QS. Al Haaqqah (Hari kiamat) – surah 69 ayat 38 [QS. 69:38]

فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ
Falaa uqsimu bimaa tubshiruun(a);

Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat.
―QS. 69:38
Topik ▪ Keutamaan kalam Allah
69:38, 69 38, 69-38, Al Haaqqah 38, AlHaaqqah 38, Al Haqqah 38, AlHaqqah 38, Al-Haqqah 38

Tafsir surah Al Haaqqah (69) ayat 38

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Haaqqah (69) : 38. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut Muqatil bahwa ayat-ayat ini diturunkan berhubungan dengan sikap para pemuka Quraisy ketika mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti perkataan al-Walid bin al-Mugirah bahwa sesungguhnya Muhammad seorang pesihir, perkataan Abu Jahal bahwa Muhammad seorang penyair, dan perkataan ‘Uqbah bahwa Muhammad seorang tukang tenung.
Ayat ini membantah perkataan-perkataan itu.
Allah menegaskan kepada orang musyrik Mekah dengan bersumpah dengan makhluk-Nya, baik yang dapat dilihat, diketahui, dan dirasakan dengan pancaindra maupun tidak, bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad itu benar-benar wahyu dari-Nya.
Al-Qur’an bukan perkataan Muhammad atau perkataan yang diada-adakan Muhammad kemudian dikatakan sebagai firman Allah.
Dari perkataan bima tubsirun (segala yang dapat kamu lihat) dapat dipahami bahwa sebenarnya orang musyrik Mekah seharusnya dapat meyakinkan bahwa Al-Qur’an itu berasal dari Allah, bukan buatan Muhammad.
Hal ini berdasarkan pada pengetahuan yang ada pada mereka, seperti pengetahuan tentang Muhammad, pengetahuan tentang gaya bahasa dan keindahan bahasa Arab yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan isi Al-Qur’an itu sendiri.
Kemudian dari perkataan “wama la tubsirun” (dan apa yang tidak kamu lihat) dipahami bahwa banyak hal yang tidak diketahui oleh orang musyrik Mekah.
Jika mereka mengetahui yang demikian itu, tentu akan dapat menambah keyakinan dan kepercayaan mereka kepada Muhammad.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Aku bersumpah dengan apa-apa yang kalian lihat dan tidak kalian lihat berupa alam gaib, sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (wahyu) dari Allah yang disampaikan melalui seorang rasul yang mempunyai kedudukan tinggi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka) huruf laa di sini adalah huruf zaidah (Aku bersumpah dengan apa yang kalian lihat) makhluk-makhluk yang kalian lihat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah kepada makhluk-Nya dengan menyebut segala sesuatu yang disaksikan oleh mereka, yaitu tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada semua makhluk-Nya, yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dalam asma-asma dan sifat-sifat-Nya.
Dia juga bersumpah kepada mereka dengan menyebut semua perkara gaib yang tidak dapat dilihat oleh mereka, bahwa sesungguhnya AL-Qur’an ini adalah kalam-Nya dan wahyu-Nya yang diturunkan-Nya kepada hamba dan rasul-Nya yang telah Dia pilih untuk menyampaikan risalah dan menunaikan amanat-Nya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Maka Aku, bersumpah dengan apa yang kamu lihat.
Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.
Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 38-40)

Yakni Nabi Muhammad ﷺ, lalu di-mudaf-kan kepadanya dengan mengandung makna tablig (menyampaikan), karena sesungguhnya tugas rasul itu ialah menyampaikan apa yang dititipkan kepadanya.
Untuk itulah maka di-mudaf-kan pula makna ini kepada malaikat yang dipercaya untuk menyampaikannya, sebagaimana yang terdapat di dalam surat At-Takwir, yaitu:

Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah yang mempunyai ‘Arasy yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
(Q.S. At-Takwir [81]: 19-21)

Yang ini adalah malaikat yang menyampaikannya dari Allah kepada Nabi ﷺ yaitu Jibril ‘alaihis salam Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.
(Q.S. At-Takwir [81]: 22)

Yaitu temanmu Muhammad ﷺ

Dan sesungguhnya Muhammad itu meIihat Jibril di ufuk yang terang.
(Q.S. At-Takwir [81]: 23)

Yakni Nabi Muhammad ﷺ melihat rupa asli Malaikat Jibril ‘alaihis salam

Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib.
(Q.S. At-Takwir [81]: 24)

Maksudnya, dia bukanlah orang yang menerka-nerka yang gaib.

Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.
(Q.S. At-Takwir [81]: 25)

Maka demikian pula yang disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya:

Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
Dan bukan pula perkataan tukang tenung.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 41-42)

Terkadang Allah meng-idafah-kan kepada malaikat yang diutus-Nya, terkadang meng-idafah-kannya (mengaitkan Al-Qur’an) kepada manusia yang diutus-Nya, karena masing-masing dari keduanya bertugas menyampaikan wahyu dan kalam-Nya yang dipercayakan kepadanya.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 43)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Syuraih ibnu Ubaid yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab pernah mengatakan bahwa sebelum masuk Islam, ia pernah keluar untuk menghadang Rasulullah ﷺ Ternyata ia menjumpai beliau telah mendahuluinya berada di masjid.
Lalu ia berdiri di belakang beliau, maka beliau membaca surat Al-Haqqah, dan ia merasa kagum dengan susunan kata-kata Al-Qur’an.
Ia berkata dalam hatinya, “Dia, demi Allah, adalah seorang penyair seperti yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy.” Maka beliau membaca firman-Nya: Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 40-41); Kemudian aku (Umar) berkata, “Dia adalah seorang tukang tenung.” Maka Nabi ﷺ membaca firman selanjutnya: Dan bukan pula perkataan tukang tenung.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.
Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.
(Q.S. Al-Haqqah [69]: 42-47), hingga akhir surat.

Selanjutnya Umar mengatakan bahwa lalu sejak saat itu Islam mulai meresap dan menimbulkan kesan yang mendalam di dalam hatiku.
Ini merupakan salah satu dari penyebab yang dijadikan oleh Allah untuk memberikan hidayah kepada Umar ibnul Khattab.
Sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam karya tulis yang terpisah mengenai Sirah perjalanan hidupnya, yang di dalamnya dijelaskan bagaimana keadaannya ketika mula-mula masuk Islam.


Informasi Surah Al Haaqqah (الحآقة)
Surat ini terdiri atas 52 ayat, termasuk surat-surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat Al Mulk.

Nama Al Haaqqah” diambil dari kata “Al Haaqqah” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya “‘hari kiamat”.

Keimanan:

Peringatan tentang azab yang ditimpakan kepada kaum-kaum Tsamud, ‘Aad, Fir’aun, kaum Nuh dan kaum-kaum sebelum mereka yang mengingkari rasul-rasul mereka pada hari kiamat
kejadian-kejadian pada hari kiamat dan hari berhisab
penegasan Allah bahwa Al Qur’an itu benar-benar wahyu Allah.

Ayat-ayat dalam Surah Al Haaqqah (52 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Haaqqah (69) ayat 38 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Haaqqah (69) ayat 38 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Haaqqah (69) ayat 38 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Haqqah (69) ayat 1-52 - Nalendra Wiryawan (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Haqqah (69) ayat 1-52 - Nalendra Wiryawan (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Haaqqah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 52 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 69:38
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Haaqqah.

Surah Al-Haqqah (bahasa Arab:الحآقّة, "Hari Kiamat") adalah surah ke-69 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 52 ayat.
Dinamakan Al Haaqqah yang berarti hari kiamat diambil dari perkataan Al-Haaqqah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 69
Nama Surah Al Haaqqah
Arab الحآقة
Arti Hari kiamat
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 78
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 52
Jumlah kata 261
Jumlah huruf 1133
Surah sebelumnya Surah Al-Qalam
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’arij
4.6
Ratingmu: 4.2 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta