Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Furqaan

Al Furqaan (Pembeda) surah 25 ayat 63


وَ عِبَادُ الرَّحۡمٰنِ الَّذِیۡنَ یَمۡشُوۡنَ عَلَی الۡاَرۡضِ ہَوۡنًا وَّ اِذَا خَاطَبَہُمُ الۡجٰہِلُوۡنَ قَالُوۡا سَلٰمًا
Wa’ibaadur-rahmanil-ladziina yamsyuuna ‘alal ardhi haunan wa-idzaa khaathabahumul jaahiluuna qaaluuu salaaman;

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
―QS. 25:63
Topik ▪ Iman ▪ Iman adalah ucapan dan perbuatan ▪ Perintah untuk berfikir dan menghayati
25:63, 25 63, 25-63, Al Furqaan 63, AlFurqaan 63, Al Furqan 63, AlFurqan 63, Al-Furqan 63
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Furqaan (25) : 63. Oleh Kementrian Agama RI

Pertama:
Apabila mereka berjalan di muka bumi, terlihat sikap dan sifat kesederhanaan, jauh dari sifat kesombongan, langkahnya tetap dan teratur tidak dibuat-buat karena hendak menarik perhatian orang dan menunjukkan siapa dia.
Ada orang yang mengatakan bahwa maksud ayat ini ialah supaya seorang mukmin apabila ia berjalan hendaklah menekurkan kepala, bersikap seperti orang yang lemah lunglai tak berdaya dan tak bertenaga, berjalan pelan-pelan karena menyangka sikap yang demikian itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang saleh dan takwa.
Paham yang serupa ini bertentangan dengan yang dipraktekkan oleh Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ apabila ia berjalan maka langkahnya panjang-panjang dan beliau adalah orang yang paling cepat jalannya melangkah dengan tegap dan tenang.
Abu Hurairah berkata:

"Saya tak pernah melihat sesuatu yang lebih cantik dari dia" "Wajahnya seolah-olah seperti matahari atau bulan yaitu bulat" "Bila berjalan seakan-akan beliau seperti turun dan anak tangga

Demikian sifat dan sikap seorang mukmin bila ia berjalan bukan seperti sebagian pemuda yang sengaja melenggang melenggok senantiasa melenggang ke kiri dan ke kanan dan mengangkat dagunya memperlihatkan kesombongan dan kecongkakan seakan-akan tak ada orang yang lebih tampan dan gagah dari dia.

Kedua:
Apabila ada orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau tidak senonoh terhadap mereka, mereka tidak membalas dengan kata-kata yang tidak senonoh bahkan dibalas dan dijawab mereka dengan ucapan yang baik yang mengandung nasihat dan harapan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih Penyayang Demikianlah sikap Rasulullah ﷺ bila ia diserang dan dihina dengan kata-kata yang kasar, beliau tetap berlapang dada dan tetap menyantuni orang-orang yang tidak berbudi berakhlak itu.
Al Hasan Basri berkata tentang sifat orang-orang mukmin.
Mereka senantiasa lapang hati tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar.
Bila kepada mereka diucapkan kata-kata yang kurang sopan mereka tidak terpengaruh dan tidak membalas dengan kata-kata yang tidak sopan pula.
Mungkin ada orang yang menganggap bahwa sifat dan sikap seperti itu menunjukkan kelemahan dan tidak tahu harga diri, karena adalah wajar apabila orang yang bertindak kurang sopan dibalas dengan tindakan kurang sopan pula.
Tetapi bila direnungkan secara mendalam pastilah hal itu akan membawa pertengkaran dan perselisihan yang tidak akan habis-habisnya.
Setiap mukmin harus mencegah berlarut-larut perselisihan dan permusuhan, Salah satu cara yang paling tepat dan ampuh untuk membasminya ialah membalas tindakan yang tidak baik dengan tindakan yang baik sehingga orang yang melakukan tindakan yang tidak baik itu akan malu sendiri, dan sadar bahwa mereka telah terlanjur melakukan sesuatu yang tidak wajar.
Sikap seperti ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

(Q.S.
Fussilat: 34-35)

Demikianlah sifat dan sikap orang-orang mukmin di kala mereka berada di siang hari di mana mereka selalu ingat dengan sesama hamba Allah.
Bagaimana pula sikap dan sifat mereka di kala berhubungan dengan Tuhan Pencipta alam di kala malam hari?.

Al Furqaan (25) ayat 63 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Furqaan (25) ayat 63 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Furqaan (25) ayat 63 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah mereka yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, bersikap rendah hati di dunia ini.
Apabila berjalan di muka bumi, mereka selalu berjalan dengan tenang.
Demikian pula dalam segala amal perbuatan.
Jika mereka dicaci oleh orang-orang musyrik yang jahil, mereka membiarkannya dan mengatakan kepada mereka, "Kami tidak ada urusan dengan kalian, bahkan kami berdoa untuk keselamatan kalian."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah itu) yakni hamba-hamba-Nya yang baik.
Lafal ayat ini dan kalimat sesudahnya, berkedudukan menjadi Mubtada, yaitu sampai dengan firman-Nya, "Ulaika Yujzauna" dan seterusnya, tanpa ada jumlah lain yang menyisipinya (yaitu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati) dengan tenang dan rendah diri (dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka) mengajak mereka berbicara mengenai hal-hal yang tidak disukainya (mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan) perkataan yang menghindarkan diri mereka dari dosa.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hamba-hamba ar-Rahman yang shalih itu berjalan di atas bumi dengan tenang dan rendah hati.
Apabila orang-orang yang bodoh berbicara dengan mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, maka mereka menjawabnya dengan kata-kata yang baik.
Mereka mengucapkan dengan kata-kata yang mengandung keselamatan dari dosa.
Membalas orang yang bodoh dengan kebodohannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Berikut ini adalah sifat-sifat hamba-hamba Allah Yang beriman, yaitu:

orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.
(Al Furqaan:63)

Yaitu dengan langkah yang tenang dan anggun, tidak sombong, dan tidak angkuh.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong.
(Al Israa':37), hingga akhir ayat.

Cara jalan mereka tidak sombong, tidak angkuh, tidak jahat, dan tidak takabur.
Tetapi makna yang dimaksud bukanlah orang-orang mukmin itu berjalan dengan langkah seperti orang sakit, karena dibuat-buat dan pamer.
Karena sesungguhnya penghulu anak Adam (yakni Nabi ﷺ) apabila berjalan seakan-akan sedang turun dari tempat yang tinggi (yakni dengan langkah yang tepat) seakan-akan bumi melipatkan diri untuknya.

Sebagian ulama Salaf memakruhkan berjalan dengan langkah yang lemah dan dibuat-buat, sehingga diriwayatkan dari Umar bahwa ia melihat seorang pemuda berjalan pelan-pelan.
Maka ia bertanya, "Mengapa kamu berjalan pelan?
Apakah kamu sedang sakit?"
Pemuda itu menjawab, "Tidak, wahai Amirul Mu-minin." Maka Umar memukulnya dengan cambuk dan memerintahkan kepadanya agar berjalan dengan langkah yang kuat.

Makna yang dimaksud dengan haunan dalam ayat ini ialah rendah hati dan anggun, seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

Apabila kalian mendatangi (tempat) salat (masjid), janganlah ka­lian mendatanginya dengan berlari kecil, tetapi berjalanlah dengan langkah yang tenang.
Apa yang kalian jumpai dari salat itu, kerja­kanlah, dan apa yang kamu tertinggal darinya, maka sempurnakanlah.

Abdullah ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Umar ibnul Mukhtar, dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna finnan-Nya: Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah.
(Al Furqaan:63), hingga akhir ayat.
Bahwa orang-orang mukmin adalah orang-orang yang rendah hati demi Allah, pendengaran dan penglihatan serta semua anggota tubuh mereka menampilkan sikap yang rendah hati, sehingga orang yang jahil menduga mereka sebagai orang yang sakit, padahal mereka sama sekali tidak sakit.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sehat, tetapi hati mereka dipenuhi oleh rasa takut kepada Allah, tidak seperti selain mereka, dan mereka tidak menyukai dunia karena pengetahuan mereka tentang akhirat.
Maka mereka mengatakan dalam doanya, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami." Ingatlah, demi Allah, kesusahan mereka tidaklah seperti kesusahan manusia.
Tiada sesuatu pun yang menjadi dambaan mereka selain dari memohon surga.
Sesungguhnya mereka menangis karena takut terhadap neraka.
Sesungguhnya barang siapa yang tidak berbelasungkawa dengan belasungkawa Allah, maka jiwanya akan dicabut meninggalkan dunia dalam keadaan kecewa.
Dan barang siapa yang tidak melihat nikmat Allah selain hanya pada makanan atau minuman, maka sesungguhnya amalnya akan sedikit dan azabnya akan datang menimpanya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
(Al Furqaan:63)

Yaitu apabila orang-orang jahil menilai mereka sebagai orang-orang yang kurang akalnya yang diungkapkannya kepada mereka dengan kata-kata yang buruk, maka mereka tidak membalasnya dengan hal yang semisal, melainkan memaafkan, dan tidaklah mereka mengatakan perkataan kecuali yang baik-baik.
Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, semakin orang jahil bersikap keras, maka semakin pemaaf dan penyantun pula sikap beliau.
Dan seperti yang disebutkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat yang lain:

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya.
(Al-Qasas: 55)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, dari Al-A'masy, dari Abu Khalid Al-Walibi, dari An-Nu'man ibnu Muqarrin Al-Muzani yang mengatakan bahwa pada suatu hari ada seorang lelaki mencaci maki lelaki lainnya di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu orang yang dicaci mengatakan, "'Alaikas salam (semoga engkau selamat)." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Ingatlah, sesungguhnya ada malaikat di antara kamu berdua yang membelamu.
Setiap kali orang itu mencacimu, malaikat itu berkata, "Bahkan kamulah yang berhak, kamulah yang berhak dicaci.”Dan apabila kamu katakan kepadanya, " 'Alaikas salam," maka malaikat itu berkata, "Tidak, dia tidak berhak mendapatkannya, engkaulah yang berhak mendapatkannya.”

Sanad hadis berpredikat hasan, tetapi mereka tidak mengetengahkannya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
(Al Furqaan:63) Mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung petunjuk.

Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa mereka menjawab dengan kata-kata yang baik.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka mengatakan, "Salamun 'alaikum (semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian)."

Jika mereka dinilai sebagai orang yang kurang akalnya, maka mereka bersabar.
Mereka tetap bergaul dengan hamba-hamba Allah di siang harinya dan bersabar terhadap apa pun yang mereka dengar.
Kemudian disebutkan bahwa pada malam harinya mereka melakukan ibadah.

Informasi Surah Al Furqaan (الفرقان)
Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Fur­qaan" yang artinya "pembeda",
diambil dari kata "Al Furqaan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan Al Furqaan dalam ayat ini ialah Al Qur'an.
Al Qur'an dinamakan Al Furqaan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Keimanan:

Allah Maha Besar berkah dan kebaikan-Nya
hanya Allah saja yang menguasai langit dan bumi
Allah tidak punya anak dan sekutu
Al Qur'an benar-benar diturun­kan dari Allah
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
Allah bersemayam di atas Arsy
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah yang diutus ke seluruh alam
rasul­-rasul itu adalah manusia biasa yang mendapat wahyu dari Allah
pada hari kiamat akan terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa seperti belahnya langit, turunnya malai­kat ke bumi
orang-orang berdosa dihalau ke neraka dengan berjalan atas muka mereka.

Hukum:

Tidak boleh mengabaikan Al Qur'an
larangan menafkahkan harta secara boros atau kikir
larangan membunuh atau berzina
kewajiban memberantas kekafiran dengan mempergunakan alasan Al Qur'an
larangan memberikan persaksian palsu.

Kisah:

Kisah-kisah Musa a.s, Nuh a.s.
kaum Tsamud dan kaum Syu 'aib.

Lain-lain:

Celaan-celaan orang-orang kafir terhadap Al Qur'an
kejadian-kejadian alamiyah sebagai bukti ke-esaan dan kekuasaan Allah
hikmah Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur
sifat-sifat orang musyrik antara lain mempertuhankan hawa nafsu,tidak mempergunakan akal
sifat-sifat hamba Allah yang sebenamya.

QS 25 Al-Furqan (63-66) - Indonesian - Nina Azura
QS 25 Al-Furqan (63-66) - Arabic - Nina Azura


Gambar Kutipan Surah Al Furqaan Ayat 63 *beta

Surah Al Furqaan Ayat 63



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Furqaan

Surah Al-Furqan (Arab: الفرقان ,"Pembeda") adalah surah ke-25 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 77 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Furqan yang artinya pembeda, diambil dari kata al-Furqan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Quran (lihat nama lain Al-Qur'an).
Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah s.w.t.
dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Nomor Surah 25
Nama Surah Al Furqaan
Arab الفرقان
Arti Pembeda
Nama lain Tabaraka
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 42
Juz Juz 18 (1-20) sampai juz 19 (21-77)
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 77
Jumlah kata 896
Jumlah huruf 3876
Surah sebelumnya Surah An-Nur
Surah selanjutnya Surah Asy-Syu'ara'
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (13 votes)
Sending







✔ Q S Al-furqan/25:63, hadis Qs Al furqan /25;63, qs al furqan 25 63, surat al furgan 25 63

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku

Comments are closed.