Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 11


وَ مِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّعۡبُدُ اللّٰہَ عَلٰی حَرۡفٍ ۚ فَاِنۡ اَصَابَہٗ خَیۡرُۨ اطۡمَاَنَّ بِہٖ ۚ وَ اِنۡ اَصَابَتۡہُ فِتۡنَۃُۨ انۡقَلَبَ عَلٰی وَجۡہِہٖ ۟ۚ خَسِرَ الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃَ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡخُسۡرَانُ الۡمُبِیۡنُ
Waminannaasi man ya’budullaha ‘ala harfin fa-in ashaabahu khairun athmaanna bihi wa-in ashaabathu fitnatun anqalaba ‘ala wajhihi khasiraddunyaa wal-aakhirata dzalika huwal khusraanul mubiin(u);

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang.
Rugilah ia di dunia dan di akhirat.
Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
―QS. 22:11
Topik ▪ Kedahsyatan hari kiamat
22:11, 22 11, 22-11, Al Hajj 11, AlHajj 11, Al-Haj 11, Alhaj 11, Al Haj 11, Al-Hajj 11
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa ada pula sebagian manusia yang menyatakan beriman dan menyembah Allah dalam keadaan bimbang dan ragu-ragu; mereka berada dalam kekhawatiran dan kecemasan; apakah agama Islam yang telah mereka anut itu benar-benar dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka dunia akhirat.
Mereka seperti keadaan orang yang ikut pergi perang, sedang hati mereka ragu-ragu untuk ikut itu.
Jika nampak bagi mereka tanda-tanda tanda pasukan mereka akan memperoleh kemenangan dan akan memperoleh harta rampasan yang banyak, maka mereka melakukan tugas dengan bersungguh-sungguh, seperti orang-orang yang benar-benar beriman.
Sebaliknya jika nampak bagi mereka tanda-tanda bahwa pasukannya akan menderita kekalahan dan musuh akan menang, mereka cepat-cepat menghindarkan diri, bahkan kalau ada kesempatan mereka berusaha untuk menggabungkan diri dengan pihak musuh.

Keadaan mereka itu dilukiskan Allah dalam ayat ini: Jika mereka memperoleh kebahagiaan hidup, rezeki yang banyak, kekuasaan atau kedudukan, gembiralah hati mereka memeluk agama Islam, mereka beribadat se khusyuk-khusyuknya, mengerjakan perbuatan baik dan sebagainya Tetapi jika mereka memperoleh kesengsaraan, kesusahan hidup, cobaan atau musibah, mereka menyatakan bahwa semuanya itu mereka alami adalah karena mereka menganut agama Islam.
Mereka masuk Islam bukanlah karena keyakinan bahwa agama Islam itulah satu-satunya agama yang benar, agama yang diridai Allah, tetapi mereka masuk Islam dengan maksud mencari kebahagiaan duniawi, mencari harta yang banyak, mencari pangkat dan kedudukan atau untuk memperoleh kekuasaan yang besar.
Karena itulah mereka kembali menjadi kafir, jika tujuan yang mereka inginkan itu tidak tercapai.
Pada ayat-ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan perilaku mereka:

(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang yang mukmin).
Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?".
Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?".
Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.

(Q.S.
An Nisa: 141)

Tujuan mereka melakukan tindakan-tindakan yang demikian itu dijelaskan Allah dengan ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas.
Mereka bermaksud riya' (dengan salat) di hadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

(Q.S.
An Nisa: 142)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Abbas; bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan peristiwa seorang laki-laki yang datang ke Madinah dan memeluk agama Islam.
Maka jika istrinya melahirkan seorang anak laki-laki dan kudanya berkembang biak, ia berkata: "Agama Islam yang kupeluk ini adalah agama yang baik".
Tetapi jika istrinya melahirkan anak perempuan dan kudanya tidak berkembang biak, maka ia mengatakan: Agama Islam yang saya peluk ini adalah agama yang jelek".

Menurut Abdurrahman bin Zaid bin Aslam: ayat ini diturunkan berhubungan dengan tindak tanduk orang-orang munafik.
Jika kehidupan duniawi mereka baik, mereka beribadat, sebaliknya jika kehidupan duniawi mereka tidak baik mereka tidak beribadat, bahkan mereka menyebarkan fitnah dan kembali menjadi kafir.
Sedang menurut Abu Said Al Khudri Ayat ini diturunkan berhubungan dengan seorang laki-laki Yahudi yang telah masuk Islam.
Kemudian matanya buta, harta bendanya habis dan anaknya mati.
Ia mengira bahwa agama Islamlah yang membawa kesialan itu, lalu ia menghadap Nabi Muhammad ﷺ.
dan berkata "Agama Islam telah membawa kesialan padaku".
Nabi menjawab: "Agama Islam tidak membawa sial".
Ia berkata: "Sesungguhnya agama Islam yang aku anut ini belum pernah membawa kebaikan kepadaku, ia telah menghilangkan penglihatanku, hartaku, dan anakku".
Berkata Rasulullah ﷺ: "Hai Yahudi, sesungguhnya agama Islam itu telah melebur seseorang, seperti api melebur kotoran besi, perak atau emas".
Maka turunlah ayat ini.

Sekalipun ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab-sebab turunnya ayat ini, namun ketiga-tiga riwayat itu berhubungan dengan orang-orang yang masuk Islam, sedang imannya belum kuat, hatinya masih ragu-ragu.
Karena itu ketiga-tiga asbabun nuzul ini tidak bertentangan maksudnya dan tidak merubah pengertian ayat.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang telah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri baik di dunia, apalagi di akhirat nanti.
Di dunia mereka mendapat bencana, kesengsaraan dan penderitaan lahir dan batin, dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh siksa yang amat berat dengan dimasukkan ke dalam api neraka.
Dan karena ketidaksabaran dan tidak tabah itu mereka akan memperoleh kerugian yang besar dan menimbulkan penyesalan selama-lamanya.

Al Hajj (22) ayat 11 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ada kelompok ketiga, yaitu orang yang belum kuat imannya.
Keyakinannya masih goncang dan dikuasai oleh maslahat-maslahat pribadi.
Orang seperti ini, apabila mendapatkan kebaikan, akan merasa tenang dan bahagia.
Sebaliknya, apabila dirinya, hartanya atau anaknya ditimpa kesulitan, akan kembali kepada kekafiran.
Dengan begitu, orang ini di dunia akan merugi karena telah kehilangan nyamannya keyakinan kepada ketentuan Allah.
Di akhirat pun ia akan merugi karena tidak mendapatkan pahala yang telah dijanjikan Allah kepada orang-orang Mukmin yang sabar dan kokoh imannya.
Kerugian ganda itu adalah kerugian yang sebenarnya dan nyata.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi) ia ragu di dalam ibadahnya itu.
Keadaannya diserupakan dengan seseorang yang berada di tepi bukit, yakni ia tidak dapat berdiri dengan tetap dan mantap (maka jika ia memperoleh kebaikan) maksudnya kesehatan dan kesejahteraan pada diri dan harta bendanya (tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana) cobaan pada hartanya dan penyakit pada dirinya (berbaliklah ia ke belakang) ia kembali menjadi kafir.
(Rugilah ia di dunia) disebabkan terlepasnya semua apa yang ia harapkan dari dunia (dan di akhirat) disebabkan kekafirannya itu.
(Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata) jelas ruginya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara manusia ada yang masuk ke dalam Islam dalam keadaan lemah dan ragu-ragu, lalu ia menyembah Allah dengan penuh kebimbangan, seperti orang yang berdiri di tepi gunung atau tembok dengan tanpa berpegangan, dan ia mengikat keimanannnya dengan urusan dunianya.
Jika ia hidup dalam kondisi sehat dan lapang, maka ia meneruskan ibadahnya.
Sebaliknya, jika ia mendapat ujian dengan suatu yang tidak menyenangkan dan kesusahan, maka ia menisbatkan keburukan hal itu kepada agamanya.
Lalu ia berbalik darinya, seperti orang yang membalikkan wajahnya, setelah sebelumnya bersikap istiqomah.
Dengan demikian, ia merugi di dunia; karena kekafirannya tetap tidak akan merubah apa yang telah ditetapkan untuknya, dan ia juga merugi diakhirat dengan masuk ke dalam neraka.
Itu adalah kerugian yang jelas lagi nyata.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mujahid dan Qatadah serta lain-lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dengan berada di tepi.
Yakni berada dalam keraguan.

Yang lainnya selain mereka mengatakan berada di tepi, seperti di tepi sebuah bukit.

Dengan kata lain, ia masuk Islam dengan hati yang tidak sepenuhnya, jika menjumpai hal yang disukainya, ia tetap berada dalam Islam, dan jika tidak, maka ia kembali kafir.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Haris, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Bukair, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abul Husain, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi.
Dahulu seorang lelaki datang ke Madinah.
Jika istrinya melahirkan bayi laki-laki serta kudanya beranak pula, maka ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang baik (membawa keberuntungan).
Tetapi jika istrinya tidak melahirkan serta kudanya tidak melahirkan juga, maka ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang buruk (pembawa kesialan).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari Asy'as ibnu Ishaq Al-Qummi, dari Ja'far ibnu Abul Mugirah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu ada segolongan orang Badui datang kepada Nabi ﷺ lalu masuk Islam.
Bila mereka telah kembali ke kampung halaman mereka, lalu mereka menjumpai musim hujan dan musim subur serta musim melahirkan anak yang banyak, maka mereka berkata, "Sesungguhnya agama kita adalah agama yang baik," maka mereka berpegangan kepadanya.
Tetapi bila mereka men­jumpai tahun kekeringan dan paceklik serta jarang adanya kelahiran, maka mereka berkata, "Tiada suatu kebaikan pun pada agama kita ini." Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan kepada Nabi-Nya ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu., hingga akhir ayat.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa seseorang dari mereka apabila tiba di Madinah yang terletak tidakjauh dari tempat tinggal mereka, maka jika tubuhnya sehat selama di Madinah dan Kudanya melahirkan anak serta istrinya beranak laki-laki, ia puas dan tenang terhadap agama Islam yang baru dipeluknya, lalu ia mengatakan bahwa sejak ia masuk Islam tiada yang ia peroleh kecuali kebajikan belaka.

dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana.

Fitnah dalam ayat ini artinya bencana atau musibah.
Yakni bila ia terserang wabah penyakit Madinah, dan istrinya melahirkan anak perempuan, serta zakat datang terlambat kepadanya, maka setan datang kepadanya membisikkan kata-kata, "Demi Tuhan.
Sejak kamu masuk agama Islam, tiada yang kamu peroleh selain keburukan." Yang demikian itu adalah fitnahnya.

Hal yang sama telah disebutkan oleh Qatadah, Ad-Dahhak, dan Ibnu Juraij serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf sehubungan dengan tafsir ayat ini.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, orang yang berwatak demikian adalah orang munafik.
Jika ia beroleh kemaslahatan di dunianya, ia tetap melakukan ibadahnya.
Tetapi jika dunianya rusak serta tidak beroleh keuntungan, maka ia kembali kepada kekafirannya.
Dia tidak menetapi ibadahnya kecuali bila mendapat kebaikan dalam kehidupannya.
Jika ia tertimpa musibah atau bencana atau kesempitan duniawi, maka ia tinggalkan Islam dan kembali kepada kekafirannya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

berbaliklah ia ke belakang.
Yaitu ia murtad dan kafir kembali.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Rugilah ia di dunia dan di akhirat.

Artinya dia tidak mendapatkan sesuatu pun dari dunia ini, adapun di akhirat karena ia telah kafir kepada Allah Yang Mahabesar, maka nasibnya sangat celaka dan sangat terhina.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Yakni hal seperti itu merupakan kerugian yang besar dan transaksi yang rugi.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 11

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seorang laki-laki datang ke Madinah, kemudian memeluk Islam.
Ia memuji agamanya apabila istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya berkembang biak.
Namun ia mencaci maki agamanya apabila istrinya tidak melahirkan anak laki-laki dan kudanya tidak berkembang biak.
Ayat ini (al-Hajj: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari ‘Athiyah yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa seorang Yahudi masuk Islam, kemudian menjadi buta, harta bendanya habis, serta anaknya mati.
Ia menganggap bahwa agama Islamlah yang menyebabkan dirinya sial.
Ia berkata: “Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan dari agama ini.” Ayat ini (al-Hajj: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 11

HARF
حَرْف

Arti lafaz harf adalah ujung pinggir dan batas.

Apabila ada orang mengatakan harful jabal, harfus saif, harfus safiinah maksudnya ialah bahagian hujung paling atas (puncak) gunung, ujung pedang dan pinggir perahu.

Lafaz harf juga dapat diartikan bentuk atau cara, contohnya huwa min amirihii 'alaa harfin waahid artinya menyelesaikan urusannya dengan satu cara.

Lafaz harf disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Hajj (22), ayat 11. Ayat ini menggambarkan bentuk iman manusia yang lemah. Dalam menerangkan ayat ini, para mufasir mempunyai banyak pendekatan yang antara satu dengan lainnya saling me­lengkapi yaitu:

1. Maksud ayat di atas adalah antara manusia ada yang beribadah kepada Allah dalam satu bentuk. Maksudnya ialah seorang hamba wajib taat kepada Allah, baik di waktu susah maupun di waktu gembira. Apabila ada orang yang taat kepada Allah ketika bahagia saja sedangkan pada waktu susah dan sempit dia melakukan maksiat berarti dia menghambakan diri kepada Allah hanya dalam satu bentuk saja. Pemahaman ini didukung dengan maksud lafaz setelahnya dalam ayat yang sama me­nerangkan orang itu apabila mendapat kebaikan dia tetap dalam keadaan ber­iman, tetapi apabila ditimpa bencana, dia berbalik ke belakang yaitu me­ninggalkan iman dan menjadi kafir.

2. Maksud ayat itu, ada diantara manusia yang mengabdikan diri kepada Allah dengan hati yang ragu- ragu, tidak mantap dan tidak yakin sehingga dia seperti berada di tepi atau di pinggir agama, dia tidak masuk Islam dengan penuh keyakinan. Apabila dia meng­alami musibah dan cobaan yang kecil saja dia akan keluar dari Islam (murtad).

Abdur Rahman Hasan Habannakah mengata­kan, ibadah manusia adalah bertingkat. Tingkat yang pertama lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tingkat setelahya. Dikalangan manusia, ada yang menyembah Allah pada peringkat mengagungkan dan me­muliakan Allah. Ada juga yang berada pada peringkat berterima kasih dan syukur atas nikmat dan anugerah Allah. Ada juga yang ibadahnya berada pada peringkat mengharap (al-tam') dan takut (khauf). Orang yang beribadah pada peringkat yang tinggi, peringkat dibawahnya pun turut dilaksanakan sekali. Namun tidak sebaliknya.

Peringkat paling rendah adalah peringkat ibadah karena mengharap (al-tam') dan takut (khauf). Peringkat ini mempunyai bahagi­an tengah dan bahagian pinggir. Bahagian tengah peringkat ini adalah ibadah yang di­dorong oleh harapan pada nikmat di akhirat dan kuatir pada azab di akhirat. Sedangkan bahagian pinggirnya adalah ibadah yang di­ dorong oleh harapan mendapat manfaat duniawi yang segera dan kuatir pada bahaya yang segera yang mengancamnya di dunia. Orang yang beribadah dalam tingkat bahagian pinggir ini tidak kuat menghadapi cobaan, baik coban itu berbentuk godaan nikmat dunia maupun ancam­an musibah dan sakit dunia. Orang seperti inilah yang disebut dalam ayat ini. Dia ber­ibadah kepada Allah di ujung harapannya dan bimbang pada perkara-perkara dunia yang sementara.

Oleh karena itu, orang yang beragama ini berada dalam keadaan yang ragu-ragu dan tidak kokoh. Apabila memeluk Islam, dia men­dapat manfaat dunia, baik mendapat nikmat segera ataupun terhindar dari bahaya dunia, dia merasa tenang dengan me­meluk Islam. Namun, apabila dengan ke­-Islamannya dia mendapat bahaya, dia akan keluar dari agama Islam.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:188-189

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 11 *beta

Surah Al Hajj Ayat 11



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain-
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku'10 ruku'
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (9 votes)
Sending







✔ asbabun nuzul surat al hajj ayat 11, tafsir surat al hajj ayat 11, uraian singkat al hajj 11