QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 15 [QS. 22:15]

مَنۡ کَانَ یَظُنُّ اَنۡ لَّنۡ یَّنۡصُرَہُ اللّٰہُ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ فَلۡیَمۡدُدۡ بِسَبَبٍ اِلَی السَّمَآءِ ثُمَّ لۡیَقۡطَعۡ فَلۡیَنۡظُرۡ ہَلۡ یُذۡہِبَنَّ کَیۡدُہٗ مَا یَغِیۡظُ
Man kaana yazhunnu an lan yanshurahullahu fiiddunyaa wal-aakhirati falyamdud bisababin ilassamaa-i tsumma lyaqtha’ falyanzhur hal yudzhibanna kaiduhu maa yaghiizh(u);

Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.
―QS. 22:15
Topik ▪ Iman ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin ▪ Allah menepati janji
22:15, 22 15, 22-15, Al Hajj 15, AlHajj 15, Al-Haj 15, Alhaj 15, Al Haj 15, Al-Hajj 15

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 15

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 15. Oleh Kementrian Agama RI

Para mufassir berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini.
Menurut Abu Jakfar An Nahhas tafsir ayat ini yang paling baik ialah: “Barang siapa yang berpendapat bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad di dunia dan di akhirat atau ingin menghentikan pertolongan Allah yang akan diberikan-Nya itu, maka hendaklah ia naik ke langit dan berusahalah di sana menghentikan pertolongan itu.
Hendaklah mereka lihat, apakah usaha itu berhasil atau tidak Dan usaha yang seperti itupun mustahil dapat dilakukannya.
Zamakhsyari menafsirkan: Allah subhanahu wa ta’ala pasti menolong Rasul-Nya di dunia dan di akhirat.
Jika musuh-musuh Muhammad mengira bahwa Allah tidak akan menolongnya atau bermaksud tidak akan menolongnya, sedang mereka mengetahui jaminan Allah terhadap pertolongan-Nya itu, tentulah mereka menjadi gusar.
Karena itu hendaklah mereka berusaha dengan segala kemampuannya yang ada untuk menghilangkan kegusarannya itu, yaitu mengerjakan apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang gusar, seperti menggantung diri.

Kemudian hendaklah dia memperhatikan apakah tindakannya dengan menggantung diri itu dapat menghentikan pertolongan Allah kepada Muhammad atau tidak.

Sebagian ahli tafsir menafsirkan: Barang siapa yang berpendapat bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad, maka hendaklah ia merentangkan tali ke loteng rumahnya, kemudian ia mencekek lehernya dengan tali itu.
Mereka akan mengetahui bahwa segala usaha dan tipu daya mereka itu akan gagal dan tidak berfaedah sedikitpun.

Sekalipun para mufassir berbeda pendapat tentang tafsir ayat di atas namun hanya mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan secara harfiah saja, sedang maksud yang terdapat dalam penafsiran itu adalah sama dan tidak menyimpang dari maksud ayat yang sebenarnya, yaitu: seandainya orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad tidak merasa senang akan kemajuan Islam dan kaum Muslimin maka mereka dapat naik ke langit dan dapat melihat keadaan di sana, tentu ia akan mengetahui bahwa kemajuan agama Islam yang tidak disenangi itu tidak dapat dihalang-halangi sedikitpun.

Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa dengan berkembangnya agama Islam dalam waktu yang singkat di kota Mekah, dan semakin banyak penganutnya maka timbullah usaha di kalangan orang-orang musyrik Mekah untuk menghambat perkembangan atau melenyapkan agama Islam itu.
Segala macam usaha untuk mencapai maksud itu, mereka lakukan seperti memutuskan hubungan, mengadakan pemboikotan, mengadakan penganiayaan terhadap orang-orang yang masuk Islam, terutama terhadap budak-budak yang masuk Islam, sehingga kaum Muslimin merasa teraniaya dan tersiksa.
Dalam pada itu orang-orang musyrik sendiri menyatakan bahwa Allah tidak akan menolong
Muhammad dan kaum Muslimin, karena agama yang dibawanya itu bukanlah agama yang diridai Allah.
Dalam keadaan yang demikian turunlah ayat ini memberikan semangat dan harapan kepada kaum Muslimin.
Timbullah keyakinan dalam diri mereka bahwa agama yang telah mereka anut adalah agama yang benar, karena itu mereka wajib melanjutkan untuk menyebarkannya, dan Tuhan pasti akan menolong usaha mereka itu.

Menurut Muqatil, ayat ini diturunkan berhubungan Bani Asad dan Bani Gatfan yang telah masuk Islam, mereka berkata: “Kita khawatir bahwa Allah tidak menolong Muhammad, lalu terputuslah hubungan kita dengan pemimpin-pemimpin kita (pemimpin-pemimpin Yahudi), maka mereka tidak akan memberi makan kita lagi.
Dengan turunnya ayat ini, maka hilanglah segala kekhawatiran mereka yang timbul dalam hati mereka itu.

Dari ayat di atas dipahamkan bahwa musuh-musuh Islam tidak mempunyai daya sedikitpun untuk mematahkan perjuangan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dalam usaha menyebar luaskan agama Islam karena mereka selalu mendapat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan di akhirat nanti.
Pertolongan Allah ini ditegaskan pada ayat yang lain:

Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 51)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang kafir yang mengira bahwa Allah tidak akan menolong Nabi-Nya, hendaknya menggantung tali di atas rumahnya dan memakainya untuk menggantung diri, kemudian memikirkan apakah perbuatannya itu dapat menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya karena Allah telah menolong rasul-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya) menolong Nabi Muhammad ﷺ (di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali) tambang (ke langit) yang dimaksud adalah atap rumahnya, kemudian tali itu diikatkan ke atap rumah dan ke lehernya (kemudian hendaklah ia memutuskan tali itu) yakni mencekik dirinya dengan tali itu, maksudnya menggantung diri.

Demikianlah sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis sahih (kemudian hendaklah ia pikirkan, apakah tipu dayanya itu sungguh dapat melenyapkan) dalam hal tidak ditolongnya nabi (apa yang menyakitkan hatinya) apa yang membuat ia sakit hati.

Maksudnya, hendaklah ia tercekik oleh kejengkelannya, karena sesungguhnya Allah pasti akan menolong nabi-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah tidak akan mendukung Rasul-Nya Muhammad, dengan pertolongan di dunia dengan memenangkan agamanya, dan di akhirat dengan meninggikan derajatnya, serta mengadzab orang-orang yang mendustakannya, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit-langit rumahnya dan mencekik dirinya dengan tali itu, lalu hendaklah ia memutuskan tali itu, kemudian hendaklah ia memperhatikan :
Apakah hal itu dapat menghilangkan kemarahan yang dirasakannya dalam dirinya??
Karena Allah sudah pasti akan menolong Nabi-Nya, Muhammad

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas mengatakan bahwa barang siapa yang menduga bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad ﷺ di dunia dan akhirat.

maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit.
Yakni langit-langit rumahnya.

kemudian hendaklah ia melaluinya.
Yaitu menggantung dirinya dengan tali itu.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Ata, Abul Jauza, Qatadah, dan lain-lainnya.

Tetapi Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit.
Yakni untuk ia jadikan sebagai sarana mencapai langit, karena sesungguhnya pertolongan itu datang kepada Muhammad hanyalah dari langit.

kemudian hendaklah ia melaluinya.
Yaitu untuk mengecek kebenaran hal tersebut, jika ia mampu naik ke langit.

Tetapi pendapat Ibnu Abbas dan murid-muridnya lebih utama dan lebih jelas penunjukan maknanya serta lebih tepat dalam memberikan pengertian ejekan.
Karena sesungguhnya makna yang dimaksud ialah barang siapa yang menduga bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad, kitab-Nya, dan agama-Nya, hendaklah ia pergi bunuh diri, jika pertolongan Allah kepada Nabi-Nya membuatnya sakit hati.
Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan menolongnya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).
(Q.S. Al-Mu’min [40]: 51)

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.

As-Saddi mengatakan bahwa yang menyakitkan hati orang itu adalah perihal Nabi Muhammad ﷺ

Ata Al-Khurrasani mengatakan, hendaklah orang itu merasakan sendiri, apakah upayanya itu dapat menyembuhkan sakit hatinya,


Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini “Al Hajj”,
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar·syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur’an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Ayat-ayat dalam Surah Al Hajj (78 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hajj (22) ayat 15 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 15 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hajj (22) ayat 15 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hajj - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 78 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 22:15
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain-
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku'10 ruku'
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
4.9
Ratingmu: 4.3 (13 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta