QS. Al Haaqqah (Hari kiamat) – surah 69 ayat 41 [QS. 69:41]

وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ
Wamaa huwa biqauli syaa’irin qaliilaa maa tu’minuun(a);

dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
―QS. 69:41
Topik ▪ Tahap dalam pembentukan janin
69:41, 69 41, 69-41, Al Haaqqah 41, AlHaaqqah 41, Al Haqqah 41, AlHaqqah 41, Al-Haqqah 41

Tafsir surah Al Haaqqah (69) ayat 41

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Haaqqah (69) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Al-Qur’an bukan syair seperti yang biasa diucapkan penyair-penyair mereka, karena Al-Qur’an di samping indah susunan gaya bahasanya juga mempunyai isi yang dalam.
Syair-syair yang diucapkan para penyair mereka tidak memiliki susunan gaya bahasa seindah susunan dan gaya bahasa Al-Qur’an dan tidak mempunyai arti yang tinggi.
Banyak terdapat ayat Al-Qur’an yang menantang orang musyrik agar membuat yang serupa atau sebanding dengan Al-Qur’an, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya.

Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

(Q.S. Al-Baqarah [2]: 23-24)

Ditegaskan pula bahwa Al-Qur’an itu juga bukan berasal dari perkataan tukang tenung.
Biasanya tukang tenung teman setan karena mereka menenung itu semata-mata mencari-cari bisikan setan.
Padahal Al-Qur’an mencela perbuatan setan, sehingga dengan demikian, ia bukan bisikan setan dan bukan pula hasil tukang tenung.

Sehubungan dengan itu, ayat ini menyanggah orang-orang musyrik agar tidak buru-buru berkesimpulan bahwa Al-Qur’an itu adalah tenung hanya karena belum atau tidak mengetahui isi Al-Qur’an.
Sangat sedikit di antara mereka yang mau beriman kepada Al-Qur’an ketika itu, dan mau mengambil pelajaran dari isinya.
Mukjizat Qur’an terletak pada isi.
Makin tinggi ilmu pengetahuan seseorang, akan makin mudah mencerna maksudnya, di samping nilai bahasanya.
Umat Islam Indonesia pada umumnya kesulitan membuktikan dan mengetahui letak kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasa, karena untuk mengetahui ketinggian susunan kata-kata haruslah dapat merasakan keindahan gaya dan bahasa itu sendiri.
Oleh karena itu, untuk mengetahui ketinggian Al-Qur’an, cukup dengan mengetahui pendapat dan sikap para sastrawan Arab penantang Islam terhadap Al-Qur’an itu.
Di antaranya adalah Abu al-Walid, yaitu seorang pemimpin dan sastrawan Arab yang terkenal pada masa itu.
Ia pernah diutus kaumnya kepada Nabi ﷺ untuk meminta beliau menghentikan dakwahnya.
Mendengar permintaan Abu al-Walid itu, Nabi ﷺ membaca Surah Fussilat dari ayat pertama hingga akhir ayat 14.
Abu al-Walid terpesona mendengar ayat-ayat itu, sehingga ia termenung memikirkan keindahan gaya bahasanya.
Lalu ia langsung kembali kepada kaumnya.
Ketika ditanya tentang hasil pertemuan itu, ia mengatakan kepada kaumnya, “Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu.
Apa yang dibaca itu bukanlah syair, sihir, atau kata-kata ahli tenung.
Mendengar jawaban Abu al-Walid, mereka menuduh bahwa ia telah terkena sihir oleh Muhammad dan berkhianat kepada agama nenek moyang mereka.
Di antara pemuka dan sesepuh Quraisy adalah al-Walid bin al-Mugirah.
Orang ini pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Nabi.
Maka ia berkata kepada kaumnya (Bani Makhzum), “Baru-baru ini aku mendengar dari Muhammad suatu ucapan yang menurutku bukanlah perkataan manusia atau jin.
Ucapan itu enak didengar, bagus disimak, laksana sebatang pohon, yang atasnya berbuah, dan bawahnya terhunjam ke tanah.
Dia benar-benar unggul dan tidak akan dapat diungguli.

Di samping dua orang tersebut, banyak juga sastrawan Arab pada waktu itu yang mencoba membuat yang serupa ayat-ayat Al-Qur’an , tetapi tidak seorang pun yang sanggup melakukannya.
Dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa sangat sedikit di antara kaum musyrik Mekah yang mengakui bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah kepada Muhammad, begitu juga yang mengambil pelajaran dari isinya.
Yang demikian itu adalah karena:

1.
Mereka takut dikucilkan oleh kaumnya dengan mempelajari Al-Qur’an, walaupun hati dan pikiran mereka telah mengakuinya, seperti halnya pada Abu al-Walid dan al-Walid bin al-Mugirah.

2.
Sebahagian mereka tidak mengetahui isinya karena tidak mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Mereka lebih dahulu mendustakannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Al-Qur’an bukanlah perkatan seorang penyair seperti yang kalian kira.
Hanya sedikit sekali keyakinan kalian bahwa Al Quran itu dari Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Alquran itu bukanlah perkataan seorang penyair.

Sedikit sekali kalian beriman kepadanya.)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah kepada makhluk-Nya dengan menyebut segala sesuatu yang disaksikan oleh mereka, yaitu tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada semua makhluk-Nya, yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dalam asma-asma dan sifat-sifat-Nya.
Dia juga bersumpah kepada mereka dengan menyebut semua perkara gaib yang tidak dapat dilihat oleh mereka, bahwa sesungguhnya AL-Qur’an ini adalah kalam-Nya dan wahyu-Nya yang diturunkan-Nya kepada hamba dan rasul-Nya yang telah Dia pilih untuk menyampaikan risalah dan menunaikan amanat-Nya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka Aku, bersumpah dengan apa yang kamu lihat.
Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 38-40)

Yakni Nabi Muhammad ﷺ, lalu di-mudaf-kan kepadanya dengan mengandung makna tablig (menyampaikan), karena sesungguhnya tugas rasul itu ialah menyampaikan apa yang dititipkan kepadanya.
Untuk itulah maka di-mudaf-kan pula makna ini kepada malaikat yang dipercaya untuk menyampaikannya, sebagaimana yang terdapat di dalam surat At-Takwir, yaitu:

Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah yang mempunyai ‘Arasy yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
(Q.S. At-Takwir [81]: 19-21)

Yang ini adalah malaikat yang menyampaikannya dari Allah kepada Nabi ﷺ yaitu Jibril ‘alaihis salam Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.
(Q.S. At-Takwir [81]: 22)

Yaitu temanmu Muhammad ﷺ

Dan sesungguhnya Muhammad itu meIihat Jibril di ufuk yang terang.
(Q.S. At-Takwir [81]: 23)

Yakni Nabi Muhammad ﷺ melihat rupa asli Malaikat Jibril ‘alaihis salam

Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib.
(Q.S. At-Takwir [81]: 24)

Maksudnya, dia bukanlah orang yang menerka-nerka yang gaib.

Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.
(Q.S. At-Takwir [81]: 25)

Maka demikian pula yang disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya:

Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
Dan bukan pula perkataan tukang tenung.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 41-42)

Terkadang Allah meng-idafah-kan kepada malaikat yang diutus-Nya, terkadang meng-idafah-kannya (mengaitkan Al-Qur’an) kepada manusia yang diutus-Nya, karena masing-masing dari keduanya bertugas menyampaikan wahyu dan kalam-Nya yang dipercayakan kepadanya.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 43)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnu Ubaid yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab pernah mengatakan bahwa sebelum masuk Islam, ia pernah keluar untuk menghadang Rasulullah ﷺ Ternyata ia menjumpai beliau telah mendahuluinya berada di masjid.
Lalu ia berdiri di belakang beliau, maka beliau membaca surat Al-Haqqah, dan ia merasa kagum dengan susunan kata-kata Al-Qur’an.
Ia berkata dalam hatinya, “Dia, demi Allah, adalah seorang penyair seperti yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy.” Maka beliau membaca firman-Nya: Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 40-41); Kemudian aku (Umar) berkata, “Dia adalah seorang tukang tenung.” Maka Nabi ﷺ membaca firman selanjutnya: Dan bukan pula perkataan tukang tenung.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.
Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 42-47), hingga akhir surat.

Selanjutnya Umar mengatakan bahwa lalu sejak saat itu Islam mulai meresap dan menimbulkan kesan yang mendalam di dalam hatiku.
Ini merupakan salah satu dari penyebab yang dijadikan oleh Allah untuk memberikan hidayah kepada Umar ibnul Khattab.
Sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam karya tulis yang terpisah mengenai Sirah perjalanan hidupnya, yang di dalamnya dijelaskan bagaimana keadaannya ketika mula-mula masuk Islam.


Informasi Surah Al Haaqqah (الحآقة)
Surat ini terdiri atas 52 ayat, termasuk surat-surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat Al Mulk.

Nama Al Haaqqah” diambil dari kata “Al Haaqqah” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya “‘hari kiamat”.

Keimanan:

Peringatan tentang azab yang ditimpakan kepada kaum-kaum Tsamud, ‘Aad, Fir’aun, kaum Nuh dan kaum-kaum sebelum mereka yang mengingkari rasul-rasul mereka pada hari kiamat
kejadian-kejadian pada hari kiamat dan hari berhisab
penegasan Allah bahwa Al Qur’an itu benar-benar wahyu Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Al Haaqqah (52 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Haaqqah (69) ayat 41 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Haaqqah (69) ayat 41 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Haaqqah (69) ayat 41 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Haqqah (69) ayat 1-52 - Nalendra Wiryawan (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Haqqah (69) ayat 1-52 - Nalendra Wiryawan (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Haaqqah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 52 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 69:41
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Haaqqah.

Surah Al-Haqqah (bahasa Arab:الحآقّة, "Hari Kiamat") adalah surah ke-69 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 52 ayat.
Dinamakan Al Haaqqah yang berarti hari kiamat diambil dari perkataan Al-Haaqqah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 69
Nama Surah Al Haaqqah
Arab الحآقة
Arti Hari kiamat
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 78
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 52
Jumlah kata 261
Jumlah huruf 1133
Surah sebelumnya Surah Al-Qalam
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’arij
4.9
Ratingmu: 4.5 (9 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta