Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Furqaan

Al Furqaan (Pembeda) surah 25 ayat 67


وَ الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَنۡفَقُوۡا لَمۡ یُسۡرِفُوۡا وَ لَمۡ یَقۡتُرُوۡا وَ کَانَ بَیۡنَ ذٰلِکَ قَوَامًا
Waal-ladziina idzaa anfaquu lam yusrifuu walam yaqturuu wakaana baina dzalika qawaaman;

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
―QS. 25:67
Topik ▪ Iman ▪ Sifat-sifat orang mukmin ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
25:67, 25 67, 25-67, Al Furqaan 67, AlFurqaan 67, Al Furqan 67, AlFurqan 67, Al-Furqan 67
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Furqaan (25) : 67. Oleh Kementrian Agama RI

Kelima:
"Mereka dalam menafkahkan harta tidak boros dan tidak pula kikir, tetapi tetap memelihara keseimbangan antara kedua sifat yang buruk itu.
Sifat boros pasti akan membawa kemusnahan harta benda dan kerusakan masyarakat.
Seseorang yang boros walaupun kebutuhan pribadi dan keluarganya telah terpenuhi dengan hidup secara mewah, dia tetap akan menghambur-hamburkan kekayaannya dengan cara yang lain yang merusak, seperti main judi, main perempuan dan minum-minuman keras, dan lain sebagainya.
Dengan demikian dia merusak dirinya sendiri, dan merusak masyarakat sekelilingnya padahal kekayaan yang dititipkan Allah kepadanya harus dipeliharanya sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya dan untuk masyarakatnya.
Sifat kikir dan bakhilpun akan membawa kepada kerugian dan kerusakan, karena seseorang yang bakhil selalu berusaha menumpuk kekayaan walaupun dia sendiri hidup sebagai seorang miskin dan dia tidak mau mengeluarkan uangnya untuk kepentingan masyarakatnya.
Sedang untuk kepentingan dirinya dan keluarganya dia merasa segan mengeluarkan uang apalagi untuk kepentingan orang lain.
Dengan demikian akan tertumpuklah kekayaan itu pada diri orang seorang atau beberapa gelintir manusia yang serakah dan tamak.
Orang yang seperti ini sifatnya diancam Allah dengan api neraka sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah.
(Q.S.
Al Humazah: 1-4)

Demikianlah sifat orang mukmin dalam bernafkah, dia tidak bersifat boros sehingga tidak memikirkan hari esok dan tidak pula bersifat kikir sehingga menyiksa dirinya sendiri karena hendak mengumpulkan kekayaan.
Keseimbangan antara kedua macam sifat yang tercela itulah yang selalu dipelihara dan dijaganya.
Kalau dia seorang kaya dia dapat membantu masyarakatnya sesuai dengan kekayaannya, dan kalau dia miskin dia dapat menguasai dirinya dengan hidup secara sederhana.
Yazid bin Abi Habib berkata: Demikianlah sifat para sahabat Nabi Muhammad ﷺ.
Mereka bukan makan untuk bermewah-mewah menikmati yang enak-enak, mereka berpakaian bukan untuk bermegah-megah dengan keindahan.
Tetapi mereka makan sekadar untuk menutup rasa lapar dan untuk menguatkan jasmani karena hendak beribadat melaksanakan perintah Tuhan.
Mereka berpakaian sekadar untuk menutup aurat dan memelihara tubuh mereka terhadap angin dan panas.
Abdul Malik bin Marwan di waktu dia mengawinkan Fatimah dengan Umar bin Abdul Aziz bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau memberi nafkah kepada anakku?"
Umar menjawab: "Aku memilih yang baik di antara dua sifat yang buruk".
(maksudnya sifat yang baik di antara dua sifat yang buruk yaitu boros dan kikir).
Kemudian dia membacakan ayat ini.

Al Furqaan (25) ayat 67 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Furqaan (25) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Furqaan (25) ayat 67 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Keempat, di antara tanda-tanda hamba Tuhan Yang Maha Penyayang adalah bersikap sederhana dalam membelanjakan harta, baik untuk diri mereka maupun keluarga.
Mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir dalam pembelanjaan itu, tetapi di tengah-tengah keduanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang apabila membelanjakan) hartanya kepada anak-anak mereka (mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir) dapat dibaca Yaqturuu dan Yuqtiruu, artinya tidak mempersempit perbelanjaannya (dan adalah) nafkah mereka (di antara yang demikian itu) di antara berlebih-lebihan dan kikir (mengambil jalan pertengahan) yakni tengah-tengah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan orang-orang yang apabila menginfakkan hartanya, maka mereka tidak melampaui batas dalam memberi dan tidak pula mempersempit nafkah.
Infak mereka selalu tengah-tengah antara terlalu boros dan terlalu kikir.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir.
(Al Furqaan:67)

Yakni mereka tidak menghambur-hamburkan hartanya dalam berinfak lebih dari apa yang diperlukan, tidak pula kikir terhadap keluarganya yang berakibat mengurangi hak keluarga dan kebutuhan keluarga tidak tercukupi.
Tetapi mereka membelanjakan hartanya dengan pembelanjaan yang seimbang dan selektif serta pertengahan.
Sebaik-baik perkara ialah yang dilakukan secara pertengahan, yakni tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir.

dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
(Al Furqaan:67)

Seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.
(Al Israa':29), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isham ibnu Khalid, telah menceritakan kepadaku Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Abu Tamim Al-Gassani, dari Damrah, dari Abu Darda, dari Nabi ﷺ yang telah mengatakan: Seorang lelaki yang bijak ialah yang berlaku ekonomis dalam penghidupannya.

Akan tetapi, mereka (Ahlus Sunan) tidak ada yang mengetengahkannya.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah Al-Haddad, telah menceritakan kepada kami Miskin ibnu Abdul Aziz Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Hijri, dari Abul Ahwas, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Seseorang yang berlaku ekonomis tidak akan miskin.

Mereka (Ahlus Sunan) tidak ada yang mengetengahkan hadis ini.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami Sa'd ibnu Hakim, dari Muslim ibnu Habib, dari Bilal Al-Absi, dari Huzaifah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Betapa baiknya sikap ekonomis dalam keadaan berkecukupan, dan betapa baiknya sikap ekonomis dalam keadaan fakir, dan betapa baiknya sikap ekonomis (pertengahan) dalam (hal) ibadah.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hadis ini melainkan hanya melalui hadis Huzaifah r.a.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa membelanjakan harta dijalan Allah tidak ada batas berlebih-lebihan.
Iyas ibnu Mu'awiyah mengatakan bahwa hal yang melampaui perintah Allah adalah perbuatan berlebih-lebihan.
Selain dia mengatakan bahwa berlebih-lebihan dalam membelanja­kan harta itu bila digunakan untuk berbuat durhaka kepada Allah subhanahu wa ta'ala:

Informasi Surah Al Furqaan (الفرقان)
Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Fur­qaan" yang artinya "pembeda",
diambil dari kata "Al Furqaan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan Al Furqaan dalam ayat ini ialah Al Qur'an.
Al Qur'an dinamakan Al Furqaan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Keimanan:

Allah Maha Besar berkah dan kebaikan-Nya
hanya Allah saja yang menguasai langit dan bumi
Allah tidak punya anak dan sekutu
Al Qur'an benar-benar diturun­kan dari Allah
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
Allah bersemayam di atas Arsy
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah yang diutus ke seluruh alam
rasul­-rasul itu adalah manusia biasa yang mendapat wahyu dari Allah
pada hari kiamat akan terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa seperti belahnya langit, turunnya malai­kat ke bumi
orang-orang berdosa dihalau ke neraka dengan berjalan atas muka mereka.

Hukum:

Tidak boleh mengabaikan Al Qur'an
larangan menafkahkan harta secara boros atau kikir
larangan membunuh atau berzina
kewajiban memberantas kekafiran dengan mempergunakan alasan Al Qur'an
larangan memberikan persaksian palsu.

Kisah:

Kisah-kisah Musa a.s, Nuh a.s.
kaum Tsamud dan kaum Syu 'aib.

Lain-lain:

Celaan-celaan orang-orang kafir terhadap Al Qur'an
kejadian-kejadian alamiyah sebagai bukti ke-esaan dan kekuasaan Allah
hikmah Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur
sifat-sifat orang musyrik antara lain mempertuhankan hawa nafsu,tidak mempergunakan akal
sifat-sifat hamba Allah yang sebenamya.


Gambar Kutipan Surah Al Furqaan Ayat 67 *beta

Surah Al Furqaan Ayat 67



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Furqaan

Surah Al-Furqan (Arab: الفرقان ,"Pembeda") adalah surah ke-25 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 77 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Furqan yang artinya pembeda, diambil dari kata al-Furqan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Quran (lihat nama lain Al-Qur'an).
Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah s.w.t.
dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Nomor Surah25
Nama SurahAl Furqaan
Arabالفرقان
ArtiPembeda
Nama lainTabaraka
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu42
JuzJuz 18 (1-20) sampai juz 19 (21-77)
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat77
Jumlah kata896
Jumlah huruf3876
Surah sebelumnyaSurah An-Nur
Surah selanjutnyaSurah Asy-Syu'ara'
4.9
Rating Pembaca: 3 (1 vote)
Sending







✔ Arti Al Quran Al Furqon25:67, alfurqan 67, arti surat al furqan ayat 67