QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 26 [QS. 22:26]

وَ اِذۡ بَوَّاۡنَا لِاِبۡرٰہِیۡمَ مَکَانَ الۡبَیۡتِ اَنۡ لَّا تُشۡرِکۡ بِیۡ شَیۡئًا وَّ طَہِّرۡ بَیۡتِیَ لِلطَّآئِفِیۡنَ وَ الۡقَآئِمِیۡنَ وَ الرُّکَّعِ السُّجُوۡدِ
Wa-idz bau-wa’naa la-ibraahiima makaanal baiti an laa tusyrik bii syai-an wathahhir baitiya li-ththaa-ifiina wal qaa-imiina warrukka’issujuud(i);

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan):
“Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.
―QS. 22:26
Topik ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
22:26, 22 26, 22-26, Al Hajj 26, AlHajj 26, Al-Haj 26, Alhaj 26, Al Haj 26, Al-Hajj 26

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 26

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 26. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
agar mengingatkan kepada orang-orang musyrik Mekah yang menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan masuk Masjidilharam tentang peristiwa yang pernah terjadi dahulu, ialah pada waktu Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kepada Nabi Ibrahim a.s.
letak Baitullah yang akan dibina itu dan waktu ia memaklumkan kepada seluruh manusia di dunia atas perintah Allah bahwa Baitullah menjadi pusat peribadatan bagi seluruh manusia.
Dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa itu diharapkan orang-orang musyrik Mekah ingat kembali dan memikirkannya, tentulah mereka tidak lagi menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan masuk Masjidilharam, karena agama Islam itu adalah agama nenek moyang mereka Ibrahim dan Masjidilharam itu didirikan oleh nenek moyang mereka itu.

Menurut zahir ayat ini lbrahimlah orang yang pertama kali membangun Kakbah.
Tetapi menurut suatu riwayat bahwa Ibrahim hanyalah bertugas membangun Kakbah itu kembali bersama putranya Ismail as.
Sebelumnya telah didirikan Kakbah itu, kemudian runtuh dan bekasnya tertimbun oleh pasir.
Menurut riwayat tersebut, setelah Ismail putra Ibrahim dari istrinya Hajar yang ditinggalkannya di Mekah menjadi dewasa maka Ibrahim datang ke Mekah dari Suriah, untuk melaksanakan perintah Allah mendirikan Kakbah bersama putranya Ismail itu.
Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada Ibrahim bekas tempat berdirinya Kakbah yang telah runtuh itu dengan meniupkan angin kencang ke tempat itu, sehingga tempat itu menjadi bersih, lalu Ibrahim a.s.
dan putranya Ismail a.s.
mendirikan Kakbah di tempat itu.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Ibrahim a.s.
dan umatnya agar mentauhidkan Allah; tidak mempersekutukannya dengan sesuatupun, membersihkan Kakbah dari segala macam perbuatan yang mengandung unsur-unsur syirik, menyucikannya dari segala macam najis dan kotoran, menjadikan Kakbah itu sebagai pusat peribadatan bagi orang-orang yang beriman, seperti mengerjakan tawaf (Tawaf ialah berjalan mengelilingi Kakbah, menurut ketentuan-ketentuan syarak dalam rangka menunaikan ibadah haji atau umrah), rukuk dan sujud.

Perkataan “salat, rukuk dan sujud”,
merupakan isyarat bahwa Kakbah itu didirikan untuk umat Islam, Nabi Muhammad ﷺ, yang mana ibadat salat, rukuk dan sujud itu, merupakan ciri khas ibadat mereka dan ibadat itu dilakukan ^ dengan menghadap Kakbah.
Bahkan sujud itu tampak di kening kaum Muslimin dan sebagai tanda bagi mereka.
Hal ini disebut di dalam Taurat, sebagaimana

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka di dalam Taurat.

(Q.S.
Al Fath: 29)

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala telah melimpahkan karunia-Nya yang besar kepada kaum Muslimin, umat Muhammad, yang telah mempersiapkan pusat peribadatan mereka sejak lama sebelum diutus Rasul mereka yang membawa risalah Islamiyah.
Dengan perkataan yang lain dapat dikatakan bahwa pendirian Kakbah yang dilaksanakan Nabi lbrahim atas perintah Allah subhanahu wa ta’ala itu, merupakan persiapan penyampaian risalah Islamiyah.
Karena kemudian hari Kakbah itu dijadikan Allah sebagai kiblat salat kaum Muslimin dan tempat mereka mengerjakan ibadah haji dan umrah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sampaikanlah, wahai Muhammad, kepada orang-orang musyrik yang mengaku sebagai pengikut agama Ibrahim a.
s.
dan menjadikan al-Masjid al-Haram sebagai tempat berhala, sampaikan kepada mereka itu kisah perjalanan Ibrahim yang telah Kami tunjukkan tempatnya.
Setelah mendapatkan tempat itu, ia Kami perintahkan untuk membangunnya dan Kami katakan, “Janganlah kamu membuat sekutu apa pun terhadap-Ku dalam beribadah.
Bersihkan rumah-Ku ini dari berhala-berhala dan kotoran-kotoran agar siap untuk dipakai tawaf, dihuni dan dipakai sebagai tempat beribadah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Kami jelaskan) Kami terangkan (kepada Ibrahim tempat Baitullah) supaya ia membangunnya kembali karena Baitullah itu telah diangkat sejak zaman banjir besar yakni zamannya Nabi Nuh, kemudian Kami perintahkan kepada Ibrahim, (“Janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu pun dan sucikanlah rumah-Ku ini) dari berhala-berhala (bagi orang-orang yang tawaf dan orang-orang yang bermukim) yakni orang-orang yang tinggal di sekitarnya (dan orang-orang yang rukuk dan sujud”) Rukka’is-sujuud adalah bentuk jamak dari kata Raaki ‘iin dan Saajidin, maksudnya adalah orang-orang yang salat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah, wahai Nabi, ketika Kami jelaskan kepada Ibrahim tempat Baitullah, dan Kami menyiapkannya untuknya, sedangkan tempat itu belum diketahui.
Dan Kami memerintahkannya agar membangunnya berdasarkan ketakwaan kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, serta mensucikan rumah tersebut dari kekafiran,bid’ah dan najis; agar menjadi kelapangan bagi orang-orang yang berthawaf di sekelilingnya dan orang-orang yang mengerjakan shalat di sisinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam ayat ini, terkandung makna yang mengecam dan mencela orang-orang yang menyembah selain Allah dan mempersekutukan-Nya dengan yang lain dari kalangan Quraisy, yang justru hal itu dilakukan di negeri yang pada mulanya dibangun untuk tujuan mengesakan Allah dan menyembah-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Kemudian Allah menyebutkan bahwa Dia telah menempatkan Ibrahim di suatu tempat di Baitullah, yakni Allah memberinya petunjuk ke tempat itu dan me­nyerahkannya kepada dia serta mengizinkannya untuk membangun rumah di tempat tersebut.
Kebanyakan ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Ibrahim ‘alaihis salam adalah orang yang pertama membangun Baitul Atiq (Ka’bah), dan bahwa sebelum itu Ka’bah tidak ada yang membangunnya.

Disebutkan di dalam kitab sahih­nya melalui Abu Zar yang mengatakan bahwa:

ia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama dibangun?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Masjidil Haram.” Ia bertanya lagi, “Lalu masjid mana lagi?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Baitul Muqaddas.” Ia bertanya, “Berapakah jarak di antara keduanya?”
Rasulullah ﷺ menjawab.”Empat puluh tahun.”

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkati.
(Ali-Imran: 96), hingga akhir ayat berikutnya.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf i’tikaf, rukuk, dan yang sujud.” (Al Baqarah:125)

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan semua hadis dan asar yang sahih-sahih yang menceritakan tentang pembangunan Baitullah, sehingga dalam pembahasan ini tidak perlu diulangi lagi.

Dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku.

Yakni bangunlah Baitullah dengan menyebut nama-Ku semata.

dan sucikanlah rumah-Ku ini.

Qatadah dan Mujahid mengatakan, maksudnya yaitu menyucikannya dari segala kemusyrikan.

bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang rukuk, dan sujud.

Maksudnya, jadikanlah Baitullah ini khusus untuk mereka yang menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Orang yang bertawaf di Baitullah sudah dikenal dengan istilah Ta’if (tawaf) yang merupakan ibadah khusus hanya dilakukan di Baitullah, karena sesungguhnya ibadah seperti itu tidak boleh dilakukan di tempat yang lain kecuali di Baitullah.

Al-qa-imina, yakni orang-orang yang salat.

Ar-rukka’is sujud, orang-orang yang rukuk dan bersujud.

Penyebutan tawaf diiringi dengan penyebutan salat, karena kedua jenis ibadah ini tidaklah disyariatkan kecuali khusus di Baitullah, ibadah tawaf dilakukan di sekelilingnya, dan salat dilakukan dengan menghadap kepadanya dalam kebanyakan keadaan.
Terkecuali di kala salat dikerjakan dalam medan perang saat sulit untuk menghadap ke arah kiblat, juga dikecualikan dalam salat sunat di perjalanan (di atas kendaraan).


Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini “Al Hajj”,
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar·syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur’an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Ayat-ayat dalam Surah Al Hajj (78 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hajj (22) ayat 26 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 26 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 26 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hajj - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 78 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 22:26
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain-
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku'10 ruku'
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
4.8
Ratingmu: 4.6 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Al haj ayat 26 pengertian nya serta penjelasan ny ▪ maksut dari surat 26 qyat 22

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta