QS. Al Ghaasyiyah (Hari Pembalasan) – surah 88 ayat 17 [QS. 88:17]

اَفَلَا یَنۡظُرُوۡنَ اِلَی الۡاِبِلِ کَیۡفَ خُلِقَتۡ
Afalaa yanzhuruuna ila-ibili kaifa khuliqat;

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,
―QS. 88:17
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
88:17, 88 17, 88-17, Al Ghaasyiyah 17, AlGhaasyiyah 17, Al Gasiyah 17, Al Ghasyiyah 17, Al-Ghasyiyah 17

Tafsir surah Al Ghaasyiyah (88) ayat 17

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ghaasyiyah (88) : 17. Oleh Kementrian Agama RI

Tafsir Ayat 17-20:
Dalam ayat-ayat ini, Allah mempertanyakan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta, yang ada di depan mata mereka dan dipergunakan setiap waktu, diciptakan.
Bagaimana pula langit yang berada di tempat yang tinggi tanpa tiang; bagaimana gunung-gunung dipancangkan dengan kukuh, tidak bergoyang dan dijadikan petunjuk bagi orang yang dalam perjalanan.
Di atasnya terdapat danau dan mata air yang dapat dipergunakan untuk keperluan manusia, mengairi tumbuh-tumbuhan, dan memberi minum binatang ternak.
Bagaimana pula bumi dihamparkan sebagai tempat tinggal bagi manusia.
Apabila mereka telah memperhatikan semua itu dengan seksama, tentu mereka akan mengakui bahwa penciptanya dapat membangkitkan manusia kembali pada hari Kiamat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka apakah mereka tetap meremehkan dan tidak mau merenungi bukti-bukti, sehingga mereka tidak memperhatikan unta:
bagaimana dia diciptakan dengan penciptaan yang begitu indah yang menunjukan kekuasaan Allah?[1].

[1] Dalam penciptaan unta terdapat mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk kita renungkan.
Dari bentuk lahirnya, seperti kita ketahui, unta benar-benar memiliki potensi untuk menjadi kendaraan di wilayah gurun pasir.
Matanya terletak pada bagian kepala yang agak tinggi dan agak ke belakang, ditambah dengan dua lapis bulu mata yang melindunginya dari pasir dan kotoran.
Begitu pula dengan kedua lubang hidung dan telinga yang dikelilingi dengan rambut untuk maksud yang sama.
Maka apabila badai pasir bertiup kencang, kedua lubang hidung itu akan tertutup dan kedua telinganya akan melipat ke tubuhnya, meski bentuknya kecil dan hampir tak terlihat.
Sedangkan kakinya yang panjang adalah untuk membantu mempercepat geraknya, seimbang dengan lehernya yang panjang pula.
Telapak kakinya yang sangat lebar seperti sepatu berguna untuk memudahkannya dalam berjalan di atas pasir yang lembut.
Unta juga mempunyai daging tebal di bawah dadanya dan bantalan-bantalan pada persendian kakinya yang memungkinkannya untuk duduk di atas tanah yang keras dan panas.
Pada sisi-sisi ekornya yang panjang terdapat bulu yang melindungi bagian-bagian belakang yang lembut dari segala macam kotoran.
Sedang kemampuan kerja unta terlihat lebih istimewa lagi.
Pada musim dingin, unta tidak membutuhkan air.
Bahkan unta dapat bertahan tanpa minum air selama dua bulan berturut-turut, apabila makanan yang dimakannya segar dan berair, dan selama dua minggu berturut-turut apabila makanannya kering.
Unta juga dapat menahan rasa haus saat terik musim panas selama satu atau dua minggu.
Pada saat seperti itu, dia akan kehilangan lebih dari sepertiga berat badannya.
Kemudian bila menemukan air, unta segera meminumya dalam jumlah yang sangat banyak untuk mengembalikan berat badannya semula dalam waktu beberapa menit saja.
Air yang diminum unta tidak disimpan di lambungnya, sebagaimana diduga orang banyak, melainkan di sela-sela badannya.
Air itu digunakannya dengan sangat hemat.
Maka dari itu, unta sama sekali tidak pernah terengah-engah, tidak pernah bernafas dengan mulutnya, dan tidak mengeluarkan keringat dari kulitnya, kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit.
Hal ini disebabkan oleh suhu tubuhnya sangat yang rendah pada pagi hari, kemudian mulai meninggi secara perlahan-lahan lebih dari enam derajat sebelum dia perlu mengeluarkan keringat untuk menyegarkan dan menurunkan suhu badannya kembali.
Meski kehilangan air dalam jumlah yang sangat banyak setelah mengalami kehausan yang sangat panjang, tekanan darah unta sama sekali tidak terpengaruh kecuali dalam batas-batas tertentu saja.
Maka dari itu, unta tidak akan mati arena kehausan dan dahaga.
Lebih dari itu, melalui ilmu pengetahuan mtakhir telah ditemukan pula bahwa lemak yang terdapat di punuk unta merupakan tempat menyimpan kekuatannya yang dapat menjaganya dari rasa lapar.
Namun demikian, lemak itu tidak banyak memberikan manfaat untuk penyimpanan air yang cukup bagi tubuhnya.
Setiap kali dilakukan penelitian pada hewan ini oleh para ahli, selalu ditemukan kebenaran perintah Allah agar kita memperhatikan ciptaan-Nya yang mengandung mukjizat itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka apakah mereka tidak memperhatikan) dengan perhatian yang dibarengi keinginan mengambil pelajaran, yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah (unta bagaimana dia diciptakan?)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

(17-26) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan makhluk-makhluk-Nya yang menunjukkan akan kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?
(Al-Ghasyiyah: 17)

Karena sesungguhnya unta itu hewan yang menakjubkan dan bentuknya aneh.
Ia sangat kuat dan keras, tetapi sekalipun demikian ia jinak untuk angkutan yang berat dan tunduk pada penuntun (pengendali) yang lemah.
Dagingnya dapat dimakan, bulunya dapat dimanfaatkan, dan air susunya dapat diminum.
Disebutkan unta secara khusus karena kebanyakan orang-orang Arab memakai unta sebagai hewan kendaraan.

Disebutkan bahwa Syuraih Al-Qadi pernah mengatakan, “Marilah kita keluar untuk melihat unta bagaimana ia diciptakan, dan bagaimana langit ditinggikan.
Yakni bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala meninggikannya dari bumi dengan ketinggian yang tak terperikan ini,” sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?
(Qaaf:6)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
(Al-Ghasyiyah: 19)

Yakni dijadikan tegak dan berdiri kokoh untuk menjadi penyeimbang agar bumi diam dan tidak mengguncangkan para penduduknya, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan padanya banyak manfaat dan bahan-bahan mineral yang terkandung di dalamnya.

Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
(Al-Ghasyiyah: 20)

Yaitu dihamparkan, digelarkan, dan dijadikan sebagai tempat yang layak untuk dihuni.
Dan seorang Badui (kampung) dengan kecerdikan akalnya dapat menyimpulkan melalui pemandangan yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, yaitu unta kendaraannya, langit yang ada di atasnya, gunung-gunung yang terpampang di hadapannya, dan bumi yang menjadi tempat berpijaknya, bahwa terciptanya semuanya itu berkat kekuasaan Penciptanya.
Dia tiada lain adalah Tuhan Yang Mahabesar, Yang Maha Pencipta, Yang Menguasai, dan Yang mengatur semuanya.
Dan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.

Demikian pula Damam mengucapkan sumpahnya setelah mengajukan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnul Mugirah dan Sabit, dari Anas yang telah mengatakan bahwa dahulu kami dilarang mengajukan pertanyaan mengenai sesuatu masalah kepada Rasulullah ﷺ Maka kala itu kami sangat senang bila datang seorang lelaki Badui yang cerdas, lalu menanyakan kepada Rasulullah ﷺ beberapa masalah, maka kami mendengarkannya.
Kemudian datanglah seorang lelaki Badui, lalu bertanya, “Wahai Muhammad, sesungguhnya telah datang kepada kami utusanmu dan mengatakan kepada kami bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah?”
Nabi ﷺ menjawab “Benar.” Maka lelaki Badui itu bertanya, “Lalu siapakah yang menciptakan langit?”
Nabi ﷺ menjawab, “Allah.” Lelaki itu bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”
Nabi ﷺ menjawab, “Allah.” Lelaki itu bertanya, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan yang menciptakan segala sesuatu yang ada padanya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Allah.” Lelaki Badui itu bertanya, “Maka demi Tuhan Yang telah menciptakan langit, bumi, dan Yang telah memancangkan gunung-gunung ini, apakah benar Allah telah mengutusmu?”
Nabi ﷺ menjawab, “Benar.” Lelaki itu bertanya, “Utusanmu mengira bahwa diwajibkan atas kami mengerjakan salat lima waktu setiap harinya?”
Nabi ﷺ Menjawab, ”Benar.” Lelaki itu bertanya, “Maka demi Tuhan Yang telah mengutusmu, apakah Allah telah memerintahkan demikian kepadamu?”
Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Lelaki itu bertanya, “Dan utusanmu mengira bahwa kami diwajibkan membayar zakat harta benda kami?”
Nabi ﷺ manjawab, “Benar.” Lelaki itu bertanya, “Maka demi Tuhan Yang telah mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkan demikian kepadamu?”
Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Lelaki Badui itu bertanya, “Dan utusanmu mengira bahwa diwajibkan atas kami berhaji ke Baitullah bagi yang mampu mengadakan perjalanannya?”
Nabi ﷺ menjawab, “Benar.” Kemudian lelaki Badui itu pergi dan berkata, “Demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak akan menambahi sesuatu pun dari hal tersebut dan tidak pula menguranginya barang sedikit pun.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Jika dia benar, niscaya dia masuk surga.

Imam Muslim telah meriwayatkan hadis ini dari Amr An-Naqid, dari Abun Nadr alias Hasyim ibnul Qasim dengan sanad yang sama, dan Imam Bukhari memberinya komentar.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Sulaiman ibnul Mugirah dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui Al-Lais ibnu Sa’d, dari Sa’id Al-Maqbari, dari Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu Namir, dari Anas dengan sanad yang sama secara panjang lebar.
Dan di akhir hadisnya disebutkan bahwa telah menceritakannya kepadaku Dammam ibnu Sa’labah saudara lelaki Bani Sa’id ibnu Bakr.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ sering menceritakan tentang seorang wanita yang hidup di masa Jahiliah yang berada di atas sebuah bukit bersama anak laki-lakinya sedang menggembalakan ternak kambing.
Maka anaknya bertanya “Hai Ibu, siapakah yang telah menciptakan engkau?”
Ibunya menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan ayahku?”
Si ibu menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan diriku?”
Si ibu menjawab, “Allah.” Si anak bertanya, “Siapakah yang menciptakan langit?”
Si ibu menjawab, “Allah.” Si anak bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”
Si ibu menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan gunung?”
Si ibu menjawab, “Allah.” Ia bertanya, “Siapakah yang menciptakan kambing ini?”
Si ibu menjawab, “Allah.” Maka si anak berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar mendengar Allah mempunyai kedudukan yang penting di atas segalanya,” lalu ia menjatuhkan dirinya dari atas gunung itu sehingga tubuhnya hancur.
Ibnu Umar mengatakan, “Rasulullah ﷺ sering menceritakan kisah ini kepada kami.” Ibnu Dinar mengatakan bahwa Abdullah ibnu Umar sering menceritakan kisah ini kepada kami.
Tetapi di dalam sanad hadis ini terdapat kelemahan.
Abdullah ibnu Ja’far yang disebutkan dalam sanad hadis ini adalah Al-Madini, seorang yang dinilai lemah oleh putranya sendiri (yaitu Imam Ali ibnul Madini) dan juga oleh yang lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka berilah peringatan.
karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.
(Al-Ghasyiyah.
21-22)

Hai Muhammad, berilah manusia peringatan dengan apa yang engkau diutus kepada mereka untuk menyampaikannya.
Dalam ayat lain disebutkan:

sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka.
(Ar Ra’du:40)

Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.
(Al-Ghasyiyah: 22)

Ibnu Abbas dan Mujahid serta selain keduanya mengatakan bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.
(Qaaf:45)

Yakni kamu bukanlah orang yang dapat menciptakan iman di dalam hati mereka.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna ayat ialah kamu bukanlah seorang yang dapat memaksakan mereka untuk beriman.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mau mengucapkan, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah.” Maka apabila mereka mau mengucapkannya, berarti mereka memelihara darah dan hartanya dariku, kecuali berdasarkan alasan yang hak, sedangkan hisab (perhitungan) mereka ada pada Allah subhanahu wa ta’ala Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.
(Al-Ghasyiyah: 21-22)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Kitabul Iman dan Imam Turmuzi serta Imam Nasai di dalam kitab tafsir dari kitab sunan masing-masing dari keduanya, melalui Sufyan ibnu Sa’id As-Sauri dengan sanad yang sama dan dengan tambahan penyebutan ayat.
Dan hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Abu Hurairah tanpa tambahan penyebutan ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tetapi orang yang berpaling dan kafir.
(Al-Ghasyiyah: 23)

Yaitu berpaling, tidak mau mengamalkan rukun-rukunnya, kafir hatinya dan juga lisannya terhadap perkara yang hak.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dia tidak mau membenarkan (Rasul dan AL-Qur’an) dan tidak man mengerjakan salat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran).
(Al Qiyaamah:31-32)

Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.
(Al-Ghasyiyah: 24)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Sa’id ibnu Abu Hilal, dari Ali ibnu Khalid, bahwa Abu Umamah Al-Bahili bersua dengan Khalid ibnu Yazid ibnu Mu’awiyah, maka Khalid bertanya kepadanya tentang kalimat yang paling lembut yang pernah ia dengar dari Rasulullah ﷺ Abu Umamah menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Ingatlah, kamu semuanya masuk surga kecuali orang yang membangkang terhadap Allah, seperti unta yang membangkang terhadap pemiliknya.

Imam Ahmad mengetengahkan hadis ini secara tunggal.
Dan Ali ibnu Khalid ini disebutkan oleh Ibnu Abu Hatim menerima hadis ini dari ayahnya (yakni Khalid ibnu Mu’awiyah).
Dan Ibnu Abu Hatim tidak menambahkan selain dari apa yang telah ada di sini, yaitu diriwayatkan dari Abu Umamah dan Khalid ibnu Mu’awiyah oleh Sa’id ibnu Abu Hilal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka.
(Al-Ghasyiyah: 25)

Yakni kembali dan berpulangnya mereka.

kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.
(Al-Ghasyiyah: 26)

Kami akan melakukan perhitungan terhadap amal perbuatan yang telah mereka kerjakan, dan Kami akan membalaskannyakepada mereka, jika amalnya baik, maka balasannya baik, dan jika amalnya buruk, maka balasannya buruk pula.

Demikianlah akhir tafsir surat Al-Ghasyiyah dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah atas segala karunia-Nya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ghaasyiyah (88) Ayat 17

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika Allah melukiskan cirri-ciri syurga, kaum-kaum yang sesat merasa heran.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Ghasyiyah: 17) sebagai perintah untuk memikirkan keluhuran dan keajaiban ciptaan Allah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Ghaasyiyah (الغاشية)
Surat ini terdiri atas 26 ayat, termasuk surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Adz Dzaariat.

Nama “Ghaasyiyah” diambil dari kata “Al Ghaasyiyah” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya peristiwa yang dahsyat, tapi yang dimaksud adalah hari kiamat.

Surat ini adalah surat yang kerap kali dibaca Nabi pada raka’at kedua pada shalat hari-hari Raya dan shalat Jum’at.

Keimanan:

Keterangan tentang orang-orang kafir pada hari kiamat dan azab yang dijatuhkan atas mereka
keterangan tentang orang-orang yang beriman serta keadaan surga yang diberikan kepada mereka sebagai balasan
perintah untuk memperhatikan keajaiban ciptaan-ciptaan Allah
perintah kepada Rasulullah ﷺ untuk memperingatkan kaumnya kepada ayat-ayat Allah karena beliau adalah seorang pemberi peringatan, dan bukanlah seorang yang berkuasa atas keimanan mereka.

Lain-lain:

Keterangan tentang orang-orang kafir pada hari kiamat dan azab yang dijatuhkan atas mereka
keterangan tentang orang-orang yang beriman serta keadaan surga yang diberikan kepada mereka sebagai balasan
perintah untuk memperhatikan keajaiban ciptaan-ciptaan Allah
perintah kepada Rasulullah ﷺ untuk memperingatkan kaumnya kepada ayat-ayat Allah karena beliau adalah seorang pemberi peringatan, dan bukanlah seorang yang berkuasa atas keimanan mereka.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ghaasyiyah (26 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ghaasyiyah (88) ayat 17 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ghaasyiyah (88) ayat 17 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ghaasyiyah (88) ayat 17 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Ghasyiyah (88) ayat 1-26 - Revi Adelia (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Ghasyiyah (88) ayat 1-26 - Revi Adelia (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ghaasyiyah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 26 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 88:17
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ghaasyiyah.

Surah Al-Ghasyiyah (bahasa Arab:الغاشية, al-Ġhāšiyäh, "Hari Pembalasan") adalah surah ke-88 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 26 ayat.
Dinamakan Al-Ghasyiyah yang berarti Hari Pembalasan diambil dari kata al-Ghasyiyah yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan "Hari Pembalasan" dalam surah ini adalah Hari Penghakiman.

Nomor Surah88
Nama SurahAl Ghaasyiyah
Arabالغاشية
ArtiHari Pembalasan
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu68
JuzJuz 30
Jumlah ruku'1 ruku'
Jumlah ayat26
Jumlah kata92
Jumlah huruf382
Surah sebelumnyaSurah Al-A’la
Surah selanjutnyaSurah Al-Fajr
4.5
Ratingmu: 4.9 (13 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al-ghasyiyah (88) 17-20

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta