Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 25


اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ الَّذِیۡ جَعَلۡنٰہُ لِلنَّاسِ سَوَآءَۨ الۡعَاکِفُ فِیۡہِ وَ الۡبَادِ ؕ وَ مَنۡ یُّرِدۡ فِیۡہِ بِاِلۡحَادٍۭ بِظُلۡمٍ نُّذِقۡہُ مِنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ
Innal-ladziina kafaruu wayashudduuna ‘an sabiilillahi wal masjidil haraamil-ladzii ja’alnaahu li-nnaasi sawaa-al ‘aakifu fiihi wal baadi waman yurid fiihi biilhaadin bizhulmin nudziqhu min ‘adzaabin aliimin;

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.
―QS. 22:25
Topik ▪ Segala sesuatu milik Allah
22:25, 22 25, 22-25, Al Hajj 25, AlHajj 25, Al-Haj 25, Alhaj 25, Al Haj 25, Al-Hajj 25
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 25. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa semua orang yang mengingkari ke-Esaan dan kekuasaan Allah, mendustakan Rasul dan mengingkari agama yang dibawanya, menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan menegakkan kalimat Allah, menghalang-halangi kaum Muslimin masuk Masjidilharam untuk beribadat, baik orang-orang penduduk Mekah asli maupun datang dari negeri lain dan menghalang-halangi orang beribadat di dalamnya, niscaya Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat pedih.

Menurut riwayat Ibnu Abbas r.a.
ayat ini sesungguhnya diturunkan berhubungan dengan Abu Sofyan bin Harb dan kawan-kawannya.
Mereka itu menghalang-halangi Rasulullah ﷺ dan para sahabat memasuki Masjidilharam untuk melakukan ibadah umrah di tahun "perdamaian Hudaibiyah".
Karena itu Rasulullah ﷺ mengancam akan memerangi mereka jika mereka tetap menghalangi beliau dari mengerjakan umrah itu.
Waktu itu Rasulullah berada dalam keadaan ihram.
Kemudian terjadilah kesepakatan yang melahirkan perjanjian Hudaibiyah, yang di dalamnya tercantum bahwa Rasulullah tidak jadi umrah di tahun itu, akan tetapi ditangguhkan sampai tahun depan dan mereka tidak akan menghalangi masuk Masjidilharam mengerjakan ibadah, pada tahun yang akan datang itu.

Dari ayat di atas dipahamkan bahwa Masjidilharam adalah suatu daerah yang terletak di sekitar Kakbah.
Tempat tersebut adalah tempat kaum Muslimin mengerjakan ibadah haji, umrah serta ibadah-ibadah yang lain, seperti tawaf, salat, iktikaf, zikir, dan sebagainya baik mereka berasal dari Mekah sendiri maupun yang berasal dari negara-negara yang lain di luar negeri Mekah.
Dengan perkataan lain Bahwa semua kaum Muslimin berhak melakukan ibadah di tempat itu, dari manapun mereka datang.
Allah subhanahu wa ta'ala mengancam dengan azab yang keras orang-orang yang mencegah dan menghalang-halanginya.
Karena itu ada para ulama yang mempersoalkan kedudukan tanah yang berada di sekitar Masjidilharam itu, apakah tanah itu dapat dimiliki oleh perorangan atau pemerintah, atau tanah itu merupakan hak seluruh kaum Muslimin Untuk pengaturannya sekarang diserahkan kepada negara Arab Saudi, karena negara itulah yang paling dekat dengan Masjidilharam itu, selama negara tersebut melaksanakan perintah-perintah Allah.

Menurut Imam Mujahid dan Malik: Masjidilharam itu adalah milik kaum Muslimin seluruhnya, tidak seorangpun atau sesuatu negarapun yang boleh memilikinya.
Pendapat ini juga diikuti oleh Imam Abu Hanifah, alasan mereka ialah: perkataan baik "yang bermukim maupun yang berkunjung" berarti Masjidilharam dijadikan bagi manusia, agar mereka menghormatinya, beribadat padanya baik bagi orang-orang Mekah maupun orang-orang yang berasal dari luar Mekah.

Karena itu tiadalah dapat dikatakan bahwa penduduk Mekah lebih berhak atas Masjidilharam itu dari penduduk dari luar Mekah.

Alasan-alasan mereka yang lain ialah:

1.
Menurut riwayat, bahwa Umar, Ibnu Abbas dan Jemaah sahabat berpendapat: para pengunjung Masjidilharam boleh menempati rumah-rumah yang didapatinya kosong, belum berpenghuni di Mekah, dan orang-orang Mekah sendiri yang empunya rumah kosong itu, hendaklah mengizinkannya.

2.
Hadis Nabi Muhammad ﷺ:

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, "Berkata Rasulullah ﷺ "Mekah itu pemberian, tidak boleh dijual hasilnya dan tidak boleh disewakan rumahnya.
(H.R.
Daruqutni)

3.
Dan hadis Nabi ﷺ.
lagi:

Dari Aisyah ra.
ia berkata, "Ya Rasulullah, bolehkah aku buatkan untukmu rumah di Mina atau rumah yang dapat melindungi engkau dari terik panas matahari?
Beliau menjawab, "Tidak, sesungguhnya tanah itu adalah hadiah bagi orang yang lebih dahulu mendapatkannya"
(H.R.
Abu Daud)

4.
Menurut suatu riwayat: pada permulaan Islam, Masjidilharam tidak mempunyai pintu-pintu masuk, sehingga sampai pada suatu masa, yang pada waktu itu telah banyak pencuri berdatangan, lalu seorang laki-laki membuat pintu-pintu, tetapi Umar melarangnya dan berkata, "Apakah kamu menutup pintu-pintu orang-orang berhaji ke Baitullah?
Laki-laki itu menjawab : Aku membuat pintu-pintu untuk memelihara barang-barang pengunjung dari pencuri".
Karena itu Umar r.a.
membiarkannya.

Dalam pada itu Imam Syafii berpendapat bahwa tanah sekitar Masjidilharam itu boleh dimiliki dan diperjual-belikan, asal tidak menghalangi kaum Muslimin beribadat di sana.

Perbedaan pendapat ini berpangkal pada persoalan; Apakah Nabi Muhammad dan para sahabat menaklukkan Mekah dari orang-orang musyrik Mekah waktu fathu Mekah dengan cara kekerasan atau dengan cara damai?
Jika direbut dari tangan orang-orang musyrik dengan kekerasan, tentulah tanah sekitar Masjidilharam itu merupakan harta rampasan bagi kaum Muslimin yang harus dibagi-bagi sesuai dengan ketentuan agama.
Tetapi Rasulullah tidak membagi-baginya, sehingga tetaplah tanah itu merupakan milik bagi kaum Muslimin sampai saat ini.
hal yang seperti ini pernah pula dilakukan oleh Sayidina `Umar pada suatu daerah yang telah direbutnya dari orang-orang kafir.
Pendapat kedua menyatakan bahwa tanah Mekah itu direbut Nabi Muhammad ﷺ.
dengan cara damai, karena itu ia bukan merupakan barang rampasan, dan tetap menjadi milik empunya waktu itu.
Kemudian diwariskan atau dijual oleh pemiliknya yang dahulu, sehingga menjadi milik dari yang empunya pada saat ini.

Sekalipun ada perbedaan pendapat yang demikian, namun para ulama sependapat bahwa Masjidilharam merupakan tempat beribadat bagi seluruh kaum Muslimin di manapun mereka berada.
Mereka boleh datang kapan saja mereka kehendaki, tanpa seorangpun yang boleh mengganggu dan menghalanginya.
Jika berlawanan kepentingan pribadi atau golongan dengan kepentingan agama Islam, maka kepentingan agama Islam yang harus diutamakan dun diprioritaskan.
Tentu saja kaum Muslimin yang telah bermukim dan menjadi penduduk Mekah itu berhak dan boIeh mencari nafkah dari hasil usaha mereka melayani dan mengurus jemaah haji yang datang dari segenap penjuru dunia Sekalipun demikian, usaha mengurus dan melayani jemaah haji itu, tidak boleh dikomersilkan, semata-mata dilakukan untuk mencari keuntungan yang besar.

Al Hajj (22) ayat 25 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 25 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 25 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang mengingkari Allah dan utusan-utusan-Nya serta selalu menghalangi manusia untuk memeluk Islam dan menghalangi orang-orang Mukmin untuk memasuki al-Masjid al-Haram di Mekah--sedang Allah telah menjadikannya haram dan aman bagi semua orang, baik penduduk tetap maupun yang hanya berkunjung--akan dibalas oleh Allah dengan azab yang kejam.
Begitu juga setiap orang yang menyeleweng dari kebenaran dan berbuat zalim di kawasan haram, ia akan disiksa oleh Allah dengan azab yang menyakitkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah) dari ketaatan kepada-Nya (dan) dari (Masjidilharam yang telah Kami jadikan ia) sebagai manasik dan tempat beribadah (untuk semua manusia, baik yang bermukim) yang tinggal (di situ maupun di padang pasir) yakni pendatang (dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan) huruf Ba di sini adalah Zaidah (secara zalim) yang menyebabkan orang yang bersangkutan zalim, seumpamanya ia mengerjakan perbuatan yang terlarang, sekalipun dalam bentuk mencaci pelayan (niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih)" yang menyakitkan.
Berdasarkan pengertian ini maka Khabar Inna diambil daripadanya.
Maksudnya, sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan dari Masjidilharam, niscaya Kami akan rasakan kepada mereka sebagian siksa yang pedih.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan mendustakan ajaran yang di bawa oleh Muhammad, menghalangi orang lain masuk ke dalam agama Allah, dan menghalangi Rasulullah dan kaum Mukmin dalam peristiwa Hudaibiyah memasuki Masjidil Haram, yang Kami menjadikannya untuk semua orang Mukmin, baik yang bermukim di sana maupun yang dating ke sana, maka mereka akan mendapatkan adzab yang pedih lagi menyakitkan.
Barangsiapa yang bermaksud, di Masjidil Haram, menyimpang dari kebenaran secara zhalim, lalu bermaksiat kepada Allah di sana, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, memprotes perbuatan orang-orang kafir yang menghalang-halangi orang-orang mukmin untuk mendatangi Masjidil Haram guna menunaikan manasik mereka di dalamnya, juga memprotes pengakuan mereka yang mengklaim bahwa mereka adalah para penguasa Masjidil Haram.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya.
Orang-orang yang berhak menguasainya) hanyalah orang-orang yang bertakwa.
(Al Anfaal:34), hingga akhir ayat.

Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa ayat yang sedang kita bahas adalah ayat Madaniyyah, sama halnya seperti yang disebutkan di dalam surat Al-Baqarah oleh firman-Nya:

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram.
Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah.
(Al Baqarah:217)

Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram.

Yakni ciri khas orang-orang kafir itu di samping mereka adalah kafir, juga menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan menghalang-halangi mereka untuk sampai ke Masjidil Haram.
Yaitu menghalang-halangi kaum mukmin yang hendak menuju ke Masjidil Haram, padahal mereka adalah orang-orang yang paling berhak terhadap Masjidil Haram.
Ungkapan tertib dalam ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain oleh firman-Nya:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
(Ar Ra'du:28)

Artinya, ciri khas orang-orang yang beriman itu ialah hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.

Yakni orang-orang kafir itu menghalang-halangi orang-orang yang beriman untuk dapat sampai ke Masjidil Haram, padahal Allah telah menjadikannya sebagai tempat ibadah bagi semua manusia, tanpa ada beda, baik yang bermukim di situ maupun yang datang jauh dari luar.

sama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.

Karena itulah maka manusia mempunyai hak yang sama terhadap kawasan Mekah dan untuk tinggal di dalamnya.

seperti yang telah diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: sama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.
(Al Hajj:25) Bahwa penduduk Mekah dan selain mereka dapat tinggal di sekitar Masjidil Haram.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.
(Al Hajj:25) Bahwa penduduk asli Mekah dan selain mereka mempunyai hak yang sama untuk bertempat tinggal di Mekah.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Saleh, Abdur Rahman ibnu Sabit, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah, bahwa sama saja haknya bagi penduduk asli Mekah maupun selain mereka dalam bertempat tinggal di Mekah.

Masalah inilah yang diperselisihkan oleh Imam Syafii dan Ishaq ibnu Rahawaih di Masjid Khaif, saat itu Imam Ahmad ibnu Hambal hadir pula.
Imam Syafii berpendapat bahwa tanah kawasan Mekah boleh dimiliki, diwariskan, dan disewakan.

Imam Syafii mengatakan pendapat ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Az-Zuhri, dari Ali ibnul Hasan, dari Amr ibnu Usman, dari Usamah ibnu Zaid yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, apakah engkau besok akan turun di rumahmu di Mekah?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Apakah Uqail telah meninggalkan sebidang tanah bagi kami (untuk tempat tinggal)?"
Kemudian beliau ﷺ bersabda:

Orang kafir tidak boleh mewarisi orang muslim, dan tidak pula orang muslim mewarisi orang kafir.

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain.

Juga dengan sebuah asar yang telah menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab pernah membeli sebuah rumah di Mekah dari Safwan ibnu Umayyah dengan harga empat ribu dirham, lalu Khalifah Umar menjadikannya sebagai rumah tahanan.

Tawus dan Amr ibnu Dinar mengatakan, Ishaq ibnu Rahawaih berpendapat bahwa tanah Mekah tidak dapat diwariskan dan tidak boleh disewakan.
Pendapat inilah yang dianut oleh mazhab segolongan ulama Salaf, dan dinaskan oleh Mujahid serta Ata.
Ishaq ibnu Rahawaih melandasi pendapatnya dengan sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Isa ibnu Yunus, dari Umar ibnu Sa'id ibnu Abu Haiwah, dari Usman ibnu Abu Sulaiman, dari Alqamah ibnu Nadlah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ wafat, begitu pula Abu Bakar dan Umar, sedangkan kawasan Mekah tiada seorang pun mengklaim memilikinya, melainkan semuanya adalah tanah sawaib (milik Allah).
Barang siapa yang miskin, boleh tinggal padanya, dan barang siapa yang kaya, boleh memberikan tempat tinggal.

Abdur Razzaq ibnu Mujahid telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa rumah-rumah di Mekah tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh pula disewakan.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan pula dari Ibnu Juraij, bahwa Ata melarang menyewakan tanah Mekah.
Ibnu Juraij telah menceritakan pula kepadanya bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab melarang pembuatan pintu di rumah-rumah di Mekah agar para jamaah haji dapat tinggal di halaman-halamannya.
Orang yang mula-mula membuat pintu pada rumahnya adalah Suhail ibnu Amr.
Maka Umar ibnul Khattab mengirimkan utusan kepadanya guna menyelesaikan perkara tersebut.
Maka Suhail ibnu Amr menjawab, "Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya saya adalah seorang pedagang, maka saya bermaksud membuat dua buah pintu guna memelihara barang dagangan saya." Maka Khalifah Umar berkata, "Kalau demikian, kamu boleh melakukannya."

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Mansur,dari Mujahid, bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab pernah berkata, "Hai ahli Mekah, janganlah kalian buat pintu-pintu di rumah-rumah kalian agar orang yang datang dari jauh dapat tinggal di mana pun ia suka."

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari seseorang yang mendengarnya dari Ata sehubungan dengan makna firman-Nya: sama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.
(Al Hajj:25) Bahwa mereka boleh tinggal di mana pun mereka suka di Mekah.

Imam Daruqutni telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Abu Nujaih, dari Abdullah ibnu Amr secara mauquf.
Barang siapa yang memakan dari hasil sewa rumah Mekah, berarti dia memakan api."

Imam Ahmad ber­pendapat pertengahan, untuk itu ia mengatakan bahwa tanah Mekah boleh dimiliki, tetapi tidak boleh diwariskan dan tidak boleh disewakan.
Pen­dapatnya ini merupakan kesimpulan gabungan dari dalil-dalil yang ada mengenai masalah ini.
Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.
(Al Hajj:25)

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa perbuatan tersebut ditujukan kepada orang Arab.
Huruf ba dalam ayat ini adalah zaidah, sama halnya dengan huruf ba yang ada dalam firman-Nya:

yang menghasilkan minyak.
((Al Mu'minun:20)

Artinya adalah tanbutud duhna (menghasilkan minyak).
Begitu pula makna firman-Nya:

dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan.
(Al Hajj:25)

Artinya adalah man yurid fihi ilhadan, yakni barang siapa yang bermaksud melakukan kejahatan di dalamnya.
Sama pula dengan apa yaag terdapat di dalam perkataan seorang penyair, yaitu Al-Asya:

Tombak-tombak kami yang ada di antara panci-panci dan wadah-wadah kosong menjadi sarana yang menjamin rezeki anak-anak kami.

Dan ucapan seorang penyair lainnya, yaitu:

Di Lembah Yaman di Markh dan Syabhan tumbuhlah rerumputan di bagian tengah dan bagian bawahnya.

Akan tetapi, pendapat yang terbaik ialah yang mengatakan bahwa kata kerja yurid dalam ayat ini mengandung makna yuhimmu.
Karena itulah maka diperlukan adanya huruf ba sebagai ta'diyah:

dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan.
(Al Hajj:25)

Yakni berniat hendak melakukan suatu perbuatan maksiat yang besar di dalamnya.

Firman-Nya:

secara zalim.
(Al Hajj:25)

Yaitu melakukannya dengan sengaja dan sadar bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan zalim, tidak mengandung arti lain.
Demikianlah menurut penafsiran Ibnu Juraij, dari Ibnu Abbas, pendapat ini dapat dijadikan sebagai pegangan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan zalim di sini adalah perbuatan musyrik.

Mujahid mengatakan, maksudnya bila disembah di dalamnya selain Allah.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa perbuatan zalim ini ialah bila kamu melanggar kesucian tanah haram dengan melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah kamu melakukannya, seperti perbuatan menyakiti orang lain atau membunuh.
Dengan kata lain, kamu menganiaya orang yang tidak menganiaya kamu dan membunuh orang yang tidak bermaksud membunuhmu.
Apabila seseorang melakukan hal tersebut, pastilah baginya azab yang pedih.

Mujahid mengatakan bahwa zalim di sini maksudnya perbuatan yang buruk atau jahat akan ia lakukan di tanah suci.
Ini merupakan salah satu dari kekhususan tanah suci, yaitu bahwa seorang yang jauh akan dihukum dengan keburukan oleh Allah bilamana ia berniat akan melakukannya di tanah suci, sekalipun ia masih belum melakukannya.

Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari As-Saddi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar seseorang menceritakan hadis dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firman-Nya: dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim.
(Al Hajj:25) Bahwa seandainya ada seorang lelaki berniat akan melakukan suatu kejahatan secara zalim di dalamnya, sedangkan ia masih berada di negeri 'Adn yang jauh, tentulah Allah akan merasakan kepadanya sebagian dari azab-Nya yang pedih.

Syu'bah mengatakan, "As-Saddi-lah orang yang me-rafa'-kannya bagi kami, dan saya tidak me-rafa'-kannya bagi kalian."

Syu'bah bermaksud bahwa dia pun ikut terlibat dalam me-rafa-kan hadis ini.
Ahmad telah meriwayatkannya dari Yazid ibnu Harun dengan sanad yang sama.

Menurut saya, sanad hadis ini berpredikat sahih dengan syarat Imam Bukhari, tetapi predikat mauquf-nya lebih mendekati kebenaran daripada predikat marfu'-nya.
Karena itulah maka Syu'bah meyakinkan akan ke-mauquf-annya hanya sampai pada perkataan sahabat Ibnu Mas'ud r.a.

Demikian pula Asbat dan As-Sauri telah meriwayatkannya dari As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud secara mauquf hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

As-Sauri telah meriwayatkan dari As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa tiada seorang lelaki pun yang berniat akan melakukan suatu perbuatan jahat (di tanah suci), melainkan dicatatkan baginya niat jahatnya itu.
Dan seandainya seorang lelaki yang berada jauh di negeri 'Adn berniat akan membunuh seseorang di tanah suci ini, tentulah Allah akan merasakan terhadapnya sebagian dari azab-Nya yang pedih.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna bi-ilhadin fihi.
Ia mengatakan bahwa maknanya adalah ilhadin fihi.
Pada mulanya ia menolak, kemudian mengiyakan (yakni huruf ba-nya dapat dikatakan sebagai ba zaidah atau ba ta'diyah, pent.)

Telah diriwayatkan dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr hal yang semisal dengan riwayat di atas.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa mencaci pelayan adalah perbuatan zalim, terlebih lagi yang lebih parah dari itu.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Ata, dari Maimun ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara aniaya.
(Al Hajj:25) Bahwa termasuk perbuatan zalim ialah seorang amir melakukan perniagaan di tanah suci.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa memperjualbelikan makanan di tanah suci merupakan perbuatan ilhad (jahat).

Habib ibnu Abu Sabit telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara aniaya.
(Al Hajj:25) Makna yang dimaksud ialah melakukan penimbunan di Mekah.
Hal yang sama telah dikatakan oleh bukan hanya seorang.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ishaq Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, dari Ja'far ibnu Yahya, dari pamannya (Imarah ibnu Sauban), telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Bazan, dari Ya'la ibnu Umayyah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Melakukan penimbunan makanan di Mekah merupakan perbuatan jahat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Ata ibnu Dinar, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara aniaya.
(Al Hajj:25) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Unais.
Rasulullah ﷺ mengutusnya bersama dua orang lelaki, yang salah seorangnya dari kalangan Muhajirin, sedangkan yang lainnya dari kalangan Ansar.
Kemudian di tengah jalan mereka saling membanggakan diri dengan keturunannya masing-masing.
Abdullah ibnu Unais naik pitam, akhirnya ia membunuh orang Ansar tersebut.
Kemudian ia murtad dari Islam dan lari ke Mekah (menggabungkan diri dengan orang-orang musyrik).
Lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim.
(Al Hajj:25) Yakni barang siapa yang datang ke tanah suci dengan niat berbuat jahat.
Yang dimaksud ialah menyimpang dari ajaran Islam (alias kafir).

Semua asar yang telah disebutkan di atas —sekalipun pengertiannya menunjukkan bahwa hal-hal tersebut termasuk perbuatan ilhad (jahat)— tetapi makna yang dimaksud lebih mencakup dari semuanya, bahkan di dalam pengertiannya terkandung peringatan terhadap perbuatan yang lebih parah daripada hanya sekadar perbuatan ilhad.
Karena itulah di saat tentara bergajah bermaksud merobohkan Ka'bah, mereka diazab oleh Allah.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
(Al-Fil: 3-5)

Yakni Allah menghancurkan mereka dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran dan peringatan terhadap setiap orang yang berniat akan melakukan perbuatan jahat terhadap Baitullah.
Karena itulah telah di­sebutkan di dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Kelak Baitullah ini akan diserang oleh suatu tentara, hingga manakala mereka berada di tengah padang sahara, maka barisan yang terdepan dan barisan terbelakang dari mereka semuanya dibenamkan ke dalam bumi.

Hadis ini menceritakan kejadian yang akan terjadi menjelang hari kiamat nanti.
Orang-orang tersebut dikenal dengan sebutan Zus Suwaiqatain (pent).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kanasah, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sa'id, dari ayahnya yang mengatakan, bahwa Abdullah ibnu Umar datang menemui Abdullah Ibnuz Zubair, lalu ia bertanya, "Hai Ibnuz Zubair, jangan sekali-kali kamu berbuat ilhad di tanah suci Allah ini, karena sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya kelak akan berbuat ilhad seseorang lelaki dari kalangan Quraisy di Masjidil Haram ini, seandainya dosa-dosanya ditimbang dengan dosa-dosa dua makhluk (jin dan manusia), tentulah dosanya lebih berat.' Maka berhati-hatilah, janganlah sampai dia itu adalah kamu."

Imam Ahmad telah mengatakan pula di dalam Musnad Abdullah ibnu Amr ibnul As,

bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Amr yang mengatakan, bahwa Abdullah ibnu Umar datang kepada Abdullah ibnuz Zubair yang saat itu sedang duduk di Hijir Isma'il.
Lalu Ibnu Umar berkata, "Hai Ibnuz Zubair, hati-hatilah terhadap perbuatan ilhad di tanah suci, karena sesungguhnya aku bersumpah bahwa aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Bahwa kelak tanah suci ini akan dihalalkan oleh seorang lelaki dari kalangan Quraisy, seandainya dosa-dosa dia ditimbang dengan dosa-dosa dua makhluk (jin dan manusia), tentulah sebanding'." Kemudian Abdullah ibnu Umar berkata, "Maka perhatikanlah, janganlah sampai dia adalah kamu."

Akan tetapi, tiada seorang pun dari pemilik kitab hadis yang mengetengahkannya dari kedua jalur periwayatan ini.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 25

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus ‘Abdullah bin Anis beserta dua orang lainnya, yang seorang Muhajirin dan seorang lagi Anshar.
Dalam perjalanan, mereka saling membanggakan keturunan masing-masing, sehingga ‘Abdullah bin Anis marah dan membunuh orang Anshar tersebut.
Kemudian ia murtad dari agama Islam dan lari ke Mekah.
Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 25) sebagai celaan terhadap perbuatan seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 25 *beta

Surah Al Hajj Ayat 25



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (9 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku