QS. Al Hadid (Besi) – surah 57 ayat 14 [QS. 57:14]

یُنَادُوۡنَہُمۡ اَلَمۡ نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ اَمۡرُ اللّٰہِ وَ غَرَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ
Yunaaduunahum alam nakun ma’akum qaaluuu bala walakinnakum fatantum anfusakum watarabbashtum waartabtum wagharratkumul amaanii-yu hatta jaa-a amrullahi wagharrakum billahil gharuur(u);

Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata:
“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?”
Mereka menjawab:
“Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.
―QS. 57:14
Topik ▪ Zuhud ▪ Perhatian terhadap dunia ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
57:14, 57 14, 57-14, Al Hadid 14, AlHadid 14, Al-Hadid 14

Tafsir surah Al Hadid (57) ayat 14

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hadid (57) : 14. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian pada ayat ini Allah menyatakan peristiwa yang dialami orang-orang munafik di akhirat nanti, yaitu mereka berseru kepada orang-orang Mukmin dan mengatakan, “Bukankah kami bersama-sama kamu semasa hidup di dunia?”
Lalu orang-orang Mukmin menjawab, “Ya benar, kita sama-sama salat, berwukuf di Arafah, berperang dan mengerjakan kewajiban-kewajiban agama lainnya tetapi kamu berfoya-foya dengan kelezatan dan maksiat, ragu tentang hari kebangkitan, teperdaya oleh angan-angan sehingga kamu mengatakan bahwa dosa kamu akan diampuni Allah, karena bisikan setan yang mengatakan kepadamu bahwa Allah Maha Pengampun, dan Dia akan memaafkan dosa-dosamu.” Maksudnya, sebenarnya kamu hai orang-orang munafik bersama kami di dunia hanya tubuhmu yang kasar saja, padahal jiwamu tidak bersama kami, tidak mempunyai ketegasan dalam pendirian maka kamu jarang sekali mengingat Allah.”

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang munafik itu menyeru orang-orang Mukmin, “Bukankah di dunia dulu kami adalah teman kalian?”
Orang-orang Mukmin menjawab, “Ya, benar apa yang kalian katakan itu.
Tetapi kalian membinasakan diri sendiri dengan bersikap munafik, menginginkan suatu keburukan menimpa kaum mukminin, membuat keragu-raguan dalam urusan agama dan tertipu oleh angan-angan.
Selama itu kalian tampak baik-baik saja hingga datang kematian dan kalian ditipu oleh setan bahwa kalian akan mendapatkan ampunan dari Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Orang-orang munafik itu memanggil mereka orang-orang mukmin, “Bukankah kami dahulu bersama-sama kalian?”) dalam ketaatan kepada Allah.

(mereka menjawab, “Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri) disebabkan kemunafikan kalian (dan kalian selalu mengincar) kehancuran orang-orang mukmin (dan kalian ragu-ragu) masih ragu terhadap agama Islam (serta kalian ditipu oleh angan-angan kosong) yakni ketamakan (sehingga datanglah ketetapan Allah) yaitu kematian (dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh yang amat penipu) yakni oleh setan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Orang-orang munafik itu memanggil (orang-orang mukmin) seraya berkata, “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” (Q.S. Al-Hadid [57]: 14)

Yakni orang-orang munafik menyeru orang-orang mukmin seraya mengatakan, “Bukankah kami dahulu ketika di dunia ada bersama kamu dan ikut salat jumuah bersama kamu dan salat berjamaah bersama kamu, dan kami ikut wuquf di Arafah bersama kamu dan ikut dalam peperangan serta menunaikan kewajiban lainnya bersama-sama dengan kamu?”

Mereka menjawab, “Benar.”(Q.S. Al-Hadid [57]: 14)

Yaitu maka orang-orang mukmin menjawab kepada orang-orang munafik seraya mengatakan, “Memang benar kamu selalu bersama kami,

tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong” (Q.S. Al-Hadid [57]: 14)

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa kamu mencelakakan dirimu sendiri dengan kesenangan, perbuatan-perbuatan durhaka, dan nafsu syahwat.

dan kamu menunggu (kehancuran kami).
(Q.S. Al-Hadid [57]: 14)

Yakni kamu menunda-nunda tobat dari waktu ke waktu yang lain.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu menunggu (kehancuran kami).
(Q.S. Al-Hadid [57]: 14) Yakni kehancuran kebenaran dan para pemeluknya.
dan kamu ragu-ragu.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 14) dengan adanya hari berbangkit sesudah kematian.
serta ditipu oleh angan-angan kosong.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 14) Maksudnya, kamu mengatakan bahwa kami akan mendapat ampunan.
Menurut pendapat lain, kamu teperdaya oleh duniawi.
sehingga datanglah ketetapan Allah.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 14).
Yakni kamu masih tetap dalam keadaan seperti itu hingga maut datang menjemput kamu.
dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 14) Maksudnya, tertipu oleh setan.

Qatadah mengatakan bahwa mereka tertipu oleh setan dan demi Allah mereka masih tetap dalam keadaan tertipu hingga Allah mencampakkan mereka ke dalam neraka.

Makna ucapan dari orang-orang mukmin yang ditujukan kepada orang-orang munafik, bahwa kamu memang dahulu bersama dengan kami, yakni badan kamu bersama kami, tetapi tanpa niat dan tanpa kalbu; karena sesungguhnya kamu hanyalah dalam kebimbangan dan keraguan, dan kamu hanya pamer kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit.

Mujahid mengatakan bahwa dahulu orang-orang munafik hidup bersama-sama orang-orang mukmin, saling menikah dengan mereka, menipu mereka, serta bergaul dengan mereka.
Orang-orang munafik pun di saat matinya dihimpunkan pula bersama orang-orang mukmin, semuanya diberi cahaya kelak di hari kiamat.
Hanya saja cahaya orang munafik padam bila telah mencapai tembok penghalang, dan pada saat itulah mereka dipisahkan dari orang-orang mukmin.
Dan ucapan kaum mukmin ini tidaklah bertentangan dengan ucapan mereka yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya Yang Mahabenar:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya-menanya tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”
Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian?” (Q.S. Al-Muddatstsir: 38-47)

Sesungguhnya kalimat ini dikatakan oleh kaum mukmin dengan nada kecaman dan mencemoohkan orang-orang munafik.
Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.
(Q.S. Al-Muddatstsir: 48)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya:

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir.
(Q.S. Al-Hadid [57]: 15)

Yakni seandainya seseorang dari kamu datang pada hari itu dengan membawa emas sepenuh bumi sebanyak dua kali lipat untuk menebus dirinya dari azab Allah, niscaya tebusan itu tidak akan diterima.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Hadid (57) Ayat 14

AMANIY
أَمَانِي

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari umniyah yang berarti al bughyah yaitu durhaka, menyimpang dari kebenaran atau dusta karena pendusta membuat perkataan dalam dirinya kemudian mengatakannya.

Al Kafawi berkata,
umniyah ialah apa yang hilang dari bacaannya sebagaimana Allah berfirman,

أَلْقَى ٱلشَّيْطَٰنُ فِىٓ أُمْنِيَّتِهِ

Makna pada bacaannya bermaksud apa yang diharapkan oleh manusia dan diingininya, dan makna lainnya ialah kebohongan-kebohongan.

Lafaz amaaniy disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 78, 111;
-An Nisaa (4), ayat 123, 123;
-Al­ Hadid (57), ayat 14.

Az Zamakhsyari menafsirkan makna amaaniy yang terdapat dalam surah Al Baqarah dengan “mereka berada dalam rekaan atau pembohongan. Allah memaafkan dan me­ rahmati mereka serta tidak menghitung kesalahan-kesalahan mereka. Sesungguhnya bapak-bapak mereka dari nabi-nabi memohon syafaat bagi mereka dan ulama-ulama mereka (ahbar) mereka-reka neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa saat saja.

Ada yang mengatakan (amani) itu adalah dusta-dusta yang berbagai, mereka mendengarnya dari ulama-ulama mereka dan mereka menerimanya secara taklid semata-semata.

Ibn Qutaibah berkata,
“Mereka tidak mengetahui Al Kitab kecuali yang diriwayatkan oleh ulama-ulama mereka dan menerimanya serta menyangka ia adalah benar, padahal ia adalah dusta.”

Dalam ayat 111, lafaz amani bermakna khayalan-khayalan dan mimpi­ mimpi mereka.

Makna amani dalam surah An-Nisaa menurut Qatadah, “Disebutkan kepada kami orang Islam dan orang Yahudi berbangga-bangga.” Ahli Kitab berkata,
“Nabi kami lebih dahulu daripada nabi kamu dan kitab kami lebih dahulu daripada kitab kamu. Oleh itu, kami lebih mulia daripada kamu” Orang Muslim berkata,
“Kami lebih mulia di sisi Allah daripada kamu karena nabi kami adalah penutup segala nabi-nabi dan kitab kami memansuhkan kitab-kitab sebelumnya,” maka turunlah ayat ini.

Ibn Katsir menafsirkan lafaz amani dalam surah Al Hadid sebagai “kamu ditipu oleh keduniaan.”

Al Khazin menafsirkan lafaz amaaniy dalam surah itu dengan al-abathil (kebatilan­kebatilan) yaitu di mana kamu berkeinginan supaya kehancuran menimpa orang Islam.

An-Nasafi berpendapat, maknanya ialah tal al amal (panjang angan-angan) dan ingin umur panjang.

Ibn ‘Abbas berkata,
maksudnya ialah kebatilan-kebatilan dan at tamanni (kemauan atau angan-angan).

Sa’id Hawwa berkata,
“Juga kemauan­ kemauan atau angan-angan serta tamak kepada harta benda dan keduniaan.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:47-48

Informasi Surah Al Hadid (الحديد)
Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah.

Dinamai “Al Hadiid” (Besi), diambil dari perkataan “Al Hadiid” yang terdapat pada ayat 25 surat ini.

Keimanan:

Hanya kepada Allah kembali semua urusan
beberapa sifat Allah dan beberapa As­maa-ul Husna serta pernyataan kekuasaan Allah di langit dan di bumi.

Hukum:

Perintah menafkahkan harta

Lain-lain:

Keadaan orang-orang munafik di hari kiamat
hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat
tujuan penciptaan besi
tujuan diutusnya para rasul
kehidupan kerahiban dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Isa a.s.
celaan kepada orang-orang bakhil dan orang yang menyuruh orang-orang lain berbuat bakhil.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hadid (29 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hadid (57) ayat 14 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hadid (57) ayat 14 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hadid (57) ayat 14 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hadid - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 29 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 57:14
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hadid.

Surah Al-Hadid (bahasa Arab:الحديد, "Besi") adalah surah ke-57 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al Hadiid yang berarti besi diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat ke-25 surat ini.

Nomor Surah 57
Nama Surah Al Hadid
Arab الحديد
Arti Besi
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 94
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 29
Jumlah kata 576
Jumlah huruf 2545
Surah sebelumnya Surah Al-Waqi’ah
Surah selanjutnya Surah Al-Mujadilah
4.4
Ratingmu: 4.2 (14 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta