Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Hadid (Besi) – surah 57 ayat 10 [QS. 57:10]

وَ مَا لَکُمۡ اَلَّا تُنۡفِقُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لِلّٰہِ مِیۡرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا یَسۡتَوِیۡ مِنۡکُمۡ مَّنۡ اَنۡفَقَ مِنۡ قَبۡلِ الۡفَتۡحِ وَ قٰتَلَ ؕ اُولٰٓئِکَ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً مِّنَ الَّذِیۡنَ اَنۡفَقُوۡا مِنۡۢ بَعۡدُ وَ قٰتَلُوۡا ؕ وَ کُلًّا وَّعَدَ اللّٰہُ الۡحُسۡنٰی ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ
Wamaa lakum alaa tunfiquu fii sabiilillahi walillahi miiraatsus-samaawaati wal ardhi laa yastawii minkum man anfaqa min qablil fathi waqaatala uula-ika a’zhamu darajatan minal-ladziina anfaquu min ba’du waqaataluu wakulaa wa’adallahul husna wallahu bimaa ta’maluuna khabiirun;
Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi?
Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah).
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu.
Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.
Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.
―QS. Al Hadid [57]: 10

And why do you not spend in the cause of Allah while to Allah belongs the heritage of the heavens and the earth?
Not equal among you are those who spent before the conquest (of Makkah) and fought (and those who did so after it).
Those are greater in degree than they who spent afterwards and fought.
But to all Allah has promised the best (reward).
And Allah, with what you do, is Acquainted.
― Chapter 57. Surah Al Hadid [verse 10]

وَمَا dan apa-apa

And what
لَكُمْ bagi kalian

(is) for you
أَلَّا kecuali

that not
تُنفِقُوا۟ kamu membelanjakan/menafkahkan

you spend
فِى pada

in
سَبِيلِ jalan

(the) way
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah?
وَلِلَّهِ dan Allah

while for Allah
مِيرَٰثُ mewarisi

(is the) heritage
ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)

(of) the heavens
وَٱلْأَرْضِ dan bumi

and the earth?
لَا tidak

Not
يَسْتَوِى sama

are equal
مِنكُم dari kamu

among you
مَّنْ siapa

(those) who
أَنفَقَ membelanjakan/menafkahkan

spent
مِن dari

before *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِ sebelum

before *[meaning includes next or prev. word]
ٱلْفَتْحِ kemenangan/penaklukan

the victory
وَقَٰتَلَ dan ia berperang

and fought.
أُو۟لَٰٓئِكَ seperti itulah

Those
أَعْظَمُ lebih tinggi

(are) greater
دَرَجَةً derajat

(in) degree
مِّنَ dari

than
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
أَنفَقُوا۟ menafkahkan

spent
مِنۢ dari

afterwards *[meaning includes next or prev. word]
بَعْدُ setelah

afterwards *[meaning includes next or prev. word]
وَقَٰتَلُوا۟ dan mereka berperang

and fought.
وَكُلًّا dan makanlah

But to all,

Tafsir

Alquran

Surah Al Hadid
57:10

Tafsir QS. Al Hadid (57) : 10. Oleh Kementrian Agama RI


Setelah Allah mencela mereka karena tidak mau beriman, maka pada ayat ini Allah mencela mereka karena tidak mau berinfak di jalan-Nya.
Mengapa manusia tidak mau membelanjakan harta yang dikaruniai Allah pada jalan-Nya, sedangkan hartanya itu akan kembali kepada Allah.

Bila ia tidak menginfakkan pada jalan-Nya berarti ia tidak yakin bahwa semua harta tersebut pada hakikatnya milik Allah, karena langit dan bumi serta semua isinya akan kembali kepada-Nya.


Allah memerintahkan kepada manusia menginfakkan hartanya pada jalan Allah sebelum mati, agar menjadi simpanan di sisi Allah.

Hal yang demikian itu tidak dapat dilakukan manusia sesudah mati karena semua harta akan kembali kepada Allah Pemilik sekalian alam.
Selanjutnya Allah ﷻ menyatakan perbedaan derajat yang diperoleh orang-orang yang berinfak karena perbedaan kondisi dan situasi mereka dalam mengerjakannya.

Bahwa derajat orang-orang yang berinfak dan hijrah sebelum pembebasan Mekah lebih tinggi dari derajat orang yang berinfak dan berhijrah sesudah itu, karena pada masa sebelum pembebasan Mekah manusia dalam keadaan susah dan selalu terancam.
Tidak ada yang akan beriman dan berinfak kecuali orang-orang yang betul-betul sadar, tetapi sesudah pembebasan Mekah, Islam telah berkembang dan manusia berduyunduyun mengikutinya.

Derajat mereka yang berjihad dan berinfak sebelum pembebasan Mekah lebih besar dari pahala yang diperoleh orang-orang yang berjihad dan berinfak sesudahnya.
Qatadah berkata,
"Ada dua jihad, yang satu lebih tinggi nilainya dari yang lain, dan ada dua macam infak yang satu lebih utama dari yang lain;
jihad dan infak sebelum pembebasan Mekah lebih utama dari jihad dan infak sesudahnya.
"
Tetapi walau bagaimanapun untuk masing-masing yang berjihad dan berinfak sebelum atau sesudah pembebasan Mekah ada pahalanya meskipun terdapat perbedaan antara besar dan kecil pahala tersebut.
Dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya.

Allah ﷻ berfirman:

لَا يَسْتَوِى الْقَاعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰى وَفَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا

Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.
Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan).
Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.
(an-Nisa’ [4]: 95)


Telah diriwayatkan, bahwa telah terjadi perselisihan kata antara Khalid bin al-Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu Khalid berkata kepada Abdurrahman,
"Kamu menganggap dirimu lebih mulia daripada kami, karena kamu lebih dahulu menjadi pengikut Nabi Muhammad ﷺ daripada kami."
Kemudian ucapan Khalid itu diketahui oleh Nabi, lalu beliau bersabda Biarkan aku yang menilai sahabat-sahabatku.
Demi Allah, yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu menginfakkan emas sebesar bukit Uhud atau sebesar gunung tidak akan kamu mencapai pahala amal perbuatan mereka.
(Riwayat Ahmad dari Anas) Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku, demi Allah Tuhan yang nyawa Muhammad dalam kekuasaan-Nya, seandainya salah seorang dari kamu menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, tidak akan ia mencapai satu Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri)

Allah ﷻ berfirman:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.
Allah menyediakan bagi mereka surgasurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang agung.
(at-Taubah [9]: 100)


Sebagai penutup ayat ini, Allah memperingatkan bahwa Dia mengetahui semua keadaan manusia, lahir dan batin, karena itu Dia akan memberi balasan yang setimpal.
Karena pengetahuan-Nya itu, maka Allah melebihkan pahala infak dan juga jihad sebelum pembebasan Mekah atas pahala infak dan berjihad sesudahnya, keikhlasan berinfak dan berjihad lebih berat dalam keadaan susah dan sulit.
Dalam hal ini Abu Bakar adalah yang paling berbahagia karena beliau telah menafkahkan seluruh hartanya dalam rangka menuntut keridaan Allah semata.

Tafsir QS. Al Hadid (57) : 10. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apa yang terjadi pada diri kalian hingga tidak menafkahkan sebagian harta di jalan Allah, padahal hanya Dialah yang memiliki langit dan bumi, hingga tidak ada sesuatu pun yang berhak memiliki apa-apa yang ada pada keduanya?
Derajat dan pahala orang, di antara kalian, yang menafkahkan harta dan berperang di jalan Allah sebelum penaklukan kota Mekah–yaitu pada saat Islam membutuhkan pendukung dan penguat–dan orang yang menafkahkan harta dan berperang setelah itu tidaklah sama.
Mereka yang menafkahkan harta dan berperang di jalan Allah sebelum penaklukan kota Mekah mempunyai derajat dan pahala yang lebih tinggi daripada kelompok yang kedua.


Tetapi, walau berbeda tingkat kedua kelompok itu, mereka sama-sama dijanjikan Allah untuk memperoleh pahala yang baik.
Allah mengetahui semua yang kalian kerjakan, hingga membalas setiap orang dengan balasan yang setimpal.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apakah yang menghalangi kalian untuk menafkahkan (sebagian harta) pada jalan Allah?
Padahal, Allah yang mewarisi (memiliki) langit, bumi, dan apa pun antara keduanya.
Tidak ada seorang pun yang memiliki sesuatu di dalamnya.


Tidaklah sama balasan dan pahala di antara kalian, yaitu yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan Makkah.
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang yang menafkahkan hartanya dan berperang di jalan Allah sesudah peristiwa itu.


Allah menjanjikan surga kepada mereka masing-masing.
Sungguh Allah Maha Mengetahui perbuatan kalian, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengawasan-Nya.


Dia akan memberi balasan setimpal atasnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan mengapa kalian) sesudah beriman


(tidak) lafal Allaa pada asalnya terdiri dari An dan Laa kemudian keduanya diidgamkan menjadi satu sehingga jadilah Allaa


(menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai mempunyai langit dan bumi) berikut semua yang ada pada keduanya, maka sampailah kepada-Nya harta kalian tanpa membawa sedikit pun pahala infak kalian, berbeda halnya seandainya kalian menafkahkannya di jalan Allah, maka kalian akan mendapatkan pahala di sisi-Nya.


(Tidak sama di antara kalian orang yang menafkahkan hartanya sebelum penaklukan) kota Mekah


(dan ikut berperang sebelumnya -.
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sesudah itu.
Kepada masing-masing) dari dua golongan itu.
Menurut suatu qiraat ia dibaca Kullun karena dianggap sebagai Mubtada


(Allah telah menjanjikan balasan yang lebih baik) yaitu surga


(Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan) maka kelak Dia akan membalasnya untuk kalian.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi?
(QS. Al-Hadid [57]: 10)

Yaitu berinfaklah dan janganlah kamu takut jatuh miskin dan kekurangan karena sesungguhnya Tuhan yang kamu berinfak di jalan-Nya adalah Yang memiliki langit dan bumi dan di tangan kekuasaan-Nyalah keduanya dikendalikan, dan di sisi-Nyalah semua perbendaharaan keduanya.
Dialah Yang memiliki ‘Arasy dengan semua yang dikandungnya, dan Dia pulalah yang berfirman:

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
(QS. Saba‘ [34]: 39)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.
(QS. Al-Hijr [15]: 96)

Maka barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya dia wajib berinfak dan tidak merasa takut akan kekurangan demi melaksanakan perintah Tuhan Yang mempunyai ‘Arasy, dan ia merasa yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan memberikan gantinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah).
(QS. Al-Hadid [57]: 10)

Yakni tidaklah sama orang tersebut dan orang yang tidak berbuat seperti dia, karena dalam masa sebelum penaklukan Mekah keadaannya sangatlah berat.
Pada masa itu tidaklah beriman kecuali hanya orang-orang yang berpredikatsiddiqin.
Lain halnya sesudah masa penaklukan Mekah, karena Islam telah menang dan pengaruhnya sangat besar lagi luas serta manusia mulai masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.
Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (QS. Al-Hadid [57]: 10)

Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-fath ialah penaklukan kota Mekah dan jatuh ke tangan kaum muslim.
Tetapi menurut riwayat yang bersumber dari Asy-Sya’bi dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah Perjanjian Hudaibiyah.
Dan barangkali pendapat yang demikian berdalilkan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu:


telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas yang mengatakan bahwa pernah terjadi perdebatan antara Khalid ibnul Walid dan Abdur Rahman ibnu Auf.
Khalid berkata kepada Abdur Rahman,
"Kamu mempunyai pengaruh atas kami berkat hari-hari yang kamu lebih mendahuluinya daripada kami."
Kemudian hal tersebut diceritakan kepada Nabi ﷺ Maka beliau ﷺ bersabda:
Biarkanlah aku dan sahabat-sahabatku, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya kamu berinfak sebanyak seperti Bukit Uhud atau seperti gunung berupa emas, maka kamu tetap masih belum dapat mencapai amal perbuatan mereka (para sahabatku yang terdahulu masuk Islamnya).

Dan telah dimaklumi bahwa masuk Islamnya Khalid yang menjadi lawan bicara hadis ini adalah di masa antara Perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan kota Mekah.
Pertengkaran yang terjadi di antara keduanya ialah di tempat Rasulullah ﷺ mengutus Khalid ibnul Walid bersama sejumlah pasukan kaum muslim kepada mereka sesudah jatuhnya Mekah ke tangan kaum muslim.
Dan ketika mereka kedatangan Khalid bersama pasukannya, mereka mengatakan,
"Saba­na, saba-na (kami masuk agama baru, kami masuk agama baru)."
Mereka tidak pandai mengucapkan,
"Kami masuk Islam, kami masuk Islam,"
padahal yang mereka maksudkan adalah Islam.
Maka Khalid memerintahkan kepada pasukannya untuk memerangi mereka, dan menghukum mati sebagian dari mereka yang tertawan.
Sikap Khalid yang demikian itu ditentang oleh Abdur Rahman ibnu Auf dan Abdullah ibnu Umar serta sahabat lainnya;
maka bertengkarlah antara Khalid dan Abdur Rahman dalam masalah tersebut.

Tetapi menurut apa yang terdapat di dalam kitab sahih disebutkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Janganlah kamu mencaci sahabat-sahabatku, maka demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang dari kamu menginfakkan emas sebanyak Bukit Uhud, niscaya hal itu masih belum dapat menyamai satu Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Wahb, bahwa telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa’d, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa kami keluar (dari Madinah) bersama Rasulullah ﷺ di tahun Hudaibiyah, hingga manakala kami sampai di Asfan, Rasulullah ﷺ bersabda:

Sudah dekat masanya kedatangan suatu kaum yang kamu pandang kecil amalmu bila dibandingkan dengan amal mereka.
Maka kami bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?
Apakah dari kalangan Quraisy?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Bukan, tetapi mereka adalah penduduk Yaman, mereka mempunyai perasaan dan hati yang lebih lembut (daripada kamu).
Kami bertanya,
"Apakah mereka lebih baik daripada kami, wahai Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Seandainya seseorang dari mereka mempunyai gunung emas, lalu mereka infakkan semuanya, maka hal itu masih belum mencapai satu Mekah).
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.
Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.
Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Hadid [57]: 10)

Konteks hadis ini berpredikat garib, karena yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Jamaah dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id konteks ini berkaitan dengan kisah orang-orang Khawarij (yang akan muncul sesudah itu).
Bunyinya:


"Kamu menganggap kecil salatmu bila dibandingkan dengan salat mereka dan juga puasa kamu bila dibandingkan dengan puasa mereka;
mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang menembus sasarannya,"
hingga akhir hadis.

Tetapi Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain, untuk itu ia menceritakan bahwa:


telah menceritakan kepadaku Ibnul Burqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Abu Sa’id At-Tammar, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Hampir tiba masanya kedatangan suatu kaum yang kamu anggap kecil amalmu bila dibandingkan dengan amal mereka.
Kami bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu, apakah mereka adalah orang-orang Quraisy?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Bukan, tetapi mereka adalah penduduk Yaman, karena mereka me­miliki perasaan yang lebih lembut dan hati lebih lunak (daripada kamu).
Beliau ﷺ mengatakan ini seraya menunjuk ke arah negeri Yaman, lalu beliau bersabda:
Mereka adalah penduduk Yaman, ingatlah, sesungguhnya iman itu dari Yaman dan hikmah itu dari Yaman (pula).
Maka kami bertanya,
"Apakah mereka lebih baik daripada kami?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang dari mereka mempunyai gunung emas yang mereka infakkan, niscaya hal itu masih belum dapat mencapai satu Mekah).
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.
Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.
Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Hadid [57]: 10)

Konteks riwayat ini tidak menyebutkan Hudaibiyah;
dan jika penyebutan itu memang dikenal seperti yang telah tertera di atas, maka takwilnya ialah bahwa wahyu ini diturunkan sebelum penaklukan Mekah sebagai berita tentang apa yang akan terjadi sesudahnya.
Perihalnya sama dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Muzammil yang Makkiyyah dan termasuk permulaan wahyu yang diturunkan, yaitu firman-Nya:

dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah.
(QS. Al-Muzammil:
20), hingga akhir ayat.

Hal ini merupakan berita gembira tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang;
hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.
(QS. Al-Hadid [57]: 10)

Yakni orang-orang yang berinfak sebelum penaklukan Mekah dan yang sesudahnya, semuanya mendapat pahala dari amalnya masing-masing, sekalipun di antara mereka terdapat perbedaan dalam keutamaan pahala yang diterimanya.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya.
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.
Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.
(An-Nisa:
95)

Demikian pula hadis yang disebutkan di dalam kitab sahih mengatakan:

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, tetapi masing-masing mempunyai kebaikannya (tersendiri).

Sesungguhnya dikatakan demikian hanyalah agar pihak yang lain tidak diremehkan dengan terpujinya pihak yang pertama, yang berakibat timbulnya dugaan bahwa pihak yang tidak terpuji adalah orang yang tercela.
Untuk itu maka dilanjutkan dengan memuji pihak yang lain, tetapi dengan menonjolkan keutamaan yang ada pada pihak yang pertama.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman selanjutnya:

Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Hadid [57]: 10)

Yakni berkat pengetahuan-Nya, maka Dia membedakan antara pahala orang yang menginfakkan hartanya sebelum masa penaklukan Mekah dan berperang di jalan-Nya, dan orang yang melakukan hal tersebut sesudah masa penaklukan Mekah.

Hal tersebut tiada lain karena Allah mengetahui niat golongan yang pertama dan keikhlasan mereka yang sempurna, serta infak mereka di masa susah, sulit, lagi sempit.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

(Sedekah) satu dirham mendahului (sedekah) seratus ribu (dirham).

Tidak diragukan lagi di kalangan ahlul iman, bahwa Abu Bakar As-Siddiqlah yang meraih bagian yang terbesar dan kedudukan yang sangat penting dari ayat ini.
Karena sesungguhnya dialah penghulu orang yang beramal demikian di antara umat-umat nabi-nabi lainnya.
Dia telah membelanjakan seluruh hartanya karena mengharapkan rida Allah subhanahu wa ta’ala dan tiada seorang pun yang memiliki nikmat ini rela mengorbankannya demi agama selain dia.


Abu Muhammad alias Al-Husain ibnu Mas’ud Al-Bagawi telah mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ibrahim Asy-Syuraihi, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq alias Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim As-Sa’labi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Hamid ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Amr Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Sa’id, dari Adam ibnu Ali, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa ketika kami sedang berada di hadapan Nabi ﷺ dan Abu Bakar As-Siddiq yang pada saat itu sahabat Abu Bakar memakai baju ‘aba’ah yang ada tambalan pada bagian dadanya, maka turunlah Jibril dan berkata,
"Mengapa kulihat Abu Bakar mengenakan baju ‘aba’ah yang ada tambalan pada bagian dadanya?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Dia telah menginfakkan semua hartanya sebelum masa penaklukan."
Jibril berkata,
"Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Sampaikanlah salam kepadanya dan tanyakanlah kepadanya apakah dia rela terhadap-Ku dalam kemiskinannya ataukah marah’?"
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah mengucapkan salam kepadamu dan berfirman kepadamu, ‘Apakah kamu rela dalam kemiskinanmu karena membela agama-Nya ataukah marah’?"
Abu Bakar menjawab,
"Apakah Tuhanku marah kepadaku?"
Sesungguhnya aku rela kepada Tuhanku dengan semuanya ini."

Sanad hadis yang dikemukakan melalui jalur ini daif;
hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hadid (57) Ayat 10

DARAJAH
دَرَجَة

Ism mufrad dari lafaz daraja jamaknya darajah. Artinya martabat sebahagiannya di atas sebahagian yang lain, kelas, kedudukan, pangkat, tingkatan, golongan, derajat dan unit ukuran (sudut atau suhu).

Lafaz darajah disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 228;
An Nisaa (4), ayat 95;
At Taubah (9), ayat 20;
Al Hadid (57), ayat 10.

Al Faiyruz berkata,
"Secara umumnya, lafaz darajah atau ad darajat mengandung delapan bentuk:

(1) Kedudukan lelaki terhadap perempuan.
(2) Kedudukan orang yang berjihad terhadap orang yang tinggal di rumah.
(3) Martabat sahabat yang terlebih dahulu masuk Islam dan selalu bersama dengan Nabi.
(4) Kelebihan tingkatan dan kedudukan sebahagian manusia atas sebahagian yang lain disebabkan kelebihan ketaatan dan kekurangannya.
(5) Derajat khusus seorang hamba.
(6) Kedudukan ulama.
(7) Martabat orang yang taat dan tambahan tingkatannya di dalam syurga.

(8) Mengangkat martabat dan kedudukan orang yang taat yang membedakan mereka dari yang lainnya.

Dalam surah Al Baqarah, ia membicarakankan derajat dan tingkatan kedudukan lelaki atas perempuan, Asy Syaukani berkata,
"Perbedaan tingkatan ini karena kedudukan yang tidak dimiliki perempuan yaitu bertanggungjawab memberikan nafkah kepadanya termasuk dari orang yang lebih berjihad dan akal serta kekuatan, mendapat lebih harta waris, wajib bagi perempuan (isteri) melakukan segala perintahnya dan berdiri di atas keridhaannya.
Sekiranya tidak ada kelebihan lelaki terhadap perempuan maka tidak tsabit penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam.

Muhammad Rasyid Rida berkata,
"Maksud derajat di sini adalah derajat kepemimpinan dan yang mengurusi segala kemaslahatan yang ditafsirkan dalam surah An Nisaa ayat 34. Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan masyarakat dan sebuah masyarakat haruslah ada pemimpin.
Setiap individu masyarakat memiliki perbedaan pendapat dan kemaslahatan.
la tidak dapat disempurnakan dan diselesaikan kecuali ada seorang pemimpin yang dirujuk pendapatnya dalam menyelesaikan perbedaan itu sehingga setiap individu tidak melakukan perkara yang bertentangan dengan individu lain.
Apabila ia terjadi, timbullah perpecahan.
Seorang pemimpin itu lebih layak untuk lelaki karena ia lebih mengetahui kemaslahatan dan lebih mampu untuk melaksanakan tugas dengan kekuatan dan hartanya.
Oleh karena itu, ia dituntut syara’ untuk melindungi perempuan dan memberikan nafkah serta lebih dahulu taat kepada kebaikan.

Dalam surah An Nisaa berkenaan dengan kelebihan satu kedudukan orang yang berjuang daripada orang yang duduk berdiam diri.

Dalam As Sahihain dari Abu Sa’id Al-Khudri Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya di dalam syurga ada 100 tingkatan atau derajat yang disediakan Allah bagi orang yang berjuang di jalan Allah diantara setiap dua derajat jauhnya seperti antara langit dan bumi."

Al A’masy meriwayatkan dari Amru bin Murrah dari Abi Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud, katanya, Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang melempar satu anak panah (di jalan Allah), maka baginya pahala satu derajat" Seorang lelaki berkata,
"Wahai Rasulullah, apa itu satu derajat?" Beliau menjawab, "Tentunya ia adalah bukan di pangkuan ibumu.
Di antara dua derajat jauhnya 100 tahun perjalanan."

Dalam surah At Taubah, ia berkaitan dengan martabat orang beriman, berhijrah serta berjihad fi sabilillah di sisi Allah.

Dalam tafsir Safwah At Tafsir, makna darajah adalah ajran (ganjaran dan balasan) maknanya bagi orang yang bersifat demikian baginya ganjaran yang besar dari Allah.

Sedangkan dalam Tafsir Al Jalalain ia bermakna ratbah yaitu kedudukan dan martabat.

Dalam surah Al Hadid membicarakan tentang kedudukan serta tingkatan yang berbeda antara satau derajat dengan satu derajat bagi orang yang berperang dan membelanjakan harta sebelum Fathul Makkah dari orang yang berperang dan membelanjakan harta setelahnya.

At Tabari berkata,
"Mereka yang menafkahkan harta di jalan Allah sebelum Fathul Makkah dan memerangi orang musyrik mendapat derajat dan kedudukan yang tinggi di dalam syurga daripada orang yang menafkahkan setelah itu"

Kesimpulannya, lafaz darajah bermakna kedudukan, derajat, tingkatan dan martabat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 222-223

Unsur Pokok Surah Al Hadid (الحديد)

Surat Al-Hadid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah.

Dinamai "Al Hadiid" (Besi), diambil dari perkataan "Al Hadiid" yang terdapat pada ayat 25 surat ini.

Keimanan:

▪ Hanya kepada Allah kembali semua urusan.
▪ Beberapa sifat Allah dan beberapa Asmaa-ul Husna serta pernyataan kekuasaan Allah di langit dan di bumi.

Hukum:

▪ Perintah menafkahkan harta.

Lain-lain:

▪ Keadaan orang-orang munafik di hari kiamat.
Hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
▪ Tujuan penciptaan besi.
▪ Tujuan diutusnya para rasul.
▪ Kehidupan kerahiban dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Isa `

Audio

QS. Al-Hadid (57) : 1-29 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 29 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Hadid (57) : 1-29 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 29

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hadid ayat 10 - Gambar 1 Surah Al Hadid ayat 10 - Gambar 2
Statistik QS. 57:10
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hadid.

Surah Al-Hadid (bahasa Arab:الحديد, “Besi”) adalah surah ke-57 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al Hadiid yang berarti besi diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat ke-25 surat ini.

Nomor Surah57
Nama SurahAl Hadid
Arabالحديد
ArtiBesi
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu94
JuzJuz 27
Jumlah ruku’4 ruku’
Jumlah ayat29
Jumlah kata576
Jumlah huruf2545
Surah sebelumnyaSurah Al-Waqi’ah
Surah selanjutnyaSurah Al-Mujadilah
Sending
User Review
4.6 (10 votes)
Tags:

57:10, 57 10, 57-10, Surah Al Hadid 10, Tafsir surat AlHadid 10, Quran Al-Hadid 10, Surah Al Hadid ayat 10

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) – surah 74 ayat 40 [QS. 74:40]

40-42. Golongan kanan yang disebut pada ayat yang lalu, meraih keberuntungan yaitu berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, yaitu bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, yang boleh … 74:40, 74 40, 74-40, Surah Al Muddatstsir 40, Tafsir surat AlMuddatstsir 40, Quran Al-Mudatsir 40, Al-Muddatstsir 40, Al Mudasir 40, Al-Muddassir 40, Surah Al Mudasir ayat 40

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 60 [QS. 5:60]

Sebagai kelanjutan dari teguran itu, Allah memerintahkan RasulNya. Katakanlah, wahai Muhammad, “Apakah sebaiknya akan aku beritakan kepadamu semua tentang orang yang lebih buruk pembalasannya akibat d … 5:60, 5 60, 5-60, Surah Al Maa’idah 60, Tafsir surat AlMaaidah 60, Quran Al Maidah 60, AlMaidah 60, Al-Ma’idah 60, Surah Al Maidah ayat 60

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Jasa khalifah Umar bin Khatab yang sampai saat ini masih dipergunakan, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat maka diganti oleh sahabat sebagai pemimpin ummat disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

+

Array

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan.

Benar! Kurang tepat!

Zakat menurut bahasa زكة , yang bermakna ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #20
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #20 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #20 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … alam nasyrah bismika alam yaj’al alam tara alam dunya Benar! Kurang tepat! Penjelasan:أَلَمْ نَشْرَحْ

Kuis Agama Islam #31

Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah … Ali bin Abi Tholib Buya Hamka Ibnu Miskawaih Ibnu Sina Imam Syafii

Pendidikan Agama Islam #14

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan … fitnah dan komentar negatif orang-orang

Instagram