Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Hajj (Haji) - surah 22 ayat 11 [QS. 22:11]

وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّعۡبُدُ اللّٰہَ عَلٰی حَرۡفٍ ۚ فَاِنۡ اَصَابَہٗ خَیۡرُۨ اطۡمَاَنَّ بِہٖ ۚ وَ اِنۡ اَصَابَتۡہُ فِتۡنَۃُۨ انۡقَلَبَ عَلٰی وَجۡہِہٖ ۟ۚ خَسِرَ الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃَ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡخُسۡرَانُ الۡمُبِیۡنُ
Waminannaasi man ya’budullaha ‘ala harfin fa-in ashaabahu khairun athmaanna bihi wa-in ashaabathu fitnatun anqalaba ‘ala wajhihi khasiraddunyaa wal-aakhirata dzalika huwal khusraanul mubiin(u);
Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi;
maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang.
Dia rugi di dunia dan di akhirat.
Itulah kerugian yang nyata.
―QS. Al Hajj [22]: 11

Daftar isi

And of the people is he who worships Allah on an edge.
If he is touched by good, he is reassured by it;
but if he is struck by trial, he turns on his face (to the other direction).
He has lost (this) world and the Hereafter.
That is what is the manifest loss.
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 11]

وَمِنَ dan diantara

And among
ٱلنَّاسِ manusia

the mankind
مَن orang

(is he) who
يَعْبُدُ ia menyembah

worships
ٱللَّهَ Allah

Allah
عَلَىٰ atas

on
حَرْفٍ tepi

an edge.
فَإِنْ maka jika

And if
أَصَابَهُۥ menimpanya/memperoleh

befalls him
خَيْرٌ kebaikan

good,
ٱطْمَأَنَّ tenteramlah ia

he is content
بِهِۦ dengannya

with it,
وَإِنْ dan jika

and if
أَصَابَتْهُ menimpanya

befalls him
فِتْنَةٌ fitnah/bencana

a trial
ٱنقَلَبَ berbaliklah ia

he turns
عَلَىٰ atas

on
وَجْهِهِۦ mukanya

his face.
خَسِرَ rugilah ia

He has lost
ٱلدُّنْيَا di dunia

the world
وَٱلْءَاخِرَةَ dan akhirat

and the Hereafter.
ذَٰلِكَ demikian itu

That
هُوَ ia/itulah

[it]
ٱلْخُسْرَانُ kerugian

(is) the loss
ٱلْمُبِينُ yang nyata

clear.

Tafsir Quran

Surah Al Hajj
22:11

Tafsir QS. Al-Hajj (22) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa ada pula sebagian manusia yang menyatakan beriman dan menyembah Allah dalam keadaan bimbang dan ragu-ragu;
mereka berada dalam kekhawatiran dan kecemasan;
apakah agama Islam yang telah mereka anut itu benar-benar dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.
Mereka seperti keadaan orang yang ikut pergi perang, sedang hati mereka ragu-ragu untuk ikut itu.

Jika nampak bagi mereka tanda-tanda pasukan mereka akan memperoleh kemenangan dan akan memeroleh harta rampasan yang banyak, maka mereka melakukan tugas dengan bersungguh-sungguh, seperti orang-orang yang benar-benar beriman.
Sebaliknya jika nampak bagi mereka tanda-tanda bahwa pasukannya akan menderita kekalahan dan musuh akan menang, mereka cepat-cepat menghindarkan diri, bahkan kalau ada kesempatan mereka berusaha untuk menggabungkan diri dengan pihak musuh.

Keadaan mereka itu dilukiskan Allah dalam ayat ini.
Jika mereka memperoleh kebahagiaan hidup, rezeki yang banyak, kekuasaan atau kedudukan, mereka gembira memeluk agama Islam, mereka beribadat sekhusyu-khusyunya, mengerjakan perbuatan baik dan sebagainya.

Tetapi jika mereka memperoleh kesengsaraan, kesusahan hidup, cobaan atau musibah, mereka menyatakan bahwa semuanya itu mereka alami karena mereka menganut agama Islam.
Mereka masuk Islam bukanlah karena keyakinan bahwa agama Islam itulah satu-satunya agama yang benar, agama yang diridai Allah, tetapi mereka masuk Islam dengan maksud mencari kebahagiaan duniawi, mencari harta yang banyak, mencari pangkat dan kedudukan atau untuk memperoleh kekuasaan yang besar.

Karena itulah mereka kembali menjadi kafir, jika tujuan yang mereka inginkan itu tidak tercapai.
Pada ayat-ayat yang lain Allah menerangkan perilaku mereka:

ۨالَّذِيْنَ يَتَرَبَّصُوْنَ بِكُمْ فَاِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللّٰهِ قَالُوْٓا اَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْ وَاِنْ كَانَ لِلْكٰفِرِيْنَ نَصِيْبٌ قَالُوْٓا اَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

(yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu.

Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata,
"Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?"
Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata,
"Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin?"
Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari Kiamat.
Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.
(An-Nisa’ [4]: 141)

Tujuan mereka melakukan tindakan-tindakan yang demikian itu dijelaskan Allah dengan ayat berikut:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًا

Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka.
Apabila mereka berdiri untuk salat mereka lakukan dengan malas.
Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia.
Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.
(An-Nisa’ [4]: 142)

Kemudian Allah menerangkan bahwa orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang telah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri baik di dunia, apalagi di akhirat.
Akibatnya di dunia mereka mendapat bencana, kesengsaraan dan penderitaan lahir dan batin, dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh siksa yang amat berat dengan dimasukkan ke dalam api neraka.
Karena ketidaksabaran dan tidak tabah itu mereka akan memperoleh kerugian yang besar dan menimbulkan penyesalan selama-lamanya.

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 11. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ada kelompok ketiga, yaitu orang yang belum kuat imannya.
Keyakinannya masih goncang dan dikuasai oleh maslahat-maslahat pribadi.


Orang seperti ini, apabila mendapatkan kebaikan, akan merasa tenang dan bahagia.
Sebaliknya, apabila dirinya, hartanya atau anaknya ditimpa kesulitan, akan kembali kepada kekafiran.


Dengan begitu, orang ini di dunia akan merugi karena telah kehilangan nyamannya keyakinan kepada ketentuan Allah.
Di akhirat pun ia akan merugi karena tidak mendapatkan pahala yang telah dijanjikan Allah kepada orang-orang Mukmin yang sabar dan kokoh imannya.


Kerugian ganda itu adalah kerugian yang sebenarnya dan nyata.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Di antara manusia ada yang masuk ke dalam Islam dalam keadaan lemah dan ragu-ragu, lalu ia menyembah Allah dengan penuh kebimbangan, seperti orang yang berdiri di tepi gunung atau tembok dengan tanpa berpegangan, dan ia mengikat keimanannnya dengan urusan dunianya.
Jika ia hidup dalam kondisi sehat dan lapang, maka ia meneruskan ibadahnya.


Sebaliknya, jika ia mendapat ujian dengan suatu yang tidak menyenangkan dan kesusahan, maka ia menisbatkan keburukan hal itu kepada agamanya.
Lalu ia berbalik darinya, seperti orang yang membalikkan wajahnya, setelah sebelumnya bersikap istiqomah.


Dengan demikian, ia merugi di dunia;
karena kekafirannya tetap tidak akan merubah apa yang telah ditetapkan untuknya, dan ia juga merugi diakhirat dengan masuk ke dalam neraka.
Itu adalah kerugian yang jelas lagi nyata.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi) ia ragu di dalam ibadahnya itu.
Keadaannya diserupakan dengan seseorang yang berada di tepi bukit, yakni ia tidak dapat berdiri dengan tetap dan mantap


(maka jika ia memperoleh kebaikan) maksudnya kesehatan dan kesejahteraan pada diri dan harta bendanya


(tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana) cobaan pada hartanya dan penyakit pada dirinya


(berbaliklah ia ke belakang) ia kembali menjadi kafir.


(Rugilah ia di dunia) disebabkan terlepasnya semua apa yang ia harapkan dari dunia


(dan di akhirat) disebabkan kekafirannya itu.


(Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata) jelas ruginya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mujahid dan Qatadah serta lain-lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dengan berada di tepi.
Yakni berada dalam keraguan.


Yang lainnya selain mereka mengatakan berada di tepi, seperti di tepi sebuah bukit.


Dengan kata lain, ia masuk Islam dengan hati yang tidak sepenuhnya, jika menjumpai hal yang disukainya, ia tetap berada dalam Islam, dan jika tidak, maka ia kembali kafir.


Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Bukair, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abul Husain, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi.
Dahulu seorang lelaki datang ke Madinah.
Jika istrinya melahirkan bayi laki-laki serta kudanya beranak pula, maka ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang baik (membawa keberuntungan).
Tetapi jika istrinya tidak melahirkan serta kudanya tidak melahirkan juga, maka ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang buruk (pembawa kesialan).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari Asy’as ibnu Ishaq Al-Qummi, dari Ja’far ibnu Abul Mugirah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu ada segolongan orang Badui datang kepada Nabi ﷺ lalu masuk Islam.
Bila mereka telah kembali ke kampung halaman mereka, lalu mereka menjumpai musim hujan dan musim subur serta musim melahirkan anak yang banyak, maka mereka berkata,
"Sesungguhnya agama kita adalah agama yang baik,"
maka mereka berpegangan kepadanya.
Tetapi bila mereka menjumpai tahun kekeringan dan paceklik serta jarang adanya kelahiran, maka mereka berkata,
"Tiada suatu kebaikan pun pada agama kita ini."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kepada Nabi-Nya ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu., hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa seseorang dari mereka apabila tiba di Madinah yang terletak tidakjauh dari tempat tinggal mereka, maka jika tubuhnya sehat selama di Madinah dan Kudanya melahirkan anak serta istrinya beranak laki-laki, ia puas dan tenang terhadap agama Islam yang baru dipeluknya, lalu ia mengatakan bahwa sejak ia masuk Islam tiada yang ia peroleh kecuali kebajikan belaka.


dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana.

Fitnah dalam ayat ini artinya bencana atau musibah.
Yakni bila ia terserang wabah penyakit Madinah, dan istrinya melahirkan anak perempuan, serta zakat datang terlambat kepadanya, maka setan datang kepadanya membisikkan kata-kata,
"Demi Tuhan.
Sejak kamu masuk agama Islam, tiada yang kamu peroleh selain keburukan."
Yang demikian itu adalah fitnahnya.


Hal yang sama telah disebutkan oleh Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ibnu Juraij serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf sehubungan dengan tafsir ayat ini.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, orang yang berwatak demikian adalah orang munafik.
Jika ia beroleh kemaslahatan di dunianya, ia tetap melakukan ibadahnya.
Tetapi jika dunianya rusak serta tidak beroleh keuntungan, maka ia kembali kepada kekafirannya.
Dia tidak menetapi ibadahnya kecuali bila mendapat kebaikan dalam kehidupannya.
Jika ia tertimpa musibah atau bencana atau kesempitan duniawi, maka ia tinggalkan Islam dan kembali kepada kekafirannya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

berbaliklah ia ke belakang.
Yaitu ia murtad dan kafir kembali.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Rugilah ia di dunia dan di akhirat.

Artinya dia tidak mendapatkan sesuatu pun dari dunia ini, adapun di akhirat karena ia telah kafir kepada Allah Yang Mahabesar, maka nasibnya sangat celaka dan sangat terhina.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Yakni hal seperti itu merupakan kerugian yang besar dan transaksi yang rugi.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 11

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang laki-laki datang ke Madinah, kemudian memeluk Islam.
Ia memuji agamanya apabila istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya berkembang biak.
Namun ia mencaci maki agamanya apabila istrinya tidak melahirkan anak laki-laki dan kudanya tidak berkembang biak.
Ayat ini (al-Hajj: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari ‘Athiyah yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa seorang Yahudi masuk Islam, kemudian menjadi buta, harta bendanya habis, serta anaknya mati.
Ia menganggap bahwa agama Islamlah yang menyebabkan dirinya sial.
Ia berkata: “Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan dari agama ini.” Ayat ini (al-Hajj: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 11

HARF
حَرْف

Arti lafaz harf adalah ujung pinggir dan batas.

Apabila ada orang mengatakan harful jabal, harfus saif, harfus safiinah maksudnya ialah bahagian hujung paling atas (puncak) gunung, ujung pedang dan pinggir perahu.

Lafaz harf juga dapat diartikan bentuk atau cara, contohnya huwa min amirihii ‘alaa harfin waahid artinya menyelesaikan urusannya dengan satu cara.

Lafaz harf disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Hajj (22), ayat 11. Ayat ini menggambarkan bentuk iman manusia yang lemah.
Dalam menerangkan ayat ini, para mufasir mempunyai banyak pendekatan yang antara satu dengan lainnya saling melengkapi yaitu:

1. Maksud ayat di atas adalah antara manusia ada yang beribadah kepada Allah dalam satu bentuk.
Maksudnya ialah seorang hamba wajib taat kepada Allah, baik di waktu susah maupun di waktu gembira.
Apabila ada orang yang taat kepada Allah ketika bahagia saja sedangkan pada waktu susah dan sempit dia melakukan maksiat berarti dia menghambakan diri kepada Allah hanya dalam satu bentuk saja.
Pemahaman ini didukung dengan maksud lafaz setelahnya dalam ayat yang sama menerangkan orang itu apabila mendapat kebaikan dia tetap dalam keadaan beriman, tetapi apabila ditimpa bencana, dia berbalik ke belakang yaitu meninggalkan iman dan menjadi kafir.

2. Maksud ayat itu, ada diantara manusia yang mengabdikan diri kepada Allah dengan hati yang ragu- ragu, tidak mantap dan tidak yakin sehingga dia seperti berada di tepi atau di pinggir agama, dia tidak masuk Islam dengan penuh keyakinan.
Apabila dia mengalami musibah dan cobaan yang kecil saja dia akan keluar dari Islam (murtad).
Abdur Rahman Hasan Habannakah mengatakan, ibadah manusia adalah bertingkat.
Tingkat yang pertama lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tingkat setelahya.
Dikalangan manusia, ada yang menyembah Allah pada peringkat mengagungkan dan memuliakan Allah.
Ada juga yang berada pada peringkat berterima kasih dan syukur atas nikmat dan anugerah Allah.
Ada juga yang ibadahnya berada pada peringkat mengharap (al-tam’) dan takut (khauf). Orang yang beribadah pada peringkat yang tinggi, peringkat dibawahnya pun turut dilaksanakan sekali.
Namun tidak sebaliknya.

Peringkat paling rendah adalah peringkat ibadah karena mengharap (al-tam’) dan takut (khauf). Peringkat ini mempunyai bahagian tengah dan bahagian pinggir.
Bahagian tengah peringkat ini adalah ibadah yang didorong oleh harapan pada nikmat di akhirat dan kuatir pada azab di akhirat.
Sedangkan bahagian pinggirnya adalah ibadah yang di dorong oleh harapan mendapat manfaat duniawi yang segera dan kuatir pada bahaya yang segera yang mengancamnya di dunia.
Orang yang beribadah dalam tingkat bahagian pinggir ini tidak kuat menghadapi cobaan, baik coban itu berbentuk godaan nikmat dunia maupun ancaman musibah dan sakit dunia.
Orang seperti inilah yang disebut dalam ayat ini.
Dia beribadah kepada Allah di ujung harapannya dan bimbang pada perkara-perkara dunia yang sementara.

Oleh karena itu, orang yang beragama ini berada dalam keadaan yang ragu-ragu dan tidak kokoh.
Apabila memeluk Islam, dia mendapat manfaat dunia, baik mendapat nikmat segera ataupun terhindar dari bahaya dunia, dia merasa tenang dengan memeluk Islam.
Namun, apabila dengan ke• Islamannya dia mendapat bahaya, dia akan keluar dari agama Islam.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:188-189

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedahfaedah dan hikmahhikmah disyari’atkannya haji.

Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahimalaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahimalaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam.

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim `alaihis salam.
▪ Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
▪ Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
▪ Hukum hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

▪ Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela.
▪ Tanda tanda takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasulrasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio Murottal

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 11 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 11 - Gambar 2
Statistik QS. 22:11
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku’ 10 ruku’
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.7 (9 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

22:11, 22 11, 22-11, Surah Al Hajj 11, Tafsir surat AlHajj 11, Quran Al-Haj 11, Alhaj 11, Al Haj 11, Al-Hajj 11, Surah Al Hajj ayat 11

Video Surah

22:11


More Videos

Kandungan Surah Al Hajj

۞ QS. 22:1 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kedahsyatan hari kiamat •

۞ QS. 22:2 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 22:3 • Sifat iblis dan pembantunya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:4 • Sifat iblis dan pembantunya • Azab orang kafir

۞ QS. 22:5 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 22:6 • Kekuasaan Allah • Al Haq (Maha Benar) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 22:7 • Kiamat telah dekat • Kepastian hari kiamat • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 22:9 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:10 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:11 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 22:12 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:13 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:14 • Pahala iman • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:15 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 22:16 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 22:17 • Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Derajat para pemeluk agama • Keutamaan iman

۞ QS. 22:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Hukum alam • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 22:19 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:20 • Sifat neraka • Makanan dan minuman ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:21 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:22 • Sifat neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:23 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Pakaian ahli surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 22:24 • Al Hamid (Maha Terpuji) • Sifat ahli surga

۞ QS. 22:26 • Islam agama para nabi

۞ QS. 22:30 Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:31 • Kewajiban hamba pada Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 22:32 • Pentingnya berbuat dengan teliti

۞ QS. 22:34 Tauhid Uluhiyyah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 22:37 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Perbuatan dan niat • Pentingnya berbuat dengan teliti • Kebutuhan muslim terhadap amal salehHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:38 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 22:39 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 22:40 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) •

۞ QS. 22:41 • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 22:44 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:45 • Azab orang kafir

۞ QS. 22:46 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:47 • Allah menepati janji • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 22:48 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:50 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 22:52 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah

۞ QS. 22:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Sifat orang munafik

۞ QS. 22:54 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:55 • Nama-nama hari kiamat • Hari kiamat datang tiba-tiba • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:56 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Nama-nama surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 22:57 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:58 • Pahala iman

۞ QS. 22:59 • Pahala iman • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 22:60 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) •

۞ QS. 22:61 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) •

۞ QS. 22:62 Tauhid Uluhiyyah • Al Haq (Maha Benar) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:63 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 22:64 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 22:65 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 22:66 Tauhid Rububiyyah • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 22:67 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 22:68 • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:69 • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 22:70 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 22:72 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 22:73 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:74 • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 22:75 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 22:76 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 22:77 Ar Rabb (Tuhan) • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 22:78 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) • Islam agama yang diterima di sisi Allah

Ayat Pilihan

Allah berfirman:
“Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”.
Mereka tidak menganiaya Kami,
tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.
QS. Al-A’raf [7]: 160

Mereka bodoh, tapi tak tahu.
Dan bila berjumpa dengan orang beriman,
mereka berkata:
“Kami telah beriman”.
Dan bila kembali kepada syaitan,
mereka mengatakan:
“Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu,
kami hanya berolok-olok”
QS. Al-Baqarah [2]: 13-14

Apa kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad diantara kamu orang-orang yang sabar.
QS. Ali ‘Imran [3]: 142

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu sebagai ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
اَلَمۡ یَجِدۡکَ یَتِیۡمًا فَاٰوٰی

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
--QS. Adh Dhuhaaa [93] : 6

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan.....kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Correct! Wrong!

Arti al-Kaafirun adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah..... Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Correct! Wrong!

Arti dari lafal

لَكُمْ دِينُكُمْ

yaitu ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Surah Al-Kafirun [109] ayat 6.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

'Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.'

Pendidikan Agama Islam #18
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #18 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #18 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #13

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam? … Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? … Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya … kali.”

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #24

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat … Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah … Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu … dengan … Tata cara membaca Alquran dimulai dengan … Dalam surah Alquran, At-Tin artinya …

Kamus Istilah Islam

munajat

Apa itu munajat? mu.na.jat doa sepenuh hati kepada Tuhan untuk mengharapkan keridaan, ampunan, bantuan, hidayat, dan sebagainya … •

Musyawarah

Apa itu Musyawarah? Musyawarah berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu.Istilah-istilah lain dalam tata Negar...

Ratu Balqis

Siapa itu Ratu Balqis? Ratu Balqis juga dikenali sebagai Ratu dari Saba’ atau Ratu dari Sheba adalah seorang ratu yang memerintah kerajaan kuno Saba’ yang disebut dalam Injil Ibrani, Perj...