj”,
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar·syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur’an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Ayat-ayat dalam Surah Al Hajj (78 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hajj (22) ayat 3 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 3 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 3 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hajj - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 78 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 22:3
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain-
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku'10 ruku'
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
4.9
Ratingmu: 4.7 (15 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/22-3







Pembahasan ▪ tafsir munir surat al haaj ayat 3

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta