QS. Al Hadid (Besi) – surah 57 ayat 23 [QS. 57:23]

لِّکَیۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰی مَا فَاتَکُمۡ وَ لَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰىکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرِۣ
Likailaa ta’sau ‘ala maa faatakum walaa tafrahuu bimaa aataakum wallahu laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurin;

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
―QS. 57:23
Topik ▪ Takdir ▪ Segala sesuatu ada takdirnya ▪ Energi angin
57:23, 57 23, 57-23, Al Hadid 23, AlHadid 23, Al-Hadid 23

Tafsir surah Al Hadid (57) ayat 23

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hadid (57) : 23. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah.
Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan.
Karena itu janganlah terlalu bersedih hati menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati.
Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya.
Ayat ini bukan untuk melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan.
‘Ikrimah berkata, “Tidak ada seorang pun melainkan ia dalam keadaan sedih dan gembira, tetapi hendaklah ia menjadikan kegembiraan itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah dan kesedihan itu sebagai tanda bersabar.”

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang yang terlalu bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hatinya dan terlalu bersedih hati menerima bencana yang menimpanya adalah orang yang pada dirinya terdapat tanda-tanda tabkhil dan angkuh, seakan-akan ia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja.
Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat bakhil dan angkuh.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami memberitahukan itu semua agar kalian tidak terlalu kecewa atas apa yang tidak kalian peroleh, dan tidak terlalu senang dengan apa yang Allah berikan kepada kalian.
Allah tidak menyukai orang yang membangga-banggakan apa-apa yang ia miliki kepada orang lain.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Supaya janganlah) lafal kay di sini menashabkan fi’il yang jatuh sesudahnya, maknanya sama dengan lafal an.

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan yang demikian itu supaya janganlah (kalian berduka cita) bersedih hati (terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira) artinya gembira yang dibarengi dengan rasa takabur, berbeda halnya dengan gembira yang dibarengi dengan rasa syukur atas nikmat (terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian) jika lafal aataakum dibaca panjang berarti maknanya sama dengan lafal a`thaakum, artinya apa yang diberikan-Nya kepada kalian.

Jika dibaca pendek, yaitu ataakum artinya, apa yang didatangkan-Nya kepada kalian.

(Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong) dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya (lagi membanggakan diri) membangga-banggakannya terhadap orang lain.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 23)

Yaitu Kami beri tahukan kepada kalian tentang ilmu Kami dan ketetapan Kami atas segala sesuatu sebelum kejadiannya, dan ukuran-ukuran yang Kami buatkan untuk semua makhluk sebelum keberadaannya, supaya kalian mengetahui bahwa musibah yang menimpa diri kalian bukanlah hal yang diluputkan dari kalian, dan musibah yang luput dari kalian bukanlah untuk ditimpakan kepada kalian.
Makajanganlah kamu menyesali apa yang luput dari kamu; karena sesungguhnya seandainya hal itu ditakdirkan, niscaya akan terjadi.

dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 23)

Yakni dengan apa yang didatangkan kepadamu.
Makna atakum ialah diberikan-Nya kepadamu; kedua makna saling berkaitan.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa janganlah kamu berbangga diri terhadap manusia dengan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadamu.
Karena sesungguhnya pemberian itu bukanlah dari usaha kamu, bukan pula dari hasil jerih payahmu.
Sesungguhnya hal itu terjadi hanyalah semata-mata karena takdir Allah dan pemberian rezeki-Nya kepadamu.
Makajanganlah nikmat-nikmat Allah menjadikan kamu lupa daratan hingga menjadi orang yang jahat lagi angkuh, lalu kamu membangga-banggakannya terhadap orang lain.
Untuk itu, maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 23)

Maksudnya, bersikap angkuh dan sombong serta merasa besar diri terhadap orang lain.
Ikrimah mengatakan bahwa tiada seorang pun melainkan mengalami gembira dan sedih, maka bersyukurlah kamu di saat memperoleh kegembiraan dan bersabarlah dalam menanggung kedukaan (kesedihan).


Kata Pilihan Dalam Surah Al Hadid (57) Ayat 23

FAKHUUR
فَخُور

Arti kata fakhr adalah sikap berbangga diri atau sombong atas sesuatu yang di­miliki seperti harta, pangkat atau yang lain. Untuk menyebut orang yang mempunyai sikap seperti itu digunakan kata faakhir, fakhuur dan fakhiir. Sedangkan untuk menyebut sikap saling berbangga dan sombong yang terjadi di antara manusia maka digunakan kata tafaakhur.

Dari kelima kata di atas, Al Qur’an hanya menyebut kata fakhuur dan tafaakhur saja.

Kata fakhuur diulang empat kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-An Nisaa’ (4), ayat 36;
-Hud (11), ayat 10;
-Luqman (31), ayat 18;
-Al Hadid (57), ayat 23.

Sedangkan kata tafaakhur di­ ulang sekali saja, yaitu pada surah Al Hadid (57), ayat 20. Pada surah Al Hadid (57), ayat 20, Allah menerangkan realitas kehidupan manusia di dunia yang sebahagian besar waktunya dihabiskan untuk permainan, melakukan perbuatan-perbuatan yang melalaikan hati dari ingat kepada Allah, menyombongkan diri dan berbangga-bangga di hadapan yang lain dan juga berlomba-lomba untuk memperbanyak harta dan keturunan. Padahal semuanya itu akan berakhir dan akan men­ dapat pembalasan di akhirat.

Pada beberapa ayat berikutnya, yaitu ayat ke 23 surah Al Hadid, Allah menegaskan se­cara khusus bahawa Dia sangat tidak menyukai orang yang bersikap sombong (mukhtaalin fakhuur) dalam kehidupan di dunia. Kebencian Allah kepada muktaalin dan fakhuur juga disebut pada surah An Nisa (4), ayat 36 dan surah Luqman (31), ayat 18.

Arti kata mukhtaalin dan fakhuur adalah hampir sama yaitu orang yang sombong namun di antara keduanya ada perbedaan; muktaalin adalah orang sombong yang kesombongannya tampak pada perilaku dan gerak tubuhnya, sedangkan fakhuur adalah orang sombong yang kesombongannya tampak pada ucapannya umpamanya dengan menceritakan kebaikan­ kebaikan yang pernah dilakukannya dengan penuh rasa kesombongan. Dalam ketiga ayat tersebut ditegaskan bahawa sikap sombong seperti itu adalah sikap yang sangat tidak di­ sukai oleh Allah.

Sedangkan pada surah Hud (11), ayat 10, Allah menerangkan bila biasanya seseorang men­ jadi sombong (fakhuur), yaitu sewaktu Allah menghilangkan kepayahan dan kesusahan dari diri seseorang dan menggantinya dengan kemudahan dan kelapangan. Pada saat seperti ini biasanya pada diri manusia muncul rasa bangga dengan diri sendiri karena merasa telah berjaya melewati ujian dan cobaan, selanjutnya muncul rasa sombong dan merasa lebih hebat berbanding dengan orang lain. Padalah sebenarnya kejayaan yang diperolehnya itu adalah anugerah dan karunia Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:407-408

Informasi Surah Al Hadid (الحديد)
Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah.

Dinamai “Al Hadiid” (Besi), diambil dari perkataan “Al Hadiid” yang terdapat pada ayat 25 surat ini.

Keimanan:

Hanya kepada Allah kembali semua urusan
beberapa sifat Allah dan beberapa As­maa-ul Husna serta pernyataan kekuasaan Allah di langit dan di bumi.

Hukum:

Perintah menafkahkan harta

Lain-lain:

Keadaan orang-orang munafik di hari kiamat
hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat
tujuan penciptaan besi
tujuan diutusnya para rasul
kehidupan kerahiban dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Isa a.s.
celaan kepada orang-orang bakhil dan orang yang menyuruh orang-orang lain berbuat bakhil.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hadid (29 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hadid (57) ayat 23 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hadid (57) ayat 23 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hadid (57) ayat 23 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hadid - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 29 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 57:23
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hadid.

Surah Al-Hadid (bahasa Arab:الحديد, "Besi") adalah surah ke-57 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al Hadiid yang berarti besi diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat ke-25 surat ini.

Nomor Surah 57
Nama Surah Al Hadid
Arab الحديد
Arti Besi
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 94
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 29
Jumlah kata 576
Jumlah huruf 2545
Surah sebelumnya Surah Al-Waqi’ah
Surah selanjutnya Surah Al-Mujadilah
4.7
Ratingmu: 4.3 (9 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al hadid:23

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta