QS. Al Furqaan (Pembeda) – surah 25 ayat 28 [QS. 25:28]

یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا
Yaa wailata laitanii lam attakhidz fulaanan khaliilaa;

Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku),
―QS. 25:28
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan ▪ Setiap nabi menerima ujian
25:28, 25 28, 25-28, Al Furqaan 28, AlFurqaan 28, Al Furqan 28, AlFurqan 28, Al-Furqan 28
English Translation - Sahih International
Oh, woe to me! I wish I had not taken that one as a friend.
―QS. 25:28

 

Tafsir surah Al Furqaan (25) ayat 28

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Furqaan (25) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Pada hari itu, orang-orang yang zalim akan menggigit jari mereka dengan penuh penyesalan karena telah melalaikan kewajiban-kewajibannya selama hidup di dunia.
Dengan sombong, mereka telah berpaling dari kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah kepada mereka.
Mereka menangis tersedu-sedu menyesali diri seandainya dulu ketika hidup di dunia mereka mengikuti ajakan Rasulullah kepada jalan yang lurus yang membawa keselamatan dunia dan akhirat.
Mereka berkata dengan penuh penyesalan,
“Seandainya aku di dunia dulu mengikuti Muhammad, bersama-sama beliau menuju jalan yang benar.
Andaikan aku dulu dapat menahan kesombongan sehingga dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam, niscaya aku tidak merasakan kesulitan ini.”
Hanya sayang penyesalan itu tidak berguna lagi.

Mereka menyesal karena keliru mencari kawan.
Ini kecelakaan dan kebinasaan yang besar.
“Seandainya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku, tentu dia tidak dapat menjerumuskan aku ke dalam kesesatan.”
Memang yang menjerumuskan manusia ke dalam kecelakaan dan kesesatan itu ada kalanya setan sendiri atau setan yang berbentuk manusia, seperti seorang musyrik Arab yang bernama Ubay bin Khalaf.

Persahabatan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith dengan Ubay bin Khalaf sangat berpengaruh baginya.
‘Uqbah bin Abi Mu’aith sering menghadiri pengajian Nabi Muhammad sehingga menjadi kenalan yang baik.
Pada suatu hari, ia mengundang Nabi Muhammad untuk makan di rumahnya.
Ketika itu, Nabi tidak mau makan kecuali jika ‘Uqbah bin Abi Mu’aith mau masuk Islam, lalu ‘Uqbah membaca dua kalimat syahadat.

Namun sahabat ‘Uqbah bin Abi Mu’aith yang bernama Ubay bin Khalaf tidak senang dan marah kepadanya.
‘Uqbah bin Abi Mu’aith lalu mengatakan bahwa ia masuk Islam hanya pura-pura saja.
Ubay bin Khalaf menyuruh agar ‘Uqbah bin Abi Mu’aith meludahi wajah Nabi Muhammad.
Hal itu lalu dilakukannya ketika beliau sedang melaksanakan salat di Dar an-Nadwah, dekat Baitullah.
‘Uqbah bin Abi Mu’aith mematuhi apa yang dikehendaki sahabatnya.
Demikianlah akibat persahabatan dengan orang yang tidak baik akan membawa akibat yang tidak baik pula.

Nabi Muhammad memberi pedoman agar selalu mencari sahabat atau teman akrab yang baik.
Sabda beliau:

Seseorang akan mengikuti perilaku temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu.
(Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Dan sabda Rasulullah ﷺ:

Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang jahat ialah seperti pembawa minyak kasturi dan pandai besi.
Pembawa minyak kasturi itu adakalanya kamu menerima atau membeli minyak daripadanya.
Dan paling sedikit kamu mendapatkan bau harum daripadanya.
Adapun pandai besi kadang-kadang ia membakar pakaianmu (karena semburan apinya) atau kamu menjumpai bau yang tidak sedap.”
(Riwayat asy-Syaikhan dari Abu Musa al-Asy’ari).