[wpdreams_ajaxsearchpro id=1]
Al Furqaan

Al Furqaan (Pembeda) surah 25 ayat 20


وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا قَبۡلَکَ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ اِلَّاۤ اِنَّہُمۡ لَیَاۡکُلُوۡنَ الطَّعَامَ وَ یَمۡشُوۡنَ فِی الۡاَسۡوَاقِ ؕ وَ جَعَلۡنَا بَعۡضَکُمۡ لِبَعۡضٍ فِتۡنَۃً ؕ اَتَصۡبِرُوۡنَ ۚ وَ کَانَ رَبُّکَ بَصِیۡرًا
Wamaa arsalnaa qablaka minal mursaliina ilaa innahum laya’kuluunath-tha’aama wayamsyuuna fiil aswaaqi waja’alnaa ba’dhakum liba’dhin fitnatan atashbiruuna wakaana rabbuka bashiiran;

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.
Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain.
Maukah kamu bersabar?, dan adalah Tuhanmu maha Melihat.
―QS. 25:20
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Pengukuhan kenabian dengan mukjizat
25:20, 25 20, 25-20, Al Furqaan 20, AlFurqaan 20, Al Furqan 20, AlFurqan 20, Al-Furqan 20
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Furqaan (25) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Sebagai hiburan bagi Nabi Muhammad, pada ayat ini Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad bahwa Rasul-rasul sebelumnya juga makan dan minum seperti dia.
Kecaman-kecaman orang kafir terhadap dirinya amat menyakitkan hati Muhammad, kecaman-kecaman itu bukan semata-mata kecaman saja, bahkan mengandung hinaan yang sangat merendahkan dirinya padahal dia adalah seorang Rasul yang dimuliakan Allah.
Maka untuk meringankan tekanan batin yang di derita Nabi Muhammad ﷺ yang disebabkan kecaman dan hinaan itu.
Allah menyatakan kepadanya bahwa Dia tidak mengutus seorang Rasul sebelumnya seperti yang dikehendaki oleh orang-orang kafir Mekah itu.

Semua Rasul yang diutusnya adalah manusia yang tidak bebas dari sifat-sifat manusiawinya, tetapi membutuhkan makanan dan minuman, tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan firman-Nya pada ayat-ayat yang lain.

Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.

(Q.S.
Al Anbiya: 7-8)

Jadi perbedaan antara manusia sebagai Rasul dan manusia umumnya terletak pada keutamaan pribadinya, ketinggian akhlaknya, kesucian hati dan keikhlasannya dalam menunaikan tugasnya, dan karena itu diturunkanlah wahyu Allah kepadanya dan dikuatkan pula dengan mukjizat-mukjizat yang tak dapat manusia menandinginya apalagi mengalahkannya.
Maka ejekan dan kecaman orang kafir itu amat jauh dari sasarannya.
tidak wajar dilontarkan kepada Nabi Muhammad.
Kalau mereka benar-benar hendak membatalkan kebenaran yang dibawanya bukanlah dengan kecaman seperti itu yang harus mereka kemukakan.
Mereka telah ditentang untuk menandingi mukjizat yang diberikan Allah kepadanya yaitu membuat satu surat pendek saja yang serupa nilainya dengan surat pendek dari Alquran.
Tetapi mereka tidak berdaya dan tak sanggup membuatnya walaupun mereka sudah termasuk golongan orang yang pintar-pintar dan tinggi sastranya.
Hanya rasa benci dan dengki telah menggelapkan hati nurani mereka dan rasa takut akan kehilangan pengaruh dan kedudukan telah meluapkan amarah mereka.
karena itu mereka tetap menantang walaupun dalam hati mereka telah menyadari kekhilapan mereka.

Kemudian Allah menjelaskan pula bahwa manusia diuji dengan berbagai macam ujian.
Terserahlah kepada masing-masing manusia apakah dia akan tabah dan sabar menghadapi ujian itu ataukah dia akan berpaling dari kebenaran karena tidak tahan menanggung amarah dan rasa dengki di dalam hatinya.
Allah menjadikan sebagian manusia sebagai Nabi dan Rasul, pembawa risalah Tuhan-Nya, sebagian lain dijadikan-Nya raja dan penguasa yang berkuasa atas manusia lainnya, sebagian lagi dijadikan-Nya kaya dan kuat, miskin dan lemah dan demikianlah seterusnya.
Orang-orang yang mempergunakan akal dan pikirannya terutama orang-orang yang beriman tidaklah akan terpengaruh oleh perbedaan tingkat dan derajat, oleh kekayaan dan kedudukan, tetapi dia akan tetap menerima yang benar dan menolak yang salah tanpa memperhitungkan dari mana datangnya kebenaran itu, apakah kebenaran itu datangnya dari seorang kepala negara atau menteri atau dari seorang hina dina tidak mempunyai pengaruh apa-apa.
Ali bin Abu Talib pernah berkata: "Perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kamu memperhatikan siapa yang mengatakannya".
Si miskin diuji ketabahan hatinya menghadapi keadaannya yang serba kurang, tidak seperti orang kaya yang dapat menikmati berbagai macam kesenangan jasmani dengan kekayaan itu.

Orang-orang kafir Mekah itu diuji kebersihan hati mereka dengan memberikan karunia kerasulan kepada Nabi Muhammad, sedang dia adalah seorang biasa saja di antara mereka, bukan dari orang-orang kaya atau dari pemimpin kabilah yang berpengaruh besar.
Semua manusia diuji kekuatan mentalnya menghadapi perbedaan dan jurang pemisah antara berbagai macam golongan dalam masyarakat.
Barang siapa yang menang dalam menghadapi ujian itu adalah yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah ﷺ bersabda:

Lihatlah kepada orang yang rendah derajatnya dari kamu, dan janganlah melihat orang-orang yang lebih tinggi dari kamu, karena melihat kepada orang yang lebih tinggi itu akan membawamu kepada merendahkan nilai nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu.

Demikianlah ujian yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya itu yang tabah dan sabar menghadapi ujian itu sehingga ia termasuk orang-orang yang lulus menang.
Dia akan memberi balasan sebaik-baiknya kepada pemenang-pemenang itu dan akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang kalah yang karena ketidak sabarannya dan karena kesombongannya dia sampai mendurhakai nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.

Al Furqaan (25) ayat 20 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Furqaan (25) ayat 20 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Furqaan (25) ayat 20 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalaulah orang-orang musyrik itu mencelamu karena kamu memakan makanan dan berjalan di pasar untuk bekerja dan mencari penghasilan, maka itu sebenarnya adalah ketentuan Allah yang berlaku pada rasul-rasul sebelum kamu.
Setiap orang yang Kami utus dari mereka selalu memakan makanan dan pulang pergi ke dan dari pasar.
Kami jadikan sebagian kalian, wahai manusia, cobaan bagi sebagian yang lain.
Para perusak itu selalu berusaha menutupi jalan menuju hidayah dan kebenaran dengan berbagai macam cara.
Maka apakah kalian akan bersabar mempertahankan kebenaran kalian, wahai orang-orang Mukmin, dan tetap berpegang teguh pada agama kalian sampai datang pertolongan Allah?
Bersabarlah! Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan akan membalas kalian semua sesuai dengan perbuatannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar) maka kamu adalah sama seperti mereka dalam hal ini.
Maksudnya, telah dikatakan pula hal yang serupa terhadap mereka, sebagaimana apa yang dikatakan kepadamu sekarang ini.
(Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain) yakni orang yang kaya dicoba dengan adanya orang fakir dan orang yang sehat dicoba dengan adanya orang yang sakit, dan orang yang terhormat dicoba dengan adanya orang yang rendah.
Maka golongan yang kedua dari orang-orang tadi mengatakan, 'Mengapa aku tidak seperti dia dalam segala hal?' (Maukah kalian bersabar?) di dalam menghadapi perkataan yang kalian dengar dari orang-orang yang kalian mendapat cobaan dari mereka.
Istifham atau kata tanya di sini mengandung arti perintah, maksudnya bersabarlah kalian (dan adalah Rabbmu Maha Melihat") terhadap orang-orang yang sabar dan yang tidak sabar.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Rasul!! Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum dirimu melainkan mereka adalah manusia biasa.
Mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.
Wahai sekalian manusia!! Kami jadikan sebagian kalian cobaan dan ujian bagi sebagian yang lain yakni dengan petunjuk dan kesesatan, kekayaan dan kemiskinan, sehat dan sakit, apakah kalian akan bersabar dan tetap menjalankan kewajiban yang telah diwajibkan Allah atas kalian.
Serta mensyukurinya sehingga Maula kalian (Allah) akan memberikan pahala kepada kalian??
Atukah kalian tidak bersabar sehingga kalian berhak mendapatkan hukuman??
Wahai Rasul!! Rabbmu melihat mana orang yang putus asa dan mana orang yang sabar, mana orang yang kufur dan mana orang yang bersyukur.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, memberitahukan tentang para rasul terdahulu yang telah Dia utus, bahwa mereka memakan makanan dan memerlukan gizi, serta biasa berjalan di pasar-pasar untuk mencari mata pencaharian dan berdagang.
Hal tersebut tidaklah bertentangan dengan keadaan mereka dan juga kedudukan mereka, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah menjadikan pada diri mereka tanda-tanda yang baik, sifat-sifat yang terpuji, ucapan-ucapan yang utama, amal perbuatan yang sempurna, dan mukjizat-mukjizat yang cemerlang serta dalil-dalil (bukti-bukti) yang jelas sehingga orang yang mempunyai hati yang sehat dan pandangan yang lurus akan membenarkan bahwa apa yang disampaikan oleh mereka itu dari Allah subhanahu wa ta'ala Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota.
(Yusuf:109)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan.
(Al Anbiyaa:8), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain.
Maukah kalian bersabar?
(Al Furqaan:20)

Yaitu Kami uji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, dan Kami cobai sebagian kalian dengan sebagian yang lain agar Kami mengetahui siapa orang yang taat dan siapa orang yang durhaka (di antara kalian).
Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:

Maukah kalian bersabar?
Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.
(Al Furqaan:20)

Yakni siapakah yang patut diberi wahyu.
Pengertiannya sama dengan apa yang terkandung di dalam firman-Nya:

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.
(Al An'am:124)

Maksudnya, siapa yang berhak dianugerahi tugas kerasulan, dan siapa yang tidak berhak menerimanya.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain.
Maukah kalian bersabar?
(Al Furqaan:20) Seakan-akan Allah berfirman, "Seandainya Aku menghendaki dunia ini Aku jadikan bersama para rasul-Ku, agar mereka tidak ditentang, tentulah Aku dapat melakukannya.
Akan tetapi, sengaja Aku menghendaki untuk menguji hamba-hamba-Ku dengan para rasul-Ku, dan Aku menguji para rasul-Ku dengan mereka."

Di dalam kitab Sahih Muslim telah diriwayatkan melalui Iyad ibnu Hammad, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan mengujimu dan menguji (hamba-hamba)-Ku denganmu."

Di dalam kitab musnad disebutkan dari Rasulullah ﷺ:

Seandainya aku menghendaki, tentulah Allah akan menjadikan untukku gunung-gunung itu emas dan perak.

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah disuruh memilih antara menjadi seorang nabi lagi seorang raja atau menjadi seorang hamba lagi seorang rasul.
Maka Nabi ﷺ memilih agar dirinya dijadikan seorang hamba lagi seorang rasul.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Furqaan (25) Ayat 20

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari Juwaibir, dari adl-Dlahhak, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Sa’id dan ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin suka mencela dan mencemooh Rasulullah ﷺ karena miskinnya beliau, dengan ucapan: “Bagaimana mungkin seorang Rasul makan dan pergi ke pasar (untuk berdagang).” Rasulullah ﷺ merasa sedih, sehingga turunlah ayat ini (al-Furqaan: 20) yang menegaskan bahwa semua Rasul berbuat seperti itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Furqaan (25) Ayat 20

ASWAAQ
أَسْوَاق

Lafaz ini berbentuk jamak, mufradnya adalah as suq. Lafaz ini bersifat umum, digunakan bagi mudzakkar dan muannats. Artinya pasar barang-barang dan perbekalan. Dinamakan demikian karena perniagaan dibuat di dalamnya, berlaku jual beli" dan karena barangan diserahkan dan dihantar kepadanya.

Ar Raghib berkata,
"Ia adalah tempat penyerahan bekalan-bekalan ke dalamnya untuk dijual dan dibeli" Aswaaq al harb artinya medan perang."

Lafaz aswaaq disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Furqaan (25), ayat 7 dan 20.

Lafaz ini dikaitkan dengan kata al­ masy yang berarti (nabi) berjalan di pasar bagi mencari nafkah sebagaimana manusia berjalan. Maksudnya, sekiranya benar apa yang nabi dakwa, mengapa keadaannya tidak berlainan dengan keadaan manusia. Hal itu karena orang kafir dangkal dan cetek penglihatan kepada perkara-perkara yang hissi (tampak), sedangkan perbedaan rasul­rasul dengan manusia lainnya bukanlah dari segi jasmani, tetapi dari segi maknawi, sebagaimana Allah menyatakan dalam surah Al Kahfi ayat 110:

"Katakanlah: Aku hanya manusia seperti kamu juga, diwahyukan kepadaku Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu"

Perkara itu juga adalah salah satu dari lima alasan orang musyrik yang terdapat dalam ayat ketujuh yang menurut anggapan mereka seseorang itu tidak layak menjadi rasul dengan perkara itu, yaitu rasul tidak patut mencari sara hidup yang biasanya dilakukan dengan pergi ke pasar membeli belah atau berniaga untuk nafkah dirinya dan keluarganya.

Dalam ayat 20, Ibn Katsir berkata,
"Dalam ayat ini, Allah menceritakan tentang kesemua rasul-rasul terdahulu yang mereka juga makan dan memerlukan kepada makanan, berjalan di pasar bagi mencari nafkah dan berjual beli. Hal itu bukanlah menafikan keadaan dan kedudukan mereka, karena Allah menjadikan mereka mulia dengan karakter yang baik, sifat-sifat yang terpuji, pertuturan yang mulia dan perbuatan yang sempurna serta mukjizat yang agung."

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:75-76

Informasi Surah Al Furqaan (الفرقان)
Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Fur­qaan" yang artinya "pembeda",
diambil dari kata "Al Furqaan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan Al Furqaan dalam ayat ini ialah Al Qur'an.
Al Qur'an dinamakan Al Furqaan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah subhanahu wa ta'ala dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Keimanan:

Allah Maha Besar berkah dan kebaikan-Nya
hanya Allah saja yang menguasai langit dan bumi
Allah tidak punya anak dan sekutu
Al Qur'an benar-benar diturun­kan dari Allah
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
Allah bersemayam di atas Arsy
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah yang diutus ke seluruh alam
rasul­-rasul itu adalah manusia biasa yang mendapat wahyu dari Allah
pada hari kiamat akan terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa seperti belahnya langit, turunnya malai­kat ke bumi
orang-orang berdosa dihalau ke neraka dengan berjalan atas muka mereka.

Hukum:

Tidak boleh mengabaikan Al Qur'an
larangan menafkahkan harta secara boros atau kikir
larangan membunuh atau berzina
kewajiban memberantas kekafiran dengan mempergunakan alasan Al Qur'an
larangan memberikan persaksian palsu.

Kisah:

Kisah-kisah Musa a.s, Nuh a.s.
kaum Tsamud dan kaum Syu 'aib.

Lain-lain:

Celaan-celaan orang-orang kafir terhadap Al Qur'an
kejadian-kejadian alamiyah sebagai bukti ke-esaan dan kekuasaan Allah
hikmah Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur
sifat-sifat orang musyrik antara lain mempertuhankan hawa nafsu,tidak mempergunakan akal
sifat-sifat hamba Allah yang sebenamya.


Gambar Kutipan Surah Al Furqaan Ayat 20 *beta

Surah Al Furqaan Ayat 20



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Furqaan

Surah Al-Furqan (Arab: الفرقان ,"Pembeda") adalah surah ke-25 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 77 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Furqan yang artinya pembeda, diambil dari kata al-Furqan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Quran (lihat nama lain Al-Qur'an).
Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah s.w.t.
dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Nomor Surah 25
Nama Surah Al Furqaan
Arab الفرقان
Arti Pembeda
Nama lain Tabaraka
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 42
Juz Juz 18 (1-20) sampai juz 19 (21-77)
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 77
Jumlah kata 896
Jumlah huruf 3876
Surah sebelumnya Surah An-Nur
Surah selanjutnya Surah Asy-Syu'ara'
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (12 votes)
Sending







✔ Surat al firqan ayat 20

[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku